Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 53 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 53 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Memang kelihatannya cerita yang dibawa oleh prajurit sandi tadi adalah sebuah cerita yang ngayawara Kanjeng Adipati, tidak mungkin anak kecil yang baru berumur sepuluh warsa diperbolehkan masuk ke tenda Kanjeng Sultan yang dijaga oleh para prajurit Wira Tamtama, prajurit yang menjaga keselamatan Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Apalagi saat itu sedang ada pertemuan penting dengan para Senapati Demak maupun para Tumenggung, untuk menggempur benteng kota Panarukan" kata Penjawi.


"Ya, kelihatannya memang tidak mungkin, dari berita yang beredar itu, ternyata begitu mudah bagi seorang anak yang baru berumur sepuluh warsa, menusuk seorang Senapati Agung hanya dengan sebilah pisau" kata Adipati Hadiwijaya.


"Ya Kanjeng Adipati, kelihatannya memang sebuah cerita yang tidak masuk akal" kata Pemanahan.

"Bagaimanapun, Kanjeng Sultan adalah seorang yang mumpuni olah kanuragan, limpad dalam ilmu kasar maupun halus, tidak ada seorangpun yang mampu melukai tubuh Kanjeng Sultan dari depan, karena Kanjeng Sultan mampu mateg aji Tameng Waja, yang dapat melindungi dirinya dari tusukan senjata tajam" kata Penjawi.

"Ya, Kanjeng Sultan pasti mampu menangkis serangan itu, apalagi disekeliling Kanjeng Sultan bertebaran para Tumenggung yang bersedia menjadi pelindung bagi keselamatan Kanjeng Sultan Trenggana" kata Pemanahan.

Adipati Hadiwijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu iapun berkata perlahan ;"Apa maksud orang-orang Panarukan menyebarkan berita tentang penyebab kematian Kanjeng Sultan seperti ini?"

Pemanahan dan Penjawi tidak menjawab, lalu Adipati Hadiwijayapun kemudian berkata :"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan kita yang tinggal beberapa langkah lagi"

"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan, lalu iapun segera melambaikan tangan kepada Wenang Wulan yang berada agak jauh di sebelah selatan. Wenang Wulan yang telah melihat lambaian tangan Pemanahan, segera mengajak Ratu Mas Cempaka untuk menjalankan kudanya menuju ke tempat Adipati Hadiwijaya.

Kuda yang ditunggangi Ratu Pajang bersama kuda yang ditunggangi Wenang Wulan, segera berjalan menuju ke tempat Adipati Hadiwijaya bersama Pemanahan dan Penjawi yang telah menunggu untuk melanjutkan perjalanan.

Adipati Hadiwijaya kemudian naik ke punggung kudanya, kemudian diikuti oleh Pemanahan dan Penjawi.

Ketika kuda Ratu Pajang sudah tiba didekatnya, maka Kanjeng Adipatipun berkata :"Kita lanjutkan perjalanan, Ratu"

Ratu Mas Cempaka menganggukkan kepalanya, dan Adipati Hadiwijayapun kemudian menjalankan kudanya menuju ke utara, ke kotaraja.

Ketika senja telah membayang, lima ekor kuda itu masih berjalan terus, dan jaraknyapun menjadi semakin dekat dengan kotaraja Demak.

Ketika langit telah menjadi gelap, mereka berlima telah sampai di perbatasan kotaraja.

"Sebentar lagi kita akan sampai di alun-alun" kata Adipati Hadiwijaya.

Ratu Pajang hanya mengangguk, ia menjadi tidak sabar, seakan-akan jarak yang sudah dekat itu akan dilaluinya dengan sekali lompat kudanya mampu mencapai Kraton. Meskipun lambat beberapa saat kemudian akhirnya sampailah rombongan Adipati Pajang di alun-alun Demak, dan kuda merekapun berjalan menuju ke gerbang Kraton.

Mereka berlima turun dari kudanya, sementara itu penjaga gerbang, dua orang prajurit Wira Tamtama mempersilahkan mereka untuk langsung masuk ke Kraton. Setelah menambatkan kudanya di dekat gerbang Kraton, maka Adipati Hadiwijaya beserta Ratu Mas Cempaka berjalan masuk ke halaman Kraton. Ketika langkah Ratu Mas Cempaka memasuki regol Kraton, wajahnya menunduk, sekuat tenaga ia menahan tangis, sehingga dadanya menjadi sesak.

Pemanahan dan Penjawi, keduanya berjalan dibelakang Adipati Hadwijaya, kemudian merekapun menunggu didepan pendapa Kraton.

Setelah naik di pendapa, Ratu Mas Cempaka kemudian setengah berlari menuju ke kamar ibundanya. Kanjeng Prameswari yang sedang duduk di tepi pembaringan, terkejut ketika Ratu Mas Cempaka masuk kedalam kamar langsung memeluknya dengan erat.

Tangis yang telah lama ditahannya, ditumpahkan semuanya dipangkuan ibundanya.

Melihat kedatangan putrinya, Kanjeng Prameswari juga tak dapat menahan tangisnya, air matanyapun tumpah bersama air mata putri yang dicintainya.

"Ayahanda Kanjeng ibu" kata Ratu Mas Cempaka perlahan, tenggelam dalam tumpahan tangisnya, Adipati Hadiwijaya yang mendengar tangis istrinya, hanya dapat berdiri di depan pintu, tidak berani masuk kedalam ruangan sebelum diijinkan oleh Kanjeng Prameswari.

"Ayahanda Sultan sudah tidak ada lagi, Kanjeng ibu" kata Ratu Pajang, suaranya tersendat di leher, menjadi satu dengan suara tangisnya.

Pelukan Kanjeng Prameswari terhadap dirinya, menjadikan tangisnya tak terbendung lagi, dan ketika keduanya masih bertangisan, masuklah kedalam kamar, Ratu Prawata bersama Ratu Kalinyamat yang telah mendengar kedatangan adiknya dari Pajang.

Kanjeng Prameswari bersama anak dan menantunya, semuanya memeluk Ratu Mas Cempaka yang tidak sempat menyaksikan pemakaman ayahandanya.

Adipati Hadiwijaya yang telah bersama Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri, hanya dapat berdiri diluar kamar. ketiganya menunggu dipanggil Kanjeng Prameswari yang sedang bertangisan memeluk Ratu Mas Cempaka. Beberapa saat kemudian setelah tangis mereka mereda, maka Kanjeng Prameswari memanggil mereka bertiga, masuk ke dalam kamarnya.

"Hadiwijaya, Kanjeng Sultan telah dimakamkan kemarin siang, aku tidak bisa menunggu sampai kalian tiba dari Pajang " kata Kanjeng Prameswari.

"Ya Kanjeng ibu, memang itu yang terbaik bagi kita semua" kata Adipati Hadiwijaya.

Selama beberapa saat, mereka masih berada didalam kamar, lalu Kanjeng Prameswari mempersilahkan Hadiwijaya untuk beristirahat di Kraton kilen.

Malam itu, Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka bermalam di Kraton kilen, sedangkan ketiga orang pengikutnya tidur beralaskan tikar di pendapa.

Beberapa hari Kasultanan Demak dinyatakan berkabung, semua kegiatan di Kasultanan Demak, untuk sementara di laksanakan oleh Patih Wanasalam di bantu oleh Tumenggung Gajah Birawa, sambil menunggu di angkatnya putra mahkota menjadi seorang Sultan Demak yang baru.

Semua perahu Jala Pati yang berada di sungai Tuntang telah disimpan di tempat penyimpanannya, di pesisir Wedung dan Keling.

Pasukan yang pulang ke Demak dengan berjalan kaki dari Panarukan, yang dipimpin oleh Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang telah tiba di kotaraja, kemudian mereka semuanya telah dibubarkan dan para prajurit itupun telah bergabung kembali di kesatuannya masing-masing, sedangkan para prajurit dari bang kulon, Cirebon, Banten dan Jayakarta juga telah pulang kembali ke bang kulon.

Para putra Kanjeng Sultan masih berada di Kraton, menunggu sampai masa berkabung berakhir sekaligus menunggu pengangkatan Sultan baru , sedangkan Arya Penangsang bersama Rangkud telah kembali ke Jipang.

Beberapa hari kemudian, ketika matahari sudah sepenggalah, Adipati Hadiwijaya sedang berada di pendapa bersama ke tiga orang nayaka praja Kadipaten Pajang.

"Ada apa kakang Pemanahan, ada yang perlu kakang sampaikan kepadaku?" tanya Kanjeng Adipati.

"Tadi pagi, ketika saya sedang berjalan-jalan di luar Kraton, saya bertemu dengan Ki Kebo Kanigara" kata Pemanahan.

"Siwa Kebo Kanigara?" Kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, Kanjeng Adipati, kelihatannya memang akan menemui saya, dan Ki Kebo Kanigara berpesan, nanti sore sebelum matahari terbenam, Kanjeng Adipati diharap menemui Ki Kebo Kanigara di tempat yang biasanya" kata Pemanahan.

"Baik, nanti aku kesana" kata Adipati Hadiwijaya.

Mataharipun masih terus bergerak kearah barat, dan pada saat matahari telah condong ke barat, Adipati Hadiwijaya berkata kepada istrinya :"Ratu, aku akan menemui siwa Kebo Kanigara, diluar Kraton"

"Dimana Kanjeng Adipati akan menemui siwa Kebo Kanigara?" tanya Ratu Mas Cempaka.

"Di jalan yang menuju Kadilangu" jawab suaminya.

"Hati-hati Kanjeng Adipati" kata Ratu Pajang.

"Ya" kata Adipati Hadiwijaya, setelah itu iapun berjalan keluar dari dalem kilen, berjalan sendiri tanpa disertai oleh para pengikutnya.

Beberapa saat kemudian sampailah Adipati Hadiwijaya dijalan yang menuju Kadilangu, panaspun sudah jauh berkurang dan dikejauhan, dibawah sebatang pohon, dilihatnya seseorang yang memakai caping sedang duduk dibawah pohon

"Itu siwa Kebo Kanigara" kata Adipati Hadiwijaya dalam hati.

Langkah Adipati Pajang semakin dekat dengan orang bercaping itu, dan ketika keduanya sudah berhadapan, terlihat orang bercaping itu memang uwanya Kebo Kanigara.

Adipati Hadiwijaya segera mencium tangan uwanya Kebo Kanigara, dan uwanyapun berkata :"Kau selamat Hadiwijaya"

"Atas restu siwa saya selamat, siwa dari mana?" tanya Adipati Pajang.

"Beberapa hari aku berada di Lasem mengunjungi sahabatku, tetapi sebelum itu aku berada di Panarukan melihat perang yang hanya berlangsung sepenginang saja" kata uwanya.

"Siwa melihat ketika Kanjeng Sultan terbunuh?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Tidak, saat itu aku berada diluar perkemahan prajurit, dan aku masih berada di Panarukan beberapa hari setelah para prajurit Demak kembali ke kotaraja" kata uwanya.

"Siwa masuk ke kota Panarukan?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya, dan aku berhasil mendapat beberapa berita tentang penyebab kematian Sultan Trenggana"

kata Kebo Kanigara.

"Berita yang bagaimana wa" tanya Sang Adipati.

"Berita yang simpang siur" kata uwanya sambil tersenyum.

"Berita yang dibawa oleh prajurit sandi Pajang, Kanjeng Sultan telah dibunuh oleh seorang anak kecil yang berusia sepuluh warsa, putra Bupati Surabaya" kata Adipati Pajang.

"Ya, tetapi apakah begitu mudahnya seorang anak kecil membunuh seorang Sultan didepan semua Tumenggungnya?" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, saya juga tidak percaya, lalu berita apa lagi yang beredar di Panarukan tentang penyebab kematian Kanjeng Sultan?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ada berita lain lagi yang beredar di Panarukan tentang penyebab kematian Sultan Trenggana" kata uwanya.

"Kenapa wa?" tanya Adipati Pajang.

"Sultan Trenggana terbunuh bukan karena ditusuk pisau oleh seorang anak kecil berusia sepuluh warsa" kata Kebo Kanigara.

"Siapakah yang telah membunuh Kanjeng Sultan wa?" tanya Adipati Hadiwjaya.

Kebo Kanigara hanya tersenyum, dia mengeluarkan beberapa buah jagung rebus dari bungkusan yang di bawanya.

"Jangan tergesa-gesa, duduklah di depanku, kita berbicara sambil makan jagung rebus yang aku bawa ini" kata uwanya.

Hadiwijaya kemudian duduk didepan Ki Kebo Kanigara, lalu mengambil sebuah jagung rebus yang ada didalam bungkusan milik uwanya.

"Jagungnya masih muda wa, enak" katanya sambil menikmati makan jagung rebus.

"Sampai saat ini, tidak ada keterangan siapakah nama orang yang membunuh Sultan Trenggana, tetapi berita yang beredar di Panarukan, pembunuhnya adalah orang yang berasal dari bang wetan, yang berada di dalam kemah Sultan Trenggana" kata Kebo Kanigara.

Kebo Kanigara terdiam sebentar, kemudian iapun melanjutkan ceritanya lagi :"Menurut cerita yang aku dengar dari beberapa orang Panarukan, ketika pasukan Demak sedang mengepung benteng kota Panarukan, pada suatu hari Sultan Trenggana sedang menerima kunjungan beberapa bupati dan para pemimpin lainnya dari daerah bang wetan yang tidak memihak ke Panarukan".

Kebo Kanigara berhenti sebentar, lalu iapun kembali mengunyah jagung rebusnya, menikmati jagung muda rebus, yang manis dan empuk bersama kemenakannya, setelah itu, ia kembali meneruskan ceritanya.

"Pada saat pertemuan dengan beberapa orang pemimpin bang wetan, Sultan Trenggana menyuruh salah seorang pemimpin bang wetan mengambilkan bahan-bahan untuk keperluan mengunyah sirih yang terletak tak jauh dari tempat duduk Sultan Trenggana, dan perintah itu telah membuat orang bang wetan itu merasa direndahkan, sehingga ia menjadi marah dan tersinggung. Orang bang wetan itu berpendapat, meskipun daerahnya mengakui kekuasaan Kasultanan Demak, namun tidak sepatutnya Sultan Trenggana memerintah dia mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih, perintah itu telah membuatnya tersinggung dan merasa malu dihadapan orang-orang bang wetan lainnya maupun dihadapan para Tumenggung pasukan Demak" kata uwanya.

"Orang yang berasal dari bang wetan itu kemudian berpura-pura memenuhi permintaan Sultan Trenggana, ia berjalan mendekati tempat duduk Sultan sambil membawa bahan-bahan untuk mengunyah sirih, tetapi begitu ia sudah berada dekat sekali dengan Sultan Trenggana, tiba-tiba iapun menghunus kerisnya dan ditusukkannya ke tubuh Sultan Trenggana" kata Kebo Kanigara.

"Sultan Trenggana yang tidak siap dan sama sekali tidak menyangka akan diserang oleh orang bang wetan itu, tubuhnya telah tertusuk oleh keris yang telah diberi warangan yang sangat kuat, akibatnya Sultan Trenggana meninggal dunia, dan orang bang wetan yang telah membunuh Sultan Trenggana kemudian di tangkap oleh para Tumenggung dan iapun telah dihukum mati" kata Kebo Kanigara mengakhiri ceritanya.

Adipati Hadiwijaya mendengarkan semua cerita dari uwanya, dan iapun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Jagungnya tambah lagi Hadiwijaya" kata uwanya.

"Ya wa" kata Hadiwijaya sambil mengambil sebuah jagung rebus lagi.

Mereka berdua melanjutkan menikmati makan jagung rebus yang empuk.

"Jadi berita yang disampaikan oleh prajurit sandi itu tidak betul wa?" tanya Hadiwijaya.

"Berita tentang terbunuhnya Sultan Trenggana oleh anak kecil putra Bupati Surabaya yang berusia sepuluh warsa itu?" tanya uwanya.

"Ya wa" jawab Hadiwijaya.

"Aku tidak mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya, karena aku tidak menyaksikannya sendiri, jadi aku tidak bisa mengatakan, berita mana yang benar dan berita mana yang salah" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, mungkin nanti masih ada cerita lainnya tentang penyebab kematian Sultan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Apa yang akan terjadi di Demak setelah kematian Sultan Trenggana, Hadiwijaya?" tanya uwanya.

"Setelah suasana berkabung nanti telah selesai, Putra mahkota Kasultanan Demak, Sunan Prawata akan diangkat sebagai Sultan Demak yang baru mengantikan Sultan Trenggana" jawab Hadiwijaya.

"Ya, putra mahkota yang mempunyai cacat mata, Sunan Prawata tidak bisa melihat sekelilingnya dengan jelas karena matanya sudah hampir buta" kata Ki Kebo Kanigara.

"Ya wa, kakangmas Sunan Prawata memang tidak bisa melihat" kata Hadiwijaya.

"Bagaimanapun, mempunyai seorang raja yang mempunyai cacat, akan membuat ketidak puasan dikalangan Kraton, karena selain Sunan Prawata, masih ada beberapa orang yang mampu dan mempunyai hak untuk menjadi raja, termasuk kau Hadiwijaya" kata uwanya.

"Ya wa, masih ada kakangmas Pangeran Hadiri, adimas Pangeran Timur dan Arya Penangsang maupun adiknya Arya Mataram, yang semuanya mempunyai hak untuk menjadi seorang Sultan" jawab Hadiwijaya.

"Pangeran Timur, adik dari istrimu Ratu Mas Cempaka, putra bungsu Sultan Trenggana tetap mempunyai hak sebagai Sultan meskipun usianya masih belum dewasa" kata uwanya.

"Kalau nanti Sunan Prawata telah diwisuda menjadi Sultan Demak, maka anaknya, Arya Pangiri yang masih anak-anak bisa diangkat menjadi pangeran sekaligus menjadi putra mahkota Kasultanan Demak selanjutnya" kata uwanya.

"Diantara keempat orang yang mempunyai hak sebagai seorang Sultan, yang paling berbahaya adalah Arya Penangsang, seorang pemarah yang berilmu tinggi, murid Kanjeng Sunan Kudus, mantan panglima perang Kasultanan Demak Bintara di jaman Raden Patah yang mampu mengalahkan pasukan Majapahit segelar sepapan. Hadiwijata, jangan nggege mangsa, yang bisa kau lakukan adalah memperkuat kemampuan dan memperbanyak jumlah prajurit Pajang, dan untuk kau sendiri, jangan lupa kau matangkan aji Lembu Sekilan, suatu saat kau pasti terlibat dalam pusaran kemelut didalam Kraton Demak" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Adipati Hadiwijaaya.

"Saat ini kelihatannya Arya Penangsang belum mengetahui siapa orang yang membunuh ayahnya, Pangeran Sekar Seda Lepen, kalau dia sudah mengetahui orang yang membunuh ayahnya, dia bisa saja membalaskan dendamnya, dan itu berarti akan terjadi geger di Kasultanan Demak" lanjut uwanya.

"Ya, wa" kata Adipati Hadiwijaya.

"Hadiwijaya, meskipun hanya sekilas, dulu aku pernah bercerita kepadamu tentang kematian Pangeran Suryawiyata" kata Ki Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Adipati Hadiwijaya.

"Kini aku akan bercerita selengkapnya, untuk bekalmu menghadapi situasi Kasultanan Demak setelah meninggalnya Sultan Trenggana" kata uwanya.

"Sultan Demak yang pertama, Raden Patah mempunyai anak yang bernama Pangeran Suryawiyata atau Pangeran Sekar yang merupakan salah satu pewaris tahta Kasultanan Demak, ia adalah ayah dari Arya Penangsang" kata Ki Kebo Kanigara.

"Pada saat Pangeran Suryawiyata, sedang melaksanakan sholat di tepi sebuah sungai, tiba-tiba dari arah belakang muncul Pangeran Arya mengendap-endap dan ditangannya telah memegang sebuah keris terhunus, lalu dengan cepat keris itu dipakai untuk menusuk punggung Pangeran Sekar sehingga meninggal ditepi sungai, dan mulai saat itu Pangeran Suryawiyata disebut juga Pangeran Sekar Seda Lepen" kata uwanya.

"Ya wa, aku ingat, siwa pernah ceria, yang membunuh ayahanda Arya Penangsang adalah Pangeran Arya" tanya Adipati Pajang.

"Ya, yang membunuh adalah Pangeran Arya yang disebut juga Bagus Mukmin atau yang sekarang sudah berganti nama menjadi Sunan Prawata, yang sebentar lagi akan menjadi Sultan Demak yang ke empat menggantikan Sultan Trenggana. Kau masih ingat aku pernah cerita, keris yang dipakai untuk membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen adalah sebilah keris pusaka yang ampuh, Kyai Setan Kober" kata uwanya.

"Ya wa, pangeran Arya menusuk punggung Pangeran Sekar dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, keris pusaka Kyai Setan Kober adalah sebuah keris pusaka milik Kanjeng Sunan Kudus, adik dari istri Pangeran Sekar Seda Lepen" kata uwanya.

"Jadi Kanjeng Sunan Kudus sebenarnya adalah adalah paman dari Arya Penangsang?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya, Arya Penangsang semasa kecil disamping tinggal di kraton, iapun sering tinggal di Panti Kudus, dan iapun diangkat sebagai murid oleh Kanjeng Sunan Kudus, dan ia kini telah mewarisi ilmu dari Panti Kudus yang luar biasa" kata Kebo Kanigara.

"Kenapa keris Kyai Setan Kober bisa berada di tangan Pangeran Arya wa?" tanya Hadiwijaya.

"Ya, kenapa keris Kyai Setan Kober bisa berada ditangan Bagus Mukmin, itu semua ada ceritanya, kau tahu, kenapa Pangeran Arya juga disebut Bagus Mukmin? Karena ia berwajah tampan, dan istri Sunan Kuduspun terpikat oleh ketampanan Bagus Mukmin, itu kata beberapa orang, tetapi aku tidak percaya" kata Ki Kebo Kanigara.

"Pada saat itu Kanjeng Sunan Kudus sedang berada di kotaraja Demak, datanglah Bagus Mukmin yang merupakan salah satu murid Sunan Kudus, ke Panti Kudus, lalu iapun menemui istri dari Sunan Kudus, dan iapun berkata bahwa ia diutus Kanjeng Sunan Kudus untuk mengambil keris pusaka Kyai Setan Kober" kata uwanya.

"Orang-orang bilang, istri Sunan Kudus terpikat oleh ketampanan Bagus Mukmin yang berusia jauh lebih muda, maka keris Kyai Setan Koberpun kemudian diberikan kepada Pangeran Arya yang mengatakan ia adalah utusan dari Sunan Kudus" kata Ki Kebo Kanigara.

"Entahlah apa yang telah terjadi antara mereka berdua pada saat itu, tetapi kenyataannya pada saat Bagus Mukmin keluar dari Panti Kudus, ia telah membawa keris Kyai Setan Kober, lalu keris itupun dipakai untuk membunuh Pangeran Suryawiyata, salah seorang pewaris tahta Demak, anak Sultan Patah" kata uwanya.

"Sesaat sebelum Pangeran Sekar meninggal, jari tangannya sempat menuding ke mata Bagus Mukmin sambil berkata, Pangeran Arya, apakah matamu buta, orang sedang sholat kau tusuk dari belakang, dan sejak itu mata Pangeran Arya semakin lama semakin terlihat buram. Aku tidak tahu, kebutaan Pangeran Arya dikarenakan kata-kata dari Pangeran Suryawiyata atau karena sabda Kanjeng Sunan Kudus yang gusar, karena Pangeran Arya berani berbohong mengambil keris Kyai Setan Kober dan menemui istri Kanjeng Sunan Kudus di ruang dalam pada saat suaminya sedang tidak berada dirumah" kata Kebo Kanigara.

"Apalagi keris Kyai Setan Kober ternyata dipakai untuk membunuh kakak iparnya, Pangeran Sekar Seda Lepen" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, setelah pembunuhan itu, maka keris Kyai Setan Kober kembali ke pemiliknya semula, guru Arya Penangsang, Sunan Kudus" kata Kebo Kanigara yang tidak mengetahui bahwa saat ini keris Kyai Setan Kober sudah tidak berada di Panti Kudus, tetapi telah berada di dalem Kadipaten Jipang Panolan dan sudah menjadi milik Arya Penangsang.

"Oleh karena itu Hadiwijaya, situasi Kasultanan Demak sepeninggal Sultan Trenggana adalah seperti api dalam sekam, suatu saat api itu dapat membakar para pewaris tahta Kasultanan Demak. Saat ini kau jangan membuat persoalan apapun dengan Arya Penangsang, kau harus menjaga jarak dengan dia" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Hadiwijaya.

"Cepat atau lambat, Arya Penangsang yang pemarah dan tak kenal takut pasti mengetahui siapakah yang telah membunuh ayahnya, Pangeran Sekar Seda Lepen, dan kalau Arya Penangsang telah mengetahui siapakah pembunuhnya, maka kemungkinan yang terburuk bagi semua pewaris tahta bisa saja terjadi" kata uwanya.

"Saat ini kau masih aman Hadiwijaya, tetapi jangan lengah, kau harus tetap menempatkan seorang dua orang prajurit sandi di Jipang, karena tidak tertutup kemungkinan Arya Penangsang juga mengirim prajurit sandinya untuk mengawasi perkembangan Kadipaten Pajang" kata Kebo Kanigara.

"Jagungnya dimakan lagi Hadiwijaya" kata uwanya.

"Sudah wa, saya sudah makan dua buah" kata Adipati Pajang.


"Ini jagungnya masih banyak" kata uwanya.

"Sudah wa, saya sudah kenyang" jawab Hadiwijaya.

"Hadiwijaya, kau bawa kerismu Kyai Naga Siluman?" tanya Ki Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Hadiwijaya sambil meraba keris Kyai Naga Siluman, keris luk tiga belas yang mempunyai pamor beras wutah, yang dulu adalah pusaka milik eyangnya, Pangeran Handayaningrat yang menjadi Adipati Pengging Witaradya, yang kini telah menjadi pusaka sipat kandel Kadipaten Pajang yang selalu terselip di pinggangnya.

"Tidak banyak pusaka yang bisa menandingi keampuhan keris Kyai Setan Kober milik Sunan Kudus" kata uwanya.

"Di Pajang masih ada keris luk tujuh Kyai Megantara, pemberian Ki Buyut Banyubiru" kata Hadiwijaya.

"Kedua kerismu itu bukan tandingan keris Kyai Setan Kober, hanya pusaka Kraton Demak, Keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten dan Kyai Sangkelat yang mampu mengungguli keris Kyai Setan Kober" kata uwanya.

"Di Pajang masih ada pusaka berupa sabuk dengan timangnya Kyai Jalu Sengara dan ada juga tombak pusaka dari leluhur Sela, Kyai Pleret yang sekarang sudah menjadi pusaka sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Hadiwijaya.

"Ya, sabuk Kyai Jalu Sengara bisa kau gunakan untuk rangkapan ilmu kebal Lembu Sekilan, sedangkan tombak Kyai Pleret memang bisa menandingi keris Kyai Setan Kober"

"Ya wa, jadi kedua pusaka itu seimbang wa?" tanya Adipati Pajang.

"Ya, kedua pusaka itu memang seimbang, disamping itu, selain tombak Kyai Plered, ada pusaka lainnya yang mampu mengimbangi keris Kyai Setan Kober yaitu keris Kyai Carubuk" kata uwanya.

Kebo Kanigara terdiam sebentar, pengetahuannya yang luas tentang wesi aji, mampu membuat perbandingan kekuatan beberapa pusaka yang ada di tanah Jawa.

"Keris Kyai Carubuk milik Kanjeng Sunan Kalijaga?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya, keris Kyai Carubuk itu milik Kajeng Sunan Kalijaga, selain itu di Kadilangu ada pula pusaka kutang Antakusuma" kata Kebo Kanigara.

"Kutang Antakusuma dahulu pernah ditembus oleh keris Kyai Nagasasra, ketika kutang itu dipakai oleh Sunan Ngudung, kakek Arya Penangsang, sewaktu Demak berperang melawan Majapahit" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, saya pernah mendengar cerita itu dari Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Hadiwijaya.

Kebo Kanigara terdiam, dipandanginya kemenakannya, Hadiwijaya, anak dari adiknya Ki Kebo Kenanga, betapa bangganya dia terhadap satu-satunya trah Pengging yang mampu menjadi seorang Adipati di Pajang.

Tetapi ia sangat mengharapkan, perjalanan hidup Karebet tidak hanya berhenti sebagai Adipati Pajang saja, tetapi bisa lebih meningkat lagi ke jenjang yang lebih tinggi, menjadi pemimpin sebuah daerah Kasultanan.

"Kanjeng Sunan Kalijaga dulu pernah mengatakan, besok Karebet akan dapat menjadi seorang Raja di tanah Jawa" katanya dalam hati.

"Nah Hadiwijaya, aku akan meneruskan perjalanan ke Pengging, kau akan berada di kotaraja sampai dilantiknya Sunan Prawata sebagai Sultan Demak yang baru?" tanya uwanya.

"Ya wa, setelah masa berkabung selesai, Sunan Prawata akan segera menjadi seorang Sultan" jawab Adipati Hadiwijaya.

"Ya, itu memang hak Sunan Prawata, baik, kita sudah cukup lama berbicara disini, sekarang aku akan melanjutkan perjalanan ke selatan, Hadiwijaya" kata uwanya.

Keduanya kemudian berdiri, setelah mencium tangan Kebo Kanigara, maka merekapun berpisah, bisa Adipati Hadiwijaya berjalan ke arah utara menuju ke Kraton, sedangkan Kebo Kanigara berjalan ke arah selatan menuju Pengging.

Demikianlah, Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka dan tiga orang pengikutnya masih berada di Kraton selama beberapa hari, dan ketika masa berkabung telah dinyatakan selesai, maka didalam kratonpun mulai disibukkan dengan akan adanya sebuah pelantikan seorang Sultan yang baru.

Sunan Prawata, meskipun mempunyai cacat mata, penglihatannya sudah tidak jelas, tetapi karena kedudukannya saat itu sebagai putra mahkota, maka ia akan tetap dilantik di Sasana Sewaka sebagai Sultan Demak yang keempat, menggantikan Sultan Trenggana yang telah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu.

Meskipun tidak terlihat nyata, terjadi sebuah pergolakan didalam nayaka praja Kasultanan Demak sendiri, beberapa Panji dan Tumenggung sedang menghitung, siapakah nayaka praja yang terlihat dekat dengan Sunan Prawata.

Berbeda dengan Sultan yang terdahulu, yaitu Sultan Trenggana yang pilih tanding, calon seorang Sultan saat ini, putra mahkota Sunan Prawata bukan merupakan seorang yang tangguh tanggon, meskipun dipinggangnya selalu terselip keris pusakanya Kyai Bethok, tetapi karena cacat matanya, ilmu jaya kawijayan dan guna kasantikan yang dimilikinya tidak mencerminkan ketinggian ilmu kanuragan seperti yang biasanya dimiliki oleh seorang Sultan.

Setelah Sultan Trenggana meninggal dunia, Patih Wanasalam adalah orang yang disibukkan dengan semua pekerjaan pemerintahan Kasultanan Demak.

Sepeninggal Sultan Trenggana semua urusan pemerintahan Kasultanan Demak dijalankan oleh Patih Wanasalam beserta para nayaka praja, sedangkan semua Tumenggung, para Panji, Rangga dan para prajurit masih tetap menjalankan tugas seperti biasanya.

Saat ini, Kraton Demak telah disibukkan oleh sebuah pekerjaan besar, karena beberapa hari lagi di Sasana Sewaka akan diadakan pelantikan Sunan Prawata sebagai Sultan Demak yang ke empat. Puluhan prajurit Wira Manggala telah berangkat menyebar undangan ke semua daerah termasuk di bang kulon maupun di bang wetan.

Ketika pelantikan kurang sehari, beberapa rombongan beberapa bupati dan adipati telah datang ke kotaraja.

Adipati Jipang, Arya Penangsang juga telah hadir bersama Rangkud, sedangkan Patih Matahun tetap menjalankan pekerjaan di Jipang Panolan.

Ada beberapa bupati dari bang wetan yang tidak mau hadir ke kotaraja Demak, mereka hanya mengirim utusan beberapa wakilnya, bahkan ada juga yang sama sekali tidak mau datang pada hari pelantikan besok pagi.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita