Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 70 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 70 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Ya Bapa Sunan" kata Arya Penangsang, betapa hatinya kecewa, kemauannya untuk menyerang Pajang tidak disetujui oleh Sunan Kudus, tetapi iapun mengerti alasan gurunya yang mampu mengukur dan membandingkan kekuatan dirinya maupun kekuatan yang dimiliki oleh Sultan Hadiwijaya.

"Nanti kalau Hadiwijaya telah datang ke Panti Kudus, akan aku minta supaya keris Kyai Setan Kober dikembalikan kepadaku" kata Sunan Kudus.

"Ya Bapa Sunan" kata Arya Penangsang lesu.

"Kau menginaplah disini dua tiga hari Penangsang" kata Sunan Kudus.

Arya Penangsang mengangguk mengiyakan, dan malam itu Adipati Jipang Arya Penangsang bersama pandega prajurit Jipang, Anderpati, telah menginap di Panti Kudus.

Keesokan harinya, dua orang santri telah bersiap akan menempuh sebuah perjalanan jauh menuju kotaraja Pajang.

Sunan Kudus menemui mereka di pendapa, kemudian Sunan Kuduspun memberikan sebuah surat yang disimpan di dalam sebuah bambu kecil, kemudian Kanjeng Sunanpun berkata :"Kau bawa bambu kecil ini yang didalamnya berisi surat, kalian haturkan surat ini kepada Sultan Hadiwijaya di Pajang, kalian jelaskan kalau surat itu dari Sunan Kudus".

"Baik Kanjeng Sunan" kata dua orang santri itu sambil menerima sebuah bambu kecil berisi sebuah surat.

"Nah berangkatlah, mumpung hari masih pagi" kata Sunan Kudus.

Setelah mohon pamit, maka dua orang santri itu berangkat menuju Pajang.

Dua ekor kuda yang dipunggungya terdapat dua orang santri dari pesantren Kudus, berlari menyusuri sungai Serang ke arah selatan menuju Pajang, sementara itu di Pajang, Sultan Hadiwijaya sedang berusaha memperbesar jumlah prajuritnya.

Dilakukannya pendadaran bagi para prajurit baru, dan dibentuknya beberapa kesatuan prajurit baru, dan belasan prajurit yang mempunyai beberapa kelebihan olah kanuragan, telah diangkat menjadi Lurah prajurit Pajang.

Ratusan prajurit Pajang setiap pagi berlatih ketrampilan dan kemampuan tempur, mereka dilatih secara bergantian oleh beberapa orang nayaka praja Pajang.

Siang itu, seorang prajurit bergegas menemui beberapa orang Lurah prajurit yang sedang berada di pendapa.

"Ki Lurah Prayoga dan Ki Lurah Prayuda, di halaman ada dua orang tamu utusan dari Kanjeng Sunan Kudus" kata prajurit itu.

"Bawa mereka naik ke pendapa, aku akan menghadap Kanjeng Sultan diruang dalam" kata Lurah Prayoga.

"Baik Ki Lurah" kata prajurit itu, setelah itu iapun turun ke halaman menemui dua orang tamu dari Kudus.

Lurah Prayoga berjalan menuju ruang dalam, didalam dilihatnya beberapa orang sedang duduk dihadapan Kanjeng Sultan, para nayaka praja Pajang dan disebelahnya duduk pula seorang tamu, uwa dari Sultan Hadiwijaya, Ki Kebo Kanigara.

Setelah menyembah, Lurah Prayoga berdiam diri, hingga Sultan Hadiwijaya berbicara kepadanya.

"Ada apa Ki Lurah Prayoga ?" tanya Sultan Hadiwijya.

"Ada dua orang tamu utusan Kanjeng Sunan Kudus ingin nenghadap, Kanjeng Sultan" kata Lurah Prayoga.

"Ya, suruh mereka masuk" kata Sultan Hadiwijaya.

Lurah Prayoga segera keluar dari ruangan, dan sesaat kemudian Ki Lurah masuk ke ruang dalam bersama dua orang santri dari pesantren Kudus. 

Setelah ketiganya menyembah, maka Sultan Hadiwijaya bertanya :"Kalian santri dari Panti Kudus ? Ada perlu apakah kalian menghadapku".

"Betul Kanjeng Sultan, kami berdua santri dari pesantren Kudus, diutus oleh Kanjeng Sunan Kudus untuk menyampaikan surat ini" kata salah seorang santri itu, lalu ia mengeluarkan sebuah bambu kecil yang didalamnya berisi surat dari Sunan Kudus.

Setelah surat diberikan kepada Sultan Hadiwijaya, dan Kanjeng Sultanpun telah membacanya, maka Kanjeng Sultanpun berkata :"Sampaikan kepada Kanjeng Sunan Kudus, aku akan datang ke Panti Kudus pada waktu pagi hari setelah purnama penuh"

"Terima kasih Kanjeng Sultan, hamba mohon diri" kata utusan itu, kemudian setelah menyembah, iapun segera keluar dari ruangan dalam bersama Lurah Prayoga.

Setelah kedua orang utusan itu keluar ruangan, maka Sultan Hadiwijaya berkata :"Surat itu adalah surat dari Kanjeng Sunan Kudus yang berisi undangan untuk menghadiri musyawarah ilmu".

"Maaf Kanjeng Sultan" kata Kebo Kanigara :"Kelihatannya surat undangan itu agak janggal"

"Ya wa, undangan dari Sunan Kudus memang agak aneh, undangan musyawarah ilmu adalah undangan dari para Walisanga, biasanya dari Kanjeng Sunan Giri, tetapi tidak apa-apa, aku tetap datang memenuhi undangan ke Panti Kudus, dan perhitunganku nanti, disana aku akan bertemu dengan murid Kanjeng Sunan Kudus, kakangmas Penangsang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Mohon supaya berhati-hati Kanjeng Sultan, di Panti Kudus, kita tidak tahu apa yang dipersiapkan oleh Adipati Jipang untuk menyambut kita, Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Ya kakang, mungkin ada hubungannya dengan keris Kyai Setan Kober yang sampai sekarang masih aku simpan" kata Kanjeng Sultan.

"Apakah Kanjeng Sultan masih memerlukan keris Kyai Setan Kober ?" tanya Kebo Kanigara.

"Tidak wa, aku sudah mempunyai keris Kyai Carubuk pemberian Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Sultan Hadiwijaya.

"Kalau begitu Kanjeng Sultan, sebaiknya kembalikan saja keris Kyai Setan Kober ke Penangsang" kata Kebo Kanigara.


"Ya wa, nanti di Kudus, aku akan mengembalikan keris Kyai Setan Kober kepada kakangmas Penangsang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Jangan lupa Kanjeng Sultan, setelah menyerahkan keris Kyai Setan Kober kepada Penangsang, Kanjeng Sultan harus segera mencabut keris Kyai Carubuk, karena sangat berbahaya apabila Kanjeng Sultan berdiri tanpa senjata dihadapan Penangsang yang membawa keris Kyai Setan Kober" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Sultan Hadiwijaya :"Nanti sepulang dari Panti Kudus, kita akan singgah di pesanggrahan Danaraja, karena Kanjeng Ratu Kalinyamat dulu pernah mengirim surat padaku, Kanjeng Ratu menghendaki aku berkunjung kesana".

"Nanti kalau sudah dekat akan kita tentukan siapa yang akan ikut ke Kudus dan ke Danaraja" kata Sultan Hadiwijaya selanjutnya.

Setelah itu, perbincangan di ruang dalam masih dilanjutkan dengan membicarakan beberapa persoalan di Kasultanan Pajang.

Waktupun terus berjalan terus, siang berganti malam, malampun telah berganti menjadi pagi, beberapa hari telah berlalu, persiapan untuk melakukan perjalanan menuju ke Kudus telah dipersiapkan oleh Kadipaten Jipang maupun oleh Kasultanan Pajang.

Purnama masih dua hari lagi, di Jipang, lima puluh orang prajurit Jipang yang terbaik telah siap diberangkatkan menuju Kudus besok pagi.

"Nderpati !" panggil Patih Matahun, sewaktu melihat Anderpati berada di halaman pendapa.

"Ya Ki Patih" kata Anderpati, lalu iapun mendekat ke tempat Patih Matahun.

"Berapa orang prajurit Jipang yang akan ikut ke Kudus ?" tanya Patih Matahun.

"Lima puluh orang prajurit pilihan Ki Patih, dua puluh sembilan orang yang berasal dari gunung Lawu, ditambah dua puluh satu prajurit yang mempunyai kelebihan dalam olah kanuragan" jawan Anderpati.

"Bagus Nderpati, kita semua akan berangkat, dan kita siap bertarung melawan pengikut Sultan Hadiwijaya" kata Patih Matahun.

"Ya Ki Patih, kita semua telah siap" jawan Anderpati.

"Nanti yang ditinggal di Jipang hanya adik Kanjeng Adipati, Arya Mataram" kata Ki Patih.

"Ya Ki Patih" jawab Anderpati.

"Nanti kita bermalam di hutan sebelah selatan Tanggul Angin, ditepi sungai Serang" kata Patih Matahun.

"Baik Ki Patih, ditempat yang dulu, kita pernah bermalam disana sewaktu mencegat rombongan Pangeran Hadiri." jawab Anderpati.

"Besok para prajurit yang berangkat berjalan kaki akan dipimpin oleh Sorengyuda, sedangkan Sorengrana dan Sorengpati akan berangkat naik kuda bersama kita" kata Patih tua yang setia itu.

"Ya Ki Patih" jawab Anderpati.

"Hm lima puluh orang prajurit Jipang yang akan berangkat kali ini adalah pasukan pilihan, jauh lebih kuat dari pasukan yang telah berhasil membunuh Pangeran Hadiri" kata Ki Matahun dalam hati.

Sementara itu, bukan hanya di Jipang saja yang melakukan pesiapan para prajurit, di Pajang, Lurah Prayoga telah menghadap Ki Pemanahan yang sedang duduk di pendapa bersama Wenang Wulan, untuk melaporkan perkembangan persiapan keberangkatan.

"Ki Pemanahan, para prajurt telah mengadakan persiapan terakhir, besok mereka siap untuk diberangkatkan" kata Lurah Prayoga.

"Bagus, berapa orang yang kau persiapkan untuk berangkat, Ki Lurah ?" tanya Pemanahan.

"Seratus orang prajurit Ki" kata Lurah Prayoga.

"Baik, nanti para prajurit dibagi menjadi dua bagian, sekelompok kau yang memimpin Ki Lurah, sedangkan yang sekelompok lagi akan dipimpIn oleh Ki Lurah Prayuda, dan yang akan memimpin kalian semua adalah Ngabehi Wilamarta" kata Pemanahan.

"Baik Ki Pemanahan" kata Lurah Prayoga.

"Jangan lupa, semua prajurit Pajang, nanti akan menginap di hutan yang letaknya tidak jauh dari desa Pajimatan, disebelah barat sungai Serang" kata Pemanahan.

"Baik Ki, saya mohon pamit kembali ke tempat para prajurit" kata Lurah Prayoga, kemudian iapun berjalan menuruni pendapa.

Setelah Lurah Prayoga tidak terlihat lagi, Wenang Wulan yang berada disebelah Pemanahan berkata :"Kita membawa seratus orang prajurit, banyak sekali Ki"

"Ya, kita hanya berjaga-jaga saja kalau kita diserang oleh prajurit Jipang yang dibantu oleh para santri Kudus" kata Pemanahan.

"Santri Kudus ? Apakah mereka bisa bertempur ?" tanya Wenang Wulan.

"Tidak, mereka tidak biasa bertempur, kita hanya berjaga-jaga saja" kata Pemanahan.

"Kita semua berangkat ke Kudus ?" tanya Wenang Wulan.

"Ya, kecuali Ki Patih yang ditinggal sendiri di Pajang" jawab Pemanahan.

Siang telah berganti menjadi malam, dan gelappun telah menyelimuti bumi Pajang yang akan segera memberangkatkan seratus orang prajuritnya ke hutan di dekat desa Pajimatan, yang terletak tidak jauh dari sungai Serang.

Ketika fajar telah menyingsing, tujuh ekor kuda telah berlari menuju ke utara, kuda yang berlari paling depan ditunggangi oleh Sultan Hadiwijaya yang dipinggang depannya telah terselip keris pusaka Kyai Carubuk pemberian gurunya, Sunan Kalijaga.

Dipelana kudanya, terikat sebuah bungkusan yang berisi keris Kyai Setan Kober, yang nanti akan dikembalikan kepada pemiliknya, Arya Penangsang.

Dibelakangnya, duduk di punggung kudanya, Ki Pemanahan, lalu berturut-turut Penjawi, Ngabehi Wuragil, Juru Martani, Wenang Wulan dan anak angkat Kanjeng Sultan, Sutawijaya.

Mas Ngabehi Loring Pasar yang trampil mengendarai kuda berpacu dengan cepat, dan di pinggang depan Sutawijaya telah terselip sebuah keris pusaka dari Sela, Kyai Sapuhasta.

Anak angkat Sultan Hadiwijaya itu menjadi sangat gembira, ia mengharapkan bisa menyaksikan benturan ilmu jaya kawijayan antara ayahandanya Sultan Hadiwijaya melawan Adipati Jipang yang berilmu tinggi, Arya Penangsang.

"Kata orang-orang ayahanda Sultan maupun Adipati Jipang adalah dua orang yang mumpuni dan berilmu tinggi, apabila nanti kalau kedua orang itu berperang tanding, bisakah ayahanda Sultan mengalahkan Adipati Jipang ?" tanya Sutawijaya kepada diri sendiri.


Tujuh ekor kuda itu masih terus berpacu ke arah utara menembus hutan Sima, sedangkan jauh dibelakang mereka, seratus orang prajurit Pajang bergerak menuju ke arah yang sama, berjalan kaki menuju Kudus..

Lima puluh orang prajurit Pajang itu dipimpin oleh Lurah Prayoga, sedangkan lima puluh orang prajurit lainnya dipimpin oleh Lurah Prayuda, dan sebagai pandega semua prajurit Pajang adalah seorang nayaka praja Kasultanan Pajang, penatus Ngabehi Wilamarta.

"Perjalanan dengan berjalan kaki dari Pajang ke daerah Kudus akan memakan waktu hampir dua hari" kata Ngabehi Wilamarta.

"Ya, apakah besok kita jadi menginap di desa Pajimatan ?" tanya Lurah Prayoga.

"Bukan di desa Pajimatan, tetapi di hutan sebelah timur, tidak jauh dari desa Pajimatan" kata Ngabehi Wilamarta.

"Ya, mudah-mudahan besok pada malam purnama kita sudah sampai di hutan Pajimatan" kata Lurah Prayuda.

Merekapun berjalan terus, setiap prajurit membawa bungkusan berisi bekal pakaian dan makanan, sedangkan di setiap pinggang prajurit tergantung sebuah pedang pendek.

Sementara itu, peristiwa yang serupa juga telah terjadi di Kadipaten Jipang, pada saat yang bersamaan, lima ekor kuda rombongan Adipati Jipang sedang berpacu menuju Kudus.

Paling depan sendiri, seekor kuda hitam yang gagah, Gagak Rimang berlari ke arah utara dengan Adipati Arya Penangsang berada di atas punggungnya.

Dibelakangnya, Patih Jipang yang setia, Patih Matahun yang ketangkasannya masih mengagumkan, memacu kudanya dengan cepat diikuti oleh tiga ekor kuda yang dikendarai oleh Anderpati, Sorengpati dan Sorengrana.

Agak jauh di belakang mereka, berjalan limapuluh orang prajurit pilihan Kadipaten Jipang yang dipimpin oleh Sorengyuda.

Ketika sang bagaskara telah memanjat semakin tinggi dan beberapa saat kemudian matahari tepat berada di puncak langit, Gagak Rimang telah memasuki hutan yang tidak begitu lebat, jauh di sebelah utara Jipang.

Dihutan itu, didekat mata air yang airnya mengalir bening, rombongan Arya Penangsang beristirahat, mereka makan bekal yang telah mereka bawa, serta memberi kesempatan kuda-kuda mereka untuk beristirahat.

"Sampai matahari terbenampun kita masih belum bisa sampai di Panti Kudus" kata Sorengpati.

"Ya, bisa juga kita sampai disana ketika waktu sudah hampir tengah malam" kata Sorengrana.

Ternyata tepat seperti perkiraan Sorengpati, ketika senja membayang, mereka masih berada cukup jauh dari Panti Kudus, dan ketika gelap telah menyelimuti bumi Kudus, maka Anderpatipun telah mulai menyalakan lima buah obor minyak.

Meskipun perjalanan mereka menjadi agak lambat, tetapi jarak ke Kudus semakin lama menjadi semakin dekat, dan ketika rombongan berkuda Arya Penangsang masih tetap melanjutkan perjalanannya, maka di belakang mereka, rombongan prajurit Jipang yang dipimpin oleh Sorengyuda telah beristirahat di sebuah bulak yang luas disebelah tenggara hutan Prawata.

"Kita beristirahat dan bermalam di lapangan ini, besok sore kita berharap sudah sampai di daerah sebelah selatan Tanggul Angin" kata Sorengyuda

Ketika lima puluh orang prajurit Jipang sedang beristirahat di sebelah tenggara hutan Prawata, maka disebelah utara hutan Sima, seratus orang prajurit Pajang, juga sedang beristirahat.

Saat itu, seratus orang prajurit Pajang yang dipimpin oleh penatus Ngabehi Wilamarta, telah beristirahat dan bermalam di tepi sebuah sungai.

Lurah Prayoga dan Lurah Prayuda, kemudian mengatur tempat untuk para prajurit Pajang yang akan beristirahat.

"Kalian para prajurit, tidurlah, beristirahatlah, besok pagi kita akan melanjutkan perjalanan yang masih jauh" kata Lurah Prayoga.

Sementara itu, jauh didepan mereka, Sultan Hadiwijaya juga telah beristirahat didalam sebuah tenda kecil yang telah dibuat oleh nayaka praja Pajang, Wenang Wulan.

Didepan tenda Kanjeng Sultan, beberapa nayaka praja Pajang sedang duduk disinari cahaya bulan yang hampir purnama.

"Setelah makan malam, perutku menjadi kenyang" kata Wenang Wulan.

"Ah kau" kata Ki Wuragil :"Makanlah seadanya dan secukupnya, jangan sampai perutmu kekenyangan"

Mendengar kata-kata Ki Wuragil, Wenang Wulanpun tersenyum sambil mengelus-elus perutnya yang kekenyangan.

Malam yang sepi di perkemahan Sultan Hadiwijaya, yang terdengar hanya suara cengkerik, diselingi oleh suara kepak sayap kelelawar yang sedang mencari makan dipepohonan disekitar perkemahan.

Malam yang sunyi di perkemahan Sultan Hadiwijaya telah sampai pada batas akhir, dan di ufuk timur langit telah merona warna merah, dihiasi oleh suara kicau burung di ranting pohon diselingi suara kokok ayam hutan.

Semua penghuni perkemahan telah bangun, membersihkan diri, dan merekapun bersiap untuk meneruskan perjalanan ke Kudus.

Tenda telah dibongkar, kain panjangpun telah dilipat dan dimasukkan ke dalam beberapa bungkusan, lalu bungkusan itupun telah di ikat di pelana kuda.

Ketika langit menjadi semakin terang, rombongan Sultan Hadiwijayapun segera meneruskan perjalanan mereka, tujuh ekor kuda berlari menuju ke Kudus.

Ketika hari semakin siang, dan matahari telah sampai di atas kepala, maka rombongan Kanjeng Sultan hampir sampai di desa Pajimatan.

"Itu desa Pajimatan" kata Sultan Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Sultan, kita nanti berkemah di hutan tipis yang berada di sebelah timurnya" kata Pemanahan.

Rombonganpun maju terus ke arah timur, dan sesampainya di hutan yang tidak begitu lebat, mereka berlima menghentikan kudanya.

"Kita mendirikan kemah disini Kanjeng Sultan, disini ada sungai kecil yang mengalir ke sungai Serang" kata Pemanahan.

"Ya, kita semua akan bermalam disini, kita akn menunggu prajurit yang berjalan kaki, mungkin akan tiba disini sore hari nanti" kata Sultan Hadiwijaya, setelah itu Kanjeng Sultanpun turun dari kudanya.


Pemanahan juga telah turun dari punggung kudanya, diikuti oleh Penjawi, Juru Martani, Ngabehi Wuragil, Wenang Wulan, dan Sutawijaya.

"Wenang Wulan, kau bangun tenda Kanjeng Sultan disini, setelah itu kau lihat apakah rakit yang berada di sungai Serang masih ada disana" kata Ki Pemanahan.

"Baik Ki" kata Wenang Wulan, setelah itu dengan pedang pendeknya, iapun mencari beberapa batang bambu, lalu batang-batang bambu itu diikat dan ditutup dengan kain panjang, sehingga membentuk sebuah gubug kecil.

Beberapa saat kemudian Pemanahanpun telah menerima laporan tentang rakit yang berada di tepi sungai Serang.

"Rakit untuk menyeberang besok pagi masih tertambat ditepi sungai ki" kata Wenang Wulan.

"Baik, berarti kita tidak perlu membuat rakit yang baru" kata Pemanahan.

Ketika lembayung senja telah membayang di langit bang kulon, pasukan Pajang yang berjalan kaki telah tiba di hutan Pajimatan, dan merekapun segera berkumpul dan beristirahat tidak jauh dari kemah Kanjeng Sultan.

Malam itu bulan terlihat indah, bulat sepenuhnya, bulan purnama telah menyinari tempat berkumpulnya seratus orang prajurit Pajang disebelah barat sungai Serang maupun lima puluh orang prajurit Jipang disebelah timur sungai Serang.

Sinar bulan purnama juga menyinari pula daerah disekitar Panti Kudus, tempat kediaman Sunan Kudus, salah seorang Walisanga, yang dulu pernah menjadi seorang Senapati Perang Kasultanan Demak Bintara.

Malam itu, di pendapa telah diatur dua buah kursi yang akan dipergunakan untuk duduk Adipati Jipang dan Sultan Hadiwijaya.

"Penangsang, kau nanti duduk di kursi yang berada di sebelah barat, sedangkan Sultan Hadiwijaya kau persilahkan duduk di kursi yang berada di sebelah timur, kau temui dulu Sultan Hadiwijaya, setelah Kanjeng Sultan duduk di kursi ini, kau bisa membunuhnya, mudah sekali, beberapa saat setelah kau mampu membunuh Kanjeng Sultan, aku akan keluar dari ruang dalam" kata Sunan Kudus.

"Baik Bapa Sunan" jawab Arya Penangsang yang sedang berdiri di sebelah Patih Matahun.

"Apapun yang terjadi, kau jangan duduk di kursi yang sebelah timur ini, mengertikah kau Penangsang ?" kata Sunan Kudus.

"Mengapa saya tidak boleh duduk di kursi itu Bapa Sunan ?" tanya Penangsang.

"Kau tidak usah bertanya dulu Penangsang, besok pagi, apakah kau sanggup tidak duduk di kursi ini ?" tanya gurunya.

"Sanggup Bapa Sunan, apapun yang akan terjadi, saya tidak akan duduk di kursi sebelah timur" kata Arya Penangsang.

"Bagus Penangsang, ingat-ingatlah pesan gurumu ini, Matahun, kau harus memberi isyarat apabila junjunganmu lupa" kata Sunan Kudus.

"Sendika Kanjeng Sunan" kata Matahun.

Malam purnama kali ini, Arya Penangsang sulit memejamkan matanya, terbayang saat ini Sultan Hadiwijaya pasti bermalam tidak jauh dari Panti Kudus.

"Besok pagi adimas Hadiwijaya akan aku bunuh setelah ia duduk di kursi sebelah timur, tadi Bapa Sunan berkata, membunuh adimas Hadiwijaya mudah sekali" kata Arya Penangsang dalam hati, dan ia percaya sepenuhnya, ia akan dibantu oleh gurunya, Kanjeng Sunan Kudus.

Malam bulan purnama telah menerangi kedua kelompok pasukan yang hanya dipisahkan oleh sungai Serang, dan ketika sang surya telah muncul di langit bang wetan, maka seluruh prajurit Pajang dan Jipangpun telah terbangun.

Di sebelah barat sungai Serang, Ngabehi Wilamarta beserta Lurah Prayoga dan Lurah Prayuda telah sibuk mengatur para prajurit yang sedang membersihkan dirinya.

"Besok aku tetap berada disini bersama kalian, aku tidak ikut ke Panti Kudus" kata Ngabehi Wilamarta.

"Kapan Kanjeng Sultan akan berangkat ke Panti Kudus ?" tanya Lurah Prayoga.

"Nanti kalau matahari sudah naik dilangit sebelah timur" kata Ngabehi Wilamarta.

Ketika matahari pagi telah naik dilangit sebelah timur, Sultan Hadiwijaya dengan mengenakan pakaian ksatrian, telah berdiri disamping kudanya bersama enam orang pengikutnya.

Saat itu, Sultan Hadiwijaya menyelipkan dua buah keris dipinggangnya, yang dibelakang terselip keris Kyai Setan Kober yang nanti akan dikembalikan kepada Penangsang, sedangkan yang didepan terselip keris Kyai Carubuk.

Kanjeng Sultan mengedarkan pandangannya berkeliling, dilihatnya Pemanahan sedang berbicara dengan Lurah Prayoga dan Lurah Prayuda.

"Kalian tunggu disini bersama Ngabehi Wilamarta, kalau kalian mendengar suara panah sendaren, kalian harus berenang secepatnya menuju ke Panti Kudus" kata Pemanahan kepada Ki Lurah Prayoga dan Ki Lurah Prayuda.

"Baik ki" kata kedua Lurah itu, lalu keduanya melihat Ngabehi Wuragil dan Wenang Wulan telah membawa dua buah busur dan beberapa anak panah sendaren.

Beberapa saat kemudian Sultan Hadiwijaya telah naik diatas punggung kudanya lalu dijalankannya menuju ke Panti Kudus.

Dibelakangnya juga telah berjalan enam ekor kuda yang dipunggungnya telah duduk Pemanahan, Penjawi, Juru Martani, Ngabehi Wuragil, Wenang Wulan dan Sutawijaya.

Setelah menyeberangi sungai Serang dengan menggunakan rakit, maka rombongan dari Pajang melanjutkan perjalanannya, melarikan kudanya menuju Panti Kudus.

Tak lama kemudian, sebelum mencapai regol Panti Kudus, maka Sultan Hadiwijaya menghentikan kudanya, diikuti oleh semua pengikutnya.

"Ngabehi Wuragil dan Wenang Wulan, kemarilah" kata Sultan Hadiwijaya.

Kedua orang itupun segera turun dari kudanya, lalu berjalan mendekati Sultan Hadiwijaya.

"Kalian berdua menunggu disini, bersembunyilah di kerimbunan pepohonan itu, kalau keadaan menjadi gawat, salah satu dari kalian cepat memberi kabar ke tempat pasukan Pajang di hutan Pajimatan, lepaskan panah sendaren dari tepi sungai sebelah timur" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata kedua orang itu.

"Sutawijaya, setiap saat kau harus siap mencabut kerismu, Kyai Sapuhasta" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh ayahanda" kata Mas Ngabehi Loring Pasar.

Sultan Hadiwijaya memandang ke arah regol Panti Kudus, Kanjeng Sultan tidak mengetahui ada apa di balik regol, bisa saja disana ada Penangsang, Patih Matahun ataupun orang Jipang lainnya, yang tiba-tiba menyerangnya secara mendadak.

Sultan Hadiwijaya menarik napas panjang, sesaat kemudian, Kanjeng Sultanpun segera mengetrapkan ajinya yang ngedab-edabi, Lembu Sekilan.


Beberapa saat kemudian, ketika aji Lembu Sekilan telah manjing sepenuhnya, maka Sultan Hadiwijaya berkata kepada pengikutnya :"Mari kakang Pemanahan dan yang lainnya, kita masuk ke regol Panti Kudus, Ngabehi Wuragil dan kau Wenang Wulan, sembunyikan kuda-kuda kalian"

Setelah itu Sultan Hadiwijaya bersama Pemanahan, Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya menjalankan kudanya menuju regol Panti Kudus, sedangkan Ngabehi Wuragil beserta Wenang Wulan segera menyembunyikan dan mengikat kudanya di balik sebuah pohon, lalu keduanya bergeser maju kedepan, sehingga tidak terlalu jauh dari regol Panti Kudus.

"Kanjeng Sultan, biar hamba yang berjalan paling depan" kata Pemanahan, lalu kuda Pemanahanpun dipercepat, sehingga berada didepan kuda Kanjeng Sultan.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka didepan regol, Pemanahan segera masuk ke dalam regol diikuti oleh Sultan Hadiwijaya beserta Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya.

Mereka berlima turun dari kudanya, dan terlihat beberapa orang santri berlari menghampiri kuda-kuda para tamu, lalu menuntun kuda-kuda itu ke sudut halaman.

Setelah mengucap salam, Sultan Hadiwijaya beserta ke empat pengikutnya segera naik ke pendapa, dan ternyata di pendapa sudah ada empat orang yang sedang duduk bersila di sudut pendapa.

Ke empat orang itu, Patih Matahun, Anderpati, Sorengpati dan Sorengrana segera menyembah kepada Sultan Hadiwijaya.

Hadiwijayapun menganggukkan kepalanya, lalu iapun memerintahkan kepada pengikutnya untuk duduk di sudut pendapa, berseberangan dengan Patih Matahun.

Pemanahan, Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya segera duduk bersila disudut pendapa, pandangannya menyapu orang-orang Jipang yang berada didepannya.

"Hm Patih Matahun, Patih Jipang yang yang perkasa dan berilmu tinggi" kata Pemanahan dalam hati.

Sesaat kemudian dari ruang dalam keluar Adipati Jipang Arya Penangsang yang berjalan menuju ke tempat Sultan Hadiwijaya sambil tersenyum iapun berkata :"Selamat datang Kanjeng Sultan Pajang, selamat datang di Kudus adimas Hadiwijaya".

Panggrahita Sultan Hadiwijaya yang tajam, telah merasa ada sesuatu yang tidak kasatmata telah melindungi tubuh Arya Penangsang.

:"Hm ternyata Aji Tameng Waja" kata Sultan Pajang.

Ketika Arya Penangsang sudah dekat, maka Sultan Hadiwijaya berkata : "Terima kasih kakangmas Penangsang"

"Sembah saya Adimas Sultan" kata Arya Penangsang.

"Terima kasih kakangmas Adipati" kata Sultan Hadiwijaya, saat itu aji Lembu Sekilanpun masih manjing sepenuhnya di dalam dirinya.

"Kapan adimas Sultan berangkat dari Pajang ?" tanya Adipati Jipang.

"Dua hari yang lalu kakangmas" jawab Kanjeng Sultan.

"Tadi malam adimas bermalam dimana ?" tanya Penangsang.

"Tidak jauh dari Panti Kudus kakangmas Penangsang" jawab Sultan Pajang.

"Ah tidak baik kita berbicara sambil berdiri adimas Sultan, silahkan duduk adimas" kata Arya Penangsang.

"Baiklah kakangmas, terima kasih" jawab Sutan Hadiwijaya.

"Silahkan adimas Hadiwijaya duduk di kursi sebelah timur, saya akan duduk di kursi ini" kata Adipati Jipang.

"Terima kasih kakangmas Penangsang, saya sebagai tamu, sebaiknya saya duduk yang disini saja, silahkan kakangmas duduk di kursi yang satu lagi" jawab Sultan Hadiwijaya.

"Adimas lupa, saya disini juga sebagai tamu, silahkan Adimas Hadiwijaya, sebagai Sultan Pajang yang kekuasaannya sama dengan kekuasaan Kasultanan Demak di seluruh tanah Jawa, duduk di kursi kehormatan disini" kata Penangsang yang teringat pesan dari gurunya Sunan Kudus.

Sultan Hadiwijaya memandang kearah Ki Pemanahan yang duduk bersila disudut pendapa, dan ketika dilihatnya Ki Pemanahan menggelengkan kepalanya, maka Sultan Hadiwijaya segera mengambil sebuah keputusan yang cepat.

Adipati Jipang, Arya Penangsang terkejut ketika melihat Sultan Pajang Hadiwijaya melangkah dengan cepat, tiba-tiba ia telah duduk di kursi yang berada di sebelah barat, dan itu berarti kursi yang kosong hanya tinggal kursi yang disebelah timur, kursi yang dilarang oleh Sunan Kudus untuk didudukinya.

Kemarahan Arya Penangsang mulai menyala, ketika Sultan Pajang dengan tenangnya duduk di kursi yang sebetulnya dipersiapkan untuknya.

"Adimas Hadiwijaya, kenapa adimas sebagai tamu tidak punya suba sita, tidak punya unggah ungguh, tidak mau dipersilahkan duduk di kursi ini, apakah itu berarti Adimas Hadiwijaya telah menantang Penangsang ?" kata Penangsang dengan suara bergetar.

"Terserah apa kata kakangmas Penangsang, tetapi apakah kakangmas Adipati Jipang yang gagah perkasa tidak berani duduk di kursi itu, atau kalau kakangmas tidak berani, apakah kakangmas akan pulang ke Jipang, atau kakangmas Penangsang akan duduk dilantai pendapa ini ?" kata Hadiwijaya sambil menunjuk lantai pendapa didepan kursinya.

Sultan Hadiwijaya yang mengerti tentang watak Arya Penangsang, sedang berusaha membuat marah Sang Adipati Jipang,

Kemarahan Arya Penangsang semakin berkobar, dengan mata melotot dan suara yang keras menggelegar, tangannyapun menuding ke wajah Sultan Hadiwiyaya.

"Kau anggap aku pantas untuk duduk dilantai pendapa, hee adimas Hadiwijaya !" teriak Penangsang.

Sultan Hadiwijaya tidak menjawab, dia berusaha keras untuk membuat kemarahan Adipati Jipang semakin berkobar sehingga kehilangan kewaspadaan

"Adimas Hadiwijaya, jangan kau anggap Penangsang adalah seorang perempuan, kau anggap aku tidak berani duduk disini, lihat baik-baik, aku bukanlah seorang perempuan pengecut, aku bukanlah seorang yang jirih getih wedi mati, Penangsang adalah seorang laki-laki" teriak Arya Penangsang, dan sesaat kemudian iapun duduk di kursi sebelah timur, kemarahan terhadap Sultan Hadiwijaya menyebabkan ia lupa akan pesan dari Sunan Kudus.

Semalam Sunan Kudus telah melarangnya duduk di kursi sebelah timur, tetapi sekarang, karena di dadanya sedang berkobar api kemarahan yang besar, Penangsangpun telah lupa dan iapun melanggar larangan gurunya.

Disudut pendapa, Patih Matahun terkejut ketika junjungannya Adipati Jipang Arya Penangsang telah melanggar larangan Kanjeng Sunan Kudus dengan duduk di kursi yang disebelah timur.

Begitu cepatnya Arya Penangsang duduk di kursi sebelah timur, sehingga Patih Matahun hanya bisa terdiam, tidak sempat memberi isyarat ataupun untuk melarangnya, dan saat ini semuanya sudah terlanjur, junjungannya Adipati Jipang telah duduk di kursi yang sebetulnya dipersiapkan oleh Sunan Kudus untuk tempat duduk Sultan Hadiwijaya.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita