Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 61 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 61 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Ratu, selain gurunya, satu orang lagi yang berhak menghukum Adipati Jipang adalah Sultan Demak" kata Sunan Kudus.

"Tetapi Kanjeng Sunan, Sultan Demak justru telah dibunuh oleh prajurit Jipang, Rangkud" kata Ratu Kalinyamat.

"Ya, hanya Sultan Demak yang berhak menghukum Adipati Jipang, tetapi beberapa hari yang lalu Sultan Demak telah terbunuh, dan penggantinya sampai sekarang belum ada, jadi saat ini dampar kencana Kasultanan Demak dalam keadaan kosong" kata Sunan Kudus.

"Jadi karena saat ini di Demak belum mempunyai seorang Sultan, maka pembunuhan Sunan Prawata dan Prameswari dianggap telah selesai ? Orang yang bersalah karena telah menyuruh Rangkud untuk membunuh Sunan Prawata dan Prameswari tidak akan dihukum, Kanjeng Sunan ?" tanya Ratu Kalinyamat dengan nada tinggi.

Didalam kamar, Arya Penangsang yang mendengar percakapan itu menjadi semakin marah, tangannya bergetar, sorot matanya telah memancarkan nafsu membunuh.

"Sabar Ratu, kalau menurut pendapat Ratu, Arya Penangsang telah melakukan kesalahan dengan menyuruh Rangkud untuk membunuh Sunan Prawata, silakan saja kalau Ratu akan menghukum Penangsang, aku tidak akan membela ataupun menghalanginya, silakan Ratu menyelesaikan urusan Ratu dengan Penangsang, aku tidak akan ikut campur urusan kalian" kata Sunan Kudus.

Wajah Ratu Kalinyamat sesaat berubah menjadi merah karena menahan perasaan marah dan sakit hati, ketika mendengar ucapan Sunan Kudus yang seakan-akan telah berkata "Ratu, hukumlah Penangsang, kalau kau mampu"

Dengan wajah yang masih memerah, Ratu Kalinyamat berkata kepada Sunan Kudus :"Kanjeng Sunan, ternyata kita tidak sejalan mengenai hukuman bagi pembunuh Sunan Prawata, mohon maaf, kami terpaksa mohon pamit, pulang ke Kalinyamatan sekarang juga"

Sunan Kudus tidak menjawab, iapun telah terdiam beberapa saat.

"Keris Kyai Setan Kober yang telah dipakai oleh Rangkud untuk membunuh Sunan Prawata dan Prameswari, kami serahkan kembali kepada Kanjeng Sunan Kudus" kata Ratu Kalinyamat.

"Kami mohon maaf Kanjeng Sunan, kami mohon pamit" kata Pangeran Hadiri.

Sunan Kudus menghela nafas panjang, lalu iapun berkata :"Baiklah Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat, aku mengucapkan terima kasih, karena kalian telah mengembalikan keris Kyai Setan Kober kepadaku"

Ketiganya kemudian berdiri, setelah bersalaman, maka Pangeran Hadiri berjalan menuju halaman, diikuti oleh Ratu Kalinyamat.

"Kita menuju Demak, menemui adimas Hadiwijaya" kata Pangeran Hadiri kepada istrinya.

"Baik Pangeran" kata Ratu Kalinyamat.

Sunan Kudus berjalan mengantar tamunya sampai ke halaman, dan sesaat kemudian, terdengar derap kuda rombongan Pangeran Hadiri meninggalkan Panti Kudus, pulang menuju dalem Kalinyamatan.

Sunan Kudus masih berada di halaman sampai suara derap kuda itu tidak terdengar lagi.

Setelah itu Sunan Kudus kembali ke ruang dalam, lalu iapun memanggil murid kesayangannya :"Penangsang, keluarlah"

Arya Penangsang bersama Anderpati berjalan keluar dari kamar, lalu merekapun duduk di hadapan Sunan Kudus.

"Ini kerismu, pakailah" kata gurunya.

Arya Penangsang menerima keris Kyai Setan Kober dengan kedua tangannya, lalu keris itupun dipakainya dengan cara nyote.

"Terima kasih bapa Sunan, keris Kyai Setan Kober telah kembali ke padaku" kata Arya Penangsang.

"Ya, kau jaga keris itu, jangan sampai hilang lagi" kata Sunan Kudus.

"Ya, saya mohon pamit, saya akan pulang ke Jipang sekarang, bapa Sunan" kata Adipati Jipang.

"Ya, hati-hati dijalan Penangsang" kata Sunan Kudus.

Mereka bertiga kemudian berdiri, Penangsang dan Anderpati kemudian mencium tangan Sunan Kudus, setelah itu keduanya menuju halaman belakang, dan sesaat kemudian dua ekor kuda telah berlari meninggalkan Panti Kudus.

Gagak Rimangpun berlari meninggalkan Panti Kudus, dibelakangnya diikuti oleh kuda yang di atas punggungnya terdapat pemimpin prajurit Jipang, Anderpati.

Tangan kanan Penangsang memegang tali kendali Gagak Rimang, sedangkan dari mulutnya terucap :"Pangeran Hadiri, hmm kepalang basah, hanya sekali kesempatan, mukti atau mati"

Setelah berkata begitu, Penangsangpun mempercepat laju Gagak Rimang menuju tempat beristirahat dua puluh lima prajurit Jipang di daerah sebelah selatan Tanggul Angin.

Gagak Rimangpun kemudian berlari kencang, Anderpati yang berada dibelakangnyapun terkejut, iapun segera memacu kudanya, menyusul Gagak Rimang yang telah berada jauh didepan.

Beberapa saat kemudian sampailah mereka berdua di daerah sebelah selatan Tanggul Angin, dan ditengah jalan didepan mereka telah berdiri beberapa prajurit Jipang yang menghadangnya dengan pedang ditangan.

Ketika para prajurit Jipang mengetahui yang datang adalah Adipati Jipang, Arya Penangsang dan pemimpin prajurit Jipang, Anderpati, maka merekapun segera bergerak minggir ketepi jalan.

Setelah dua ekor kuda itu berhenti maka Arya Penangsangpun berkata :"Semua prajurit berkumpul sekarang, cepat !!"

Anderpati segera turun dari kudanya, lalu iapun berdiri disebelah Sorengpati dan Sorengrana.

Beberapa saat kemudian semua prajurit Jipang sudah berkumpul dan Arya Penangsangpun segera berkata :"Para prajurit Jipang, didepan kita ada rombongan berkuda, Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat yang dikawal oleh para pengawal Kalinyamatan".

Para prajurit Jipang terdiam, mereka siap mendengarkan perintah Adipati Jipang.

"Nderpati !!" teriak Arya Penangsang yang masih duduk di atas kuda hitamnya.

Anderpati segera melangkah maju kedepan.

"Ada tugas berat untukmu, sebagai pemimpin prajurit dan satu-satunya murid paman Matahun, apakah kau sanggup melaksanakannya ?" tanya Adipati Jipang.

"Sanggup Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Bagus, kau jangan mengecewakanku" kata Arya Penangsang, kemudian iapun mencabut keris Kyai Setan Kober yang terselip ditubuhnya, lalu diberikan kepada Anderpati.

"Nderpati, kau bawa keris Kyai Setan Kober ini" kata Sang Adipati.

Anderpati kemudian menerima keris itu dengan kedua tangannya, lalu digenggamnya keris itu dengan erat.

"Nderpati, cepat kau bawa semua prajurit Jipang, susul rombongan dari Kalinyamatan" kata Arya Penangsang.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Anderpati.

"Bunuh Pangeran Hadiri !!" perintah Adipati Jipang, Arya Penangsang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati, nanti Pangeran Hadiri akan saya kejar dan saya bunuh" kata Anderpati sambil menyelipkan keris Kyai Setan Kober di perut sebelah kiri.

"Bagus Nderpati, berangkatlah sekarang, jangan terlambat, jangan sampai kau kehilangan buruanmu" perintah Adipati Jipang dari atas kuda Gagak Rimang.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Anderpati, setelah itu iapun naik ke atas punggung kudanya.

"Para prajurit, semua bersiap, naik ke punggung kuda kalian !!" perintah Anderpati

Dua puluh lima orang prajurit Jipang yang semuanya berasal dari padepokan Sekar Jagad dilereng gunung Lawu, segera naik ke atas punggung kudanya, lalu merekapun bersiap menjalankan perintah selanjutnya.

"Para prajurit, sekarang pakai kain penutup wajah kalian" perintah Anderpati, lalu iapun segera memakai secarik kain untuk menutupi wajahnya.

Semua prajurit Jipang segera mengambil secarik kain, kemudian kain itu digunakan untuk menutupi wajah mereka.

Sekarang telah siap dua puluh enam orang prajurit berkuda yang memakai secarik kain penutup wajah, sehingga tidak diketahui siapa dan dari mana asal pasukan berkuda itu.

"Persiapkan pedang kalian" kata Anderpati.

Beberapa orang meraba hulu pedang pendek yang tergantung dipinggang mereka.

"Nderpati berangkatlah sekarang, aku akan berada di belakang kalian" kata Adipati Jipang.

Anderpati memberi aba-aba kepada para prajurit Jipang, lalu merekapun mulai memacu kudanya ke penyeberangan di daerah Tanggul Angin.

Ketika semua telah berangkat, Arya Penangsang kemudian menjalankan Gagak Rimang, berlari mengikuti dari belakang gerak maju pasukan berkuda prajurit Jipang dari jarak beberapa ratus langkah.

Anderpati memacu kudanya, menuju penyeberangan sungai Serang, dan di arah barat, di kejauhan terlihat debu mengepul dari kaki-kaki kuda para pengawal Kalinyamatan yang telah berpacu meninggalkan sungai Serang.

"Mereka telah berada jauh di depan" kata Anderpati dalam hati.

Pasukan Jipang telah sampai di tepi sebelah timur sungai Serang, tetapi ternyata rakit yang beberapa saat yang lalu telah dipakai untuk menyeberangkan pengawal Kalinyamatan, saat itu masih berada di tepi sungai sebelah barat.

Khawatir buruannya lolos, maka Anderpati mengambil keputusan cepat, pasukan Jipang bergerak menyeberangi sungai Serang dengan tetap berada di atas punggung kudanya .

Dua puluh enam prajurit Jipang yang berada dipunggung kudanya, secara berurutan akan menyeberangi sungai Serang yang airnya mengalir perlahan dan tidak begitu dalam.

Anderpati berada didepan, kudanya perlahan-lahan masuk kedalam air sungai, maju menuju keseberang, disusul oleh Sorengpati dan Sorengrana, kemudian dibelakangnya para prajurit Jipang yang berada di punggung kudanya, semuanya terjun ke sungai mengikuti dari belakang.

Dikejauhan, Arya Penangsang yang melihat para prajurit Jipang telah menyeberangi sungai Serang dengan kuda-kuda mereka, maka Sang Adipatipun berkata perlahan :"Bagus, Nderpati"

Setelah prajurit Jipang yang terakhir naik ke tepi barat, maka pengejaranpun di mulai kembali.

Anderpati memacu kudanya mengejar ke arah debu yang terlihat mengepul di arah barat, dibelakangnya diikuti oleh seluruh pasukan berkuda prajurit Jipang.

Adipati Jipang, yang telah melihat para prajuritnya mengejar ke arah barat, mulai menjalankan kudanya, tali kendali Gagak Rimang di tarik sedikit ke kiri lalu diarahkan masuk ke air, menyeberang di sungai Serang.

"Ayo Gagak Rimang, kita mengejar buruan kita" kata Arya Penangsang.

Gagak Rimangpun kemudian berjalan terjun ke sungai, menyeberangi sungai Serang menuju kearah barat.

Anderpati bersama pasukan Jipang memacu kudanya seperti angin, semakin lama semakin dekat dengan debu yang mengepul didepannya.

Agak jauh di depan mereka, Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat berkuda tidak terlalu cepat, mereka pulang setelah tidak ada kesepakatan pembicaraan dengan Sunan Kudus.

"Kanjeng Sunan Kudus terlalu melindungi Penangsang" kata Ratu Kalinyamat dalam hati.

"Kanjeng Sunan Kudus menganggap persoalan kematian Sunan Prawata dan Prameswati telah selesai, semua kesalahan dibebankan kepada Rangkud yang telah mati, sekarang terbukti, ternyata Kanjeng Sunan Kudus telah bertindak tidak adil" kata Ratu Kaluinyamat

Tetapi semua rombongan pengawal terkejut ketika salah seorang dari mereka berteriak :" Ki Wasesa, lihat ke belakang !!"

Semua orang melihat kebelakang, agak jauh dibelakang mereka, tampak debu mengepul tinggi.

"Pangeran, ada pasukan berkuda yang mengejar kita" kata Ki Wasesa.

"Apa boleh buat, kalau mereka akan berniat jahat, terpaksa kita lawan" kata Pangeran Hadiri.

"Kita pacu kuda kita menuju ke tanah lapang didepan kita, cepat Pangeran" kata Ki Wasesa.

"Sarju, kau lindungi Kanjeng Ratu, aku akan bertempur bersama Pangeran Hadiri" kata Ki Wasesa.

"Baik Ki" kata Sarju.

Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat segera memacu kudanya, dibelakang mereka berlari kuda Ki Wasesa dan para pengawal Kalinyamatan menuju tanah lapang didepan mereka.

Ratu Kalinyamat bukan seorang perempuan yang lemah, dipinggangnya tergantung sebatang pedang tipis, dan iapun pernah belajar olah kanuragan serta mampu melindungi dirinya sendiri.

Dibelakangnya, pasukan Jipang yang memakai kain penutup wajah memacu kudanya, ditangan mereka telah tergenggam senjata mereka, sebuah pedang pendek.

Sikap Anderpatipun menjadi semakin garang, sorot matanya tajam seperti seekor macan, ia memandang debu yang mengepul didepannya, tekadnya sudah bulat menjalankan perintah Adipati Jipang untuk membunuh Pangeran Hadiri,

"Pangeran Hadiri, kau memang harus mati terkena keris pusaka ini" kata Anderpati di dalam hatinya sambil meraba keris pusaka yang dipakainya, Kyai Setan Kober.

Para prajurit Jipang memacu kudanya semakin kencang, kepulan debu dari kaki-kaki kuda pengawal Kalinyamatan yang berada didepan mereka menjadi semakin dekat.

Anderpati menjadi tidak sabar lagi, ia ingin kudanya dengan sekali lompat bisa menyusul rombongan Pangeran Hadiri, tetapi ternyata jarak yang terbentang masih beberapa ratus langkah lagi.

Para pengawal Kalinyamatan yang memacu kudanya, semuanya telah memasuki sebuah tanah lapang yang luas, kuda-kuda mereka segera diputar berbalik arah menghadap ke arah pasukan yang mengejarnya.

Ki Wasesa segera mengatur posisi kuda menjadi berjajar kesamping kanan dan kiri.

"Menyebar, jangan terlalu rapat !!" teriak Ki Wasesa, lalu para pengawalpun merenggangkan kudanya, bergerak ke arah samping kanan dan kiri.

"Pergunakan luas lapangan ini untuk bertahan" teriak Ki Wasesa.

"Mereka pasti sekelompok prajurit yang terlatih, bukan hanya sekedar sebuah gerombolan liar" kata Ratu Kalinyamat.

"Betul Kanjeng Ratu" kata Ki Wasesa.

"Cabut senjata kalian" perintah Ki Wasesa sambil mencabut senjatanya, sebuah pedang pendek yang selalu tergantung dipinggangnya.

Semua prajurit telah menggenggam senjatanya, sebuah pedang pendek yang telah siap diayunkan untuk menghadapi serangan lawan.

Ratu Kalinyamatpun juga telah menggenggam sebatang pedang tipis, sedangkan di sabuknya masih terselip sebuah patrem, sebuah keris pusaka yang panjang bilahnya hanya sejengkal, sedangkan disebelahnya, terlihat Sarju juga telah menggenggam erat-erat pedang pendeknya.

Pangeran Hadiri telah memegang sebuah pedang pendek, sedangkan keris pusakanya masih menempel di bagian perut sebelah kiri.

"Mereka itu pasukan berkuda dari mana ?" tanya Pangeran Hadiri kepada Ki Wasesa yang berada di punggung kuda disebelahnya.

"Saya tidak tahu Pangeran" jawab Ki Wasesa sambil menatap tajam ke arah pasukan berkuda yang akan menyusulnya.

Pasukan berkuda yang mengejarnya menjadi semakin dekat, tetapi Pangeran Hadiri menjadi tertegun sejenak, ketika melihat pasukan itu memakai secarik kain yang digunakan sebagai penutup wajah.

"Mereka memakai kain penutup wajah" kata Pangeran Hadiri.

"Ya Pangeran, pasukan berkuda itu kelihatannya tidak ingin dikenali berasal dari mana, mereka menutupi wajahnya dengan kain" kata Ki Wasesa dalam hati.

Mata Ki Wasesa tajam menatap pasukan lawan, lalu dibandingkan dengan jumlah pengawal yang dibawanya.

"Seimbang, hanya kalah sedikit" katanya dalam hati.

Didalam pasukan berkuda yang sedang mengejar buruannya, Anderpati yang berada di atas kuda yang berlari paling depan, telah mengangkat tangannya, lalu kuda para prajurit Jipangpun berhenti beberapa puluh langkah didepan pengawal Kalinyamatan.

Tangan Anderpati sudah berada di hulu keris Kyai Setan Kober, matanyapun dengan tajam mencari-cari calon korbannya.

Sesaat kemudian, setelah mengetahui posisi Pangeran Hadiri yang berada di tengah kawalan beberapa orang pengawal Kalinyamatan, maka Anderpati segera berkata :" Sorengpati, Sorengrana, penunggang kuda yang berada di tengah itu adalah Pangeran Hadiri, tugas kalian berdua bersamaku adalah membunuhnya"

"Baik" kata Sorengpati dan Sorengrana hampir bersamaan, merekapun kemudian bersiap untuk menyerang ke arah Pangeran Hadiri.

"Kalian menyerang dari sebelah kiri, aku dari sebelah kanan" kata Anderpati, kemudian iapun memanggil seorang lagi.

"Soka !!" teriak Anderpati memanggil seorang prajurit jipang.

Seorang prajurit menggeser kudanya mendekati kuda Anderpati.

"Soka, kau berada dibelakangku, kau lapis gerakanku untuk menyerang Pangeran Hadiri" kata Anderpati.

"Baik kakang Nderpati" kata Soka.

"Empat orang Jipang, cukup untuk membunuh Pangeran Hadiri" kata Anderpati, dan sesaat kemudian ditangannya telah tergenggam keris Kyai Setan Kober, lalu ketika keris itu diayunkan kedepan, maka berlompatanlah kuda para prajurit Jipang menyerbu pasukan pengawal Kalinyamatan.

Pengawal dari Kalinyamatanpun telah bersiap, mereka telah menggerakkan kudanya maju menyongsong serangan lawannya.

Pangeran Hadiri telah bersiap untuk bertarung diatas punggung kuda, digenggamnya hulu pedangnya erat-erat, siap diayunkan ke pasukan lawan yang menyerangnya.

Disebelahnya, juga telah bersiap pemimpin pengawal Kalinyamatan, Ki Wasesa yang bertugas melindungi Pangeran Hadiri.

Tetapi Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat tertegun ketika melihat salah seorang prajurit berkuda lawannya menggunakan keris sebagai senjatanya.

"Orang itu menggunakan senjata sebuah keris, bukan sebuah pedang pendek" kata Pangeran Hadiri dalam hati.

Benturan pertama antar kedua pasukan berkuda, menimbulkan suara denting beberapa senjata yang beradu.

Sorengpati segera menyerang pangeran Hadiri, tetapi disana ada Ki Wasesa dan beberapa pengawal yang lain.

Ki Wasesa segera memajukan kudanya menyongsong serbuan Sorengpati, dengan sekuat tenaga, pedang pendeknya dibenturkan dengan senjata lawannya, dan keduanya merasa terkejut ketika tangan mereka yang memegang hulu pedang terasa sakit.

Disebelahnya, Sorengrana yang menyerang Pangeran Hadiri, berhadapan dengan salah seorang pengawal Kalinyamatan yang dengan sekuat tenaga melindungi Pangeran Hadiri.

Disebelahnya, Ratu Kalinyamat yang dilindungi oleh Sarju dan beberapa pengawal yang lain, menghadapi serbuan dari tiga orang prajurit lawannya.

Pertempuran semakin riuh, kuda-kuda berlari di tanah lapang yang luas, mereka mencari posisi yang baik untuk menyerang maupun untuk bertahan.

Anderpatipun mulai menyerang Pangeran Hadiri disebelah kanannya, kerisnya terayun ke lengan Pangeran Hadiri, dan Pangeran Hadiripun menghindar dengan menggeser kudanya berlarian memutari tanah lapang.

Dibelakang Anderpati, Sokapun telah mulai menyerang, tetapi pedangnya tertahan oleh benturan pedang seorang pengawal Kalinyamatan.

Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat yang sedang bertempur diatas kudanya, terkejut ketika melihat lawannya yang memakai penutup wajah, bertempur dengan menggunakan senjata sebuah keris yang ternyata telah dikenalnya.

"Kyai Setan Kober" kata Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat hampir bersamaan.

Pangeran Hadiri beserta Ratu Kalinyamat merasa sangat heran, keris Kyai Setan Kober yang baru saja ia kembalikan kepada Sunan Kudus, ternyata saat ini telah berada ditangan orang berkuda yang menyerangnya dengan wajah tertutup secarik kain.

"Siapa orang yang memegang keris Kyai Setan Kober itu ? Bentuk tubuhnya tidak seperti tubuh Arya Penangsang" kata Ratu Kalinyamat dalam hati.

"Dia bukan Penangsang" desis Pangeran Hadiri sambil menggerakkan pedangnya, menangkis serangan pedang pendek lawannya.

Bunga apipun terpercik kesegala arah, ketika dua pedang mereka beradu keras, disusul oleh sebuah tusukan pedang dari Pangeran Hadiri yang berhasil dihindari oleh lawannya.

Pertempuran dua kelompok pasukan berkuda masih berlangsung riuh, pertarunganpun melebar hampir ke pinggir tanah lapang.

Beberapa ekor kuda berlarian silang menyilang, saling berkejaran, menyerang dan menghindar, saling mengintai kelemahan lawan.

Ratu Kalinyamat bukan seorang yang bodoh, perhitungannya cermat, pertimbangannya matang, dan iapun teringat akan cerita salah seorang pengawalnya, Sarju, ketika menyusup ke Kadipaten Jipang Panolan, cerita tentang orang yang sekarang menjadi pemimpin prajurit Jipang yang bernama Anderpati yang merupakan murid Patih Matahun, yang telah diangkat oleh Arya Penangsang mengantikan kedudukan Rangkud yang telah mati di pesanggrahan Prawata,.

Tiga orang prajurit Jipang yang akan menyerang Ratu Kalinyamat tertahan oleh dua orang pengawal Kalinyamatan, dan sesaat kemudian, didalam hiruk pikuk pertempuran berkuda, tanpa diduga Ratu Kalinyamat berteriak nyaring memanggil sebuah nama :"Nderpati !!!!"

Anderpati yang akan menyerang Pangeran Hadiri menjadi terkejut ketika mendengar namanya dipanggil, dan dengan cepat iapun menoleh kearah Ratu Kalinyamat.

Melihat orang yang memegang keris Kyai Setan Kober menoleh ketika namanya dipanggil, itu sudah cukup bagi Ratu Kalinyamat untuk mengetahui asal pasukan berkuda yang telah menyerangnya.

"Ternyata mereka adalah pasukan berkuda dari Jipang" kata Ratu Kalinyamat dalam hati.

Anderpati menyadari kesalahannya, dan iapun menjadi sangat marah, dan semua kemarahannyapun ditumpahkan kepada lawan yang harus dibunuhnya, Pangeran Hadiri.

Dengan cepat kudanya mengejar kuda yang ditunggangi oleh Pangeran Hadiri, iapun mendesak dari sebelah kiri, Pangeran Hadiri memacu kudanya menghindari tusukan keris Kyai Setan Kober, tetapi dari samping kanan menyusul serangan dari prajurit Jipang lainnya, Soka, yang mengayunkan pedangnya menusuk pundak.

Dengan cepat Pangeran Hadiri memukul pedang yang menyerangnya, sehingga pedang lawannya tidak menyentuhnya, tetapi tiba-tiba ia melihat seorang prajurit lawan menggerakkan kudanya akan menyerang ke arah Ratu Kalinyamat.

"Berbahaya" katanya dalam hati.

"Ki Wasesa, kau bantu Kanjeng Ratu, cepat !!!" teriak Pangeran Hadiri

Ki Wasesa terkejut, ia melihat ke arah Ratu Kalinyamat yang sedang beradu pedang dengan seorang prajurit lawan, sedangkan Sarju dan dua orang kawannya telah mendapatkan lawan yang seimbang.

"Cepat Ki Wasesa" teriak Pangeran Hadiri.

Ki Wasesa dengan cepat menggerakkan kudanya menyongsong lawan yang menyerang Ratu Kalinyamat.

Disilangkannya kuda yang ditungganginya untuk menghalangi kuda lawannya sambil tangannya menjulurkan pedang untuk menggapai pundak lawannya.

Lawannyapun dengan cepat memukul pedang yang menyerangnya, dan terdengarlah suara dari dua buah pedang yang saling berbenturan..

Pertempuran semakin seru, suara ringkik kuda terdengar bersahutan, debu mengepul tinggi di atas tanah lapang, beberapa orang dikedua belah pihakpun telah terluka.

Ratu Kalinyamat dengan cepat menggerakkan kudanya ke kanan untuk menghindari serangan seorang prajurit lawan yang menyerang dari sebelah kiri.

Beberapa puluh langkah disebelah timur tempat pertempuran kedua pasukan berkuda, Arya Penangsang duduk diatas kuda hitamnya, Gagak Rimang memandang kepulan debu diatas tanah lapang.

"Mereka telah mulai bertempur, mudah-mudahan Nderpati dapat menyelesaikan tugasnya" kata Arya Penangsang dalam hati.

Adipati Jipang kemudian menggerakkan Gagak Rimang maju beberapa langkah kedepan, agak mendekat ke tempat daerah pertempuran.

Di dalam arena, pertempuran menjadi berat sebelah, Ki Wasesa beserta Sarju bersama seorang pengawal lainnya, berusaha keras untuk menahan serbuan empat orang prajurit lawan, dan terlihat ada seorang penunggang kuda lagi yang siap akan memasuki lingkaran pertempuran mengeroyok Ratu Kalinyamat.

Pangeran Hadiri khawatir, serangan itu hampir tak tertahankan oleh Ki Wasesa dan pengawal lainnya, dan sesaat kemudian, pangeran Hadiripun berteriak :"Ratu, mundur cepat, lari !!! Nanti aku susul !!!

Ki Wasesa tanggap akan perintah Pangeran Hadiri, iapun kemudian berteriak :"Kanjeng Ratu, cepat lari !!"

Ratu Kalinyamat segera memutar kudanya ke arah barat, lalu kuda itupun dilarikannya meninggalkan pertempuran, sedangkan Ki Wasesa, Sarju dan seorang pengawal lainnya melindungi dari kejaran para prajurit penyerang.

Para pengawal dari Kalinyamatan segera menghalangi prajurit yang akan mengejar Ratu Kalinyamat yang telah dilindungi oleh tiga orang pengawalnya.

Pageran Hadiri menarik nafas lega, ketika melihat Ratu Kalinyamat telah berhasil melarikan diri bersama ki Wasesa, dan iapun segera bersiap untuk mundur, tetapi lawannya, Anderpati tidak memberikannya kesempatan untuk menghindar.

Kuda Andetpati segera di larikan dari belakang sebelah kiri, menyerang ke arah Pangeran Hadiri.

Dibelakangnya seorang prajurit Jipang, Soka, membayangi serangannya dan siap membantunya, mengayunkan pedangnya menusuk lawannya.

Pangeran Hadiri terkejut, ia sedang menangkis serangan dari salah seorang prajurit lawan, Sorengpati, tangan kanannya yang memegang pedang dipakai untuk membentur pedang lawannya.

Setelah itu, ketika ia menghindari tusukan pedang Sorengpati, datang pula serangan dari prajurit Jipang lainnya, Sorengrana, yang menyerangnya dengan sebuah sabetan pedang, dan tanpa diduga, dari sebelah kiri datang pula Anderpati yang menyerang dengan keris Kyai Setan Kober .

Keadaan Pangeran Hadiri sangat tidak menguntungkan, tanpa Ki Wasesa yang telah diperintahkan untuk membantu Ratu Kalinyamat, telah membuat dirinya semakin terdesak.

Dua orang pengawal Kalinyamatan yang berada didekatnya telah terikat oleh lawannya masing-masing, sehingga tidak bisa diharapkan bantuannya,

Dengan menggeser tubuhnya ke samping sebelah kiri, Pangeran Hadiri berhasil menghindari sabetan pedang lawannya, tetapi disebelah kirinya terdapat Anderpati yang tangannya masih memegang keris Kyai Setan Kober.

Pangeran Hadiri tak mampu menghindari semua serangan yang datang kepadanya, tusukan pedang Sorengpati berhasil ditangkisnya, dan sabetan pedang Sorengrana telah berhasil dihindarinya, tetapi tanpa diduga, ternyata tubuh Anderpati telah dekat sekali dengan kuda yang ditungganginya, dan tiba-tiba Anderpati menusukkan keris Kyai Setan Kober ke pundaknya.

Pangeran Hadiri terkejut, iapun dengan cepat menggeser tubuhnya ke kanan, tetapi tangan Anderpati bergerak lebih cepat lagi, sehingga ujung keris itu masih mampu menggores lengan kiri Pangeran Hadiri.

Pangeran Hadiri mengeluh tertahan, lengan kirinya seperti tersengat bara, dan sadarlah ia, lengannya telah terkena goresan ujung keris pusaka Kyai Setan Kober.

Lengan kirinya kini terasa lumpuh, dan dengan sisa-sisa tenaganya, maka tangan kanannya melempar pedang pendeknya yang terbang berputar kearah lawannya.

Anderpati tersenyum ketika mengetahui kerisnya telah berhasil menggores lengan kiri Pangeran Hadiri, tetapi senyumnya mendadak hilang, ketika ia melihat Pangeran Hadiri melemparkan pedang kepadanya.

Anderpati dengan cepat memiringkan tubuhnya kesamping, badannya melekat di leher kudanya, dan pedang yang dilontarkan oleh Pangeran Hadiri itupun meluncur hanya berjarak setebal jari dari tubuhnya.

Prajurit Jipang lainnya yang berada di sampingnya, Soka, terkejut ketika melihat Anderpati membungkukkan badannya hampir melekat pada leher kudanya, tetapi Soka lebih terkejut lagi ketika tanpa diduga sebuah pedang berputar melengkung meluncur menuju ke dadanya.

Dengan cepat ia membungkukkan badannya, tetapi terlambat, pedang yang dilempar dengan kekuatan terakhir, telah meluncur lebih cepat lagi, dan sekejap kemudian tanpa dapat ditahan, pundak kanannya telah tertancap pedang yang dilontarkan oleh Pangeran Hadiri.

Tangan kanannyapun terasa lumpuh sehingga pedang yang dipegangnya telah jatuh ke tanah, dan dengan tangan kirinya, Soka berusaha mencabut pedang yang tertancap pada tubuhnya.

Ketika pedang telah dicabut, maka darah telah memancar deras keluar dari tubuhnya, dan dengan tangan kirinya, Soka berusaha membendung keluarnya darah.

Sokapun dengan cemas melihat pundaknya yang terluka, sebuah luka yang dalam dan lebar dan darahnyapun mengalir deras dari sela-sela jarinya.

Dengan sekuat tenaga, Soka bertahan untuk tidak jatuh dari punggung kudanya, tetapi pandangan matanya semakin lama menjadi semakin kabur, masih dilihatnya seorang prajurit Jipang berusaha memegang tali kendali kudanya, setelah itu Soka merasa pandangannya menjadi gelap.

Anderpati hanya sekejap melihat ke arah Soka yang terluka, namun kembali perhatiannya tertuju kepada Pangeran Hadiri yang telah berhasil dilukainya dengan keris Kyai Setan Kober.

Anderpati kembali tersenyum melihat Pangeran Hadiri terjatuh dari kudanya, dan ia percaya kalau Pangeran Hadiri tidak mampu bertahan dari sengatan warangan keris pusaka Kyai Setan Kober.

Sesaat kemudian dari mulut Anderpati terdengarlah perintah untuk mundur, maka perlahan-lahan semua pasukan Jipang telah mundur ke arah timur meninggalkan lawannya, para pengawal Kalinyamatan.

Pertempuranpun telah terhenti, Anderpati kemudian memasukkan keris Kyai Setan Kober ke dalam warangkanya, lalu keris itupun diselipkan di sabuk depan sebelah kiri.

Semua kuda para prajurit Jipang telah berjalan menuju ke timur, meninggalkan lawannya yang masih sibuk dengan jatuhnya Pangeran Hadiri dari punggung kudanya.

Beberapa orang telah terluka, kuda-kuda prajurit Jipang telah berjalan menuju daerah Tanggul Angin ditepi sungai Serang.

"Kakang Nderpati" kata salah seorang prajurit Jipang setelah agak jauh dari daerah bekas pertempuran berkuda.

Anderpati memperlambat kudanya, lalu iapun berkata :"Ada apa ?"

"Soka telah meninggal dunia, terlalu banyak darah yang keluar dari lukanya" kata prajurit itu.

Anderpati melhat ke arah Soka, dilihatnya tubuh Soka rebah di leher kudanya.

"Ya, sekarang kita akan mencari Kanjeng Adipati di sekitar daerah ini" kata Anderpati,

Kuda para prajurit Jipang kembali berjalan, tetapi Anderpati tidak usah menunggu terlalu lama, didepan mereka terlihat seseorang sedang duduk di atas punggung kuda hitam.

"Itu Kanjeng Adipati" kata seorang prajurit yang berkuda disebelahnya.

"Ya, itu Kanjeng Adipati telah menunggu kita" kata Anderpati.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita