Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 59 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 59 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Di bagian tepi sungai yang landai, ada dua buah rakit bambu yang tergeletak, terikat pada sebuah tonggak yang ditancapkan di tepian sungai.

"Ternyata di sungai Serang telah tersedia dua buah rakit, mungkin sudah disediakan oleh kakangmas Prawata yang sering bepergian dari Prawata ke Demak untuk menemui Patih Wanasalam" kata Hadiwijaya dalam hati.

Rombonganpun berhenti di tepi sungai, Tumenggung Gajah Birawa kemudian turun dari kudanya, lalu berjalan mendekati Pangeran Hadiri.


"Kita beristirahat disini Pangeran ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa setelah berada didepan Pangeran Hadiri..


"Ya, Ki Tumenggung" kata Pangeran Hadiri.

Tumenggung Gajah Birawa segera memanggil Rangga Pideksa, dan memerintahkan kepada semua prajurit untuk beristirahat di tepi sungai Serang.

Pemikul tandu kemudian meletakkan tandu yang berisi ibu suri, beberapa penunggang kuda telah turun dari kudanya, lalu para prajurit lainnya kemudian berteduh di bawah pohon yang banyak bertebaran ditepi sungai.

Adipati Hadiwijaya dan Ratu Pajang kemudian turun dari kudanya, demikian juga Pangeran Hadiri beserta Ratu Kalinyamat, merekapun juga turun dari kudanya.

Ke empat orang itu kemudian mendekati tandu joli jempana, lalu membantu ibu suri keluar dari tandunya.

"Wenang Wulan" panggil Adipati Hadiwijaya.

Wenang Wulanpun kemudian mendekat ke tempat Adipati Pajang,

"Wenang Wulan, pasang sebuah tenda ditepi sungai, untuk istirahat Kanjeng Ibu, Kanjeng Ratu dan kakangmbok Ratu Kalinyamat" kata Adipati Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" jawab Wenang Wulan.

Wenang Wulan bersama Juru Martani dan Sutawijaya, segera mendirikan sebuah kemah kecil dari bentangan kain pada bambu yang ditancapkan di pasir yang berada di tepi sungai.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian memerintahkan semua prajurit yang berada dalam rombongan untuk beristirahat dan makan bekal yang telah mereka bawa.

"Makanlah bekal kalian, setelah itu urus kuda-kuda kalian, supaya kuda kalian mampu berjalan sampai ke kotaraja" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Beberapa saat merekapun beristirahat, makan dan minum bekal yang mereka bawa dari Prawata, dan setelah selesai makan, beberapa orang segera mencarikan minum dan makan buat kuda-kuda mereka.

Beberapa orang prajurit masih tetap beristirahat, berbaring dibawah pohon yang berdaun rimbun, menikmati semilir angin yang berhembus ditepi sungai Serang.

Angin yang bertiup perlahan, mengeringkan keringat yang ada di kening mereka, sedangkan perut para prajurit itupun telah kenyang makan bekal yang dibawanya.

"Hm, setelah perutku kenyang, pasti kantukpun datang" kata seorang prajurit yang berbadan agak gemuk.

"Tidurlah, nanti kau akan ditinggal sendiri disini" kata temannya yang juga terlihat sedang menguap.

Hanya beberapa saat rombongan itu beristirahat, dan ketika dianggap waktu istirahat telah dianggap cukup, maka perjalananpun dilanjutkan kembali.

Rangga Pideksa bersama beberapa orang prajurit mengawali penyeberangan dengan naik rakit yang tersedia di tepi sungai.

Secara bergantian, para prajurit menyeberang sungai Serang menuju ke barat, beberapa kali dua buah rakit itu hilir mudik mengangkut para prajurit beserta kuda-kuda mereka.

Tumenggung Gajah Birawa bersama Ibu suri, Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat, beserta Adipati Hadiwijaya dan Ratu Mas Cempaka, juga telah menyeberang ke arah barat.

Tak berapa lama, Rangga Pideksa berjalan mendekati Ki Tumenggung Gajah Birawa.

"Para prajurit sudah menyeberang semua Ki Rangga ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Sudah Ki Tumenggung" jawab Rangga Pideksa, lalu Tumenggung Gajah Birawa kemudian memerintahkan semua prajurit untuk meneruskan perjalanan.

Tak lama kemudian rombonganpun bergerak maju menuju kotaraja Demak.

Matahari terus bergerak perlahan ke arah barat, rombonganpun juga perlahan bergerak menuju kotaraja.

Beberapa kali prajurit pemikul tandu telah berganti dengan para pemikul yang baru.

Rombongan yang membawa tandupun berjalan terus, tanpa berhenti, pemikul tandupun telah berganti orang, pemikul yang lama, telah diganti dengan pemikul yang baru.

Pemikul yang kelelahan kemudian naik ke atas punggung kuda, menggantikan prajurit yang sekarang menjadi pemikul tandu.

Sinar lembayung senja telah memenuhi langit bang kulon, matahari hampir tenggelam ketika rombongan ibu suri naik rakit menyeberangi sungai Tuntang.

"Sebentar lagi kita akan sampai ke kotaraja" kata seorang prajurit yang berada diatas rakit kepada temannya yang berada disebelahnya.

"Ya, aku sudah tahu, sejak lahir sampai sekarang aku selalu berada di kotaraja" jawab temannya sambil bersungut-sungut.

Ketika kegelapan baru saja menyelimuti kotaraja, rombongan ibu suripun telah sampai di Kraton.

Tak lama kemudian, Tumenggung Gajah Birawa segera membubarkan para prajurit yang kelelahan setelah menempuh perjalanan sehari penuh.

Tak lama kemudian para prajurit telah meninggalkan Kraton, kembali pulang, sebagian diantaranya kembali ke dalem lor.

Bumi kotaraja malam itu diselubung kegelapan, sinar bulan sabit tidak mampu menerangi jagat raya, kerlip bintang gubug penceng seakan-akan menari-nari, menuntun orang-orang yang kehilangan arah di alam yang gelap.

Sebuah bintang berekor terlihat dilangit sebelah timur, ekornya yang panjang seperti asap yang mengerucut, kemudian samar-samar ekornyapun menyatu dengan gelapnya malam.

Seorang prajurit yang sedang nganglang tertegun melihat bintang berekor yang sedang melintas, bintang itu seperti terlihat sangat dekat sekali.

"Ada lintang kemukus sedang melintas, akan ada kejadian apa lagi di Kasultanan Demak setelah kematian Sunan Prawata ?" kata prajurit itu dalam hati.

Temannya yang bertubuh kurus, yang berada disampingnya juga melihat ke arah bintang berekor itu, lalu iapun berkata :"Dilangit ada sebuah lintang kemukus, apakah akan ada geger di Kasultanan Demak ?"

Temannyapun menoleh ke arahnya, tetapi ia tidak berkata apapun juga.

"Apakah setelah kematian Sunan Prawata, akan ada kekacauan di Kasultanan Demak ?" kata prajurit yang bertubuh kurus itu,

"Mudah-mudahan tidak" kata temannya.

"Ya, mudah-mudahan tidak, he jangan-jangan lintang kumukus itu ada hubungannya dengan kosongnya dampar kencana di Kasultanan Demak" kata prajurit itu.

Temannyapun sekali lagi menoleh ke arahnya, tetapi ia tidak berkata apapun juga.

"He menurut kau, siapakah nanti yang akan menjadi Sultan Demak selanjutnya, pengganti Sunan Prawata ? Ada Pangeran Hadiri, Adipati Pajang Hadiwijaya, Adipati jipang Arya Penangsang atau Pangeran Timur ? tanya prajurit uang bertubuh kurus.

"Pangeran Hadiri " kata temannya.

"Ya, yang menjadi Sultan nanti adalah Pangeran Hadiri, suami dari Kanjeng Ratu Kalinyamat" kata prajurit yang bertubuh kurus sambil terus berjalan di kegelapan malam.

Gelap malampun perlahan-lahan telah sampai di ujungnya, berganti dengan semburat berwarna merah di ufuk timur.

Meskipun hari berkabung masih belum selesai, tetapi Kanjeng Ratu Kalinyamat telah memutuskan untuk pulang ke Kalinyamat.

Hari masih pagi, di ruang dalam Kraton Demak, Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat sedang menghadap ibu suri, mereka pamit akan pulang ke Kalinyamat.

"Kau akan pulang ke dalem Kalinyamatan sekarang Ratu ?" tanya ibu suri kepada putrinya.

"Ya, Kanjeng ibu, nanti sepasar lagi setelah hari berkabung selesai, kami berdua akan ke Kudus, pulangnya akan singgah ke Demak lagi" kata Ratu Kalinyamat.

"Kanjeng ibu, disini masih ada diajeng Cempaka dan adimas Hadiwijaya yang akan menemani ibu selama beberapa hari" kata Pangeran Hadiri.

"Ya". Jawab ibu suri.

Siang itu Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat pulang ke dalem Kalinyamatan dikawal oleh belasan pengawal pesanggrahan Kalinyamat yang dipandegani oleh Ki Wasesa.

Perjalanan yang lancar, jarak dari Demak ke Kalinyamatan juga tidak begitu jauh, sehingga ketika sebelum matahari terbenam, rombongan Ratu Kalinyamat telah sampai di Kalinyamatan.

Sementara itu, beberapa hari kemudian, di suatu pagi yang cerah, ketika Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat berada di ruang dalam, masuklah Ki Wasesa bersama Sarju yang baru pulang dari Jipang.

"Kanjeng Ratu, ini Sarju yang baru saja datang dari Jipang, akan memberikan laporan" kata Ki Wasesa.

"O ya, kau Sarju, kapan kau datang dari Jipang ?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Pagi tadi Kanjeng Ratu, setelah dari Jipang, saya menemui Ki Wasesa, lalu bersama Ki Wasesa, diajak menuju kemari" jawab Sarju.

"Apa yang kau lihat di Jipang, Sarju ?" tanya Sang Ratu.

"Di Jipang terdapat kesibukan yang luar biasa Kanjeng Ratu, setiap hari semua prajurit Jipang berlatih olah kanuragan, latihan perang-perangan, mereka berlatih seakan-akan besok pagi Jipang mau berperang" cerita Sarju.

"Yang menarik, kata seorang warga Jipang, orang yang melatih para prajurit adalah belasan prajurit Jipang yang berasal dari lereng gunung Lawu" kata Sarju.

"Berasal dari lereng gunung Lawu ? Siapakah mereka ?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Menurut cerita orang Jipang yang saya temui, mereka semua berasal dari Padepokan Sekar Jagad" kata Sarju.

"Mereka adalah murid dari Panembahan Sekar Jagad dari lereng gunung Lawu ?" kata Pangeran Hadiri.

"Betul Pangeran, mereka murid Panembahan Sekar Jagad" kata Sarju.

"Ya, lalu mengenai Rangkud, apakah betul Rangkud adalah orang Jipang ?" tanya Pangeran Hadiri.

"Betul Pangeran, Rangkud adalah pandega para prajurit Jipang, setelah Rangkud mati, kedudukan pimpinan prajurit Jipang dipegang oleh Nderpati" cerita Sarju selanjutnya.

"Nderpati, siapa dia ?" kata Ratu Kalinyamat.

"Ya Kanjeng Ratu, Nderpati adalah satu-satunya murid dari Ki Patih Matahun" kata Sarju.

"Ilmu kanuragan Patih Matahun sangat tinggi, susah diukur, Nderpati adalah orang yang sangat berbahaya" kata Pangeran Hadiri sambil menggangguk-anggukkan kepalanya, ia menilai Jipang saat ini memang telah siap berperang.

"Nanti di Kraton akan aku bicarakan dengan Adimas Hadiwijaya sepulang dari Panti Kudus" kata Pangeran Hadiri dalam hati.

Pengawal yang masih muda, Sarju masih bercerita tentang perjalanannya ke Jipang, serta mengenai apa yang dilihatnya di Jipang.

Sementara itu, Adipati Hadiwijaya masih akan berada di dalam Kraton sampai beberapa hari kedepan dan mulai saat itu Pangeran Pangiri yang berumur lima warsa, kini berada di dalam Kraton, di asuh oleh eyang putri.

Pagi hari yang cerah di ruang dalam Kraton Kilen, Adipati Hadiwijaya sedang berbincang dengan para pengikutnya.

"Kakang Pemanahan, sebelum pulang ke Pajang, lusa, aku ingin pergi ke Kadilangu, aku ingin di pesantren sehari penuh, kau bersama kakang Penjawi akan aku ajak kesana, sedangkan Wenang Wulan tetap di Kraton Kilen menjaga keselamatan Ratu Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

Wenang Wulanpun menyatakan kesanggupannya menjaga Ratu Mas Cempaka.

Adipati Hadiwijaya mengeser duduknya, kemudian bertanya kepada anaknya.

"Sutawijaya, kau akan ikut ke Kadilangu ?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Kalau diperkenankan ayahanda, ananda ingin bertemu dengan Kanjeng Sunan Kaljaga" kata Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Baik, kau ikut ke Kadilangu, Sutawijaya" kata ayahnya, Adipati Hadiwijaya.

"Terima kasih ayahanda" jawab Sutawjaya.

"Kakang Juru Martani, kakang juga ikut ke Kadilangu" ajak Hadiwijaya.

"Baik, Kanjeng Adipati" kata Juru Martani.

Sementara itu, ketika Adipati Hadiwijaya sedang berincang dengan pengikutnya di Kraton Kilen, pada saat yang sama, di dalem Kadipaten Jipang, Arya Penangsang sedang berada di ruang dalam bersama Patih Matahun, Anderpati, dan dua orang prajurit Jipang yang berasal dari Padepokan Sekar Jagad, Sorengpati dan Sorengrana.

"Paman Matahun, bagaimana jalannya latihan para prajurit Jipang beberapa hari ini ?" tanya Adipati jipang, Arya Penangsang.

"Para prajurit Jipang memang luar biasa Kanjeng Adipati, mereka bersemangat sekali dilatih oleh Nderpati maupun oleh kedua Soreng ini" kata patih Matahun.

"Bagus paman, apakah selama ini mengenai para prajurit Kadipaten Jipang tidak mengalami kesulitan paman" tanya Penangsang lagi.

"Tidak ada kesullitan apapun, malah para prajurit sangat senang, mereka bisa meningkatkan kemampuan kanuragan mereka, yang dapat dipergunakan untuk membela tanah pusaka kita, Jipang Panolan, Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun

"Bagus paman, lalu bagaimana pertimbanganmu tentang keris Kyai Setan Kober yang kini masih di kuasai oleh prajurit Wira Tamtama saat di pesanggrahan Prawata ?" tanya Arya Penangsang.

"Sebaiknya tetap seperti rencana semula, Kanjeng Adipati menghadap Kanjeng Sunan Kudus, kemudian minta pertimbangan langkah apa yang sebaiknya akan Kanjeng Adipati lakukan" kata Patih Matahun.

"Baik Paman, kalau begitu paman aku tinggal dulu ke Kudus, Nderpati, kau ikut aku, kita akan berangkat ke Kudus" kata Adipati Jipang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Sorengpati dan Sorengrana, kau bawa dua puluh lima orang prajurit Jipang yang berasal dari gunung Lawu, sisanya yang lima orang tetap berada di Jipang, membantu paman Matahun melatih para prajurit Jipang" kata Arya Penangsang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Sorengpati dan Sorengrana hampir bersamaan.

"Kenapa membawa para prajurit banyak sekali Kanjeng Adipati ?" tanya Patih Matahun.

"Ya paman, saat ini situasi di dalam Kasultanan Demak semakin tidak menentu, kita harus siap bertempur, kalau nanti bertemu dengan rombongan dari Pajang ataupun dari Kalinyamat" kata Penangsang selanjutnya.

Patih Matahunpun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berbicara apapun.

"Kita berangkat besok pagi, semua prajurit supaya naik kuda" kata Adipati Jipang.

Beberapa saat mereka masih berbincang tentang latihan para prajurit Jipang yang telah mereka lakukan beberapa waktu yang lalu.

Waktupun berjalan terus, siang berganti malam, dan malampun berganti menjadi pagi.

Pagi itu, ketika matahari baru saja terbangun dari tidurnya, didepan dalem Kadipaten Jipang telah bersiap dua puluh lima ekor kuda yang akan dipergunakan oleh prajurit Jipang yang berasal dari Padepokan Sekar jagad di lereng gunung Lawu.

Disebelahnya ada seekor kuda gagah yang berwarna hitam, kuda kesayangan Arya Penangsang, Gagak Rimang.

Didekatnya juga ada kuda yang akan ditunggangi oleh pemimpin prajurit Jipang, Anderpati.

Para prajurit yang akan berangkat ke Kudus telah berdatangan di depan pendapa,

"Jangan lupa pedang pendek kalian" kata Anderpati kepada beberapa orang prajurit Jipang yang berada didekatnya.

"Sudah kakang Nderpati" kata salah seorang prajurit Jipang.

Sorengpati dan Sorengrana juga telah siap di depan pendapa, bergabung dengan para prajurit lainnya.

Tak lama kemudian dari pendapa telah berjalan Adipati Jipang Arya Penangsang bersama Patih Matahun, mereka berjalan menuju ke tempat para prajurit.

"Nderpati, Sorengpati dan Sorengrana, kalian semua sudah siap ?" tanya Arya Penangsang.

"Sudah Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Baik" kata Arya Penangsang, kemudian iapun segera naik ke punggung Gagak Rimang.

Anderpati dan semua prajurit Jipang lainnya juga naik ke punggung kudanya masing-masing.

Setelah semuanya siap, maka adipati Jipang kemudian bersiap untuk berangkat.

"Paman Matahun, aku berangkat dulu" kata Arya Penangsang.

"Silahkan Kanjeng Adipati, hati-hati dijalan" kata Patih Matahun.

Arya Penangsang segera menjalankan Gagak Rimang meninggalkan dalem Kadipaten Jipang, dibelakangnya diikuti oleh Anderpati dan dua puluh lima prajurit Jipang.

Patih Matahun, patih Kadipaten Jipang Panolan yang rambutnya telah memutih, memandang rombongan prajurit berkuda Kadipaten Jipang yang mulai berlari menuju Panti Kudus.

"Mudah-mudahan pembicaraan dengan Kanjeng Sunan Kudus berhasil mendapatkan jalan untuk mengembalikan keris Kyai Setan Kober, sehingga Kanjeng Adipati Arya Penangsang bersama para prajurit Jipang tidak perlu membongkar pesanggrahan Prawata, pesanggrahan Kalinyamat, Kadipaten Pajang maupun Kraton Demak" kata Patih Matahun dalam hati.

Patih Matahun masih memandang debu yang mengepul dijalan, sampai kuda-kuda itu tidak terlihat lagi.

Dua puluh tujuh ekor kuda berpacu meninggalkan dalem Kadipaten Jipang, orang yang berkuda paling depan, Adipati Jipang Arya Penangsang mengendarai kuda kesayangannya, kuda tegar yang berwarna hitam, Gagak Rimang.

Dibelakang kuda Gagak Rimang, berpacu dua puluh enam prajurit Jipang yang tidak mengenakan pakaian keprajuritan, mereka hanya memakai pakaian sehari-hari.

Kuda-kuda itu berpacu berurutan, debupun mengepul dari derap kaki kuda yang semuanya berlari kencang.

"Kanjeng Adipati memacu Gagak Rimang, supaya sore nanti kita sudah sampai di Kudus" kata Anderpati dalam hati.

Rombongan prajurit berkuda dari Jipang terus berderap kearah utara, beberapa kali mereka memberi kesempatan kuda-kudanya untuk minum serta beristirahat, dan ketika matahari hampir mencapai puncaknya, merekapun telah mencapai setengah perjalanan.

Beberapa saat kemudian, rombongan prajurit Jipang telah berhenti dan beristirahat, mereka makan bekal yang telah mereka bawa.

"Panggil Nderpati, Sorengpati dan Sorengrana kemari" kata Arya Penangsang kepada seorang prajurit yang berada di dekatnya.

Tak lama kemudian tiga orang prajurit Jipang itupun telah duduk dihadapannya.

"Nderpati, Sorengpati dan kau Sorengrana, kali ini tugas kalian adalah berat, apabila nanti Kanjeng Sunan Kudus tidak bisa memberi jalan keluar mengenai kerisku Kyai Setan Kober yang dikuasai oleh para prajurit Wira Tamtama Kasultanan Demak, maka setelah dari Kudus, kita akan bergerak mencari keris itu ke pesanggrahan Prawata, ke pesanggrahan Kalinyamat, atau ke Kadipaten Pajang, bahkan mungkin keris itu sekarang telah disimpan di penyimpanan pusaka kraton Demak" kata Arya Penangsang.

"Nah, kalian bertiga bersama para prajurit yang lain harus dalam kesiapan tempur, setiap saat kita bisa bertempur dengan pihak manapun" kata Adipati jipang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata mereka bertiga.

Tidak banyak waktu yang mereka gunakan untuk beristirahat, setelah dirasa cukup, merekapun melanjutkan perjalanan kembali, kuda-kuda mereka yang kelelahan terus di pacu menuju Kudus.

Ketika matahari telah jauh condong ke barat, maka Adipati Jipang menghentikan kudanya, lalu iapun memanggil Anderpati, Sorengpati dan Sorengrana.

"Kita sudah sampai di daerah Kudus, sedikit ke barat adalah sungai Serang, sedangkan disebelah utaranya adalah daerah Tanggul Angin" kata Arya Penangsang .

"Nderpati, Sorengpati dan kau Sorengrana, kita berpisah disini, aku bersama Nderpati akan menuju Panti Kudus, sedangkan kau Sorengpati dan Sorengrana bersama prajurit Jipang, semuanya bermalam di hutan, di tepi sungai Serang, agak di sebelah selatan daerah Tanggul Angin" kata Arya Penangsang.

"Ingat, kalian jangan terlalu dekat dengan jalan yang menuju ke Demak, kalian harus bersembunyi di hutan, jangan sampai ada seorangpun yang tahu kalau ada dua puluh lima prajurit Jipang bermalam di dalam hutan di Kudus" kata Sang Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Sorengpati dan Sorengrana hampir bersamaan

"Aku bersama Nderpati akan bermalam di Panti Kudus, dan akan pulang menemui kalian besok siang atau sore harinya" kata Penangsang.

"Kita berpisah sekarang, ayo Nderpati, ikut aku ke Panti Kudus" kata Arya Penangsang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Sorengpati dan Sorengrana, aku berangkat dulu" kata Adipati Jipang.

"Silakan Kanjeng Adipati" kata Sorengpati.

Sesaat kemudian kuda gagah Gagak Rimang telah berlari kearah utara menuju Panti Kudus, di belakangnya berlari kuda yang ditunggangi oleh Anderpati, pandega para prajurit Jipang.

Sorengpati dan Sorengrana kemudian membawa para prajurit Jipang menuju ke hutan disebelah selatan daerah Tanggul Angin, dan merekapun telah bersiap untuk bermalam di hutan itu .

Perjalanan Arya Penangsang ke Panti Kudus hanya sekejap, jarak yang tidak begitu jauh hanya ditempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Ketika kuda hitam Gagak Rimang bersama seekor kuda lainnya memasuki regol Panti Kudus, maka beberapa orang santri berlarian menyambutnya.

Kedua orang Jipang Panolan itu kemudian turun dari kudanya, lalu tali kendali kuda itu diberikan kepada para santri itu.

"Kanjeng Sunan Kudus berada di tempat ?" tanya Arya Penangsang kepada santri yang berada didekatnya. 

"Ada, Kanjeng Sunan Kudus saat ini sedang berada di ruang dalam, Kanjeng Adipati" jawab santri itu.

Arya Penangsang bersama Anderpati kemudian mencuci kaki, lalu keduanya naik ke pendapa.

Sunan Kudus yang mendapat laporan dari seorang santri, kalau ada tamu Adipati Jipang, bergegas keluar dari ruang dalam menuju pendapa.

"Kau Penangsang" kata Sunan Kudus

Arya Penangsang mencium tangan gurunya, setelah itu Anderpatipun juga mencium tangan Sunan Kudus.

"Kau selamat Penangsang ?" tanya Sunan Kudus.

"Atas doa restu Bapa Sunan, saya dalam keadaan sehat" kata Penangsang.

"Duduklah Penangsang" kata Sunan Kudus mempersilahkan muridnya duduk di pendapa.

"Terima kasih bapa Sunan" kata Arya Penangsang, lalu iapun duduk di amben berhadapan dengan Sunan Kudus, disusul oleh Anderpati, duduk dibelakangnya.

"Kau hanya pergi kesini berdua saja ?" tanya Sunan Kudus.

"Ya Bapa Sunan, berdua dengan Nderpati" kata Arya Penangsang, dan Anderpatipun mengangguk hormat.

"Kau akan menginap disini berapa hari Penangsang ?" tanya gurunya.

"Semalam saja bapa Sunan, besok siang atau sore saya akan pulang ke Jipang" jawab Penangsang.

"Dulu kau pernah berkata, akan menginap disini empat lima malam Penangsang" kata Sunan Kudus.

"Ya, tetapi kalau menginap agak lama, saat ini waktunya kurang tepat, bapa Sunan" kata Adipati Jipang.

Pembicaraan merekapun terhenti karena ada santri yang keluar dari ruang dalam sambil membawa sebuah kendi yang berisi air.

Mereka masih berbincang bertiga, lalu beberapa saat kemudian Sunan Kuduspun berkata :"Kalian berdua mandi dulu, sebentar lagi sudah masuk waktu maghrib, kita nanti sholat Maghrib berjamaah"

"Ya bapa Sunan" jawab Penangsang.

"Nanti setelah sholat Isya dan makan malam, kita berbicara tentang persoalan kita semua" kata Sunan Kudus.

"Baik bapa Sunan" kata Arya Penangsang, lalu iapun bangkit berdiri diikuti oleh Anderpati, kemudian mereka berdua berjalan menuju pakiwan.

Perlahan-lahan gelap telah menyelimuti bumi Kudus, kentongan telah berbunyi menandakan telah masuk waktu maghrib, alam menjadi sejuk, anginpun bertiup perlahan mengusap tangan para santri yang sedang mengambil air wudhu.

Sunan Kudus yang bertindak sebagai imam, memimpin para santri beserta tamunya Arya Penangsang dan Anderpati, melakukan sholat berjamaah di masjid pesantren Kudus.

Ketika gelap semakin pekat, setelah mereka melaksanakan sholat Isya , Arya Penangsang bersama Anderpati dipersilahkan untuk makan malam.

Tak lama setelah mereka selesai makan malam, di ruang dalam, terlihat Sunan Kudus sedang duduk, dihadap oleh muridnya Arya Penangsang dan pemimpin prajurit Jipang, Anderpati.

Dihadapan Sunan Kudus, Arya Penangsang bercerita tentang peristiwa yang terjadi di pesanggrahan Prawata, yang telah menewaskan Sultan Demak dan Prameswari.

"Jadi kau yang mengutus Rangkud untuk membunuh Sunan Prawata ?" tanya Sunan Kudus.

"Ya Bapa Sunan, karena Sunan Prawata yang telah membunuh ayahanda Sekar Seda Lepen" kata Arya Penangsang.

Sunan Kudus mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu iapun kemudian bertanya :"Kenapa Kanjeng Prameswari juga dibunuh? Prameswari tidak ada sangkut paut dengan hutang nyawa Sunan Prawata kepadamu"

"Saya tidak memerintahkan Rangkud untuk membunuh Prameswari, bapa Sunan" kata Penangsang.

"Ya tetapi kenyataannya Kanjeng Prameswari telah terbunuh bersama Sunan Prawata" kata gurunya.

"Ya bapa Sunan, tetapi tidak seorangpun yang mengetahui apa yang sebenarnya yang telah terjadi di pesanggrahan Prawata, bahkan Gendon yang telah berhasil masuk ke pesanggrahanpun tidak mengetahuinya" kata Adipati Jipang.

"Ya, tetapi sekarang semua orang telah mengetahui, kalau yang membunuh Sunan Prawata dan Prameswari adalah kau Penangsang" kata Sunan Kudus.

"Betul bapa Sunan" kata Arya Penangsang.

"Korban telah jatuh, dan sekarang kau tidak dapat surut kembali" kata Sunan Kudus.

"Ya bapa Sunan, saya tidak akan mundur, apa boleh buat, semua akan saya hadapi, apapun yang akan terjadi" kata Penangsang.

Mendengar perkataan muridnya, Sunan Kudus hanya mengangguk-anggukkan kepalanya

"Kini kriwikan telah menjadi grojogan, sepeninggal Sunan Prawata, dampar kencana Kasultanan Demak menjadi kosong, dan saya adalah keturunan laki-laki dari eyang Patah" kata Arya Penangsang.

Sunan Kudus hanya berdiam diri, mendengarkan semua perkataan muridnya.

"Sekarang masalahnya telah berubah menjadi besar, masalah sekarang adalah masalah tahta Demak yang kosong, bagaimanakah pendapat bapa Sunan, apakah saya berhak menjadi Sultan Demak ?" tanya Penangsang.

"Ya, sebaiknya seorang Sultan adalah seorang laki-laki, kau memang keturunan laki-laki langsung dari Sultan Patah, Adipati Hadiwijaya dan Pangeran Hadiri hanya seorang menantu Sultan Trenggana, sedangkan anak bungsu Sultan Trenggana, Pangeran Timur masih anak anak, apalagi Pangeran Pangiri, anak dari Sunan Prawata yang baru berusia lima warsa" kata Sunan Kudus.

Adipati Jipang Arya Penangsang dan pemimpin prajurit jipang, Anderpati hanya berdiam diri mendengarkan perkataan dari Sunan Kudus.

"Bagaimana dengan kerismu Kyai Setan Kober, Penangsang ?" tanya Sunan Kudus.

"Bapa Sunan, justru itu yang akan saya tanyakan kepada Bapa Sunan, apa yang sebaiknya saya lakukan supaya keris Kyai Setan Kober dapat kembali kepadaku, kembali menjadi sipat kandel Kadipaten Jipang" jawab Arya Penangsang.

Suasana menjadi hening, Sunan Kudus sedang berpikir keras, mempertimbangkan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh muridnya yang telah kehilangan pusakanya keris Kyai Setan Kober.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita