Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 62 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 62 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Ketika para prajurit Jipang itu sudah mendekat, penunggang kuda hitam itupun bertanya :"Bagaimana dengan tugasmu. Nderpati ?"

Anderpatipun turun dari punggung kudanya, diikuti oleh semua prajurit Jipang, hanya prajurit yang terluka yang masih berada di punggung kudanya.

Seekor kuda terpaksa ditunggangi oleh dua orang, seorang prajurit duduk dibelakang sambil memegang jenazah Soka yang berada di depan, supaya tidak terjatuh dari punggung kuda.

"Atas restu Kanjeng Adipati, saya berhasil melukai Pangeran Hadiri dengan keris Kyai Setan Kober" kata Anderpati.

"Bagus, sekarang mana keris itu?" tanya Arya Penangsang.

Anderpati melepas keris Kyai Setan Kober, lalu iapun menyerahkan keris itu kepada Adipati Jipang.

Arya Penangsang menerima keris Kyai Setan Kober, lalu ia mencabut bilah keris itu dari warangkanya.

Ketika dilihat diujung bilah terdapat sedikit noda darah, maka Arya Penangsang kembali tersenyum, lalu iapun berkata :"Bagus Nderpati"

Anderpati juga tersenyum mendengar pujian junjungannya.

"Nderpati, suruh dua orang dari kalian pergi ke Kalinyamatan, lihatlah, apakah Pangeran Hadiri masih hidup atau telah mati setelah terkena kerisku ini" kata Adiati Jipang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

Arya Penangsang kemudian menyarungkan bilah keris Kyai Setan Kober kedalam warangkanya, lalu disengkelitnya kedalam sabuk di perut sebelah kiri.

"Apakah ada korban di pihak kita, Nderpati" tanya Arya Penangsang.

"Beberapa orang telah terluka, dan seorang prajurit telah gugur Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Siapa yg telah gugur ?" tanya Penangsang.

"Soka, Kanjeng Adipati" jawab Anderpati.

"Soka gugur untuk kebesaran dan kejayaan Jipang di masa depan, perintahkan tiga orang prajurit untuk menguburkan jenazah Soka disini, beri tanda supaya nanti kalau keluarganya ada yang bertanya, kita bisa menunjukkan kuburannya" kata Arya Penangsang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Jangan dikubur di tepi jalan, kuburlah di daerah yang agak masuk sedikit kedalam hutan" kata Arya Penangsang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Beberapa orang yang telah terluka, tidak usah tergesa-gesa ikut berpacu pulang ke Jipang, istirahatlah dulu, nanti mereka bisa pulang bersama-sama setelah penguburan Soka selesai" kata Arya Penangsang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Anderpati, lalu iapun menugaskan dua orang prajurit untuk pergi ke daerah Kalinyamatan, serta tiga orang prajurit lainnya yang akan bertugas mengubur jenazah Soka.

"Para prajurit sudah siap untuk menjalankan tugas, Kanjeng Adipati, ada dua orang prajurit akan pergi ke Kalinyamatan, tiga orang prajurit akan mengubur jenazah Soka, dan lima orang prajurit yang terluka tidak ikut pulang ke Jipang sekarang" kata Anderpati kepada junjungannya.

"Bagus, kalau begitu, mari kita pulang, kita berangkat ke Jipang sekarang" kata Arya Penangsang, lalu Sang Adipatipun segera menjalankan Gagak Rimang menuju ke Jipang, diikuti oleh lima belas orang prajurit Jipang lainnya.

Kaki-kaki kuda rombongan Adipati Jipangpun telah menghambur-hamburkan debu disepanjang jalan menuju Tanggul Angin.

Sementara itu, Ratu Kalinyamat yang menjauh dari daerah pertempuran bersama empat orang pengawalnya telah menghentikan kuda yang ditungganginya.

"Mereka tidak mengejar kita" kata Ratu Kalinyamat.

"Ya Kanjeng Ratu, apakah kita menunggu disini atau kita akan kembali ke tempat pertempuran ?" tanya Ki Wasesa.

"Tunggu sebentar Ki Wasesa, kelihatannya debu yang mengepul di daerah pertempuran telah mulai menipis" kata Ratu Kalinyamat sambil melihat ke arah timur.

"Ya Kanjeng Ratu" kata Ki Wasesa.

Debu yang tebal di daerah pertempuran, sekarang telah menipis karena tertiup angin yang berhembus di tanah lapang itu.

"Sudah tidak ada lagi debu yang mengepul, kelihatannya pertempuran telah selesai" kata Kanjeng Ratu Kalinyamat.

"Ya Kanjeng Ratu, tetapi disana masih ada Pangeran Hadiri beserta para pengawal yang lain, kita akan menuju kesana sekarang, Kanjeng Ratu?" tanya Ki Wasesa.

"Ya, mari kita menemui mereka sekarang" kata Ratu Kalinyamat sambil menggerakkan kudanya berjalan menuju ke timur, diikuti oleh empat orang pengawalnya.

Pelan-pelan, jarak keduanya menjadi semakin dekat, dari jauh tampak belasan kuda berdiri tanpa penunggangnya.

Ketika jarak keduanya menjadi semakin dekat, maka terlihatlah para pengawal sedang bergerombol melingkar dibawah sebatang pohon, mereka seperti mengerumuni sesuatu.

Para pengawal yang berkerumun itu telah melihat rombongan Ratu Kalinyamat mendekati tempat mereka, sehingga para pengawal itupun telah menyibak, memberi jalan kepada rombongan Ratu Kalinyamat.

Setelah para pengawal menyibak, terlihat beberapa orang sedang duduk ditanah, salah seorang dari mereka terlihat memangku kepala dari seseorang yang sedang terbaring dibawah pohon.

"Ada orang yang terluka parah, siapa dia ?" guman Ratu Kalinyamat kepada dirinya sendiri.

Setelah jaraknya menjadi dekat, Ki Wasesa segera turun dari kudanya diikuti oleh Ratu Kalinyamat bersama tiga orang pegawalnya, lalu merekapun mendekati orang yang sedang berbaring dibawah pohon, kepalanya terkulai lemah dipangku oleh seorang pengawal Kalinyamatan.

"Kelihatannya seperti Pangeran Hadiri" kata Ki Wasesa dalam hati.

Ratu Kalinyamat tiba-tiba berlari ke kerumunan para pengawal sambil menjerit :"Kanjeng Pangeran...!!"

Ketika Ki Wasesa dan Ratu Kalinyamat telah tiba di bawah pohon, dilihatnya Pangeran Hadiri sedang terbaring terlentang, matanya terpejam, kepalanya dipangku oleh salah seorang pengawal Kalinyamatan.

"Kanjeng Pangeran..." kata Ratu Kalinyamat sambil mendekati Pangeran Hadiri, air matanyapun mengalir, kesedihan yang dalam telah menyelimuti hatinya.

"Kanjeng Pangeran" kata Ratu Kalinyamat sambil memeluk tubuh Pangeran Hadiri yang hampir kehilangan kesadarannya.

"Kanjeng Pangeran" kata Ratu Kalinyamat, dan tanpa diduga Pangeran Hadiri membuka matanya, lalu Pangeran Hadiri berkata dengan suara perlahan hampir tak terdengar "...Kyai... Setan... Kober..."

Ratu Kalinyamat mengangguk, iapun menjawab dengan tangisnya, hingga beberapa saat Sang Ratu masih memeluk suaminya, dan tak lama kemudian, Ratu Kalinyamat merasakan kepala Pangeran Hadiri yang dipeluknya telah terkulai kesamping

Beberapa saat kemudian, ketika Ratu Kalinyamat masih saja memeluk Pangeran Hadiri, Ki Wasesapun meraba dada dan pergelangan tangan junjungannya, lalu iapun berkata kepada Ratu Kalinyamat :"Kanjeng Pangeran sudah meninggal, Kanjeng Ratu"

Ratu Kalinyamat tidak melepaskan pelukannya, kepalanyapun menengadah, sorot matanya memancarkan kesedihan bercampur kemarahan yang tak terhingga, lalu iapun berkata lirih :"Penangsang, kau telah membunuh kakakku, sekarang kau bunuh pula suamiku"

Ki Wasesa menunggu sejenak, lalu iapun berkata :"Kanjeng Ratu, sebaiknya kita segera merawat jenazah Kanjeng Pangeran, jenazahnya kita bawa pulang ke Kalinyamatan"

Ratu Kalinyamat memandang ke arah Ki Wasesa, tetapi sekejap kemudian pandangannya kembali memandang wajah Pangeran Hadiri yang masih berada dalam pelukannya.

Meskipun Ratu Kalinyamat telah mengetahui kalau Pangeran Hadiri telah meninggal dunia, namun ia masih memeluk jenazahnya erat-erat.

"Sarju !" kata Ki Wasesa memanggil salah seorang pengawal Kalinyamatan.

Sarju kemudian berjalan mendekati Ki Wasesa.

"Berapa orang pengawal yang terluka ?" tanya Ki Wasesa.

"Enam orang telah terluka Ki, mereka hanya luka yang ringan dan telah dibalut dengan kain, dan mereka saat ini masih mampu pulang naik kuda ke Kalinyamatan" kata Sarju.

"Ya, ada tugas untuk tiga orang pengawal yang tidak terluka, mereka supaya segera berangkat ke tiga tempat, ke kotaraja, ke Kadilangu serta ke Kudus, untuk menyampaikan berita lelayu tentang meninggalnya Pangeran Hadiri" kata Ki Wasesa.

"Baik Ki Wasesa" kata Sarju.

"Enam atau tujuh orang dari kalian segera mencari bambu, kalian buat sebuah bandusa, cepat" perintah Ki Wasesa.

Beberapa orang segera menuju ke sebuah rumpun bambu yang terletak ditepi tanah lapang, lalu dengan pedang pendeknya, mereka menebang beberapa batang bambu, lalu dibuatnya sebuah bandosa untuk mengusung jenazah Pangeran Hadiri..

Disebelahnya, beberapa orang memotong sebatang bambu, dibelahnya tipis-tipis, lalu dibuatnya sebuah anyaman dinding untuk penutup bandosa.

Tiga orang pengawal yang lain, telah bersiap dipunggung kudanya untuk menjalankan tugas dari Ki Wasesa.

"Hati-hati, jangan sampai kalian bertemu dengan orang-orang yang telah bertempur melawan kita, kalau kalian melihat mereka, lebih baik kalian menghindar saja" kata Ki Wasesa.

"Baik Ki" kata ketiga pengawal itu hampir bersamaan.

Tiga orang pengawal yang tidak terluka segera berangkat untuk menyampaikan berita lelayu, dua orang menuju ke barat, ke Kraton, dan ke Kadilangu serta seorang lagi menuju ke timur, ke Panti Kudus.

Setelah itu Ki Wasesa kemudian memanggil seorang pengawal lagi untuk mengabarkan berita ini ke Kalinyamatan.

"Kau beritahukan ini ke dalem Kalinyamatan, supaya mereka bersiap untuk menerima jenazah Pangeran Hadiri" kata Ki Wiguna.

"Baik Ki" kata seorang pengawal, lalu iapun segera menjalankan kudanya menuju ke Kalinyamatan.

Matahari sudah agak condong ke barat, sinar yang dipancarkannya masih terasa panas menyinari bumi Kasultanan Demak yang telah kembali berduka.

Tak lama kemudian bandusa yang dibuat oleh para prajurit telah selesai dan telah dibawa ke dekat Jenazah Pangeran Hadiri.

"Kanjeng Ratu, bandusa sudah siap, jenazah akan kita bawa pulang ke Kalinyamatan sekarang" kata Ki Wasesa.

Ratu Kalinyamat tidak menjawab, iapun kemudian berdiri, memberi kesempatan kepada para pengawal untuk membawa jenazah suaminya.

Tiga orang pengawal kemudian mengangkat jenazah Pangeran Hadiri, dan diletakkannya ke dalam bandusa, kemudian ditutup dengan dinding bambu sehingga jenazah tidak terlihat dari luar.

Ketika semuanya sudah selesai, maka empat orang pengawal telah bersiap memikul bandusa, berjalan kaki menuju Kalinyamatan.

"Kita berangkat sekarang" kata Ki Wasesa lalu iapun memerintahkan rombongan utk berangkat bersama sama ke Kalinyamatan.

Kuda Ki Wasesa berjalan perlahan berbelok ke kanan menuju ke arah dalem Kalinyamatan

Perjalanan pulangpun dimulai, Pangeran Hadiri yang tadi pagi berangkat segar bugar naik kuda dari Kalinyamatan, sore hari ini pulang ke Kalinyamatan telah menjadi jenazah didalam bandusa yang diusung oleh empat orang pengawal.

Dibelakangnya Ratu Kalinyamat yang sedang berduka naik diatas punggung seekor kuda, mendampngi jenazah suaminya.

Pandangan mata Ratu Kalinyamat terkadang tertutup oleh linangan air mata, lalu sekejap kemudian telah berubah menjadi sorot mata sebuah kemarahan dibalut oleh dendam sedalam lautan kepada Arya Penangsang.

"Penangsang, kita berdua tidak bisa hidup dalam dunia yang sama" kata Sang Ratu dalam hati.

Empat orang pengawal naik ke atas punggung kuda, lalu berjalan sambil menuntun empat ekor kuda tanpa penumpang.

Setelah itu, baru beberapa pengawal berkuda lainnya berjalan dibelakang bandusa.

Perjalanan iring-iringan jenazah Pangeran Hadiri menuju ke Kalinyamatan berjalan terus, Ki Wasesa yang berkuda paling depan tidak bisa berjalan cepat, empat orang pengawal yang bertugas pemikul bandusa terlihat kelelahan, meskipun telah beberapa kali berganti dengan para pengawal lainnya yang tidak terluka.

Matahari masih terus bergerak ke barat, semakin lama semakin condong mendekati cakrawala dan rombongan jenazahpun semakin mendekati Kalinyamatan.

Seorang pengawal yang bertugas menuju Kudus untuk menyampaikan berita lelayu, telah sampai di regol Panti Kudus.

Dari pendapa, seorang santri berlari ke regol menemui orang yang telah turun dari kudanya.

Setelah mengucapkan salam dan santri itupun telah menjawabnya, maka pengawal itupun bertanya :"Saya pengawal dalem Kalinyamatan, apakah Kanjeng Sunan Kudus berada di tempat ?"

"Ada, Kanjeng Sunan Kudus berada di pendapa, silahkan masuk" jawab santri itu, lalu iapun meminta tali kendali kudanya, lalu diikatnya pada tonggak dibawah pohon mangga.

Pengawal itupun menuju ke pendapa, setelah mencuci kakinya, maka iapun naik ke pendapa sambil mengucap salam, lalu Sunan Kudus yang saat itu sedang duduk di sebuah ambenpun telah menjawab salamnya.

Setelah mencium tangan Sunan Kudus, maka utusan itupun duduk dilantai dihadapan Sunan Kudus, kemudian iapun berkata:"Kanjeng Sunan Kudus, saya pengawal Kalinyamatan, akan menyampaikan sebuah berita lelayu"

"Ya, ada berita lelayu ? Siapa yang telah meninggal dunia ?" tanya Sunan Kudus.

"Kanjeng Sunan, siang tadi, baru saja Kanjeng Pangeran Hadiri telah meninggal dunia" kata utusan itu.

Betapa terkejutnya Kanjeng Sunan Kudus mendengar Pangeran Hadiri telah meninggal dunia.

Setelah mengucapkan beberapa kalimat, maka Sunan Kuduspun bekata :"Apa katamu ? Pangeran Hadiri telah meninggal dunia ? Baru saja Pangeran Hadiri siang tadi meninggalkan pendapa ini"

"Ya Kanjeng Sunan, setelah dari Panti Kudus, kami rombongan dari Kalinyamat akan pergi ke Demak, diperjalanan kami diserang oleh puluhan orang berkuda yang wajahnya tertutup kain, beberapa orang telah terluka, dan dalam pertempuran itu, Pangeran Hadiri telah gugur" kata utusan itu.

Sunan Kudus tertegun mendengar sebuah berita yang mengejutkan, hingga beberapa saat Sunan Kudus masih berdiam diri, hatinya masih terguncang mendengar berita kematian Pangeran Hadiri yang diserang oleh sebuah pasukan berkuda.

Dengan cemas Sunan Kudus berangan-angan menghitung dan memperkirakan asal dari penyerang yang memakai penutup wajah dari kain.

"Darimana asal para penyerang yang memakai penutup wajah itu ? Jangan-jangan para penyerang itu....." kata Sunan Kudus berangan-angan.

"Baik, berita sudah aku terima" kata Sunan Kudus.

"Terima kasih Kanjeng Sunan, saya mohon pamit akan kembali ke Kalinyamatan" kata pengawal itu.

Setelah berpamitan dan bersalaman, maka utusan itu kemudian keluar dari pendapa, dan setelah menuntun kudanya melewati regol, maka iapun naik ke punggung kudanya, kembali ke Kalinyamatan.

Setelah utusan dari Kalinyamatan pulang, maka Sunan Kuduspun merasa terlalu berat masalah yang dipikirkannya, sehingga mendadak tubuhnya lemas serta kepalanya terasa pusing.

"Penangsang, pasti Penangsanglah yang telah membunuh Pangeran Hadiri" kata Sunan Kudus dalam hati, sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit.

"Kalau bukan Penangsang, tentu para penyerang itu tidak perlu menutupi wajahnya dengan kain" guman Sunan Kudus.

Sunan Kuduspun memanggil seorang santri yang terpercaya di Panti Kudus.

"Tolong kau papah aku ke kamarku" kata Sunan Kudus, lalu santri itupun memapah gurunya menuju ke kamarnya.

"Pangeran Hadiri telah meninggal dunia, nanti setelah sholat Isya, ajaklah salah seorang santri lainnya, berangkatlah dengan memakai obor, melayat ke Kalinyamatan sebagai wakilku, bilang kalau saat ini aku sedang sakit" kata Sunan Kudus.

"Baik Kanjeng Sunan" kata Santri itu.

Setelah meletakkan tubuh Sunan Kudus di pembaringan, maka santri itupun keluar dari pendapa untuk mempersiapkan keberangkatannya ke Kalinyamatan.

Sementara itu, ketika senjapun hampir tiba, pengawal Kalinyamatan yang diutus ke kotaraja untuk menyampaikan berita lelayu, telah sampai di alun-alun, lalu iapun segera memasuki gerbang Kraton, minta ijin menghadap Adipati Hadiwijaya dan ibu suri.

Prajurit Wira Tamtama yang telah mengenal utusan itu sebagai pengawal Ratu Kalinyamat, mengijinkannya masuk kedalam Kraton.

Langkah kakinya membawanya ke Kraton Kilen, tempat menginap Adipati Pajang Hadiwijaya beserta para pengikutnya.

Adipati Hadiwijaya yang baru saja pulang dari Kadilangu, saat itu berada di pendapa bersama para nayaka praja Kadipaten Pajang.

"Kakang Pemanahan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata Pemanahan sambil meggeser duduknya agak mendekat kepada junjungannya.

"Besok pagi kita pulang ke Pajang, apakah semua perlengkapan sudah dipersiapkan ?" tanya Adipati Pajang.

"Semuanya sudah siap Kanjeng Adipati" jawab Pemanahan.

"Terima kasih, kita besok berangkat setelah fajar" kata Sang Adipati.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

Ketika mereka sedang berbicara, didepan pendapa ada seorang yang berdiri dengan tangan ngapurancang, ingin menghadap Adipati Hadiwikaya.

"Kakang Penjawi, coba lihat diluar, ada orang yang akan naik ke pendapa" kata Hadiwijaya.

Semua orang yang berada di pendapa menengok keluar, Penjawi segera berdiri dan berjalan menemui orang yang berada diluar, sesaat kemudian, Penjawipun kembali bersama orang itu menghadap Adipati Hadiwijaya.

"Kanjeng Adipati, orang ini adalah salah seorang pengawal Kalinyamatan, akan menyampaikan sebuah berita lelayu" kata Penjawi.

"Ya, duduklah pengawal" kata Adipati Hadiwijaya, lalu pengawal itupun duduk didepan Sang Adipati.

"Apa yang akan kau sampaikan, pengawal" kata Adipati Pajang.

"Sebuah berita lelayu Kanjeng Adipati, baru saja siang tadi, Kanjeng Pangeran Hadiri telah meninggal dunia" kata utusan itu.

Semua yang hadir terkejut dan hampir tidak percaya dengan berita yang dibawa oleh seorang pengawal Kalinyamatan yang mengatakan bahwa Pangeran Hadiri telah meninggal dunia,

"Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat kau katakan telah meninggal dunia ? Coba kau ulangi lagi berita lelayu yang kau sampaikan tadi, pengawal" kata Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati, tadi siang, Kanjeng Pangeran Hadiri dan Kanjeng Ratu Kalinyamat baru saja menghadap Kanjeng Sunan Kudus di Panti Kudus, belum beberapa lama setelah rombongan kami meninggalkan Kudus, kami diserang oleh lebih dari dua puluh orang pasukan berkuda yang memakai penutup wajah, beberapa orang pengawal terluka, dan Kanjeng Pangeran Hadiri telah gugur terkena keris yang ditusukkan oleh salah seorang penyerang" kata pengawal Kalinyamatan.

"Terkena keris katamu, bukan terkena tusukan pedang ?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati, Kanjeng Pangeran Hadiri terkena keris di lengan kirinya, saya melihat sendiri, karena saat itu saya bertempur tidak jauh dari Kanjeng Pangeran Hadiri" kata pengawal itu.

"Baik pengawal, nanti aku akan pergi ke Kalinyamatan, sekarang kau akan kemana ?" tanya Sang Adipati.

"Memberi kabar kepada ibu suri, Kanjeng Adipati" jawab pengawal Kalinyamatan.

"Kanjeng Sunan Kalijaga sudah dikabari berita lelayu ini ?" tanya Adipati Pajang.

"Sudah Kanjeng Adipati, ada seorang pengawal lainnya yang diutus ke pesantren Kadilangu" kata pengawal itu.

"Baik, silahkan kau kabarkan ke ibu suri dulu, sebentar kagi aku juga akan kesana" kata Adipati Pajang.

Pengawal itupun mohon pamit, lalu iapun berjalan turun dari pendapa menuju ke tempat kediaman ibu suri.

Di pendapa, semua orang masih terdiam mendengar berita mengenai kematian Pangeran Hadiri, dan kebekuan itu dipecahkan oleh suara Adipati Hadiwijaya :"Kita semua terkejut mendengar berita yang menyebutkan Pangeran Hadiri telah meninggal dunia, dan kita terpaksa harus menunda rencana kepulangan kita ke Pajang"

Semua yang hadir bersiap mendengarkan perintah dari junjungannya.

Setelah berpikir sejenak, maka Adipati Hadiwijayapun berkata :"Kita semua tidak jadi pulang ke Pajang besok pagi, tetapi malam ini juga kita akan berangkat ke Kalinyamatan bersama ibu suri, ya kita semua berangkat kesana, kecuali Wenang Wulan"

Wenang Wulan menengadahkan kepalanya, tetapi kemudian iapun menundukkan kepalanya lagi.

"Wenang Wulan, kau tidak usah ikut pergi ke Kalinyamatan, tetapi besok pagi kau pulanglah ke Pajang, beritahukan kepada Ki Patih Mancanagara, aku belum bisa pulang ke Pajang sekarang karena Pangeran Hadiri telah meninggal dunia" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Wenang Wulan.

"Sebelum kau sampai di Pajang, singgahlah ke Pengging, temuilah siwa Kebo Kanigara, ceritakan semua yang kau dengar dari pengawal Kalinyamatan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Wenang Wulan.

Adipati Pajang berpikir sejenak, lalu ia kemudian berkata :"Mungkin sepasar dua pasar lagi baru aku bisa pulang ke Pajang"

"Aku akan memberitahukan kabar ini ke Kanjeng Ratu Pajang, kalian tunggu disini, kita bersama-sama menghadap ke tempat ibu suri" kata Adipati Hadiwijaya lalu ia kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar, menemui Ratu Mas Cempaka.

Sementara itu, bersamaan dengan datangnya utusan Kalinyamatan di Kraton Kilen, seorang pengawal Kalinyamatan yang bertugas menyampaikan berita lelayu ke Kadilangu, telah menghadap dan menyampaikan berita itu kepada Sunan Kalijaga di pendapa pesantren Kadilangu.

"Jadi Pangeran Hadiri telah gugur karena tusukan sebuah keris ?" tanya Sunan Kalijaga.

"Betul Kanjeng Sunan, Kanjeng Pangeran Hadiri meninggal tak lama setelah lengan kirinya terkena keris dan jatuh dari kudanya" kata utusan dari Kalinyamatan.

"Kenapa harus ada beberapa korban yang jatuh, kenapa ia harus membunuh saingannya ?" kata Sunan Kalijaga dalam hati.

"Setelah kematian Pangeran Hadiri, Hadiwijayapun setiap saat berada dalam ancaman Kyai Setan Kober, mudah-mudahan ia bisa melindungi dirinya sendiri" kata Sunan Kalijaga dalam hati.

Sunan Kalijaga menarik napas dalam-dalam, baru tadi pagi, ia memberikan kerisnya Kyai Carubuk kepada Hadiwijaya untuk berjaga-jaga terhadap keganasan keris Kyai Setan Kober yang telah menyebabkan beberapa kematian dikalangan saudara sendiri.

"Kalaupun nanti pada suatu saat Penangsang dan Hadiwijaya bertarung satu lawan satu, tidak mudah bagi Hadiwijaya untuk mengalahkan Penangsang, tetapi Penangsangpun tidak akan mudah mengalahkan Hadiwijaya, sedangkan senjatanya keris Kyai Carubuk juga tidak akan kalah oleh keris Kyai Setan Kober" kata Sunan Kalijaga dalam hati.

"Apakah ilmu Lembu Sekilan mampu menahan gempuran aji Panglebur Jagad milik Penangsang ?" guman Sunan Kalijaga hampir tidak kedengaran.

"Tetapi Hadiwijaya juga mempunyai aji pamungkas, bahkan lebih dari satu" guman Sunan Kalijaga.

Beberapa saat kemudian, Sunan Kalijaga berkata kepada utusan dari Kalinyamatan :"Baik pengawal, berita lelayu sudah aku terima, nanti malam aku akan pergi ke Kalinyamatan bersama beberapa orang santri Kadilangu, silahkan kalau kau akan pulang ke Kalinyamatan"

"Terima kasih Kanjeng Sunan, saya mohon pamit akan kembali ke Kalinyamatan" kata pengawal itu, lalu iapun kemudian mencium tangan Sunan Kalijaga lalu berdiri dan keluar dari pendapa Kadilangu.

Setelah utusan itu keluar dari pendapa, maka Sunan Kalijaga memanggil salah seorang santrinya dan berkata :"Beritahukan ke para santri, Pangeran Hadiri yang berada di dalem Kalinyamatan telah meninggal dunia, nah, nanti malam kita berangkat ke Kalinyamatan, ajak empat orang santri lainnya"

"Baik Kanjeng Sunan" kata santri itu.

Saat itu langit telah menjadi semakin gelap, malampun telah tiba, rembulanpun telah muncul menggantikan lenyapnya matahari di cakrawala sebelah barat.

Salah seorang pengawal berkuda yang diutus mendahului rombongan jenazah, telah tiba di depan dalem Kalinyamatan.

Sibuklah semua orang yang berada di Kalinyamatan, kentonganpun dipukul terus menerus dengan pukulan dua dua ganda, tanda ada orang yang meninggal dunia,

Belasan orang emban dan pembantu perempuan di dalem Kalinyamatan bertangis-tangisan, mereka tidak mengira kalau Pangeran Hadiri meninggal dunia, mereka merasakan duka yang mendalam, merasa kehilangan junjungannya.

Ruang dalampun juga sudah dipersiapkan, sebuah amben telah diletakkan di ruang itu untuk tempat jenazah Pangeran Hadiri.

Ketika waktu sudah memasuki wayah sepi wong, rombongan jenazah Pangeran Hadiri tiba di Kalinyamatan.

Kembali hujan tangis terjadi di dalem Kalinyamatan, ketika Ratu Kalinyamat bertemu dengan para emban yang setiap hari melayaninya.

Malampun terus berjalan sampai batas akhir, langit bang wetanpun telah memerah, ketika itu datanglah rombongan utusan dari Sunan Kudus, lalu datang pula rombongan dari Kadilangu, Sunan Kalijaga datang beserta beberapa orang santrinya, lalu datang pula rombongan ibu suri bersama rombongan Adipati Hadiwijaya beserta nayaka praja Kadipaten Pajang, dan disusul oleh kedatangan Patih Wanasalam beserta beberapa orang Tumenggung

Demikianlah, ketika semuanya sudah siap, pagi itu, jenazah Pangeran Hadiri segera diberangkatkan ke tempat pemakaman, Ratu Kalinyamat yang merasa sangat kehilangan, tidak bisa menahan luapan perasaan dendam kesumat bercampur dengan kesedihan yang mendalam sehingga iapun menjadi pingsan.

Dengan cepat ibu suri dan Ratu Pajang serta beberapa orang emban sibuk merawat Sang Ratu, sementara jenazah tetap diberangkatkan ke pemakaman.

Sementara itu, pada saat yang sama, di jalan yang menuju ke arah selatan kotaraja Demak, seekor kuda sedang berlari menyusuri jalan ditepi sungai Tuntang, terlihat duduk dipunggung kuda itu, nayaka praja Kadipaten Pajang, Wenang Wulan yang diperintahkan oleh Adipati Hadiwijaya untuk pulang, sedang memacu kudanya kembali menuju ke Pajang.

"Sebelum sampai ke Pajang, aku harus berbelok ke kanan dulu menuju Pengging, menemui Ki Kebo Kangara dan bercerita tentang terbunuhnya Pangeran Hadiri" kata Wenang Wuan dalam hati.

"Ki Kebo Kanigara adalah seorang yang berrilmu tinggi, seorang yang mempunyai ilmu dari perugruan Pengging yang dipelajarinya sampai tuntas, hm aku belum pernah menyaksikan ilmu kanuragannya, seberapa tinggikah ilmu dari uwa Kanjeng Adipati itu?"

"Meskipun Ki Kebo Kanigara mempunyai ilmu yang tinggi, lalu dengan adanya berita kematian Pangeran Hadiri, apa yang akan diperbuatnya ?" kata Wenang Wulan sambil terus memacu kudanya.

"Biarlah, apa yang akan dilakukan Ki Kebo Kanigara aku tidak tahu, yang penting tugasku adalah memberitahukan berita lelayu ini kepada Ki Kebo Kanigara" katanya dalam hati.

Kudanya masih tetap berlari, kaki-kaki kuda yang bersentuhan dengan tanah, telah menghambur-hamburkan debu tipis ke udara.

Sementara itu mataharipun terus bergerak naik, di Kalinyamatan, pemakaman Pangeran Hadiri tidak memerlukan waktu yang lama, dan setelah selesai dimakamkan, Sunan Kalijaga mohon pamit kembali ke Kadilangu, demikian juga rombongan wakil dari Sunan Kudus, merekapun segera mohon pamit pulang ke Panti Kudus, yang terakhir, rombongan Patih Wanasalam beserta para Tumenggungpun juga memohon pamit pulang ke kotaraja.

Adipati Hadiwijaya dan Ratu Pajang beserta pengikutnya malam itu menginap di Kalinyamatan, demikian juga dengan ibu suri yang menemani anaknya, Ratu Kalinyamat yang sedang berduka.

Beberapa hari mereka berada di Kalinyamatan, menginap beberapa malam, menghibur Ratu Kalinyamat yang sedang bersedih.

Kadang-kadang Ratu Kalinyamat terlihat sangat bersedih, tetapi tiba-tiba sorot matanya berubah menjadi pancaran sinar penuh dendam sedalam lautan yang harus dilampiaskan.

Kadang-kadang timbul rasa penyesalannya, karena telah mengembalikan keris Kyai Setan Kober kepada Sunan Kudus.

"Hm aku telah melakukan kesalahan, kenapa saat itu keris Kyai Setan Kober aku kembalikan ke Panti Kudus ? Seharusnya keris itu disimpan di Panti Pusaka Kraton Demak, dan disana siang malam selalu dijaga oleh para prajurit Wira Tantama" kata Sang Ratu Kalinyamat.

"Sunan Kuduspun dengan terang-terangan telah membela muridnya Penangsang, dan pada saat aku mengembalikan keris itu, Penangsang pasti berada di Panti Kudus" kata Sang Ratu.

"Selisih waktunya tidak lama, setelah rombongan Kalinyamatan menyeberangi sungai Serang, Nderpati bisa menyusulku dengan membawa keris Kyai Setan Kober, dan aku sama sekali tidak mengira kalau saat itu Penangsang berada di Panti Kudus" guman Sang Ratu.

"Yang diincar Penangsang memang Kanjeng Pangeran Hadiri, calon Sultan Demak pengganti kakangmas Sunan Prawata" kata Ratu Kalinyamat perlahan.

"Semua sudah terlanjur, Pangeran Hadiri sudah meninggal terkena keris Kyai Setan Kober, dan sekarang, aku rela kehilangan semuanya asal ditukar dengan nyawa Penangsang" kata Ratu Kalinyamat didalam hatinya.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita