Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 79 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 79 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Sorengrana, Sorengpati beserta kedua orang cantrik Padepokan Sekar Jagad kemudian berdiri dan sesaat kemudian terdengar suara bende beri yang memanggil para prajurit Jipang untuk berkumpul, bersamaan dengan suara kentongan yang ditabuh dengan irama titir yang menandakan dalem Kadipaten Jipang berada dalam bahaya.

Sejenak kemudian, suara kentongan yang ditabuh dengan irama titir, telah disahut oleh beberapa kentongan yang jauh dari dalem Kadipaten, sehingga suara titir telah menjalar dan terdengar di seluruh tlatah Kadipaten Jipang.

"Kakang Panembahan, keadaan telah menjadi kacau, aku mohon kakang Panembahan nanti ikut berperang melawan pasukan Pajang" kata Matahun.

"Baik adi Matahun, aku akan berperang bersama para prajurit Jipang" kata Panembahan Sekar Jagad.

Beberapa saat kemudian puluhan orang prajurit Jipang telah datang di dalem Kadipaten, semakin lama menjadi semakin banyak, mereka siap menjalankan perintah dari Patih Matahun.

"Kanjeng Adipati telah dijebak, Sultan Hadiwijaya pasti datang bersama para prajurit Pajang, kita semua harus menyusul Kanjeng Adipati ke seberang Bengawan Sore !!" teriak Patih Matahun.

Prajurit Jipang masih terus berdatangan dengan membawa pedang pendek yang tergantung di lambungnya, puluhan orang prajurit juga membawa tombak dan perisai, mereka telah memenuhi halaman pendapa maupun jalan didepan dalem Kadipaten, jumlah para prajuritpun telah mencapai ratusan.

"Kita jangan menyeberang disini, nanti kita berjalan memutar ke utara, kita menyeberang disebelah pohon randu kembar !!" teriak Patih Matahun.

Dari atas pendapa, Patih Matahun melihat para prajurit yang telah datang menjadi semakin banyak.

"Sorengrana dan Sorengpati, kau ambil puluhan perisai dan beberapa senjata lainnya di ruang belakang !" perintah Patih Matahun, sesaat kemudian kedua Soreng bersaudara bersama beberapa orang prajurit yang lain segera menuju ke ruang senjata, mengambil puluhan pedang, perisai dan beberapa panah sendaren yang akan mereka pergunakan di dalam pertempuran nanti.

"Prajurit yang sudah datang sekitar empat ratus sampai lima ratus orang" kata Patih Matahun, sambil menanti para prajurit yang masih saja berdatangan, iapun mendekati Panembahan Sekar Jagad.

"Kakang Panembahan, pasukan Jipang nanti akan menggunakan gelar Dirada Meta, aku mohon kakang Panembahan nanti sebagai senapati pengapit di gading sebelah kiri" kata Matahun.

"Baik adi Matahun" jawab Panembahan Sekar Jagad.

"Nderpati !! Kau sebagai Senapati pengapit di gading sebelah kanan di dalam gelar Dirada Meta !" kata Matahun.

"Baik Ki Patih" jawab Anderpati.

"Nanti dipeperangan yang menjadi Senapati Agung adalah Kanjeng Adipati Arya Penangsang, selama Kanjeng Adipati masih melakukan perang tanding, aku yang memimpin pasukan Jipang, ayo, Sorengrana, Sorengpati, kita berangkat sekarang, jangan sampai terlambat !!" teriak Patih Matahun.

"Raden Arya Mataram, raden menunggu di dalem Kadipaten saja, kami semua akan berangkat berperang melawan prajurit Pajang" kata Matahun.

"Baik paman Matahun, aku menunggu di rumah saja" kata Arya Mataram.

"Kita jangan menyeberang disini, kita menyeberang agak memutar ke utara disamping pohon randu kembar !!" teriak Patih Matahun.

"Nderpati, ayo kita berangkat sekarang" kata Patih Matahun, lalu Anderpati segera memberi perintah untuk berlari ke utara, menyeberangi Bengawan Sore disebelah pohon randu kembar.

Maka bergeraklah pasukan Jipang ke arah utara, mereka berlari, berusaha untuk menyusul junjungannya yang telah berperang tanding di seberang Bengawan Sore.

Adik Adipati Jipang, Arya Mataram hanya bisa memandang sayu kearah pasukan yang akan berangkat ke peperangan, hatinyapun menjadi cemas, ketika melihat kakaknya Arya Penangsang yang menjadi marah sekali dan telah berangkat ke tepi Bengawan Sore, menerima tantangan Sultan Hadiwijaya untuk berperang tanding, sehingga melupakan laku puasa yang belum selesai dijalaninya.

Pada saat itu, Arya Penangsang berada di atas punggung Gagak Rimang yang dipacunya dengan cepat, jarak dari dalem Kadipaten ke tepi sungai seakan-akan ingin dicapainya dengan sekali lompatan kuda hitamnya.

Gagak Rimang, kuda jantan yang larinya kencang itu berlari seperti angin menuju ke tepi timur Bengawan Sore.

Tak beberapa lama kemudian, sampailah Gagak Rimang ke tepi sungai dan Sang Adipatipun segera menarik tali kekang kudanya, dan berhentilah kuda hitamnya di tepi timur Bengawan Sore.

Arya Penangsang melihat diseberang Bengawan Sore, tampak tiga orang laki-laki sedang bertolak pinggang, yang seorang terlihat tangannya sedang menunjuk kepada dirinya, dan tanpa pikir panjang, Gagak Rimangpun segera dibawa menyeberangi Bengawan Sore.

"Itu adimas Hadiwijaya bersama Pemanahan dan Penjawi, dikeroyok tiga orang itupun aku tidak takut" kata Arya Penangsang dalam hati.

Gagak Rimang, seekor kuda jantan yang gagah, segera disuruhnya terjun ke air, lalu menyeberangi Bengawan Sore menuju tepi sungai sebelah barat.

Setelah Gagak Rimang berada ditengah sungai, Penangsangpun terkejut, tiga orang yang tadi berada ditepi sungai, telah menghilang, berganti menjadi deretan prajurit Pajang yang melepaskan puluhan anak panah terhadap dirinya.

"Hadiwijaya ternyata bersama para prajurit Pajang" kata Penangsang dalam hati, tetapi Arya Penangsang bukan seorang penakut, sang Adipati terus maju tanpa menghiraukan anak panah yang dilepaskan oleh para prajurit Pajang.

Tak sebuahpun anak panah yang mampu melukai tubuh Penangsang, beberapa anak panah yang mengarah ke wajahnya telah terlempar karena ditangkis oleh tangannya.

"Aji Tameng Waja" kata Pemanahan, Penjawi dan Juru Martani yang berada didalam barisan para prajurt Pajang.


Hujan panah tidak membuat Arya Penangsang surut, Gagak Rimangpun segera dipacunyakan lebih cepat untuk menyeberangi sungai itu, dan beberapa saat kemudian Arya Penangsang telah tiba di tepi barat Bengawan Sore.

Hujan panah telah berhenti, Arya Penangsang mengedarkan pandangannya, dilihatnya para prajurit Pajang telah bergerak mundur, Adipati Jipang segera menggerakkan Gagak Rimang berjalan maju kedepan, naik ke sebuah tanah lapang ditepi sungai.

Setelah berada di tanah lapang, Arya Penangsang melihat para prajurit Pajang ternyata telah mengepungnya setengah lingkaran dengan jarak yang agak jauh, tapi Kanjeng Adipati tidak melihat ketiga orang yang tadi telah bertolak pinggang di tepi sungai.

"He Hadiwijaya !! Aku datang memenuhi tantanganmu, cepat keluar !! Kita berperang tanding disini !!" teriak Arya Penangsang.

Tidak ada jawaban dari pasukan Pajang yang mengepungnya, maka Adipati Jipang itupun berteriak lagi :"He Hadiwijaya !! Kau jangan bersembunyi dibalik para prajurit, kalau kau laki-laki keluarlah !!"

Masih tidak ada jawaban dari barisan prajurit yang mengepungnya setengah lingkaran, dan suasana di tepi barat Bengawan Sore menjadi hening, hanya desir angin yang menerpa wajah Penangsang yang duduk diatas punggung Gagak Rimang.

Sesaat kemudian, deretan barisan prajurit Pajang telah terkuak, dan dari deretan prajurit Pajang, keluarlah seekor kuda dengan penunggangnya, seorang laki-laki yang membawa sebuah tombak.

Mengetahui Sultan Hadiwijaya telah maju menyongsongnya diatas punggung kuda, kedua mata Penangsangpun berkilat memancarkan cahaya pembunuhan, getar kemarahan di dalam dadanya telah mengalunkan sebuah kidung kematian.

"Hadiwijaya !! Disinilah tempat kematianmu" teriak Arya Penangsang sambil meraba hulu keris pusaka Kyai Setan Kober yang terselip di tubuhnya.

Dada Penangsangpun menjadi bergetar, semua kemarahannya akan ditumpahkan kepada Sultan Hadiwijaya yang telah berani menghinanya dengan memotong telinga orang Jipang.

Dengan cepat Gagak Rimang telah diajaknya berlari menyambut lawannya yang juga telah berada dipunggung kuda.

Semakin lama jarak kedua kuda itu menjadi semakin dekat, tetapi alangkah kecewanya Arya Penangsang, ternyata orang yang menjadi lawannya adalah seorang anak laki-laki yang belum dewasa.

"He kau anak yang pernah ikut Hadiwijaya ke Panti Kudus, kau anak angkat Hadiwijaya, aku lupa siapa namamu ?" tanya Arya Penangsang

"Saya Sutawijaya uwa Adipati" jawab Sutawijaya yang menggenggam tombak pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang, Kyai Pleret.

"Ya, kau Sutawijaya, dimana ayahmu Hadiwijaya ?" tanya Adipati Jipang.

"Kalahkan saya dulu, baru uwa Adipati bisa bertemu dengan ayahanda" kata Sutawijaya sambil menggerakkan kudanya berlari melingkar menjauhi Arya Penangsang.

"Kau anak kemarin sore telah berani menantangku, kau bukan tandinganku Sutawijaya, ayahmu yang aku tunggu, jangan salahkan aku kalau kau mati ditanganku" kata Arya Penangsang sambil menggerakkan Gagak Rimang mengejar kuda Sutawijaya.

Kuda Sutawijaya berlari melingkar mengitari tanah lapang di tepi Bengawan Sore, pengalamannya puluhan kali bermain sodoran yang tidak terkalahkan, membuatnya mampu mengendalikan gerak laju kudanya dengan baik.

"Para prajurit Pajang mengepungku dari jarak yang agak jauh, mereka memang menghendaki adanya sebuah tanah lapang yang luas untuk pertarungan dua orang penunggang kuda, baik aku layani, Hadiwijaya, anakmu akan aku bunuh terlebih dulu" kata Arya Penangsang dalam hati.

Gagak Rimangpun mengejar kuda lawannya sambil melonjak-lonjak, dan Arya Penangsangpun kesulitan mengendalikannya.

"Tenang Rimang, tenang" kata Arya Penangsang menenangkan kudanya.

Arya Penangsang melihat kuda lawannya berbalik kearahnya, sedangkan ia masih sibuk menenangkan Gagak Rimang yang gerakannya menjadi liar.

"Rimang, kau kenapa ?" kata Arya Penangsang, dan iapun melihat Sutawijaya menjulurkan tombak ke arah tubuhnya.

Dengan tergesa-gesa Arya Penangsang menangkis tombak itu dengan tangannya, sehingga tombak itupun terpental, dan kuda Sutawijayapun berlari menjauh darinya.

Gagak Rimangpun memutar tubuhnya, kuda itupun kemudian kembali berlari mengejar kuda Sutawijaya.

"Tenang Rimang" kata Arya Penangsang menepuk leher kudanya, tetapi ternyata kali ini Gagak Rimang menjadi sulit dikendalikan.

Sutawijaya membelokkan kudanya mengelilingi tanah lapang dan saat itu Arya Penangsang mengetahui penyebab kuda tunggangannya Gagak Rimang menjadi liar.

"Licik, ternyata kuda yang dipakai Sutawijaya adalah seekor kuda betina" kata Arya Penangsang dalam hati.

Dengan sekuat tenaga Penangsang menenangkan kudanya, pada saat itu ia melihat Sutawijaya telah berputar dan berbalik menyerangnya dari arah sebelah kiri.

Penangsang terkejut, dengan tergesa-gesa tangan kirinya menangkis tusukan tombak Sutawijaya, sehingga tombak itu tidak mengenai dirinya.

Mataharipun terus bergerak ke arah barat, hingga beberapa saat Penangsang masih berusaha menenangkan kuda hitamnya Gagak Rimang, sedangkan Sutawijaya yang memegang tombak Kyai Pleret, belum berhasil menyentuh tubuh lawannya.

Sementara itu tiga orang prajurit yang mengikuti Arya Penangsang telah tiba ditepi sungai, merekapun telah mendengar suara titir yang ditabuh oleh setiap rumah yang berada di Jipang.

Mereka menyaksikan junjungannya ketika sedang menyeberang Bengawan Sore, dihujani oleh puluhan anak panah tanpa terluka, dan mereka melihat di seberang sungai, Arya Penangsang yang mengendarai Gagak Rimang bertarung dengan seorang laki-laki yang juga berada diatas punggung kuda.


Mereka bertiga ingin melihat pertarungan dua penunggang kuda itu dari jarak dekat, lalu ketiga prajurit itu menyeberang didalam air dan menyelam di dalam sungai, sesaat kemudian kepalanya timbul ke permukaan mengambil napas beberapa kali, setelah itu ketiganya menyelam lagi sampai keseberang.

Ketika sampai di tepi barat Bengawan Sore, dilihatnya ada beberapa pohon Waru yang rimbun dan banyak sekali terdapat tanaman perdu, maka ketiganya merayap bersembunyi di balik tanaman perdu di tepi sungai, menyaksikan pertarungan sengit dua penunggang kuda dari Jipang dan Pajang.

"Kelihatannya Kanjeng Adipati kesulitan mengendalikan Gagak Rimang" bisik seorang prajurit Jipang kepada temannya.

"Ya, tidak biasanya Gagak Rimang menjadi liar" kata prajurit lainnya yang merayap disebelahnya.

"Coba lihat, kelihatannya lawan Gagak Rimang adalah seekor kuda betina, itu penyebabnya sehingga Gagak Rimang menjadi gelisah" kata prajurit lainnya.

"Curang, orang-orang Pajang memang licik" kata prajurit yang ditengah.

"Ya Gagak Rimang menjadi gelisah ketika bertemu dengan seekor kuda betina" sahut prajurit yang lainnya.

"Siapa yang menjadi lawan Kanjeng Adipati ? Seorang anak yang belum dewasa, tetapi trampil sekali menunggang kuda" kata prajurit yang merayap paling kiri.

Sementara itu, ternyata yang menyaksikan pertarungan Arya Penangsang melawan Sutawijaya bukan hanya tiga orang prajurt Jipang saja, tetapi diatas pohon waru yang rimbun yang berada tidak jauh dari tanah lapang, telah bertengger dua orang pemuda yang melihat pertarungan dua orang penunggang kuda itu tanpa berkedip.

Pemuda yang seorang perlahan-lahan berkata :"Wenang Wulan, coba lihat, kuda hitam tunggangan Adipati Jipang telah menjadi gelisah karena berdekatan dengan seekor kuda betina"

Pemuda yang diajak bicara, Wenang Wulan tidak menjawab, ia hanya menempelkan jari telunjuk melintang di bibirnya sambil mendesis :"Sssst"

Orang yang mengajak bicara, Ngabehi Wilamarta, tertawa pendek sambil berkata :"Coba lihat Gagak Rimang itu, ia hanya berputar-putar saja"

Wenang Wulan tidak menjawab. Ia memandang orang yang bersamanya diatas pohon Waru, Ngabehi Wilamarta yang tersenyum melihat tingkah Gagak Rimang yang melompat-lompat.

Beberapa hari yang lalu, keduanya telah diutus oleh Sultan Hadiwijaya, supaya pergi ke Jipang, mengamati jalannya sayembara membunuh Arya Penangsang.

"Kalau Penangsang telah terbunuh, Wenang Wulan supaya melaporkan kematian Penangsang kepada Kanjeng Ratu Kalinyamat di pesanggrahan Danaraja, sedangkan Ngabehi Wilamarta segera pulang dan memberitahukan kepadaku" kata Sultan Hadiwijaya waktu itu.

Keduanya kembali memandang pertarungan di tanah lapang, mereka melihat Arya Penangsang berkali-kali menenangkan kudanya yang menjadi gelisah.

Mataharipun terus bergerak ke arah barat, hingga beberapa saat kemudian ditanah lapang ditepi bengawan Sore, Penangsang masih berusaha menenangkan kuda hitamnya Gagak Rimang, sedangkan Sutawijaya yang memegang tombak Kyai Pleret, belum berhasil menyentuh tubuh lawannya.

Beberapa saat kemudian, sambil menenangkan kudanya, Penangsang yang cerdik telah menemukan sebuah cara untuk mengalahkan Sutawijaya.

"Aku harus bisa merebut tombaknya" kata Penangsang dalam hati, dan dilihatnya kuda Sutawijaya telah melingkar menuju tanah lapang sebelah barat.

"Tanpa tombak ditangannya, anak kecil itu tidak akan bisa menyerangku" kata Adipati Jipang dalam hati, dan Penangsangpun segera bersiap untuk merebut tombak yang digunakan oleh Sutawijaya.

Arya Penangsang telah bersiap, ia membawa kudanya melangkah menyongsong lawan dan dengan rasa percaya diri yang tinggi, aji Tameng Waja yang telah menyatu dengan dirinya akan membuat tubuhnya kebal dari tajamnya ujung senjata, seperti ketika ia bersama Gagak Rimang menyeberangi Bengawan Sore, tak ada anak panah yang mampu melukai tubuhnya.

"Anak itu cukup cerdik, ia membawa kudanya ke arah barat, supaya aku menjadi silau terkena sinar matahari sore" kata Arya Penangsang dalam hati.

"Aku masih bisa mengatasinya, meskipun arahnya melawan sinar matahari" kata Arya Penangsang, dan iapun segera menggerakkan kuda hitamnya Gagak Rimang, yang masih saja bersikap gelisah dan sulit dikendalikan.

Sutawijaya membelokkan kudanya kesebelah kiri lawannya, lalu iapun segera melarikan kuda betinanya menyerang lawannya, iapun berusaha menusuk dada Adipati Jipang dengan menggunakan tombak pusakanya Kyai Pleret.

Arya Penangsang melihat Sutawijaya akan menyerang dirinya dari sebelah kiri, dan Sang Adipati telah bersiap untuk menangkap landeyan tombak yang digunakan oleh lawannya yang masih sangat muda itu.

"Landeyan tombaknya harus kutarik, supaya tombak itu terlepas dari genggaman tangannya" kata Penangsang dalam hati.

Melihat kuda betina berlari mendekati dirinya, tingkah Gagak Rimangpun menjadi liar dan sering melompat, dan Arya Penangsangpun berusaha keras untuk menenangkan kudanya.

Sutawijaya menggenggam landeyan tombak pusaka Kyai Pleret semakin erat, kudanya berlari mendekati Gagak Rimang yang semakin bertingkah tak terkendali.

Penangsang melihat ke arah barat, matahari yang menyilaukan, tidak akan banyak mengganggunya dalam usaha merebut tombak yang digunakan oleh anak angkat Hadiwijaya itu.

"Tenang Rimang" kata Penangsang sambil menepuk leher kudanya yang gelisah, ia melihat Sutawijaya menyerang dari sebelah kiri, dan tangan kiri Penangsang sudah siap untuk menarik ujung landeyan didekat bilah tombak lawannya.

Kedua kuda itu semakin dekat, Sutawijaya melepas kendali kudanya, kedua tangannya memegang landeyan tombak Kyai Plered, dan ketika kudanya hampir berada disamping Gagak Rimang, maka kedua tangan Sutawijaya dengan cepat menusukkan tombaknya menyerang dada kiri lawannya.


Ujung tombak Kyai Pleret bergetar, dan dengan cepat menusuk dan mematuk dada kiri Arya Penangsang.

Arya Penangsangpun telah bersiaga, ketika datang serangan tombak yang menusuk ke tubuhnya, iapun segera berusaha merebut tombak lawannya, tangan kanannya masih memegang tali kendali kudanya, tangan kirinya berusaha menangkap tombak yang bergerak menusuk dada kirinya.

Gerakan tangan Arya Penangsang sangat cepat, menurut perhitungannya ia akan dapat merebut tombak lawannya, tetapi yang terjadi ternyata tidak seperti yang ia harapkan.

Saat itu kudanya semakin gelisah, Gagak Rimang yang melihat kuda betina berada disebelahnya, telah melompat tepat pada saat tangan kiri Penangsang bergerak menangkap landeyan tombak Sutawijaya,

Lompatan Gagak Rimang adalah sebuah lompatan kecil seekor kuda yang sedang birahi, dan lompatan itu ternyata telah mengejutkan Arya Penangsang maupun Sutawijaya.

Arya Penangsang menjadi terkejut sekali ketika tangan kirinya yang terjulur akan mencengkeram merebut tombak, telah terlontar keatas karena terdorong lompatan kudanya, sehingga jari tangannya luput memegang landeyan tombak lawannya, dan pada saat itu ia merasa perut disebelah kirinya, didekat keris pusakanya Kyai Setan Kober, telah tertusuk oleh tombak lawannya.

Sutawijaya juga terkejut, kedua tangannya yang memegang landeyan tombaknya bergerak cepat menusuk dada sebelah kiri bersamaan dengan lompatan kuda lawannya, sehingga tombaknya tidak mengenai dada kiri, tetapi telah menusuk perut Arya Penangsang di sebelah kiri yang tidak terlindungi oleh tangannya.

Sutawijaya segera melarikan kudanya menjauh dari lawannya yang telah terluka, dilihatnya ujung bilah tombak pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang, Kyai Pleret telah berwarna merah terkena darah dari lawannya.

"Akibat lompatan kuda hitam itu ternyata mengakibatkan perut uwa Adipati terluka tertusuk tombak Kyai Pleret" kata Sutawijaya dalam hati

Betapa heran bercampur marah ketika Sang Adipati mengetahui aji Tameng Waja yang telah manjing dalam dirinya dapat ditembus oleh lawannya, seorang pemuda yang masih belum dewasa.

"Ternyata yang digunakan adalah sebuah tombak pusaka, tombak itu mampu menembus aji Tameng Wajaku" kata Penangsang, dan ketika tombak itu ditarik Sutawijaya, sedikit ususnya terlihat telah terlihat menjuntai, menggantung diluar perutnya.

Perutnya yang perih karena luka tidak dihiraukannya, usus yang menjuntai keluar segera disangkutkan di hulu keris pusakanya, Kyai Setan Kober.

"Sutawijaya, tombakmu akan aku ambil dan pusaka itu akan menjadi milikku !!" teriak kemarahan Arya Penangsang yang tubuhnya telah terluka.

Dengan cepat Arya Penangsang memutar kudanya mengejar kuda lawannya, dan Sutawijayapun terkejut ketika kuda hitam itu hanya membutuhkan waktu sekejap untuk dapat mendekatinya.

"Kuda itu larinya cepat sekali" kata Sutawijaya dalam hati, dan dengan cepat tombak pusakanya ditusukkan ke tubuh Arya Penangsang.

Arya Penangsang sedikit memiringkan tubuhnya, lalu tangan kirinya dengan cepat menangkap ujung landeyan didekat bilah tombak lawannya, dan dengan sekuat tenaga tombak itupun ditariknya.

Sutawijaya terkejut ketika ujung landeyan tombaknya terpegang oleh tangan kiri Arya Penangsang, ia menyadari tombaknya adalah tombak pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang yang tidak boleh terlepas dari tangannya.

"Betapa marahnya ayahanda Sultan Hadiwijaya, kalau tombak Kyai Pleret berhasil direbut oleh uwa Adipati Jipang" kata Sutawijaya dalam hati..

Ketika terasa sebuah kekuatan yang besar telah menarik tombaknya, maka Sutawijayapun telah bertahan sekuat tenaga, dua buah tangannya mempertahankan tombak Kyai Pleret, yang telah ditarik oleh Arya Penangsang.

Meskipun Sutawijaya telah mengeluarkan seluruh tenaganya, tetapi kekuatannya bukan tandingan kekuatan Arya Penangsang yang sedang marah.

Arya Penangsang melihat lawannya tidak melepaskan landeyan tombaknya menjadi semakin marah, maka dengan sebuah sentakan keras, ia menarik tombak yang telah mampu melukainya dan menembus aji Tameng Wajanya.

Sutawijaya terkejut, sebuah kekuatan yang besar telah menyentaknya maju, akibatnya Sutawijaya terpelanting dari kudanya, iapun jatuh terguling di tanah tetapi tangannya masih tetap memegang landeyan tombaknya.

Melihat lawannya masih mempertahankan tombaknya, kemarahan Arya Penangsang menjadi semakin berkobar, iapun segera melompat turun dari kudanya, dengan cepat ia melepas landeyan tombak yang dipegangnya lalu memukul kedua tangan lawannya, sehingga tombaknya terlepas dan jatuh ketanah.

Tangan Penangsang bergerak cepat menangkap dan memilin tangan lawannya kebelakang, memuntirnya dengan keras, sehingga Sutawijaya yang terguling ditanah tidak dapat bergerak lagi.

"Kau anak Hadiwijaya yang telah berani melukai aku, disinilah kau akan menemui ajalmu" kata Adipati Jipang, tetapi Arya Penangsang menjadi terkejut, ketika ia melihat ke arah pasukan Pajang yang mengepungnya, dari jauh terlihat tiga orang yang sedang berlari menuju kearahnya.

"Itu Hadiwijaya, Pemanahan dan Penjawi menuju kemari, mereka bertiga akan mengeroyokku" kata Arya Penangsang, lalu iapun berpacu dengan waktu, sebelum Hadiwijaya sampai ketempatnya, maka anaknya harus dibunuh lebih dulu.

"He Sutawijaya, sebentar lagi aku akan bertarung dengan ayahmu, sekarang aku terpaksa harus membunuhmu" kata Penangsang, dan dengan cepat tangannya memegang hulu kerisnya, lalu ditariknya keris pusakanya Kyai Setan Kober yang terselip di perut depan sebelah kiri.

Ketika keris pusaka Kyai Setan Kober ditarik keluar dari warangkanya, Penangsang terkejut dan berteriak nyaring, tetapi sudah terlambat, ia merasa ususnya seperti digigit oleh seekor ular weling yang paling berbisa.

Penangsangpun terjatuh, tangan kanannya masih menggengam kerisnya Kyai Setan Kober yang telah bernoda darah, sedangkan tangan kirinya memegang perutnya yang terluka.

Arya Penangsang baru menyadari, ternyata keris pemberian gurunya telah melukai dirinya sendiri, dan Penangsang sadar, luka pada tubuhnya disebabkan oleh tajamnya keris Kyai Setan Kober.

Tetapi Kanjeng Adipati merasa kalau tangan kanannya masih mampu digerakkan untuk menggores tubuh lawannya, maka sekejap kemudian Sang Adipatipun berkata :"Kita akan mati sampyuh, Sutawijaya"

Sesaat kemudian Arya Penangsang bergerak akan menusukkan keris Kyai Setan Kober ke tubuh Sutawijaya, tetapi baru saja tangannya diangkat, ia merasa pandangannya telah berubah menjadi hitam pekat, gelap.

Sutawijaya yang melihat Arya Penangsang akan menusukkan kerisnya menjadi tegang, tetapi ia terkejut ketika tubuh Arya Penangsang terjatuh dengan tangan kanannya masih memegang keris pusaka Kyai Setan Kober.

Sutawijaya segera berdiri dan memungut tombaknya yang tergeletak disebelah tubuh Arya Penangsang, dan tak lama kemudian datanglah ayahnya Pemanahan, Penjawi dan Juru Martani yang telah berlari menghampirinya.

"Kau tidak apa-apa Sutawijaya ?" tanya Pemanahan.

"Aku baik-baik saja ayah" kata Sutawijaya.

"Minggir Sutawijaya, kau mundur agak jauh dari tubuh Penangsang, dia masih menggenggam kerisnya" kata Juru Martani.

Setelah itu Pemanahan, Penjawi dan Juru Martani perlahan-lahan berjalan mendekati tubuh Arya Penangsang yang tergeletak dan ditangannya masih tergenggam keris Kyai Setan Kober.

"Hati-hati, tangan Arya Penangsang masih memegang keris Kyai Setan Kober, jangan terlalu dekat, berbahaya" kata Juru Martani


Pemanahan memandang tubuh Arya Penangsang yang terbujur ditanah, dan tiba-tiba Pemanahan melompat kedepan, lalu dengan cepat ia memegang pergelangan tangan Penangsang dan sekejap kemudian hulu keris Kyai Setan Kober telah berpindah ke dalam genggaman tangan Pemanahan.

Setelah jari tangan Arya Penangsang tidak lagi menggenggam keris, maka Penjawi dan Juru Martani berjongkok memeriksa tubuh Arya Penangsang.

Setelah memeriksa dan memegang di beberapa bagian badannya maka Juru Martani berkata :"Arya Penangsang telah gugur"

"Ya, Kanjeng Adipati Jipang telah meninggal dunia" kata Penjawi.

Pemanahan yang ditanggannya tergenggam keris kyai Setan Kober, segera berjongkok untuk mengambil warangka yang masih terselip di tubuh Penangsang.

"Ada noda darah di bilah keris Kyai Setan Kober, kau terluka Sutawijaya ?" tanya Pemanahan.

"Tidak ayah" jawab Sutawijaya.

"Kalau kau tidak terluka, berarti darah ini adalah noda darahnya sendiri, Kanjeng Adipati Jipang gugur karena terkena kerisnya sendiri, Kyai Setan Kober" kata Pemanahan setelah memeriksa luka di perut kiri Arya Penangsang.

"Kakang Juru Martani dan adi Penjawi, untuk sementara keris Kyai Setan Kober aku simpan dulu, nanti terserah Kanjeng Sultan Hadiwijaya, apakah keris ini akan dikembalikan ke Sunan Kudus atau tidak" kata Pemanahan.

Sementara itu, tiga orang prajurit Jipang yang sedang merayap mengawasi pertempuran antara dua orang penunggang kuda terkejut ketika mereka melihat Arya Penangsang terjatuh, lalu mereka melihat ketiga orang Pajang mendekati tubuh junjungannya yang sudah tidak bergerak lagi.

"Kanjeng Adipati tak mampu bangun kembali, Kanjeng Adipati telah gugur" kata prajurit yg merayap paling kanan dengan suara parau.

"Ya, Kanjeng Adipati telah meninggal dunia, kita harus melaporkan semua kejadian ini kepada Ki Patih Matahun" kata prajurit yang merayap disebelahnya dengan tubuh gemetar.

"Dimana Ki Matahun saat ini ? Mungkin Ki Matahun bersama pasukan Jipang sedang bergerak menuju kemari" kata prajurit yang lainnya.

"Tadi terdengar suara titir, para prajurit Jipang pasti telah bergerak menyusul Kanjeng Adipati, kita tidak tahu mereka akan menyeberang dimana, disini, di utara atau di selatan" kata prajurit yang pertama.

"Kita berbagi tugas, kau berlari ke utara, kau ke selatan dan aku akan kembali ke dalem Kadipaten lewat jalan semula, kita laporkan kalau Kanjeng Adipati telah gugur karena kelicikan orang Pajang yang menggunakan kuda betina untuk melawan Gagak Rimang" kata salah seorang prajurit.

"Siapa lawan Kanjeng Adipati tadi ? Seorang anak yang belum dewasa bersenjatakan tombak" kata salah seorang temannya.

"Ya Ki Patih Matahun pasti sudah tahu namanya" kata prajurit itu.

"Sekarang, mari kita pergi dari sini, kita berlari menyusuri nggawan ini, cepat !" ajak temannya

Ketiga prajurit itupun berpisah, seorang telah bergerak ke utara dan seorang lagi ke selatan, mereka berjalan mengendap-endap dan setelah agak jauh, kedua orang prajurit itupun berlari mencari pasukan Jipang yang telah bergerak keluar dari dalem Kadipaten.

Prajurit yang seorang lagi, yang akan kembali ke dalem Kadipaten lewat jalan semula, segera menyelam di sungai menuju ke arah timur, dan setelah sampai di tepi timur Bengawan Sore, maka iapun berlari sekuat tenaga menuju dalem Kadipaten.

Pada saat itu, di persembunyiannya di atas pohon waru, Ngabehi Wilamarta dan Wenang Wulan juga menyaksikan gugurnya Arya Penangsang terkena tusukan tombak Kyai Pleret.

"Wenang Wulan, Arya Penangsang telah gugur, kita melanjutkan tugas, sekarang kau berangkat ke pesanggrahan Danaraja dan aku kembali ke kotaraja Pajang, atau kita menyaksikan perang yang akan terjadi sebentar lagi ?" tanya Ngabehi Wilamarta sambil tertawa.

"Kau pasti sudah tahu jawabanku, aku memilih menyaksikan perang Pajang melawan Jipang, setelah itu besok pagi aku akan berangkat ke bukit Danaraja" kata Wenang Wulan.

"Baik, mari kita turun dari pohon ini, lalu menyaksikan perang Pajang melawan Jipang" kata Ngabehi Wilamarta.

Sementara itu di tanah lapang di tepi barat Bengawan Sore, Pemanahan melambaikan tangannya memanggil para lurah prajurit Pajang, dan tak lama kemudian beberapa orang berlari menuju ketempatnya

Empat orang lurah prajurit Pajang beserta empat orang pemimpin laskar Sela menghadap Pemanahan, beberapa prajurit Pajang juga mengikutinya dari belakang.

"Arya Penangsang telah gugur, dan sebentar lagi kita akan menghadapi para prajurit Jipang, sekarang sebaiknya jenazah Arya Penangsang kita sembunyikan dulu di hutan" kata Pemanahan.

"Ki Lurah Kastawa" kata Pemanahan.

"Ya ki" kata Lurah Kastawa.

"Ki lurah bersama empat orang prajurit Wira Manggala pergi membawa jenazah Arya Penangsang, jaga dan sembunyikan dulu di hutan, nanti setelah perang selesai baru kita rawat dengan semestinya" perintah Pemanahan.

Lurah Kastawa kemudian memerintahkan seorang prajurit Wira Manggala untuk memanggul jenazah Arya Penangsang ke barisan belakang, lalu bersama empat orang prajurit lainnya mereka menyembunyikan dan menjaganya di hutan.

Beberapa saat kemudian, setelah jenazah Arya Penangsang disembunyikan, lamat lamat dari arah utara terdengar gaung panah sendaren, dan sesaat kemudian disusul dengan suara panah sendaren yang lebih jelas.

"Itu dua orang prajurit kita yang membawa panah sendaren, ternyata pasukan Jipang berada di arah utara" kata Pemanahan, lalu iapun berkata :"Ki Lurah Sakri"

"Ya Ki" kata Lurah Sakri.

"Prajurit Jipang pasti akan mencari Sutawijaya yang telah membunuh Arya Penangsang, ki lurah bersama seorang prajurit lagi, membawa Sutawijaya bersembunyi, kalian bertiga naik kuda ke hutan yang agak jauh, hindari apabila kalian bertemu dengan prajurit Jipang" kata Pemanahan.

"Sutawijaya, kau bersembunyi dulu di hutan bersama Ki Lurah Sakri dan seorang prajurit Wira Tamtama" kata Pemanahan.

"Baik ayah" kata Sutawijaya.

"Cepat kalian berangkat, pasukan Jipang sudah hampir tiba, tiga ekor kuda kita berada di barisan belakang" kata Pemanahan.

Sesaat kemudian Sutawijaya bersama Lurah Sakri dan seorang prajurit Wira Tamtama segera berlari menuju barisan belakang dan seaat kemudian tiga ekor kuda telah berpacu meninggalkan barisan prajurit Pajang menuju ke arah barat.

"Kakang Juru Martani, adi Penjawi, mari kita kembali ke dalam barisan, cepat" kata Pemanahan, dan ketiganyapun berlari menuju ke dalam barisan diikuti oleh Lurah Prayoga serta Lurah Prayuda dan dibelakangnya berlari empat pimpinan laskar Sela.

"Bendera Gula Kelapa dan bendera kesatuan supaya dikibarkan sekarang" kata Pemanahan, dan sesaat kemudian beberapa bendera telah berkibar megah.

"Kakang Juru, dimana kuda hitam Gagak Rimang milik Arya Penangsang ?" tanya Pemanahan.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita