Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 74 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 74 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Keempat prajurit Wira Tamtama itu segera menyembah kepada Sultan Hadiwijaya.

"Kau bertugas disini berempat, Soma ?" tanya Sultan Hadiwijaya memanggil salah satu sahabatnya, seorang prajurit Wira Tamtama.

"Ya Kanjeng Sultan" jawab Soma

Kanjeng Sultan hanya tersenyum, kemudian kepada nayaka praja Pajang, Kanjeng Sultan berkata :"Ngabehi Wuragil, Ki Juru Martani dan kau Sutawijaya, kalian tunggu diluar, kakang Pemanahan dan kakang Penjawi ikut masuk ke ruang pusaka"

"Salah satu dari kalian, ikut aku ke dalam, Soma kau yang ikut masuk ke ruang pusaka" kata Tumengung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" kata Soma.

Wanasalam, Tumenggung Gajah Birawa bersama Sultan Hadiwijaya diikuti oleh Pemanahan dan Penjawi beserta Soma, segera masuk ke ruang pusaka.

Didalam ruangan terdapat belasan pusaka yang terdiri dari bermacam-macam tombak maupun keris yang berada didalam beberapa ploncon, ada juga beberapa tombak yang mempunyai landeyan pendek yang panjangnya hanya sedepa.

Wanasalam mengajak lima orang lainnya menuju ke sebuah gledeg yang terletak di sudut ruangan, dan ketika gledeg itu dibuka, didalam gledeg terdapat tiga buah kotak kayu berukir.

"Ini gledeg tempat penyimpanan ketiga pusaka ageng Demak, Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

Wanasalam mengambil salah satu kotak, lalu kotak itu diberikan kepada Sultan Hadiwijaya.

"Ini keris Kyai Nagasasra yang menjadi pusaka sipat kandel Kasultanan Demak, Kanjeng Sultan" kata Wanasalam perlahan.

Dengan hati-hati Sultan Hadiwijaya menerima kotak itu, lalu Kanjeng Sultan segera membuka kotak itu dan terlihatlah sebuah keris yang berada didalam warangka berbentuk gayaman.

Kanjeng Sultan memegang ukiran keris itu, lalu mengeluarkan secara perlahan, bilah keris itu dari dalam warangkanya, dan terlihatlah sebuah keris dapur Nagasasra yang seakan-akan memancarkan semburat cahaya berwarna kuning.

"Keris pusaka Kyai Nagasasra yang dulu merupakan pusaka Kerajaan Majapahit, lalu berada di Kasultanan Demak dan nantinya akan menjadi pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang" kata Sultan Hadiwijaya dalam hati.

Tangan Sultan Hadiwijaya, sekarang telah memegang sebuah keris ligan luk tiga belas sinarasah, yang dilapisi dengan emas, semua sisik naga berkeredip berwarna kuning, sedangkan bagian gandik keris ini diukir dengan bentuk kepala naga yang memakai mahkota, badan naga itu seakan-akan menggeliat ke arah pucuk bilah mengikuti kelokan luk bilahnya.

Dimulut naga yang menganga terdapat sebutir berlian yang dipergunakan untuk meredam kemarahan Sang Nagasasra.

Setelah melihat keris pusaka Kyai Nagasasra, maka Sultan Hadiwijaya memasukkan keris itu kedalam warangkanya, lalu keris itu dimasukkan kedalam tempatnya semula, sebuah kotak kayu berukir.

"Keris Kyai Nagasasra ini akan aku bawa ke Pajang, Ki Wanasalam" kata Kanjeng Sultan.

"Silahkan Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Kakang Pemanahan, kau bawa dulu kotak kayu yang didalamnya ada keris pusaka Kyai Nagasasra ini" kata Sultan Hadiwijaya sambil memberikan kotak kayu itu kepada Pemanahan.

Pemanahan maju kedepan, lalu iapun menerima kotak yang berisi keris Kyai Nagasasra.

Wanasalam mengambil sebuah kotak lainnya, lalu kotak itupun diberikan kepada Sultan Hadiwijaya.

"Kotak ini berisi keris Kyai Sabuk Inten, Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

Dengan hati-hati Sultan Hadiwijaya menerima kotak yang diberikan oleh Wanasalam, lalu Kanjeng Sultan segera membuka kotak itu dan terlihatlah sebuah keris yang berada didalam warangka berbentuk gayaman.

Perlahan-lahan Sultan Hadiwijaya memegang ukiran keris itu, lalu mengeluarkan bilah keris itu secara perlahan dari dalam warangkanya, dan terlihatlah sebuah keris luk sebelas dapur Sabuk Inten yang bilahnya berwarna hitam berpamor beras wutah.

Pamor beras wutah yang terdapat pada keris Kyai Sabuk Inten berkeredip lembut, keris buatan Empu Supa yang dibuat pada jaman kerajaan Majapahit itu, bilah kerisnya memancarkan semburat warna kebiruan.

Setelah selesai melihat pusaka keris Kyai Sabuk Inten, maka Sultan Hadiwijaya memasukkan keris itu kedalam warangkanya, lalu keris pusaka itu kemudian dimasukkan kedalam tempatnya, sebuah kotak kayu berukir.

"Keris Kyai Sabuk Inten ini juga akan aku bawa ke Pajang, Ki Wanasalam" kata Kanjeng Sultan.

"Silahkan Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Kakang Penjawi, kau bawa dulu kotak kayu yang berisi keris Kyai Sabuk Inten ini" kata Sultan Hadiwijaya sambil memberikan kotak kayu berukir itu kepada Penjawi.

Penjawi bergeser maju kedepan, lalu dengan kedua tangannya iapun menerima kotak yang berisi keris Kyai Sabuk Inten, setelah itu iapun bergeser mundur ke belakang.

Sesaat kemudian Wanasalam kembali mengambil sebuah kotak kayu lainnya, lalu kotak itupun diberikan kepada Sultan Hadiwijaya.

"Kotak ini berisi keris Kyai Sengkelat, Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

Dengan hati-hati Sultan Hadiwijaya menerima kotak kayu yang diberikan oleh Wanasalam, lalu Kanjeng Sultan segera membuka kotak itu dan didalamnya terlihat sebuah keris yang berada didalam warangka berbentuk gayaman.

"Kyai Sengkelat" kata Sultan Hadiwijaya perlahan.


Sultan Hadiwijaya memegang ukiran keris Kyai Sengkelat, lalu secara perlahan menarik bilah keris itu dari dalam warangkanya, dan terlihatlah sebuah keris luk tiga belas berwarna hitam redup, dari bilahnya memancarkan kesan yang wingit.

"Hm keris pusaka Kyai Sengkelat, memang tidak segemerlap keris pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, tetapi ternyata Kyai Sangkelatlah yang lebih berkesan wingit. Keris Kyai Sengkelat buatan Empu Jaka Sura putra Empu Pangeran Sedayu yang mempunyai ibu seorang putri Blambangan ini memang luar biasa, bentuk bilahnya indah tetapi mempunyai kekuatan yang besar, kekuatan tidak kasat mata yang mampu menggetarkan wadagku" kata Kanjeng Sultan.

Setelah beberapa saat mengamati keris pusaka Kyai Sengkelat, maka Sultan Hadiwijaya mengembalikan bilah keris itu kedalam warangkanya, lalu keris itu kemudian dimasukkan kedalam tempatnya semula, sebuah kotak kayu berukir indah.

"Keris Kyai Sengkelat ini juga akan aku bawa ke Pajang, Ki Wanasalam" kata Kanjeng Sultan.

"Silahkan Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Kanjeng Sultan, biar hamba bawa kotak yang berisi keris Kyai Sengkelat" kata Wanasalam.

"Terima kasih Ki Wanasalam" kata Sultan Hadiwijaya sambil memberikan kotak kayu berukir itu kepada Wanasalam.

Setelah mengambil ketiga kotak kayu berukir itu, maka Wanasalam menutup gledeg tempat pusaka yang sekarang telah menjadi kosong.

Sultan Hadiwijaya kemudian mendekati sebuah ploncon yang berisi lima buah tombak, lalu diambilnya sebuah trisula yang masih tertutup warangka yang terbuat dari kayu, dan trisula itu mempunyai landeyan yang pendek, hanya sedepa.

"Trisula ini bagus, ini juga pusaka dari Majapahit ?" tanya Sultan Hadiwijaya setelah membuka warangka trisula itu.

"Betul Kanjeng Sultan, itu adalah sebuah trisula yang bernama Kyai Trimarga, trisula ini juga menjadi sipat kandel Kasultanan Demak" kata Wanasalam.

"Trisula ini akan aku bawa ke Pajang" kata Sultan Pajang.

"Silahkan Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Kanjeng Sultan, biar hamba yang membawa trisula Kyai Trimarga" kata Tumenggung Gajah Birawa"

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Sultan Pajang.

Sultan Hadiwijaya memasukkan trisula Kyai Trimarga itu kedalam warangkanya, lalu Kanjeng Sultan menyerahkan trisula itu kepada Ki Tumenggung Gajah Birawa dan Ki Tumenggungpun menerima Kyai Trimarga yang mempunyai landeyan pendek.

Sultan Hadiwijaya mengedarkan pandangannya, Kanjeng Sultan kemudian berjalan mendekati sebuah ploncon lainnya, dan perhatian Kanjeng Sultan tertuju pada sebuah tombak pancasula yang masih tertutup warangkanya dan mempunyai landeyan sedepa.

Kanjeng Sultan mengambil tombak pancasula dari plonconnya, membuka warangkanya, dan dilihatnya sebuah senjata yang mempunya lima buah bilah tombak, sebuah tombak yang berukuran agak panjang, terletak di tengah dikeilingi oleh empat buah tombak yang ukurannya agak kecil, seperti bunga yang belum mekar sepenuhnya.

"Pusaka ini apa namanya ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Itu pusaka tombak pancasula Kanjeng Sultan, yang bernama Kyai Wajra" jawab Wanasalam.

"Kyai Wajra, pusaka pancasula ini, dulu juga diambil dari kerajaan Majapahit ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Bukan Kanjeng Sultan, senjata ini buatan seorang Empu di jaman Sultan Patah Demak Bintara, bilah tombak Pancasula juga bisa dipasang diujung tiang bendera Gula Kelapa, dan bisa digunakan sebagai sebuah senjata yang berbahaya" kata Wanasalam.

"Ya tombak pusaka pancasula, Kyai Wajra bisa digunakan sebagai sebuah senjata bagi pembawa bendera Gula Kelapa" kata Sultan Hadiwijaya.

"Dulu tombak pancasula pernah digunakan oleh Pangeran Sabrang Lor sewaktu Kasultanan Demak Bintara menyerang ke tanah seberang, perahu yang ditumpangi Pangeran Sabrang Lor menggunakan tiang bendera Gula Kelapa yang ujung tiangnya diberi tombak pancasula Kyai Wajra" kata Wanasalam.

Sultan Hadiwijaya mengangguk-anggukkan kepalanya dan Kanjeng Sultanpun teringat janjinya terhadap Ratu Kalinyamat :"Sebentar lagi Pajang akan berperang melawan Jipang, bilah pusaka pancasula Kyai Wajra bisa dipasang di ujung tiang bendera Gula Kelapa Kasultanan Pajang".

"Ki Wanasalam, tombak pancasula Kyai Wajra akan aku bawa ke Pajang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Silahkan Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Soma kau bawa tombak pancasula Kyai Wajra ini" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Soma.

Sultan Hadiwijaya memasukkan pancasula itu kedalam warangkanya, lalu Kanjeng Sultan menyerahkan pancasula Kyai Wajra kepada sahabatnya, seorang prajurit Wira Tamtama Demak, Soma.

"Sudah cukup Ki Wanasalam, tiga buah pusaka ageng dan dua buah tombak ini yang aku bawa ke Pajang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Besok pagi Ki Tumenggung Gajah Birawa bisa mengutus seorang Panji atau seorang Rangga Wira Tamtama ke pesanggrahan Danaraja, untuk melaporkan kepada Kanjeng Ratu Kalinyamat mengenai lima buah pusaka yang telah aku ambil dan akan dibawa ke Pajang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.


Sultan Hadiwijaya bersama lima orang lainnya berjalan keluar dari ruang pusaka, dan setelah sampai diluar maka Kanjeng Sultan memanggil semua pengikutnya :"Kalian semua kemarilah"

"Kakang Juru Martani, kau bawa kotak kayu yang masih dibawa Ki Wanasalam, Ngabehi Wuragil kau bawa trisula yang masih dibawa Tumenggung Gajah Birawa, dan kau Sutawijaya, kau bawa pancasula yg berada di tangan Soma" kata Sultan Hadiwijya.

Ketiga orang itupun kemudian meminta pusaka yang dibawa oleh Wanasalam, Ki Tumenggung dan prajurit Soma, setelah pusaka diterima, maka Kanjeng Sultanpun berkata :"Ki Wanasalam dan Ki Tumenggung Gajah Birawa, urusan pusaka sudah selesai, aku akan kembali ke Kraton Kilen, aku mohon pamit, setelah ini aku akan langsung pulang ke Pajang"

"Silahkan Kanjeng Sultan, hati-hati diperjalanan" kata Wanasalam.

"Kakang Pemanahan, mari kita kembali ke Kraton Kilen" kata Sultan Hadiwijaya, setelah itu Kanjeng Sultan berjalan meninggalkan ruang pusaka, diikuti oleh lima orang pengikutnya, sedangkan Wanasalam bersama Tumenggung Gajah Birawa masih berada di depan ruang pusaka.

"Ki Tumenggung, Ki Tumenggung bisa mengutus seorang Panji atau Rangga supaya berangkat ke pesanggrahan Danaraja, sekarang" kata Wanasalam.

"Baik Ki Patih, nanti yang aku utus pergi ke pesanggrahan Danaraja, adalah Ki Rangga Pideksa" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ki Tumenggung tidak usah memanggilku Ki Patih, sekarang aku sudah tidak menjadi seorang Patih karena saat ini Demak sudah tidak mempunyai seorang Sultan, Ki Tumenggung" kata Wanasalam sambil tersenyum.

"Sama, sebentar lagi saya juga bukan seorang Tumenggung" kata Tumengung Gajah Birawa.

"Demak sudah surut Ki Tumenggung, Demak sudah kehilangan kejayaannya" kata Wanasalam.

"Ya, sekarang pusat kekuasaan telah berpindah ke Pajang" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Sementara itu, Sultan Hadiwijaya yang telah sampai di Kraton Kilen, segera bersiap untuk kembai ke Pajang, dengan membawa lima buah pusaka yang telah diambil dari ruang pusaka Kasultanan Demak.

"Perjalanan kita harus hati-hati, kita membawa lima buah pusaka yang akan menjadi sipat kandel Kasultanan Pajang" kata Sultan Hadiwijaya.

Persiapan untuk pulang ke Pajang telah selesai, kuda-kuda telah bersiap didekat pintu gerbang, bungkusan bekal sudah dibawa, dan nanti akan di ikat di pelana kuda, kotak kayu yang berisi keris pusaka telah dimasukkan ke dalam bungkusan.

"Mari kita berangkat" kata Sultan Pajang, lalu Kanjeng Sultan berjalan turun dari pendapa menuju kuda-kuda mereka yang berada di dekat pintu gerbang.

Ketika melewati tempat kediaman ibu suri, maka Sultan Hadiwijayapun menghentikan langkahnya.

"Kalian tunggu disini sebentar, aku akan pamit kepada ibu suri" kata Sultan Pajang, lalu Kanjeng Sultan segera masuk ke ruang dalam.

Didalam ruangan dilihatnya ibu suri sedang bermain dengan cucunya, Pangeran Pangiri, putra dari Sunan Prawata yang selamat dari pembunuhan sewaktu berada di pesanggrahan Prawata.

"Pangiri, ayo beri sembah kepada pamanda Sultan" kata ibu suri, lalu Pangeran Pangiri kemudian berlari-lari menuju ke pamannya, lalu menyembah sambil berkata :"Sembah hamba pamanda Sultan"

Sultan Hadiwijaya, diusap-usapnya rambut Pangeran Pangiri, anak yatim piatu, ayah dan ibunya telah dibunuh Rangkud atas perintah Arya Penangsang :"Kau sudah besar Pangiri"

Pangeran Pangiri tidak menjawab, ia kembali berlari menuju eyang putrinya.

"Saya mohon pamit Kanjeng Ibu, akan kembali ke Pajang sekarang" kata Sultan Pajang.

"Hati-hati dijalan ananda Sultan" kata ibu suri.

Setelah menyembah, maka Sultan Hadiwijaya segera keluar dari ruang dalam dan bergabung dengan para pengikutnya menuju kuda-kudanya yang terikat di dekat pintu gerbang.

Setelah Sultan Hadiwijaya naik ke punggung kuda, maka para pengikutnya semua mengikutinya, dan sesaat kemudian tujuh ekor kuda telah keluar dari pintu gerbang Kraton Demak, menuju ke arah selatan, menuju Pajang.

Kuda-kuda itu terus berlari menyusuri sungai Tuntang dan ketika matahari telah berada tepat diatas kepala, maka rombonganpun telah sampai di desa Cengkal Sewu.

"Kita beristirahat di desa Cengkal Sewu" kata Sultan Hadiwijaya.

Siangpun telah berganti menjadi sore, rombongan Sultan Hadiwijaya masih berada di tepi sungai Tuntang, belum mencapai tepi hutan Sima.

"Kita masih bisa maju sedikit kedepan" kata Kanjeng Sultan.

"Besok malam kita baru sampai di Pajang" kata Pemanahan.

"Ya, kita tadi agak terlambat ketika berangkat dari Demak" kata Penjawi.

"Nanti kita bergantian jaga, kali ini kita membawa beberapa pusaka yang sangat berharga, jangan sampai hilang" kata Juru Martani.

Merekapun masih menjalankan kudanya maju kedepan sampai matahari telah terbenam.

Malampun telah tiba dan rombongan dari Pajang yang membawa pusaka telah beristirahat, Kanjeng Sultanpun telah beristirahat di tendanya, bersama beberapa pusaka yang akan dibawa ke Pajang.

"Biar aku yang jaga lebih dulu, silahkan kalian beristirahat, nanti setelah tengah malam giliran kalian yang bertugas".


Malam itu tak ada peristiwa yang membahayakan rombongan Kanjeng Sultan Pajang, hanya lamat-lamat dikejauhan terdengar suara lolongan beberapa ekor anjing hutan.

"Jauh sekali" kata Ngabehi Wuragil yang berjaga didepan kemah Kanjeng Sultan bersama Juru Martani.

"Besok malam baru kita bisa sampai di kotaraja Pajang" kata Juru Martani dalam hati.

Ketika waktu sudah lewat tengah malam, Sultan Hadiwijaya telah tertidur nyenyak, sementara itu di Jipang, Adipati Jipang Arya Penangsang sedang berusaha bangkit dari tidurnya.

"Bapa Sunan Kudus menganjurkan supaya aku makan dan minum menjelang pagi meskipun hanya sedikit" kata Penangsang.

Betapa segannya Arya Penangsang, bangun berdiri dari tidurnya, lalu iapun berusaha makan seperti yang dianjurkan oleh gurunya.

"Aku harus berpuasa empat puluh hari, lama sekali" kata Penangsang didalam hatinya.

Setelah itu, pada pagi harinya Arya Penangsang berusaha mematuhi anjuran gurunya, membantu beberapa orang yang tidak mampu di daerah sekitar dalem Kadipaten Jipang.

"Aku tidak boleh marah sebelum puasaku berakhir" kata Adipati Jipang.

"Setelah puasaku berakhir, seharusnya aku juga tidak boleh marah" kata Penangsang.

Dua hari kemudian, di suatu pagi yang cerah, ketika Arya Penangsang bersama Patih Matahun sedang berada di pendapa, seorang prajurit sandi datang kepadanya akan melaporkan apa yang telah didengarnya di Demak.

"Apa yang akan kau laporkan kepadaku, prajurit" tanya Arya Penangsang.

Patih Matahun sedikit menggeser duduknya maju kedepan, dipandanginya Adipati Jipang, khawatir kalau junjungannya menjadi marah, melanggar pantangan yang telah dikatakan oleh Sunan Kudus.

"Saya akan melaporkan keadaan di Demak Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi itu.

"Ada kejadian apa di kotaraja Demak ?" tanya Arya Penangsang.

"Dari beberapa orang prajurit Demak, saya mendengar ada pengurangan dan pembubaran beberapa kesatuan prajurit" kata prajurit sandi itu..

"Kenapa ?" tanya Penangsang pendek. 

"Kasultanan Demak sudah surut karena tidak mempunyai seorang Sultan, dan mulai sekarang Demak mengakui berada dibawah Kasultanan Pajang, Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi.

"Ya, tidak apa-apa, biar saja, aku tidak akan marah, lalu kesatuan apakah yang telah dikurangi dan telah dibubarkan ?" tanya Penangsang.

"Yang telah dikurangi adalah prajurit Wira Tamtama, Wirabraja dan Wira Manggala, sedangkan yang dibubarkan adalah kesatuan tempur laut Jala Pati, kesatuan Wira Radya, kesatuan Patang Puluhan, kesatuan Wira Yudha yang didalamnya terdapat kesatuan Wirapati, Narapati, Wira Warasta, dan pasukan berkuda Turangga Seta" kata prajurit sandi itu.

"Ya, tidak apa-apa, aku tidak akan marah, pembubaran kesatuan prajurit Demak adalah sesuatu yang menguntungkan buat Kadipaten Jipang" kata Adiati jiang.

"Paman Matahun" kata Arya Penangsang.

"Nanti kalau ada para prajurit Demak yang ingin menjadi prajurit Jipang, supaya mereka semua diterima paman" kata Penangsang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Selain itu, ada kabar apa lagi prajurit ?" tanya Adipati Jipang.

"Beberapa hari yang lalu Kanjeng Sultan Hadiwijaya bersama beberapa orang pengikutnya berada di Kraton Kilen, kemudian ketika Kanjeng Sultan Hadiwijaya pulang ke Pajang, rombongan itu mengambil lima buah pusaka ageng Kasultanan Demak, Kanjeng Adipati" kata prajurit itu.

"Apa ??!!" teriak Arya Penangsang.

"Sabar Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"O ya, ingatkan aku paman Matahun, aku sedang berpuasa, aku tidak boleh marah selama empat puluh hari" kata Arya Penangsang.

"Pusaka apa saja yang telah dibawa adimas Hadiwijaya ke Pajang ?" tanya Adipati Jipang.

"Pusaka ageng Kanjeng Adipati, keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten, Kyai Sengkelat, lalu sebuah trisula Kyai Trimarga dan sebuah pancasula Kyai Wajra" kata prajurit itu selanjutnya.

"Hm" Penangsangpun mendesah, dengan sekuat tenaga ia menahan kemarahannya yang sudah mulai berkobar.

"Aku harus bersabar, nanti semua persoalan ini akan aku selesaikan setelah puasaku berakhir" kata Adipati Jipang.

"Paman Matahun" kata Arya Penangsang.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati.

"Apakah Jipang perlu menyerang Demak yang sudah lemah ?" tanya Arya Penangsang.

"Meskipun Demak sudah lemah, tetapi menyerang Demak tidak ada gunanya Kanjeng Adipati, pusaka ageng sudah keluar semua, dan tidak ada sasaran yang harus dilenyapkan" kata Patih Matahun.

"Ya paman" kata Adipati Jipang.

"Yang harus dibunuh adalah orang yang berhak atas tahta Kasultanan Demak, dan sekarang orangnya sudah menjadi Sultan di Pajang, Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Ya paman, seharusnya Karebet sudah aku bunuh ketika dia masih menjadi prajurit Wira Tamtama" kata Arya Penangsang.


"Semua sudah terlanjur, Kanjeng Adipati" kata Patih Jipang.

"Tetapi paman, Kasultanan Demak saat ini tidak mempunyai seorang Sultan, sekarang aku bisa menyerang dan menaklukkan Demak serta menjadi Sultan disana" kata Arya Penangsang.

"Kelihatannya sulit Kanjeng Adipati, puluhan orang Tumenggung, Panji dan Rangga yang berada di Demak, pasti akan melawan, dan mereka semuanya mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi dan saat ini semuanya patuh kepada Ratu Kalinyamat yang merupakan putra dari Sultan Trengana" kata Patih Matahun.

Arya Penangsang mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu iapun berkata kepada prajurit sandi yang duduk bersila di hadapannya.

"Apa lagi yang akan kau sampaikan selain persoalan dibawanya pusaka ageng Demak ke Pajang ?" tanya Adipati Jipang.

"Tidak ada, Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi yang bertugas di Demak.

"Ya, kalau sudah tidak ada lagi, sekarang kau boleh pulang" kata Arya Penangsang.

"Terima kasih Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi itu, lalu iapun bergeser mundur kebelakang, lalu turun dari pendapa.

Setelah prajurit itu meninggalkan dalem Kadipaten, maka Adipati Jipang berkata :"Paman, jangan ada persoalan apapun yang dapat membuatku marah, kalau aku lupa, paman harus mengingatkan aku"

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Persoalan surutnya Kasultanan Demak maupun persoalan pusaka ageng yang dibawa adimas Hadiwijaya akan aku selesaikan setelah berakhirnya puasaku selama empat puluh hari" kata Arya Penangsang, setelah itu Adipati Jipang berjalan masuk kedalam kamarnya.

Sementara itu, pada waktu yang bersamaan, pagi hari itu di ruang dalam Kraton Pajang, Sultan Hadiwijaya sedang mengadakan pertemuan dengan semua nayaka praja Pajang, hadir pula anak angkat Sultan Pajang, Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Klilip Kasultanan Pajang memang harus dilenyapkan, kakang Pemanahan" kata Sultan Hadiwijaya.

Semua yang hadir hanya bisa terdiam, mereka menunggu perintah selanjutnya dari Sultan Pajang.

"Hari ini sudah sepasar sejak kita berkunjung ke pesanggrahan Danaraja, paling lambat lima pasar lagi, Pajang harus bersiap untuk menggempur Jipang, nanti aku sendiri yang akan menjadi senapati agung menghadapi Adipati Jipang" kata Sultan Pajang.

"Nanti kakang Pemanahan dan kakang Penjawi menjadi senapati pengapit kanan dan pengapit kiri, kakang Juru Martani berada di induk pasukan bersama aku" lanjut Kanjeng Sultan.

"Siapapun nanti yang bertemu dengan patih Matahun, jangan dilawan seorang diri, dia harus dilawan bersama beberapa orang prajurit, Patih tua itu berilmu tinggi" kata Sultan Pajang.

"Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilamarta dan Wenang Wulan kita perssiapkan untuk menghadapi Panembahan Sekar Jagad kalau dia ada di pertempuran" kata Kanjeng Sultan.

"Ada yang akan kau katakan kakang Juru Martani ?" tanya Sultan Hadiwijaya yang melihat Juru Martani menggeser duduknya.

Juru Martani menyembah, setelah itu iapun berkata :"Kanjeng Sultan, Kasultanan Pajang adalah Kasultanan yang besar, kekuasaannya sama dengan kekuasaan Kasultanan Demak lama, tidak sepantasnya hanya untuk melawan sebuah Kadipaten yang kecil saja, Kanjeng Sultan sendiri sampai turun ke pertempuran sebagai seorang senapati agung".

"Jadi kelihatannya agak kurang tepat kalau Kanjeng Sultan sendiri yang mandegani pasukan Pajang melawan Arya Penangsang" kata Juru Martani.

"Lalu apa usulmu kakang juru Martani" kata Kanjeng Sultan.

"Hamba usul, apakah Kanjeng Sultan bisa membuat sebuah sayembara untuk membunuh Arya Penangsang" kata Juru Martani.

Mendengar usul dari Juru Martani, Sultan Hadiwijayapun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Siapapun orang yang mampu membunuh Adipati Jipang, akan mendapat hadiah dari Kanjeng Sultan Hadiwijaya, begitu usul hamba Kanjeng Sultan" kata Juru Martani.

"Bagus kakang Juru, lalu daerah mana yang akan aku hadiahkan kepada orang yang mampu membunuh Arya Penangsang ?" kata Sultan Hadiwijaya.

"Semuanya terserah keputusan Kanjeng Sultan" kata Juru Martani.

Setelah berpikir sejenak, maka Sultan Hadiwijayapun berkata :"Kakang Pemanahan"

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Umumkan kepada semua kawula Pajang diseluruh tlatah Demak lama, barang siapa yang mampu membunuh Adipati Jipang Arya Penangsang akan mendapat hadiah dua buah daerah, yaitu bumi Pati serta alas Mentaok" kata Sultan Hadiwijaya.

Semua yang hadir terkejut, hadiah yang dijanjikan adalah bumi Pati dan Alas Mentaok, dua buah daerah yang luas, masing-masing daerah seluas sebuah Kadipaten.

Tlatah Pati, termasuk daerah hutan Prawata, sebelah barat berbatasan dengan daerah Kudus, sebelah timur berbatasan dengan daerah Lasem, sebelah selatan berbatasan dengan daerah Jipang Panolan, sedangkan sebelah utara meliputi gunung Muria disisi sebelah timur terus membujur ke utara sampai di pesisir utara.

Sedangkan daerah alas Mentaok, adalah sebuah daerah yang sangat luas, di sebelah utara terdapat gunung Merapi, membujur keselatan menuju Segara Kidul, sebelah tenggara menuju ke perbukitan di Gunung Kidul, di sebelah timur sampai di Kali Opak, sedangkan di sebelah barat melewati Kali Progo berbatasan dengan daerah Bagelen.

Kedua daerah itu akan diberikan kepada siapapun yang mampu membunuh Arya Penangsang.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita