Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 78 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 78 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Silahkan duduk Panembahan" kata adik Adipati Jipang, Arya Mataram.

"Terima kasih Raden Mataram" kata Panembahan.

"Hari ini saya senang sekali Panembahan, karena Panembahan sudi singgah di dalem Kadipaten Jipang" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati, saya dalam perjalanan ke daerah Lasem, dan di Jipang ini, saya mempunyai banyak saudara, sehingga saya sempatkan untuk bertemu dengan adik seperguruan saya, adi Matahun" kata Panembahan Sekar Jagad.

"Ya kakang Panembahan, karena kesibukanku aku tidak sempat berkunjung ke padepokan kakang Panembahan di lereng gunung Lawu" kata Patih Matahun.

"Tidak apa-apa adi Matahun, biar aku saja yang sering mengunjungimu ke Jipang" kata Panembahan.

"Panembahan, hari ini adalah hari yang berbahagia bagi saya, karena hari ini adalah hari terakhir saya berpuasa selama empat puluh hari, dan nanti setelah matahari terbenam, saya dianggap telah berhasil menjalankan perintah dari guruku, Bapa Sunan Kudus" kata Arya Penangsang.

"Puasa ? Saat ini Kanjeng Adipati sedang berpuasa ?" tanya Panembahan Sekar Jagad.

"Ya, saya diperintahkan untuk berpuasa Panembahan, saya tidak boleh marah, harus sabar, bisa menahan hawa nafsu, dan menolong sesama, hari ini adalah hari yang terakhir Panembahan, hari yang ke empat puluh" kata Adipati Jipang.

Mendengar ucapan Arya Penangsang, Panembahan Sekar Jagadpun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Paman Matahun, nanti sore paman supaya menyuruh juru masak untuk menghidangkan makanan yang enak-enak, karena kita sedang menerima tamu dari jauh, sahabat Jipang, Panembahan Sekar Jagad" kata Arya Penangsang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Panembahan akan menginap di Jipang dua tiga malam ?" tanya Arya Penangsang.

"Terima kasih Kanjeng Adipati, saya hanya menginap semalam saja, besok saya akan meneruskan perjalanan ke Lasem" kata Panembahan Sekar Jagad.

"Besok sepulang dari Lasem, aku persilahkan panembahan beserta rombongan kembali singgah di Jipang" kata Adipati Jipang.

"Terima kasih Kanjeng Adipati" jawab Panembahan Sekar Jagad.

Beberapa saat kemudian merekapun masih berbincang di ruang dalam, dan saat itu mereka sama sekali tidak mengira kalau para prajurit Pajang beserta laskar dari Sela telah berjalan mendekati bengawan Sore.

"Kita berjalan terus, sampai hampir mencapai Bengawan Sore" kata Pemanahan.

Matahari telah condong ke barat, beberapa puluh langkah lagi mereka akan mencapai tepi sungai.

"Kita berhenti disini" kata Pemanahan.

Sesaat kemudian pasukan Pajangpun telah berhenti, mereka menunggu perintah selanjutnya dari Pemanahan.

"Ki Lurah Prayoga, coba kumpulkan semua pimpinan prajurit Pajang maupun laskar dari Sela" kata Pemanahan, dan beberapa saat kemudian Lurah Prayoga telah mengumpulkan semua pimpinan para prajurit Pajang maupun laskar dari Sela.

"Kita berhenti disini, tunggu perintah dariku, kami bertiga, aku bersama Ki Penjawi, dan Ki Juru Martani, akan mendekat ke dalem Kadipaten Jipang, kami akan menyelidiki keadaan diseberang Bengawan Sore, dan selama kami pergi, gabungan para prajurit Pajang dan laskar Sela akan dipimpin oleh Ki Lurah Prayoga" kata Pemanahan.

"Baik Ki" kata Lurah Prayoga.

"Semua prajurit supaya bersembunyi di hutan ini, semua bendera kesatuan prajurit dan bendera Gula Kelapa segera dipasang. Para prajurit maupun laskar Sela yang bersenjatakan panah bersiap di barisan paling depan, setiap saat kita harus bisa bergerak cepat. Kumpulkan semua kuda di sebelah sini, biar kita bisa cepat kalau memerlukan kuda kuda itu" kata Pemanahan.

"Ki Lurah Sakri, ambilkan busur dan panah sendaren" kata Pemanahan.

Lurah Sakri berjalan kebelakang, tak lama kemudian ki lurah membawa sebuah busur dan sebuah anak panah sendaren lalu panah itupun diberikan kepada Pemanahan..

"Panah sendaren ini akan aku bawa ke seberang Bengawan Sore, apabila aku membunyikan panah sendaren ini, berarti usahaku telah gagal, aku ketahuan oleh prajurit Jipang, kalian harus cepat bergerak ketepi Bengawan Sore" kata Pemanahan.

"Adi Penjawi dan kakang Juru Martani, mari kita berangkat sekarang, Ki Lurah Prayoga, berhati-hatilah" kata Pemanahan.

"Baik ki" kata Lurah Prayoga.

"Sutawijaya, aku tinggal dulu, kau disini bersama Ki Lurah Sakri" kata Pemanahan.

"Ya ayah" kata Sutawijaya.

Sesaat kemudian Pemanahan beserta Juru Martani dan Penjawi yang membawa busur dan panah sendaren segera meninggalkan pasukan, berjalan menuju ketepi barat Bengawan Sore.

Mereka bertiga membawa bungkusan yang berisi sebuah pisau dan tiga buah pakaian yang kering.

"Kita jangan menyeberang disini, kita berjalan sedikit ke utara" kata Juru Martani, lalu mereka bertiga segera berjalan sedikit melingkar ke arah utara.


Setelah beberapa puluh langkah mereka berjalan ke utara, maka Juru Martanipun berhenti, lalu dengan tajamnya ia memandang ke seberang Bengawan Sore.

"Kita menyeberang disini, airnya tidak terlalu dalam" kata Juru Martani sambil melepas pedang pendek yang tergantung dilambungnya, diikuti oleh Pemanahan dan Penjawi.

Sambil memegang pedang pendek, mereka bertiga perlahan-lahan masuk kedalam air, menyeberang menuju ke tepi sebelah timur Bengawan Sore.

"Kita harus cepat berjalan sampai keseberang" kata Juru Martani.

Bengawan Sore yang kedalaman airnya sebatas pinggul, diseberangi oleh tiga orang nayaka praja Pajang pemberani yang berasal dari Sela.

"Mudah-mudahan tidak ada orang Jipang yang melihat kita menyeberangi bengawan ini" kata Penjawi sambil mengangkat busur dan panah sendaren supaya tidak basah terkena air bengawan.

Mereka bertiga maju terus, dan tak lama kemudian mereka telah sampai di tepi timur Bengawan sore.

"Kita harus memakai pakaian yang kering" kata Pemanahan, dan mereka bertiga kemudian berjalan ke sebuah pohon, dan tak lama kemudian merekapun telah terlihat memakai pakaian yang kering, sedangkan pakaian yang basah telah mereka masukkan kedalam bungkusan.

"Mari kita berjalan ke selatan, hati-hati jangan sampai kita bertemu dengan prajurit Jipang" kata Juru Martani.

Matahari semakin condong ke barat, dengan berhati-hati mereka bertiga berjalan ke selatan.

Merekapun berjalan perlahan-lahan sambil memperhatikan keadaan sekitarnya, tetapi tiba-tiba Ki Juru Martani berhenti dan berlindung di balik sebatang pohon.

Pemanahan dan Penjawipun kemudian juga melompat kesamping, bersembunyi dibalik pohon.

"Adi Pemanahan dan adi Penjawi coba lihat didepan, ada seorang yang sedang menyabit rumput, apakah orang itu rumahnya disekitar desa disini, atau mungkin orang itu malah abdi dari Arya Penangsang ?" kata Juru Martani.

"Kita sebaiknya mendekat ke orang itu kakang Juru Martani" kata Pemanahan.

"Baik adi Pemanahan, kita kesana, adi Penjawi, ayo kita menemui orang yang sedang menyabit rumput itu" kata Juru Martani, dan sesaat setelah menyembunyikan panah sendarennya, mereka bertiga berjalan menemui orang yang sedang menyabit rumput.

Di tepi sungai, terlihat seseorang yang sedang berjongkok, tangannya bergerak menyabit rumput, dan disebelahnya tergeletak dua buah keranjang tempat rumput-rumput yang telah disabit.

Orang itu melihat ada tiga orang yang berjalan menuju ke arahnya, iapun merasa heran, ia memandang kepada tiga orang yang berjalan menuju dirinya, tidak biasanya ada orang yang lewat menyusuri Bengawan Sore.

Penyabit rumputpun lalu berdiri dan memasukkan rumput yang telah disabitnya itu kedalam keranjang yang berada di sampingnya.

Pemanahan, Juru Martani dan Penjawi semakin dekat dengan penyabit rumput itu, mereka melihat orang itu masih memegang sabitnya.

"Rumput disini semuanya subur ki sanak" kata Pemanahan setelah mereka berdiri saling berhadapan.

"Ya, rumput disini memang hijau subur" kata orang itu.

"Ki sanak orang Jipang ?" tanya Pemanahan.

"Ya aku adalah orang Jipang, sejak lahir aku di Jipang, ki sanak kelihatannya bukan orang Jipang" kata pencari rumput itu.

"Kami bertiga berasal dari jauh, dari Pengging" kata Pemanahan.

"Pengging, aku belum pernah pergi ke Pengging. Ki sanak mau kemana ?" tanya pencari rumput itu

"Kami bertiga akan melakukan tapa kungkum, dan sekarang sedang mencari sebuah tempuran di sungai ini" kata salah seorang yang berdiri dihadapannya, yang berumur agak lebih tua dari dua orang lainnya.

"Di nggawan ini jarang sekali orang melakukan tapa kungkum ki sanak" kata pencari rumput itu.

"Nggawan ? Maksud ki sanak Bengawan Sore ?" tanya Pemanahan.

"Ya, Bengawan Sore" kata orang itu.

Pemanahan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu iapun bertanya :"Ki sanak mencari rumput untuk kuda atau sapi milik ki sanak sendiri ?"

"O tidak ki sanak, aku sedang mencari rumput untuk Gagak Rimang" kata orang itu.

"Gagak Rimang ? Disebelah mana rumahnya ?" tanya Penjawi.

Mendengar pertanyaan orang yang berdiri dihadapannya, pencari rumput itupun tertawa terkekeh-kekeh sampai keluar air matanya.

"Pertanyaanmu memang menggelikan ki sanak" kata pencari rumput itu :"Tidak ada orang yang mau makan rumput ini, aku mencari rumput untuk Gagak Rimang, he ki sanak, Gagak Rimang adalah nama seekor kuda jantan"

"Jadi Gagak Rimang itu nama seekor kuda ? Aneh" kata Juru Martani.

"Tidak ada yang aneh ki sanak, Gagak Rimang adalah seekor kuda yang gagah, berwarna hitam legam, kuda kesayangan Gusti Arya Jipang" kata pencari rumput itu.

"Gusti Arya Jipang ? Maksud ki sanak Adipati Jipang Arya Penangsang ?" tanya Penjawi.

"Ya, Kanjeng Adipati Arya Penangsang, Adipati Jipang" kata orang Jipang itu.

"O jadi Gagak Rimang itu kuda kesayangan Kanjeng Adipati Arya Penangsang ?" tanya Juru Martani.

"Ya, Gagak Rimang kuda yang luar biasa, aku yang merawatnya tiap hari, kuda berwarna hitam yang gagah, dan aku adalah pekatiknya, abdi kinasih Gusti Arya Jipang" kata pekatik itu dengan bangga.


"Kalau begitu, gustimu Arya Penangsang juga bertubuh tinggi besar seperti kuda kesayangannya ?" tanya Pemanahan.

"Tidak, gusti Arya Jipang bertubuh sedang, tetapi gusti Arya Jipang adalah orang yang tidak pernah mengenal takut, Kanjeng Adipati Jipang adalah kemenakan sekaligus murid dari salah seorang Wali Sanga yang tinggal di Kudus, Kanjeng Sunan Kudus, he ki sanak, kau pernah pergi ke Kudus ?" tanya pekatik itu.

"Pernah ki sanak, aku pernah sekali pergi ke Kudus" kata Juru Martani.

"Kau juga baru sekali ini pergi ke Jipang ?" tanya pekatik itu.

"Ya ki sanak, aku belum pernah kemari, baru sekali ini aku pergi ke Jipang" jawab Pemanahan.

Pekatik itupun tertawa, lalu iapun berkata :"Jangan takut, semua orang Jipang ramah terhadap para tamu, gusti Arya Jipangpun saat ini juga sedang menerima tamu".

"Tamu ? Siapakah yang menjadi tamu Kanjeng Adipati Arya Penangsang ?" tanya Pemanahan.

"Aku lupa namanya, tetapi dia adalah saudara dari Ki Patih Matahun yang padepokannya berada di lereng gunung Lawu" kata penyabit rumput itu.

"Panembahan Sekar Jagad" kata Pemanahan, Juru Martani dan Penjawi didalam hati.

Pemanahan yang merasa waktunya telah cukup, segera bersiap untuk melaksanakan sebuah rencana besar yang telah disusunnya bersama Juru Martani dan Penjawi.

Pemanahan menganggukkan kepalanya kepada Juru Martani, memberi isyarat untuk segera bertindak, dan Juru Martanipun tanggap terhadap isyarat itu, dan dengan cepat Ki Juru melompat menerkam pekatik yang berdiri didepannya.

Pekatik itu terkejut, ia tak sempat mengelak, dengan sekuat tenaga tangan kanannya yang memegang sabit digerakkan untuk menyerang orang Pengging itu, tetapi tiba-tiba ia kembali terkejut ketika sebuah pukulan mengenai punggung telapak tangannya sehingga sabit yang dipegangnya telah terlempar jatuh ke tanah.

Orang Jipang itu mengeluh, belum hilang rasa terkejutnya, tubuhnya telah didorong dan tanpa dapat dicegah dirinya telah terdorong kedepan, dan sekejap kemudian, kedua tangannyapun telah terpilin kebelakang.

"He orang Pengging, apa salahku kepadamu ?!" teriak pencari rumput itu.

"Kau orang Jipang, dengarkan kata-kataku, aku adalah musuh gustimu Arya Jipang, aku adalah Sultan Hadiwijaya, aku tantang gustimu Arya Jipang untuk berperang tanding di tepi nggawan ini !" kata Pemanahan, lalu dari balik bajunya, Pemanahan mengeluarkan sebuah surat kecil dari kulit binatang yang digulung dan telah diikat rapi.

"Berikan surat tantangan ini kepada gustimu Arya Jipang, katakan kepadanya, Arya Jipang ditantang Sultan Hadiwijaya perang tanding di tepi nggawan ini" kata Pemanahan, sambil mengambil sebuah pisau dari balik bajunya.

Penjawi segera bertindak, kepala pekatik segera dijepit dan dipegangnya erat-erat, sehingga kepalanya tidak dapat digerakkan, sedangkan Juru Martani menekan tangan pekatik semakin keras.

Pemanahanpun bertindak cepat, tangan kirinya mengalungkan surat itu di daun telinga pekatik itu, dan dengan cepat tangan kanannya yang memegang pisau, memotong daun telinga orang Jipang yang malang itu.

Pekatik itupun berteriak nyaring, darahpun mengucur dari telinganya yang terluka, Penjawi segera melepaskan jepitannya dan Juru Martanipun melepaskan kunciannya, sehingga dan pekatik itupun melompat bangun.

Orang Jipang yang dipotong daun telinganya itu menjerit kesakitan sambil memegang telinganya yang berlumuran darah, tangannya menuding kepada Pemanahan sambil berteriak :"Sultan Hadiwijaya !! Kalian adalah orang-orang yang kejam, aku tidak mempunyai salah apapun kepadamu, tetapi kau potong telingaku ini, kalian tunggu disini, akan aku laporkan semuanya kepada gustiku Arya Jipang".

Pekatik itupun kemudian lari sambil memegang telinganya yang berdarah, sedangkan tangannya yang lain memegang surat tantangan dari Sultan Hadiwijaya untuk Arya Penangsang.

"Ambil panah sendaren kita" kata Pemanahan, dan sekejap kemudian Penjawi telah melompat dan berlari mengambil panah sendaren yang berada dibaik sebatang pohon.

Pemanahanpun bergerak cepat, ketika dilihatnya Penjawi telah berlari keluar dari balik pohon dengan membawa sebuah panah sendaren, maka Pemanahanpun berlari ke arah sungai.

"Cepat ! Semua kembali ke pasukan kita di seberang, sebentar lagi Penangsang akan menuju kemari" kata Pemanahan, dan dengan cepat mereka bertiga kembali menyeberangi Bengawan Sore, menuju ke tepi barat.

Sesaat kemudian setelah sampai ditepian, ketiganya berlari kencang ke arah para prajurit Pajang dan laskar dari Sela yang berada tidak jauh dari tepi Bengawan Sore.

Lurah Prayoga beserta semua lurah prajurit maju menyongsong diikuti oleh Wiranala bersama tiga orang pimpinan laskar Sela lainnya

"Ki Lurah Prayoga, perintahkan pasukan kita menuju ke tepi Bengawan Sore sekarang, cepat" kata Pemanahan setelah mereka bertiga berhadapan dengan pimpinan prajurit Pajang dan laskar Sela


Lurah Prayoga segera berteriak memberi perintah untuk bergerak maju dan sekejap kemudian pasukan Pajangpun telah berlari, menuju ke tepi barat Bengawan Sore.

Beberapa langkah sebelum mencapai tepi sungai, Pemanahan menghentikan pasukan Pajang disebuah tanah lapang yang luas.

''Ki Lurah Prayoga, dua orang yang membawa panah sendaren supaya bersiap beberapa ratus langkah di sebelah utara maupun di sebelah selatan tempat ini, kalau mereka melihat ada gerakan pasukan Jipang, supaya segera melepaskan panah sendarennya" kata Pemanahan.

"Baik Ki" kata Lurah Prayoga, dan sesaat kemudian dua orang yang membawa panah sendaren segera berlari ke arah utara dan dua orang lainnya berlari ke arah selatan.

"Pasukan panah bersiap di barisan depan, cepat !!" perintah Pemanahan.

Puluhan orang bersenjatakan busur dan anak panah berlarian maju kedepan.

"Para prajurit dan laskar Sela semuanya berbaring tengkurap, semuanya bersembunyi di rumput dan gerumbul perdu, jangan sampai ada yang kelihatan dari seberang, bendera kesatuan prajurit dan bendera Gula Kelapa supaya disembunyikan" perintah Pemanahan dan dengan cepat semua prajurit dan laskar Sela berbaring tengkurap di tanah yang tidak jauh dari tepi Bengawan Sore.

"Sutawijaya, kau juga bersembunyi bersama para prajurit" kata Pemanahan kepada Sutawijaya.

"Baik ayah" kata Sutawijaya, dan sesaat kemudian Sutawijayapun segera berbaring bersama para prajurit yang lain.

Setelah semua pasukan Pajang bersembunyi, ditepi bengawan Sore, hanya terlihat tiga orang Sela yang sedang berdiri menanti lawan.

"Sebentar lagi Penangsang pasti akan datang" kata Pemanahan.

"Mudah-mudahan Penangsang datang sendiri, tanpa Patih Matahun maupun para prajurit Jipang" kata Penjawi.

"Pekatik yang dipotong daun telinganya pasti akan membuat Penangsang murka" kata Juru Martani, dan pada saat itu, pekatik yang telinganya telah dipotong sedang berlari sekuat tenaga menuju dalem Kadipaten.

"Awas kau Sultan Hadiwijaya, tunggu pembalasanku, semuanya akan aku laporkan kepada gusti Arya Jipang" ancamnya diselingi dengan teriakan kesakitan dan langkah kakinya telah membawanya semakin dekat dengan dalem Kadipaten.

Pada saat itu di pendapa dalem Kadipaten terlihat ada dua orang yang duduk di kursi dan dihadapannya beberapa orang juga sedang duduk bersila dilantai.

"Beberapa saat lagi puasa saya akan berakhir Panembahan, hari sudah hampir sore, tak lama lagi matahari akan terbenam, dan selesailah puasaku selama empat puluh hari" kata Arya Penangsang kepada tamunya.

Mendengar perkataan Arya Penangsang, Panembahan Sekar Jagad hanya tersenyum, ia memandang kepada adik seperguruannya Matahun, yang telah mukti wibawa menjadi Patih di Jipang, dan saat ini Ki Patih sedang duduk dilantai pendapa.

Disebelah Patih Matahun, duduk bersila Arya Mataram, adik Kanjeng Adipati Jipang, sedangkan dibelakangnya, duduk Anderpati bersama Sorengrana dan Sorengpati.

Disudut pendapa, duduk dua orang cantrik padepokan Sekar Jagad bersama empat orang prajurit Jipang yang sedang bertugas jaga di dalem Kadipaten.

Di depan Arya Penangsang, terdapat sebuah meja yang diatasnya telah tersedia berbagai makanan, minuman dan beberapa buah-buahan.

"Ya Kanjeng Adipati, tidak mudah melakukan puasa selama empat puluh hari, harus sabar dan tidak boleh marah, tidak setiap orang mampu melakukannya, dan sekarang Kanjeng Adipati hampir selesai melakukan laku itu" kata Panembahan Sekar Jagad.

"Ya Panembahan, sebentar lagi kita akan makan makanan yang enak, paman Matahun telah menyuruh para juru masak dalem kadipaten untuk memasak beberapa masakan yang lezat" kata Arya Penangsang.

"Terima kasih Kanjeng Adipati" kata Panembahan Sekar Jagad.

Tetapi tiba-tiba semua orang yang berada di pendapa terkejut, ketika mereka melihat ada seseorang yang berteriak kesakitan sambil memegang telinganya yang berdarah, berlari memasuki regol dalem Kadipaten.

Ketika orang itu akan berlari naik ke pendapa, maka empat orang prajurit yang berjaga di pendapa segera melompat turun dan menghalangi orang yang terluka itu.

Para prajurit dengan cepat menangkap dan menghalangi, memegang tangan dan tubuhnya, sehingga badan pekatik itu tidak dapat bergerak, tetapi mereka terkejut ketika pekatik itu berteriak :"Gusti Adipati !! Gusti Arya Jipang !! Hamba mohon keadilan !!"

Patih Matahun segera berdiri, ia berniat menghalangi orang yang telah berteriak, supaya orang itu gagal menghadap Arya Penangsang di pendapa.

Dengan cepat Matahun melangkah ke halaman, tetapi ia kalah cepat dengan teriakan orang yang kesakitan itu :"Gusti Arya Jipang, hamba dianiaya oleh Sultan Hadiwijaya !!"

Semua yang berada di pendapa menjadi terkejut, Patih Matahunpun berhenti melangkah, ia menjadi sangat khawatir, kalau keadaan orang yang terluka akan menjadikan junjungannya menjadi murka.

"Sultan Hadiwijaya ?" kata Adipati Jipang dalam hati, dan tiba-tiba terdengarlah teriakan Arya Penangsang menggetarkan pendapa :"Lepaskan !! Biarkan orang itu datang kemari !!".


Patih Matahun tidak bisa menghalangi, ia melihat ke empat orang prajurit Jipang telah melepaskan orang yang terluka itu, lalu dengan cepat tanpa suba sita, orang itupun berlari di pendapa menghadap Arya Penangsang.

"Kau pekatik yang mengurus Gagak Rimang, ada apa ? Kenapa telingamu berdarah ?" kata Arya Penangsang setelah mengetahui yang menghadap adalah abdinya yang mengurus kuda hitam kesayangannya.

"Betul gusti Adipati, hamba adalah pekatik yang mengurus Gagak Rimang, hamba mohon keadilan gusti Adipati" kata pekatik itu yang telah duduk dihadapan Arya Penangsang sambll memegang telinganya yang mengeluarkan darah.

"Ada apa dengan telingamu, pekatik ?" tanya Adipati Jipang.

"Dipotong Sultan Hadiwijaya, gusti Adipati" kata pekatik itu.

Mendengar kata-kata pekatik itu, telinga Arya Penangsang seperti disulut api.

"Sultan Hadiwijaya berani memotong telinga orang Jipang ?!" tanya Penangsang dengan muka yang memerah.

"Ya gusti, Sultan Hadiwijaya bersama dua orang temannya telah memotong telinga hamba, sekarang mereka berada ditepi nggawan" kata pekatik itu.

"Hm adimas Hadiwijaya pasti bersama Pemanahan dan Penjawi. Adimas Hadiwijaya telah memotong telinga orang Jipang berarti sama juga penghinaan kepada Adipati Jipang" kata Penangsang dalam hati.

"Apa katanya ??!" tanya Penangsang dengan suara yang bergetar.

"Sultan Hadiwijaya menantang gusti Adipati untuk melakukan perang tanding, ini surat tantangannya" kata pekatik itu memberikan gulungan surat yang terdapat percikan darahnya kepada Adipati Jipang.

Dengan tangan gemetar Arya Penangsang membuka surat yang telah terkena darah, lalu dibacanya dengan dada bergetar.


-"He, Penangsang,

Aku adalah Sultan Hadiwijaya, 

Kalau kau seorang laki-laki,

Aku tantang kau berperang tanding,

Menyeberanglah, datanglah sendiri tanpa prajurit,

Aku tunggu di tepi barat Bengawan Sore"-


Penangsangpun menjadi murka, Sang Adipati menjadi marah sekali, wajahnya memerah, surat itupun diremasnya, setelah itu meja didepannya yang diatasnya terdapat banyak makanan dan minuman, dijungkir balikkan, sehingga semua makanan kini tumpah berserakan dilantai pendapa.

Pekatik itu terkejut, dengan cepat ia bergeser menjauh dari junjungannya yang sedang murka.

"Nderpati !! Siapkan Gagak Rimang sekarang, cepat !!" teriak Arya Penangsang.

Anderpati terloncat berdiri, lalu dengan cepat ia turun dari pendapa lalu berlari menuju ke kandang Gagak Rimang.

"Sabar Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

Adipati Jipang melihat telinga abdinya yang terpotong itu masih meneteskan darah, hati Penangsangpun menjadi semakin terbakar, dengan cepat dibangunnya kekuatan aji Tameng Waja, untuk melindungi dirinya.

Setelah aji Tameng Waja manjing didalam dirinya, maka Penangsangpun berteriak :"Aku akan melakukan perang tanding melawan Karebet di tepi barat Bengawan Sore seorang diri !!"

Patih Matahun terkejut, dengan cepat ia bersimpuh dihadapan Arya Penangsang.

"Sabar Kanjeng Adipati, tunggulah sebentar, saya akan mengumpulkan semua prajurit Jipang, kita berangkat menyeberangi sungai bersama sama" kata Patih Matahun yang merasa cemas dengan kemarahan junjungannya.

"Hadiwijaya, aku terima tantanganmu !!" teriak Adipati Jipang.

"Sabar Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

Ketika dilihatnya Anderpati telah berada di depan pendapa sambil menuntun Gagak Rimang, maka tangan Arya Penangsang meraba keris Kyai Setan Kober yang telah dipakai di belakang, kemudian keris itu diambilnya, lalu dipindah, diselipkannya di perut sebelah kiri, dan keris itupun kini telah dipakainya dengan cara nyote.

"Aku akan melakukan perang tanding seorang diri, jangan ada seorangpun yang mengikuti aku !!" teriak Arya Penangsang dengan wajah memerah, semerah darah yang keluar dari telinga abdi kinasihnya.

"Sabar Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun, tetapi Arya Penangsang yang hatinya telah terbakar tidak menghiraukannya.

"Minggir kau paman Matahun !!" teriak Adipati Jipang.

Patih Matahunpun bangkit berdiri, lalu iapun bergeser ketepi.

Arya Penangsang melangkah cepat, tetapi langkahnya terhenti ketika ia melihat adiknya, Arya Mataram menghalangi jalannya sambil berkata :"Sabar kakangmas"

Kemarahan Arya Penangsang seperti api disiram minyak, dengan cepat tangannya bergerak mendorong pundak adiknya sambil membentak :"Minggir !!"

Arya Mataram terkejut ketika sebuah kekuatan yang besar telah mendorongnya kesamping, dan tanpa dapat dicegah, Arya Mataram telah terpelanting, jatuh terguling di lantai pendapa.

Tidak ada seorangpun yang mampu menghalangi murka Sang Adipati, dengan cepat iapun turun dari pendapa, dan sesaat kemudian Gagak Rimang telah berlari keluar dari regol dalem Kadipaten dengan Arya Penangsang berada dipunggungnya.

Arya Penangang memacu kudanya cepat sekali, yang ada di angan-angannya hanya secepatnya melakukan perang tanding melawan Sultan Hadiwijaya.

Matahunpun bertindak cepat, lalu iapun berteriak :"He tiga orang prajurit, kalian ikuti Kanjeng Adipati dari kejauhan, seberangi Bengawan Sore, jangan sampai ketahuan, lihat apa yang terjadi di seberang tepi barat !!"

Tiga orang prajurit kemudian turun dari pendapa, lalu berlari menyusul Arya Penangsang ke tepi Bengawan Sore.

"Nderpati, pukul bende beri, kumpulkan semua prajurit Jipang sekarang, cepat !!" teriak Patih Matahun.

"He prajurit, cepat bunyikan titir, sekarang !!" teriak Patih Matahun kepada seorang prajurit yang masih berdiri disudut pendapa.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita