Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 50 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 50 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Satu persatu sisa makanan yang berada didalam beberapa mangkuk gerabah telah dicicipi oleh lidahnya yang peka,

"Makanan ini semuanya tidak ada yang mengandung racun" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Apakah ada kemungkinan Kanjeng Sultan makan makanan yang lain, atau terkena sumpit dan panah beracun? Tidak ada yang mengetahui, mungkin hanya para prajurit yang masih pingsan itu mengetahui apa yang telah terjadi" kata Ki Tumenggung.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian memeriksa dinding gubug yang ternyata tidak ada kerusakan apapun, hanya ada beberapa lobang yang terjadi karena dindingnya yang usang.


"Dindingnya tidak ada yang rusak, kemungkinan kalau ada orang yang masuk ke dalam gubug pasti melalui pintu, tetapi didepan pintu ada dua orang prajurit Wira Tamtama, apakah mungkin mereka masuk kedalam gubug tanpa diketahui oleh para prajurit?" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati.

"Didinding dekat sudut ini memang ada sedikit lobang, beberapa daun kelapa yang usang telah lepas karena sudah terpasang selama tiga candra, apakah orang itu masuk dari tempat ini?" desis Ki Tumenggung.

Beberapa saat kemudian, masuklah Tumenggung Suranata bersama lima orang dukun yang telah dibawa dari Demak.

"Ini dukunnya Ki Tumenggung, lima orang dukun yang kita bawa dari Demak" kata Tumenggung Suranata.

"Para dukun, kalian telah dipanggil ke gubug ini karena ada sesuatu yang harus kalian lakukan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung" kata dukun itu.

"Kanjeng Sultan telah meninggal, terbunuh dengan luka dipunggungnya, jenazahnya akan dibawa naik perahu ke Demak, kalian buat ramuan yang bisa membuat jenazah lebih awet" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" kata beberapa orang dukun itu.

Dukun itupun kemudian mendekati jenazah Sultan Trenggana, memeriksanya, dan berusaha untuk memampatkan darah yang menetes dengan memberikan beberapa dedaunan di punggungnya.

Setelah itu tiga orang dukun itu keluar untuk membuat ramuan dari daun dan akar, yang akan digunakan untuk mengolesi jenazah Sultan Trenggana.

Beberapa saat kemudian para Tumenggung lainnya telah tiba di gubug kembali.

"Bagaimana para Tumenggung, apakah ada orang yang tidak dikenal masuk di perkemahan?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Tidak ada, di diperkemahan tidak ditemukan seorangpun yang bersembunyi di sana" kata Tumenggung Palang Nagara, disusul dengan keterangan yang sama dari para Tumenggung lainnya.

"Baiklah, sambil menunggu selesainya para dukun membuat ramuan untuk jenazah, beberapa orang prajurit supaya membuat bandosa untuk membawa jenazah Kanjeng Sultan ke dalam perahu" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Sesaat kemudian Tumenggung Suranata memanggil seorang prajurit Wira Tamtama, dan diperintahkan untuk membuat sebuah bandosa dari beberapa batang bambu.

Demikianlah, saat itu hampir tengah malam, semua pasukan Demak beserta pasukan dari bang kulon telah terbangun dan telah mengetahui kalau Senapati Agung mereka telah terbunuh didalam gubugnya, dan merekapun telah diperintahkan untuk bersiap, besok pagi mereka akan melalukan perjalanan pulang ke Demak.

Sementara itu, sepuluh buah perahu telah melaju, berlayar ke arah barat, dipimpin oleh Panji Sokayana. Delapan buah perahu akan berbelok menuju bengawan yang ada disebelah barat kota Gresik untuk menyeberangkan semua pasukan yang kembali ke Demak, sedangkan dua buah perahu lainnya yang mampu melaju cepat, bersama Panji Sokayana terus berlayar menuju Demak.

Perahu-perahu lainnya yang masih berada di pantai Panarukan, dipimpin oleh Rangga Pawira, semuanya bergerak menuju ke perkemahan pasukan Demak, untuk menjemput jenazah Sultan Trenggana.

Pada saat itu, di perkemahan Wira Tamtama, dua orang prajurit yang pingsan, telah berangsur sadar, maka salah seorang prajurit segera melaporkan kepada Tumenggung Gajah Birawa.

Ketika Tumenggung Gajah Birawa mendapat laporan itu, maka iapun segera bersiap untuk menemuinya.

"Ki Tumenggung Suranata, aku bersama para Tumenggung lainnya akan ke gubug Wira Tamtama, melihat prajurit yang telah sadar dari pingsannya" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung, saya akan menunggu jenazah Sultan Trenggana disini" kata Tumenggung Suranata.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian berjalan ke gubug Wira Tamtama, diikuti oleh beberapa Tumenggung lainnya. Ketika sudah berada didalam gubug, terlihat dua orang prajurit Wira Tamtama yang telah sadar dari pingsannya, telah duduk diatas tikar.

"Kau sudah sadar prajurit" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Sudah Ki Tumenggung" kata prajurit itu sambil mengusap kepalanya yang masih terasa sakit.

"Prajurit, apa yang kau alami didalam gubug, sehingga kau telah menjadi pingsan?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung, waktu itu kami berjaga di gubug Kanjeng Sultan, saat itu didalam gubug hanya ada Kanjeng Sultan seorang diri" kata prajurit Wira Tamtama itu.

"Lalu ada kejadian apa didalam gubug?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Ketika kami sedang berdiri di depan pintu, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sebuah suara, seperti sebuah teriakan tertahan, lalu disusul oleh suara seperti sebuah tubuh yang jatuh ke tanah" cerita prajurit itu.

"Lalu apa yang kau lakukan?"

"Dengan cepat kami berdua masuk kedalam gubug itu" kata prajurit itu.

"Apa yang kau lihat di dalam gubug, prajurit?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Saya terkejut ketika melihat Kanjeng Sultan tergeletak di lantai, merasa ada bahaya, maka sayapun bermaksud akan mencabut senjata, tetapi baru saja tangan saya mau menyentuh hulu pedang, bagian belakang kepala saya dihantam oleh sebuah benda keras, sehingga pandangan menjadi gelap" kata prajurit Wira Tamtama itu.

"Apa yang kau lihat prajurit?" kata Tumenggung Gajah Birawa kepada seorang prajurit yang satu lagi.

"Kejadiannya terjadi dalam waktu yang bersamaan, ketika masuk ke gubug dan melihat Kanjeng Sultan tergeletak dilantai, saya merasa di dalam gubug ada orang lain selain kami, maka sayapun menengok kebelakang, ketika sedang memutar tubuh, tiba-tiba sebuah pukulan keras mengenai kepala sehingga sayapun menjadi pingsan" kata prajurit Wira Tamtama yang seorang lagi.

"Jadi kalian berdua tidak melihat apapun juga di dalam gubug?" tanya Ki Tumenggung.

"Tidak Ki Tumenggung" kata kedua prajurit itu sambil menggelengkan kepalanya.

"Jadi tidak ada sesuatu apapun yang bisa dijadikan petunjuk untuk mengetahui penyebab kematian Kanjeng Sultan?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

Tidak ada seorangpun yang bisa menjawab pertanyaan Ki Tumenggung, mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Baiklah, kalian beristirahatlah, besok semua prajurit akan pulang ke Demak" kata Tumenggung Gajah Birawa kepada dua orang prajurit itu.

"Kalau keadaan tubuhmu belum pulih, dan kalian berdua belum mampu untuk berjalan kaki, kalian bisa ikut pulang naik perahu bersama prajurit Jala Pati" kata Ki Tumenggung selanjutnya.

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata kedua prajurit itu.

Setelah itu Tumenggung Gajah Birawa kembali ke gubug tempat jenazah Sultan Trenggana bersama para Tumenggung lainnya.

Ketika para Tumenggung masuk di dalam gubug, tiga orang dukun yang mengambil daun dan akar yang digunakan untuk merawat jenazah, telah berada kembali didalam gubug,

Mereka berlima bekerja keras untuk merawat jenazah Sultan Trenggana, supaya dapat bertahan beberapa hari, karena akan dimakamkan di Demak.

Sementara itu, di pesisir, belasan perahu Jala Pati telah mendarat, perahu-perahu itupun berjejer, disepanjang pantai Panarukan.

Rangga Pawira yang memimpin perahu pasukan Jala Pati, segera turun ke tepi pantai, lalu bersama dua orang prajurit, mereka berjalan mencari Tumenggung Siung Laut di perkemahan Wira Tamtama, dan setelah sampai didepan gubug Wira Tamtama, maka seorang prajurit segera memberitahukan kepada Tumenggung Siung Laut tentang kedatangan Rangga Pawira.

Ketika Tumenggung Siung Laut keluar dari tenda, maka Rangga Pawira segera mendekat.

"Ki Tumenggung, perahu pengangkut jenazah Kanjeng Sultan, bersama belasan perahu lainnya, telah siap di pesisir" kata Rangga Pawira.

"Baik akan aku laporkan kepada Ki Tumenggung Gajah Birawa, kau dapat menunggu diluar gubug, Ki Rangga" kata Tumenggung Siung Laut.

Tumenggung Siung Laut masuk lagi kedalam gubug, menemui Tumenggung Gajah Birawa.

"Ki Tumenggung, perahu pengangkut jenazah Kanjeng Sultan telah siap di pesisir" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik Ki Tumenggung Siung Laut" kata Tumenggung Gajah Birawa, lalu iapun berkata kepada dukun yang sedang merawat jenazah Sultan Trenggana.

"Ki dukun, kapan jenazah Kanjeng Sultan bisa kita bawa ke perahu?" kata Ki Tumenggung.

"Paling cepat setelah fajar Ki Tumenggung" kata dukun itu.

"Baiklah nanti kalau sudah selesai semuanya, kita bawa jenazah menuju perahu, dan kalian berlima ikut pulang naik perahu, disana kalian dapat merawat jenazah Kanjeng Sultan yang berada di perahu" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" kata dukun itu.

Tumenggung Gajah Birawa keluar dari gubug, melihat ke langit sebelah timur.

"Sebentar lagi fajar akan menyingsing, fajar terakhir pasukan Demak berada di Panarukan" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati, setelah itu Ki Tumenggung kemudian masuk kembali ke dalam gubug. Sambil menunggu datangnya fajar, maka Tumenggung Siung Lautpun keluar gubug mencari Rangga Pawira.

"Ki Rangga" panggil Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung" kata Rangga Pawira.

"Untuk mengurangi beban di dalam perahu, nanti prajurit Jala Pati yang ikut berada didalam perahu adalah para prajurit yang sekarang telah berada diperahu, sedangkan separo prajurit Jala Pati yang berada didarat akan pulang ke Demak berjalan kaki bersama para prajurit dari kesatuan lainnya" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pawira.

Malam terus berlalu, lintang panjer rina bersinar lebih cemerlang dari bintang sekitarnya, fajar telah menyingsing, dan perlahan-lahan di langit sebelah timur, terdapat hiasan semburat warna merah. Ketika langit sudah mulai agak terang, semua prajurit berbagai kesatuan telah bersiap disepanjang jalan yang terbentang dari gubug Wira Tamtama sampai pesisir.

Semua pasukan Demak telah berkumpul di depan perkemahan Wira Tamtama, para prajurit yang berada di perkemahan yang melingkari benteng kota Panarukan telah ditarik, mereka sekarang telah bersiap di depan perkemahan Wira Tamtama.

Pakaian prajurit yang mereka kenakan berwarna warni, berkibar terkena angin laut yang bertiup kencang. Mereka dipimpin oleh para Panji maupun Rangga, karena para Tumenggung masih berada di dalam gubug, dan nanti semua Tumenggung akan ikut di dalam perahu yang membawa jenazah Sultan Trenggana, kecuali Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang yang akan memimpim perjalanan pulang pasukan Demak.

Didalam gubug, sebuah bandosa yang dibuat oleh para prajurit telah selesai, dan jenazah Kanjeng Sultanpun telah diletakkan di dalam bandosa, ditutupi oleh beberapa lembar kain panjang.

Semua pasukan Demak bersikap sempurna, bersiap untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Senapati Agung pasukan Demak, Kanjeng Sultan Trenggana yang telah gugur dibunuh oleh seseorang didalam gubugnya. Empat orang prajurit Wira Tamtama segera memikul bandosa, kemudian merekapun berjalan perlahan-lahan keluar dari gubug itu.

Didepan sendiri, Tumenggung Siung Laut berjalan perlahan, lalu dibelakangnya terlihat bandosa yang terbuat dari bambu, yang berisi jenazah Sultan Trenggana yang dipikul oleh empat orang prajurit Wira Tamtama. Dibelakang bandosa, seorang prajurit berjalan dengan membawa songsong Kasultanan dalam keadaan terbuka.

Setelah itu dibelakangnya berjalan Senapati Muda Tumenggung Gajah Birawa, disusul oleh para Tumenggung lainnya. Suasanapun menjadi hening, Senapati Agung sekaligus raja di Kasultanan Demak, Sultan Trenggana telah gugur, para prajurit yang berada disisi kiri dan kanan jalan semua membungkuk hormat ketika rombongan jenazah lewat didepan mereka.,

Seorang prajurit Wira Tamtama memandang bandosa yang berisi jenazah Sultan Demak dengan mata yang berkaca-kaca.

"Prajurit Wira Tamtamalah yang selalu menjaga keselamatan Kanjeng Sultan, dan selama puluhan warsa, aku selalu berada disamping Kanjeng Sultan dalam masa perang dan damai, ini adalah kesempatan yang terakhir untuk bisa memandang bandosa Kanjeng Sultan karena perjalanan lewat laut akan lebih cepat sampai ke Demak" kata prajurit Wira Tamtama itu.

Para prajurit Wira Tamtama yang telah dilewati jenazah, segera bergabung di belakang para Tumenggung untuk mengantar bandosa sampai di perahu Jala Pati.

Tak lama kemudian sampailah rombongan jenazah di pesisir, lalu jenazah segera diserahkan oleh prajurit Wira Tamtama kepada prajurit Jala Pati. Prajurit Jala Pati segera berjalan dan masuk ke dalam air, lalu dengan beberapa tangga kayu, bandosapun dapat dinaikkan ke atas perahu yang diatasnya terdapat bendera Gula Kelapa berukuran besar, yang berkibar megah tertiup angin laut.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian naik keatas perahu, diikuti oleh Tumenggung Siung Laut, Tumenggung Palang Nagara, Tumenggung Ranapati, Tumenggung Suranata, beserta para pandega dari pasukan bang kulon, lalu dibelakangnya naik pula keatas perahu, lima orang dukun yang merawat jenazah Sultan Trenggana.

Dibelakangnya naik pula k perahu, belasan Lurah dan para prajurit dari kesatuan Wira Tamtama, kesatuan pegawal raja.

Setelah semuanya naik ke atas perahu, belasan prajurit Jala Pati kemudian mendorong perahu supaya agak ketengah, lalu perahupun didayung oleh para prajurit, layarpun kemudian dipasang dan mengembang, dan lajulah perahu yang mengangkut jenazah Sultan Trenggana beserta para Tumenggung menuju ke arah barat, ke kotaraja Demak.

Perahu perahu lainnya kemudian juga begerak, semuanya berlayar dibelakang perahu yang mengangkut jenazah. Angin yang bertiup kencang membuat perahupun bergerak cepat menyusuri pantai, meninggalkan kota Panarukan.

Yang tertinggal di perkemahan hanya Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang, yang telah memerintahkan semua pasukan untuk bersiap meninggalan Panarukan menuju Demak.

Setelah selesai makan di pagi hari, maka tak lama kemudian semua pasukan telah bersiap untuk berjalan kembali ke Demak.

Berbagai kesatuan prajurit telah bersiap, masing-masing dipimpin oleh seorang Panji atau seorang Rangga. Ketika semua telah berbaris rapi, maka terdengarlah suara bende disusul dengan gaung suara panah sendaren, lalu Rangga Pideksa yang bersiap di ujung barisan menjadi cucuk lampah, telah mulai bergerak maju.

Gerak maju langkah Rangga Pideksa dari kesatuan Wira Tamtama, kemudian diikuti oleh bergeraknya para prajurit dari kesatuan lainnya. Sebagian prajurit menjadi kecewa karena tidak bisa mengalahkan Panarukan dan terpaksa pulang ke Demak karena Senapati Agungnya telah gugur, tetapi tidak sedikit pula prajurit yang hatinya senang, karena tidak harus membunuh sesama manusia.

"Ya, apa boleh buat, Kanjeng Sultan telah meninggal dunia, perang harus berakhir, kalau diteruskan, berapa ribu orang yang akan terbunuh di dalam benteng, baik dari pihak Demak maupun dari pihak Panarukan, sekarang, dengan kembalinya semua pasukan ke Demak, maka rakyat Panarukan sudah dapat pergi keluar benteng untuk mencari makanan, sedangkan para prajurit Demak dapat berkumpul lagi dengan keluarganya" kata salah seorang prajurit Wira Manggala.

"Meskipun Kanjeng Sultan telah meninggal dunia, tetapi prajurit Demak semuanya masih utuh, semua Tumenggung masih bisa memimpin pasukannya, dan sekarang pasukan Kasultanan Demak pulang meninggalkan Panarukan, bukan berarti Demak kalah Perang, cuma tidak berhasil menaklukkan Panarukan yang kecil itu" kata prajurit itu sambil terus melangkahkan kakinya ke arah barat.

Sementara itu, seekor kuda berlari kencang menuju kearah barat, mendahului pasukan Demak, kemudian di susul secara berurutan oleh beberapa ekor kuda dibelakangnya, dan mereka adalah para prajurit sandi dari Demak, prajurit sandi dari Pajang maupun dari Jipang. Para prajurit sandi Pajang berusaha secepatnya sampai di Kadipaten Pajang untuk melaporkan semua yang terjadi kepada Adipati Hadiwijaya.

Ketika prajurit Panarukan mengetahui semua pasukan Demak telah mundur, dan prajurit sandinya melaporkan keadaan telah aman, maka pintu bentengpun telah dibuka. Beberapa orang prajurit Panarukan keluar dari benteng untuk memeriksa keadaan diluar, memeriksa beberapa perkemahan yang telah kosong, setelah ditinggal oleh pasukan Demak.

Beberapa ekor kuda telah keluar dari benteng berusaha mencari bahan-bahan makanan di desa-desa disekitarnya.

Beberapa prajurit sandi dari Pajang yang masih berada di sekitar Panarukan, masih mencari hubungan dengan beberapa orang Panarukan, untuk mencari berita mengenai penyebab kematian Sultan Trenggana.

Sementara, itu sepuluh buah perahu Jala Pati yang di pimpin oleh Panji Sokayana telah berada jauh di depan perahu yang membawa jenazah Sultan Trenggana. Perahu itu adalah perahu tercepat, perahu dengan layar yang lebar, perahu yang mampu melaju kencang di laut.

Matahari terus bejalan memanjat langit, bergerak kebarat lalu turun dan hilang ditelan cakrawala, setelah itu rembulanpun menggantikan tugasnya di malam hari. Pada waktu tengah malam, setelah berlayar sehari semalam, dua buah perahu itupun telah melewati Surabaya, dan merekapun berlayar terus menyusuri pantai utara.

Angin yang bertiup terus menerus, angin darat maupun angin laut, ternyata mampu mendorong perahu yang terus bergerak ke arah barat.

Fajarpun telah merekah diufuk timur, sepuluh buah perahu yang ditumpangi Panji Sokayana telah sampai di Gresik, dan ketika hari menjadi semakin terang, delapan buah perahu Jala Pati diperintahkan untuk berbelok masuk kedalam muara bengawan di sebelah barat Gresik, untuk menyeberangkan ribuan prajurit Demak yang pulang berjalan kaki dari Panarukan.

Setelah matahari condong ke barat, perahu itu telah melewati Tuban, Panji Sokayana segera mengumpulkan semua prajurit Jala Pati yang berada di perahu.

"Kita telah melewati Tuban, kalau angin bertiup kencang seperti ini, tengah malam nanti kita akan sampai di Rembang dan menjelang fajar kita akan sampai di Juwana" kata Ki Panji.

"Tiga orang prajurit telah kita tunjuk untuk menyampaikan kabar ke pesanggrahan Prawata, ke Kadipaten Jipang dan Kadipaten Pajang" kata Panji Sokayana.

Tiga orang prajurit maju kedepan, lalu Ki Panjipun berkata :"Kalian segera persiapkan diri untuk segera ke pesanggrahan Prawata" kata Ki Panji.

"Kami turun di Juwana atau di Dukuhseti, Ki Panji?" tanya salah seorang dari prajurit itu.

"Kalian turun di Juwana, jarak dari Dukuhseti ke pesanggrahan Prawata maupun dari Juwana ke pesanggrahan Prawata adalah hampir sama jauhnya, tetapi kalau kalian turun di Dukuhseti, kalian akan kehilangan waktu beberapa saat" kata Ki Panji.

"Baik Ki Panji, kami akan turun di Juwana dan akan meminjam tiga ekor kuda kepada Ki Buyut Juwana untuk dibawa ke Prawata" kata prajurit itu.

"Ya, nanti pengembalian kuda itu ke Juwana, biar diurus oleh nayaka praja di pesanggrahan Prawata" kata Panji Sokayana.

"Baik Ki Panji" kata prajurit Jala Pati itu.

"Utusan yang akan menuju ke Kadipaten Jipang Panolan, kalau misalnya Adipati Jipang Arya Penangsang saat ini berada di kotaraja Demak, berita lelayu itu tetap supaya disampaikan kepada nayaka praja Kadipaten Jipang" kata Panji Sokayana.

"Baik Ki Panji" kata prajuit yang akan menjadi utusan ke Jipang.

"Utusan yang akan ke Kadipaten Pajang, setelah menukar kuda di pesanggrahan Prawata, supaya terus langsung ke Pajang" kata Ki Panji.

"Baik Ki Panji" kata prajurit yang akan menjadi utusan ke Pajang.

"Utusan yang akan ke Prawata, meneruskan perjalanan ke Panti Kudus, lalu ke Kadilangu dan ke kotaraja Demak" kata Panji Sokayana.

"Baik Ki Panji" kata prajurit yang akan ke Kudus.

"Seorang prajurit akan kita utus ke pesanggrahan Kalinyamat" kata Ki Panji.

"Saya Ki Panji" kata seorang prajurit maju kedepan.

"Kau nanti turun di Bandar Jepara, pinjam kuda di sana, lalu berangkat ke pesanggrahan Kalinyamat, setelah itu melanjutkan ke Demak" kata Panji Sokayana.

"Baik Ki Panji" kata prajurit itu.

Setelah matahari terbenam di cakrawala barat, langitpun menjadi gelap, malam itu bulanpun bersinar terang, dua buah perahu yang berisi para prajurit Jala Pati terus melaju kearah barat.

Pada waktu tengah malam, perahupun telah sampai di Lasem.

"Kita telah berlayar dua hari dua malam, sebentar lagi akan terbit fajar, nanti menjelang fajar kita akan sampai di Juwana" kata Panji Sokayana.

Bintang-bintangpun tetap berkelip, dan semuanya berjalan kearah barat.

Ketika di langit bang wetan telah tergambar semburat warna merah, maka perahupun telah sampai di Juwana.

"Kita telah sampai di Juwana, itu muara sungai Juwana telah terlihat" kata Ki Panji.

"Kita akan turun setelah melewati muara sungai Juwana, setelah ini kita sedikit berbelok ke utara" kata prajurit yang akan menyampaikan berita lelayu.

Tiga prajurit Jala Pati telah bersiap, baju merekapun telah dibuka, dan masing-masing prajurit telah membawa sebuah bungkusan yang didalamnya ada sebuah kotak kayu berukuran kecil yang tertutup rapat yang berisi pakaian keprajuritan Jala Pati. Perahu berlayar sedikit menepi, meskipun masih melaju kencang, tiga orang prajurit tempur laut, yang akrab dengan ombak samudra, segera terjun dan berenang menuju pesisir Juwana.

Ketiganya kemudian berenang dimalam yang dingin, tangan kanan dan kiri bergantian mendayung, sehingga tubuh mereka bergerak ke selatan, ke arah pantai. Bungkusan yang berisi kotak kecil yang berisi pakaian telah di ikat di tubuh mereka, sehingga tidak mengganggu gerak tangan ketika digunakan untuk berenang.

Prajurit Jala Pati yang setiap hari bergulat dengan laut, tidak mengalami kesulitan apapun ketika harus berenang ke pantai Juwana. Beberapa saat kemudian merekapun telah sampai di pesisir, lalu merekapun berganti memakai pakaian keprajuritan Jala Pati.

"Dingin" kata seorang prajurit.

"Pakaianku sedikit basah" kata prajurit lainnya.

"Tidak apa apa, yang penting pakaian kita tidak basah kuyup" kata salah seorang temannya.

"Kita menuju kerumah Ki Buyut" ajak prajurit yang kedinginan.

"Ya" kata temannya dan mereka bertiga kemudian berjalan cepat menuju rumah Ki Buyut Juwana yang terletak tidak jauh dari pantai. Tiga orang prajurit Jala Pati itupun kemudian berjalan menuju ke sebuah rumah yang agak besar, rumah milik Ki Buyut Juwana.

Mereka bertiga memasuki halaman rumah Buyut Juwana, rumah yang masih terlihat sepi karena hari masih terlalu pagi, langit masih belum terlihat terang hanya ada semburat warna merah yang semakin banyak. Ketika salah seorang prajurit naik ke pendapa dan mengetuk pintu, dari dalam rumah terdengar suara :"Siapa?"

"Saya Ki Buyut, saya Rana" kata prajurit yang mengetuk pintu.

Sesaat kemudian pintupun terbuka, seorang tua yang berambut putih membukakan pintu, sedangkan dibelakangnya berdiri seorang pembantunya, seorang laki-laki yang bertubuh pendek. Orang tua berambut putih itu memandang ketiga orang tamunya, dan sesaat kemudian iapun merasa telah mengenal orang yang telah mengetuk pintunya.

"Kau Kuncung ….eh Rana, aku kira ada tamu priyagung dari kotaraja, ternyata yang datang adalah kemenakanku sendiri, bagaimana kabar ayahmu, apakah sudah sembuh dari sakitnya?" tanya Buyut Juwana.

"Sudah Ki Buyut" jawab Rana

"Syukurlah, kau datang bersama kedua orang temanmu? Ada apa pagi-pagi sekali kau sudah berada di Juwana?" tanya Ki Buyut.

"Ya Ki Buyut, saya baru saja datang dari bang wetan, membawa sebuah berita penting" kata Rana.

"Berita penting apa? Duduklah dulu, aku ambilkan kalian minuman hangat" kata Ki Buyut.

"Tidak usah Ki Buyut, saya hanya sebentar, ini kabar penting, saya baru saja datang dari perang di bang wetan, Kanjeng Sultan Trenggana telah meninggal dunia di Panarukan" kata Rana.

Ki Buyut Juwana terkejut mendengar ucapan Rana.

"Apa? Kanjeng Sultan Trenggana telah meninggal dunia?" tanya Ki Buyut Juwana.

"Ya, sekarang jenazahnya sedang dalam perjalanan naik perahu ke kotaraja" kata Rana.

"Baik, lalu apa yang kau perlukan sekarang?" tanya Ki Buyut.

"Saya butuh tiga ekor kuda Ki Buyut, untuk menyampaikan berita ini ke Prawata, Jipang dan Pajang, sekarang" kata Rana.

"Baik, disini ada tiga ekor kuda" kata Buyut Juwana, lalu iapun memerintahkan kepada pembantunya yang berdiri di belakangnya.

"Bogel, siapkan tiga ekor kuda, cepat !" kata Ki Buyut

"Baik Ki Buyut" kata pembantunya yang bertubuh pendek, lalu iapun segera menuju ke belakang dan menyiapkan tiga ekor kuda.

"Ki Buyut, saya akan ke halaman belakang, saya mohon pamit akan berangkat ke pesanggrahan Prawata, nanti tiga ekor kuda ini akan saya titipkan di Prawata" kata Rana.

"Ya, hati-hati di jalan, Kuncung" kata Ki Buyut Juwana.

Rana bersama kedua temannya kemudian menuju ke halaman belakang, dan disana telah disiapkan tiga ekor kuda.

“Ini kudanya” kata Bogel sambil menunjuk ke arah tiga ekor kuda yang berada di halaman belakang.

Beberapa saat kemudian, dari rumah Ki Buyut Juwana telah keluar tiga ekor kuda dengan prajurit Jala Pati berada di atas punggungnya. Ketiga ekor kuda itu berlari ke arah barat dengan kecepatan sedang, dan di bumi Juwana, pagi itu masih terasa dingin, langitpun masih agak gelap, matahari belum sepenuhnya keluar dari cakrawala sebelah timur.

Ketika langit menjadi semakin terang, ketiga ekor kuda itu telah meninggalkan Juwana, melewati beberapa bulak dan menyeberangi beberapa sungai kecil. Samar-samar di arah barat laut, terlihat berdiri tegak gunung Muria yang puncaknya sedikit tertutup kabut.

Matahari telah sepenggalah, ketika tiga ekor kuda yang dipunggungnya duduk prajurit Jala Pati, memasuki halaman pesanggrahan Prawata.

Setelah mengikat kudanya di sudut halaman, maka ketiga utusan itu segera menemui pengawal yang berada di pendapa, minta ijin bertemu dengan Sunan Prawata.

"Kami membawa berita penting mengenai Kanjeng Sultan di Panarukan" kata prajurit Jala Pati itu.

"Silakan duduk dulu di pendapa, saya akan menghadap Sunan Prawata di ruang dalam" kata prajurit itu, lalu iapun bergegas menuju ruang dalam.Tiga orang prajurit Jala Pati itupun kemudian duduk di tikar yang ada di pendapa pesanggrahan Prawata.

Beberapa saat kemudian dari ruang dalam keluar Sunan Prawata yang dituntun oleh salah seorang pengawalnya.Sunan Prawata, yang dulu bernama Pangeran Arya atau Bagus Mukmin, berjalan perlahan-lahan.

Dibelakangnya, berjalan istrinya, Ratu Prawata, yang merupakan menantu Sultan Trenggana.

Sunan Prawata yang merupakan putra mahkota Kasultanan Demak, yang dipinggangnya selalu terselip keris pusaka Kyai Bethok, memang menyandang cacad mata. Penglihatannya kabur, matanya hampir buta, hampir tidak dapat melihat keadaan sekitarnya, dan ketika berjalan pelahan-lahan menuju ke ruang depan, maka iapun selalu dituntun oleh salah seorang pengawalnya.

Setelah sampai di pendapa, Sunan Prawata kemudian duduk di kursi, dihadapan tiga orang prajurit yang menjadi utusan dari Panarukan.

Samar-samar dilihatnya tiga orang yang sedang duduk di tikar didepannya.

"Kalian tiga orang prajurit yang datang dari peperangan di bang wetan? Kalian prajurit dari kesatuan apa?" tanya Sunan Prawata.

"Ya Kanjeng Sunan, kami datang dari Panarukan, kami dari kesatuan Jala Pati" kata prajurit itu.

"Kapan kalian berangkat dari Panarukan?" tanya Sunan Prawata.

"Kami telah berlayar dua hari dua malam" jawab prajurit Jala Pati

"Berita penting apakah yang kau bawa dari Panarukan? Kau akan menyampaikan berita mengenai ayahanda Sultan?" tanya Sunan Prawata.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita