Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 57 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 57 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Lalu seorang prajurit sandi yang berangkat bersamamu, sekarang berada dimana?" tanya Arya Penangsang.

"Dia berkuda dibelakang saya, sambil menuntun kuda milik Ki Rangkud, Kanjeng Adipati" kata Gendon.

"Baiklah Gendon, kau boleh beristirahat sekarang" kata Adipati Jipang.

Mendengar perkataan Arya Penangsang, dada Gendon terasa seperti diguyur air wayu sewindu, sejuk, dengan cepat Gendonpun menjawab :"Terima kasih Kanjeng Adipati"

Gendon bersama Anderpati kemudian bergeser ke belakang, bangkit berdiri kemudian berjalan keluar dari ruang dalam.

Di ruang dalam, hanya tinggal Adipati Jipang Arya Penangsang bersama patih Kadipaten Jipang, Patih Matahun yang setia.

"Apa pendapatmu setelah mendengar peristiwa yang telah terjadi di pesanggrahan Prawata, paman Matahun" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati, dengan terbunuhnya Rangkud, sekarang setiap orang telah mengetahui, kalau yang membunuh Sunan Prawata dan Prameswari adalah orang Jipang, abdi Arya Penangsang" kata Matahun.

"Ya paman, Penangsang bukan seorang pengecut, aku tidak akan ingkar, akan aku hadapi siapapun yang akan menuntut balas atas kematian Sunan Prawata dan Prameswari" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Apa boleh buat, aku sudah tidak dapat mundur lagi paman, ibarat menyeberangi sungai, aku sudah berada di tengahnya, aku harus berjalan terus, apapun yang akan terjadi" kata Arya Penangsang.

"Sekarang, sepeninggal Sunan Prawata, saat ini tahta Kasultanan Demak dalam keadaan kosong, Kanjeng Adipati" kata pamannya, Matahun.

"Ya paman" kata Arya Penangsang.

"Kepalang basah Kanjeng Adipati, sepeninggal Sunan Prawata, yang berhak mewarisi tahta Demak sekarang hanya tinggal Kanjeng Adipati Arya Penangsang, Pangeran Hadiri dan Adipati Hadiwijaya" kata abdi setianya, Matahun.

"Masih ada Pangeran Timur, paman" kata Penangsang

"Ya, Pangeran Timur bisa diabaikan karena masih anak-anak Kanjeng Adipati" kata patih setia Jipang, Matahun.

"Ya paman" jawab Adipati Jipang.

"Diantara ketiga orang calon Sultan Demak pengganti Sunan Prawata, saat ini Kanjeng Adipati Arya Penangsanglah sebagai cucu Raden Patah, yang paling berhak atas tahta Demak, sedangkan Pangeran Hadiri dan Adipati Hadiwijaya hanyalah menantu dari Sultan Trenggana" kata Patih Matahun.

"Ya paman, sebagai keturunan langsung cucu laki-laki dari Eyang Patah, Sultan Demak Bintara yang pertama, saat ini aku yang paling berhak atas tahta Kasultanan Demak, dibandingkan dengan para menantu pamanda Trenggana" kata Arya Penangsang.

"Tepat Kanjeng Adipati, selama masih ada laki-laki keturunan langsung dari seorang Sultan, maka para menantu harus berada pada urutan dibelakangnya" kata Patih Matahun.

"Betul paman" kata Penangsang.

"Dengan meninggalnya Sunan Prawata yang telah dibunuh oleh Rangkud, maka semua perhatian tertuju pada Kanjeng Adipati Arya Penangsang sebagai orang yang memberi perintah kepada Rangkud" kata Patih Jipang.

"Ya paman Matahun, sekarang semua orang sudah mengetahui, lewat tangan Rangkud, Arya Penangsanglah yang telah membunuh Sunan Prawata, karena itu, kita harus tetap jalan terus paman" kata Adipati Jipang.

"Ya Kanjeng Adipati, semua sudah terjadi, kita sudah tidak bisa mundur lagi" kata Patih Jipang.

"Mukti atau mati" kata Adipati Jipang.

"Ya, tetapi saat ini Pangeran Hadiri dan Adipati Hadiwijaya masih tegak berdiri, Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Rawe rawe rantas, malang malang putung, aku tidak takut menghadapi Pangeran Hadiri sekaligus dengan Adipati Hadiwijaya" kata Sang Adipati Jipang.

"Ya, pangeran Hadiri saat ini seperti seekor burung garuda yang paruh dan cakarnya berbahaya Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

Arya Penangsang terdiam, iapun berusaha mencerna kalimat yang tersirat dari patih Matahun.

"Burung garuda Kalinyamat yang gagah perkasa, lehernya harus dipotong, supaya paruh dan cakarnya menjadi lumpuh Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Bagus paman, akan aku potong lehet dari burung garuda Kalinyamat" kata Arya Penangsang.

"Jangan lupa, Kanjeng Adipati harus memotong pula leher ayam jantan dari Pengging" kata Patih Matahun.

"Ya paman, nanti akan aku bunuh juga adimas Hadiwijaya" kata Penangsang.

"Perintahkan kepada pamanmu yang sudah tua ini untuk membunuh Pangeran Hadiri dan Adipati Hadiwijaya, Kanjeng Adipati" kata pamannya Matahun.

Arya Penangsang memandang kepada Patih Matahun, seakan-akan ingin menjajagi sampai dimana kekuatan ilmu kanuragannya kalau ditugaskan untuk membunuh Adipati Hadiwijaya sekaligus Pangeran Kalinyamat.

Patih Matahun yang mengetahui Arya Penangsang sedang memandangnya, segera berkata :"Akan saya bunuh mereka berdua Kanjeng Adipati, tetapi kalau Kanjeng Adipati masih ragu-ragu, saya bisa mengajak kakak seperguruan yang tinggal di lereng gunung Lawu".

"Panembahan Sekar Jagad?" tanya Sang Adipati.

"Ya Kanjeng Adipati" jawab Patih Matahun.

"Paman, ini adalah persoalan Jipang, jangan melibatkan orang-orang diluar Jipang, aku sendiri masih mampu untuk membunuh Pangeran Kalinyamat maupun adimas Hadiwijaya" kata Adipati Jipang.

"Baiklah, Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Mulai sekarang, latihan keprajuritan lebih digiatkan lagi, situasi akan menjadi panas, setiap saat Jipang bisa berperang melawan Pajang sekaligus melawan Kalinyamat" kata Adipati Jipang.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Patih Jipang.

"Tambah jumlah prajurit Jipang, angkat Nderpati sebagai pimpinan prajurit Jipang sebagai pengganti Rangkud" kata Arya Penangsang.

"Baik, Kanjeng Adipati" kata Matahun, patih tua yang rambutnya telah memutih.

Keduanya beberapa saat berdiam diri, mereka berdua sibuk mengukur dan menimbang kekuatan diri sendiri maupun kekuatan kedua kubu lawannya.

"Bagaimana dengan keris Kyai Setan Kober yang sekarang berada di tangan prajurit Wira Tamtama, Kanjeng Adipati?" tanya Patih Matahun.

"Sementara ini, keris Kyai Setan Kober biarlah berada dalam tangan prajurit Wira Tamtama di Prawata, nanti setelah hari berkabung Kasultanan Demak telah berakhir, aku akan menghadap Kanjeng Sunan Kudus, minta pertimbangan, sebaiknya apa yang harus aku lakukan" kata Arya Penangsang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

"Bagaimana pendapatmu paman Matahun, apakah sebaiknya sekarang aku harus pergi ke pesanggrahan Prawata ?" tanya Arya Penangsang.

"Datang ke pesanggrahan Prawata maupun tidak, semua orang telah mengetahui, Kanjeng Adipatilah yang telah membunuh Sunan Prawata dan Prameswari, jadi sebaiknya Kanjeng Adipati tidak usah pergi ke pesanggrahan Prawata" kata Patih Matahun.

"Kenapa ?" tanya Adipati Jipang.

"Sangat berbahaya, Kanjeng Adipati" jawab Patih Jipang.

"Aku tidak takut paman" kata Arya Penangsang tegas.

"Ya, tetapi saat ini di Prawata sedang berkumpul semua kekuatan Demak, semua Tumenggung, Panji, Rangga, serta puluhan Lurah bahkan ratusan prajurit Demak semuanya ada disana, kalau ada yang bisa menggerakkan mereka, kekuatan mereka tidak akan terlawan, Kanjeng Adipati" kata Patih Jipang.

"Ya paman" jawab Penangsang.

"Apalagi disana masih ada jenazah Rangkud" kata Ki Matahun.

"Ya, kita akan kesulitan dalam bersikap, kalau kita diajak untuk melihat jenazah Rangkud" kata Sang Adipati.

"Nanti saja setelah kita mendapat petunjuk dari Kanjeng Sunan Kudus, kita akan bergerak menghabisi mereka satu demi satu Kanjeng Adipati" kata Matahun.

"Ya, nanti kita bunuh mereka satu demi satu" kata Adipati Jipang.

"Semua nayaka praja, prajurit dan rakyat Jipang siap berjuang bersama Kanjeng Adipati" kata Ki Patih.

"Baik paman, sekarang aku akan istirahat, paman Matahun, silakan kalau paman mau pulang ke Kepatihan" kata Adipati Jipang.

"Baik Kanjeng Adipati, saya mohon pamit" kata Matahun, lalu iapun bergeser mundur lalu bangkit berdiri lalu berjalan ke pendapa.

Anderpati yang sedang duduk di pendapa, melihat gurunya keluar dari ruang dalam, segera berdiri, lalu keduanya berjalan pulang ke Kepatihan.

"Nderpati" kata Patih Matahun.

"Ya Ki Patih" jawan Anderpati.

"Kau akan diangkat sebagai kepala prajurit, menggantikan Rangkud yang telah mati sampyuh di Prawata" kata Patih Jipang.

"Ya Ki Patih" kata Anderpati.

"Kau harus semakin rajin berlatih olah kanuragan Nderpati, sekarang semua prajurit Jipang dibawah pimpinanmu, termasuk tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad yang telah menjadi prajurit Jipang" kata gurunya.

"Ya Ki Patih" kata Anderpati.

"Nanti setelah mandi kau menemui aku di ruang dalam, ada perkembangan penting yang harus kau ketahui Nderpati" kata Patih Matahun"

Sambil berbicara keduanya berjalan terus menuju Kepatihan.

Malam hari ketika wayah sepi bocah, Patih Matahun duduk berdua dengan muridnya Anderpati, Ki Patihpun bercerita tentang pembicaraannya tadi dengan Arya Penangsang.

"Sebentar lagi situasi bisa menjadi panas, setiap saat bisa terjadi pertempuran, Anderpati, antara Jipang melawan Pajang atau Kalinyamat"

Sementara itu, suasana gelap telah menyelimuti bumi Kasultanan Demak, sedangkan di lengkung langit, ribuan bintang masih berkelip di angkasa malam.

Di malam yang sepi, beberapa kelompok berkuda sedang berjalan menuju ke pesanggrahan Prawata.

Yang paling depan adalah rombongan berkuda belasan prajurit Wira Tamtama yang dipimpin oleh Tumenggung Gajah Birawa, beberapa ribu langkah dibelakangnya, berjalan pelan rombongan tandu ibu suri bersama Patih Wanasalam, rombongan itu dipimpin oleh Tumenggung Suranata.

Beberapa puluh prajurit dari kesatuan Wira Braja, Wira Manggala, dan Patang Puluhan juga bergerak berkelompok menuju pesanggrahan Prawata.

Tumenggung Gagak Anabrang berkuda beriringan dengan Tumenggung Surapati dan Tumenggung Jaya Santika, sedangkan beberapa Tumenggung lainnya malam itu juga segera menyusul berangkat ke pesanggrahan Prawata.

Rombongan dari Kalinyamat juga telah berada dijalan yang menuju hutan Prawata, hampir bersamaan dengan rombongan santri yang berjalan kaki dari pesantren Kadilangu.

Rombongan prajurit Wira Tamtama yang dipimpin oleh Tumenggung Gajah Birawa telah sampai di pesanggrahan Prawata, dan disambut oleh Ki Rangga Pideksa didepan regol.

"Mari Ki Tumenggung, silahkan langsung naik ke pendapa" kata Ki Rangga Pideksa, lalu keduanya kemudian naik ke pendapa.

Di pendapa, Tumenggung Gajah Birawa membuka kain yang menutupi jenazah Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari.

Beberapa saat kemudian, Tumenggung Gajah Birawa menutup kembali kain penutup jenazah keduanya.

"Pembunuhnya berada di kamar belakang" kata Ki Rangga Pideksa.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian menuju kamar belakang diantar oleh Ki Rangga Pideksa.

"Ini pembunuhnya ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian membuka kain penutup jenazah, iapun seperti pernah melihat orang yang telah meninggal itu.

"Siapa dia, kelihatannya aku sudah pernah melihat orang ini " tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Dia bernama Rangkud, orang Jipang, ia pernah beberapa kali diajak Adipati Arya Penangsang ke Kraton Demak" kata Rangga Pideksa, lalu iapun menceriterakan peristiwa pembunuhan itu kepada Tumenggung Gajah Birawa.

"Jadi menurut Ki Sempana, keris yang dipakai membunuh Sunan Prawata adalah keris Kyai Setan Kober?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.

"Sekarang, Ki Rangga menyimpan keris itu dimana ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Saat ini keris Kyai Setan Kober berada di kamar Kanjeng Sunan Prawata, bersama keris Kyai Bethok, Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.

"Mari kita kesana" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Beberapa saat kemudian Tumenggung Gajah Birawa bersama Rangga Pideksa berjalan memasuki kamar Sunan Prawata yang dijaga oleh dua orang prajurit Wira Tamtama.

Di atas meja masih tergeletak dua buah keris pusaka yang telah dibersihkan oleh Ki Sempana dari noda darah.

"Yang ini adalah keris milik Sunan Prawata, keris Kyai Bethok, Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa sambil mengambil keris Kyai Bethok, lalu diberikan kepada Tumenggung Gajah Birawa.

Tumenggung Gajah Birawa menerima keris Kyai Bethok, lalu iapun menarik bilah keris itu dari warangkanya.

"Keris Kyai Bethok ini, kembang kacangnya telah patah Ki Rangga" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya, mungkin setelah mengenai kaki Rangkud, keris ini terkena benturan ketika jatuh di lantai, Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian meletakkan keris Kyai Bethok ke atas meja, lalu diambilnya keris satu lagi, yang telah menyebabkan Sunan Prawata meninggal dunia.

"Ini keris Kyai Setan Kober Ki Tumenggung" kata Ki Rangga Pideksa.

"Ya, aku tidak tahu persis bentuk keris Kyai Setan Kober, Ki Rangga coba kau panggil Ki Sempana kemari untuk menjelaskan keris ini" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa, lalu iapun segera berjalan menuju ke pintu, memerintahkan kepada seorang prajurit Wira Tamtama untuk memanggil Ki Sempana supaya menghadap Tumenggung Gajah Birawa.

Setelah meletakkan kembali keris Kyai Setan Kober di meja, Tumenggung Gajah Birawa segera keluar dari kamar Sunan Prawata.

Ki Sempanapun kembali datang ke pesanggrahan Prawata setelah seorang prajurit Wira Tamtama memintanya datang menghadap kepada Tumenggung Gajah Birawa.

"Ki Sempana, kau tunggu disini dulu, nanti kau jelaskan kepada Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat tentang keris Kyai Setan Kober" kata Tumenggung Gajah Birawa setelah Ki Sempana menghadapnya.

"Baik Ki Tumenggung" jawab Ki Sempana.

Malam itu pesanggrahan Prawata menjadi ramai, berturut-turut telah datang rombongan Tumenggung Suranata bersama Patih Wanasalam dan ibu suri, dan tak lama kemudian rombongan dari pesangggrahan Kalinyamat, Pangeran Hadiri bersama Ratu Kalinyamat juga telah tiba di Prawata, lalu rombongan beberapa orang Tumenggung bersama puluhan prajurit dari beberapa kesatuan prajurit Kasultanan Demak.

Ketika Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat membuka kain selimut jenazah Sunan Prawata, meledaklah tangis dari Sang Ratu Kalinyamat melihat kakaknya suami isteri telah terbujur tak bernyawa karena dibunuh oleh seseorang dengan menggunakan sebuah keris pusaka.

"Dimana pembunuh itu?" tanya Ratu Kalinyamat dengan sorot mata penuh kemarahan.

"Dikamar belakang Kanjeng Ratu" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Mereka bertiga kemudian memasuki kamar belakang, yang didalamnya terbujur kaku seseorang yang mati sampyuh bersama Sunan Prawata.

"Siapa dia?" kata Ratu Kalinyamat.

"Orang ini bernama Rangkud, orang Jipang" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Orang Jipang? " tanya Ratu Kalinyamat.

"Ya Kanjeng Ratu, dia orang Jipang" jawab Tumenggung Gajah Birawa.

"Dimana keris yang untuk digunakan untuk membunuh kakangmas Sunan Prawata ?" tanya Ratu Kalinyamat.

Tumenggung Gajah Birawa bersama Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat kemudian memasuki kamar Sunan Prawata.

"Ini keris milik Kanjeng Sunan Prawata, keris Kyai Bethok yang kembang kacangnya telah patah" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya, betul, ini keris Kyai Bethok" kata Pangeran Hadiri.

Pangeran Hadiri kemudian meletakkan keris Kyai Bethok, setelah itu iapun mengambil keris yang dipakai untuk membunuh Sunan Prawata.

"Keris ini yang dipakai untuk membunuh Sunan Prawata ?" tanya Pangeran Hadiri yang tangannya memegang keris yang terasa wingit.

"Ya Pangeran" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Apa nama keris ini ?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Disini ada Ki Sempana, yang akan menjelaskan tentang keris ini Kanjeng Ratu" kata Ki Tumenggung Gajah Birawa yang segera keluar ruangan, sesaat kemudian Ki Tumenggungpun masuk ruangan lagi bersama Ki Sempana.

"Ini Ki Sempana Pangeran, Ki Sempana yang akan menjelaskan tentang keris tersebut" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Sempana, kau jelaskan tentang pusaka yang dipakai untuk membunuh kakangmas Sunan Prawata" kata pangeran Hadiri.

"Ya Pangeran, keris yang dipakai untuk membunuh Sunan Prawata adalah keris Kyai Setan Kober milik Kanjeng Sunan Kudus" kata Ki Sempana.

"Kyai Setan Kober" kata pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat hampir bersamaan.

Ki Sempana kemudian menceritakan apa yang diketahuinya tentang keris Kyai Setan Kober yang sedang dipegang oleh Pangeran Hadiri.

"Hati-hati Ki Sempana, kalau yang kau sampaikan itu tidak benar, maka ini sudah merupakan fitnah bagi Kanjeng Sunan Kudus" kata Pangeran Hadiri.

"Saya menyampaikan apa adanya, keris ini memang keris Kyai Setan Kober, Pangeran" kata Ki Sempana.

"Kau berkata sebenarnya ?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Nyawa saya sebagai taruhannya Kanjeng Ratu" kata Ki Sempana.

"Baik, keteranganmu sudah cukup Ki Sempana, silahkan kalau Ki Sempana akan kembali ke rumah" kata Pangeran Hadiri.

"Saya mohon pamit Pangeran " kata Ki Sempana.

Ketika Ki Sempana melihat Pangeran Hadiri menganggukkan kepalanya, maka iapun kemudian keluar dari ruangan.

Ketika didalam ruangan tinggal bertiga, maka Ratu Kalinyamatpun berkata keras :"Pasti Penangsang !".

Pangeran Hadiri menoleh kepada istrinya, dan iapun terkejut ketika melihat sorot mata Ratu Kalinyamat yang penuh dendam.

"Pasti Penangsang yang telah menyuruh Rangkud untuk membunuh kakangmas Sunan Prawata dan Prameswari !" kata Ratu Kalinyamat yang tidak terima kalau kakaknya telah dibunuh Rangkud.

'Sabar dulu Ratu, kita tidak punya saksi kalau Penangsang telah menyuruh Rangkud untuk membunuh kakangmas Sunan Prawata" kata Pangeran Kalinyamat.

"Sudah jelas Pangeran, siapa orang diseluruh kasultanan Demak yang punya wewenang menyuruh orang Jipang yang bernama Rangkud, kalau bukan Penangsang ?" kata Ratu Kalinyamat.

"Ya Ratu, tetapi kita tidak punya saksi siapapun, karena sekarang Rangkudpun telah mati, satu-satunya bukti yang kita punya adalah keris Kyai Setan Kober milik Kanjeng Sunan Kudus" kata Pangeran Hadiri.

"Baik" kata Ratu Kalinyamat :"Setelah hari berkabung di Kasultanan Demak telah berakhir, aku akan menghadap Kanjeng Sunan Kudus untuk minta keadilan tentang perbuatan muridnya, Penangsang"

Mendengar ucapan Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadiripun terdiam, lalu kepada Tumenggung Gajah Birawa, iapun berkata :"Ki Tumenggung, sekarang keris Kyai Bethok dan keris Kyai Setan Kober biar aku yang membawanya"

"Silakan Pangeran" jawab Tumenggung Gajah Birawa.

Beberapa saat kemudian mereka bertiga keluar dari ruangan Sunan Prawata, kemudian Pangeran Hadiri membawa juga dua buah keris Kyai Bethok dan keris Kyai Setan Kober.

Ketika Pangeran Hadiri melihat kamar yang berisi jenazah Rangkud yang dijaga oleh dua orang prajurit Wira Tamtama, maka Pangeran Kalnyamatpun berkata :"Ki Tumenggung, jenazah Rangkud supaya dimakamkan malam ini juga"

"Baik Pangeran" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Beberapa saat kemudian jenazah Rangkud telah dirawat dengan semestinya, lalu pada malam itu juga, empat orang prajurit segera memikul sebuah bandusa yang terbuat dari bambu, yang berisi jenazah Rangkud menuju pemakaman.

Dengan diterangi oleh beberapa obor, maka jenazah Rangkud kemudian dimakamkan di pemakaman desa di tepi hutan Prawata.

Malam itu di halaman pesanggrahan Prawata telah diterangi beberapa buah obor, dan ketika malam memasuki wayah sepi wong, Sunan Kalijaga disertai oleh beberapa orang santri dari pesantren Kadilangu telah tiba di Pesanggrahan Prawata.

Setelah lewat tengah malam, bumi Prawata yang telah berselimut gelap malam, lelap tertidur, hanya terdengar suara kepak sayap kelelewar, sekali sekali terdengar suara burung malam diselingi suara lolongan anjing hutan yang berada di ditepi hutan Prawata.

Beberapa orang masih berada di ruang dalam, duduk menunggu jenazah Sultan Demak dan Prameswari yang terbaring diatas dipan yang diletakkan berdampingan.

Ketika malam telah berganti pagi, seisi bumi Prawatapun telah terbangun, gelap yang menyelimuti bumi di seluruh Kasultanan Demak telah menghilang dan berganti dengan terangnya sinar Sang Surya.

Pagi itu jenazah Sultan Demak dan Prameswari segera akan dimakamkan, rakyat Prawata dan sekitarnya telah memadati pesanggahan Prawata.

Ratusan perwira dan prajurit Demak dari berbagai kesatuan, telah mengantarkan Sunan Prawata dan Prameswari ke tempat peristirahatan yang terakhir dan Kasultanan Demakpun berkabung selama beberapa hari,

Bersamaan dengan pemakaman Sunan Prawata, seorang prajurit Wira Tamtama yang diutus untuk menyampaikan berita lelayu, telah sampai di Kadipaten Pajang.

Pemanahan dan Penjawi yang sedang berada di pendapa, kemudian mengantarkan prajurit Wira Tamtama itu menghadap Adipati Hadiwjaya yang saat itu sedang berada di ruang dalam.

"Kanjeng Adipati, ada seorang utusan dari pesanggrahan Prawata ingin menghadap" kata Pemanahan.

"Ya, kau utusan dari pesanggrahan Prawata, prajurit ?" tanya Adipati Hadiwijaya kepada utusan itu.

"Ya Kanjeng Adipati, saya diutus untuk menyampaikan sebuah berita lelayu" kata prajurit Wira Tamtama,

"Berita lelayu? Siapa yang telah meninggal dunia ?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Sunan Prawata beserta Prameswari telah meninggal dunia Kanjeng Adipati, keduanya kemarin malam telah terbunuh di kamarnya" kata utusan itu.

"Siapa pembunuhnya ?" tanya Adipati Hadiwijaya yang terkejut ketika mendengar Sunan Prawata dan Prameswari telah dibunuh orang.

"Saya tidak tahu Kanjeng Adipati" jawab utusan itu.

"Baiklah, kau boleh istirahat dulu, kakang Pemanahan, suruh seorang prajurit untuk mengurusi utusan ini, setelah itu, sekarang kumpulkan semua nayaka praja Kadipaten Pajang, pagi ini juga aku akan segera berangkat ke pesanggrahan Prawata" kata Sang Adipati.

Sesaat kemudian Adipati Hadiwijaya memberitahukan kabar itu kepada istrinya, Ratu Mas Cempaka adik dari Sunan Prawata.

Betapa sedih dan terkejutnya Ratu Mas Cempaka ketika mendengar Sunan Prawata telah terbunuh bersama Prameswari.

"Kita berangkat ke Prawata sekarang, Kanjeng Adipati" kata Ratu Panjang.

"Ya Ratu, sekarang siapkan beberapa barang yang akan kau bawa ke pesanggrahan Prawata" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Ratu Mas Cempaka.

Ratu Mas Cempaka kemudian mempersiapkan beberapa lembar pakaian dan keperluan lainnya yang akan dibawa ke Prawata, sedangkan Adipati Hadiwijaya segera keluar dari kamar, menemui nayaka praja Pajang yang telah menunggunya di ruang dalam.

Disana telah berkumpul semua nayaka praja Kadipaten Pajang, Patih Mancanagara, Ngabehi Wilamarta, Ngabehi Wuragil, Wenang Wulan, Pemanahan, Penjawi, Juru Martani dan Danang Sutawjaya yang sering dipanggil dengan nama Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Semua nayaka praja Kadipaten Pajang, tadi baru saja ada utusan dari pesanggrahan Prawata, yang membawa sebuah berita lelayu" kata Adipati Pajang.

"Kemarin malam, Sunan Prawata yang menjadi Sultan Demak telah terbunuh di kamarnya bersama Kanjeng Prameswari" kata Adipati Hadiwijaya.

"Sebentar lagi, aku bersama Ratu Pajang akan berangkat ke pesanggrahan Prawata, Patih Mancanagara, kau yang mengurusi semua masalah di Kadipaten Pajang selama aku pergi ke pesanggrahan Prawata" kata Adipati Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Patih Mancanagara.

"Kakang Pemanahan, Kakang Penjawi dan kau Wenang Wulan, seperti biasanya, kalian ikut pergi ke kotaraja, segera siapkan kuda dan perbekalannya, sebentar lagi kita berangkat" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" jawab Wenang Wulan.

"Kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi, besok sepulang dari pesanggrahan Prawata, kita akan singgah sebentar di Kadilangu menemui Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Adipati Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Pemanahan dan Penjawi.

"Sutawijaya, kau ingin ikut pergi ke pesanggrahan Prawata dan ke kotaraja Demak?" tanya Hadiwijaya.

"Ya, ayahanda" kata Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Baik, kau bersiaplah, ikut aku ke pesanggrahan Prawata" kata ayahandanya.

"Terima kasih ayahanda" kata Danang Sutawijaya.

"Kakang Juru Mertani, kau juga ikut ke pesanggrahan Prawata, kakang" kata Sang Adipati.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Juru Martani.

"Kita pergi bertujuh, sebentar lagi kita berangkat" kata Adipati Pajang, kemudian iapun membubarkan pertemuan itu, lalu berjalan menuju ke kamarnya.

Beberapa saat kemudian sebelum matahari mencapai puncak langit, tujuh ekor kuda telah berlari meninggalkan dalem Kadipaten Jipang menuju ke daerah Prawata.

Beberapa bungkusan yang berisi bekal dan beberapa perlengkapan lainnya, telah disangkutkan di pelana kuda.

Mas Ngabehi Loring Pasar juga ikut ke Prawata, tetapi kali ini Sutawijaya tidak membawa tombaknya Kyai Penatas, tetapi didalam bungkusannya terdapat sebuah pedang pendek yang dapat ia pergunakan membela diri apabila dijalan ia menemui gangguan dari beberapa perampok.

Ketujuh ekor kuda yang di punggungnya duduk tujuh orang Pajang, masih terus berlari menuju ke arah utara, ke pesanggrahan Prawata.

Mataharipun tanpa kenal lelah terus bergerak ke barat, dan saat itu di pesanggrahan Prawata, setelah Sunan Prawata dan Prameswari dimakamkan, maka beberapa rombongan telah meninggalkan pesanggrahan Prawata.

Patih Wanasalam beserta beberapa orang Tumenggung, bersama perwira dan puluhan prajurit dari beberapa kesatuan telah bergerak meninggalkan pesanggrahan Prawata, demikian juga dengan rombongan dari pesantren Kadilangu, merekapun telah berjalan ke arah barat.

Di pesanggrahan Prawata sekarang hanya tinggal ibu suri bersama putranya yang bungsu, Pangeran Timur, bersama rombongan dari Kalinyamat.

Tumenggung Gajah Birawa juga masih berada disana, bersama Ki Rangga Pideksa dan belasan orang prajurit Wira Tamtama.

Malam itu Ratu Kalinyamat beserta suaminya Pangeran Hadiri yang disebut juga Pangeran Kalinyamat, penguasa daerah Kalinyamat yang tidak jauh dari Bandar Jepara, sedang berbincang dengan ibu suri di ruang dalam pesangggrahan Prawata,

"Kapan rombongan Hadiwijaya akan tiba disini?" tanya ibu suri kepada Pangeran Hadiri.

"Paling cepat besok sore Kanjeng ibu" jawab Pangeran Hadiri.

"Lama" kata ibu suri.

"Pajang memang jauh Kanjeng ibu" kata Ratu Kalinyamat.

"Aku sudah kangen sekali dengan Cempaka" kata ibu suri

"Saya juga kangen Cempaka, Kanjeng ibu" kata Ratu Kalinyamat.

"Malam ini Cempaka tidur dimana?" tanya ibu suri.

"Cempaka bersama Adimas Hadiwijaya dan rombongan dari Pajang, mereka biasanya tidur di tepi jalan Kanjeng ibu" kata Ratu Kalinyamat.

"Kasihan Cempaka" kata Ibundanya.

"Tidak apa-apa Kanjeng Ibu" kata Ratu Kalinyamat.

Merekapun terus berbincang-bincang bertiga hingga ibu suri merasa lelah dan mengantuk.

"Aku sudah mengantuk" kata ibu suri, kemudian merekapun kembali ke kamarnya.

Malam itu suasana di pesanggrahan Prawata terlihat gelap, hanya beberapa obor yang menyala disudut pendapa, didekat pintu ruang dalam, dua orang prajurit Wira Tamtama sedang duduk berjaga di pendapa.

Tengah malam, ketika dari jauh terdengar sayup-sayup suara kentongan yang di tabuh dengan nada dara muluk, maka salah seorang prajurit yang duduk di pendapa bangkit berdiri, lalu meraih tongkat pemukul kentongan lalu berjalan menuju kentongan yang berada di sudut pendapa.

Sesaat kemudian suara kentonganpun bergema di daerah sekitar pesanggrahan Prawata.

"Tengah malam" kata Ratu Kalinyamat, ia belum bisa tertidur, karena pikirannya masih tertuju pada sebuah keris yang kini telah disimpan oleh suaminya, pangeran Hadiri.

Keris itulah yang telah dipakai untuk membunuh Sultan Demak dan Prameswari, sebuah keris milik Kanjeng Sunan Kudus, Kyai Setan Kober.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita