Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 55 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 55 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

“Baik Kanjeng Adipati” jawab Rangkud dengan suara bergetar.

“Dulu Sunan Prawata membunuh ayahanda Sekar Seda Lepen menggunakan keris Kyai Setan Kober, kini ia juga akan mati oleh keris yang sama” kata Adipati Jipang.

Arya Penangsang kemudian mencabut keris Kyai Setan Kober yang terselip di lambung kirinya, lalu iapun memberikan keris pusaka itu kepada Rangkud, dan dengan kedua tangan yang gemetar Rangkudpun menerima keris pusaka sipat kandel Kadipaten Jipang, Kyai Setan Kober.

Jantung Rangkudpun masih terasa berdebar, kedua tangannya yang memegang keris pusaka masih gemetar, dan iapun terkejut ketika Arya Penangsang berkata :”Kalau kau takut menerima tugas membunuh Sunan Prawata, kau dapat mengembalikan keris itu kepadaku, Rangkud”

“Saya tidak takut Kanjeng Adipati, akan saya bunuh Sunan Prawata yang pengecut itu dengan keris pusaka ini” kata Rangkud dengan suara yang masih bergetar.

“Bagus, besok pagi berangkatlah ke pesanggrahan Prawata bersama dua orang prajurit sandi Jipang” kata Arya Penangsang,

“Sendika dawuh Kanjeng Adipati” kata Rangkud.

“Setelah dari sini kau bisa mencari dua orang prajurit sandi yang akan berangkat bersamamu besok pagi” kata Arya Penangsang.

“Ya Kanjeng Adipati” jawab Rangkud.

“Paman Matahun” kata Adipati Jipang.

Patih Matahun menggeser duduknya maju kedepan,

“Aku akan membersihkan diri dan akan beristirahat dulu” kata Arya. Penangsang.

“Silakan, Kanjeng Adipati” kata Patih Matahun.

Arya Penangsangpun kemudian bangkit berdiri, lalu berjalan menuju ke pakiwan, membersihkan dirinya setelah sehari penuh berkuda dari Kudus ke Jipang.

Malam itu juga Rangkud segera menghubungi dua orang prajurit sandi yang besok pagi akan diajaknya ikut berangkat ke pesanggrahan Prawata.

“Kita berangkat pagi hari pada saat matahari terbit, supaya kita bisa sampai di pesanggrahan Prawata tidak terlalu gelap” kata Rangkud kepada dua orang prajurit sandi.

“Baik Ki Rangkud” kata prajurit sandi itu.

Malam yang dingin, suasana sepi menyelimuti dalem Kadipaten Jipang, hanya suara cengkerik yang terdengar tanpa henti, kadang-kadang diselingi oleh suara kepak sayap kelelawar yang sedang mencari makan di pohon jambu.

Ketika dari jauh terdengar sayup-sayup suara kentongan, seorang prajurit Jipang yang bertugas di pendapa bangkit berdiri, kemudian iapun memukul kentongan yang terletak disudut pendapa dengan keras tetapi dengan irama yang lambat, semakin lama iramanya semakin cepat, kemudian melambat lagi, setelah itu suara kentonganpun berhenti.

“Dara muluk, sudah tengah malam” kata seorang nenek yang sedang berbaring sambil mendekap cucunya yang sedang tidur nyenyak disampingnya, yang rumahnya tidak jauh dari dalem Kadipaten. Ketika kegelapan malam sudah hampir berakhir, suara kokok ayam jantanpun telah terdengar bersahutan, diselingi kicau burung yang riang meyambut datangnya pagi.

Matahari baru berjarak sejengkal diatas cakrawala sebelah timur, ketika tiga ekor kuda berlari meninggalkan halaman Kadipaten Jipang menuju ke arah utara.

Penunggang kuda yang berlari paling depan, salah seorang kepercayaan Arya Penangsang yang menjadi pemimpin prajurit Jipang, Rangkud, sedang mengemban tugas yang berat dari Adipati Jipang, membunuh Sultan Demak di pesanggrahan Prawata,

Rangkudpun berbesar hati, semangatnya bertambah tinggi, Adipati Jipang telah memberi bekal yang cukup untuk melaksanakan tugas itu, iapun juga telah membawa sebuah pusaka sipat kandel Kadipaten Jipang, keris Kyai Setan Kober.

Dengan menggunakan tangan kanannya, Rangkud meraba lambungnya sebelah kiri, dan tangannyapun menyentuh warangka keris yang ngedab-edabi, keris yang telah diselipkan di lambung depan lalu ditutupi dengan ujung bajunya.

“Ternyata aku diperintahkan untuk membawa Keris Kyai Setan Kober, dan tugasku hanya menggores tubuh Sunan Prawata yang matanya buta itu dengan keris pusaka ini, cukup dengan sebuah goresan kecil” kata Rangkud dalam hati, dan ketika tangannya menyentuh warangka keris Kyai Setan Kober, hati Rangkudpun menjadi tenang,

“Tidak seorangpun yang masih bisa bertahan hidup apabila tubuhnya telah tergores keris Kyai Setan Kober, meskipun hanya seujung rambut” desis Rangkud.

Angin dingin yang menerpa wajahnya, tidak dihiraukannya, kudanyapun masih tetap berlari, meninggalkan debu-debu yang beterbangan di belakangnya.

Dua ekor kuda lainnya, dengan dua orang petugas sandi berada dipunggungnya, berurutan berpacu dibelakangnya.Tiga buah bungkusan tergantung disisi pelana kuda mereka, bungkusan yang berisi perbekalan dan keperluan mereka selama menjalankan tugas di pesanggrahan Prawata.

Beberapa sungai kecil telah dilewati, beberapa bulak yang panjang dengan mudah mereka lampaui, kini mereka memasuki sebuah hutan tipis, jauh di sebelah utara Jipang. Meskipun ketiga kuda itu tidak bisa lari kencang didalam hutan yang tidak begitu lebat, tetapi jalan yang sudah terbuka memudahkan ketiga kuda itu untuk terus berjalan menuju arah utara.

Ketika matahari hampir berada dipuncak langit, mereka bertiga telah jauh meninggalkan hutan disebelah utara Jipang dan merekapun kini telah menempuh lebih dari setengah perjalanan.

“Gendon, kita beristirahat di depan, di bawah pohon Waru itu” kata Rangkud kepada salah seorang prajurit sandi.

“Ya Ki” kata salah seorang dari mereka yang berbadan agak gemuk yang dipanggil Gendon.

“Ki Rangkud, kuda-kuda kita perlu minum” kata prajurit sandi yang seorang lagi, yang bertubuh agak kurus.

“Ya didekat pohon Waru itu ada sungai kecil yang melintang dijalan, nanti kuda-kuda kita bisa diberi minum disana, Ranu” kata Rangkud.

“Ya Ki” jawab Ranu sambil terus menjalankan kudanya menuju sebatang pohon Waru yang berdaun rindang.

Ketiga orang Jipang itu telah sampai dibawah pohon Waru, lalu merekapun berhenti dan beristirahat duduk dibawah pohon Waru yang tumbuh dipinggir jalan, dan ketika bungkusan yang berisi bekal makanan telah dibuka, maka Ranu segera mengambil nasi dan sayur kacang panjang, diletakkannya diatas daun pisang, lalu iapun segera memakannya dengan lahap.

“Makanmu banyak sekali Ranu, kenapa badanmu tak dapat gemuk?” tanya Gendon yang mengambil daun pisang lalu iapun membuat sebuah pincuk.

Ranu tidak menjawab, ia tidak menghiraukan pertanyaan Gendon, mulutnya masih penuh berisi nasi.

“Kalau Ki Rangkud nanti malam tidak bisa masuk ke kamar Sunan Prawata, saya bisa membuatkan jalan masuknya, nanti saya yang akan nggangsir rumah itu Ki” kata Gendon sambil tangannya mengambil nasi lagi.

“Kau bisa membuat lubang gangsiran Gendon?” tanya Rangkud.

“Bisa Ki” jawab Gendon malu-malu.

“Nggangsir, itu memang pekerjaan Gendon, Ki” kata Ranu sambil tertawa.

“Itu waktu dulu Ki Rangkud, dulu sebelum saya menjadi prajurit, tetapi sekarang, pekerjaan lama itu sudah saya tinggalkan” kata Gendon.

“Di daerah mana saja dulu kau pernah mencuri Gendon” tanya Rangkud

“Jauh Ki, sepanjang pantai utara, mulai dari Demak sampai Tuban” kata Gendon.

“Gendon, kau bisa membuka pintu yang diselarak kayu dari dalam?” tanya Rangkud.

‘Kadang-kadang saya bisa Ki, tetapi kadang-kadang juga gagal” kata Gendon.

“Kau nanti ikut aku masuk ke ruang dalam, tugasmu adalah membuka pintu kamar Sunan Prawata” kata Rangkut.

“Baik Ki” kata Gendon.

Mereka bertiga masih melanjutkan makan, menghabiskan bekal yang mereka bawa, setelah itu merekapun memberi minum tiga ekor kuda yang kehausan. Tak lama kemudian, setelah mereka beristirahat sejenak, ke tiga kuda itu kembali berpacu menuju ke arah utara, ke hutan Prawata.

Matahari memancarkan panasnya sambil perlahan-lahan bergeser ke barat, dan ketika matahari sudah mendekati cakrawala, merekapun hampir sampai di pinggir hutan Prawata.

“Kita terus masuk sedikit ke hutan Prawata” kata Rangkud, dan ketika senja menjelang, merekapun telah sampai di hutan Prawata.

“Kita cari tempat yang agak terlindung untuk menyimpan kuda-kuda kita” kata Rangkud.

Merekapun kemudian agak masuk sedikit kedalam hutan Prawata untuk menyembunyikan ke tiga kuda mereka.

Setelah mendapatkan sebuah tempat yang terlindung dibalik pohon dan gerumbul, maka merekapun lalu mengikat tali kendali kuda pada sebatang cabang pohon. Setelah itu mereka bertiga kemudian mengganti pakaian yang mereka kenakan dengan pakaian yang berwarna hitam.

Setelah memakai pakaian yang berwarna hitam, Gendon lalu membuka bungkusan miliknya dan mengambil beberapa buah besi berbentuk pipih yang ujungnya seperti pengait, serta mengambil beberapa peralatan yang lain.

“Kau bawa apa itu?” tanya Ki Rangkud.

Gendon tersenyum, iapun memasukkan beberapa peralatannya di dalam ikat pingangnya yang lebar.

“Peralatan untuk membuka pintu kamar Sunan Prawata sudah saya persiapkan Ki” kata Gendon

Rangkut tidak berkata apapun, ia kemudian berjalan menuju pesanggrahan Prawata yang sudah tidak begitu jauh lagi, diikuti oleh kedua orang prajurit sandi Jipang.

‘Kita berhenti disini, kita tunggu sampai hari menjadi gelap” kata Rangkud.

Kemudian mereka bertiga duduk ditempat yang agak terlindung, menunggu gelap malam yang sebentar lagi akan menyelimuti pesanggrahan Prawata, saat itu langit terlihat gelap, bulanpun sama sekali tidak terlihat ketika tiga sosok tubuh berpakaian serba hitam mengendap-endap menuju pesanggrahan Prawata, mereka segera mencari tempat yang terlindung, dan ketika dilihatnya sebuah tempat yang gelap, maka mereka kemudian berhenti disamping gerumbul pohon didekat pagar pesanggrahan.

“Hati-hati, ada beberapa prajurit Wira Tamtama disana” bisik Rangkud kepada kedua orang prajurit sandi Jipang, sambil jari telunjuknya menujuk ke arah pendapa. Kedua temannya menganggukkan kepalanya, merekapun melihat ada beberapa prajurit Wira Tamtama yang berada di pendapa.

“Kita tunggu disini sampai nanti wayah sepi wong” kata Rangkud.

“Ya Ki” sahut Gendon, dan beberapa saat kemudian iapun menggeremang :”Disini nyamuknya banyak”

Prajurit sandi Jipang yang seorang lagi, Ranu, melihat ke arah Gendon yang menggeremang, tetapi ia tidak berkata apapun juga. Rangkud kemudian mengambil sebuah batu sebesar telur ayam yang terletak di dekat kakinya, kemudian batu itupun diberikan kepada Ranu.

“Bawalah Ranu, nanti batu ini ada gunanya” kata Rangkud.

Tanpa berkata apapun, Ranu menerima batu itu, tetapi kembali pandangannya tertuju ke arah para prajurit Wira Tamtama yang berada di pendapa. Rangkud menajamkan pandangan matanya, di pendapa dilihatnya empat orang prajurit Wira Tamtama yang sedang berjaga. Gendon dan Ranu juga melihat kearah pendapa, perhatiannya tertuju kepada para prajurit Wira Tamtama yang menjaga pesanggrahan Prawata.

“Yang berjaga ada empat orang prajurit Ki” kata Gendon.

“Terlalu sedikit, hanya ada empat orang prajurit Wira Tamtama yang berjaga disini, pasti di halaman belakang masih ada beberapa orang prajurit Wira Tamtama lainnya” bisik Rangkud kepada kedua temannya. Gendon dan Ranu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, beberapa saat mereka hanya berdiam diri.

“Sebentar lagi” kata Ranu.

“Ya, kita harus sabar, kita tunggu nanti sampai prajurit Wira Tamtama itu nganglang” kata Rangkud, dan kedua orang temannyapun terdiam.

Rangkud masih memandang tajam ke arah pendapa, empat orang prajurit Wira Tamtama masih duduk di pendapa, dan ketika tangan Rangkud menyentuh hulu keris pusaka kyai Setan Kober yang terselip di lambungnya, maka keberaniannya menjadi bertambah berlipat ganda.

“Bukan salahku kalau empat orang prajurit Wira Tamtama itu harus mati terkena keris Kyai Setan Kober” kata Rangkud dalam hati.

“Aku harus mampu menggores tubuh Sunan Prawata dengan keris kyai Setan Kober” kata Rangkud dalam hati, lalu iapun berkata perlahan-lahan :”Gendon, kita nanti akan masuk dan membuka pintu kamar yang paling besar, itu adalah kamar Sunan Prawata”.

“Ya Ki” jawab Gendon.

“Itu tugasmu, membuka pintu” bisik Rangkud.

“Ya Ki” jawab Gendon perlahan.

Beberapa saat kemudian, Rangkudpun melihat ke arah sekelilingnya yang gelap, hanya di pendapa terlihat seberkas nyala api minyak yang kecil, tidak cukup untuk menerangi halaman disekitarnya.

“Sekarang sudah masuk wayah sepi wong, kita bersiap untuk masuk, kita tunggu sampai prajurit Wira Tamtama berangkat nganglang” kata Rangkud.

“Ranu, kalau aku sudah berada di samping pendapa, kau lempar batu itu ke arah gerbang” kata Rangkud.

“Baik Ki” jawab Ranu.

“Kau tahu maksudku menyuruh kau melempar batu ke arah regol, Ranu?” tanya Rangkud.

“Ya Ki, saya tahu” kata Ranu.

Sementara itu didalam salah satu kamar di pesanggrahan Prawata, Sultan Demak bersama Kanjeng Prameswari yang dulu disebut sebagai Ratu Prawata masih belum tidur, mereka masih berkumpul dengan anaknya yang laki-laki, Pangeran Pangiri yang telah berusia hampir lima warsa.

Mereka bertiga bermain-main diatas dipan berukir, sedangkan tidak jauh dari tempat Sunan Prawata, tersimpan keris pusakanya Kyai Bethok yang disimpan di blawong yang menempel di dinding.

Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari, beserta Pangeran Pangiri yang belum merasa mengantuk, masih bergurau, mereka tidak menyadari kalau diluar pagar pesanggrahan, tiga orang Jipang sedang berusaha untuk dapat masuk ke dalam kamar di pesanggrahan Prawata.

Saat itu diluar pagar, Rangkud masih sabar masih menunggu datangnya kesempatan untuk bisa masuk kedalam ruang dalam pesanggrahan.

Rangkud kemudian mengambil dua lembar kain berwarna hitam yang berukuran empat jengkal, lalu bersama Gendon, kain itu dipakai untuk menutupi wajah mereka.

Ketika Rangkud melihat dua orang prajurit Wira Tamtama yang di pendapa telah berdiri, maka iapun kemudian bersiap untuk masuk ke dalam pesanggrahan..

“Gendon, kita bersiap masuk ke halaman, kita harus bisa melompati pagar ini” kata Rangkud.

“Ya Ki” kata Gendon sambil menganggukan kepalanya.

“Ranu, kalau aku sudah berada di dekat pintu, kau lempar batu itu ke arah pintu gerbang” perintah Rangkud.

“Baik Ki” kata Ranu sambil menimang-nimang batu pemberian Rangkud.

Dua orang prajurit Wira Tamtama telah berjalan, mereka berdua berjalan, nganglang mengitari halaman pesanggrahan. Dua orang prajurit Demak yang nganglang itu telah lewat didepan Rangkud dan mereka berdua terus berjalan menuju halaman belakang,

Rangkud bergerak cepat, iapun segera melompati pagar bersama Gendon, dan sesaat kemudian mereka berdua telah berdiri di kegelapan dekat dengan pendapa. Pakaian keduanya yang berwarna hitam sangat membantu gerak gerik mereka sehingga tidak terlihat didalam gelapnya malam.

Dua orang prajurit Wira Tamtama yang masih berjaga di pendapa, terkejut ketika di dekat regol terdengar suara kemerosak di arah gerumbul, dan dengan sigap, kedua orang prajurit itu urun dari pendapa, perhatiannya tertuju kearah regol, dan waktu yang sekejap itu telah di gunakan oleh Rangkud dengan sebaik-baiknya. Selagi perhatian dua orang prajurit tertuju ke arah regol, dengan cepat kedua orang Jipang itu masuk ke ruang dalam.

Dua orang prajurit Wira Tamtama yang menghadap ke arah regol telah bersiaga, keduanya telah mencabut pedang pendeknya.

“Kau pergilah kesana, lihat apa yang telah terjadi di dekat regol, biar aku yang jaga disini” kata salah seorang prajurit Wira Tamtama sambil menunjuk ke arah regol.

“Baik, Ki Lurah” kata prajurit yang berada di halaman.

Prajurit itupun kemudian berjalan dan memeriksa di sekitar pintu regol, mencari kesana kemari, pedang pendeknya telah digengam erat, ia bersiaga penuh menghadapi penyerang yang berada di kegelapan.

Sementara itu dua orang prajurit Wira Tamtama yang sedang bertugas di ruang dalam, yang sedang duduk disamping pintu kamar Sunan Prawata, terkejut ketika melihat dua orang yang berpakaian serba hitam serta memakai tutup wajah dari secarik kain yang berwarna hitam, tiba-tiba saja telah berada dihadapannya.

Dengan cepat kedua prajurit itu melompat berdiri, tangannyapun bergerak akan mencabut pedang pendeknya, tetapi baru saja tangan kedua prajurit itu menyentuh hulu pedangnya, sebuah pukulan yang keras telah menghantam ulu hati prajurit yang seorang, sedangkan yang seorang lagi terkena hantaman dadanya, sehingga pandangan kedua prajurit itu menjadi gelap.

Kedua tubuh prajurit itupun terjungkal jatuh ke lantai, pingsan, dan dengan cepat Rangkud dan Gendon menuju pintu kamar yang terbesar, kamar Sunan Prawata.

“Cepat Gendon, buka pintunya, sebelum para prajurit Wira Tamtama yang lain datang kemari” kata Rangkud, dan saat itu, didalam kamar, Sunan Prawata yang matanya hampir buta, masih bermain dengan anaknya, tetapi pendengaran Sunan Prawata adalah pendengaran yang baik, bahkan sangat baik.

Telinganya telah menangkap suara benda berat yang jatuh tepat didepan pintu kamarnya, lalu disusul beberapa kali terdengar suara suara aneh dari arah pintu kamarnya. Pintu yang tertutup dan telah dipasang palang pintu dari dalam seperti sedang bergesekan dengan sebuah benda keras.

Dengan cepat diraihnya keris pusakanya, Kyai Bethok yang terselip di blawong, yang menempel didinding dekat dipan berukirnya.

“Sssstt” desis Sunan Prawata, sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.

Kanjeng Prameswari dan Pangeran Pangiri terdiam, mereka berdua gemetar ketakutan mendengar suara suara perlahan yang berasal dari arah pintu kamarnya.

“Pangiri” bisik Sunan Prawata kepada anaknya, Pangeran Pangiri.

Pangeran Pangiri memandang ke arah ayahandanya dengan pandangan ketakutan.

“Pangiri, kau sembunyi dulu dibawah dipan, cepat” kata Sunan Prawata.

Dengan cepat Prameswari menurunkan Pangeran Pangiri supaya bersembunyi di kolong tempat tidur.

Pangeran Pangiri, satu-satunya anak laki-laki Sultan Demak yang belum berusia lima warsa, merangkak masuk ke kolong dipan, lalu anak kecil yang ketakutan itu berdiam diri disana.

Didepan pintu, Gendon berusaha membuka pintu yang sudah dipasang sebatang kayu sebagai palang pintu, lalu ia mengeluarkan dua buah peralatan, yang sebuah diberikannya kepada Rangkud.

Dari sela-sela kedua daun pintu yang sempit, Gendon memasukkan besi pipih berkait, setelah kait itu menancap pada palang pintu, maka dengan sekuat tenaga kayu itu di angkat keatas.

Palang pintu itu bisa terangkat keatas, lalu dengan besi pipih satunya lagi, Rangkud mendorong palang pintu itu kedalam, sehingga palang pintu itupun lepas dari tempatnya, dan tanpa disengaja palang pintu itu terlepas dari kaitannya, lalu jatuh ke bawah dengan mengeluarkan suara cukup keras, akibatnya kedua daun pintupun telah terbuka

Rangkud terkejut, iapun cepat mencabut keris Kyai Setan Kober, lalu iapun berkata :”Gendon, cepat kau lari keluar lewat halaman belakang sebelum para prajurit Wira Tamtama datang kemari, nanti kita bertemu di hutan, di tempat kuda-kuda kita”

Dengan cepat Gendon berlari menuju halaman belakang, sedangkan Rangkud segera masuk kedalam kamar sambil membawa keris terhunus. Dihalaman belakang, hati Gendon berdebar keras, dilihatnya empat orang prajurit Wira Tamtama berada di halaman belakang ditambah dua orang prajurit yang sedang nganglang.

“Enam orang” kata Gendon dalam hati.

Dengan cepat Gendon menyelinap kesamping, dan sebelum para prajurit sadar apa yang terjadi, Gendon telah lari sekencang-kencangnya menerobos beberapa orang prajurit Wira Tamtama yang sedang berdiri di halaman belakang.

Para prajurit itu terkejut, mereka kehilangan waktu sekejap, dan ketika mereka sadar, orang yang berhasil menerobos mereka telah melompat dan sekarang telah berada didekat pagar.

Gendon melihat beberapa orang prajurit berlari mengejarnya, tetapi Gendon yang dulu adalah seorang pencuri ulung, telah terbiasa dikejar orang, bahkan ia pernah dikejar seluruh penduduk satu desa tanpa pernah tertangkap.

Para prajurit yang mengejar, hanya melihat orang yang berpakaian serba hitam itu melompat pagar dan hilang di kegelapan malam.

Seorang prajurit yang mengejar juga telah menyusul melompat pagar, tetapi sesampai diluar, ia tidak melihat apapun juga, hanya suasana gelap yang terlihat menyelimuti daerah disekitar pesanggrahan Prawata.

“Siapa orang itu? Pencuri? ” kata prajurit itu, kemudian iapun berjalan memutar pintu belakang, kembali menemui prajurit lainnya yang berada di halaman belakang.

Dihalaman, para prajurit mendengar pemimpinnya berkata :”Pukul kentongan, periksa semua kamar di ruang dalam, cepat!!” kata salah seorang prajurit.

Empat orang prajurit segera naik ke dalem pesanggrahan, seorang menuju ke kentongan yang tergantung disudut belakang, sedangkan tiga orang lainnya berlari masuk keruang dalam.

Sementara itu, setelah berhasil masuk ke dalam kamar, Rangkud melihat Kanjeng Prameswari yang ketakutan sedang memeluk Sunan Prawata dari belakang. Prameswari menjerit tertahan, ketika melihat seorang berpakaian serba hitam dan menutup wajahnya dengan secarik kain hitam, menuju kearahnya dengan membawa sebilah keris terhunus.

“Siapa kau?” tanya Sunan Prawata, matanya yang hampir buta melihat sebuah bayangan hitam yang berjalan mendekatinya.

“Sunan Prawata, kau masih punya hutang nyawa kepada seseorang, hari ini aku akan menagih kepadamu” kata Rangkud yang siap menggoreskan keris Kyai Setan Kober ke tubuh Sunan Prawata.

Sunan Prawata terkejut, seumur hidup ia hanya pernah membunuh seorang saja, yaitu Pangeran Sekar Seda Lepen, dan sekarang ada seseorang yang akan menuntut balas atas kematian orang yang telah dibunuhnya.

“Kau Penangsang? Bukan, kau bukan Penangsang, suaramu bukan suara Penangsang” kata Sunan Prawata.

“Sunan Prawata, Kau tidak perlu tahu siapa aku, bersiaplah aku akan membunuhmu” kata Rangkud sambil perlahan-lahan maju mendekati Sunan Prawata, ujung bilah keris Kyai Setan Kober telah bergetar siap membunuh lawan.

“Baiklah, aku memang bersalah, silakan kau bunuh aku, tetapi aku mohon hanya aku saja yang kau bunuh, kau jangan bunuh keluargaku yang lain” kata Sunan Prawata yang tangannya masih memegang keris Kyai Bethok yang belum dicabut dari wrangkanya.

Rangkud melangkah setapak maju, mendekati Sunan Prawata yang sedang dipeluk oleh Kanjeng Prameswari dari belakang, tetapi Rangkud terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar suara kentongan tanda bahaya di pesanggrahan yang dipukul dengan irama cepat tanpa henti. Titir.

Mendengar suara titir yang keras, sesaat Rangkud menjadi gugup, ia harus bergerak cepat, kalau terlambat, maka ia bisa tertangkap oleh para prajurit Wira Tamtama Demak yang akan segera berdatangan ke ruang dalam.

Dengan sekali lompat, Rangkud telah berada didepan Sunan Prawata, tangannya yang memegang keris Kyai Setan Kober, dengan sekuat tenaga ditusukkan ke perut Sunan Prawata hingga tembus ke belakang, sedangkan saat itu dibelakang Sunan Prawata terdapat Kanjeng Prameswari yang sedang memeluk suaminya.

Ternyata keris itu masih menggores tubuh Kanjeng Prameswari, tetapi goresan itu adalah goresan dari keris Kyai Setan Kober.

Kanjeng Prameswaripun menjerit, dan itu membuat Sunan Prawata menjadi marah karena istrinya juga terkena senjata milik orang yang masuk ke kamarnya.

Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Rangkud yang khawatir dengan adanya suara titir, dan telah menusuk tubuh Sunan Prawata segera melompat mundur, kemudian iapun berlari menuju ke arah pintu.

Sunan Prawata yang marah karena Kanjeng Prameswari juga terkena keris orang itu, dengan cepat mencabut keris Kyai Bethok, lalu dengan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, keris itu kemudian dilemparkan ke arah bayangan hitam yang hampir mencapai pintu.

Tanpa disangka oleh Rangkud, dari arah belakang, keris Kyai Bethok yang dilempar dengan tenaga terakhir Sunan Prawata, meluncur berputar-putar menuju ke tubuhnya.

Rangkud yang sedang berlari akan keluar dari pintu, telah berhenti ketika ia melihat diluar kamar ada beberapa orang prajurit Wira Tamtama berlari menuju kamar Sunan Prawata, maka Rangkudpun telah bertekad akan membunuh semua prajurit yang menghalanginya.

Rangkud yang bersiap akan melompat, menerjang para prajurit Wira Tamtama dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober, terkejut ketika kakinya terasa seperti digigit ular Weling, akibatnya sesaat kemudian salah satu kakinya telah lumpuh, masih dilihatnya beberapa orang prajurit Wira Tamtama masuk ke kamar, setelah itu Rangkudpun merasa kehilangan semua tenaganya, sehingga tubuhnyapun terjatuh kelantai.

Keris Kyai Setan Kober yang berlumuran darah masih erat dalam genggamannya, dilihatnya beberapa buah kaki para prajurit Wira Tamtama telah berada didekatnya, tetapi pandangan matanya semakin lama semakin kabur, dan sesaat kemudian, semuanya telah berubah menjadi gelap.

Empat orang prajurit Wira Tamtama yang masuk kedalam kamar, terkejut ketika melihat diatas dipan, Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari tergeletak berlumuran darah, dan didekat pintu, seorang yang berpakaian serba hitam memakai tutup wajah secarik kain berwarna hitam tergeletak dilantai dengan tangan masih erat memegang sebuah keris yang berumuran darah, sedangkan dikakinya telah tertancap sebilah keris.

Keempat prajurit itu segera mendekati Sunan Prawata yang berlumuran darah beserta Permaisuri yang tergeletak di atas dipan. Salah seorang prajurit Wira Tamtama yang memakai kain cinde berwarna merah, memeriksa beberapa bagian tubuh Sunan Prawata yang masih meneteskan darah, sedangkan dibelakangnya tergeletak tubuh Kanjeng Prameswari.

“Bagaimana Ki Lurah Wirya?” tanya salah seorang pajurit.

“Kanjeng Sunan Prawata dan Kanjeng Prameswari telah meninggal dunia, coba kau periksa orang yang memakai pakaian hitam yang tergeletak di dekat pintu” kata Lurah Wirya.

Salah seorang prajurit Wira Tamtama kemudian memegang dada orang yang tergeletak didekat pintu, yang tangannya masih memegang keris terhunus yang berlumuran darah.

“Ki Lurah Wirya, orang ini sudah mati” kata prajurit yang memeriksa tubuh orang yang tergeletak didekat pintu memakai tutup wajah dari kain berwarna hitam, yang di kakinya telah tertancap sebuah keris.

“Jangan dirubah letaknya, kita tunggu sampai Ki Rangga Pideksa datang” kata Lurah Wirya.

“Baik Ki Lurah” kata prajurit itu.

“Dimana Pangeran Pangiri ?” kata Lurah Wirya.

“Cari Pageran Pangiri sampai ketemu” kata Ki Lurah.

Para prajurit kemudian mencari Pangeran Pangiri, dan ketika seorang prajurit menengok kekolong dipan, dilihatnya Pangeran Pangiri tertelungkup ketakutan.

“Pangeran Pangiri, ini paman, mari kesini Pangeran, nanti kita bermain-main lagi” kata prajurit itu yang telah terbiasa bermain dengan Pangeran Pangiri.

Pangeran Pangiripun merangkak keluar dari kolong dipan, kemudian prajurit itupun menggendong Pangeran Pangiri keluar dari kamar Sunan Prawata. Suara titir sudah lama berhenti, belasan prajurit Wira Tamtama telah datang di ruang dalam, tetapi para prajurit itu juga tidak diperkenankan masuk.

“Sepuluh orang dari kalian, cari orang yang berhasil lolos dari kejaran para prajurit, pakai beberapa obor, cepat!” kata Lurah Wirya.

Beberapa prajurit berlari keluar, mereka menyalakan beberapa obor yang telah tersedia di sudut pendapa, kemudian para prajurit itu berjalan mengitari daerah diluar pesanggrahan, diperiksanya beberapa gerumbul perdu, tetapi tidak menemukan apapun juga, bahkan jejaknyapun sudah tidak kelihatan.

“Orang itu sudah meninggalkan daerah pesanggrahan” kata seorang prajurit Wira Tamtana yang ikut mencari.

Lurah Wirya yang masih berada didalam kamar bersama dua orang prajurit, bergegas ke arah pintu, ketika dilihatnya Rangga Pideksa telah tiba di ruang dalam.

Mereka berdua kemudian masuk kedalam kamar, lalu kedua prajurit yang masih berada didalam kamar itupun telah diperintahkan untuk keluar kamar, sehingga yang berada didalam kamar tinggal Lurah Wirya dan Rangga Pideksa.

Setelah pintu ditutup, maka Lurah Wirya berkata kepada Rangga Pideksa :”Kanjeng Sunan dan Kanjeng Prameswari telah meninggal dunia, orang yang membunuhnyapun juga telah mati”

“Ya, coba kau buka kain hitam penutup wajahnya” kata Rangga Pideksa.

Ki Lurah kemudian membuka kain penutup wajah orang itu, dan keduanya terkejut ketika mengetahui wajah orang yang di tangannya masih tergenggam sebuah keris yang berlumuran darah.

“Orang Jipang” kata Rangga Pideksa.

“Ya Ki Rangga, dia orang Jipang, namanya Ki Rangkud, saya pernah melihatnya beberapa kali di kotaraja Demak, sewaktu ia sedang berjalan bersama Adipati Jipang, Arya Penangsang” kata Lurah Wirya.

“Rangkud, orang kepercayaan Arya Penangsang, kalau begitu……” kata Rangga Pideksa terhenti, iapun tidak melanjutkan kalimatnya,

Lurah Wirya hanya berdiam diri, ia menunggu kalimat selanjutnya dari Ki Rangga Pideksa.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita