Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 72 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 72 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Beberapa saat kemudian Wasesapun telah kembali ke ruang dalam, lalu iapun berkata :"Kanjeng Sultan ditunggu Kanjeng Ratu Kalinyamat di depan krobongan"

"Baik Ki Wasesa" jawab Sultan Hadiwijaya, kemudian Kanjeng Sultanpun berkata :"Kakang Pemanahan, aku akan pergi bersama Ki Wasesa menemui Kanjeng Ratu Kalinyamat, kalian semua tunggu aku disini".

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

Sultan Hadiwijaya berdiri lalu berjalan keluar dari ruang dalam, diiikuti oleh pemimpin pengawal Kalinyamatan, Wasesa.

Keduanya berjalan menuju sebuah bangunan yang terletak agak dibelakang, Kanjeng Sultan segera naik ke pendapa lalu berjalan menuju ruang dalam, sedangkan Wasesa duduk bersila menungu di pendapa.

Didepan pintu ruang dalam, dijaga oleh dua orang emban yang duduk bersimpuh, dan kedua emban itu menyembah ketika Sultan Hadiwijaya lewat didepannya lalu masuk ke ruang dalam.

Ketika sampai di ruang dalam, Sultan Hadiwijaya duduk di sebuah kursi yang telah disediakan untuknya.

Sultan Hadiwijaya dengan kepala menunduk, duduk menghadap kakak iparnya, Kanjeng Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa telanjang karena hatinya terbakar oleh dendam kesumat, tubuhnya tertutup oleh rambutnya yang panjang, dan Kanjeng Ratu saat itu berada didalam sebuah kerobong tertutup

Sultan Hadiwijaya melirik ke arah sudut, terlihat dua orang kemenakan Sang Ratu Kalinyamat, dua gadis kecil, prawan kencur yang berwajah cantik, Semangkin dan Prihatin sedang duduk bersimpuh, mereka berdua bertugas melayani semua keperluan Sang Ratu.

Tak lama kemudian, terlihat wajah Ratu Kalinyamat diatas kain yang dibentangkan di dalam kerobong.

"Adimas Hadiwijaya" kata Ratu Kalinyamat.

"Dawuh dalem kakangmbok Ratu"

Jawab Sultan Hadiwijaya.

"Silakan kalau Adimas akan menjadikan Pajang bukan lagi sebuah Kadipaten yang kecil, tetapi menjadi sebuah Kasultanan yang besar, silakan adimas, cuma ada satu syarat yang harus adimas penuhi" kata Ratu Kalinyamat.

"Syarat apa yang harus saya penuhi kakangmbok Ratu" kata Karebet.

"Nyawa Penangsang !" kata Ratu Kalinyamat pendek, dan sorot matanyapun memancarkan sebuah dendam kesumat yang belum terbalaskan.

Sultan Hadiwijaya yang telah menduga syarat yang diajukan adalah membalaskan dendam kesumat Ratu Kalinyamat, hanya bisa terdiam, kepalanya masih tertunduk.

"Bagaimana adimas, aku rela adimas sekarang menjadi Sultan di Pajang, asal adimas bisa membunuh Penangsang" kata Ratu Kalinyamat.

"Kakangmbok, Kasultanan Pajang yang baru berdiri, memerlukan beberapa pusaka untuk dijadikan sebagai sipat kandel" kata Sultan Hadiwijaya.

"Apa yang kau kehendaki adimas?" tanya Sang Ratu.

"Pusaka ageng keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten, Kyai Sangkelat dan beberapa pusaka Demak lainnya, untuk dijadikan sebagai sipat kandel Kasultanan Pajang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Baiklah, silahkan ambil pusaka yang adimas inginkan, semuanya ada di ruang pusaka, silahkan diboyong ke Pajang" kata Sang Ratu Kalinyamat.

Sultan Hadiwijaya masih terdiam, Kanjeng Sultan tidak menjawab pertanyaan Sang Ratu, kepalanyapun masih menunduk.

"Masih kurang apalagi adimas ? Adimas melihat dua gadis kemenakanku yang melayani aku ini ? Sepasang prawan kencur putra kakangmas Prawata yang bernama Semangkin dan Prihatin, besok kalau mereka sudah dewasa, keduanya akan aku berikan kepadamu sebagai selir, tapi ingat adimas, imbalannya adalah nyawa Penangsang" kata Ratu Kalinyamat.

Wajah Hadiwijaya masih menunduk, tetapi disudut bibirnya tersungging sebuah senyum kemenangan.

"Baiklah kakangmbok Ratu, aku terima pemberian kakangmbok Ratu, akan aku bunuh Penangsang paling lama dalam waktu satu warsa" kata Hadiwijaya.

"Satu warsa terlalu lama, paling lama satu candra adimas harus sudah bisa membunuh Penangsang" kata Ratu Kalinyamat.

"Kalau setengah warsa bagaimana kakangmbok, saya janji sebelum enam candra Penangsang sudah mati terbunuh" kata Sultan Hadiwijaya.

"Masih terlalu lama, batas waktu membunuh Penangsang adalah dua candra, itu kalau adimas ingin mendapat restuku untuk menjadi Sultan di Pajang yang kekuasannya seluas kekuasaan Kasultanan Demak" kata Ratu Kalinyamat.

"Baiklah kakangmbok Ratu, sebelum dua candra kakangmbok akan mendapat kabar kalau Penangsang telah mati" kata Sultan Hadiwijaya.

Didalam kerobong, Ratu Kalinyamat menarik napas lega mendengar kesanggupan dari adik iparnya, Sultan Hadiwijaya.

"Terima kasih adimas, aku setuju dan merestui adimas menjadi Sultan Pajang, tetapi jangan lupa tugasmu adimas" kata Sang Ratu.

"Lalu bagaimana tentang pusaka ageng Demak yang saya minta untuk dijadikan sipat kandel Kasultanan Pajang, kakangmbok Ratu ?" tanya Sultan Pajang.

"Kau tunggu sebentar adimas, akan aku buatkan surat, berikan surat ini kepada Ki Patih Wanasalam" kata Ratu Kalinyamat.

Sesaat kemudian Sultan Hadiwijaya tidak melihat wajah Ratu Kalinyamat, karena Sang Ratu telah masuk kedalam kerobong.

Beberapa saat kemudian terdengar suara Ratu Kalinyamat dari dalam kerobong :"Semangkin, PrihatIn, coba kalian berdua masuk kemari"

Semangkin dan Prihatin, dua orang gadis yang belum dewasa segera berdiri lalu berjalan menuju dan masuk ke dalam kerobong.

Beberapa saat kemudian, sepasang gadis itu berjalan dengan laku dodok menuju ke tempat Sultan Hadiwijaya.

Setelah sampai didepan Kanjeng Sultan, maka kedua orang gadis itu menyembah dan salah satu gadis itu memberikan sebuah bambu kecil yang berisi sebuah surat.

"Kanjeng Sultan, ini surat dari Kanjeng Ratu" kata salah satu gadis itu.

Sultan Hadiwijaya tersenyum, Kanjeng Sultan menerima bambu kecil itu lalu bertanya :"Siapa namamu nduk cah ayu ?


"Nama hamba Semangkin, Kanjeng Sultan" kata gadis yang telah memberikan bambu kecil yang berisi sebuah surat.

"Yang disebelahnya, siapa namamu nduk cah ayu ?" tanya Kanjeng Sultan sekali lagi.

"Nama hamba Prihatin, Kanjeng Sultan" kata gadis disebelahnya.

"Semangkin dan Prihatin, sekarang kalian tinggal disini dulu melayani Kanjeng Ratu, nanti setelah kalian dewasa, nanti kalian akan dijemput dan tinggal di Kraton Pajang ya cah ayu" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Semangkin dan Prihatin hampir bersamaan.

"Ya sudah cukup cah ayu, kalian boleh kembali ke tempatmu" kata Sultan Pajang.

Setelah menyembah, kedua gadis itu bergeser dan kembali ketempatnya, duduk bersimpuh disudut melayani keperluan Kanjeng Ratu Kalinyamat.

"Bagaimana adimas Hadiwijaya ?" tanya Ratu Kalinyamat yang berada didalam kerobong.

"Baik Kakangmbok Ratu, sesuai perjanjian semula, saya akan bunuh Arya Penangsang sebelum dua candra terhitung sejak hari ini" kata Sultan Hadiwijaya.

"Terima kasih adimas, sabda pandita ratu, kata-kata adimas tidak bisa ditarik kembali, berarti sebelum pada malam purnama dua candra lagi, dendamku sudah terbalas" kata Ratu Kalinyamat.

"Baik kakangmbok Ratu, kalau begitu saya mohon pamit, saya akan ke Demak menemui Ki Patih Wanasalam" kata Ratu Kalinyamat.

"Ya, tetapi apakah adimas malam ini tidak menginap di Danaraja saja ?" tanya Sang Ratu.

"Tidak kakangmbok, mudah-mudahan nanti malam saya sudah sampai di Kraton Demak" kata Sutan Hadiwijaya.

"Baiiklah adimas, sampaikan sungkem saya untuk Kanjeng ibu" kata Ratu Kalinyamat.

"Saya mohon pamit kakangmbok Ratu" kata Sultan Hadiwijaya, setelah itu Kanjeng Sultan berdiri dari kursi, lalu berjalan keluar dari ruang dalam menuju pendapa.

"Sudah selesai Ki Wasesa" kata Sultan Hadiwijaya kepada pemimpin pengawal Kalinyamatan.

"Ya Kanjeng Sultan" kata Wasesa, sambil bangkit berdiri lalu keduanya berjalan turun dari pendapa menuju ke tempat semula.

Mereka berdua kemudian masuk kedalam rumah, disana masih menunggu Pemanahan dan para nayaka praja lainnya.

Tak lama kemudian dua orang pengawal masuk ke ruang dalam membawa dua buah cething berisi nasi dan dua buah mangkuk gerabah yang berisi sayur.

"Kanjeng Sultan jangan pulang dulu, silahkan makan siang di Danaraja, ini semua sudah disiapkan oleh para pengawal" kata Wasesa.

"Terima kasih Ki Wasesa" kata Sultan Hadiwijaya.

Setelah itu, para tamu dari Pajang, menikmati hidangan yang disuguhkan para pengawal di pesanggrahan Danaraja.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai menikmati makan siang, maka Sultan Hadiwijayapun berkata :"Kita pulang sekarang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan, lalu iapun berdiri diikuti oleh nayaka praja lainnya serta anak angkat Kanjeng Sultan, Sutawijaya.

Mereka semua mengikuti Sultan Hadiwijaya berjalan menuju kuda-kuda yang tertambat di bawah pohon.

Setelah semuanya naik ke atas punggung kudanya, Sultan Hadiwijaya lalu berkata :"Kami pulang dulu Ki Wasesa".

"Silakan Kanjeng Sultan" kata Wasesa sambil badannya membungkuk hormat dan tangannya ngapurancang.

Mulailah Sultan Hadiwijaya memacu kudanya, tidak melalui jalan yang dilaluinya tadi, tetapi melewati jalan pintas yang menuju ke arah Demak

Ke enam kuda terus dipacu menuju Demak, debupun berhamburan mengepul dibelakang kaki kuda mereka.

"Mudah-mudahan kita sampai di Demak tidak terlalu malam" kata Pemanahan didalam hatinya.

Mataharipun bergerak turun di kaki langit, dan ketika hari mulai gelap, mereka telah berada di rakit penyeberangan sungai Tuntang.

"Malam baru saja membayang, kita sudah sampai di Demak" kata Penjawi.

"Ya, beberapa rumah sudah menyalakan lampu minyak" kata Juru Martani.

Setelah sampai di tepian, terlihat seseorang sedang berdiri disamping se ekor kuda.

"Itu Wenang Wulan" kata Pemanahan.

Setelah semuanya naik di tepi sebelah barat, maka Sultan Hadiwijayapun berkata :"Kita menuju ke dalem Kepatihan, Ngabehi Wuragil dan kau Wenang Wulan, kalian berdua berangkatlah dulu ke Kepatihan, sampaikan kepada Ki Patih, aku akan kesana"

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Ngabehi Wuragil dan Wenang Wulan.

Sesaat kemudian, di senja yang semakin suram, dua ekor kuda kembali berlari menuju dalem kepatihan.

Beberapa saat kemudian Sultan Hadiwijaya beserta Pemanahan, Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya telah berada diatas punggung kudanya yang berlari menuju ke Kepatihan.

Jarak yang dekat, dapat ditempuh oleh rombongan dari Pajang itu dalam waktu yang tidak terlalu lama.


Tak beberapa lama, mereka telah tiba di regol dalem Kepatihan, lalu kuda-kuda merekapun berjalan memasuki halaman dalem Kepatihan.

Setelah itu, Sultan Hadiwijaya bersama pengikutnya turun dari punggung kudanya, dan beberapa abdi kepatihan segera berlari menyongsong kedatangan para tamu, lalu mereka segera menambatkan kuda-kuda itu di sudut halaman.

Sultan Hadiwijaya berjalan bersama para nayaka praja Pajang, menuju ke pendapa Kepatihan, dan untuk menyambut kedatangan Kanjeng Sultan, di pendapa telah berdiri Patih Wanasalam bersama pandega prajurit Wira Tamtama Demak, Tumenggung Gajah Birawa.

"Selamat datang di Kepatihan Kanjeng Sultan Hadiwijaya" kata Patih Wanasalam dan Tumenggung Gajah Birawa sambil menundukkan kepalanya serta kedua tangannya ngapurancang.

"Hormat saya untuk Ki Patih Wanasalam dan Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Sultan Hadiwijaya.

"Silakan masuk ke ruang dalam Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam.

"Terima kasih Ki Patih" kata Sultan Pajang.

Ketiganya berjalan menuju ke ruang dalam, sedangkan semua pengikut Sultan Hadiwijaya duduk bersila di lantai pendapa Kepatihan.

"Kakang Pemanahan, kakang tunggu di pendapa bersama yang lain, aku akan keruang dalam bersama Ki Patih dan Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

Di ruang dalam yang diterangi cahaya lampu minyak, ketiganya duduk di dingklik besar, dan merekapun duduk saling berhadapan.

Setelah saling mengabarkan keselamatan masing-masing, maka Sultan Hadiwijayapun berkata :"Saya memang akan menemui Ki Patih, ternyata disini ada Ki Tumenggung Gajah Birawa"

"Ya, Kanjeng Sultan, kebetulan sore ini Ki Tumenggung Gajah Birawa sedang bertamu di Kepatihan" kata Patih Wanasalam.

Mendengar penjelasan Patih Wanasalam, Sultan Hadiwijaya menganggukkan kepalanya.

"Kapan Kanjeng Sultan berangkat dari Pajang ?" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Beberapa hari yang lalu Ki Tumenggung, tadi siang saya bersama para nayaka praja Pajang baru saja dari pesanggrahan Danaraja" kata Sultan Hadiwijaya.

"Ke tempat Kanjeng Ratu Kalinyamat ?" tanya Patih Wanasalam.

"Betul Ki Patih, dan Kanjeng Ratu Kalinyamat telah mengirimkan surat untuk Ki Patih Wanasalam" kata Sultan Hadiwijaya, kemudian Kanjeng Sultan mengeluarkan dari dalam bajunya, sebuah bambu kecil yang didalam nya terdapat surat dari Ratu Kalinyamat.

Patih Wanasalam menerima bambu kecil, lalu mengambil surat yang berada didalamnya, lalu surat itu dibacanya dibawah lampu minyak.

Patih Wanasalam membaca surat itu, kemudian surat itupun diberikan kepada Tumenggung Gajah Birawa.

Setelah keduanya membaca surat itu, maka Patih Wanasalam kemudian berkata :"Baik Kanjeng Sultan, disini ada Ki Tumenggung Gajah Birawa yang menjadi saksi peristiwa ini, yang pertama Kanjeng Ratu Kalinyamat mengakui Kanjeng Sultan Hadiwijaya sebagai Sultan Pajang yang kekuasaannya meliputi semua daerah Kasultanan Demak lama, yang kedua Kanjeng Sultan Pajang diperbolehkan membawa beberapa pusaka ageng Demak, keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten, Kyai Sangkelat serta beberapa pusaka lainnya, semua pusaka itu akan diboyong ke Pajang"

"Betul Ki Patih" jawab Sultan Hadiwijaya.

"Kanjeng Sultan, saya minta waktu satu hari, besok pagi saya bersama Ki Tumenggung Gajah Birawa akan ke pesanggrahan Danaraja, menemui Kanjeng Ratu Kalinyamat, untuk menanyakan beberapa hal yang lebih terperinci tentang surat yang Kanjeng Ratu kirimkan kepada saya" kata Patih Wanasalam.

"Ya, silakan Ki Patih" jawab Kanjeng Sultan.

"Besok pagi rencananya, saya akan berangkat ke bukit Danaraja bersama Ki Tumenggung Gajah Birawa, bagaimana sebaiknya Ki Tumenggung ?" tanya Ki Patih kepada Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Patih, tetapi besok pagi kita sebaiknya berangkat berempat, kita akan mengajak pandega prajurit Wira Manggala, Ki Tumenggung Gagak Anabrang dan pandega prajurit Wirabraja, Ki Tumenggung Surapati untuk menjadi saksi tentang kebenaran surat dari Kanjeng Ratu Kalinyamat ini" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya, baik Ki Tumenggung, saya setuju, kita memang perlu mendengar langsung dari Kanjeng Ratu Kalinyamat, jadi besok pagi kami akan pergi berempat ke bukit Danaraja, Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam.

"Silakan Ki Patih" kata Kanjeng Sultan.

"Jadi yang berangkat adalah saya sendiri, Ki Tumenggung Gajah Birawa, K Tumenggung Gagak Anabrang, dan Ki Tumenggung Surapati, dan kami akan berangkat pagi hari, Kanjeng Sultan, mudah-mudahan sore harinya kami sudah bisa pulang kembali ke Demak" kata Patih Wanasalam.

"Silakan Ki Patih, saya akan menunggu di Kraton Kilen" jawab Sultan Hadiwijaya.

Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang abdi kepatihan menghidangkan beberapa minuman yang diletakkan diatas sebuah meja kecil.


"Wedang jahenya diminum dulu Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam.

"Terima kasih Ki Patih" kata Kanjeng Sultan sambil meminum wedang jahe yang disuguhkan oleh Ki Patih.

Beberapa saat kemudian, setelah merasa pembicaraannya dengan Patih Wanasalam dianggap sudah cukup, maka Sultan Hadiwijaya berpamitan, akan menemui ibu suri di Kraton Demak.

"Saya mohon diri Ki Patih, saya dan rombongan akan menginap di Kraton Kilen" kata Sultan Hadiwijaya.

"Silakan Kanjeng Sultan" jawab Patih Wanasalam.

Sultan Hadiwijaya keluar dari ruang dalam diantar oleh Patih Wanasalam beserta Tumenggung Gajah Birawa, dan sesampainya di pendapa, maka semua pengikutnya telah berdiri, mengikutinya turun menuju tempat penambatan kudanya.

Beberapa saat kemudian rombongan Sultan Hadiwijaya keluar dari regol dalem kepatihan, menuju ke Kraton Kilen, setelah terlebih dulu menjumpai ibu suri.

Malam itu, beberapa saat setelah rombongan Sultan Pajang keluar dari regol dalem kepatihan, seekor kuda berwarna coklat yang gagah ditunggangi oleh seorang Tumenggung yang berbadan tinggi besar, Tumenggung Gajah Birawa, juga keluar dari dalem kepatihan menuju dalem katumenggungan, dalem Surapaten.

Tumenggung Surapati, pandega prajurit Wirabraja merasa heran, hari sudah malam, tetapi Tumenggung Gajah Birawa telah datang mencarinya ke dalem Surapaten.

"Pasti ada berita yang penting" kata Tumenggung Surapati di dalam hatinya.

Setelah mempersilahkan tamunya duduk di ruang dalam, maka Tumenggung Surapati mendengarkan Tumenggung Gajah Birawa yang bercerita tentang peristiwa yang baru saja terjadi di dalem Kepatihan.

"Besok pagi kita berempat berangkat ke pesanggrahan Danaraja" kata Tumenggung Gajah Birawa kepada Tumenggung Surapati setelah mereka bertemu di dalem Surapaten.

"Baiklah, bagaimana dengan Ki Tumenggung Gagak Anabrang ?" tanya Tumenggung Surapati.

"Ya, setelah dari sini, nanti aku akan menemui Ki Tumenggung Gagak Anabrang, mudah-mudahan kita bisa pergi berempat, karena kita semua perlu mendengar langsung dari Kanjeng Ratu Kalinyamat, sehingga kita bisa mengambil sikap" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung, kita berempat besok akan menjadi saksi apa yang diucapkan oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat" kata Tumenggung Surapati.

"Kalau memang perintah dari Kanjeng Ratu Kalinyamat besok adalah sama seperti isi surat yang dibawa oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya, maka akibatnya akan besar sekali Ki Tumenggung, kejayaan Kasultanan Demak akan berakhir karena Demak tidak mempunyai seorang Sultan, dan pusat kekuasaan akan berpindah ke Kasultanan Pajang" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung, dan nantinya beberapa kesatuan prajurit di Demak akan dibubarkan, sebagian besar prajurit Demak akan pindah ke Pajang, menjadi prajurit Pajang, dan tidak lama lagi Demak hanya akan menjadi sebuah Kadipaten yang kecil, Kadipaten Demak" kata Tumenggung Surapati.

"Tepat seperti perhitunganku, setelah meninggalnya Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri, Kasultanan Demak akan menjadi semakin suram, saat ini memang sudah waktunya saya harus mengundurkan diri dari tugas keprajuritan, dan saya akan menikmati hari tua menjadi seorang petani di desa" kata Tumenggung Gajah Birawa sambil tersenyum.

Mendengar perkataan tamunya, Tumenggung Surapatipun juga ikut tersenyum.

Malampun semakin dalam ketika seekor kuda yang di tunggangi oleh Tumenggung Gajah Birawa keluar dari regol dalem Surapaten, menuju ke arah timur, penunggangnya akan menemui pimpinan prajurit Wira Manggala, Tumenggung Gagak Anabrang.

Ribuan bintang-bintang masih tetap berkelip tanpa mengenal lelah, udara dinginpun bertiup perlahan mengusap dedaunan, bulanpun yang masih bulat menggantung dilangit menerangi alam raya, sedangkan di Kraton Kilen, Sultan Hadiwijaya telah tertidur nyenyak.

Suara cengkerik terus terdengar tanpa henti, kadang-kadang diselingi pekikan burung malam yang berteriak marah karena mangsa yang telah dikejarnya berhasil melarikan diri.

Pagipun telah menjelang, di arah timur, mataharipun telah bersiap akan muncul di cakrawala, semburat warna merah telah membayang menghiasi langit bang wetan.

Hari itu, Sultan Hadiwijaya telah merencanakan akan pergi ke Kadilangu, menemui gurunya, Sunan Kalijaga.

"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Sultan Hadiwijaya ketika berada di Kraton Kilen bersama nayaka praja Kasultanan Pajang.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Nanti kakang berdua ikut aku ke Kadilangu, kita pergi ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga, sedangkan yang lainnya tetap menunggu di Kraton Kilen ini" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, tiga ekor kuda keluar dari Kraton berlari menuju pesantren Kadilangu.

"Kita nanti pulang ke kraton setelah kita melakukan kewajiban sholat ashar" kata Sultan Hadiwijaya.

Tiga ekor kuda masih terus berlari, beberapa saat kemudian, sampailah mereka bertiga ditepi sungai Tuntang.

"Kita menyeberang disini" kata Sultan Hadiwijaya.

Sementara itu, ketika tiga orang dari Pajang menyeberang ke timur menuju pesantren Kadilangu, empat ekor kuda sedang berlari meninggalkan kotaraja Demak menuju pesanggrahan Danaraja.


Patih Wanasalam berkuda paling depan, disusul kuda yang ditunggangi Tumenggung Gajah Birawa, kemudian dibelakangnya Tumenggung Surapati dan yang berkuda paling belakang adalah Tumenggung Gagak Anabrang.

Di pelana kuda yang ditungangi Patih Wanasalam terdapat surat dari Ratu Kalinyamat yang tersimpan rapat di dalam bungkusan yang terikat erat, sedangkan di pelana kuda yang ditunggangi oleh Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang tergantung masing-masing sebuah bungkusan yang berisi beberapa bumbung dipotong pendek yang berisi air minum.

Ke empat ekor kuda itu berlari ke arah timur laut, meninggalkan debu yang berhamburan, menyeberangi beberapa sungai kecil, serta beristirahat beberapa kali, dan tidak lupa pula mereka telah memberi kesempatan kuda-kuda untuk beristirahat.

"Sebentar lagi kita sampai di bukit Danaraja" kata Patih Wanasalam.

Hari semakin siang, dan ketika matahari hampir berada tepat diatas kepala, mereka berempat telah sampai di pesanggrahan Danaraja.

Keempat ekor kuda berlari memasuki regol pesanggrahan Danaraja, lalu berhenti dibawah pohon yang terletak disudut halaman.

Beberapa pengawal berlari menyambut tamu dari Demak, mereka meminta tali kendali kudanya, lalu mengikatkan pada tonggak yang berada di bawah pohon.

"Selamat datang di pesanggrahan Danaraja, Ki Patih Wanasalam dan para Tumenggung" kata pemimpin pengawal, Ki Wasesa.

"Terima kasih Ki Wasesa" kata Patih Wanasalam.

"Silakan masuk ke pesanggrahan Ki Patih, nanti kuda-kudanya akan diurus oleh para pengawal" kata Wasesa.

"Terima kasih Ki Wasesa" kata Ki Patih, lalu bersama dengan para Tumenggung, mereka berlima naik ke pendapa.

"Silahkan masuk ke ruang dalam Ki Patih" kata Wasesa.

Mereka berlima berjalan menuju ke ruang dalam, kemudian mereka berlima masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan.

"Ki Wasesa" kata Patih Wanasalam.

"Ya Ki Patih" kata Wasesa, pemimpin pengawal di pesanggrahan Danaraja.

"Aku kesini bersama tiga orang Tumenggung, ingin bertemu dengan Kanjeng Ratu Kalinyamat" kata Patih Wanasalam.

"Ya Ki Patih" kata Wasesa.

"Coba kau menghadap Kanjeng Ratu Kalinyamat, sampaikan bahwa Patih Wanasalam, Ki Tumenggung Gajah Birawa, Ki Tumenggung Surapati dan Ki Tumenggung Gagak Anabrang akan menghadap Kanjeng Ratu Kalinyamat" kata Patih Wanasalam.

"Baik Ki Patih, saya akan sampaikan sekarang" kata Wasesa,

Sesaat kemudian Wasesa keluar dari ruang dalam, lalu berjalan menuju ke tempat bertapa Kanjeng Ratu Kalinyamat

Setelah naik di pendapa, Wasesa berjalan kepintu ruang dalam, lalu iapun berbicara dengan kedua emban yang bertugas disana, dan salah seorang emban kemudian terlihat masuk ke ruang dalam.

Tak lama emban itupun keluar lagi, lalu iapun berkata kepada Wasesa :"Silahkan Ki Wasesa, para tamu supaya dipersilahkan masuk"

"Ya" kata Wasesa, lalu iapun berjalan menuju tempat Patih Wanasalam dan ketiga orang Tumenggung yang masih menunggunya.

Tak lama kemudian, pemimpin pengawal itupun telah kembali ke dalam ruangan menemui rombongan Ki Patih Wanasalam.

"Silakan, Ki Patih dan Ki Tumenggung sudah ditunggu Kanjeng Ratu Kalinyamat di depan krobongan" kata Wasesa.

"Mari Ki Tumenggung, kita semua ke sana, ke tempat Kanjeng Ratu" kata Patih Wanasalam.

Patih Wanasalampun lalu berdiri diikuti oleh ketiga orang Tumenggung, lalu bersama Wasesa mereka berlima berjalan menuju tempat Kanjeng Ratu Kalinyamat yang sedang bertapa.

Setelah naik di pendapa, maka Wasesapun berkata :"Silakan masuk ke ruang dalam Ki Patih, saya menunggu di pendapa"

"Baik Ki Wasesa" kata Ki Patih, dilihatnya dua orang emban sedang berdiri di samping pintu ruang dalam.

Patih Wanasalam dan ketiga orang Tumenggung segera masuk ke ruang dalam, lalu merekapun duduk di empat buah kursi yang telah disediakan.

Patih Wanasalam mengedarkan pandangannya, dilihatnya sebuah kerobong didepannya, lalu dua orang gadis yang belum dewasa duduk bersimpuh di sudut ruangan.

Sesaat kemudian, terlihat wajah Kanjeng Ratu Kalinyamat, hanya wajahnya, karena didepannya terbentang kain panjang yang berada didalam kerobong.

"Ki Patih Wanasalam, aku sudah menduga kalau hari ini Ki Patih pasti akan mengunjungi pesanggrahan Danaraja" kata Kanjeng Ratu Kalinyamat.

"Ya, Kanjeng Ratu" kata Patih Wanasalam.

"Meskipun aku bisa menebak keperluan Ki Patih bersama ketiga Tumenggung, tetapi sebaiknya Ki Patih menyampaikan apa maksud Ki Patih datang ke pesanggrahan Danaraja ini" kata Kanjeng Ratu Kalinyamat.

"Baik Kanjeng Ratu, saya datang kesini untuk meminta penjelasan mengenai surat dari Kanjeng Ratu kepada saya, yang telah disampaikan oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya, dan saat ini saya mengajak ketiga orang Tumenggung ini sebagai saksi, supaya ketiga orang Tumenggung ini mendengar apa yang akan Kanjeng Ratu perintahkan kepada saya" kata Patih Wanasalam.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita