Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 76 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 76 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Beberapa hari kemudian, tepat satu candra setelah Sultan Hadiwijaya berjanji kepada Ratu Kalinyamat untuk membunuh Penangsang, pagi itu diruang dalam Kasultanan Pajang, Sultan Hadiwijaya sedang duduk di kursi dihadap semua nayaka praja, hadir juga putra angkatnya, Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Kakang Pemanahan" kata Sultan Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Semua prajurit yang menyebarkan wara-wara sayembara ke seluruh tlatah Pajang, telah kembali semuanya ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Para prajurit sudah kembali semuanya Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Siapakah yang berani mengikuti sayembara itu kakang Pemanahan" kata Kanjeng Sultan.

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, tidak ada seorangpun yang berani mengikuti sayembara itu, tidak ada seorangpun yang bersedia membunuh Adipati Jipang " jawab Pemanahan.

"Kalau begitu, besok pagi persiapkan para prajurit Pajang, para prajurit akan diberangatkan menggempur Jipang, aku sendiri yang akan menjadi Senapati Agung Pajang melawan Arya Penangsang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Hamba mohon ampun Kanjeng Sultan, apakah tidak sebaiknya kita mencoba cara lain" kata Pemanahan

"Cara lain bagaimana kakang ?" tanya Sultan Pajang.

"Apakah Kanjeng Sultan tidak minta kesediaan Ki Kebo Kanigara untuk membunuh Penangsang, ilmu Ki Kebo Kanigara jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ilmu Arya Penangsang ?" tanya Pemanahan.

Sutan Hadiwijaya menggelengkan kepalanya sambil berkata :"Jangan kakang, selama aku masih dapat mengatasi persoalan didalam Kasultanan Pajang, aku tidak akan melibatkan siwa Kanigara, meskipun siwa Kanigara mampu dengan mudah membunuh Penangsang" kata Kanjeng Sultan.

"Kanjeng Sultan, kalau begitu hamba mohon ijin, hamba beserta adi Penjawi yang akan mengikuti sayembara itu, kami bersedia membunuh Penangsang, Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

Mendengar perkataan Pemanahan, Sultan Hadiwijaya terkejut, dipandangnya Pemanahan dan Penjawi yang duduk bersila dihadapannya.

"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi bersedia mengikuti sayembara membunuh Penangsang ?" tanya Sultan Pajang.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Baiklah, nanti hadiah yang aku janjikan, bumi Pati dan alas Mentaok akan aku berikan kepada kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, lalu apa yang kakang perlukan untuk melawan Jipang ?" tanya Sultan Pajang.

"Laskar Sela tidak banyak Kanjeng Sultan, untuk menghadapi prajurit Jipang, hamba minta bantuan prajurit Pajang sebanyak empat ratus prajurit" kata Pemanahan.

"Baik, silahkan membawa empat ratus prajurit Pajang, Wira Tamtama, Wira Braja, Wira Yudha dan Wira Manggala, kemudian apa lagi keinginanmu, kakang Pemanahan ?" kata Kanjeng Sultan.

"Hamba minta putra dalem Sutawijaya ikut berperang bersama hamba Kanjeng Sultan, karena sebagai anak laki-laki harus mampu bertempur, supaya besok bisa menjadi seorang yang mampu memimpin sebuah pertempuran" kata Pemanahan.

"Kau akan mengajak Sutawijaya berperang ? Ingat kakang Pemanahan, Sutawijaya adalah anakku" kata Sultan Hadiwijaya.

"Betul Kanjeng Sultan, hamba hanya menjalankan titah Kanjeng Sultan beberapa waktu yang lalu, supaya putra dalem Sutawijaya ikut berperang melawan Jipang, agar bisa menjadi seorang laki-laki pemberani" kata Pemanahan.

"Hm" Sultan Hadiwijaya belum menjawab pertanyaan dari Pemanahan, sebuah permintaan yang sulit, Kanjeng Sultanpun menimbang dan mengurai, apakah sebaiknya Sutawijaya mendapatkan pengalaman sesungguhnya, ikut berperang melawan Jipang bersama prajurit Pajang dan laskar Sela.

"Sutawijaya" kata Sultan Pajang.

"Dawuh dalem ayahanda Sultan" kata Sutawijaya.

"Apakah kau berani ikut berperang melawan Jipang ?" tanya Sultan Pajang.

"Hamba berani ayahanda Sultan" kata Sutawijaya.

"Bagus, kalau kau berani berangkat ke pertempuran, aku ijinkan kau ikut bersama para prajurit Pajang berperang melawan Jipang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Terima kasih ayahanda" kata Sutawijaya.

"Kakang Pemanahan, Sutawijaya adalah anakku, kakang yang mengajaknya berarti kakang yang harus bertanggung jawab terhadap keselamatan Sutawijaya" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Jangan sampai kulitnya tergores, apalagi tulangnya sampai patah, kalau terjadi sesuatu terhadap anakku Sutawijaya, kau akan menerima akibatnya, kakang Pemanahan" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Tunggu sebentar Sutawijaya" kata Sultan Hadiwijaya, kemudian Kanjeng Sultan bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan masuk ke kamar pusaka.

Beberapa saat kemudian Kanjeng Sultan keluar dari ruang pusaka sambil membawa sebuah tombak pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang, tombak Kyai Pleret.


Setelah duduk kembali di kursinya, maka sambil kedua tangannya memegang tombak Kyai Pleret, Kanjeng Sultanpun berkata :"Sutawijaya, kau tangkas menunggang kuda, kau pandai bermain sodoran dan tak seorangpun yang mampu mengalahkanmu, kini telah tiba saatnya kau harus menghadapi lawan yang sebenarnya, majulah kemari Sutawijaya"

Sutawijaya maju kedepan dengan laku dodok, setelah menyembah, iapun duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan.

"Berjongkoklah Sutawijaya, gunakan ini sebagai bekal untuk berperang, terimalah tombak pusaka Kyai Pleret, kau gunakan tombak pusaka ini untuk kebesaran dan kejayaan Kasultanan Pajang" kata ayahandanya.

Sutawijaya segera berjongkok dihadapan Kanjeng Sultan, setelah itu kedua tangannya menerima tombak Kyai Pleret, kemudian iapun bergeser mundur kebelakang.

Setelah Sutawijaya bergeser mundur kebelakang, maka Kanjeng Sultan memandang ke arah Pemanahan.

"Kakang Pemanahan, prajurit Pajang harus membawa bendera Gula Kelapa, tunggulah sebentar, kakang Pemanahan" kata Sultan Hadiwijaya, kemudian Kanjeng Sultan bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan masuk ke kamar pusaka.

Beberapa saat kemudian Kanjeng Sultan keluar dari ruang pusaka sambil membawa sebuah tombak pancasula, pusaka Kasultanan Demak yang sekarang menjadi milik Kasultanan Pajang, Kyai Wajra.

Setelah duduk kembali di kursinya, sambil kedua tangannya memegang tombak pancasula Kyai Wajra, Kanjeng Sultanpun berkata :"Majulah kedepan kakang Pemanahan".

Pemanahan bergeser kedepan dengan laku dodok, setelah menyembah, iapun duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan.

"Kakang Pemanahan, pancasula Kyai Wajra termasuk salah satu tombak pusaka Kasultanan Pajang, pasanglah Kyai Wajra ini di ujung tiang bendera Gula Kelapa, jangan sampai bendera itu direbut musuh, pertahankan bendera Gula Kelapa itu dengan nyawamu, berjongkoklah kakang Pemanahan" kata Sultan Hadiwijaya, setelah itu Kanjeng Sultanpun memberikan tombak Kyai Wajra kepada Pemanahan.

Pemanahan segera berjongkok, lalu kedua tangannya menerima tombak pancasula Kyai Wajra, setelah itu iapun bergeser mundur kebelakang.

"Nah kakang Pemanahan, semua permintaanmu sudah aku penuhi, dalam waktu paling lambat dua pasar lagi, kakang Pemanahan dan kakang Penjawi harus sudah dapat membunuh Arya Penangsang" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Ada yang ingin kau katakan kakang Juru Martani ?" tanya Kanjeng Sultan yang melihat Juru Martani menyembah.

"Kanjeng Sultan, hamba adalah pemomong putra dalem Sutawijaya sejak masih bayi, tidak tega rasanya melepas momongan hamba yang belum dewasa maju ke medan perang, kalau diijinkan, hamba ingin mendampingi putra dalem di peperangan, Kanjeng Sultan" kata Juru Martani.

"Baiklah kakang Juru Martani, aku ijinkan, kalian berempat berangkat perang ke Jipang bersama empat ratus prajurit Pajang, lalu kapan kakang Pemanahan akan berangkat ?" kata Kanjeng Sultan.

"Dua hari lagi Kanjeng Sultan, nanti sepasar lagi, empat ratus orang prajurit akan menyusul berangkat bersama adi Penjawi secara kelompok demi kelompok untuk menghindari dari pengamatan para prajurit sandi Jipang" kata Pemanahan.

"Baiklah kakang Pemanahan, kalau begitu pertemuan ini sudah selesai, aku akan ke kamar dulu, silahkan kalau kakang bertiga akan mempersiapkan persiapan para prajurit" kata Sultan Pajang, setelah itu Kanjeng Sultan bangkit dari duduknya, lalu berjalan masuk ke kamarnya.

Setelah Kanjeng Sultan tidak terlihat lagi, Pemanahan kemudian berkata kepada semua yang hadir :"Besok lusa kami berempat akan berangkat ke Jipang, nanti urusan para prajurit yang tidak ikut berperang, menjadi kewajiban Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta, sekarang kami berempat akan pulang dulu, akan membicarakan persiapan keberangkatan para prajurit"

Mereka berempat kemudian keluar dari ruang dalam, dan ketika di pendapa, Pemanahan berkata kepada seorang prajurit yang berada disana :"Panggil Ki Lurah Prayoga, Ki Lurah Prayuda, Ki Lurah Sakri dan Ki Lurah Kastawa"

"Baik Ki" kata prajurit itu, lalu iapun segera melangkahkan kakinya meninggalkan pendapa.

Tak lama kemudian Pemanahan, Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya keluar dari pendapa Kasultanan Pajang, menuju dalem Mas Ngabehi Loring Pasar.

Di dalem lor pasar, tombak Kyai Pleret dan pancasula Kyai Wajra yang masih tertutup warangka, dimasukkan kedalam sebuah ploncon kosong yang berada di ruang dalam Mas Ngabehi Loring Pasar.

Beberapa saat kemudian, datanglah Ki Lurah Prayoga, Ki Lurah Prayuda, Ki Lurah Sakri dan Ki Lurah Kastawa, mereka langsung menuju ruang dalam menemui Pemanahan bersama Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya.

"Duduklah Ki Lurah" kata Pemanahan.

Keempat lurah prajurit itupun duduk di tikar bersama Pemanahan dan tiga orang lainnya.

"Ki Lurah Prayoga, Ki Lurah Prayuda, Ki Lurah Sakri dan Ki Lurah Kastawa, kalian aku panggil kemari, ada hal yang sangat penting untuk kalan ketahui, kita saat ini dalam persiapan perang melawan Kadipaten Jipang" kata Pemanahan.

"Perang melawan Jipang" kata ke empat lurah prajurit Pajang itu didalam hatinya.


"Nanti yang berangkat perang ke Jipang adalah empat ratus prajurit Pajang dari kesatuan Wira Yudha, Wira Braja dan Wira Tamtama, bersama aku sendiri bersama Ki Penjawi, Ki Juru Martani dan Sutawijaya, dan nanti aku yang akan menjadi Senapati Agung prajurit Pajang" kata Pemanahan.

"Gelar perang yang akan kita gunakan adalah gelar Garuda Nglayang, sedangkan senapati pengapit sebagai cakar di sayap kiri, adalah Ki Penjawi, dan senapati pengapit sebagai cakar di sayap kanan, adalah Ki Juru Martani. Jangan lupa kita bawa bendera Gula Kelapa dan bendera kesatuan prajurit Pajang" kata Pemanahan.

Pemanahan berhenti sejenak, ia melihat Lurah Prayoga seperti akan bertanya.

"Apa yang akan kau tanyakan Ki Lurah Prayoga" tanya Pemanahan.

"Kita berperang melawan Jipang hanya membawa empat ratus prajurit Pajang Ki ?" kata Lurah Prayoga.

"Tidak, disamping empat ratus orang prajurit Pajang, nanti kita akan bergabung dengan empat ratus atau lima ratus laskar dari Sela, dan itu sudah cukup untuk menaklukkan Kadipaten Jipang" kata Pemanahan.

Lurah Prayogapun menganggukkan sambil berkata perlahan :"Ya, cukup Ki".

"Mulai sekarang ki lurah mulai memilih siapakah yang akan berangkat ke Jipang serta mempersiapkan bekal yang akan kita bawa, sedangkan lusa aku bersama Ki Juru Martani dan putra dalem Sutawijaya akan mendahului berangkat ke Sela untuk mempersiapkan laskar Sela yang akan berangkat ke Jipang" kata Pemanahan.

"Empat dan lima hari lagi, para prajurit Pajang akan berangkat ke Sela dipimpin oleh Ki Penjawi dibantu oleh ki lurah berempat. Nanti prajurit Pajang dan laskar Sela akan bertemu di hutan di sebelah barat bledug Kuwu, dari sana kita bersama-sama menuju Jipang" kata Pemanahan selanjutnya,

"Selama dua hari, kita akan berangkat kelompok demi kelompok untuk menghindari dari pandangan para prajurit sandi Jipang" kata Pemanahan.

"Baik Ki, segera akan kami persiapkan pemberangkatan para prajurit ke Jipang" kata Lurah Sakri.

"Apakah ada kuda yang akan kita bawa Ki ?" tanya Lurah Kastawa.

"Tidak usah, nanti kalau kita memerlukan beberapa ekor kuda, akan kita ambilkan kuda dari Sela" jawab Pemanahan.

Beberapa saat kemudian mereka masih berbincang tentang persiapan para prajurit Pajang untuk berangkat berperang melawan Jipang.

Demikianlah, pada hari itu, setelah selesai perbincangan dengan Pemanahan, keempat lurah Prajurit itupun meninggalkan dalem Mas Ngabehi Loring Pasar, lalu merekapun sibuk untuk menentukan para prajurit Pajang yang akan berangkat perang ke Jipang

Ki Lurahpun juga mengarahkan kepada para prajurit yang tetap tinggal di kotaraja Pajang, apa yang harus mereka lakukan selama ditinggal oleh sebagian prajuritnya ke medan perang. 

Dua hari kemudian, di pagi hari, tiga orang yang berasal dari Sela, Pemanahan, Juru Martani dan Sutawijaya telah bersiap disamping kudanya, untuk berangkat ke Sela, mendahului keberangkatan para prajurit Pajang, sedangkan disebelahnya telah berdiri, Penjawi yang akan ikut menghadap Kanjeng Sultan.

Ditangan Sutawijaya, tergenggam landeyan tombak pusaka Kyai Pleret yang ujungnya telah dibungkus dengan kain, sedangkan pancasula Kyai Wajra yang ujungnya juga telah dibungkus dengan kain yang dipersiapkan untuk dipasang di ujung tiang bendera Gula Kelapa, telah digenggam oleh Juru Martani.

"Jangan ada yang ketinggalan kakang Pemanahan" kata Penjawi yang akan berangkat ke Jipang esok lusa bersama para prajurit.

"Ya, semua bekal sudah dibawa, tombak Kyai Pleret sudah dibawa oleh Danang Sutawijaya, sedangkan pancasula Kyai Wajra juga telah dibawa oleh kakang Juru Martani" kata Pemanahan.

"Tidak ada yang ketinggalan, sekarang kita ke Kraton untuk pamit kepada Kanjeng Sultan" kata Juru Martani.

Tiga orang itu segera naik ke atas punggung kuda, lalu menjalankannya menuju ke kraton Pajang, sedangkan Penjawi berjalan kaki dibelakangnya.

Tak lama kemudian ketiga ekor kuda itupun masuk ke dalam gerbang kraton, lalu berhenti di depan pendapa, ketiganya lalu turun dan mengikat tali kendali kudanya pada tiang yang berada dibawah pohon.

Dua orang prajurit yang berada di depan pendapa mengangguk hormat kepada Pemanahan dan rombongannya yang sedang berjalan di halaman menuju pendapa.

Keempat orang itu kemudian duduk dilantai pendapa, menunggu Kanjeng Sultan yang masih berada didalam kamar.

Beberapa saat kemudian Sultan Hadiwijaya keluar dari kamar, lalu duduk di kursi yang berada di ruang dalam.

"Kakang Pemanahan akan berangkat ke Sela sekarang ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan, hamba berangkat sekarang, mohon pamit, mohon doanya, semoga kami mampu menghilangkan klilip Kasultanan Pajang" kata Pemanahan.

"Ya, kakang Pemanahan, kakang berdua jangan mengecewakan aku" kata Sultan Pajang,

"Sutawijaya !" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem ayahanda Sultan" kata Sutawijaya.

"Kau akan mengalami peperangan yang sebenarnya, apakah kau berniat membatalkan keberangkatanmu ke Jipang ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Tidak ayahanda, hamba tetap akan berangkat ke Jipang" jawab Sutawijaya.

"Bagus ! Kau sebagai seorang laki-laki harus tidak merasa takut kalau akan pergi berperang" kata Sultan Hadiwijaya.


"Kakang Pemanahan, kakang juru Martani dan kau Sutawijaya, berangkatlah sekarang, mumpung masih pagi" kata Sultan Hadiwijaya.

Ketiga orang itupun segera menyembah, lalu bergeser mundur kebelakang, lalu merekapun berjalan keluar dari pendapa.

Sultan Hadiwijaya berdiri di pendapa, memandang kepada Pemanahan, Juru Martani dan Sutawijaya yang naik ke atas punggung kudanya.

Penjawi yang berada di belakang Kanjeng Sultan juga menatap kearah Pemanahan bersama kedua orang lainnya yang berangkat mendahului ke Sela.

Pemanahan yang berada di punggung kuda, mengangguk hormat kepada Kanjeng Sultan yang berada di pendapa, lalu menjalankan kudanya perlahan-lahan keluar dari pintu gerbang Kraton Kasultanan Pajang, diikuti oleh Juru Martani dan Sutawijaya.

Kuda-kuda mereka tidak bisa dipacu kencang karena dua orang itu membawa tombak pusaka serta membawa beberapa bungkusan berisi bekal yang diikat pada pelana kudanya.

Udara pagi yang segar menerpa wajah mereka bertiga yang sedang berkuda menuju Sela, mempertaruhkan hidup dan mati, mengikuti sayembara membunuh Adipati Jipang Arya Penangsang yang berhadiah bumi Pati dan alas Mentaok.

"Mudah-mudahan dengan mengikuti sayembara ini, nasib Sutawijaya bisa berubah menjadi lebih baik" kata Pemanahan didalam hatinya.

Siang itu mereka telah sampai di hutan sebelah timur Sima, mereka bertiga beristirahat dibawah sebuah pohon, sambil makan bekal yang telah dibawanya.

"Kita tidak bisa berpacu cepat, terpaksa nanti kita bermalam" kata Pemanahan.

"Ya" kata Juru Martani.

Dan ketika malam telah tiba, mereka bertiga akan bermalam di pinggir hutan di sebelah selatan Sela.

"Besok sebelum tengah hari, kita sudah sampai di Sela, malam ini kita bergantian menjaga tombak Kyai Pleret dan pancasula Kyai Wajra" kata Pemanahan.

"Ya" kata Sutawijaya.

Dengan memakai sebatang bambu yang dipotong pendek yang ditancapkan ke tanah, lalu pangkal landeyan dimasukkan kedalam lobang bambu, maka tombak itu dapat disimpan dalam keadaan berdiri.

Malam itu suasana begitu sepi, Juru Martani bergantian dengan dua orang yang lain menjaga dua pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang.

Ketika fajar menyingsing di ufuk timur, mereka bertiga telah bangun dan bersiap akan meneruskan perjalanan ke Sela.

Ketika matahari semakin tinggi, tiga ekor kuda berlari hampir mendekati desa Sela, sedangkan pada saat itu di Kraton Kasultanan Pajang, Sultan Hadiwijaya sedang duduk berdua di ruang dalam bersama seorang tamu dari Pengging.

"Silahkan duduk wa" kata Sultan Pajang.

Tamu itu, uwanya, Kebo Kanigara segera duduk berhadapan dengan Sultan Hadiwijaya.

"Siwa dari Pengging atau pulang dari bepergian?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Ya, kemarin baru saja aku pulang dari bepergian, beberapa hari yang lalu aku pergi ke Juwana, lalu aku singgah di Demak empat hari" kata Kebo Kanigara.

Sultan Hadiwijaya menganggukkan kepalanya, siwanya memang sering sekali melakukan perjalanan jauh, kali ini ke Juwana, lalu singgah di Demak beberapa hari.

"Ada yang menarik ketika aku berada di Juwana maupun di Demak" kata Kebo Kanigara.

"Apa yang menarik disana wa ?" tanya Sultan Pajang.

"Berita telah tersebar luas, wara-wara dari Sultan Pajang tentang sayembara membunuh Arya Penangsang dengan hadiah bumi Pati dan alas Mentaok" kata uwanya.

"Ya, memang betul wa, wara-wara itu memang dari saya" kata Kanjeng Sultan.

"Kenapa ?" tanya uwanya.

"Sebetulnya prajurit Pajang akan saya berangkatkan perang ke Jipang, tetapi ada usul dari kakang Juru Martani untuk membuat sayembara berhadiah, lalu saya tetapkan siapapun yang dapat membunuh Arya Penangsang akan mendapat hadiah bumi Pati dan alas Mentaok" jawab Sultan Hadiwijaya,

"Ya, aku memang mendengar seperti itu, lalu siapakah yang berani memasuki sayembara ini ?" tanya uwanya.

Sultan Hadiwijaya menarik napas panjang, lalu Kanjeng Sultanpun berkata :"Tidak ada wa".

"Tidak ada ?" Kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, terpaksa saya merencanakan akan memberangkatkan prajurit Pajang untuk menyerang Jipang, tetapi ternyata akhirnya ada yang bersedia untuk mengikuti sayembara" kata Sultan Pajang.

"Siapa ?" tanya uwanya.

"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Kanjeng Sultan.

"Hanya mereka berdua ?" tanya Kebo Kanigara.

Sultan Hadiwijaya menganggukkan kepalanya, lalu Kanjeng Sultanpun berkata :"Yang ikut sayembara kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, tetapi yang berangkat ditambah kakang Juru Martani dan Sutawijaya, bersama empat ratus prajurit Pajang"

"Hadiwijaya, dulu ketika aku menyamar sebagai prajurit Pajang yang diutus ke Jipang mengabarkan tentang berdirinya Kasultanan Pajang, ketika aku berada di pendapa kadipaten Jipang, disana aku lihat ada Panembahan Sekar Jagad, kakak seperguruan dari Patih Matahun sedang duduk di pendapa Kadipaten Jipang, orang itu berbahaya, dia berilmu tinggi, kelihatannya dia sedang bertamu di Jipang, kalau waktu peperangan besok Panembahan Sekar Jagad berada di Jipang, prajurit Pajang akan mengalami kesulitan" kata Kebo Kanigara.

"Mudah-mudahan Panembahan Sekar Jagad tidak berada di Jipang wa" kata Sultan Hadiwijaya cemas.


"Ya, mudah-mudahan Panembahan Sekar Jagad tidak berada di Jipang, tetapi kalau nanti pada saat pecah perang antara Pajang dan Jipang, Panembahan berada di peperangan, jangan dilawan seorang lawan seorang, lawan ia dengan lima belas atau dua puluh orang prajurit bersenjata tombak, jangan menggunakan senjata pendek, berbahaya" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, besok akan saya sampaikan ke kakang Penjawi" jawab Sultan Hadiwijaya.

Kebo Kanigara merenung sejenak, angan-angannya melayang-layang membayangan seandainya Panembahan Sekar Jagad ikut dalam peperangan dan berada dipihak Kadipaten Jipang.

"Pasti Panembahan Sekar Jagad menjadi salah satu Senapati pengapit" kata Kebo Kanigara dalam hati.

"Apakah siwa besok tidak ingin melihat perang di Jipang ?" tanya Sultan Pajang.

"Aku belum merencanakan untuk melihat perang di Jipang, Hadiwijaya" jawab Kebo Kanigara.

Beberapa saat mereka berdua masih berbincang tentang bebagai hal, dan ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, maka Kebo Kanigarapun minta diri akan pulang ke Pengging.

"Aku pamit dulu, akan pulang ke Pengging, Hadiwijaya" kata Kebo Kanigara.

"Silahkan wa" kata Sultan Hadiwijaya.

Beberapa saat kemudian, dijalan yang sepi, terlihat Kebo Kanigara berjalan seorang diri dengan memakai sebuah caping menuju ke Pengging.

Sambil berjalan, pikiran Kebo Kanigara masih tertuju kepada Panembahan Sekar Jagad yang pernah dilihatnya berada di Jipang.

"Berbahaya, kalau pada saat peperangan Panembahan Sekar Jagad berada di Jipang, korban dari para prajurit Pajang akan seperti babatan alang alang" kata Kebo Kanigara.

Sementara itu, di Pajang, dalam satu dua hari ini terlihat kesibukan yang meningkat, beberapa kesatuan telah bersiap akan berangkat berperang, menyerang Kadipaten Jipang.

Penjawi beserta para Lurah prajurit Pajang telah selesai menentukan empat ratus prajurit yang akan berangkat ke Jipang, dan senjatanyapun telah dipersiapkan, pedang pendek, tombak maupun anak panah beserta busurnya.

"Bawa tombak dan anak panah yang banyak" kata Penjawi kepada para lurah prajurit.

"Baik Ki" kata Lurah Prayuda.

"Bawa bendera kesatuan Wira Tamtama, Wira Yudha, Wirabraja dan Wira Manggala, jangan lupa bawa bendera Gula Kelapa yang besar, tiang untuk bendera itu telah dibuat di Sela" kata Penjawi kepada Lurah Prayoga.

"Baik Ki" kata Lurah Prayoga.

"Mulai besok, kita atur sekelompok demi sekelompok prajurit, kemudian kau berangkatkan menuju hutan disebelah barat Bleduk Kuwu, disana prajurit Pajang akan bergabung dengan laskar dari Sela" kata Penjawi.

"Baik Ki, akan saya berangkatkan mulai besok pagi" jawab Lurah Prayoga.

Ketika malam yang gelap telah berakhir, dan ketika bumi telah tersentuh oleh sinar matahari pagi, maka mulailah sekelompok prajurit, dua puluh orang prajurit Wira Tamtama Pajang yang dipimpin oleh Penjawi didampingi oleh Lurah Sakri telah menuju Kraton, pamit kepada Sultan Hadiwijaya, setelah itu para prajurit itupun berjalan, bergerak menuju ke hutan disebelah barat Bleduk Kuwu.

Penjawi masih teringat pesan dari Sultan Hadiwijaya ketika ia pamit tadi pagi sebelum berangkat :"Kakang Penjawi, kalau dipihak Jipang nanti yang menjadi Senapati pengapit adalah Panembahan Sekar Jagad, jangan dilawan seorang lawan seorang, lawan ia dengan lima belas atau dua puluh orang prajurit bersenjata tombak, jangan menggunakan pedang pendek".

"Hm Senapati pengapit, disebelah mana Panembahan Sekar Jagad berada ? Disebelah kanan atau kiri ?" kata Penjawi dalam hati.

Penjawi dan pasukannya masih terus berjalan, disamping membawa bungkusan berisi bekal dan senjata, merekapun membawa bendera kesatuan Wira Tamtama dan sebuah bendera Gula Kelapa yang akan dikibarkan pada saat terjadi perang dengan Jipang.

"Di ujung tiang bendera Gula Kelapa akan dipasangkan bilah tombak pancasula Kyai Wajra" kata Penjawi dalam hati.

Beberapa saat kemudian, beberapa kelompok prajurit Wirabraja, Wira Yudha dan Wira Manggala, juga telah berangkat, menyusul keberangkatan kelompok-kelompok yang telah berangkat lebih dulu.

Pagi itu ratusan prajurit Pajang telah bergerak secara bergelombang menuju ke arah timur laut.

Mereka membawa beberapa buah bendera kesatuannya masing-masing, bendera itu mereka lipat, sedangkan untuk tiang bendera nanti akan disediakan oleh Pemanahan di Sela.

Siang harinya ketika matahari berada diatas kepala, kelompok prajurit yang berada paling depan telah jauh meninggalkan gunung Kemukus.

"Kita beristirahat dibawah pohon waru itu" kata Lurah prajurit Sakri, lalu para prajuritpun segera beristirahat, dibawah pohon waru yang tumbuh didekat jalan yang mereka lewati.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita