Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 73 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 73 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Ki Tumenggung Gajah Birawa, Ki Tumenggung Gagak Anabrang dan Ki Tumenggung Surapati, kalian menjadi saksi apa yang akan aku perintahkan kepada Ki Patih Wanasalam" kata Kanjeng Ratu Kalinyamat.

Ketiga orang Tumenggung itu hanya menunduk, mendengarkan perkataan dari Sang Ratu.

"Surat dariku masih disimpan Ki Patih ?" tanya Kanjeng Ratu.

"Surat itu saya bawa Kanjeng Ratu" kata Patih Wanasalam sambil menunjukkan bambu kecil yang berisi surat dari Ratu Kalinyamat.

"Ya, nanti surat itu bisa di perlihatkan kepada semua Tumenggung yang merupakan pandega dari kesatuan prajurit Kasultanan Demak" kata Sang Ratu.

"Surat yang telah aku tulis untuk Ki Patih Wanasalam, berisi pengakuanku terhadap Kanjeng Sultan Hadiwijaya sebagai Sultan Pajang yang kekuasaannya meliputi semua daerah Kasultanan Demak lama, dan sekarang Demak bukan merupakan sebuah Kasultanan lagi karena tidak punya seorang Sultan, tetapi hanya sebuah wilayah yang berada dalam Kasultanan Pajang, dan tanggung jawab terhadap keselamatan Demak berada didalam tanggung jawab Sultan Pajang" kata Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat berdiam sebentar, dilihatnya Ki Tumenggung Gajah Birawa menggeser duduknya.

"Apa yang akan kau tanyakan Ki Tumenggung Gajah Birawa ?" kata Ratu Kalinyamat.

"Bagaimana kalau nanti Kanjeng Adipati Jipang Arya Penangsang yang mempunyai hak atas tahta Kasultanan Demak, menjadi marah dan menuntut haknya menjadi seorang Sultan di Demak, Kanjeng Ratu ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Penangsang marah karena ia ingin menjadi Sultan Demak ? Penangsang dan adimas Hadiwijaya mempunyai hak yang sama untuk menjadi Sultan di Demak, adimas Hadiwijayapun tidak menuntut sebagai Sultan Demak" kata Kanjeng Ratu.

"Mulai saat ini, Kasultanan Demak sudah tidak ada lagi, saat ini tlatah Demak berada dibawah kekuasaan Kasultanan Pajang, sehingga tanggung jawab keselamatan tlatah Demak berada ditangan adimas Hadiwijaya" kata Ratu Kalinyamat.

Patih Wanasalam dan ketiga orang Tumenggung hanya terdiam mendengar kalimat yang diucapkan oleh Ratu Kalinyamat.

"Kalau Penangsang menyerang Demak, maka Adipati Jipang akan berhadapan dengan Sultan Pajang" kata Kanjeng Ratu selanjutnya.

"Kalau Penangsang marah karena adimas Hadiwijaya menjadi Sultan di Pajang, silahkan saja kalau Arya Penangsang akan menjadikan dirinya sebagai seorang Sultan di Jipang" kata Ratu Kalinyamat.

"Ya Kanjeng Ratu" kata Patih Wanasalam.

"Itulah keadaan Kasultanan Demak yang carut marut setelah meninggalnya Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri karena dibunuh oleh Penangsang" kata Ratu Kalinyamat.

"Ki Patih dan para Tumenggung, karena Demak sudah bukan merupakan sebuah Kasultanan lagi, maka beberapa kesatuan prajurit dapat dikurangi atau dibubarkan, persoalan ini bisa dibicarakan dengan adimas Hadiwijaya, apakah Sultan Pajang dapat menerima mantan prajurit Demak" kata Kanjeng Ratu.

Ke empat orang itu mendengarkan kalimat dari Ratu Kalinyamat, mereka merasakan betapa suramnya Kasultanan Demak setelah Sultan Trenggana gugur ketika memimpin pasukan Demak segelar sepapan, nglurug perang di Panarukan.

"Hm sekarang tlatah Demak hanya tinggal sak megaring payung saja" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati.

"Seterusnya, isi surat saya yang kedua adalah mengenai pusaka-pusaka Demak. Karena sekarang tlatah Demak berada dibawah kekuasaan Kasultanan Pajang, maka Demak harus mematuhi semua yang diperintahkan oleh Pajang, dan saat ini Pajang menginginkan beberapa pusaka yang berada di Kraton Demak" kata Ratu Kalinyamat.

"Yang diinginkan oleh adimas Hadiwijaya adalah pusaka ageng keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk inten dan keris Kyai Sangkelat, besok Ki Patih dapat memberikan pusaka-pusaka itu kepada adimas Hadiwijaya" lanjut Kanjeng Ratu.

"Baik Kanjeng Ratu" kata Patih Wanasalam.

"Mungkin adimas Hadiwijaya juga menginginkan tambahan satu atau dua buah pusaka lainnya" lanjut Kanjeng Ratu.

"Itulah isi surat yang aku sampaikan kepada Ki Patih Wanasalam, dan sekarang para Tumenggung bertiga telah mendengar langsung apa yang aku ucapkan, dan mulai besok Ki Patih dapat melaksanakan apa yang aku ucapkan saat ini" kata Ratu Kalinyamat.

"Baik Kanjeng Ratu, besok saya akan mengumpulkan para pandega dari semua kesatuan keprajuritan Demak, setelah itu secara bertahap akan ada pembubaran atau pengurangan kesatuan prajurit Demak" kata Patih Wanasalam.

"Sambil menunggu perkembangan dan keputusan selanjutnya dari Sultan Hadiwijaya, Ki Patih aku beri purba wasesa untuk mengatur jalannya pemerintahan di Demak" kata Ratu Kalinyamat selanjutnya.

"Sendika dawuh Kanjeng Ratu" kata Ki Patih.

"Hanya itu Ki Patih dan para Tumenggung, apakah ada yang akan bertanya ?" kata Kanjeng Ratu.

Ke empat tamu dari Demak itu saling berpandangan, dan akhirnya Patih wanasalam berkata :"Semua sudah jelas Kanjeng Ratu"

"Apakah masih ada lagi yang akan Ki Patih sampaikan ?" tanya Kanjeng Ratu.

"Tidak ada Kanjeng Ratu" kata Ki Patih.

Setelah dianggap selesai maka Ratu Kalinyamatpun berkata :"Kalau begitu silahkan Ki Patih dan para Tumenggung kembali ke tempat semula"

"Kanjeng Ratu, kami berempat mohon diri" kata Patih Wanasalam.

"Silahkan Ki Patih" kata Ratu Kalinyamat.

Ki Patih Wanasalam dan ketiga orang Tumenggung segera berdiri, setelah membungkukkan badannya, maka mereka berempat berjalan keluar dari ruang dalam.

Di pendapa telah menunggu pemimpin para pengawal, Wasesa, kemudian mereka berlima turun dari pendapa, lalu berjalan kembali ke tempat semula.

Ketika mereka memasuki ruang dalam, ternyata di atas meja telah tersedia dua buah cething berisi nasi dan sayur kacang panjang serta beberapa lauk ikan.

"Silahkan Ki Patih dan Ki Tumenggung, makan siang sudah disiapkan oleh para pengawal" kata Ki Wasesa mempersilahkan para tamunya untuk makan siang.

"Terima kasih Ki Wasesa" kata Patih Wanasalam, setelah itu Ki Patih bersama dengan tiga orang Tumenggung menikmati hidangan makan siang dari pesanggrahan Danaraja.

"Enak sayurnya Ki Tumenggung" kata Ki Patih.

"Ya Ki Patih, enak, karena perut kita sudah lapar" jawab Tumenggung Gajah Birawa sambil menambah nasi dari cething.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai menikmati makan siang dan beristirahat, maka Patih Wanasalam berkata :"Sudah cukup Ki Tumenggung, kita pulang sekarang".

"Ya Ki Patih, kita sudah cukup lama di Danaraja" kata Tumenggung Gajah Birawa, lalu iapun berdiri diikuti oleh Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ki Wasesa, kami mohon diri kembali ke Demak, terima kasih atas sambutan para pengawal Danaraja" kata Ki Patih., 

"Ya Ki Patih, mudah-mudahan perjalanan Ki Patih dan Ki Tumenggung lancar sampai di Demak" kata Ki Wasesa.

Setelah itu, mereka semua mengikuti Patih Wanasalam keluar dari ruang dalam, kemudian turun dari pendapa lalu berjalan menuju kuda-kuda yang tertambat di bawah pohon.

Setelah ke empat orang itu naik ke punggung kudanya, maka Patih Wanasalampun berkata :"Kami pulang sekarang Ki Wasesa"

"Silakan Ki Patih" kata Ki Wasesa, dan sesaat kemudian para tamu dari Demak menjalankan kuda mereka keluar dari regol pesanggrahan Danaraja.

Di siang hari yang panas terik, empat ekor kuda kembali berlari menyusuri jalan setapak di kaki gunung Muria menuju kotaraja Demak.

Hutan yang tipis disebelah timur bandar Jepara telah dilaluinya, beberapa bulak yang panjang juga telah dilewatinya.

Matahari pun telah condong ke barat, empat ekor kuda telah menyeberangi beberapa sungai kecil di daerah sekitar Kalinyamatan.

"Nanti setelah senja kita bisa sampai di kotaraja Demak" kata Tumenggung Gagak Anabrang dalam hati.

"Sudah lama aku ingin beristirahat dan menjadi petani yang baik, dan sekarang adalah saat yang tepat untuk berhenti dari tugas keprajuritan" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati sambil terus memacu kudanya berlari melewati beberapa gerumbul perdu menjauh dari gunung Muria.

Setelah beberapa kali beristirahat, bersamaan dengan menghilangnya semburat lembayung senja di langit, empat ekor kuda telah memasuki kotaraja.

Perlahan-lahan alampun berubah menjadi semakin gelap, ribuan bintang telah muncul di langit, berkerlip manja di angkasa yang gelap.

"Ki Tumenggung Gajah Birawa, aku langsung pulang ke Kepatihan, Ki Tumenggung nanti bisa mengirim utusan untuk melaporkan hasil perjalanan kita kepada Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Kraton Kilen" kata Patih Wanasalam.

"Baik Ki Patih, nanti saya akan mengutus Ki Rangga untuk memberitahukan ke Kanjeng Sultan" jawab Tumengung Gajah Birawa.

Kuda-kuda mereka berlari perlahan, setelah sampai di jalan simpang merekapun berpencar, kembali ke kepatihan dan dalem katumenggungan, hanya Tumenggung Gajah Birawa yang meneruskan lari kudanya ke alun-alun, lalu dibelokkan ke pintu gerbang Kraton.

Dua orang prajurit yang menjaga gerbang Kraton membungkuk hormat ketika kuda yang ditunggangi Tumenggung Gajah Birawa berhenti di depan mereka.

"Prajurit, salah satu dari kalian, panggil Ki Rangga Pideksa, sampaikan pada Ki Rangga, supaya segera datang di dalem Gajah Birawan, sekarang" kata Tumengung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" kata prajurit penjaga pintu gerbang.

Tumenggung Gajah Birawa segera memutar kudanya, lalu dilarikan kembali pulang ke Gajah Birawan.

Sementara itu, ketika Tumenggung Gajah Birawa telah sampai di dalem Gajah Birawan, di Kraton Kilen, Sultan Hadiwijaya sedang beristirahat setelah seharian mengunjungi gurunya, Sunan Kalijaga di pesantren Kadilangu.

Malam belum begitu larut, wayah sepi bocah hampir berakhir, Sultan Hadiwijaya sedang berada di ruang dalam duduk di kursi dihadap oleh seluruh nayaka praja yang ikut bersamanya, kecuali Wenang Wulan yang berjaga sendiri di pendapa.

Pemanahan yang duduk bersila di lantai ruang dalam sedang membicarakan kepulangan mereka ke Pajang.

"Kakang Pemanahan, kita akan pulang Pajang besok siang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Apakah besok pagi urusan pusaka yang akan kita bawa ke Pajang sudah selesai Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Mudah-mudahan semua bisa selesai, malam ini kita menungu berita dari Ki Patih Wanasalam atau dari Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.

Pemanahan belum menjawab, Kanjeng Sultan melihat didepan pintu, Wenang Wulan duduk bersila, seperti ingin ada yang ia sampaikan.

"Ada apa Wenang Wulan ? Ada yang perlu kau sampaikan ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Di pendapa ada tamu, Ki Rangga Pideksa, utusan dari Ki Tumenggung Gajah Birawa ingin menghadap Kanjeng Sultan" kata Wenang Wulan.

"Ya, kau persilahkan Ki Rangga supaya masuk ke ruang dalam" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Wenang Wulan, dan sesaat kemudian Wenang Wulanpun keluar menemui tamu utusan dari Tumenggung Gagak Anabrang.

Rangga Pideksa berjalan menuju ruang dalam, setelah sampai didepan pintu, Ki Rangga menyembah, lalu duduk bersila dibelakang para nayaka praja Pajang.

"Silakan maju kedepan Ki Rangga" kata Sultan Hadiwijaya.

Rangga Pideksa bergeser maju kedepan dan Ki Ranggapun duduk bersila dengan menundukkan kepalanya.

"Sudah agak lama kita tidak berjumpa, kau selamat Ki Rangga" kata Sultan Hadiwijaya.

"Atas pangestu Kanjeng Sultan, saya dalam keadaan sehat" kata Ki Rangga sambil mengangkat wajahnya, sekejap ia memandang ke arah Sultan Hadiwjaya yang duduk di depannya, setelah itu wajah Ki Rangga kembali menunduk.

"Kanjeng Sultan Hadiwijaya memang seorang yang tegap dan tampan" kata Rangga Pideksa dalam hati.

Betapa Ki Rangga heran dengan perjalanan hidup Sultan Hadiwijaya, seakan-akan baru kemarin ia sebagai seorang Rangga telah menyuruh prajurit Wira Tamtama yang bernama Karebet membersihkan perahu kebesaran Kasultanan Demak, Kyai Garuda dengan menggunakan sepotong kain yang basah, setelah itu ia juga menyuruh membawa sebuah bungkusan yang berisi beberapa sisir pisang pemberian Nyai Madusari, lalu iapun menyuruh Karebet bersama Tumpak mendayung perahu menuju muara sungai Tuntang, dan sekarang di Kraton Kilen ia menyembah Karebet yang telah berganti nama menjadi Hadiwijaya, seorang Sultan dari Pajang yang duduk di kursi dua langkah didepannya.

"Ada perlu apakah Ki Rangga datang kemari ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

Rangga Pideksa sangat menyesal dan menyayangkan ketika Karebet diusir dari kotaraja Demak, itu semua adalah hukuman dari Kanjeng Sultan Trenggana, karena Karebet dianggap bersalah telah membunuh Dadung Awuk, dan beberapa candra kemudian Ki Rangga merasa sangat senang ketika Karebet behasil membunuh seekor kerbau yang mengamuk di dalam perkemahan di hutan Prawata.

"Tadi Ki Tumengung Gajah Birawa mengatakan kalau saat ini Kanjeng Ratu Kalinyamat sudah setuju kalau Sultan Hadiwijaya menjadi seorang Sultan di Pajang, luar biasa, mulai saat ini Kasultanan pindah ke Pajang, dan jaman kejayaan Kasultanan Demak telah berakhir" kata Rangga Pideksa dalam hati.

"Ada perlu apakah Ki Rangga datang kemari ?" tanya Sultan Hadiwijaya sekali lagi.

Rangga Pideksa terkejut, ia menyembah dan berkata :"Mohon ampun Kanjeng Sultan, hamba tidak mendengar titah Kanjeng Sultan"

Sultan Hadiwijaya tersenyum, lalu berkata :"Tidak apa-apa Ki Rangga, ada perlu apakah Ki Rangga datang mencariku ?"

"Hamba diutus oleh Ki Tumenggung Gajah Birawa, Kanjeng Sultan" kata Rangga Pideksa.

"Apa yang akan disampaikan oleh Tumenggung Gajah Birawa ?" kata Sultan Hadiwijaya.

"Ki Tumenggung Gajah Birawa baru saja datang dari bukit Danaraja, bersama Ki Patih Wanasalam, Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang" cerita Rangga Pideksa

"Ki Tumenggung berkata, memang betul kalau Kanjeng Ratu Kalinyamat telah mengakui Sultan Hadiwijaya sebagai Sultan di Pajang yang kekuasaannya adalah bekas kekuasaan Kasultanan Demak" kata Ki Rangga.

"Ki Tumenggung juga berkata, Kanjeng Ratu Kalinyamat tidak berkeberatan kalau Kanjeng Sultan memboyong pusaka ageng keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten Kyai Sangkelat dan beberapa pusaka lainnya untuk dibawa ke Pajang" kata Ki Rangga.

"Besok pagi, Ki Patih akan membicarakan dulu dengan semua para Tumenggung pimpinan kesatuan keprajuritan Demak, setelah itu, Ki Patih Wanasalam dan Ki Tumenggung Gajah Birawa dan Kanjeng Sultan akan bersama-sama menuju ke ruang pusaka" lanjut Rangga Pideksa.

"Besok pagi aku menunggu Ki Patih Wanasalam di sini ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Ki Rangga.

"Baik, ada lagi yang akan kau sampaikan Ki Rangga ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Tidak ada Kanjeng Sultan" kata Rangga Pideksa.

"Kalau tidak ada, silakan kalau Ki Rangga akan beristirahat" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh, hamba mohon pamit Kanjeng Sultan" kata Rangga Pideksa.

Setelah itu Rangga Pideksa menyembah, lalu bergeser kebelakang, lalu keluar dari ruang dalam menuju ke pendapa.

Di pendapa, Rangga Pideksa menemui Wenang Wulan yang sedang duduk di pendapa.

"Saya mohon pamit Raden" kata Rangga Pideksa.

"Silahkan Ki Rangga" jawab Wenang Wulan, lalu Ki Ranggapun berjalan menuruni pendapa menuju pintu gerbang, sambil masih terus melamun tentang Sultan Hadiwijaya.

"Disamping tampan, Sultan Hadiwijaya memang berilmu tinggi, tetapi kalau bertarung dengan Adipati Arya Penangsang, mana yang lebih tinggi ? Adipati Jipang Arya Penangsang mampu memukul hancur berserakan sebuah batu padas sebesar gudel, tetapi Kanjeng Sultan mampu membunuh seekor kerbau besar yang mengamuk di perkemahan hutan Prawata, dengan sekali pukul, kerbau itu mati dengan kepala terbakar bergambar telapak tangan berwarna hitam".

Rangga Pideksa masih terus berjalan, keluar dari pintu gerbang Kraton Demak.

Di langit, ribuan bintang masih berkelip, waktupun semakin mendekati tengah malam, dan sesaat kemudian terdengar suara kentongan yang ditabuh dengan nada dara muluk, yang terdengar di seluruh daerah di kotaraja Demak.

Alam yang sunyi, hanya terdengar suara desah angin yang mengusap pepohonan di dalem Kepatihan, sedangkan semua penghuninya telah lelap tertidur.

Keesokan harinya, ketika matahari naik dilangit semakin tinggi, ada beberapa kesibukan di Kepatihan, tempat tinggal Patih Wanasalam.

Bebera ekor kuda telah tertambat di beberapa tiang di halaman, dijaga oleh tiga orang abdi Kepatihan.

Di ruang dalam, telah berkumpul Ki Patih bersama beberapa orang Tumenggung, pimpinan dari beberapa kesatuan prajurit Demak.

Mereka yang hadir duduk saling berhadapan di beberapa dingklik besar.

Di ruang itu duduk Patih Wanasalam, disebelahnya duduk Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata dari kesatuan Wira Tamtama, lalu duduk pula Tumenggung Gagak Anabrang dari kesatuan Wirabraja, disebelahnya duduk Tumenggung Siung Laut dari kesatuan tempur laut, Jala Pati, Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala, Tumenggung Palang Nagara dari kesatuan Wira Yudha, dan Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan.

Setelah mereka berkumpul lengkap, maka Patih Wanasalam bercerita tentang surat yang ia terima dari Ratu Kalinyamat, yang telah disampaikan oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

"Untuk membuktikan kebenaran dari surat itu, maka kemarin saya berangkat ke pesanggrahan Danaraja menemui Kanjeng Ratu Kalinyamat" kata Patih Wanasalam.

"Ketika berangkat menuju bukit Danaraja, saya mengajak tiga orang Tumenggung, Ki Tumenggung Gajah Birawa, Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang, ketiganya saya ajak untuk menjadi saksi apa yang akan diucapkan oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat" kata Ki Patih.

"Ketika kami berempat sampai di pesanggrahan Danaraja, kami berempat telah bertemu dengan Kanjeng Ratu Kalinyamat, yang sedang bertapa didalam sebuah krobongan" kata Ki Patih.

"Ternyata betul seperti isi surat yang telah saya terima, Kanjeng Ratu Kalinyamat memang mengakui, saat ini Kanjeng Sultan Hadiwijaya adalah seorang Sultan di Pajang yang menguasai seluruh wilayah Demak lama, dan saat ini Demak sudah tidak bisa lagi disebut sebagai sebuah Kasultanan karena tidak mempunyai seorang Sultan, setelah terbunuhnya Sultan Demak, Sunan Prawata dan calon Sultan Pangeran Hadiri" kata Patih Wanasalam.

Patih Wanasalam berhenti sebentar, ia mengedarkan pandangannya kesemua Tumenggung yang hadir, dan Ki Patihpun melihat Tumenggung Siung Laut menggeser duduknya seperti akan menyampaikan sesuatu.

"Tumenggung Siung Laut, ada yang akan Ki Tumenggung tanyakan ?" tanya Patih Wanasalam.

"Ki Patih, kalau Kasultanan Demak sudah tidak ada lagi karena tiadanya seorang Sultan, maka bagaimana dengan kelangsungan beberapa kesatuan prajurit yang sekarang masih ada ?" tanya Tumenggung Siung Laut.

"Ya, secara bertahap nanti prajurit Demak akan dikurangi, beberapa kesatuan prajurit akan dibubarkan, sebagian akan beralih menjadi prajurit Pajang, Jipang atau menjadi pengawal di daerah manapun, dan sebagian lagi akan berhenti menjadi prajurit, pulang ke desa masing-masing" kata Ki Patih.

"Aku akan menambahkan sedikit" kata Tumenggung Gajah Birawa, lalu Ki Tumenggungpun melanjutkan perkatannya :"Sudah lama aku ingin berhenti dari tugas keprajuritan, sebentar lagi keinginanku akan terlaksana, menjadi petani menikmati hari tua, menjadi petani di desa".

"Aku juga akan mengundurkan diri dari tugas keprajuritan" kata Tumenggung Siung Laut, lalu iapun melanjutkan :"Aku akan kembali ke desa asalku di pinggir pantai Lasem"

"Ya, silahkan saja Ki Tumengung" kata Patih Wanasalam :"Besok akan kita adakan pertemuan lagi untuk membicarakan tentang pembubaran beberapa kesatuan prajurit".

"Selanjutnya Kanjeng Ratu Kalinyamat mengijinkan Sultan Hadiwijaya untuk membawa pusaka ageng Demak keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten dan Kyai Sengkelat, untuk dibawa ke Pajang, dan dijadikan sebagai pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang" kata Patih Wanasalam.

Para Tumenggung hanya bisa berdiam diri, yang menguasai pusaka Kraton adalah Sultan Demak, tetapi karena saat ini Demak tidak mempunyai seorang Sultan, maka yang berhak mengatur tentang pusaka adalah Kanjeng Ratu Kalinyamat sebagai putra dari Sultan Trenggana.

"Masa kejayaan Kasultanan Demak sudah berakhir, sekarang Demak berada dibawah kekuasaan Kasultanan Pajang, sehingga Pajang berhak mengambil pusaka yang berada di Kraton Demak" kata pandega prajurit Wira Yudha, Tumenggung Palang Nagara dalam hati.

"Ketiga pusaka ageng Kasultanan Demak, keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten dan Kyai Sangkelat akan diboyong ke Pajang, padahal keris pusaka itu dulu semuanya diambil dari Kraton Majapahit" kata pandega prajurit Patang Puluhan, Tumenggung Jaya Santika kepada Tumenggung Palang Nagara yang berada disebelahnya.

"Besok setelah kita berbicara tentang pembubaran dan pengurangan prajurit, maka Ki Tumenggung dapat memberitahukan persoalan ini kepada para Panji dan Rangga didalam kesatuan prajurit masing-masing" kata Patin Wanasalam.

"Sekarang pembicaraan kita sudah selesai, dan setelah ini, saya bersama Tumenggung Gajah Birawa akan ke Kraton Kilen menemui Kanjeng Sultan Hadiwijaya" kata patih Wanasalam menutup pembicaraan para Tumenggung.

Beberapa saat para Tumenggung masih saling berbicara, dan tak lama kemudian para Tumenggung keluar dari dalem Kepatihan menuju ke tempat kuda-kudanya yang tertambat di sudut halaman.

Beberapa kuda telah keluar dari regol dalem kepatihan, sedangkan dua ekor kuda berlari menuju Kraton dengan Patih Wanasalam dan Tumengung Gajah Birawa berada dipunggungnya.

Ketika berada di depan pintu gerbang Kraton, keduanya menghentikan lari kudanya, lalu turun dan memberikan tali kendali kudanya kepada prajurit yang sedang menjaga regol kemudian rajurit itupun menambatkan pada tonggak yang terdapat di dekat gerbang Kraton.

Setelah itu Patih Wanasalam dan Tumenggung Gajah Birawa berjalan kaki menuju Kraton Kilen, tempat bermalam Sultan Hadiwijaya beserta para pengikutnya.

Sementara itu, Sultan Hadiwijaya saat itu sedang berada di ruang dalam bersama Pemanahan dan Penjawi, bersama para nayaka praja lainnya, semuanya duduk bersila di lantai pendapa.

Kanjeng Sultan yang sedang duduk di kursi, melihat Wenang Wulan masuk ke ruang dalam memberitahukan kalau Patih Wanasalam dan Tumenggung Gajah Birawa telah berada di pendapa.

"Persilahkan keduanya masuk ke ruang dalam" kata Sultan Hadiwijaya.

Beberapa saat kemudian masuklah Patih Wanasalam dan Tumenggung Gajah Birawa, setelah menyembah, mereka berdua duduk dilantai disebelah dua orang nayaka Pajang, Pemanahan dan Penjawi.

"Demak sudah mengakui Kasultanan Pajang, sudah sepantasnya kalau aku bersama Ki Tumenggung duduk di lantai menyembah Sultan Pajang, dan mulai sekarang karena Demak tidak mempunyai seorang Sultan, maka aku bukan lagi seorang Patih Kasultanan Demak" kata Wanasalam dalam hati.

"Ki Wanasalam dan Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Sultan Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Wanasalam dan Tumenggung Gajah Birawa.

"Tadi malam Ki Rangga Pideksa datang kemari, menceritakan tentang hasil perjalanan Ki Wanasalam bersama ketiga Tumenggung ke pesanggrahan Danaraja" kata Sultan Hadiwijaya.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Ki Wanasalam.

"Ki Wanasalam, bagaimana hasil pertemuan dengan para Tumenggung tadi pagi ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Pertemuan berjalan lancar, beberapa kesatuan prajurit Demak akan dikurangi atau dibubarkan, sebagian prajurit akan kembali ke desanya, tetapi akan ada prajurit yang masih ingin meneruskan pengabdiannya dalam bidang keprajuritan, apakah Kanjeng Sultan bisa menerima para prajurit Demak yang akan pindah ke Pajang ?" tanya Wanasalam.

"Aku akan senang hati menerima mereka, apalagi para prajurit Demak sudah memiliki pengalaman tentang pertempuran maupun tugas keprajuritan yang lain" kata Sultan Hadiwijaya.

"Terima kasih Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Bagaimana mengenai beberapa pusaka ageng yang akan diboyong ke Pajang ?" tanya Sultan Hadiwijaya.

"Ya, setelah ini, kita menuju ke ruang pusaka, Kanjeng Sultan" kata Wanasalam.

"Baik, sekarang mari kita pergi ke ruang penyimpanan pusaka, kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, mari ikut aku" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan dan Penjawi.

Sultan Hadiwijaya bangkit berdiri, kemudian diikuti oleh Ki Wanasalam, Ki Tumenggung Gajah Birawa, lalu di belakangnya berjalan Pemanahan dan Penjawi.

Ketika mereka berjalan di pendapa, empat orang yang sedang duduk bersila, Kanjeng Sultanpun mengajak mereka ikut ke ruang pusaka.

"Kalian semua ikut ke ruang pusaka, kecuali Wenang Wulan yang bertugas jaga di Kraton Kilen" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Wenang Wulan beserta orang Pajang lainnya.

Juru Martani segera bangkit berdiri, diikuti oleh Ngabehi Wuragil dan Sutawijaya, sedangkan Wenang Wulan tetap berada di Kraton Kilen tidak ikut ke ruang pusaka.

Dua orang dari Demak dan enam orang dari Pajang segera berjalan menuruni pendapa menuju ke ruang penyimpanan pusaka.

"Nanti setelah sampai di ruang pusaka, yang masuk hanya Ki Wanasalam, Ki Tumenggung Gajah Birawa, kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, sedangkan yang lainnya tunggu diluar ruang pusaka" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

Tak lama kemudian sampailah mereka di ruang penyimpanan pusaka yang dijaga oleh empat orang prajurit Wira Tamtama.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita