Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 58 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 58 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Aku akan berada di pesangrahan ini menemani Kanjeng ibu sampai Kanjeng ibu pulang kembali ke Demak, nanti setelah masa berkabung telah berakhir, aku akan pergi ke Panti Kudus, menyerahlan keris Kyai Setan Kober kepada pemiliknya, Kanjeng Sunan Kudus" kata Ratu Kalinyamat dalam hati.

"Apakah nanti Kanjeng Sunan Kudus akan ingkar dan mengelak, tidak akan mengakui kalau keris Setan Kober adalah miiknya ?" kata istri Pangeran Hadiri dalam hatinya.

"Apakah nanti Kanjeng Sunan Kudus akan membela dan melindungi murid sekaligus kemenakannya, Penangsang, yang sudah jelas menjadi dalang dari terbunuhya kakangmas Prawata?" geremang Sang Ratu


"Tidak mungkin kalau Rangkud membunuh kakangmas Prawata karena disuruh oleh Kanjeng Sunan Kudus" kata Ratu Kalinyamat yang terus menghitung semua kemungkinan yang bisa terjadi.


"Tidak mungkin Rangkud yang berasal dari Jipang dapat membawa keris Kyai Setan Kober kalau bukan karena disuruh oleh Penangsang yang merupakan murid dari Kanjeng Sunan Kudus" kata Ratu Kalinyamat.

Ratu Kalinyamat masih terus berangan-angan sampai akhirnya setelah lewat tengah malam, tanpa disadari Sang Ratupun telah tertidur.

Menjelang fajar menyingsing, suara kokok ayam jantan terdengar bersahut-sahutan dan pada saat itu bumi Prawatapun telah terbangun.

Sementara itu, di pinggir jalan yang terletak di sebelah utara gunung Kemukus, ada sebuah kemah yang dihuni oleh ayam jantan dari Pengging, Karebet, yang telah menjadi Adipati di Pajang dan namanyapun telah berubah menjadi Adipati Hadiwijaya.

Pagi itu, semua rombongan dari Pajang telah terbangun dari tidurnya, merekapun segera membersihkan dirinya di sebuah sungai yang mengalirkan air yang bening.

Setelah membersihkan diri disebuah sungai yang tak jauh dari tempat mereka bermalam, merekapun bersiap untuk melanjutkan perjalanannya ke Prawata.

Beberapa kain panjang yang semalam telah direntangkan untuk dibuat kemah, segera dilipat dan dimasukkan dalam bungkusan, lalu dikaitkan pada sebuah kaitan di samping pelana kuda.

Adipati Hadiwijaya yang sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan, segera naik ke punggung kudanya, diikuti oleh Ratu Pajang, Pemanahan, Penjawi, Wenang Wulan, Juru Martani dan Sutawijaya,.

Sesaat kemudian tujuh ekor kuda berlari lurus ke utara, menuju arah Prawata.

Ratu Pajang yang dulu sewaktu berada di Kaputren belum bisa mengendarai kuda, sekarang sudah trampil berpacu diatas punggung seekor kuda.

Ratu Mas Cempaka yang telah memakai pakaian khusus, terlihat lincah mengendarai kuda tunggangannya, tangan kanannya memegang kendali kuda, pandangan matanya lurus kedepan, gerak tubuhnya mengikuti irama kuda yang sedang melaju cepat.

Di siang hari, mataharipun memancarkan sinarnya yang panas, dan ketika matahari telah berada dekat cakrawala di sebelah barat, lembayung senjapun telah membayang menghiasi langit, pada saat itulah tujuh ekor kuda rombongan dari Pajangpun telah berada dipinggir hutan Prawata.

"Sebentar lagi kita akan tiba di pesanggrahan Prawata" kata Adipati Hadiwijaya kepada Ratu Mas Cempaka, yang segera melambatkan lari kudanya, lalu diikuti oleh semua orang dalam rombongannya.

Beberapa saat kemudian, tujuh ekor kuda yang berlari tidak terlalu kencang telah memasuki regol pesanggrahan Prawata.

Didepan pendapa pesanggrahan, mereka semua kemudian turun dari punggung kudanya

Beberapa prajurit Wira Tamtama yang sedang bertugas segera berlari mendekat, mereka membantu menurunkan bungkusan yang masih berada di samping pelana kuda.

Dua orang prajurit segera meminta tali kendali kuda dari Adipati Hadiwijaya dan Ratu Mas Cempaka, lalu membawa kuda itu ke halaman belakang pesanggrahan.

Beberapa abdi pesanggrahan juga telah berdatangan, kemudan mereka membawa kuda para tamu ke halaman belakang.

Seorang prajurit memberitahukan kedatangan Adipati Pajang kepada Pangeran Hadiri beserta Ratu Kalinyamat, ibu Suri maupun ke Tumenggung Gajah Birawa.

"Dimana Cempaka sekarang" tanya Ratu Kalinyamat.

"Sedang menuju ke pendapa Kanjeng Ratu" jawab prajurit Wira Tamtama itu.

Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadiri segera menuju ke pendapa, dan tak lama kemudian Pangeran Hadiri menyalami Adipati Hadiwijaya, sedangkan Ratu Kalinyamat telah berpelukan dengan adiknya Ratu Mas Cempaka.

"Kau terlambat Cempaka, kau tak sempat melihat kakangmas Prawata dimakamkan" kata Ratu Kalinyamat.

Ratu Mas Cempaka tak mampu menjawab, Ratu Pajang hanya bisa menangis di pelukan kakaknya, Ratu Kalinyamat.

"Mari kita menghadap Kanjeng ibu" kata Ratu Kalinyamat. Kemudian mereka berempat segera berjalan menuju kamar ibu suri, dan tangis Ratu Mas Cempakapun semuanya ditumpahkan disana.

Sambil sungkem di pangkuan ibundanya, Ratu Pajangpun menangis membasahi kain yang dipakai ibundanya.

"Kedua kakakmu sudah dimakamkan kemarin Ajeng" kata ibu suri perlahan, air matanyapun jatuh di kepala anak kesayangannya.

"Ya Kanjeng ibu" kata Ratu Mas Cempaka disela-sela tangisnya.

"Kau tak sempat melihatnya Ajeng" kata ibu suri.

"Ya Kanjeng ibu" tangis Ratu Pajang, yang masih dipanggil oleh ibundanya dengan panggilan kesayangan, Ajeng.

Beberapa saat mereka berdua masih menangis, menumpahkan air mata, menumpahkan segala kesedihan dan kerinduan mereka yang hampir tiga warsa tidak pernah berjumpa.

Setelah tangisnya mereda, maka mereka kemudian duduk di atas tikar yang berada dalam kamar ibu suri.

Adipati Hadiwijaya kemudian sungkem kepada ibu suri, sesaat kemudian ibu suripun berkata :"Kau selamat Hadiwijaya"

"Ya Kanjeng ibu, atas doa restu Kanjeng ibu, saya dan Ratu Mas Cempaka dalam keadaan selamat" kata Adipati Hadiwijaya.

Untuk beberapa saat, mereka masih berada didalam kamar, berbincang-bincang melepas rindu.

"Kau terlihat agak gemuk sekarang Ajeng" kata ibu suri.

"Ya Kanjeng ibu" kata Ratu Pajang.

Setelah beberapa saat mereka berbincang didalam kamar, maka Adipati Hadiwijayapun ingin membersihkan dirinya di sumur pesanggrahan.

"Kanjeng ibu, saya akan membersihkan diri dulu di pakiwan" kata Adipati Pajang.

"Ya Hadiwijaya, setelah ini ajak Ajeng untuk beristirahat, kasihan dia sangat lelah" kata ibu suri.

"Terima kasih Kanjeng ibu" kata Hadiwijaya, lalu ia bersama Pangeran Hadiri, Ratu Mas Cempaka dan Ratu Kalinyamat segera keluar dari kamar ibu suri.

Di depan pintu, Adipati Hadiwijaya disalami oleh seorang Tumenggung Wira Tamtama yang bertubuh tinggi besar, yang telah beberapa saat menunggunya di pendapa pesanggrahan, dibelakangnya juga telah berdiri seorang Rangga yang sangat dikenalnya.

"Kanjeng Adipati Hadiwijaya semakin bertambah umur, semakin luar biasa" kata Tumenggung yang bertubuh tinggi besar sambil mengulurkan tangannya.

"Lama tidak berjumpa Ki Tumenggung Gajah Birawa, semakin tua semakin gagah" kata Adipati Hadiwijaya,lalu iapun mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Tumenggung Gajah Birawa.

"Saya sudah semakin pikun Kanjeng Adipati, dua tiga warsa lagi mungkin saya akan mengundurkan diri dari semua tugas keprajuritan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Adipati Hadiwijayapun tersenyum, meskipun Tumenggung Gajah Birawa adalah seorang Tumenggung yang berbadan tinggi besar, tetapi mempunyai hati yang lembut.

Di belakang Tumenggung Gajah Birawa, seorang Rangga yang merasa berhutang nyawa kepada Adipati Hadiwijaya maju kedepan sambil mengulurkan tangannya.

"Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata perwira Wira Tamtama itu.

"Ki Rangga Pideksa, Ki Rangga semakin matang sekarang" kata Adipati Hadiwijaya

Rangga Pideksa tidak menjawab, ia hanya tersenyum, ketika ia teringat sewaktu berada di dekat muara sungai Tuntang pada saat ia bertempur melawan Klabang Ireng dan Klabang Ijo.

"Kalau saat itu tidak ada Karebet, aku tentu sudah mati dibunuh Klabang Ireng" kata Rangga Pideksa dalam hati, yang selalu teringat akan peristiwa yang telah lalu

Setelah berbincang sejenak, maka Adipati Hadiwijaya kemudian berkata :"Saya akan ke pakiwan dulu Ki Tumenggung"

"Silakan Kanjeng Adipati" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Malam itu Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka bermalam di pesanggrahan Prawata, sedangkan Pemanahan beserta para pengikutnya yang lain menempati rumah yang terletak di belakang tidak jauh dari dalem pesanggrahan, bersebelahan dengan rumah yang ditempati oleh para pengawal dari Kalinyamat.

Malampun cepat berlalu, berganti menjadi pagi yang cerah di bumi Prawata.

Ketika tinggi matahari telah sepenggalah, sepulang dari makam Sunan Prawata dan Prameswari, maka Pangeran Hadiri mengajak Adipati Hadiwijaya untuk berbicara mengenai keadaan Kasultanan Demak setelah meninggalnya Sunan Prawata.

Tak lama kemudian, diruang dalam pesanggrahan, telah berkumpul beberapa orang yang duduk diatas tikar, Adipati Hadiwiaya bersama Ratu Mas Cempaka, disebelahnya ada Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat, serta Tumenggung Gajah Birawa.

Tidak ketinggalan pula, di belakang Adipati Hadiwijaya telah duduk nayaka praja Pajang, Pemanahan dan Penjawi yang diajak hadir di pertemuan ini.

"Adimas Hadiwijaya, marilah kita bicarakan kelangsungan dari Kasultanan Demak, setelah meninggalnya kakangmas Sunan Prawata" kata Pangeran Hadiri.

"Baik kakangmas Hadiri, tetapi sebelumnya saya ingin mendengar tentang kejadian pembunuhan yang terjadi pada malam itu" kata Hadiwijaya.

"Ya adimas, memang aku akan cerita tentang apa yang aku ketahui mengenai terbunuhnya kakangmas Sunan Prawata dan Prameswari, disini ada Ki Tumenggung Gajah Birawa, kalau nanti adimas merasa kurang jelas, adimas bisa minta keterangan kepada Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Pangeran Hadiri.

"Ya kakangmas" kata Adipati Pajang.

Pangeran Hadiri kemudian bercerita tentang terbunuhnya Sunan Prawata dan Prameswari.

"Jadi Rangkud juga mati terkena keris Kyai Bethok?"

"Ya, keris Kyai Bethok tertancap di kaki Rangkud" jawab Pangeran Hadiri.

"Kalau pada malam itu orang Jipang yang bernama Rangkud berhasil melarikan diri, maka pembunuhan ini tidak akan terungkap" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya " sela Ratu Kalinyamat :"Pembunuh yang sebenarnya adalah Adipati Jipang, Arya Penangsang !"

Semua yang hadir diruang dalam, terdiam mendengar tuduhan dan perkataan yang keras dari Ratu Kalinyamat.

"Tetapi, apakah keris yang dipakai untuk membunuh kakangmas Prawata dan Prameswari adalah betul-betul keris Kyai Setan Kober ?" tanya Adipati Hadiwijya.

"Ya, Ki Sempana pernah melihat keris itu, dan iapun berani mempertaruhkan nyawanya, ia berkata kalau keris itu adalah keris Kyai Setan Kober milik Kanjeng Sunan Kudus" kata Pangeran Kalinyamat.

"Hm keris Kyai Setan Kober telah mulai berkeliaran, saat ini tiga orang telah menjadi korbannya, tidak tertutup kemungkinan nanti pada suatu saat keris itu akan sampai di Pajang" kata Adipati Hadiwijaya, kemudian iapun teringat akan cerita uwanya Ki Kebo Kanigara yang pernah bercerita tentang keris Kyai Setan Kober milik Kanjeng Sunan Kudus.

"Ada kemungkinan beberapa waktu yang lalu keris Kyai Setan Kober telah diwariskan kepada Penangsang" kata Adipati Hadiwijaya dalam hati.

"Kemungkinan Arya Penangsang telah mengetahui pembunuh Pangeran Sekar Seda Lepen, sehingga ia menyuruh Rangkud untuk membalaskan dendamnya, tetapi kenapa Prameswari harus dibunuh juga ?" kata Adipati Hadiwijaya hampir tak terdengar.

"Adimas, saat ini keris Kyai Bethok dan keris Kyai Setan Kober ada padaku" kata Pangeran Hadiri.

"Silakan kakangmas Hadiri, biarlah kedua keris itu berada di dalem Kalinyamatan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Adimas Hadiwijaya, keris Kyai Setan Kober akan aku bawa ke Kalinyamat, nanti setelah hari berkabung berakhir, aku akan ke Panti Kudus untuk menyerahkan keris itu kepada Kanjeng Sunan Kudus" kata Ratu Kalinyamat.

Pangeran Hadiri terdiam, mau tidak mau, keris itu memang harus diserahkan kepada pemiliknya, Kanjeng Sunan Kudus.

"Untung saja Pangeran Pangiri berhasil bersembunyi di kolong dipan, kalau tidak, Rangkud dengan mudah bisa membunuhnya" kata Hadiwijaya.

"Ya, seorang prajurit Wira Tamtama telah membawa Pangeran Pangiri keluar ruangan" kata Pangeran Kalinyamat.

Setelah terdiam beberapa saat, maka Ratu Kalinyamat kemudian berkata :"Adimas Hadiwijaya, setelah meninggalnya adimas Prawata, tahta Kasultanan Demak menjadi kosong, menurut adimas siapakah yang berhak menjadi Sultan Demak selanjutnya ?"

"Semuanya terserah kakangmbok Ratu Kalinyamat sebagai putri tertua dari ayahanda Trenggana" kata Adipati Pajang.

"Ya, tetapi bagaimana pendapatmu adimas ?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Setelah meninggalnya kakangmas Prawata, urutan yang teratas adalah kakangmbok Ratu Kalinyamat, tetapi karena kakangmbok Ratu bukan seorang laki-laki, maka sebaiknya yang menjadi Sultan adalah kakangmas Hadiri" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ah, itu dibicarakan nanti saja adimas Hadiwijaya" kata Pangeran Hadiri :"Yang penting sekarang adalah bagaimana kita bisa membuat Ki Patih Wanasalam supaya mampu menjalankan pemerintahan Kasultanan secara lancar"

"Ya kakangmas" kata Hadiwijaya.

"Besok setelah masa berkabung selesai, dan nanti setelah aku pulang dari Panti Kudus, kita akan merundingkan dengan para sesepuh tentang kelanjutan dari Kasultanan Demak ini" kata Pangeran Kalinyamat.

"Baik kakangmas, tetapi apakah Penangsang tidak dilibatkan dalam pembicaraan nanti ?" tanya Hadiwijaya. 

"Tidak" sela Ratu Kalinyamat. 

"Penangsang adalah pembunuh Sultan Demak yang sebenarnya" lanjutnya dengan suara keras.

Pangeran Hadiri menarik napas dalam-dalam, kemudian iapun berkata :"Nanti kita akan minta pendapat para sesepuh, terutama pendapat dari Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Kudus"

"Ya, nanti akan kita jalankan langkah-langkah yang terbaik bagi Kasultanan Demak" kata Adipati Hadiwijaya,

"Tunggu nanti setelah aku pulang dari Panti Kudus" kata Pangeran Hadiri.

Setelah itu, selama beberapa saat mereka masih berbincang-bincang tentang beberapa hal di ruang dalam.

Setelah pembicaraan di ruang dalam selesai, maka Ratu Kalinyamat segera menuju kekamarnya, Sang Ratu kemudian memanggil seorang pengawal dari Kalinyamat.

"Panggil Ki Wasesa, suruh ia menghadap aku sekarang juga" kata Ratu Kalinyamat.

"Sendika dawuh Kanjeng Ratu" kata pengawal itu, lalu iapun segera mencari Ki Wasesa.

Tak lama kemudian seorang pemimpin pegawal yang telah berumur lebih dari enam windu, berlari-lari kecil menemui Ratu Kalinyamat.

"Ki Wasesa" kata Ratu Kalinyamat kepada pemimpin pengawalnya.

"Dawuh dalem Kanjeng Ratu" kata Ki Wasesa.

"Kau kuberi tugas, jangan ada seorangpun yang tahu, kau perintahkan kepada salah seorang pengawal untuk pergi ke Jipang, lihat apa yang terjadi disana sepeninggal Rangkud" kata Ratu Kalinyamat.

"Baik Kanjeng Ratu" kata Ki Wasesa.

"Nanti kalau para prajurit Wira Tamtama bertanya, bilang disuruh pulang lebih awal ke dalem Kalinyamatan" kata kanjeng Ratu Kalinyamat.

"Sendika dawuh Kanjeng Ratu" kata Ki Wasesa.

"Ki Wasesa, siapa nanti yang akan kau tugaskan pergi ke Jipang?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Sarju Kanjeng Ratu, nanti Sarju yang akan menyusup ke Jipang" jawab Ki Wisesa.

"Baik, kau berangkatkan Sarju sekarang juga" kata Ratu Kalinyamat.

"Sendika dawuh Kanjeng Ratu" kata Ki Wasesa, lalu iapun mundur dari hadapan Ratu Kalinyamat, lalu iapun memerintahkan kepada Sarju, salah seorang pengawal pesanggrahan Kalinyamat, untuk bersiap menjalankan tugas ke Jipang.

Beberapa saat kemudian seekor kuda keluar dari regol pesanggrahan Prawata menuju Jipang Panolan, diatas punggungnya duduk seorang pengawal pesanggrahan Kalinyamat, Sarju, yang masih berusia muda.

"Aku hanya disuruh melihat keadaan di dalam Kadipaten Jipang, tanpa berbuat apapun" kata Sarju didalam hati, sambil memegang tali kendali kudanya yang terus melaju kearah selatan,

Demikianlah, setelah berada di pesanggrahan Prawata selama dua hari, ketika matahari belum terlalu tinggi, Ratu Mas Cempaka berkata kepada Adipati Hadiwijaya kalau ia dipanggil oleh ibu suri, karena ibu suri ingin kembali ke Kraton Demak.

Bersama Pangeran Hadiri, mereka berdua menghadap ibu suri di dalam kamar.

"Aku ingin pulang ke Demak, Hadiwijaya" kata ibu suri.

"Baik Kanjeng ibu, besok pagi setelah fajar menyingsing, kita semua akan berangkat ke Demak" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, apakah Pangeran Hadiri ikut mengantarku ke Demak ?" kata Ibu suri.

"Ya Kanjeng ibu, Kanjeng ibu akan kami antar ke Kraton, setelah itu besoknya, saya bersama Nimas Ratu akan pulang ke Kalinyamat" kata Pangeran Hadiri.

"Pangeran Pangiri biar ikut aku di Demak, akan aku asuh dia disana" kata Ibu suri,

"Apakah tidak sebaiknya Pangeran Pangiri dijadikan satu dengan kakaknya, Semangkin dan Prihatin yang sekarang tinggal di dalem Kalinyamatan, Kanjeng ibu" kata Pangeran Kalinyamat.

"Tidak, Semangkin dan Prihatin biar berada di dalem Kalinyamatan, sedangkan adiknya, Pangeran Pangiri biar aku asuh di dalam Kraton Demak" kata ibu suri.

"Baik, Kanjeng ibu, tandu dan semua perlengkapan akan segera disiapkan" jawab Pangeran Hadiri.

Setelah itu, merekapun segera keluar dari kamar ibu suri, lalu Pangeran Hadiri segera memanggil Tumenggung Gajah Birawa, untuk mempersiapkan kepulangan Ibu suri ke Demak.

"Kita semua akan berangkat besok pagi, Ki Tumenggung ?" tanya Pangeran Hadiri.

"Tidak Pangeran, Ki Lurah Wirya akan berangkat lusa bersama para abdi dan beberapa emban yang bersedia pindah ke Demak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Para abdi dan emban akan ikut pindah semuanya ke Demak ?" tanya Pangeran Kalinyamat

"Tidak Pangeran, beberapa orang diantaranya memilih kembali ke desanya, mereka tidak mau pindah ke Demak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Tidak apa-apa Ki Tumenggung, kita beri mereka kebebasan untuk memilih masa depannya" kata Pangeran Hadiri.

"Ya Pangeran" jawab Ki Tumenggung.

"Tandu untuk ibu suri segera disiapkan" kata Pangeran Hadiri.

"Baik, Pangeran" jawab Tumenggung Gajah Birawa.

Sore itu semua yang akan berangkat, mempersiapkan perbekalan yang akan dibawa dalam perjalanan kembali ke Demak besok pagi.

Ketika gelap telah menyelimuti bumi Prawata, Adipati Hadiwijaya mengumpulkan semua pengikutnya di ruang dalam, mereka membicarakan situasi Kasultanan yang bagaikan bara dalam sekam, setiap saat bisa menjadi kobaran api yang menghanguskan semua pewaris tahta Kraton Demak.

"Kakang Pemanahan, kakang Penjawi, kakang Juru Martani, kau Wenang Wulan dan kau Sutawijaya, dengarkan, inilah peristiwa yang terjadi di Kasultanan Demak saat ini" kata Adipati Hadiwijaya kepada pengikutnya.

"Tahta Kasultanan Demak sekarang dalam keadaan kosong, tidak mempunyai seorang Sultan, saat ini yang menjalankan tugas pemerintahan adalah Ki Patih Wanasalam" kata Adipati Hadiwijaya.

"Kematian Sunan Prawata dan Prameswari ternyata dibunuh oleh Rangkud, dan Rangkudpun telah mati sampyuh terkena keris Kyai Bethok, dan pada saat Rangkud telah diketemukan dalam keadaan mati, ditangannya masih tergenggam keris Kyai Setan Kober yang berlumuran darah" cerita Adipati Hadiwijaya.

"Rangkud adalah orang Jipang kepercayaannya Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan"

"Saat ini keris Kyai Setan Kober dan Kyai Bethok masih berada di tangan Pangeran Hadiri, dan nanti setelah hari berkabung berakhir, maka keris Kyai Setan Kober akan dikembalikan ke pemiliknya, Kanjeng Sunan Kudus" lanjut Hadiwijaya.

Pemanahan, Penjawi, Juru Martani, Wenang Wulan dan Sutawijaya mendengarkan kalimat demi kalimat perkataan dari Adipati Hadiwijaya.

"Nanti setelah keris itu kembali ke tangan Sunan Kudus, ada kemungkinan keris itu akan keluar lagi dari Panti Kudus, dan kita harus waspada, kalau pada suatu saat kita harus berhadapan dengan keris Kyai Setan Kober"

"Kalaupun nanti kita harus berhadapan dengan lawan yang menggunakan senjata keris Kyai Setan Kober, hati-hati jangan sampai tubuh kalian tergores seujung rambutpun, karena setiap goresan keris Kyai Setan Kober ditubuh seseorang akan berarti maut" kata Adipati Hadiwijaya.

"Urutan yang pertama yang berhak menjadi Sultan Demak pengganti Sunan Prawata adalah Pangeran Hadiri, suami dari Ratu Kalinyamat yang merupakan putri dari Sultan Trenggana, dan nanti persoalan itu akan di bicarakan dengan para sesepuh setelah pulang dari mengembalikan keris Kyai Setan Kober kepada Kanjeng Sunan Kudus" kata Adipati Hadiwijaya.

"Bagaimana dengan hak Penangsang yang merupakan putra Pangeran Sekar Seda Lepen untuk menjadi seorang Sultan, Kanjeng Adipati ?" tanya Pemanahan.

"Penangsang memang berhak atas tahta, tetapi kalau betul Penangsang yang menyuruh Rangkud untuk membunuh Sunan Prawata dan Prameswari, maka Penangsang harus mempertanggung jawabkan dulu perbuatannya itu" kata Hadiwijaya.

"Kalau melihat watak Penangsang, kelihatannya pembicaraan nanti akan berjalan alot, mengingat Penangsang kemungkinan juga ingin menjadi seorang Sultan" kata Juru Martani.

"Mudah-mudahan semua berjalan lancar, karena itulah, maka para sesepuh akan kita minta pertimbangannya" kata Adipati Hadiwijaya selanjutnya.

"Apakah nanti Kanjeng Sunan Kudus tidak berpihak kepada Penangsang ?" tanya Penjawi.

"Aku tidak tahu, mudah-mudahan nanti Kanjeng Sunan Kudus tidak berpihak" jawab Adipati Pajang.

Beberapa saat mereka masih sibuk berbincang beberapa hal, dan tak lama kemudian Adipati Hadiwijayapun membubarkan pertemuan itu.

"Besok pagi kita semuanya bersiap akan berangkat ke Demak, kita berangkat pada pagi hari" kata Adipati Hadiwijaya.

Malam itu adalah malam yang tenang di bumi Prawata, dua orang prajurit duduk di pendapa dengan terkantuk-kantuk, hanya suara binatang malam yang terdengar terus menerus.

Ketika langit di bang wetan telah memerah, kerlip lintang panjer rina menjadi semakin cemerlang, di sela-sela hembusan udara pagi yang dingin dan segar, seisi bumi Prawatapun telah terbangun.

Beberapa orang telah bergantian membersihkan badan di sumur, tetapi ada juga beberapa orang lainnya yang membersihkan dirinya di sebuah sungai kecil berair jernih yang mengalir tidak jauh dari pesanggrahan.

Ketika langit semakin terang, puluhan orang telah berkumpul di halaman pesanggrahan Prawata, Tumenggung Gajah Birawa telah memerintahkan para prajurit yang akan berangkat ke Demak untuk segera mempersiapkan diri.

Rangga Pideksa yang akan berkuda paling depan, segera mengatur urut-urutan barisan yang berangkat pagi ini.

Di dekatnya terlihat seorang prajurit yang membawa bendera gula kelapa, yang berukuran agak besar..

Dibelakangnya ada seorang prajurit yang membawa bendera yang mempunyai dasar warna hitam, bergambar sebuah Cakra berwarna kuning emas, itulah bendera kesatuan Wira Tamtama, Cakra Baskara.

Sebuah tandu joli jempana yang berukir sulur-suluran telah diletakkan di halaman pesanggrahan, joli jempana yang disiapkan untuk ibu suri, dibelakangnya belasan kuda telah bersiap, tali kendalinya dipegang oleh beberapa prajurit.

Belasan prajurit yang berjalan kaki juga telah mempersiapkan diri, mereka berkelompok di belakang joli jempana.

Adipati Hadiwjaya telah bersiap, disampingnya berdiri Ratu Mas Cempaka, sedangkan dibelakangnya lima orang pengikutnya telah berada disamping kudanya sendiri yang dibawa dari Pajang.

Ki Lurah Wirya telah bersiap untuk memimpin belasan prajurit yang tidak berangkat hari ini. tetapi akan menyusul berangkat ke Demak besok pagi bersama para abdi dan para emban yang bersedia pindah ke Demak.

Ketika semuanya sudah siap, maka Pangeran Hadiri bersama Adipati Hadiwijaya berjalan menjemput ibu suri, lalu ketiganya menuju ke tempat joli jempana yang sudah diletakkan di halaman.

Ketika ibu suri telah duduk didalam tandu, maka Tumenggung Gajah Birawa memberi isyarat, semuanya naik ke punggung kuda, bersiap untuk berangkat.

Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat segera naik ke punggung kuda, di ikuti oleh Ki Wasesa beserta para pengawal dari pesanggrahan Kalinyamat.

Seorang prajurit Wira Tamtama ternyata naik ke punggung kuda bersama Pangeran Pangiri, anak laki-laki Sunan Prawata yang selamat dari pembunuhan.

Setelah itu, Adipati Hadiwjaya beserta Ratu Mas Cempaka juga naik ke punggung kuda, diikuti oleh Pemanahan, Penjawi dan semua pengikutnya.

Beberapa orang prajurit segera naik ke atas punggung kudanya, sedangkan sebagian lagi akan menempuh perjalanan ke Demak dengan berjalan kaki.

Sesaat kemudian Tumenggung Gajah Birawa memberi perintah untuk berjalan, maka empat orang prajurit yang berbadan kuat segera mengangkat tandu joli jempana, lalu tandu itupun dipikul di atas pundaknya.

Barisanpun kemudian bergerak maju, Rangga Pideksa yang menjadi cucuk lampah berada di ujung barisan paling depan,

Beberapa prajurit Wira Tamtama yang dipimpin oleh Ki Lurah Wirya, hanya mengantar sampai di depan regol, setelah itu Ki Lurah Wiryapun memerintahkan barisannya untuk kembaki lagi masuk ke pesanggrahan Prawata.

Matahari pagi telah bersinar cerah, barisan yang membawa ibu suri terus bergerak maju menyusuri tepi hutan Prawata menuju ke arah barat,

Empat orang prajurit segera menggantikan pembawa tandu, mereka bergantian memikul tandu yang didalamnya berisi ibu suri.

Pangeran Pangiri terlihat senang, beberapa kali ia tertawa gembira berada diatas punggung kuda seorang prajurit Wira Tamtama.

Perjalanan berjalan lancar, ketika matahari hampir berada dipuncak langit, rombongan ibu suri telah melewati Kudus, dan kini mereka telah sampai ditepi sebelah timur sungai Serang.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita