Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 56 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 56 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Setelah berpikir sejenak, Rangga Pideksa kemudian berkata :"Ki Lurah Wirya, kau pasang kembali kain penutup wajah Rangkud, persoalan ini kita rahasiakan dulu, jangan sampai ada seorangpun yang mendengarnya, nanti biarlah Ki Tumenggung Gajah Birawa yang akan memberikan kesimpulan atas terbunuhnya Kanjeng Sunan Prawata".

"Ya Ki Rangga" kata Lurah Wirya sambil memasang kembali kain penutup wajah yang berwarna hitam, ke wajah Rangkud.


"Sekarang kau ambil keris yang digenggam Rangkud maupun keris satu lagi yang menancap di kakinya" kata Rangga Pideksa, dan sesaat kemudian Lurah Wirya mengambil keris yang menancap di kaki Rangkud dan menyerahkannya kepada Rangga Pideksa.


"Kalau melihat keris Kanjeng Sunan Prawata yang hanya tinggal warangkanya saja, kemungkinan ini adalah keris Kyai Bethok milik Kanjeng Sunan Prawoto, kembang kacangnya telah patah, mungkin karena terjatuh bersama tubuh Rangkud" kata Rangga Pideksa.

Keika Lurah Wirya akan mengambil keris yang berada didalam genggaman tangan Rangkud, ternyata hulu keris itu digenggam sangat erat, seakan-akan sampai matipun Rangkud tidak mau melepaskan keris yang dibawanya itu jatuh ke tangan prajurit Demak.

Dengan mengeluarkan semua tenaganya, Lurah Wirya akhirnya mampu membuka jari Rangkud yang memegang hulu keris, lalu keris yang berlumuran darah itupun diserahkan kepada Rangga Pideksa.

"Keris ini yang telah menyebabkan terbunuhnya Kanjeng Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari, aku tidak tahu nama keris ini, tetapi kalau Ki Sempana pasti tahu nama dapur maupun pamor dari keris ini" kata Ki Rangga Pideksa sambil mengamat-amati keris yang masih berlumuran darah.

"Ki Lurah Wirya, kau panggil dukun Ki Husada untuk memampatkan darah Kanjeng Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari yang masih menetes, lalu kau panggil juga Ki Sempana yang biasa mewarangi dan menjamasi keris pusaka" kata Ki Rangga Pideksa.

"Baik Ki Rangga" jawab Ki Lurah Wirya.

"Kemudian kau kirim beberapa orang prajurit untuk memberitahukan berita lelayu ini ke Demak, Kadilangu, Kudus, Jipang, Pajang, dan Kalinyamat, para prajurit supaya berangkat malam ini juga, perintahkan mereka membawa beberapa buah obor" kata Rangga Pideksa memberi perintah.

"Prajurit yang diutus mengabarkan berita lelayu supaya dipesan hanya mengabarkan berita terbunuhnya Kanjeng Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari, tidak usah mengabarkan berita yang lain, tidak usah menceritakan mengenai Rangkud yang telah terbunuh" kata Rangga Pideksa.

"Siapkan kamar satu lagi di belakang untuk membaringkan jenazah Rangkud" kata Rangga Pideksa selanjutnya.

"Baik Ki Rangga" kata Lurah Wirya, lalu iapun segera berjalan keluar dari kamar.

Malam itu pesanggrahan Prawata menjadi sibuk, beberapa prajurit segera menyiapkan kuda-kuda yang akan dipergunakan untuk sebuah perjalanan jauh, beberapa oborpun telah disiapkan, dan ketika semua persiapan sudah selesai, sesaat kemudian Lurah Wirya segera memerintahkan mereka untuk segera berangkat.

"Kalian berangkat sekarang, ingat pesanku, kalian hanya mengabarkan berita lelayu saja, tidak usah bercerita tentang orang berpakaian hitam yang mati didekat pintu, karena kita belum mengetahui siapa orang itu" kata Lurah Wirya.

"Baik Ki Lurah" kata para prajurit.

Tak lama kemudian enam ekor kuda telah keluar dari pesanggrahan Prawata, dipunggungnya duduk para prajurit Wira Tamtama yang membawa obor. Setelah rombongan penunggang kuda yang membawa obor itu menjauh, sesesorang terlihat sedang berjalan mendatangi dalem pesanggrahan, orang itu adalah Ki Sempana, seorang yang mumpuni tentang wesi aji dan telah terbiasa mewarangi serta menjamasi bermacam-macam pusaka.

Ki Sempana yang sudah berusia lanjut, berjalan menaiki pendapa pesanggrahan bersama seorang prajurit Wira Tamtama yang memanggilnya.

Prajurit itu kemudian mengantar Ki Sempana memasuki kamar, sedangkan prajurit yang mengantarnya segera kembali ke pendapa.

Ki Sempana terkejut ketika memasuki kamar Sunan Prawata, ketika mengetahui ada tiga orang tergeletak di dalam kamar.

"Ki Sempana, kau kupanggil kesini karena Kanjeng Sunan Prawata telah terbunuh bersama Kanjeng Prameswari" kata Rangga Pideksa.

"Ya Ki Rangga" kata Ki Sempana.

"Ada dua buah keris yang akan kau lihat, ini keris yang tertancap di kaki pembunuh, sedangkan yang ini adalah keris yang dipegang oleh orang itu" kata Rangga Pideksa sambil menunjukkan dua buah keris yang berada diatas meja kecil.

"Baik Ki Rangga" kata Ki Sempana.

Ki Sempana kemudian mengambil warangka keris yang sudah tidak ada bilahnya, lalu warangka itu diletakkan diatas meja bersama dengan dua bilah keris yang terkena darah.

Dengan menggunakan sebuah kain yang dicelup didalam air yang berada pada sebuah mangkuk gerabah, maka Ki Sempana, mulai membersihkan keris yang menancap di kaki orang yang berpakaian serba hitam. Setelah dibersihkan, maka darah yang menutupi bilah itu telah hilang, sehingga keris itu telah pulih kembli, pamornya juga telah terlihat indah.

"Ki Rangga, ini adalah keris Kyai Bethok, keris pusaka milik Kanjeng Sunan Prawata yang dipakai untuk membunuh orang ini" kata Ki Sempana.

"Kembang kacangna telah patah Ki Rangga" kata Ki Sempana sambil memasukkan keris Kyai Bethok kedalam wrangkanya.

"Ya Ki Sempana, tidak apa-apa, nanti akan saya laporkan kepada Tumanggung Gajah Birawa" kata Rangga Pideksa.

Ki Sempana kemudian meletakkan keris Kyai Bethok yang sudah dimasukkan kedalam wrangkanya ke atas meja, lalu ia mengambil keris lainnya yang masih berlumuran darah.

"Itu keris yang dipakai untuk membunuh Kanjeng Sunan Prawata, Ki Sempana" kata Rangga Pideksa.

Ki Sempana tertegun ketika ia mengamati dapur keris yang dipegangnya, ia merasa seperti pernah mengenal keris itu.

"Ada apa Ki Sempana?" tanya Rangga Pideksa.

"Saya seperti pernah melihat keris ini sebelumnya, Ki Rangga" kata Ki Sempana.

"Dimana Ki ?" tanya Rangga Pideksa.

"Tunggu sebentar Ki Rangga, noda darahnya saya bersihkan dulu, biar pamornya bisa terlihat jelas" kata Ki Sempana sambil membersihkan bilah keris itu dengan kain basah.

Ketika keris itu sudah bersih, dan pamornya sudah terlihat jelas, ternyata keris itu telah membuat Ki Sempana terkejut, wajahnyapun terlihat tegang.

"Ada apa Ki Sempana?" tanya Ki Rangga.

"Keris ini Ki Rangga, keris yang telah dipakai untuk membunuh Kanjeng Sunan Prawata" kata Ki Sempana.

"Kenapa keris ini Ki Sempana?" tanya Ki Rangga memotong kalimat Ki Sempana yang belum selesai.

"Keris ini Ki Rangga, yang dipakai untuk membunuh Kanjeng Sunan Prawata, saya pernah melihat keris ini ketika saya berada di kotaraja Demak" kata Ki Sempana.

"Kapan Ki Sempana melihat keris ini?" tanya Ki Rangga.

"Dulu Ki Rangga, di Kraton Demak, sudah lama sekali, ketika saya ikut membersihkan keris ini yang dulu terkena noda darah dari tubuh Pangeran Sekar Seda Lepen" kata Ki Sempana.

"Jadi keris ini yang dulu pernah dipakai untuk membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen?" tanya Rangga Pideksa.

"Ya Ki Rangga" kata Ki Sempana

"Kalau begitu keris ini adalah Kyai...." kata Rangga Pideksa .

"Kyai Setan Kober" kata Ki Sempana.

"Ya, keris Kyai Setan Kober, he apakah kau tidak salah ucap Ki Sempana, kalau kau keliru, berat akibatnya, kalau keris ini bukan Kyai Setan Kober lalu kau sebut ini sebagai Kyai Setan Kober, akibatnya bisa panjang" kata Rangga Pideksa.

"Tidak Ki Rangga, keris ini pasti keris Kyai Setan Kober, saya hafal bentuk tangguh, dapur maupun pamor dari keris Kyai Setan Kober yang dimiliki oleh Kanjeng Sunan Kudus " kata Ki Sempana.

"Ya, keris Kyai Setan Kober adalah keris pusaka milik Kanjeng Sunan Kudus, tetapi kenapa bisa berada di tangan Rangkud, pengikut Arya Penangsang?" kata Rangga Pideksa dalam hati.

Rangga Pideksa, yang sudah puluhan tahun mengabdi di Kasultanan Demak, yang mengetahui semua persoalan maupun pertentangan didalam keluarga Kraton Demak, akhirnya bisa mengurai terbunuhnya Sunan Prawata beserta Kanjeng Prameswari.

"Hm tetapi itu adalah kesimpulanku sendiri, mungkin saja kesimpulanku salah, belum tentu peristiwa yang sebenarnya tepat seperti perkiraanku" kata Ki Rangga dalam hati.

"Ki Sempana, persoalan keris Kyai Setan Kober yang dipakai untuk membunuh Sunan Prawata, selain kita berdua, jangan ada seorangpun yang mengetahui, nanti semua persoalan akan aku laporkan dulu kepada Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Rangga Pideksa.

"Baik Ki Rangga, sekarang keris Kyai Setan Kober akan saya masukkan ke dalam warangkanya, dimana warangkanya Ki Rangga?" kata Ki Sempana.

Ki Rangga segera memeriksa tubuh Rangkud, lalu iapun mengambil sebuah warangka yang terselip dilambung depan sebelah kiri.

"Ini warangkanya Ki Sempana" kata Rangga Pideksa.

Ki Sempana kemudian menerima warangka itu, lalu dibersihkannya dengan kain basah, kemudian bilah keris Kyai Setan Kober dimasukkan kedalam warangkanya. Warangka keris Kyai Bethok yang masih ada sedikit noda darah juga dibersihkan sampai terlihat bersih.

Setelah meletakkan kedua keris yang telah bersih, maka Ki Sempana berkata kepada Ki Rangga Pideksa :"Kedua keris sudah bersih Ki Rangga, tinggal mengolesi minyak pada bilahnya, apa lagi yang bisa saya lakukan?".

"Sudah selesai Ki Sempana, terima kasih, silahkan pulang, tetapi kalau nanti Ki Tumenggung Gajah Birawa ingin mendapatkan beberapa keterangan dari Ki Sempana, nanti ada prajurit yang akan diutus kerumah Ki Sempana" kata Rangga Pideksa.

"Baik Ki Rangga, saya pulang sekarang" kata Ki Sempana, lalu iapun segera membuka pintu lalu keluar dari ruang dalam.

Setelah Ki Sempana meninggalkan pendapa pesanggrahan, tak lama kemudian masuklah Lurah Wirya bersama Ki Husada, seorang dukun yang telah biasa dipanggil ke pesanggrahan,dan telah biasa memampatkan luka akibat senjata tajam.

Dengan membawa sebuah bungkusan yang berisi beberapa macam daun-daunan dan akar-akaran Ki Husada mengira akan disuruh merawat orang yang terkena senjata tajam.

Ki Husada terkejut ketika memasuki kamar Sunan Prawata, ketika mengetahui ada tiga orang yang tergeletak di dalam kamar.

"Ki Husada, kau kupanggil kesini karena Kanjeng Sunan Prawata telah terbunuh bersama Kanjeng Prameswari, dan darahpun masih menetes dari tubuhnya" kata Rangga Pideksa.

"Ya Ki Rangga" kata Ki Husada.

"Kau pampatkan darah yang masih menetes di jenazah Kanjeng Sunan Prawata" kata Ki Rangga.

"Baik Ki Rangga" kata Ki Husada.

"Orang yang berpakaian hitam ini juga terluka di kakinya" kata Ki Rangga Pideksa.

Ki Husada kemudian mulai bekerja membersihkan luka pada jenazah Sunan Prawata, dan Kanjeng Prameswari yang masih sedikit meneteskan darah.

Lurah Wirya kemudian mendekati Rangga Pideksa, lalu iapun berkata :"Ki Rangga, kamar belakang untuk membaringkan jenazah Rangkud sudah siap".

"Baik, kau pindahkan jenazah Rangkud ke kamar belakang, jangan ada seorangpun yang membuka tutup muka Rangkud" kata Rangga Pideksa.

Lurah Wirya kemudian memanggil dua orang prajurit yang berada di ruang dalam, lalu keduanya mengangkat jenazah Rangkud ke ruang di belakang, lalu diletakkannya keatas dipan kecil.

"Kau jaga kamar ini, tutup pintunya, tidak ada seorangpun yang boleh memasuki kamar ini" kata Lurah Wirya.

Sementara itu, kedua prajurit sandi Jipang yang berangkat bersama Rangkud, berlari menjauhi pesanggrahan setelah mendengar suara titir, mereka berdua segera bersembunyi di kegelapan. Mereka berhasil melarikan diri sebelum beberapa prajurit Wira Tamtama berdatangan memeriksa daerah disekitar pesanggrahan

Ditempat persembunyiannya, mereka berdua mendengar langkah beberapa kaki kuda yang sedang berjalan, dan sebentar lagi akan melintas dijalan yang tidak jauh dari tempat persembunyiannya.

"Ada beberapa orang berkuda dengan membawa obor, mau pergi kemana mereka?" tanya Gendon yang mendengar derap kaki kuda dan melihat beberapa obor yang menyala.

"Kau bertanya kepadaku? Dari tadi kita bersama-sama, hanya sebentar kau pergi bersama Ki Rangkud, setelah itu kita bersama lagi" jawab Ranu.

"Ki Rangkud berjanji setelah membunuh Sunan Prawata kita akan bertemu di tempat kuda-kuda kita, mungkin sekarang Ki Rangkud telah menunggu disana" kata Gendon.

"Nanti kita pergi kesana setelah orang-orang berkuda yang membawa obor itu telah lewat" kata Ranu.

Sesaat kemudian enam ekor kuda berjalan melintas tidak jauh dari persembunyian mereka.

"Kau yang akan ke Kalinyamat?" tanya seorang penunggang kuda kepada temannya yg berkuda disampingnya.

Malam yang sepi di daerah Prawata, menyebabkan suara mereka menjadi jelas terdengar.

"Ya, aku yang akan mengabarkan berita lelayu ini ke Kalinyamat, kasihan Kanjeng Ratu Kalinyamat, ia pasti bersedih, Sunan Prawata adalah kakak yang dikasihinya" kata temannya.

"Akupun juga tidak mengira, kalau Kanjeng Sunan Pawata terbunuh malam ini" kata prajurit lainnya lagi. Mendengar kalimat orang berkuda itu, Gendon dan Ranu yang sedang bersembunyi keduanya tersenyum.

"Usaha Ki Rangkud telah berhasil, Sunan Prawata telah terbunuh" kata Ranu.

"Ya, mari kita segera pergi ke tempat kuda kita di pinggir hutan, kita tunggu Ki Rangkud disana, setelah itu kita pulang ke Jipang" kata Gendon.

Beberapa saat kemudian rombongan prajurit berkuda yang membawa obor itupun telah semakin menjauh, cahaya oborpun sudah tidak terlihat lagi, menghilang ketika kuda-kuda itu telah melewati tikungan di dekat randu alas.

"Lebih baik kita berada disini dulu menunggu terbitnya fajar, biar jalannya tidak terlalu gelap" kata Ranu.

"Ya" sahut Gendon sambil menguap.

Sambil menunggu datangnya fajar, mereka berdua berusaha untuk bisa tidur, mereka berdua bersandar pada pohon.

"Dingin, kain panjang kita berada dalam bungkusan di pelana kuda" kata Ranu.

Malampun sampai ke ujungnya, lintang panjer rina bersinar cemerlang, langit bang wetanpun telah memerah, mataharipun mulai terbangun, menjalankan tugasnya menyinari bumi Prawata.

Pesanggrahan Prawata terlihat sibuk, belasan prajurit Wira Tamtama berjaga disekitar pendapa maupun di halaman belakang.

Jenazah Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari telah dibaringkan di ruang dalam, lalu ditutupi dengan kain panjang, sedangkan dipan keduanya diatur berjejer.

Kasultanan Demak sedang berkabung, raja dan prameswari telah terbunuh secara bersamaan, sedangkan jenazah pembunuh Kanjeng Sunan Prawata terbaring ditutupi kain panjang berada dikamar belakang yang dijaga oleh dua orang prajurit Wira Tamtama.

Tak seorangpun berani membuka kain penutup jenazah pembunuh Sunan Prawata, Lurah Wirya telah melarang siapapun untuk memasuki kamar yang berisi jenazah pembunuh yang juga telah terbunuh.

Sementara itu, tidak jauh dari pesanggrahan, di pinggir hutan Prawata, dua orang prajurit sandi Jipang, Gendon dan Ranu, merasa khawatir ketika mereka berdua telah berada di pinggir hutan Prawata, ditempat mereka menambatkan tiga ekor kuda. Suasana dipinggir hutan terlihat sepi sekali, mereka berdua tidak menjumpai Rangkud yang telah berjanji akan bertemu dengan mereka ditempat itu, hanya terlihat tiga ekor kuda yang tertambat di beberapa cabang pohon.

"Seharusnya saat ini Ki Rangkud sudah sampai disini, ditempat penambatan kuda ini" kata Gendon khawatir.

"Ki Rangkud bilang begitu kepadamu?" tanya Ranu.

"Ya, ia menyuruh aku melarikan diri lewat halaman belakang, setelah Ki Rangkud selesai membunuh Sunan Prawata, ia akan menuju ke tempat kuda-kuda ini" kata Gendon.

"Sebaiknya sekarang kita kembali ke sekitar pesanggrahan, kita mencari berita, apa sebetulnya yang telah terjadi didalam pesanggrahan" ajak Ranu.

"Baik, kita harus berganti pakaian dulu" kata Gendon, lalu mereka berdua segera melepaskan pakaian serba hitamnya, lalu berganti pakaian dengan pakaian yang biasa mereka kenakan.

Beberapa saat kemudian, dengan membawa bungkusannya, merekapun berjalan menuju pesanggrahan Prawata yang letaknya tidak jauh dari hutan Prawata, saat itu pesanggrahan Prawata terlihat telah dijaga oleh belasan prajurit Wira Tamtama.

Puluhan orang penduduk di desa Prawata terlihat berada diluar regol pesanggrahan, mereka bergerombol saling bercerita tentang pembunuhan yang terjadi di pesanggrahan Prawata tadi malam.

Kedua orang prajurit sandi Jipang yang telah terbiasa mencari berita di berbagai keadaan, tidak mengalami kesulitan apapun ketika harus menyusup di keramaian di depan pesanggrahan Prawata.

Gendon dan Ranupun yang seakan-akan tidak saling mengenal, berjalan mendekati beberapa orang yang sedang asyik berbicara.

"Ki sanak, sedang ada apa di daerah Prawata ini, kelihatan seperti ramai sekali" tanya Gendon kepada seorang anak muda yang berada disana.

"Kanjeng Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari telah meninggal dunia, mereka telah terbunuh tadi malam, he kau kelihatannya bukan orang dari daerah Prawata, Ki Sanak" kata anak muda itu.

"Aku bukan orang dari Prawata, aku berasal dari daerah Asem Arang" kata Gendon.

"Kau akan pergi ke mana Ki Sanak" tanya anak muda itu yang melihat orang itu membawa sebuah bungkusan.

"Aku akan pergi ke tempat pamanku yang menjadi nelayan di daerah Rembang, apakah desa Rembang masih jauh dari sini, Ki Sanak?" tanya Gendon.

"Sudah dekat, nanti pada waktu matahari mencapai puncak langit, setelah melewati Juwana, kau akan tiba di desa Rembang" kata anak muda itu.

"Ya Ki Sanak" kata Gendon, kemudian iapun berjalan mendekati seorang tua yang sedang bercerita kepada beberapa orang disekitarnya.

"Aku tak mengira kalau Kanjeng Sunan Prawata telah meninggal bersamaan dengan Kanjeng Prameswari" kata seorang tua yang rambutnya telah memutih.

"Ya memang harus begitu, jodoh, rejeki, pati, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya" kata orang yang berada disebelahnya

"Untunglah Kanjeng Sunan Prawata juga telah mampu membunuh orang yang membunuhnya" kata orang tua itu.

"Darimana kau mengetahuinya, kau kemarin sehari penuh pergi berdua bersama aku" kata orang yang disebelahnya.

"Kemenakanku yang cerita padaku, kau tahu, kemenakanku seorang prajurit Wira Tamtama yang tadi malam sedang bertugas mengejar pembunuh lainnya yang melarikan diri, keponakanku sempat mencari orang itu disekitar rumahku" cerita orang tua itu.

"Kalau begitu Kanjeng Sunan Prawata mampu membunuh orang yang membunuhnya, jadi keduanya telah meninggal dunia?" tanya temannya.

"Ya, mereka berdua telah mati sampyuh" kata orang tua yang berambut putih.

Tanpa menarik perhatian, perlahan-lahan Gendon melangkah menjauhi pesanggrahan, setelah bayangan tubuhnya hilang tertutup bayangan pohon, maka Ranupun perlahan-lahan menyusul berjalan ke arah jalan yang telah dilalui temannya.

Keduanya masih terus berjalan, setelah agak jauh, maka Ranupun mempercepat langkahnya hingga menyusul temannya yang berada didepannya.

"Celaka, ternyata Ki Rangkud telah mati sampyuh bersama Sunan Prawata" kata Gendon setelah Ranu berhasil menyusul dan telah berjalan disampingnya.

"Ya, kalau Ki Rangkud terbunuh, berarti keris Kyai Setan Kober berhasil direbut prajurit Demak" kata Ranu.

"Padahal keris itu adalah keris pusaka Kanjeng Adipati Arya Penangsang, keris yang menjadi sipat kandel Kadipaten Jipang" sahut Gendon.

"Ya, saat ini keris itu berada ditangan perwira Wira Tamtama Demak, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ranu.

"Kita secepatnya pulang ke Jipang, kita laporkan semuanya kepada Kanjeng Adipati Arya Penangsang, kalau Sunan Prawata, Kanjeng Prameswari dan Ki Rangkud, ketiganya telah terbunuh" kata Gendon

"Baik, marilah kita ambil kuda-kuda kita yang berada di pinggir hutan" sahut Ranu.

Keduanyapun segera mempercepat langkahnya menuju ke pinggir hutan Prawata, tempat ditambatkannya kuda-kuda mereka. Tiga ekor kuda itu masih tertambat di cabang pohon, ketika Gendon dan Ranu tiba di tepi hutan Prawata. Dengan cepat keduanya melepas tali kendali kuda yang masih tertambat di cabang pohon, didalam kerimbunan beberapa bayangan pohon besar.

"Gendon, kau berangkatlah lebih dulu, kau pacu kudamu sampai ke Jipang, aku berkuda dibelakangmu dengan menggandeng kuda Ki Rangkud" kata Ranu.

"Baik, aku akan berangkat sekarang" kata Gendon, sambil naik ke punggung kuda, bungkusannyapun juga telah disangkutkan di pelana kudanya.

"Ya, hati-hati, jangan berpacu terlalu kencang, supaya napas kudamu tidak putus di jalan" kata Ranu.

Sesaat kemudian seekor kuda yang dipunggungnya terdapat prajurit sandi dari Jipang, Gendon, telah berpacu di jalan yang menuju ke arah selatan. Dibelakangnya, Ranu, seorang prajurit sandi lainnya sudah berada di punggung kuda yang berjalan sambil menuntun seekor kuda yang tidak ada penumpangnya. Gendon menunggang kudanya meninggalkan hutan Prawata, tanpa menghiraukan dinginnya udara pagi, ia terus memacu kudanya cepat sekali, meninggalkan debu-debu beterbangan yang dihamburkan oleh kaki-kaki kudanya.

Matahari naik ke langit semakin tinggi, pagi itu kuda yang ditunggangi Gendonpun masih terus berlari dijalan yang menuju Kadipaten Jipang, semakin lama Gendonpun menjadi berdebar-debar, iapun menjadi semakin gelisah.

"Apa nanti yang akan dikatakan oleh Kanjeng Adipati Arya Penangsang, setelah mengetahui keris Kyai Setan Kober kini berada ditangan prajurit Wira Tamtama?" kata Gendon dalam hati.

"Bagaimana nanti kalau nanti Kanjeng Adipati menyuruhku untuk mengambil kembali keris Kyai Setan Kober ke pesanggrahan Prawata?" kata Gendon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

'Meskipun aku dulu seorang pencuri, tetapi betapa beratnya kalau sekarang aku disuruh mencuri kembali keris Kyai Setan Kober yang kini berada ditangan para prajurit Wira Tamtama Demak" kata Gendon dalam hati,

Kuda yang ditunggangi Gendon masih berlari terus menuju Kadipaten Jipang, meninggalkan Ranu yang berkuda jauh dibelakangnya.

Sementara itu, salah seekor kuda yang ditunggangi oleh prajurit Wira Tamtama yang akan mengabarkan berita lelayu ke Sunan Kudus telah sampai di depan gerbang Panti Kudus. 

Prajurit itupun turun dari kudanya, dan ketika beberapa orang santri berjalan mendekatinya, iapun bertanya :"Kanjeng Sunan Kudus ada di tempat?"

"Kanjeng Sunan Kudus sedang sakit, sudah sejak kemarin Kanjeng Sunan Kudus sakit dan berbaring di kamarnya, saat ini Kanjeng Sunan Kudus berpesan tidak bisa menerima tamu" kata salah seorang santri yang menyambutnya.

"Kalau begitu, sampaikan kepada Kanjeng Sunan Kudus, ada berita lelayu dari pesanggrahan Prawata" kata prajurit Wira Tamtama yang menjadi utusan dari pesanggrahan Prawata.

Utusan itupun kemudian menceritakan tentang meninggalnya Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari, dan santri itupun berjanji akan menyampaikan berita lelayu ini kepada Sunan Kudus.

Ketika matahari tepat berada di puncak langit, beberapa prajurit yang melakukan perjalanan menuju Kalinyamat, Demak maupun Kadilangu telah tiba di tempat yang dituju pada waktu yang hampir bersamaan.

Di pesanggrahan Kalinyamat, Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat terkejut ketika seorang prajurit Wira Tamtama mengabarkan tentang meninggalnya Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari.

"Jadi keduanya telah terbunuh semalam?" tanya Ratu Kalinyamat.

"Ya Kanjeng Ratu" kata utusan itu.

"Siapa pembunuhnya?" tanya Ratu Kalinyamat, sorot matanyapun memancarkan kemarahan.

"Saya tidak tahu Kanjeng Ratu" jawab prajurit Wira Tamtama itu.

"Bagaimana dengan Pangeran Pangiri? Apakah ia selamat?" tanya Sang Ratu.

"Ya Kanjeng Ratu, Pangeran Pangiri telah selamat" kata prajurit Wira Tamtama itu.

"Baik, kami sekarang juga akan berangkat ke Prawata" kata Pangeran Hadiri, setelah itu Pangeran Kalinyamatpun segera memerintahkan untuk mempersiapkan keberangkatan rombongan Kalinyamat ke Prawata.

Beberapa saat kemudian, rombongan dari pesanggrahan Kalinyamat telah berangkat menuju pesanggrahan Prawata, Ratu Kalinyamat telah berada dipunggung kuda, bersebelahan dengan Pangeran Hadiri.

Hampir sama dengan utusan yang datang di Kalinyamat, utusan yang menuju ke Kadilangu juga telah bertemu dengan Sunan Kalijaga, sedangkan yang menuju ke Kraton Demak telah menemui Tumenggung Gajah Birawa beserta Patih Wanasalam.

"Di pesanggrahan Prawata saat ini yang bertugas Ki Rangga Pideksa?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Betul Ki Tumenggung, yang bertugas di Prawata adalah Ki Rangga Pideksa dan Ki Lurah Wirya" kata prajurit Wira Tamtama.

Tumenggung Gajah Birawa segera mengutus beberapa prajurit untuk menberitahu berita lelayu ini kepada semua Tumenggung Kasultanan Demak. Tumenggung Gajah Birawapun kemudian memberitahukan ke ibu suri, ibu dari Sunan Prawata, dan beberapa saat kemudian beberapa rombongan dari Demak telah berangkat secara berkelompok menuju Prawata.

Puluhan orang prajurit Wira Braja, Wira Manggala maupun prajurit Patang Puluhan telah berangkat ke Prawata. Hampir bersamaan dengan keberangkatan rombongan dari Demak, telah berangkat pula rombongan Sunan Kalijaga dari Kadilangu bersama beberapa orang santrinya.

Mataharipun telah sedikit condong ke barat, prajurit yang diutus ke Jipang telah sampai di dalem Kadipaten Jipang Panolan. Anderpati yang sedang berada di pendapa segera menemui utusan yang berpakaian prajurit Wira Tamtama Kasultanan Demak.

"Mohon diijinkan untuk menghadap Kanjeng Adipati Arya Penangsang untuk menyampaikan berita lelayu dari pesanggrahan Prawata" kata utusan itu.

"Baik, tunggulah di pendapa, akan saya sampaikan kepada Kanjeng Adipati" kata Anderpati, lalu iapun melangkah menuju ruang dalam.

Di ruang dalam, Arya Penangsang bersama Patih Matahun sedang menunggu kedatangan abdi setianya yang menjadi pemimpin prajurit Jipang, Rangkud yang sedang diutus mengerjakan tugas berat di Prawata bersama dengan dua orang prajurit sandi Jipang.

Hampir bersamaan keduanya menengok ke arah pintu, ketika melihat Anderpati terlihat memasuki ruang dalam.

"Ada apa Nderpati" kata Arya Penangsang yang sedang duduk dihadap oleh Patih Matahun ketika mengetahui Anderpati masuk ke ruang dalam.

"Ada utusan dari pesanggrahan Prawata, Kanjeng Adipati" kata Anderpati.

"Suruh dia masuk" kata Adipati Jipang.

Anderpatipun segera keluar, dan sesaat kemudian iapun masuk bersama utusan dari pesanggrahan Prawata.

"Kau utusan dari pesanggrahan Prawata?" tanya Adipati Jipang.

"Ya Kanjeng Adipati" kata prajurit Wira Tamtama itu.

"Berita apa yang kau bawa dari pesanggrahan Prawata?" tanya Arya Penangsang.

"Berita lelayu Kanjeng Adipati, Kanjeng Sunan Prawata telah meninggal dunia, terbunuh bersama Kanjeng Prameswari" kata utusan itu.

"Kapan peristiwa itu terjadi?" tanya Arya Penangsang.

"Tadi malam pada saat wayah sepi wong, Kanjeng Adipati" kata prajurit itu.

"Dendam telah terbalas" kata Arya Penangsang di dalam hati, dan di sudut bibirnya terlihat sebuah senyum kepuasan.

Tetapi senyum itu dengan cepat menghilang ketika teringat ternyata Kanjeng Prameswari juga ikut terbunuh besama suaminya.

"Bodoh, bodoh sekali, kenapa Rangkud juga membunuh Ratu Prawata?" katanya dalam hati.

"Padahal Prameswari itu tidak ada hubungan apapun dengan terbunuhnya ayahanda Pangeran Sekar Seda Lepen" kata Penangsang dalam hati.

"Yang mempunyai persoalan denganku hanyalah Sunan Prawata saja dan sekarang hutangnyapun telah lunas, seharusnya Rangkud tidak perlu membunuh Prameswari" kata Adipati Jipang dalam hati, menyesalkan tindakan Rangkud yang telah membunuh Kanjeng Prameswari.

Setelah beberapa saat mereka berdiam diri, maka Arya Penangsang kemudian bertanya kepada prajurit Wira Tamtama itu.

"Prajurit, lalu siapakah orang yang telah berani membunuh Sultan Demak beserta Prameswari ?" tanya Arya Penangsang.

"Saya tidak tahu Kanjeng Adipati" jawab utusan itu.

"Baiklah, kalau begitu apakah sekarang kau akan langsung pulang ke Prawata, prajurit?" kata Sang Adipati.

"Ya Kanjeng Adipati, tetapi nanti saya akan singgah sebentar di desa Tarub, tempat kediaman paman saya" kata utusan itu.

"Desa Tarub? Desa yang terletak di sebelah utara desa Sela ? Desa itu tidak begitu jauh dari desa Sela" tanya Arya Penangsang.

"Betul Kanjeng Adipati" jawab prajurit Wira Tamtama itu.

Kemudian kepada Anderpati, Adipati Jipang berkata :"Nderpati, kau urus utusan ini, beri dia bekal untuk kembali ke Prawata".

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Anderpati, lalu ia dan prajurit Wira Tamtama bersama-sama keluar dari ruang dalam.

Setelah Anderpati bersama prajurit itu keluar dari ruang dalam, maka yang berada di ruang dalam hanyalah Arya Penangsang bersama Patih Matahun.

"Paman Matahun" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati" jawab Patih Matahun.

"Paman tidak usah pulang dulu, paman disini dulu menunggu pulangnya Rangkud dan dua orang prajurit sandi, perhitunganku sebelum menjelang malam, mereka akan tiba di Jipang" kata Arya Penangsang.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Patih Matahun.

Senjapun sebentar lagi akan tiba, sinar matahari telah berwarna sedikit kemerahan, panasnyapun sudah jauh berkurang, dan pada saat menjelang matahari terbenam, yang ditunggu-tunggu oleh Adipati Jipang telah datang, Gendon yang berada dipunggung kuda, baru saja tiba di depan pendapa Kadipaten Jipang.

Gendon turun dari punggung kudanya, denyut jantungnya semakin kencang, sebentar lagi ia akan bertemu dengan Adipati Arya Penangsang.

"Apapun yang terjadi nanti, aku harus melaporkan semuanya kepada Kanjeng Adipati, mudah-mudahan Kanjeng Adipati tidak marah karena keris Kyai Setan Kober sekarang berada ditangan prajurit Wira Tamtama Demak" kata Gendon dalam hati, kemudian kakinyapun melangkah menuju ke pendapa Kadipaten Jipang.

Di pendapa, Gendonpun kemudian berjalan mendekati Anderpati yang sedang duduk bersama dua orang prajurit Jipang.

"Kakang Nderpati, aku baru saja datang dari pesanggrahan Prawata, mohon dapat menghadap Kanjeng Adipati Arya Penangsang" kata Gendon.

"Kau Gendon, kau yang berangkat ke pesanggrahan Prawata bersama Ki Rangkud kemarin pagi?" tanya Anderpati.

"Betul kakang Nderpati" jawab Gendon.

Anderpati bangkit berdiri, lalu ia bersama Gendon berjalan menuju ruang dalam untuk menghadap Arya Penangsang yang sedang duduk berdua bersama Patih Matahun. Mereka berdua berhenti didepan pintu, menunggu perintah untuk memasuki ruang dalam.

"Ada apa Nderpati?" tanya Patih Matahun.

"Petugas sandi yang diutus ke pesanggrahan Prawata telah datang, ingin menghadap Kanjeng Adipati" jawab Anderpati.

Arya Penangsang mengangkat wajahnya, iapun heran dan bertanya dalam hati, utusan yang datang dari Prawata, yang menghadap kepadanya bukan tiga orang, tetapi hanya seorang saja.

"Masuklah" perintah Arya Penangsang.

Gendonpun segera masuk ke ruang dalam, sedangkan Anderpati kembali berjalan ke pendapa.

"Kau prajurit sandi yang berangkat bersama Rangkud ke pesanggrahan Prawata? Siapa namamu?" tanya Adipati Jipang.

"Betul Kanjeng Adipati, nama saya Gendon" jawab Gendon.

"Kau datang dari Prawata? Kenapa kau menghadapku seorang diri, dimana Rangkud dan temanmu yang seorang lagi ?" tanya Penangsang..

"Ceritanya panjang Kanjeng Adipati, perjalanan kami semula lancar, kami sampai di pesanggrahan Prawata pada saat sore hari" kata Gendon bercerita.

"Coba kau ceritakan semuanya, Gendon" kata Arya Penangsang.

Gendonpun kemudian bercerita, sejak mereka berangkat kemudian ia berhasil masuk ke pesanggrahan, setelah itu ia dikejar oleh para prajurit Wira Tamtama, lalu diceritakan pula ketika ia besama Ranu mendengarkan cerita tentang terbunuhnya Rangkud dari orang-orang yang berada diluar pagar pesanggrahan Prawata.

"Jadi Rangkud telah mati sampyuh bersama Sunan Prawata?" tanya Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati" jawab Gendon yang dadanya semakin berdebar-debar..

"Jadi keris pusaka sipat kandel Kadipaten Jipang, Kyai Setan Kober sekarang berada di tangan prajurit Wira Tamtama Demak?" tanya Arya Penangsang dengan nada yang semakin dalam.

"Ya, Kanjeng Adipati" jawab Gendon yang denyut nadinya semakin kencang.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita