Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 52 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 52 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Sesaat kemudian empat orang prajurit Jala Pati mengangkat bandusa yang berisi jenazah Sultan Trenggana, kemudian bandusa itupun dipikul melalui jembatan kayu yang telah dipasang di lambung perahu. Perlahan-lahan prajurit pemikul bandusa turun dari perahu, dibantu oleh beberapa prajurit Jala Pati yang berada di tepian.

Usungan bandusa yang dipikul oleh empat orang pajurit, bergerak ke barat menuju ke Kraton, sedangkan dibelakangnya berjalan Adipati Jipang, Arya Penangsang bersama para Tumenggung, diikuti oleh para prajurit Patang Puluhan, prajurit Jala Pati bersama prajurit Wira Manggala.

Perahu-perahu Jala Pati lainnya kemudian menyusul merapat di tepian, lalu para prajurit Jala Pati yang berada di dalam perahu segera keluar dan sebagian dari mereka menyusul prajurit yang berjalan dibelakang bandusa. Di tepi jalan yang dilewati jenazah, ribuan penduduk kotaraja, berdiri sambil menundukkan kepalanya, bahkan banyak diantaranya yang berjongkok, seperti kalau menghomati Sultan Trenggana ketika Sang Sultan Demak masih hidup.

Jarak yang tidak begitu jauh, yang terbentang dari tepi sungai Tuntang ke Kraton, hanya ditempuh dalam waktu yang tidak terlalu lama. Beberapa saat kemudian rombongan jenazah telah sampai di alun-alun, lalu berbelok memasuki gerbang Kraton Demak, lalu jenazah disambut oleh Patih Wanasalam beserta Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus, kemudian dibelakangnya telah berdiri Kanjeng Prameswari yang dipapah dan dijaga oleh beberapa orang emban. Disebelah Kanjeng Prameswari telah berkumpul beberapa anak dan menantu Kanjeng Sultan Trenggana.

Ketika bandusa yang dipikul oleh empat orang prajurit Jala Pati telah diletakkan di pendapa, maka hujan tangispun tak terbendung lagi. Ratu Kalinyamat dan Ratu Prawata menangis sambil berjalan mendekati bandusa, dibelakangnya para embanpun semuanya berurai air mata.

Kanjeng Prameswari yang sudah tidak mampu berdiri telah terkulai pingsan, lalu oleh para emban, Kanjeng Prameswari dibawa masuk ke ruang dalam, kemudian Ratu Kalinyamat dan Ratu Prawata menyusul masuk ke ruang dalam.

Beberapa saat kemudian, jenazahpun telah dimandikan, dan untuk pemakaman jenazah Sultan Trenggana, semua menunggu keputusan dari Kanjeng Prameswari. Ketika Kanjeng Prameswari telah sadar dari pingsannya, maka Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kanjeng Sunan Kudus, beserta para putra, menemui Kanjeng Prameswari, merundingkan pemakaman jenazah Sultan Trenggana.

“Pemakamannya nanti menunggu kedatangan anakku Ratu Pajang, sedangkan anakku Pembayun, biar diberitahu oleh suaminya nanti kalau pulang dari bang wetan” kata Kanjeng Prameswari.

“Kanjeng Prameswari” kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kanjeng Prameswaripun menggeser duduknya menghadap kearah Sunan Kalijaga.

“Kanjeng Prameswari, menurut perhitungan, utusan yang menuju ke Kadipaten Pajang, pagi ini belum bisa sampai di Pajang, kalaupun nanti siang utusan itu bisa menemui Adipati Hadiwijaya beserta Ratu Pajang, maka paling cepat besok malam Ratu Pajang baru bisa sampai ke kotaraja Demak, dan jenazah baru bisa dimakamkan esok lusa” kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kanjeng Prameswari menundukkan kepalanya, mendengar ucapan dari Kanjeng Sunan Kalijaga.

“Sebaiknya jenazah Kanjeng Sultan segera dimakamkan sekarang juga” saran Kanjeng Sunan Kalijaga.

“Betul Kanjeng Prameswari” kata Kanjeng Sunan Kudus :”Tidak baik menunda pemakamam jenazah, kalau orang yang bekerja menyiapkan makam sudah selesai, sebaiknya jenazah segera dimakamkan sekarang juga”

Kanjeng Prameswari kemudian memandang kepada putra-putrinya yang berada disampingnya, seakan-akan minta pendapat tentang saran dari kedua Sunan itu.

“Ya kanjeng ibu, sebaiknya jenazah ayahanda Sultan dimakamkan sekarang juga” kata Ratu Kalinyamat. Sunan Prawatapun juga menyetujui kalau jenazah Sultan Trenggana dimakamkan sekarang juga.

Kanjeng Prameswaripun kemudian menganggukkan kepalanya, setuju atas saran dari Kanjeng Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus. Para kerabat dan para nayaka praja kemudian mempersiapkan pemakaman Raja ketiga Kasultanan Demak Bintara, Sultan Trenggana yang telah gugur di Panarukan.

Demikianlah, siang itu jenazah Sultan Trenggana segera dimakamkan di halaman masjid kotaraja Demak yang disaksikan oleh nayaka praja, para Tumenggung, Panji maupun Rangga yang berada di kotaraja, serta dihadiri oleh ribuan prajurit maupun penduduk kotaraja, sedangkan ribuan prajurit lainnya tidak dapat menyaksikaan pemakaman Rajanya, karena dalam perjalanan pulang dari Panarukan.

Ketika pemakamam jenazah Sultan Trenggana sudah selesai dilaksanakan, pada saat yang bersamaan, seorang prajurit Jala Pati yang berkuda menuju Pajang telah sampai di depan dalem Kadipaten Pajang.

Prajurit itupun turun dari kudanya kalu berjalan menuju pendapa dalem Kadipaten Pajang yang dijaga oleh dua orang prajurit Pajang.

“Saya utusan dari Panarukan, ingin bertemu dengan Kanjeng Adipati Hadiwijaya, akan menyampaikan berita mengenai Kanjeng Sultan Trenggana” kata prajurit Jala Pati itu.

“Kanjeng Adipati Hadiwijaya sedang mengadakan pertemuan dengan para nayaka praja Kadipaten Pajang diruang dalam, tunggulah sebentar, akan kusampaikan pesanmu kepada Kanjeng Adipati” kata prajurit itu.

Utusan itupun kemudian duduk di pendapa, sedangkan seorang prajurit penjaga dalem Kadipaten segera masuk ke ruang dalam.

Beberapa saat kemudian dari ruangan dalam muncul prajurit Pajang yang berjalan bersama Pemanahan, mendekati prajurit Jala Pati yang sedang duduk di pendapa.

“Kau prajurit Jala Pati yang baru saja datang dari Panarukan?” tanya Pemanahan.

“Ya Ki, saya diutus menghadap Sultan Hadiwijaya, untuk menyampaikan berita tentang Kanjeng Sultan Trenggana” kata prajurit itu.

“Baik, kau ikut aku” kata Pemanahan, lalu iapun berjalan menuju ke ruang dalam, sedangkan prajurit Jala Pati berjalan mengikutinya dari belakang.

Di ruang dalam, Adipati Hadiwijaya sedang duduk di kursi, sedangkan dihadapannya duduk semua nayaka praja Kadipaten Pajang, ditambah Juru Mertani dan Mas Ngabehi Sutawijaya yang telah dibuatkan sebuah rumah tersendiri, yang letaknya disebelah utara pasar, sehingga sering disebut juga sebagai Mas Ngabehi Loring Pasar.

Pemanahan dan utusan itu kemudian duduk di atas tikar di ruangan dalam bersama semua nayaka praja Pajang. dihadapan Adipati Hadiwijaya,

“Kau utusan yang datang dari bang wetan, yang akan membawa berita dari peperangan di Panarukan?” tanya Adipati Hadiwijaya.

“Ya Kanjeng Adipati” jawab utusan itu.

“Kapan kau berangkat dari Panarukan?” tanya Adipati Pajang.

“Kami berangkat pada saat tengah malam, lebih dari tiga hari yang lalu Kanjeng Adipati” jawab prajurit Jala Pati itu.

“Kabar apa yang kau bawa dari medan perang Panarukan, prajurit?” tanya Sang Adipati.

“Sebuah berita lelayu Kanjeng Adipati, Kanjeng Sultan Trenggana telah meninggal dunia di Panarukan” kata utusan itu.

Semua yang hadir di ruangan dalam terkejut, mereka terdiam, semuanya tak menyangka, ternyata Sultan Trenggana gugur ketika perang di Panarukan.

Di ruangan, saat itu dalam keadaan hening, dan beberapa saat keheningan itu dipecahan oleh suara Adipati Hadiwiajaya.

“Kau bilang Kanjeng Sultan telah meninggal dunia di Panarukan?” tanya Adipati Hadiwijaya.

“Ya Kanjeng Adipati, memang sebenarnya Kanjeng Sultan telah terbunuh di Panarukan” kata utusan itu.

“Siapa orang bang wetan yang mampu membunuh Kanjeng Sultan?” tanya Adipati Pajang dengan nada tinggi.

“Saya tidak tahu Kanjeng Adipati, Kanjeng Sultan ditemukan telah terbunuh di dalam gubugnya” kata prajurit Jala Pati itu.

“Ya, kau dari Panarukan naik perahu Jala Pati? Kau turun dimana?” tanya Adipati Hadiwijaya.

“Ya Kanjeng Adipati, saya turun di Juwana kemarin fajar, dan tadi malam menginap di sebelah utara gunung Kemukus” kata prajurit itu.

“Kapan jenazah Kanjeng Sultan diberangkatkan naik perahu dari Panarukan?” tanya Kanjeng Adipati.

“Saya tidak tahu Kanjeng Adipati” jawab prajurit itu.

“Pasti jenazah segera diberangkatkan secepatnya, tidak lama setelah perahumu berangkat dari Panarukan” kata Sang Adipati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Prajurit itupun tidak menjawab, perhitungannyapun sama dengan perhitungan Adipati Pajang.

“Kau tiba di Juwana kemarin fajar, kemungkinan jenazah Kanjeng Sultan telah tiba di kotaraja hari ini” kata Sang Adipati.

“Ya Kanjeng Adipati” kata prajurit itu,

“Baik prajurit, pesanmu sudah aku terima, dan sekarang kau boleh beristirahat” kata Adipati Pajang.

“Terima kasih Kanjeng Adipati” kata utusan itu.

“Kakang Pemanahan, silakan prajurit ini diurus keperluannya untuk bisa kembali ke Demak besok pagi” kata Adipati Hadiwijaya.

Pemanahanpun segera bangkit berjalan keluar bersama utusan itu, dan sesaat kemudian iapun masuk kembali ke ruang dalam, setelah menyerahkan urusan utusan itu ke salah seorang prajurit Pajang. Setelah Pemanahan duduk kembali di ruang dalam, maka Adipati Hadiwijaya berkata kepada semua nayaka praja yang duduk di hadapannya.

“Semua nayaka praja Kadipaten Pajang, dengan adanya berita lelayu tadi, maka aku dan Kanjeng Ratu akan berangkat ke kotaraja Demak sekarang juga” kata Adipati Pajang.

“Setelah pertemuan ini, aku akan memberitahu tentang kematian Kanjeng Sultan Trenggana kepada Kanjeng Ratu Pajang, sementara kalian mempersiapkan semua keperluan perjalanan ke kotaraja Demak”

“Patih Mancanagara, kau jaga Kadipaten Pajang selama aku pergi ke kotaraja” kata Adipati Hadiwijaya.

“Sendika dawuh Kanjeng Adipati” kata Patih Mancanagara.

“Kakang Pemanahan, Kakang Penjawi dan kau Wenang Wulan, kalian ikut pergi ke kotaraja, siapkan lima ekor kuda dan perbekalannya, kita berangkat sekarang” kata Adipati Pajang.

Adipati Hadiwijaya kemudian masuk ke kamarnya, sedangkan semua nayaka praja Pajang segera keluar dari ruang dalam, sebagian dari mereka mempersiapkan lima ekor kuda yang akan berangkat ke kotaraja,

Didalam kamar, Kanjeng Adipati berjalan mendekati Kanjeng Ratu Mas Cempaka yang sedang duduk ditepi pembaringan.

“Ratu” kata Kanjeng Adipati Hadiwijaya.

“Ya Kanjeng Adipati, apakah pertemuannya sudah selesai?” kata Kanjeng Ratu Pajang.

“Sudah Ratu” jawab Adipati Pajang.

“Cepat sekali Kanjeng Adipati” kata Ratu Pajang.

“Ya Ratu, pertemuannya sudah selesai, karena ada yang berita yang lebih penting” kata Adipati Hadiwijaya.

“Berita apa Kanjeng Adipati?” tanya Ratu Mas Cempaka.

“Ratu, kita bersiap akan pergi ke kotaraja Demak sekarang” kata Adipati Pajang.

“Kenapa Kanjeng Adipati, kita pergi ke kotaraja?” tanya istrinya.

“Ratu, kita nanti berangkat ke Demak berlima naik kuda, Ratu sekarang sudah trampil naik kuda, jadi kita tidak usah menggunakan tandu” kata Adipati Pajang.

“Ya, tetapi Kanjeng Adipati, kenapa kita tiba-tiba harus pergi ke Demak? Ada berita apakah sehingga kita harus pergi ke Demak sekarang juga?” tanya Ratu Pajang.

Dengan hati-hati Adipati Hadiwijaya berkata perlahan, hampir berbisik kepada istrinya.

“Tadi ada utusan dari Panarukan membawa berita tentang Kanjeng Sultan” kata Adipati Pajang.

Dheg, dada Ratu Mas Cempaka seperti tertimpa reruntuhan gunung Merapi, denyut nadinya seperti berhenti berdenyut, dengan suara bergetar penuh kekhawatiran, iapun bertanya kepada suaminya :”Ada apa dengan Ayahanda Sultan?”

Adipati Hadiwijaya belum menjawab, istrinya sudah bertanya sekali lagi :”Ada berita apa tentang Ayahanda Sultan di Panarukan?”

“Ya, kuatkan hatimu, baru saja ada utusan dari medan perang Panarukan yang mengabarkan Kanjeng Sultan telah meninggal dunia” kata Adipati Hadiwijaya.

“Ayahanda !!” Ratu Mas Cempaka menjerit kecil, beberapa saat ia tertegun tidak bergerak, ketika mendengar berita tentang ayahandanya

Tak lama kemudian iapun segera berdiri, tangisnyapun pecah, lalu iapun memeluk suaminya.

“Ayahanda Sultan” katanya berulang-ulang sambi membasahi dada suaminya dengan air mata.

“Ayahanda Sultan” katanya perlahan, dan iapun teringat saat ayahandanya masih hidup, betapa Kanjeng Sultan sangat menyayanginya, memenuhi semua permintaannya, termasuk merestui kisah cintanya dengan seorang pemuda tampan pilihannya, Karebet.

Teringat ketika ia menderita sakit karena berpisah dengan Karebet yang diusir dari kotaraja Demak, ayahandanya telah memberi pengampunan terhadap kesalahan yang dilakukan oleh Karebet, bahkan memberi tempat bagi suaminya untuk bisa menjadi seorang Lurah Wira Tamtama lagi.

Betapa besar kasih ayahanda Sultan kepadanya, termasuk kepada pemuda Jaka Tingkir, sehingga orang yang dicintainya itu telah kasengkakake ing ngaluhur sebagai Adipati di Pajang, dan sekarang ia mendengar dari suaminya bahwa ayahandanya telah meninggal dunia di tempat yang jauh, medan perang Panarukan. Adipati Hadiwijaya membiarkan istrinya menangis di dadanya, dibiarkannya Sang Ratu menumpahkan segala kesedihannya karena kehilangan seorang Sultan sekaligus seorang ayah yang baik.

Beberapa saat kemudian setelah tangis Ratu Mas Cempaka mereda, maka perlahan-lahan Adipati Pajang berusaha untuk menenangkan perasaan istrinya.

“Sudahlah Ratu, jangan menangis, ikhlaskan kepergian Kanjeng Sultan” kata Adipati Hadiwijaya sambil mengelus punggung istrinya.

“Kita bersiap untuk berangkat ke kotaraja sekarang” kata suaminya.

Ratu Pajang menganggukkan kepalanya, iapun mengusap air matanya, lalu kembali duduk ditepi tempat tidur.

“Duduklah Ratu, aku akan mempersiapkan keperluan untuk keberangkatan kita” kata suaminya.

Ratupun mengangguk, meskipun masih berurai air mata kesedihan yang masih mengalir terus membasahi kedua kelopak matanya.

Di halaman belakang, ketika matahari telah mencapai puncak langit, Pemanahan, Penjawi dan Wenang Wulan, telah menyiapkan lima ekor kuda yang akan membawanya ke Demak.

Beberapa bungkusan yang berisi bekal makanan maupun barang-barang untuk keperluan bermalam telah tergantung di pelana kuda.

Nayaka praja yang lain, juga berada di halaman belakang meskipun tidak ikut ke kotaraja Demak.

Tak lama kemudian, Adipati Hadiwijaya dan Ratu Mas Cempaka telah turun ke halaman, berjalan menuju kuda yang telah dipersiapkan untuk perjalanan mereka ke Demak, dan ketika mengetahui Adipati Hadiwijaya telah turun ke halaman bersama Ratu Mas Cempaka, maka Patih Mancanagara diikuti oleh semua nayaka praja yang lain, berjalan menyongsong keduanya.

Ketika mereka berada didepan Sang Ratu Pajang, maka Patih Mancanagara bersama nayaka praja yang lain, mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya ayahanda Sultan. Ratu Mas Cempaka tak mampu berkata apapun, Sang Ratu hanya menjawab dengan linangan air mata.

Beberapa saat kemudian, Sang ratupun berkata perlahan :”Terima kasih Ki Patih, terima kasih semuanya”.

Merekapun kemudian berjalan menuju kuda-kuda yang telah siap, sesaat kemudian keduanya telah naik di atas punggung kuda, lalu disusul Pemanahan, Penjawi dan Wenang Wulan yang juga naik di pungung kuda lainnya.

“Hati-hati diperjalanan Kanjeng Adipati” kata Ngabehi Wuragil.

“Hati-hati ayahanda” kata Mas Ngabehi Loring Pasar.

“Ya, jangan lupa kau tetap berlatih olah kanuragan Sutawijaya” kaya Adipati Hadiwijaya.

“Ya ayahanda” kata Mas Ngabehi Sutawijaya.

Beberapa saat kemudian, lima ekor kuda berlari keluar dari dalem Kadipaten Pajang menuju ke kotaraja Demak.

Dua ekor kuda yang ditunggangi Adipati Pajang bersama istrinya Ratu Mas Cempaka berada di urutan paling depan, dibelakangnya menyusul kuda yang ditunggangi tiga orang nayaka praja Kadipaten Pajang.

“Mudah-mudahan sebelum senja kita sudah sampai di hutan Sima” kata Adipati Hadiwijaya kepada Ratu Mas Cempaka yang berkuda disebelahnya.

Ratu Pajang tidak menjawab, perasaannya masih belum tenang, pikirannya masih belum bisa terlepas dari berita tentang kematian Kanjeng Sultan Trenggana.

Matahari telah condong ke barat, sinarnya menjadi agak kemerah-merahan, dan merekapun telah sampai di hutan Sima yang tidak begitu lebat.

“Kakang Pemanahan” panggil Sang Adipati sambil memperlambat kudanya.

Pemanahanpun yang berada di belakangnya segera mempercepat lari kudanya mendekati kuda Sang Adipati.

“Matahari masih belum terbenam, kita masih mempunyai waktu sedikit, kita bermalam disini atau di dalam hutan Sima?” tanya Adipati Hadiwijaya. Pemanahanpun lalu memandang matahari yang masih agak tinggi diatas pepohonan di daerah Sima.

“Sebaiknya kita masuk hutan yang tidak begitu rapat ini, nanti didekat sebuah mata air, ada sedikit tempat untuk mendirikan tenda, kita bisa bermalam disitu Kanjeng Adipati” kata Pemanahan.

“Baiklah, mari kita maju sedikit lagi” kata Adipati Hadiwijaya yang segera menjalankan kudanya maju kedepan, masuk ke dalam hutan yang tipis, hutan di daerah Sima.

Ketika senja telah membayang, suasana di hutanpun telah menjadi agak gelap, rombongan dari Pajang berhenti di sebelah sebuah mata air kecil, di sebuah petak tanah yang tidak begitu luas, tetapi cukup untuk mendirikan sebuah tenda, tempat untuk bermalam Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka.

“Wenang Wulan, kau pasang tenda disini” kata Adipati Pajang.

“Baik, Kanjeng Adipati” kata Wenang Wulan, lalu dengan cepat Wenang Wulan segera memasang bentangan beberapa kain di tempat itu.

Malam itu mereka menghabiskan waktu bermalam di hutan Sima yang tidak begitu lebat, hanya nyala kecil dari sebuah lampu minyak yang bisa memberi sedikit cahaya di malam gelap di dalam hutan.

Malam itu, tak banyak yang bisa mereka lakukan, selain menunggu datangnya fajar.

“Beristirahatlah Ratu” kata Adipati Hadiwijya kepada Ratu Mas Cempaka.

“Ya Kanjeng Adipati” kata Sang Ratu yang masih belum dapat memejamkan matanya.

“Tidurlah, besok kita masih berkuda sehari penuh, dari pagi sampai sore hari” kata Adipati Pajang.

Sang Ratu tidak menjawab, tetapi iapun kemudian memejamkan matanya, berusaha untuk bisa tidur meskipun hanya sekejap.

Malam yang membosankan segera berakhir, meskipun mereka berada di dalam hutan, dan langitpun tertutup oleh pepohonan, tetapi masih ada celah yang dapat untuk melihat datangnya sang fajar.

Langit yang semakin terang, telah mengiringi langkah kaki kuda yang perlahan berjalan menerobos pepohonan, maju ke arah utara.

Tak lama kemudian hutan yang tipispun telah dapat mereka lewati, dan mulailah mereka mulai berpacu menyusuri sungai Tuntang menuju kotaraja Demak.

Untunglah, Adipati Hadiwijaya telah memperhitungkan adanya sebuah perjalanan ke Demak yang akan dilakukan oleh Ratu Mas Cempaka, sehingga Sang Ratupun selama tiga candra ini telah dilatih untuk dapat trampil mengendarai seekor kuda

“Ratu sekarang telah trampil mengendarai seekor kuda, betapa repotnya kalau setiap pergi ke kotaraja harus selalu naik sebuah tandu” kata Adipati Hadiwijaya dalam hati.

Setelah beristirahat beberapa kali, di saat matahari berada di atas kepala, merekapun beristirahat di pinggir jalan sambil makan bekal yang telah mereka bawa.

“Ratu kita baru akan masuk ke kotaraja setelah hari menjadi gelap” kata Adipati Hadiwijaya,

Ratu Mas Cempaka hanya menganggukkan kepalanya, iapun berusaha untuk makan makanan bekal, meskipun hanya sedikit.

“Makanlah, supaya badanmu tidak masuk angin” kata suaminya.

“Ya Kanjeng Adipati” kata Sang Ratu, dan iapun berusaha untuk menelan beberapa makanan yang mereka bawa.Tak lama kemudian setelah selesai beristirahat, mereka berlima telah memacu kudanya ke utara menuju kotaraja.

Matahari telah condong ke barat, ketika mereka telah melewati saerah Mrapen,

Adipati Hadiwijaya yang berkuda paling depan memperlambat laju kudanya, ketika jauh didepan mereka, seorang yang duduk diatas punggung kuda, telihat seperti menunggu sesuatu.

“Siapakah orang itu?” tanya Adipati Hadiwijaya seakan-akan kepada diri sendiri.

“Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi” kata Adipati Hadiwijaya.

Pemanahan dan Penjawi segera menjalankan kudanya mendekat ke samping Adipati Pajang.

“Didepan, di tepi jalan, ada seseorang yang duduk dipungung kuda, kalian berdua temui dia, pastikan dia kawan atau lawan” kata Adipati Hadiwijaya.

“Baik Kanjeng Adipati” kata Pemanahan dan Penjawi, lalu mereka bedua memacu kudanya menemui orang yang berada di pinggir jalan, di depan mereka,

Adipati Hadiwijaya kemudian melanjutkan perjalanan, menyusul kuda yang ditunggangi Pemanahan dan Penjawi yang telah berada jauh didepan.

Pemanahan dan Penjawi segera memperlambat kudanya ketika mendekati orang yang duduk diatas punggung kudanya, yang telah berhenti dipinggir jalan.

Dengan hati-hati keduanya menjalankan kudanya semakin mendekat, mereka berdua mendekati orang itu dengan kesiagaan tertinggi.

Ketika kuda yang mereka tunggangi semakin dekat dengan orang itu, maka orang itupun telah turun dari punggung kudanya, dan saat itu Pamanahan dan Penjawi kelihatannya telah mengenal orang itu.

“Aku telah mengenal wajahnya, kelihatannya dia prajurit Pajang” kata Pemanahan.

“Ya, ia seorang prajurit sandi Pajang yang ditugaskan ke Panarukan” kata Penjawi.

Ketika keduanya sudah dekat, maka orang itu membungkukkan badannya menghormat kepada dua orang pimpinannya.

“Kau prajurit sandi Pajang?” tanya Pemanahan.

“Ya Ki Pemanahan, saya prajurit sandi Kadipaten Pajang” kata prajurit itu.

“Ya, ada apa kau berada disini?” tanya Pemanahan.

“Menunggu Kanjeng Adipati Hadiwijaya, melaporkan perkembangan keadaan di Panarukan” kata prajurit sandi itu.

“Baik, kita tunggu disini, sebentar lagi Kanjeng Adipati akan tiba disini” kata Pemanahan.

Pemanahan dan Penjawi kemudian turun dari kudanya, lalu mereka bertiga menunggu kedatangan Adipati Hadiwijaya.

Dari kejauhan Adipati Hadiwijaya melihat Pemanahan dan Penjawi sedang berbicara dengan orang yang berdiri di pinggir jalan, yang telah turun dari kudanya.

“Ternyata dia bukan dari pihak lawan” guman Adipati Hadiwijaya.

Jarak merekapun semakin dekat, dan tak lama kemudian, ketika jarak tinggal beberapa puluh langkah lagi, maka Adipati Hadiwijaya berkata kepada pengikutnya :”Wenang Wulan, kau disini dulu, kau jaga Kanjeng Ratu, aku akan menemui orang itu”

“Baik Kanjeng Adipati” kata Wenang Wulan.

Kuda Wenang Wulan kemudian berhenti bersama kuda Ratu Mas Cempaka, sedangkan kuda Adipati Hadiwijaya berjalan terus menuju ke tempat Pemanahan, Penjawi bersama orang yang berdiri di tepi jalan.

Ketika kuda Adipati Hadiwijaya sampai di dekat ketiga orang itu, maka Sang Adipatipun kemudian turun dari kudanya.

“Dia prajurit sandi Pajang yang ditugaskan ke Panarukan Kanjeng Adipati” kata Pemanahan.

“O ya, kau datang dari Panarukan?” tanya Adipati Hadiwijaya kepada prajurit sandi itu.

“Ya Kanjeng Adipati, kami tiga orang berangkat dari Panarukan, masih ada dua orang prajurit sandi yang masih berada di Panarukan, dan kami dapat mendahului perjalanan pasukan Demak sewaktu bermalam di Tuban” kata prajurit Wira Sandi Yudha.

“Ya, lalu berita apa yang kau bawa dari Panarukan?”

“Tentang penyebab kematian Kanjeng Sultan” kata prajurit sandi.

“Ya, apa yang menyebabkan Kanjeng Sultan terbunuh? Siapa yang membunuhnya?” tanya Adipati Pajang.

“Menurut beberapa orang Panarukan yang behasil kami hubungi, desas desus yang beredar di Panarukan ternyata Sultan Trenggana memang telah terbunuh oleh orang bang wetan” kata prajurit Wira Sandi Yudha itu.

“Ya, lalu bagaimana selanjutnya?” tanya Adipati Hadiwijaya.

“Kanjeng Adipati, menurut ceritera yang beredar di Panarukan, ketika Kanjeng Sultan Trenggana sedang mengadakan pertemuan bersama para Tumenggung dan para Bupati mengenai rencana serangan ke dalam benteng, saat itu yang menjadi pelayannya adalah seorang anak kecil yang tertarik pada jalannya pertemuan sehingga tidak mendengar perintah Kanjeng Sultan Trenggana kepadanya, kemudian Kanjeng Sultan marah dan memukulnya, lalu anak itu kemudian membalas dengan menusuk dada Kanjeng Sultan Trenggana memakai pisau, akibatnya Kanjeng Sultan itupun terbunuh di tendanya” demikian cerita prajurit sandi itu.

“Begitu mudahnya membunuh Sultan Trenggana? Siapa anak kecil itu?” tanya Kanjeng Adipati.

“Putra Kanjeng Bupati Surabaya” jawab prajurit itu.

“Berapa umurnya” tanya Adipati Hadiwijaya.

“Sepuluh warsa”

“Anak kecil yang masih berusia sepuluh warsa mampu membunuh seorang Sultan Demak?” tanya Adipati Hadiwijaya dengan nada tinggi.

“Ya Kanjeng Adipati, dada Kanjeng Sultan ditusuknya dengan pisau” kata prajurit sandi.

“Cerita yang ngayawara” kata Kanjeng Adipati.

“Ya, demikian kabar yang beredar di Panarukan, Kanjeng Adipati” kata prajurit sandi.

“Baik, kau boleh kembali pulang ke Pajang” kata Kanjeng Adipati.

“Terima kasih Kanjeng Adipati, saya mohon pamit kembali ke Pajang” kata prajurit Wira Sandi Yudha.

Setelah berpamitan dengan Pemanahan dan Penjawi, maka prajurit itupun kemudian naik ke punggung kuda, lalu kudanyapun dilarikan ke arah selatan, kembali ke Pajang.

Setelah prajurit itu tidak terlihat, maka Adipati Hadiwijaya berkata :”Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, apa pendapatmu tentang cerita penyebab kematian Kanjeng Sultan?’

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita