Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 54 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 54 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Keesokan harinya, di dalam kotaraja terutama di dalam Kraton Demak, terjadi kesibukan yang luar biasa, karena pada saat itu adalah hari pelantikan Sunan Prawata sebagai Sultan Demak yang ke empat.

Sasana Sewaka telah penuh oleh para undangan beserta para kerabat Kraton, para nayaka praja Kasultanan Demak, para Tumenggung, para Panji, dan Rangga, sedangkan para prajuritpun telah berjaga mengamankan lingkungan Kraton.

Kemudian ketika terlihat Sunan Prawata telah berjalan keluar dari ruangan dalem kraton, diapit oleh Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang, telah tiba di Sasana Sewaka, maka dimulailah acara pelantikan Sultan Demak yang baru.

Semua para sesepuh Kraton Demak keturunan langsung dari Raden Patah, Sultan Demak yang pertama telah meninggal dunia, maka yang maju kedepan adalah salah seorang dari Walisanga meskipun beberapa Wali yang berjumlah sembilan sudah ada beberapa orang yang telah meninggal dunia.

Ada beberapa orang yang pernah disebut sebagai Walisanga, yang datang di Sasana Sewaka Demak, diantaranya Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Meskipun saat itu peran Walisanga sudah tidak seperti sewaktu pada jaman awal berdirinya Kasultanan Demak Bintara, tetapi para Wali adalah sosok ulama yang sangat dihormati di seluruh Kasultanan Demak.

Wisuda pengangkatan Sultan yang dijabat oleh Pangeran Arya telah berlangsung singkat, dan saat ini Sunan Prawata telah dikukuhkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Jimbun Ningr¬at yang ke empat.

Dengan segala kekurangannya, Sultan Demak yang baru berharap semua nayaka praja Demak dapat membantunya, menjaga dan menegakkan tetap berdirinya Kasultanan Demak.

Demikianlah, matahari terus beredar tak kenal lelah, hari telah berganti dengan hari yang baru, tak terasa dua belas candra telah berlalu, satu warsa Demak telah mempunyai Sultan yang baru, pengganti Sultan Trenggana, yaitu Sultan Syah Alam Jimbun Ningrat ke empat, saat itu lebih banyak berada di Prawata, dan orang-orang masih tetap menyebutnya sebagai Sunan Prawata.

Keadaan beberapa daerah yang termasuk di dalam Kasultanan Demak banyak yang mengalami kemunduran, terutama daerah-daerah yang jaraknya jauh dari pusat pemerintahan Kasultanan Demak.

Meskipun tidak berani berterus terang, beberapa Adipati di bang wetan telah melepaskan diri dari kekuasaan Demak, mereka sama sekali tidak mau datang pada Pisowanan Agung Kasultanan Demak. Beberapa daerah memang mengalami kemunduran yang menyedihkan, tetapi tidak untuk Kadipaten Jipang dan Kadipaten Pajang.

Kadipaten Jipang dibawah pemimpinnya, Adipati Arya Penangsang, seorang Adipati yang masih muda, pemberani dan tak mengenal takut, telah mengalami beberapa kemajuan.

Kekuatan prajuritnya betul-betul mengaguman, prajurit Jipang bertambah menjadi lebih dari seribu orang dibawah pimpinan seorang kelahiran Jipang yang terpercaya, Rangkud, bersama eorang pemuda pemberani, Anderpati, yang merupakan satu-satunya murid dari Patih Matahun.

Anderpati yang saat ini telah tinggal di dalem Kepatihan, semakin tinggi kemampuan ilmu kanuragannya, setiap hari dia dilatih olah kanuragan oleh Patih Jipang yang telah berusia lanjut, Patih Matahun. Beberapa prajurit Soreng yang berasal dari gunung Lawu, murid Panembahan Sekar Jagad yang merupakan kakak seperguruan dari Patih Matahun, dan telah menjadi satu didalam kekuatan prajurit Jipang.

Adipati Jipang, Arya Penangsang masih sering mengunjungi gurunya, Kanjeng Sunan Kudus di Panti Kudus, dan tak lupa dipinggangnya selalu terselip pusaka Sunan Kudus yang sekarang telah menjadi miliknya, keris Kyai Setan Kober. Kadang-kadang Arya Penangsang berlatih bersama Patih Matahun ditepi bengawan Sore, mematangkan aji kebanggaannya, aji Panglebur Jagad yang mampu menghancurkan batu padas sebesar gudel..

Kemajuan yang pesat dari Kadipaten Jipang Panolan, diimbangi oleh Kadipaten yang berada disebelah barat daya-nya, Kadipaten Pajang.

Dibawah kepemimpinan Adipati Hadiwijaya, Kadipaten Pajang mengalami kemajuan yang pesat, tidak kalah oleh kemajuan Kadipaten Jipang. Penduduk Kadipaten Pajang bertambah banyak, beberapa hutan telah dibuka menjadi beberapa buah desa.

Jumlah prajurit Kadipaten Pajangpun tidak kalah oleh Kadipaten Jipang, sedangkan kemampuan tempur para prajuritnya menjadi bertambah tinggi, karena tiap hari dilatih oleh para nayaka praja Kadipaten Pajang.

Setiap hari, Pemanahan dan Penjawi melatih ilmu kanugaran kepada semua prajurit Pajang, dibantu oleh Wenang Wulan, Ngabehi Wilamarta, maupun oleh Ngabehi Wuragil.

Belasan orang prajurit yang mempunyai beberapa kelebihan, telah diangkat menjadi Lurah prajurit, termasuk Lurah Damar, Lurah Prayoga dan Lurah Prayuda.

Kemampuan ilmu kanuragan anak angkat Adipati Pajang, Mas Ngabehi Sutawijaya yang disebut juga Mas Ngabehi Loring Pasar, bertambah tinggi, karena setiap hari dilatih oleh ayahnya sendiri, Pemanahan maupun ayah angkatnya, Adipati Hadiwijaya.

Kemampuan berkudanya bertambah baik, kemampuannya menggerakkan senjata tombak bertambah cepat, kedua tangannya mampu memutar tombaknya seperti baling-baling menyerang lawannya.

Adipati Hadiwijayapun tidak lupa berlatih mematangkan aji Lembu Sekilan yang ngedab-edabi, ditambah berlatih memperdalam ilmu Hasta Dahana maupun ilmu gerak Trisula Manik.

Kebo Kanigara masih sering bertemu dengan kemenakannya Adipati Pajang, kadang-kadang Hadiwijaya yang mengunjungi uwanya di Pengging, tetapi tidak jarang pula Kebo Kanigara yang datang ke dalem Kadipaten Pajang.

Sementara itu Sultan Demak, Sultan Syah Alam Akbar Jimbun Ningr¬at yang ke empat, yang lebih sering disebut dengan nama yang telah lama dipakainya, Sunan Prawata, lebih suka berada di pesanggrahan Prawata, hanya kadang-kadang saja dia berada di kotaraja untuk beberapa hari, untuk menemui Patih Wanasalam yang mendapat tugas mengerjakan semua pekerjaan pemerintahan Kasultanan Demak.

Ketika Sunan Prawata, berada di kotaraja, kadang-kadang Sultan Demak itu mengunjungi pesantren Kadilangu, sebaliknya, Sunan Kalijagapun juga sering menemui Sunan Prawata di dalam Kraton. Sunan Prawata yang dulu pernah menjadi murid Sunan Kudus, kini beralih mejadi murid Sunan Kalijaga, dan ini merupakan salah satu penyebab kegusaran Sunan Kudus.

Sunan Kudus juga teringat, Sunan Prawata sewaktu menjadi muridnya dulu telah berbohong kepada istrinya sehingga bisa membawa keluar keris pusaka Kyai Setan Kober dari Panti Kudus.

"Sebagai seorang cucu Sultan Patah dan sebagai salah seorang muridku, dulu Sunan Prawata memang telah terbiasa keluar masuk di ruang dalam dan berbicara dengan istriku" kata Sunan Kudus dalam hati.

"Sekarang, ia telah meninggalkanku dan menjadi murid Sunan Kalijaga" kata Sunan Kudus. Kemudian, tanpa seorangpun yg mengetahui, Sunan Kuduspun menyimpan kegusarannya itu di dalam hatinya.

"Tidak sepantasnya kalau hanya persoalan seperti ini, aku marah dan mengambil tindakan sendiri" kata Sunan Kudus, dan persoalan itupun kemudian sedikit terlupakan karena kesibukan sehari-hari di pesantren Kudus,

Waktupun tak kenal lelah, terus berjalan dan berputar, malam berganti siang, siangpun berubah kembali menjadi malam, dan saat ini tak terasa sudah berjalan tiga tahun setelah pelantikan Sunan Prawata sebagai seorang Sultan.

Saat itu hari telah menjelang senja, matahari telah condong ke barat, seekor kuda tegar dan gagah berwarna hitam berlari mendekati regol Panti Kudus, penunggangnya, seorang bertubuh sedang berkumis melintang, seorang pemberani dan tak kenal takut, itulah Adipati Jipang Arya Penangsang yang sedang mengunjungi gurunya, salah seorang Walisanga yang tinggal di dekat kaki gunung Muria sebelah selatan, Sunan Kudus.

Ketika kudanya sampai didepan regol pesantren, Arya Penangsangpun turun dari punggung Gagak Rimang, dan terlihat seorang santri berlari mendekat, lalu santri itupun meminta kendali kudanya dibawa ke halaman belakang untuk diberi minum. Setelah santri yang menuntun Gagak Rimang ke halaman belakang, maka Arya Penangsangpun berjalan menuju ke padasan yang terletak disudut halaman pendapa.

Sunan Kuduspun kemudian turun ke halaman menyambut kedatangan kemenakan sekaligus muridnya yang menjadi Adipati di Jipang. Setelah mencuci kaki, Penangsang lalu mencium tangan gurunya, Penangsangpun dipersilahkan naik ke pendapa.

"Silahkan duduk Penangsang, biar nanti para santri yang akan menyediakan minum untukmu" kata paman sekaligus gurunya.

"Terima kasih Bapa Sunan" kata Arya Penangsang.

Sesaat kemudian keduanya telah duduk berhadapan di sebuah amben di pendapa Panti Kudus.

"Kau selamat Penangsang" kata Sunan Kudus.

"Atas pangestu dari bapa Sunan, saya selamat tak kurang sesuatu apapun juga" kata Arya Penangsang.

"Bagaimana jalannya pemerintahan di Kadipaten Jipang?" tanya Sunan Kudus.

"Semuanya lancar Bapa Sunan, semua persoalan di Jipang Panolan sudah bisa di selesaikan oleh paman Patih Matahun" kata gurunya.

"Bagus, Matahun adalah orang yang setia, ia mengabdi di Jipang dari mulai jaman ayahanda Sunan Ngudung" kata Sunan Kudus.

"Ya Bapa Sunan" jawab Penangsang.

"Kau akan disini tiga empat hari Penangsang?" tanya gurunya.

"Ya Bapa Sunan" kata Arya Penangsang.

Setelah berbicara beberapa saat, maka Sunan Kuduspun menyuruh muridnya untuk membersihkan dirinya.

"Mandilah Penangsang, sebentar lagi menjelang matahari terbenam, kita nanti bersama-sama sholat maghrib berjamaah" kata Sunan Kudus, kemudian Penangsangpun membersihkan dirinya, di pakiwan Panti Kudus.

Malam itu, Arya Penangsang yang akan merencanakan tiga-empat hari berada di pesantren Kudus, telah mengaji sampai wayah sepi wong, setelah waktu hampir menjelang tengah malam, Penangsangpun baru dapat memejamkan matanya, tidur di Panti Kudus.

Ketika hari telah menjelang fajar, suara kentongan di pesantren Kuduspun terdengar menggema disekitar Panti Kudus, mengajak untuk melaksanakan kewajiban menjalankan sholat Subuh yang akan dilaksanakan secara berjamaah di masjid pesantren Kudus. Sunan Kuduspun bertindak sebagai imam, dan setelah selesai menjalankan sholat Subuh, maka iapun mengajak muridnya Penangsang untuk mengaji di dalam kamar.

"Kita mengaji didalam kamar Penangsang, diluar udara masih terasa dingin, setelah itu kita berjalan-jalan sedikit melemaskan kaki sebentar disekitar pesantren Kudus" kata Sunan Kudus.

"Baik Bapa Sunan" kata Penangsang.

Keduanya kemudian berjalan menuju ke kamar yang terletak di ruang dalam, lalu di ruang itu Penangsangpun mengaji dibimbing oleh pamannya sekaligus gurunya, Kanjeng Sunan Kudus. Beberapa saat kemudian, Sunan Kuduspun berkata kepada Arya Penangsang:"Kau tunggu disini dulu Penangsang, aku akan ke pakiwan sebentar"

Setelah Sunan Kudus keluar dari kamar menuju pakiwan, maka Penangsangpun kemudian berdiri, lalu iapun berjalan melihat-lihat isi kamar, dan dilihatnya ada beberapa kitab yang terletak di atas rak disudut kamar.

Ada beberapa buku yang telah dilihat dan dibacanya, dan ketika ia membuka sebuah buku, didalamnya ada sebuah tulisan tentang hari kematian pangeran Surya Wiyata.

"Hanya tulisan mengenai hari dan tanggal meninggalnya Pangeran Suryawiyata, tidak ada tulisan yang lain" kata Penangsang.

"Suryawiyata adalah ayahku, tetapi kenapa orang-orang menyebutnya Pangeran Sekar Seda Lepen?" kata Arya Penangsang dalam hati.

Buku itupun lalu ditutup dan diletakkan kembali di atas rak disudut kamar, kemudian Arya Penangsangpun duduk kembali di tempatnya semula, dan tak lama kemudian, Sunan Kuduspun telah datang dari pakiwan, lalu iapun berkata kepada muridnya :"Penangsang, temani aku berjalan-jalan disekitar pesantren ini"

"Baik Bapa Sunan" kata Arya Penangsang, lalu iapun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke halaman bersama Sunan Kudus.

Berdua, merekapun berjalan-jalan disekitar pesantren, masuk kedalam kebun, menyeberangi sungai kecil, melihat dari kejauhan gunung Muria yang tegak berdiri disebelah utara.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah berada kembali di halaman belakang pesantren Kudus, lalu merekapun kemudian duduk berdua di atas sebuah lincak bambu yang terletak dibawah pohon mangga. Diatas lincak bambu, mereka berdua berbicara tentang kemajuan pesantren, tentang murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh, tentang kitab-kitab agama, dan tentang beberapa persoalan yang terjadi diseputar Panti Kudus.

Tak lama kemudian, pembicaraan mereka berdua semakin melebar, dan sesaat kemudian Sunan Kuduspun bertanya kepada muridnya :"Penangsang, apa pendapatmu kalau ada seorang murid yang mendapatkan seorang guru yang baru, lalu meninggalkan gurunya yang lama?" tanya Sunan Kudus.

"Kalau meninggalkan gurunya yang lama, ia harus dihukum" jawab Penangsang.

"Menurutmu, apa hukumannya Penangsang?" tanya gurunya.

"Mati, dia harus dihukum mati" kata Arya Penangsang tegas.

Mendengar jawaban muridnya, Sunan Kudus tidak menjawab, tetapi ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dengan jawaban muridnya.

"Siapakah dia Bapa Sunan" tanya Penangsang.

"Dialah Sunan Prawata, dahulu ia adalah muridku, kini ia telah meninggalkanku, dan sekarang ia berguru kepada Sunan Kalijaga" kata Sunan Kudus.

Arya Penangsang mengangguk-anggukkan kepalanya, ternyata yang meninggalkan gurunya adalah Sunan Prawata yang sekarang telah menjadi Sultan Demak.

"Kau jadi disini tiga empat hari Penangsang?" tanya gurunya.

"Ya bapa Sunan, saya ingin disini tiga empat hari" kata Penangsang.

Keduanya masih duduk di lincak bambu di halaman belakang, menikmati hangatnya sinar matahari pagi.

Sesaat kemudian Arya Penangsang bertanya kepada gurunya :"Bapa Sunan, saya tadi membaca sebuah buku di kamar, yang memuat tentang tanggal dan hari kematian ayahanda Pangeran Suryawiyata, putra eyang Patah"

Dada Sunan Kudus berdesir mendengar perkataan Penangsang.

"Ada apa Penangsang? Tidak ada catatan apapun di buku itu, aku hanya mencatat hari dan tanggal kematian ayahmu. apakah ada yang aneh?" kata Sunan Kudus.

"Tidak ada yang aneh bapa Sunan, sekarang saya jadi mengetahui, tanggal dan hari meninggalnya ayahanda Sekar Seda Lepen" kata Arya Penangsang.

Sunan Kuduspun berdebar-debar, ia ingin mengakhiri pembicaraan dengan muridnya, tetapi Arya Penangsang meneruskan perkataannya.

"Ternyata, ketika ayahanda Pangeran Sekar Seda Lepen meninggal dunia, waktu itu saya masih sangat kecil, jadi saya tidak ingat apapun tentang peristiwa meninggalnya ayahanda" kata Arya Penangsang.

Sunan Kudus tidak menjawab, tetapi denyut jantungnya menjadi semakin cepat.

"Bapa Sunan, kenapa ayahanda Pangeran Suryawiyata disebut juga Pangeran Sekar Seda Lepen?" tanya Penangsang dengan nada tinggi.

"Sekar Seda Lepen, Pangeran Sekar yang meninggal di tepi sungai, ya, karena ayahmu sewaktu meninggal dunia saat berada ditepi sungai, pada saat itu Pangeran Sekar sedang melaksanakan sholat" kata Sunan Kudus.

"Ayahanda Suryawiyata meninggal dunia pada saat melaksanakan sholat di tepi sungai? Aneh" desis Arya Penangsang hampir tak terdengan.

"Meninggal di tepi sungai, mengapa penyebab kematiannya selama ini seperti disembunyikan?" katanya dalam hati, dan Arya Penangsang bukan seorang yang bodoh, nalarnya bekerja dengan baik, iapun pandai menghitung dan mengotak-atik semua kemungkinan dari sebuah peristiwa yang telah terjadi, dan sesaat kemudian iapun telah dapat mengambil sebuah kesimpulan yang tak terduga.

Sunan Kudus semakin berdebar-debar, sesaat kemudian iapun kaget bukan kepalang, ketika muridnya bertanya kepadanya.

"Bapa Sunan, siapakah orang yang telah membunuh ayahanda Pangeran Suryawiyata?" tanya Arya Penangsang tegas.

Sunan Kudus tidak menjawab, mulutnya menjadi terkunci.

"Bapa Sunan, siapakah orang yang telah membunuh ayahanda?" tanya muridnya sekali lagi.

Sunan Kudus masih belum menjawab, ia berpikir, betapa berbahaya kalau Penangsang mengetahui cerita terbunuhnya Pangeran Sekar Seda Lepen dari orang lain, bisa saja nanti orang lain bercerita tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya, dandang dikatakan kuntul, sedangkan kuntul dikatakan sebagai dandang.

"Sabar Penangsang, kalaupun saat ini aku tidak mau mengatakan siapa orang yang membunuh ayahmu, kau pasti akan bertanya kepada orang lain, yang mungkin jawabannya tidak sesuai dengan kenyataan yang telah terjadi, bisa saja ditambah atau dikurangi" kata Sunan Kudus.

"Lebih baik memang aku sendiri yang bercerita kepadamu tentang kematian ayahmu, daripada kau mendengar cerita ini dari orang lain. Penangsang, mungkin memang sudah saatnya kau mengetahui siapa pembunuh ayahmu sebenarnya" kata Sunan Kudus.

"Ya Bapa Sunan, tetapi siapakah orang yang telah membunuh ayahanda?" tanya Arya Penangsang yang menjadi tidak sabar.

Sunan Kudus menghela napas panjang, ia merasa betapa sulitnya mengajar muridnya untuk bisa lebih bersabar.

"Baiklah Penangsang, ketika ayahandamu Pangeran Sekar sedang melaksanakan sholat ditepi sungai, dari belakang muncul seseorang yang membawa keris terhunus, lalu keris itupun ditusukkan ke punggung Pangeran Sekar sehingga Pangeran Sekar meninggal dunia" kata Sunan Kudus.

"Siapakah orang yang membawa keris itu Bapa Sunan?" tanya Penangsang dengan suara bergetar.

"Orang itu adalah saudara sepupumu sendiri, Sunan Prawata" kata Sunan Kudus perlahan, tetapi Sunan Kudus terkejut ketika mendengar suara gemeretak dari lincak bambu yang mereka duduki berdua, ternyata batang bambu yang terletak di sisi paling pinggir, hancur diremas oleh jari Penangsang.

"Sabar Penangsang" kata Sunan Kudus.

"Hutang pati nyaur pati, nyawa ayahanda harus dibayar oleh nyawa Sunan Prawata" kata Arya Penangsang sambil meraba keris Kyai Setan Kober yang terselip dipinggangnya.

"Sabar Penangsang, jangan bertindak tergesa-gesa" kata gurunya.

"Keris apakah yang dulu dipakai untuk membunuh ayahanda, bapa Sunan?" tanya Penangsang masih dengan suara bergetar.

"Ayahandamu meninggal karena ditusuk dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober" kata Sunan Kudus.

"Keris Kyai Setan Kober? Jadi ayahanda meninggal karena ditusuk oleh kerisku ini?" tanya Penangsang dengan nada tinggi.

"Ya" jawab gurunya.

"Bagaimana mungkin keris Kyai Setan Kober saat itu bisa berada ditangan Sunan Prawata?" tanya Penangsang yang matanya telah menjadi memerah.

"Sunan Prawata telah berbohong" kata gurunya, kemudian Sunan Kuduspun bercerita tentang kebohongan yang dilakukan oleh Sunan Prawata terhadap istrinya, sehingga berhasil membawa keris Kyai Setan Kober.

Arya Penangsang mendengarkan cerita gurunya dengan tangan bergetar dan gigi gemeretak, matanya memancarkan nafsu amarah, ada dendam kesumat yang memenuhi rongga dadanya, dan Arya Penangsangpun membutuhkan sebuah penyaluran.

Sunan Kuduspun nenjadi cemas melihat keadaan muridnya, tetapi ia menjadi terkejut ketika Arya Penangsang berkata dengan suara keras yang didorong oleh hawa nafsu pembalasan dendam.

"Bapa Sunan, saya mohon pamit, saya akan pulang ke Jipang sekarang" kata Arya Penangsang.

"Sabar Penangsang, kau sudah merencanakan akan tidur disini tiga empat hari" kata gurunya

"Itu semua saya batalkan Bapa Sunan, tidak jadi, tetapi lain kali saya akan tidur di Panti Kudus selama sepasar, tetapi sekarang juga saya mohon pamit, Bapa Sunan" kata Adipati Jipang..

"Tunggulah setelah sholat dhuhur, nanti pulangnya setelah kau makan siang Penangsang" kata Sunan Kudus.

"Tidak bapa Sunan, saya akan pulang sekarang" kata Arya Penangsang sambil bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar untuk mengambil bungkusannya.

Sunan Kudus tidak bisa berbuat lain, selain mengijinkan Arya Penangsang pulang sekarang, dan iapun kemudian berdiri, menyusul murid kesayangannya yang bersikeras akan pulang ke Jipang.

Setelah mengambil bungkusannya, maka Adipati Jipang itu kemudian turun ke halaman, menghampiri kudanya Gagak Rimang.

"Bapa Sunan, saya pamit pulang sekarang" kata Arya Penangsang.

"Ya, hati-hati dijalan Penangsang" kata gurunya yang cemas melihat muridnya yang telah dipenuhi rasa dendam, rasa amarah yang dibalut dengan nafsu untuk membunuh.

Arya Penangsang kemudian menggeser keris Kyai Setan Kober yang dipakainya, ia mengambil kerisnya yang berada di pinggang belakang, kemudian dipindah dan dipakainya di depan, dilambung sebelah kiri, dan kini keris itupun telah dipakainya dengan cara nyote.

Sesaat kemudian, Arya Penangsang naik ke punggung kuda hitamnya, kuda jantan yang tegar, Gagak Rimang, lalu dijalanannya keluar dari halaman Panti Kudus,

Gagak Rimangpun kemudian berlari, meninggalkan Panti Kudus, menuju dalem Kadipaten Jipang Panolan.

Kemarahan yang membara didalam dada, disertai dengan dendam kesumat akibat kematian ayahandanya Pangeran Sekar Seda Lepen yang dibunuh oleh Sunan Prawata, menyebabkan Arya Penangsang mengambil sebuah keputusan penting, dendam harus terbalaskan.

"Ayahanda meninggal karena ditusuk keris Kyai Setan Kober, maka Sunan Prawata juga harus mati oleh keris Kyai Setan Kober" kata Arya Penangsang di dalam hatinya.

Dendam yang memenuhi urat nadinya, menyebabkan Adipati Jipang dengan cepat memacu Gagak Rimang, dan kudanya adalah seekor kuda pilihan, kuda jantan yang tegar itu mampu berlari cepat sekali.

"Malam nanti aku baru bisa sampai ke dalem Kadipaten Jipang" kata Penangsang sambil terus memacu kudanya. Beberapa saat kemudian, Arya Penangsangpun sadar, untuk dapat mencapai Jipang, kudanya membutuhkan air, makanan serta harus beristirahat.

Maka disepanjang perjalanan, Gagak Rimangpun telah berhenti beberapa kali untuk beristirahat.

Tengah haripun telah lama dilalui, dan ketika matahari telah condong ke barat, senjapun telah membayang, ketika itu Jipang seakan-akan telah berada didepan mata.

"Sebentar lagi hari menjadi gelap, tetapi aku akan tetap meneruskan perjalanan menuju Jipang yang tinggal selangkah lagi" katanya dalam hati.

Gagak Rimang yang terlihat lelah tidak dihiraukannya, dipacunya kuda jantan itu terus melaju menuju dalem Kadipaten Jipang.

Malam yang gelap telah menyelimuti semua tlatah Kasultanan Demak, hanya sedikit sinar bulan yang menyinari bumi Jipang, dan pada saat memasuki wayah sepi wong, Gagak Rimangpun telah memasuki halaman dalem Kadipaten.

Seorang prajurit Jipang yang sedang berjaga di pendapa, turun ke halaman mendekati Arya Penangsang, lalu meminta tali kendali kuda, dan kuda hitam Gagak Rimangpun kemudian dibawa kebelakang untuk beristirahat. Rangkud, pemimpin prajurit Jipang, yang sedang duduk di pendapa bersama seorang salah satu pemimpin prajurit yang menjadi murid Patih Matahun, Anderpati, keduanya segera berdiri lalu berjalan menyongsong kedatangan Sang Adipati, tetapi langkahnya terhenti ketika Adipati Jipang berkata kepadanya ;"Rangkud! Kau panggil paman Matahun kemari, suruh dia menghadapku sekarang juga, cepat !!" kata Arya Penangsang.

Rangkudpun segera berlari menuju dalem Kepatihan, memanggil Patih Matahun untuk segera menghadap Sang Adipati sekarang juga, sedangkan Anderpati telah tiba didepan Arya Penangsang.

"Nderpati, kau bawa bungkusanku ini ke ruang dalam" kata Adipati Jipang.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Anderpati, kemudian iapun membawa bungkusan milik Arya Penangsang.

Arya Penangsang segera menuju ke ruang dalam, diikuti oleh Anderpati, dan Penangsangpun melihat, diruang dalam sudah ada adiknya, Arya Mataram, yang telah mendengar kedatangannya dan telah menyediakan air minum untuknya.

Setelah meletakkan bungkusan di ruang dalam, Anderpati kemudian keluar dri ruang dalam, lalu duduk kembali di pendapa.

"Minum dulu kakangmas" kata Arya Mataram.

Arya Penangsang tidak menjawab, tetapi diambilnya mangkok gerabah berisi air yang berada diatas meja, yang telah disediakan oleh adiknya, Arya Mataram.

Setelah minum, Arya Penangsangpun melihat keluar pendapa.

"Rangkud memang pemalas, jalannya seperti siput, hanya berjalan ke dalem Kepatihan yang jaraknya sedepa saja, membutuhkan waktu semalam suntuk" kata Arya Penangsang menggeremang.

Tak lama kemudian Patih Matahun beserta Rangkud telah tiba di pendapa, Rangkudpun kemudian berhenti lalu duduk di pendapa disebelah Anderpati.

Patih Matahun memandang muridnya yang baru saja pulang dari berlatih bersama Rangkud ditepi Bengawan Sore.

"Nderpati, kau akan ikut aku ke ruang dalam menemui Kanjeng Adipati?" tanya Patih Matahun kepada murid tunggalnya, Anderpati.

"Tidak Ki Patih, saya disini saja bersama Ki Rangkud, bajuku masih basah terkena keringat" jawab Anderpati,

Patih Matahun kemudian berjalan menuju ke ruang dalam, menemui Arya Penangsang yang telah menunggunya.

"Duduklah disini paman Matahun, mana Rangkud?" tanya Arya Penangsang.

"Rangkud duduk di pendapa Kanjeng Adipati" jawab Patih Matahun.

"Rangkuuud!! " teriak Arya Penangsang.

"Ut" kata Rangkud terkejut sampai hampir terloncat, ketika Adipati Jipang itu memanggilnya.

Rangkudpun segera berdiri dan berjalan menuju ke ruang dalam, memenuhi panggilan Sang Adipati. Patih Matahunpun menjadi berdebar-debar, tidak biasanya Arya Penangsang memanggilnya dengan tergesa-gesa,

"Kelihatannya Kanjeng Adipati saat ini sedang marah" kata Patih Matahun dalam hati.

Ketika Rangkud sudah berada di ruang dalam, mereka berempat duduk di tikar, sesaat kemudian Adipati Jipang berkata kepada mereka :"Arya Mataram, paman Matahun dan kau Rangkud, dengarkan perkataanku" kata Arya Penangsang.

Arya Penangsang memandang kepada Patih Matahun, dan itu telah membuat Patih Matahun yang sudah tua itu menjadi berdebar-debar.

"Kalian semua dengarkan, sekarang aku mau bertanya kepada paman Matahun, siapakah orang yang telah membunuh ayahanda Pangeran Suryawiyata?" tanya Arya Penangsang.

Patih Matahun terkejut, ia tidak menyangka Arya Penangsang akan bertanya kepadanya tentang kematian ayahandanya, Pangeran Sekar Seda Lepen.

Untuk sesaat Patih Matahun terbungkam, ia masih terkejut sehingga belum mampu menjawab pertanyaan Adipati Jipang.

"Paman Matahun, kau orang yang sudah tua, kau pasti mengetahui peristiwa meninggalnya ayahanda Pangeran Sekar Seda Lepen" kata Arya Penangsang.

"Ya, Kanjeng Adipati, saya memang mengetahui peristiwa terbunuhnya ayahanda Pangeran Sekar Seda Lepen" kata Patih Matahun.

"Bagus, siapakah yang telah membunuh ayahanda?" tanya Arya Penangsang dengan nada tinggi.

Patih Matahun terdiam, sesaat kemudian iapun menjawab pertanyaan Sang Adipati.

"Kanjeng Adipati, yang membunuh Pangeran Suryawiyata adalah Sultan Demak yang sekarang berada di pesanggrahan Prawata, Sunan Prawata" kata Patih Matahun.

"Bagus, dimana mereka berdua melakukan perang tanding?" tanya Penangsang.

"Mereka tidak sedang berperang tanding Kanjeng Adipati, Pangeran Suryawiyata ditusuk dari belakang dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober ketika sedang sholat ditepi sungai" kata Patih Matahun.

"Sunan Prawata memang pengecut" kata Arya Penangsang dengan suara bergetar.

"Rangkud!!" teriak Arya Penangsang.

Rangkudpun menggeser duduknya maju kedepan.

"Rangkud, kau orang Jipang, kau kuangkat menjadi pemimpin prajurit Jipang, kau lahir di Jipang, kau makan di Jipang, sebagai seorang prajurit Jipang, apa yang akan kau berikan kepada tanah pusakamu Jipang Panolan?" tanya Adipati Jipang dengan nada keras.

Denyut nadi Rangkud menjadi semakin kencang, dengan hati-hati ia menjawab :"Ya Kanjeng Adipati, saya adalah prajurit Jipang dan saya bersedia mati untuk membela Jipang"

“Bagus!..Kalau sekarang aku perintahkan kepadamu, mengerjakan sebuah tugas yang sangat berat, nyawamu yang akan menjadi taruhannya, apakah kau bersedia Rangkud?" tanya Arya Penangsang.

"Bersedia Kanjeng Adipati" jawab Rangkud dengan tegas.

"Bagus!!" kata Arya Penangsang.

Rangkud hanya terdiam, ia menunggu perintah dari Adipati Jipang selanjutnya.

"Kau tahu Rangkud, ayahanda Pangeran Sekar Seda Lepen dibunuh secara pengecut oleh Sunan Prawata dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Rangkud.

"Rangkud, kini telah tiba saatnya untuk membalas dendam, kau bawa keris Kyai Setan Kober, pergilah ke pesanggrahan Prawata, hutang pati nyaur pati, tugasmu adalah membunuh Sunan Prawata" kata Arya Penangsang,

Rangkud terkejut, tidak diduganya, tugas berat yang diperintahkan oleh Adipati Jipang adalah membunuh Sultan Demak yang tinggal di pesanggrahan Prawata.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita