Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 49 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 49 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Kedua prajurit Jala Pati yang sedang menunggu diluar gubug, kemudian berjalan mengikuti Tumenggung Siung Laut yang sedang menuju perkemahan Jala Pati, dan tak lama kemudian sampailah Tumenggung Siung Laut di perkemahan prajurit Jala Pati, dan didepan gubug iapun segera disambut oleh Panji Sokayana.

"Bagaimana Ki Tumenggung?" tanya Panji Sokayana.

"Nanti setelah matahari terbenam, para Tumenggung akan menghadap Senapati Agung Kanjeng Sultan Trenggana" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung, mudah-mudahan nanti bisa dicari jalan keluar yang terbaik" kata Panji Sokayana.

"Ya, kau tetap berada di perkemahan Jala Pati, Ki Panji, kita menunggu perintah dari Senapati Agung, kita belum tahu, apakah kita besok jadi menyerang benteng Panarukan" kata Ki Tumenggung.

"Baik Ki Tumenggung" kata Panji Sokayana.

Mataharipun bergerak terus kebarat, dan ketika senja telah membayang, maka para Tumenggung pasukan Demakpun segera mempersiapkan diri untuk berkumpul di perkemahan Wira Braja. Setelah membersihkan dirinya, maka Tumenggung Siung Laut segera bersiap untuk berangkat ke perkemahan Wira Braja.

"Ki Panji aku berangkat dulu ke perkemahan Wira Braja" kata Ki Tumenggung.

"Silahkan Ki Tumenggung" kata Ki Panji.

Tumenggung Siung Laut kemudian berjalan sendiri ke perkemahan Wira Braja, matahari telah tenggelam, malam mulai gelap, beberapa gubug prajurit telah mulai ada yang menyalakan lampu minyak.

Beberapa saat kemudian Tumenggung Siung Laut telah sampai di perkemahan prajurit Wira Braja, dan langkah kakinyapun terus menuju gubug tempat Tumenggung Gagak Anabrang. Tumenggung Siung Lautpun kemudian masuk ke gubug dan didalam gubug telah ada Ki Tumenggung Gagak Anabrang, Tumenggung Ranapati, Tumenggung Palang Nagara dan ditambah seorang lagi, Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala.

"Silakan duduk Ki Tumenggung Siung Laut" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Terima kasih Ki Tumenggung Gagak Anabrang, ternyata Ki Tumenggung Surapati juga telah sampai disini" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung Siung Laut, Ki Tumenggung Surapati tadi sore telah bertemu dengan Ki Tumenggung Gajah Birawa, untuk minta ijin menghadap Senapati Agung" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Berarti kita bisa langsung menemui Kanjeng Sultan di perkemahan Wira Tamtama" kata Tumenggung Palang Nagara.

"Ya,sebaiknya kita berangkat sekarang" kata Tumenggung Ranapati.

"Ya, baiklah" sahut Tumenggung Surapati.

Merekapun kemudian berdiri, lalu semuanya berjalan keluar dari gubug.

Lima orang pimpinan prajurit Demak, berjalan bersama menuju perkemahan Wira Tamtama, berniat menemui Senapati Agung, Kanjeng Sultan Trenggana.

Dari jauh terlihat gubug yang dijaga oleh dua orang prajurit Wira Tamtama, prajurit itu sedang berdiri siap didepan gubug. Ketika sudah dekat dengan gubug Kanjeng Sultan, maka Tumenggung Surapati berkata kepada prajurit Wira Tamtama yang menjaga gubug.

"Sampaikan kepada Kanjeng Sultan kami lima orang Tumenggung ingin menghadap" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Baik Ki Tumenggung" kata prajurit itu, lalu iapun segera masuk ke dalam gubug.

Sesaat kemudian prajurit itupun keluar dari gubug sambil berkata :"Silahkan masuk Ki Tumenggung".

Kelima orang Tumenggung itupun segera masuk kedalam gubug, disana terlihat Kanjeng Sultan duduk diatas kursi pendek, didepannya duduk bersila diatas tikar, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata Setelah menyembah kelima orang Tumenggung itupun kemudian duduk diatas tikar bersama kedua orang Tumenggung Wira Tamtama.

"Semua Tumenggung pasukan Demak hadir disini, ada yang perlu kalian sampaikan kepadaku?" tanya Sultan Trenggana.

"Ya Kanjeng Sultan, kami memang sudah merencanakan bersama-sama menghadap Kanjeng Sutan" kata Tumenggung Surapati.

"Ya, aku tahu, Ki Tumenggung Gajah Birawa telah memberitahukan kepadaku" kata Kanjeng Sultan.

"Ya Kanjeng Sultan, kami hanya ingin melaporkan keadaan saat ini, keadaan pasukan Demak dari semua kesatuan yang mengepung benteng Panarukan" kata Tumenggung Surapati.

"Ya, ada apa dengan semua prajuritku?" tanya Kanjeng Sultan Trenggana.

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, para prajurit dari semua kesatuan telah mengalami kejenuhan, selama hampir tiga candra mengepung benteng Panarukan tanpa berbuat sesuatu, oleh karena itu, hamba sebagai salah seorang Senapati Pengapit, hanya akan bertanya kelanjutan dari pengepungan ini, apakah kita dapat segera menyerang benteng Panarukan" kata Tumenggung Surapati.

Wajah Kanjeng Sultan berubah, hanya sekejap, sesaat kemudian wajah itupun telah kembali lagi seperti semula.

"Para Tumenggung semuanya yang menjadi agul-agul Kasultanan Demak, aku bisa memahami keadaan para prajurit Demak yang saat ini dalam keadaan yang kurang menguntungkan" kata Kanjeng Sultan Trenggana.

"Aku juga mengetahui kalau semua prajurit Demak telah merasa jenuh karena hampir tiga candra tidak berbuat apapun juga. Baiklah, usul Senapati Pengapit dan usul para Tumenggung akan aku pertimbangkan, besok pagi akan aku beritahu langkah apa yang akan kita lakukan" kata Sultan Trenggana.

Pembicaraan didalam gubug terhenti sesaat, ketika seorang prajurit Wira Tamtama masuk kedalam gubug sambil membawa makanan, lalu diletakkan di sebuah gledeg yang berada di sudut gubug.

Setelah meletakkan makanan, maka prajurit itu kemudian menyembah kepada Kanjeng Sultan, lalu keluar dari gubug Kanjeng Sultan.

Sesaat kemudian Kanjeng Sultanpun melanjutkan pembicaraan dengan para Tumenggung.

"Para Tumenggung semuanya, malam ini aku ingin sendiri, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata tidak usah menemaniku malam ini" kata Sultan Trenggana.

"Mohon maaf Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ada apa Tumenggung Gajah Birawa?" kata Kanjeng Sultan.

"Hamba biasanya mencicipi makanan yang disuguhkan untuk Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Sudah beberapa puluh warsa kau mencicipi makananku, tidak pernah sekalipun ada racun pada makananku, biarlah malam ini aku disini sendiri" kata Sultan Trenggana.

"Kalau begitu, hamba mohon diri" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya, besok pagi tunggu kabar dariku" kata Kanjeng Sultan.

Para Tumenggungpun kemudian menyembah, lalu semuanya keluar dari gubug tersebut, dan sekarang yang berada didalam gubug hanya Kanjeng Sultan sendiri.

Sultan Trenggana kemudian memanggil prajurit Wira Tamtama yang menjaga gubugnya :"Prajurit, aku ingin sendiri malam ini, kalau tidak ada yang penting sekali, jangan masuk ke gubug ini"

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata prajurit itu.

Sementara itu tujuh orang Tumenggung keluar dari gubug Kanjeng Sultan, menuju sebuah gubug Wira Tamtama yang tidak jauh dari gubug Kanjeng Sultan.

"Menurutku, sikap Kanjeng Sultan malam ini terlihat agak aneh" kata Tumenggung Suranata ketika sudah duduk di ruang Wira Tamtama.

"Ya" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Tidak pernah Kanjeng Sultan menyuruh kita semuanya menyingkir dari gubug itu" kata Tumenggung Suranata.

"Selanjutnya bagaimana Ki Tumenggung Gajah Birawa?" tanya Tumenggung Surapati.

"Ya, sekarang kita kembali ke perkemahan masing-masing, besok pagi kita tunggu kabar dari Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik, kalau begitu aku minta diri, kembali ke perkemahan Jala Pati" kata Tumenggung Siung Laut.

"Aku juga mohon pamit, aku kembali ke perkemahan Wira Manggala" kata Tumenggung Surapati.

Beberapa saat kemudian, para Tumengungpun keluar dari perkemahan Wira Tamtama lalu merekapun berpencar, kembali ke perkemahan masing-masing.

Malam itu suasana di perkemahan tidak begitu gelap, cahaya bulan yang hampir purnama membuat bayangan orang bisa terlihat meskipun agak samar-samar.

Angin lautpun bertiup semakin kencang di pantai Panarukan, membuat para prajurit lebih merapatkan kain panjang untuk melindungi tubuhnya dari tiupan angin.

Ketika semburat warna merah menghiasi langit sebelah timur, maka semua isi perkemahanpun terbangun, dan merekapun memulai kehidupan hari ini, dengan rasa yang sama seperti kemarin, diliputi kejenuhan yang hampir tak tertahankan.

Sang suryapun memanjat langit semakin tinggi, cahayanya membuat pesisir yang indah dipenuhi kerlip pantulan sinar matahari, sebuah keindahan yang tidak dihiraukan oleh para prajurit yang sedang mengepung benteng kota Panarukan.

Di perkemahan para prajurit Demak, tampak Tumenggung Gagak Anabrang sedang berjalan menuju perkemahan Jala Pati.

Sebelum sampai didepan gubug, Tumenggung Gagak Anabrang melihat Tumenggung Siung Laut keluar dari gubugnya.

"Saya mau kesana, malah Ki Tumenggung Gagak Anabrang sudah tiba disini, apa titah Kanjeng Sultan kepada kita?" tanya Tumenggung Siung Laut.

"Ya, nanti malam kita disuruh menghadap Kanjeng Sultan lagi, seperti kemarin" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Baik Ki Tumenggung, nanti malam kita bersama-sama menghadap Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya, aku mohon pamit Ki Tumenggung" kata Tumenggung Gagak Anabrang, lalu iapun meninggalkan perkemahan Jala Pati.

Ketika malampun tiba, langit agak sedikit lebih terang karena bulan yang hampir bulat, Tumenggung Siung Lautpun berjalan menuju perkemahan Wira Braja menemui Tumenggung Gagak Anabrang.

Seperti malam kemarin, empat orang Tumenggung telah siap di gubug Wira Braja, lalu bersama Tumenggung Siung Laut mereka menuju perkemahan Wira Tamtama. Di sebuah gubug Wira Tamtama, tidak jauh dari gubug Kanjeng Sultan, telah menunggu Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata.

Tujuh orang Tumenggung Kasultanan Demak yang ikut ke Panarukan telah lengkap, mereka berjalan bersama-sama menuju gubug Kanjeng Sultan. Setelah menyembah, merekapun duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan Trenggana.

Ketika Tumenggung Siung Laut memandang wajah Sultan Trenggana, iapun terkejut karena wajah Kanjeng Sultan terlihat pucat, seperti sedang menderita sakit.

"Para Tumenggung, aku tidak bisa memberi keputusan sekarang, aku ingin sendiri sampai nanti wayah sepi wong" kata Kanjeng Sultan.

"Tunggulah, sampai nanti wayah sepi wong, kalian bisa kembali lagi kesini" kata Sultan Trenggana.

"Baik Kanjeng Sultan, hamba mohon diri" kata Tumenggung Gajah Birawa, kemudian diikuti oleh para Tumenggung yang lain.

"Ya, tinggalkan aku disini sendiri" kata Kanjeng Sultan.

Para Tumenggung kemudian keluar dari gubug Kanjeng Sultan lalu berjalan menuju gubug Wira Tamtama yang biasa untuk beristirahat para Tumenggung.

"Kita menunggu disini sambil makan jagung bakar" kata Tumenggung Gajah Birawa sambil tangannya memberi isyarat kepada seorang prajurit untuk mendekat.

"Buatkan sebuah perapian, dan ambilah beberapa buah jagung yang masih muda" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" jawab prajurit itu.

Malam itu sambil menunggu wayah sepi wong, tujuh orang Tumenggung mengelilingi perapian didepan gubug Wira Tamtama. Angin Laut yang bertiup agak kencang mampu menggoyang nyala perapian, sehingga dua orang Tumenggung terpaksa menggeser tubuhnya untuk menghalangi tiupan angin.

Bulan yang hampir purnama menerangi perkemahan Wira Tamtama, sinarnya yang keperakan membuat suasana menjadi remang-remang.

Tumenggung Gajah Birawa melihat ke arah gubug Kanjeng Sultan, diilihatnya kedua prajurit Wira Tamtama masih berdiri menjaga gubug Kanjeng Sultan, ketujuh orang Tumenggungpun masih berjongkok mengelilingi perapian yang masih menyala.

"Sebentar lagi wayah sepi wong" desis Tumenggung Surapati, tetapi ia terkejut ketika melihat Tumenggung Gajah Birawa tiba-tiba berdiri, pandangan matanya tertuju ke gubug Kanjeng Sultan.

"Prajurit Wira Tamtama yang menjaga gubug Kanjeng Sultan sudah tidak ada, kemana dia?" desis Tumenggung Gajah Birawa. Enam orang Tumenggung lainnya segera berdiri, mereka memandang gubug Kanjeng Sultan yang terlihat sepi tanpa penjaga.

"Mencurigakan, ada yang tidak beres" kata Tumenggung Gajah Birawa, lalu tiba-tiba Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata hampir bersamaan berlari menuju gubug Kanjeng Sultan, diikuti oleh kelima Tumenggung yang lain.

Dengan cepat tujuh orang Tumenggung, semuanya berlari menuju gubug Kanjeng Sultan yang terlihat sepi tanpa penjaga. Tumenggung Gajah Birawa yang berlari paling depan, langsung menerobos masuk kedalam gubug yang diterangi oleh sebuah lampu minyak.

Didalam gubug, terlihat sesuatu yang membuat jantung ketujuh orang Tumenggung itu seakan-akan berhenti berdetak, di tengah gubug, dua orang prajurit Wira Tamtama terbaring dalam keadaan tidak bergerak, sedangkan diatas tikar, tergeletak tubuh Kanjeng Sultan Trenggana yang berlumuran darah.

Dengan cepat Tumenggung Gajah Birawa meraih tubuh Sultan Trenggana yang dari punggungnya masih mengeluarkan darah, memeriksa tubuhnya, sesaat kemudian Tumenggung Gajah Birawapun berkata :"Kanjeng Sultan telah meninggal"

Semua orang yang berada didalam gubug terkejut, Kanjeng Sultan Trenggana telah terbunuh, dengan luka tusuk dipunggungnya yang masih meneteskan darah.

"Badan Kanjeng Sultan masih hangat, meninggalnya belum lama" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Tumenggung Suranata, tolong urus dulu jenazah Kanjeng Sultan, aku dan para Tumenggung yang lain akan mengejar pembunuhnya" kata Tumenggung Gajah Birawa sambil meletakkan jenazah Kanjeng Sultan, kemudian iapun memindahkan letak kerisnya ke depan.

Para Tumenggung lainnya segera memindahkan letak kerisnya ke depan, kemudian bersama-sama keluar dari gubug Kanjeng Sultan, hanya Tumenggung Suranata yang masih berada di dalam gubug.

"Tumenggung Palang Nagara, Tumengung Ranapati dan Tumenggung Siung Laut, cepat kejar ke timur, bangunkan setiap prajurit, katakan ada pencuri masuk ke perkemahan" kata Tumenggung Gajah Birawa

Tumenggung Palang Nagara bersama kedua Tumenggung lainnya segera berlari ke timur dan menghilang ke dalam gelap.

"Mari kita kejar ke barat" kata Tumenggung Gajah Birawa kepada Tumenggung Gagak Anabrang dan Tumenggung Surapati.

Ketiga Tumenggung itupun lari berpencar ke arah barat, mengejar si pembunuh di kegelapan malam. Sambil berlari, pandangan matanya terus beredar mencari orang yang telah membunuh Sultan Trenggana. Para prajurit yang sedang bertugas menjadi heran ketika melihat para Tumenggung berlarian di malam hari.

"Ada apa dengan Ki Tumenggung Ranapati yang berlari seperti dikejar memedi?" tanya seorang prajurit yang berjaga kepada temannya.

"Dari tadi aku juga berada disini bersama kamu, apakah perlu aku tanyakan dulu kepada Ki Tumenggung Ranapati ?" kata prajurit yang seorang lagi.

Temannyapun terdiam, mereka berdua tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Tetapi kedua prajurit itu menjadi terkejut, ketika ada seorang Tumenggung lagi yang menghampirinya.

"Bangunkan semua prajurit, ada pencuri masuk ke perkemahan" kata Tumenggung itu.

"Baik Ki Tumenggung Palang Nagara" kata prajurit itu, kemudian iapun membangunkan semua prajurit.

"Ada pencuri masuk ke perkemahan" kata prajurit itu sambil berjalan berkeliling membangunkan semua temannya.

Tumenggung Siung Laut yang lari ke arah timur telah berpisah dengan kedua Tumenggung lainnya, keduanya telah lari berpencar menerobos semak-semak.

Malam yang sunyi dan gelap telah di kejutkan oleh suara langkah kaki para Tumenggung yang mengejar seseorang yang telah membunuh Senapati Agung pasukan Demak. Tumenggung Siung Laut terus berlari ke timur, pandangannyapun mencari sosok pembunuh Sultan Trenggana, hingga sampai di perkemahan Jala Pati. Ketika memasuki perkemahan Jala Pati, pandangannya yang tajam melihat tiga orang berdiri ditengah jalan menghadangnya.

"Berhenti !!" kata salah satu dari tiga orang yang menghadangnya, dan Tumenggung Siung Lautpun kemudian berhenti.

"Siapa kau, malam-malam berlari di perkemahan prajurit Demak?" tanya prajurit yang menghadangnya

"Ada apa Ki Panji Sokayana?" tanya Ki Tumenggung.

"Oh. ternyata Ki Tumenggung, maaf Ki Tumenggung, malam terlalu gelap sehingga saya tidak mengenali Ki Tumenggung" kata orang yang menghadang itu, yang ternyata adalah Ki Panji Sokayana.

"Ki Panji, kau ikut aku sekarang mengitari benteng" kata Ki Tumenggung.

"Baik Ki Tumenggung" jawab Ki Panji.

"Prajurit, kau bangunkan semua prajurit Jala Pati, ada pencuri masuk ke perkemahan" kata Tumenggung Siung Laut.

Setelah berkata demikian maka Tumenggung Siung Laut berlari kembali, mengitari benteng Panarukan. Di belakangnya berlari pula Panji Sokayana, yang diajak ikut berlari di malam yang dingin mencari seseorang di kegelapan malam.

Keduanya masih tetap berlari mengitari benteng sambil mengedarkan pandangannya, berlari sepanjang lingkar luar benteng Panarukan, dan saat ini kini mereka telah berbelok ke arah barat.

"Sepi, tidak ada bayangan seorangpun yang berada di kegelapan malam" kata Ki Panji dalam hati. Setiap bertemu dengan prajurit yang berjaga, Ki Tumenggung meminta mereka untuk membangunkan semua prajurit, karena ada seorang pencuri yang masuk ke perkemahan.

Setelah mengitari separo lingkar benteng, dari jauh Tumenggung Siung Lautpun telah melihat Tumenggung Gagak Anabrang yang berlari dari arah barat.

"Ki Tumenggung Gagak Anabrang!" panggil Tumenggung Siung Laut.

Tumenggung Gagak Anabrangpun berlari mendekati Tumenggung Siung Laut.

"Apakah sudah bertemu dengan pembunuhnya?" tanya Tumenggung Siung Laut.

"Belum Ki Tumenggung, aku tidak menjumpai siapapun" jawab Tumenggung Gagak Anabrang.

Dibelakangnya, Panji Sokayana terkejut ketika mendengar ucapan Tumenggung Siung Laut.

"Ada pembunuhan? Siapa yang terbunuh hingga membuat Ki Tumenggung berlari mencari pembunuhnya?" tanya Ki Panji kepada diri sendiri.

"Semua prajurit telah terbangun" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya, semua prajurit Demak dan prajurit dari bang kulon telah terbangun" jawab Tumenggung Siung Laut.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Kita sudah mengelilingi benteng kota Panarukan, tetapi tidak melihat bayangan seseorang yang mencurigakan" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya, kita tinggal menanti laporan para prajurit yang telah terbangun dari tidurnya, apakah mereka telah menemukan orang asing diperkemahan mereka" guman Tumenggung Siung Laut

"Kita kembali ke gubug Kanjeng Sultan" ajak Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya" sahut Tumenggung Siung Laut pendek.

Kedua orang Tumenggung dari kesatuan Wira Yudha dan kesatuan Jala Pati itu kemudian berjalan kembali ke gubug Kanjeng Sultan, dibelakangnya diikuti oleh Panji Sokayana.

Sambil berjalan, Tumenggung Siung Laut merasa heran, Sultan Trenggana adalah bukan seorang yang lemah, didalam dirinya terdapat bermacam-macam aji jaya kawijaya guna kasantikan.

Disamping mempunyai aji untuk menghancurkan lawannya, Sultan Trenggana juga mempunyai aji Tameng Waja, sebuah ilmu kebal yang membuatnya tidak dapat terluka meskipun terkena senjata tajam.

"Seharusnya Sultan Trenggana tidak dapat dilukai senjata tajam karena dilindungi oleh aji Tameng Waja, tetapi apakah aji Tameng Waja masih bisa melindungi kalau tubuh Kanjeng Sultan sedang menderita sakit?" desis Tumenggung Siung Laut, yang telah melihat wajah Sultan Trenggana yang pucat pasi.

"Punggungnya luka tertusuk senjata tajam, kemungkinan Kanjeng Sultan tidak menduga kalau diserang dari belakang" kata Ki Tumenggung.

Tidak berbeda dengan Tumenggung Siung Laut, para Tumenggung yang lain juga tidak menemukan orang yang dianggap sebagai pembunuh Sultan Trenggana. Tumenggung Gajah Birawa juga telah berjalan kembali menuju gubug tempat jenazah Sultan Trenggana.

"Diantara semua pembantu Sultan, apakah ada keterlibatan orang dalam?" desis Tumenggung Gajah Birawa.

"Tidak mungkin, pada saat Kanjeng Sultan terbunuh, tujuh orang Tumenggung saat itu sedang berkumpul di perapian di depan gubug Wira Tamtama" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati.

"Bagaimana dengan makanan yang dimakan oleh Kanjeng Sultan? Aku diperintahkan keluar, sehingga tidak boleh mencicipi makanan yang disuguhkan kepada Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Racun, apakah makanan Kanjeng Sultan telah diberi racun?" kata Ki Tumenggung.

"Ilmu kanuragan dan kadigdayan Kanjeng Sultan sangat tinggi, dua orang yang mempunyai ilmu setingkat Tumenggung tidak akan mampu mengalahkannya" kata Ki Tumenggung.

"Luka di punggungnya terus meneteskan darah, tidak ada yang tahu siapa yang telah melukainya" desis Tumenggung Gajah Birawa

"Kemungkinan Kanjeng Sultan meninggal dunia karena terlalu banyak kehilangan darah" kata Ki Tumenggung sambil terus berjalan menuju gubug Kanjeng Sultan..

"Mudah-mudahan dua orang prajurit Wira Tamtama yang mengawalnya tidak terbunuh sehingga bisa tersadar, dan dapat bercerita apa yang terjadi di dalam gubug" kata Tumenggung Gajah Birawa sambil terus berjalan kembali ke gubug Kanjeng Sultan. Semakin lama Tumenggung Gajah Birawa semakin mendekati gubug Kanjeng Sultan, langkahnyapun telah membawanya memasuki perkemahan prajurit Wira Tamtama yang telah terbangun.

Ketika hampir sampai didepan gubug Tumenggung Gajah Birawa bertemu dengan Tumenggung Siung Laut dan Tumenggung Gagak Anabrang diikuti oleh Panji Sokayana yang berjalan menuju gubug Sultan Trenggana.

"Bagaimana Ki Tumenggung, apakah sudah bertemu dengan pembunuhnya?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Belum Ki Tumenggung, aku tidak menjumpai siapapun di sekeliling benteng Panarukan" jawab Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya, akupun tidak menjumpai pembunuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Mendengar ucapan itu, Panji Sokayana yang berada dibelakangnya terkejut.

"Ternyata yang terbunuh adalah Kanjeng Sultan" kata Panji Sokayana.

Sesaat kemudian ketiga Tumenggung itupun masuk kedalam gubug Kanjeng Sultan, hanya Panji Sokayana yang menunggu diluar gubug.

Ternyata semua Tumenggung telah berada didalam gubug, mereka menunggu kedatangannya.

Jenazah Sultan Trenggana telah diletakkan diatas dua buah meja kecil yang disusun berjejer, sedangkan dua orang prajurit Wira Tamtama masih tergeletak diatas anyaman daun kelapa.

"Bagaimana Ki Tumenggung apakah ada yang melihat pembunuhnya?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Tidak ada, kami tidak melihatnya" jawab Tumenggung Ranapati.

"Bagaimana dengan dua orang prajurit Wira Tamtama? tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Mereka masih pingsan, belum sadarkan diri" jawab Tumenggung Suranata.

"Para Tumenggung semua, Kanjeng Sultan telah meninggal dunia, saat ini kita tidak punya pimpinan, yang harus kita lakukan adalah mengangkat seorang pimpinan, diantara para Tumenggung, siapakah yang bersedia menjadi pimpinan seluruh pasukan Demak bersama pasukan bang kulon?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Setelah kita pilih pimpinan pasukan Demak, maka akan kita tentukan, apa langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan untuk pemulangan jenazah Kanjeng Sultan maupun pemulangan semua pasukan ke Demak" kata Tumengung Gajah Birawa.

"Saya sebagai seorang Senapati Pengapit kiri pasukan Demak, mengusulkan yang pantas menjadi pimpinan saat ini adalah Senapati Muda, Tumenggung Gajah Birawa" kata Tumenggung Surapati.

"Ya" kata Tumenggung Gagak Anabrang :"Sebagai Senapati Pengapit kanan, menurut saya, yang pantas memimpin pasukan Demak adalah Tumenggung Gajah Birawa, yang telah diangkat sebagai Senapati Muda, wakil dari Senapati Agung" kata Tumenggung Gagak Anabrang,

"Ya, memang Ki Tumenggung Gajah Birawa, sebagai Senapati Muda yang telah diangkat oleh Senapati Agung, memang seharusnya yang memimpin pemulangan jenazah Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Palang Nagara, diikuti oleh persetujuan para Tumenggung lainnya. 

"Ya, dulu sebelum kita berangkat ke Panarukan, Kanjeng Sultan pernah mengatakan, kalau Kanjeng Sultan berhalangan, maka yang memimpin pasukan Demak adalah Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Tumenggung Palang Nagara.

"Baik, aku bersedia memimpin pasukan Demak sepeninggal Kanjeng Sultan, ada yang berkeberatan?" kata Tumenggung Gajah Birawa .

Semua Tumenggung saling berpandangan, tidak ada satupun yang berkeberatan.

"Saya tidak berkeberatan, silakan Ki Tumenggung Gajah Birawa memimpin seluruh pasukan Demak" kata Tumenggung Siung Laut, disusul dengan persetujuan para Tumenggung lainnya.

"Sekarang apa yang Tumenggung Gajah Birawa perintahkan kepada kami?" kata Tumenggung Suranata.

"Baik, kalau begitu, yang harus dilakukan saat ini adalah merawat dan menyadarkan dua orang prajurit Wira Tamtama yang pingsan ini, karena merekalah yang mengetahui apa yang terjadi di gubug ini, dan untuk sementara kita bawa mereka ke gubug sebelah" kata Ki Tumenggung.

Sesaat kemudian Tumenggung Palang Nagara beserta tiga orang Tumenggung lainnya maju kedepan, kemudian mereka mengangkat dua orang prajurit yang pingsan itu ke gubug sebelah.

Setelah meletakkan prajurit yang pingsan itu diatas tikar, maka Tumenggung Palang Nagara berkata kepada para prajurit yang berada didalam gubug:"Prajurit, jaga dia, yang lainnya memanggil dukun, perintahkan dukun itu merawat mereka berdua supaya cepat sadar dari pingsannya"

"Baik Ki Tumenggung" kata salah seorang prajurit, lalu iapun segera keluar dari gubug untuk memanggil dukun yang biasa merawat para prajurit yang terluka.

Setelah itu keempat orang Tumenggung itupun segera kembali ke gubug tempat jenazah Kanjeng Sultan. Setelah semua Tumenggung berkumpul kembali, maka Tumenggung Gajah Birawapun berkata :"Yang harus kita lakukan saat ini adalah membawa pulang jenazah Sultan Trenggana serta seluruh pasukan kita ke Demak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ki Tumenggung Siung Laut" panggil Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya Ki Tumenggung" kata Tumenggung Siung Laut sambil menggeser tubuhnya maju kedepan.

"Nanti jenazah Kanjeng Sultan akan dipulangkan naik perahu, biar lebih cepat sampai di Demak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" jawab Tumenggung Siung Laut.

"Ki Tumenggung Siung Laut bisa mengutus prajurit Jala Pati untuk berangkat sekarang untuk memberitahukan kabar duka ini ke semua kerabat Kraton" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung, akan saya laksanakan sekarang" kata Tumenggung Siung Laut yang segera melangkah keluar dari gubug.

Sampai diluar gubug, maka Ki Tumenggung segera mencari Panji Sokayana.

"Ki Panji!" panggil Ki Tumenggung.

Panji Sokayana segera berlari menemui Ki Tumenggung Siung Laut yang telah memanggilnya.

"Ki Panji, Kanjeng Sultan telah meninggal dunia karena dibunuh orang yang masuk ke dalam gubugnya, kita harus segera memberi kabar ke Demak" kata Ki Tumenggung.

"Baik Ki Tumenggung" kata Ki Panji Sokayana.

"Kau pimpin dua atau tiga buah perahu yang bisa melaju cepat, bawa prajurit secukupnya, beritahukan kabar duka ini ke pesanggrahan Prawata, Panti Kudus, Kadipaten Jipang, Kadipaten Pajang, pesanggrahan Kalinyamat, Kadilangu, dan Kraton Demak, beritahukan kepada Ki Patih Wanasalam dan Adipati Arya Penangsang, kau bisa berangkat sekarang Ki Panji" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik Ki Tumenggung" kata Panji Sokayana.

"Jangan lupa, berangkatkan juga delapan buah perahu ke bengawan disebelah barat Gresik, untuk menyeberangkan pasukan Demak yang kembali besok pagi, lalu perintahkan Ki Rangga Pawira untuk membawa beberapa perahu ke sini, guna membawa jenazah Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.

"Baik Ki Tumenggung, saya mohon pamit berangkat sekarang" kata Ki Panji, lalu iapun segera pergi menuju perkemahan pasukan Jala Pati.

Sesaat kemudian, masih di wayah sepi wong, sebuah perahu berisi Panji Sokayana bersama beberapa prajurit Jala Pati telah bergerak meninggalkan pesisir menuju ke beberapa perahu yang berlabuh tidak jauh dari pantai.

Tumenggung Siung Laut kemudian kembali masuk ke gubug, dan saat itu Tumenggung Gajah Birawa sedang memberikan perintah untuk memulangkan semua pasukan ke Demak.

"Semua Tumenggung dan pimpinan pasukan dari bang kulon nanti ikut di dalam perahu yang membawa jenazah Kanjeng Sultan, kecuali Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang yang besok pagi akan memimpin perjalanan pasukan kita kembali ke Demak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Ki Tumenggung Suranata, perintahkan kepada Ki Rangga Pideksa untuk memanggil lima enam orang dukun yang kita bawa dari Demak, untuk merawat jenazah dan menghentikan darah yang masih terus menetes" kata Ki Tumenggung Gajah Birawa.

"Baik Ki Tumenggung" jawab Tumenggung Suranata.

"Sekarang, semua Tumenggung kembali ke perkemahannya, di teliti kembali apakah menemukan orang yang tidak dikenal, lalu persiapkan pemulangan jenazah secepatnya, juga persiapkan kepulangan pasukan besok pagi" kata Ki Tumenggung.

"Setelah itu, jangan lupa segera kembali ke gubug ini lagi, masih banyak persoalan yang akan kita bicarakan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Para Tumenggungpun kemudian keluar dari gubug tempat jenazah Sultan Trenggana, kembali ke perkemahannya masing-masing. Setelah para Tumenggung keluar semua, saat ini yang berada di dalam gubug, hanya tinggal Tumenggung Gajah Birawa sendiri.

Kemudian, perhatian Tumenggung Gajah Birawa tertuju pada tempat makanan Sultan Trenggana, ada beberapa mangkuk yang terbuat dari gerabah yang sebagian masih terdapat sedikit sisa makanan. Berpuluh tahun ia telah mencicipi makanan yang akan dimakan oleh Sultan Trenggana, sehingga lidahnya menjadi hafal akan rasa makanan yang disuguhkan kepada Sultan Demak.

"Apakah makanan ini mengandung racun?" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Dengan hati-hati Tumenggung Gajah Birawa mencicipi semua sisa makanan yang masih berada di dalam mangkuk.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita