Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 75 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 75 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Kakang Pemanahan, mulai besok kakang bisa mengutus para prajurit Pajang menemui para bupati, demang, bebahu, para pertapa, resi, panembahan, pemimpin padepokan dan pemimpin perguruan olah kanuragan, umumkan tentang sayembara yang diadakan oleh Sultan Pajang yang berhadiah bumi Pati dan alas Mentaok" kata Sultan Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan, tetapi bagaimana kalau Arya Penangsang mendengar sayembara ini ? Prajurit sandi Jipang tersebar di mana-mana, Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Tidak apa-apa kakang, malah lebih baik kalau kita bisa membuat Arya Penangsang menjadi semakin marah" kata Sultan Hadiwijaya sambil tersenyum.

"Bagaimana dengan para bebahu yang memihak kepada Arya Penangsang, apakah mereka perlu diberitahu tentang sayembara ini, Kanjeng Sultan ?" tanya Pemanahan.

"Tidak usah, kakang Pemanahan tidak usah mengirim prajurit yang membawa wara-wara ke tlatah Jipang, Kudus dan ke padepokan Panembahan Sekar Jagad di lereng gunung Lawu" kata Sultan Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Sebelum lima pasar kedepan, harus sudah ada berita, apakah ada orang yang akan mengikuti sayembara ini, kalau tidak ada yang berani melawan Arya Penangsang, segera persiapkan para prajurit Pajang, kita berangkat berperang melawan Jipang" kata Sultan Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Pemanahan.

"Sutawijaya" kata Sultan Hadiwijaya.

"Dawuh dalem ayahanda Sultan" kata Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Kau sebagai anak laki-laki harus berani berperang, nanti kau akan kuajak ikut berperang melawan Jipang, supaya besok kau menjadi seorang laki-laki yang mampu memimpin sebuah pertempuran" kata Sultan Pajang.

"Tetapi kau jangan jauh dariku, kau harus berada disebelahku" kata Sultan Hadiwijaya selanjutnya.

"Sendika dawuh ayahanda Sultan" jawab Sutawijaya.

"Patih Mancanagara" kata Sultan Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Patih Mancanagara.

"Hubungan Kasultanan Pajang dan Kadipaten Jipang sebentar lagi akan memburuk, kita harus meningkatkan kewaspadaan Ki Patih" kata Sultan Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Sutan" jawab Patih Mancanagara.

Beberapa saat kemudian, Sultan Hadiwijaya membubarkan pertemuan itu, dan Pemanahanpun segera melaksanakan perintah dari Sultan Pajang.

Siang itu juga, Pemanahan memanggil para lurah prajurit dan memberikan perintah untuk memanggil prajurit yang akan diutus menyebarkan wara-wara ke seluruh tlatah Kasultanan Pajang.

Belasan prajurit segera berkumpul, dan mereka mempersiapkan sebuah perjalanan jauh sampai bang wetan maupun bang kulon,

"Apapun hasilnya, berhasil atau tidak dalam usaha mencari orang yang mau mengikuti sayembara ini, paling lambat sebelum lima pasar, kalian harus sudah kembali ke Pajang" kata Pemanahan.

"Baik Ki" kata para prajurit itu.

"Persiapkan kuda-kuda kalian untuk suatu perjalanan jauh" kata Pemanahan selanjutnya.

Keesokan harinya, belasan prajurit Pajang telah bergerak menyebar ke daerah gunung Merapi, Merbabu, ke utara sampai alas Roban, ke barat melewati gunung Slamet, ke timur sampai ke pesisir Tuban, ke selatan mendatangi perguruan kanuragan di sepanjang segara kidul

Seorang prajurit Pajang memacu kudanya menuju bang kulon, dan setelah lebih dari sepasar, sampailah prajurit itu di Cirebon, kemudian iapun melanjutkan perjalanannya menuju ke kaki gunung Ciremay menemui dua orang pemimpin perguruan Elang Putih, sepasang Elang Putih gunung Ciremay.

Prajurit Pajang itupun bercerita tenang wara-wara sayembara yang diadakan oleh Sultan Pajang.

"Membunuh Penangsang ? Murid Kanjeng Sunan Kudus yang dulu pernah menjadi senapati perang Kasultanan Demak ? Hm... berat" kata Elang Putih muda sambil menggelengkan kepalanya.

"Orang yang mampu membunuh Arya Penangsang akan mendapat hadiah dari Kanjeng Sultan Pajang" kata prajurit itu.

"Apa hadiahnya ?" tanya Elang Putih tua.

"Bumi Pati dan alas Mentaok" kata prajurit Pajang.

"Hadiah yang luar biasa, mendapat hadiah bumi Pati dan alas Mentaok, masing-masing Elang Putih akan mendapat hadiah sebuah tanah yang luas, seluas sebuah Kadipaten dan kami berdua akan menjadi seorang Adipati, tetapi......." kata Elang Putih muda.

"Kenapa ?" tanya prajurit Pajang.

"Kami tidak berani mengikuti sayembara, kau pasti sudah mendengar kalau ketiga saudaraku telah mati dibunuh Penangsang" kata Elang Putih tua.

"Siapa ?" tanya prajurit itu.

"Sepasang alap-alap gunung Kendeng" jawab Elang Putih tua.

"Hanya dua orang" kata prajurit itu.

"Ditambah satu lagi, Sura alap-alap" kata Elang Putih tua.

"Jadi bagaimana dengan sayembara ini ? Apakah sepasang Elang Putih dari gunung Ciremay tidak berani membunuh Adipati Jipang Arya Penangsang ?" tanya prajurit Pajang.


"Kami tidak ikut sayembara, kami tidak berani, apalagi Arya Penangsang berada di dalem Kadipaten dan mempunyai ratusan prajurit, iapun selalu dilindungi oleh gurunya, Kanjeng Sunan Kudus" kata Elang Putih tua.

"Apakah tidak sebaiknya sayembara ini dicoba dulu" kata prajurit Pajang.

"Tidak, nanti nasibku bisa seperti sepasang alap-alap gunung Kendeng" kata Elang Putih muda.

"Baiklah, kalau begitu kami mohon pamit" kata utusan dari Pajang itu.

Prajurit yang bertugas di bang kulon itupun gagal dalam mendapatkan peserta yang berani mengikuti sayembara, sehingga prajurit itu berusaha mencari perguruan maupun padepokan lainnya yang mengajarkan ilmu jaya kawijayan.

Sementara itu, Prajurit Pajang ada yang sedang berkuda menuju ke pantai selatan, lalu iapun bergerak ke arah barat untuk menjumpai seorang pertapa yang mampu bergerak secepat angin, yang berdiam disebuah gua di pegunungan sewu ditepi laut selatan.

Setelah berbicara beberapa saat, prajurit itu memberitahukan tentang wara-wara sayembara dari Kasultanan Pajang untuk membunuh Arya Penangsang.

"Bagaimana Ki Ajar Maruta, apakah Ki Ajar berniat mengikuti sayembara ini ?" tanya prajurit Pajang.

"Aku tidak tertarik, aku ingin menyendiri dan menghabiskan sisa umurku disini" jawab Ajar Maruta.

"Yang mampu membunuh Arya Penangsang akan mendapatkan bumi Pati dan alas Mentaok" kata prajurit itu.

"Hadiah bumi Pati dan alas Mentaok ? Buat apa ?" tanya pertapa itu.

Mendengar ucapan pertapa itu, maka prajurit itupun terdiam beberapa saat.

"Aku tidak takut bertarung dengan Arya Penangsang meskipun dia berpasangan dengan patih Matahun, tetapi aku memang tidak berminat mengikuti sayembara itu" kata Ajar Maruta.

"Daerah segara kidul ini tidak jauh dari alas Mentaok, dan nantinya daerah ini bisa juga dimasukkan ke dalam daerah yang dijanjikan oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya" kata prajurit itu.

"Aku sudah tua, aku seorang diri disini, aku tidak mempunyai anak maupun istri, kalaupun aku memenangkan sayembara ini dan menjadi Adipati di Pati dan Mentaok, besok kalau aku mati, akan aku wariskan kepada siapa kedua daerah itu" kata pertapa tua itu.

"Sayang Ki Ajar, ilmu jaya kawijayan Ki Ajar Maruta begitu tinggi, Ki Ajar mampu bergerak seperti angin, Ki Ajar pasti memenangkan pertarungan meskipun melawan dua orang sekaligus, Arya Penangsang dan Patih Matahun" kata prajurit Pajang.

"Ya, tetapi aku sudah tidak mau bertarung lagi, aku sudah tua" kata Ki Ajar.

"Sayang Ki Ajar, hadiahnya sangat menarik, bumi Pati dan alas Mentaok" kata prajurit itu.

Pertapa tua itu tidak menjawab, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak mengikuti sayembara Kasultanan Pajang.

"Baiklah Ki Ajar, jadi Ki Ajar Maruta tetap tidak berminat mengikuti sayembara ini ?" kata prajurit itu.

"Tidak, aku akan menghabiskan hari tuaku seorang diri disini" kata Ajar Maruta.

"Terima kasih Ki Ajar, saya mohon pamit" kata prajurit Pajang.

Prajurit Pajang itu segera keluar dari gua tempat bertapa Ki Ajar Maruta, kemudian iapun melanjutkan perjalanannya mencari pemimpin perguruan olah kanuragan lainnya.

Pada saat yang bersamaan, seorang prajurit Pajang yang melakukan perjalanan ke bang wetan menyusuri sebuah bengawan yang lebar di daerah sebelah selatan Tuban.

"Ki Branjang pasti bersedia untuk bertarung melawan Arya Penangsang, dia juga mampu menghancurkan sebuah batu padas yang besar, hadiah dari Kanjeng Sultan berupa bumi Pati dan alas Mentaok pasti membuatnya sanggup mengikuti sayembara untuk membunuh Adipati Jipang" kata prajurit Pajang itu dalam hati.

Prajurit itu terus menjalankan kudanya menyusuri bengawan, dan ketika dilihatnya ada tiga buah pohon randu alas yang besar, maka prajurit itupun membelokkan kudanya melewati pohon randu alas, lalu memasuki sebuah padepokan yang berada ditepi bengawan, padepokan Randu Telu.

"Sepi" kata prajurit Pajang itu setelah kudanya memasuki regol padepokan.

Seorang cantrik yang sedang membawa kayu bakar, meletakkan bebannya, lalu berlari menghampiri prajurit berkuda yang berada didekat regol.

"Selamat datang di padepokan Randu Telu ki sanak" kata cantrik setelah prajurit itu turun dari kudanya.

"Ya, apakah Ki Branjang berada di padepokan ?" tanya prajurit Pajang.

"Ki Branjang Kawat sedang bepergian" kata cantrik itu.

"Branjang Kawat ? Yang aku kenal pemimpin padepokan Randu Telu ini bernama Ki Branjang, bukan Ki Branjang Kawat" kata prajurit itu.

"Ya, dulu memang bernama Ki Branjang, tetapi setelah Ki Branjang mengalahkan tiga orang perampok di kaki gunung Wilis, namanya ditambah menjadi Ki Branjang Kawat" kata cantrik padepokan Randu Telu.

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lau iapun bertanya :"Ki Branjang Kawat pergi kemana ?"

"Ki Branjang Kawat pergi ke Wengker, ketempat adik seperguruannya, nanti akan pulang ke padepokan ini kira-kira empat lima pasar lagi" kata cantrik itu.

Prajurit Pajang itu mengeluh dalam hati, jauh-jauh ia berangkat dari Pajang ternyata yang dicari tidak ada di padepokan.

"Kalau Ki Branjang Kawat pulang sebelum waktunya, atau kalau ada orang lain yang berminat, sebarkanlah wara-wara dari Kasultanan Pajang, saat ini Sultan Hadiwijaya sedang mengadakan sebuah sayembara" kata prajurit Pajang itu.

"Apa isi sayembara itu ?" tanya cantrik padepokan Randu Telu.

"Siapapun yang mampu membunuh Arya Penangsang paling lambat tiga pasar kedepan, akan mendapat hadiah bumi Pati dan alas Mentaok" kata prajurit Pajang itu.


"Baik nanti kalau Ki Branjang Kawat telah pulang, akan aku sampaikan pesanmu ini kepadanya" kata cantrik itu

"Ya, sekarang aku mohon pamit" kata prajurit itu.

"Kau akan pergi kemana lagi ki sanak ?" tanya cantrik itu

"Aku akan menuju ke barat, menyusuri bengawan ini" kata prajurit Pajang, lalu iapun naik ke atas punggung kudanya, lalu menjalankannya menuju ke barat.

Ditempat lain, seorang prajurit Pajang lainnya telah menjelajah sepanjang sungai Serayu, mencari seorang pemimpin perguruan jaya kawijayan yang menamakan dirinya Resi Suwela, di padepokan Kali Serayu.

Ketika prajurit itu masuk di padepokan Kali Serayu, yang menemui hanya seorang cantrik yang mengatakan Resi Suwela tidak berada ditempat.

"Sang Resi tidak berada di padepokan, ki sanak" kata cantrik itu.

"Kemana perginya Resi Suwela ?" tanya prajurit itu.

"Sang Resi sedang melakukan bertapa ngeli di pertemuan dua sungai" kata cantrik padepokan Kali Serayu.

"Bertapa kungkum di tempuran Sungai Serayu ?" tanya prajurit Pajang..

"Ya" jawab cantrik itu.

"Berendam di sungai sebelah mana ? Aku mau menyusul kesana" tanya prajurit Pajang.

"Ki sanak berjalan saja lurus keselatan, nanti ki sanak akan menemui sebuah tempuran" kata santri Resi Suwela..

Prajurit pajang itupun menganguk-anggukkan kepalanya, lalu iapun bertanya :"Bertapa ngeli di pertemuan dua buah sungai, Resi Suwela bertapa kungkum sendiri ?" .

"Ya, Sang Resi ditunggui oleh dua orang cantrik" kata cantrik padepokan Kali Serayu.

"Baik, aku pamit akan mencari Resi Suwela" kata prajurit itu, lalu iapun berjalan menuntun kudanya menyusuri sungai Serayu.

Agak lama prajurit itu berjalan, ketika dilihatnya ada dua orang yang sedang duduk ditepi sungai maka prajurit itupun menghampiri kedua orang itu.

"Ki sanak cantriknya Resi Suwela ?" tanya prajurit Pajang.

"Ya, ki sanak siapa dan berasal darimana ?" tanya salah satu dari cantrik Resi Suwela.

"Aku Pahing, prajurit Kasultanan Pajang, ingin bertemu dengan Resi Suwela" kata prajurit itu.

"Sang Resi sedang menjalani laku tapa kungkum, nanti setelah matahari terbenam kita baru bisa berbicara dengan Sang Resi" kata cantrik padepokan Kali Serayu.

Prajurit Pajang itu menjawab :"Baik aku tunggu disini, disebelah mana Resi Suwela bertapa ?"

"Itu Sang Resi yang terlihat sedang berendam di tengah sungai, yang airnya sebatas leher" kata cantrik itu sambil menunjuk ketempat Resi Suwela yang sedang merendam dirinya disungai.

Prajurit Pajang itu mengedarkan pandangannya, dilihatnya ditengah pertemuan dua buah sungai, ada seseorang yang sedang berendam, hanya kepalanya saja yang terlihat.

"Apakah Resi Suwela tidak dihantar makanan ?" tanya prajurit Pajang.

"Tidak, Sang Resi makan apa saja yang hanyut atau yang berada didalam air sungai" kata cantrik itu.

Merekapun berbincang sampai langit sudah berwarna jingga, matahari pun akan tenggelam alampun semakin suram.

"Sebentar lagi kita akan menemui Sang Resi" kata cantrik itu sambil melihat ke langit yang mulai meredup.

Beberapa saat kemudian, gelappun telah menyelimuti daerah disekitar sungai Serayu.

"Resi Suwela akan naik ke atas ?" tanya Pahing.

Cantrik itu memandang ke prajurit Pajang, lalu iapun berkata :"Tidak, kita berdua yang menuju kesana"

Prajurit Pajang menggeremang tidak jelas, iapun berkata dalam hati :"Malam-malam berendam di sungai, airnya pasti dingin"

Cantrik itu segera membuka bajunya, iapun melepas kain panjangnya, hanya mengenakan celana saja cantrik itu segera masuk ke dalam air sungai Serayu.

Prajurit Pajang itupun juga melepas baju, senjatanya sebuah pedang pendek, lalu kain panjangnya, kemudian iapun masuk ke dalam sungai, berjalan dibelakang cantrik padepokan Resi Suwela.

Semakin ketengah sungaipun menjadi semakin dalam, selangkah demi selangkah mereka berdua berjalan mendekati Resi Suwela yang berada ditengah pertemuan dua buah sungai.

Ketika air sungai semakin dalam, akhirnya menjadi sebatas leher, prajurit itupun berkata dalam hati :"Kalau bukan karena titah Kanjeng Sultan, aku tidak mau malam-malam berendam di sungai Serayu".

"Sang Resi, ini ada tamu seorang prajurit dari Kasultanan Pajang ingin bertemu dengan Sang Resi" kata cantrik itu.

Resi Suwela menengok ke arah prajurit yang mencarinya, lalu Sang Resipun berkata :"Ada apa kau mencariku prajurit"

"Resi Suwela, aku utusan dari Kanjeng Sultan Pajang, ada sebuah sayembara yang aku harapkan Sang Resi bisa mengikuti sayembara itu" kata prajurit Pajang.

"Apa hadiahnya ?" tanya Resi Suwela.

"Bumi Pati dan alas Mentaok" jawab utusan Kanjeng Sultan.

"Wuaaahh bumi Pati dan Alas Mentaok, bagus, apa isi sayembara ?" tanya Resi Suwela gembira.

"Membunuh Adipati Jipang" kata Pahing.

"Membunuh Adipati Jipang Arya Penangsang ? Lalu mendapat hadiah bumi Pati dan alas Mentaok ? Bagus, aku ikut sayembara itu, tetapi aku harus menyelesaikan laku tapaku dulu" kata Resi Suwela.


"Sang Resi diberi waktu paling lambat empat pasar untuk menghadap Kanjeng Sultan Hadiwijaya di Pajang, nanti akan ditanya tentang kesanggupan Sang Resi membunuh Penangsang" kata prajurit itu.

"Prajurit, aku harus menyelesaikan laku yang sedang aku jalani, tiga pasar menjalani tapa kungkum, tiga pasar tapa ngidang, tiga pasar tapa ngalong, setelah delapan pasar aku akan menghadap Kanjeng Sultan di Pajang, karena aku baru menjalani sepasar tapa kungkum, masih perlu waktu delapan pasar lagi untuk menyelesaikan tapaku ini" kata Resi Suwela.

"Titah dari Kanjeng Sultan paling lambat hanya empat pasar, jadi sebaiknya tapa Sang Resi dibatalkan saja" kata Pahing.

"Tidak bisa prajurit, kalau aku batalkan, kekuatan yang telah terhimpun akan memukul diriku sendiri, aku bisa terluka parah" kata Resi Suwela.

"Berarti Sang Resi tidak bisa menyelesaikan tapa kungkumnya lebih cepat ?" tanya utusan Pajang.

"Tidak bisa, tetapi aku ingin mengikuti sayembara ini, kau tahu betapa luas tlatah yang dijanjikan oleh Kanjeng Sultan, dan nanti aku dapat diangkat menjadi seorang Adipati Mentaok sekaligus Adipati Pati" kata Sang Resi.

"Aku tidak bisa melanggar batas waktu dari Kanjeng Sultan sang Resi, paling lambat empat pasar" kata prajurit Pajang.

"Wuaah aku juga tidak bisa membatalkan tapaku, aku bisa terluka didalam" kata Sang Resi.

"Begini saja Sang Resi, apabila sampai delapan minggu tidak ada yang mampu membunuh Penangsang, maka aku akan kembali lagi ke sini untuk memberitahukan kepada Sang Resi supaya bisa kembali mengikuti sayembara, begitu Sang Resi ?" tanya utusan dari Pajang.

"Kau tidak usah kemari, kalau sampai tapa ngalongku telah selesai, aku akan pergi ke Jipang, dan kalau saat itu Arya Penangsang masih hidup, aku akan segera ke Pajang menghadap Sultan Hadiwijaya, begitu prajurit" kata Resi Suwela.

"Baik Resi Suwela, aku mohon pamit" kata prajurit

"Ya" sahut Resi Suwela. Kemudian prajurit itu bersama cantrik segera berjalan ke pinggir sungai, ketempat semula.

"Huh dingin sekali" kata prajurit itu menggeremang.

"Malam ini aku nanti ikut tidur disini, besok pagi aku akan melanjutkan perjalanan lagi " kata prajurit ketika sudah sampai di tepi sungai.

Malam itu mereka bertiga membuat perapian ditempat yang agak kering, sementara Resi Suwela meneruskan merendam dirinya di air sungai Serayu.

Malam yang sepi dilalui oleh prajurit Pajang dengan tidur ditepi sungai, hanya suara gemericik air yang terdengar terus menerus tanpa henti bersamaan dengan suara cengkerik yang selalu menggetarkan bulu sayapnya.

Dalam pada itu, wara-wara sayembara membunuh Arya Penangsang telah tersebar luas di seluruh tlatah Demak lama, dan ternyata berita itu juga sudah sampai di Kadipaten Jipang.

Di pendapa Kadipaten Jipang, Arya Penangsang duduk di kursi, dengan mata melotot ia memandang ke arah prajurit sandi yang melaporkan berita ini.

"Jadi betul kau telah mendengar wara-wara ini ?" tanya Arya Penangsang dengan suara bergetar.

"Betul Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi itu.

"Sabar Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun yang sedang duduk bersila di depannya.

"O ya paman Patih, aku sedang berpuasa, tidak boleh marah" kata Arya Penangsang.

Patih Matahun tidak menjawab, ia bersiap mengingatkan kalau junjungannya menjadi marah.

"Jadi memang ada sayembara berhadiah dari Karebet itu ?" tanya Adipati Jipang.

"Betul Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi itu.

"Apa bunyi sayembara itu ?" tanya Adipati Jipang.

"Siapapun yang mampu membunuh Adipati Jipang Arya Penangsang, akan mendapat hadiah bumi Pati dan alas Mentaok" kata prajurit itu.

"Mendapat hadiah bumi Pati dan alas Mentaok ?" tanya Penangsang.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi.

"Pengecut !. Ternyata adimas Hadiwijaya tidak berani menyerang Jipang, Sultan Pajang yang gagah perkasa sedang mencari sraya untuk membunuhku, tetapi aku tidak takut, siapapun sraya yang akan datang ke Jipang akan aku hadapi" kata Sang Adipati.

"Paman Matahun, ternyata kepalaku harganya sangat mahal paman, kepalaku saat ini seharga bumi Pati dan alas Mentaok" kata Adipati Jipang selanjutnya.

"Ya Kanjeng Adipati, Sultan Hadiwijaya kelihatannya memang tidak berani menyerang Jipang, madeg menjadi Senapati Agung Pajang." kata Patih Matahun.

"Aku akan menunggu siapapun orang yang akan datang ke Jipang untuk mengikuti sayembara mendapatkan bumi Pati dan alas Mentaok, dan orang itu akan merasakan pusakaku, keris Kyai Setan Kober" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati, Kanjeng Adipati harus sabar" kata Patih Matahun.

"Ya Paman, aku akan beristirahat dulu, supaya aku tidak mudah menjadi marah, kau pulanglah kerumahmu prajurit" kata Arya Penangsang, lalu iapun bangkit dan berjalan menuju ke kamarnya.

Setelah Adipati Jipang masuk ke kamarnya, Patih Matahun berkata kepada prajurit sandi yang masih duduk didekatnya :"Kau pulanglah, beristirahatlah"

"Terima kasih Ki Patih" jawab prajurit sandi itu, lalu iapun bergeser mundur dan berjalan keluar dari dalem Kadipaten Jipang.


Waktupun terus berlalu, sang bagaskara berjalan terus dari timur ke arah barat setiap hari, setelah itu tugasnya telah digantikan oleh rembulan yang bersinar di kegelapan malam ditemani oleh ribuan bintang berkelip indah tak kenal lelah.

Beberapa hari kemudian, di Pajang, beberapa kesatuan prajurit yang baru telah terbentuk, dan saat ini Kasultanan Pajang telah mempunyai kesatuan Wira Tamtama, Wira Braja, Wira Manggala, dan Wira Yudha, ditambah pasukan Wira Sandi Yudha yang telah lama terbentuk.

Ratusan prajurit yang lama maupun yang baru mulai ditata, semuanya telah ditempatkan dibeberapa kesatuan prajurit.

Kesatuan Wira Yudha sebagai kesatuan tempur Pajang, terdiri dari para prajurit pilihan yang mempunyai kelebihan, sangat trampil menggunakan senjata pedang pendek maupun tombak panjang.

"Sebentar lagi Pajang akan menjadi sebuah Kasultanan yang besar, setelah Kanjeng Sultan Hadiwijaya menyingkirkan Adipati Jipang Arya Penangsang" kata beberapa prajurit.

Berita mengenai wara-wara sayembarapun telah tersebar luas diseluruh wilayah dari bang wetan sampai bang kulon.

Empat pasar setelah wara-wara sayembara disebar ke seluruh tlatah Pajang, para prajuritpun yang berkeliling di daerah telah kembali ke kotaraja Pajang, dan melaporkan hasilnya kepada Pemanahan.

Pada malam harinya, Pemanahan, Penjawi dan Juru Martani bertemu di rumah Mas Ngabehi Loring Pasar.

"Dimana Sutawijaya ?" tanya Pemanahan.

"Mas Ngabehi Loring Pasar pergi berlatih olah kanuragan ditepi sungai, nanti hampir tengah malam dia baru kembali ke rumah" jawab Juru Martani.

"Ya, Sutawijaya memang rajin berlatih untuk meningkatkan ilmunya" kata Penjawi.

"Hari ini prajurit yang diutus untuk menyebarkan wara-wara semuanya telah kembali ke kotaraja, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil membawa orang yang berani mengikuti sayembara" kata Pemanahan.

"Kalau tidak ada yang berani, maka Kanjeng Sultan sendiri nanti yang akan memimpin para prajurit menyerang Jipang" kata Penjawi.

"Jangan, jangan sampai Kanjeng Sultan sendiri yang menyelesaikan masalah Kadipaten Jipang" kata Juru Martani.

"Maksud kakang Juru, siapa yang akan menjadi senapati, para prajurit tidak ada yang berhasil membawa orang yang berani melawan Arya Penangsang" kata Pemanahan.

"Bagaimana kalau adi Pemanahan dan adi Penjawi yang mengikuti sayembara itu, nanti hadiahnya dibagi dua, adi Pemanahan dan adi Penjawi masing-masing mendapatkan satu wilayah, bumi Pati atau alas Mentaok" kata Juru Martani.

Pemanahan dan Penjawi tidak menjawab, mereka berpikir, menghitung dengan cermat kekuatan sendiri maupun kekuatan lawan.

"Kelihatannya berat untuk mengalahkan Penangsang, aji Tameng Wajanya tidak bisa ditembus" kata Pemanahan.

"Dengan pusaka tombak Kyai Pleret, aji Tameng Waja bisa ditembus" kata Juru Martani.

"Tetapi tombak Kyai Pleret sekarang sudah menjadi pusaka sipat kandel Kasultanan Pajang" kata Penjawi.

"Ya, nanti kita mencari sebuah cara, supaya tombak pusaka Kyai Pleret bisa dibawa ke pertempuran" kata Juru Martani.

"Keris Kyai Setan Kober adalah senjata yang sangat berbahaya, setiap goresan akan berarti maut" kata Pemanahan.

"Kita akan berusaha supaya Arya Penangsang merasa tidak perlu menggunakan keris Kyai Setan Kober" kata Juru Martani.

"Kuda tunggangan Penangsang yang bernama Gagak Rimang adalah kuda yang luar biasa, kuda kita tak akan mampu melawannya" kata Penjawi.

"Nanti kita akan carikan kuda tandingannya, yang bisa membuat Gagak Rimang menjadi tak terkendali" kata Juru Martani..

"Jadi bagaimana adi Penjawi, apakah kita berani mengikuti sayembara" kata Pemanahan.

"Ada berapakah jumlah seluruhnya laskar dari Sela kakang Pemanahan ?" tanya Penjawi.

"Semuanya ada empat atau lima ratus orang, adi Penjawi" jawab Pemanahan.

"Masih kurang banyak kakang, paling tidak harus ada tambahan tiga atau empat ratus prajurit Pajang lagi" jawab Penjawi.

"Bagaimana kakang Juru, laskar dari Sela jumlahnya terlalu sedikit dibandingkan dengan jumlah prajurit Jipang" kata Penjawi

"Nanti akan kita cari akal supaya sebagian prajurit Pajang bisa ikut berperang bersama laskar Sela melawan jipang" kata Juru Martani.

Mereka bertiga masih berbicara sampai hampir tengah malam, mengurai langkah-langkah yang akan dilakukan dan menghitung semua kemungknan yang dapat terjadi pada saat laskar Sela bersama prajurit Pajang bertempur melawan prajurit Jipang.

Hampir tengah malam, saat itu terlihat Sutawijaya pulang dari berlatih seorang diri di tepi sungai di dekat hutan di sebelah barat kotaraja Pajang, bajunya yang basah oleh keringat segera diganti dengan baju yang kering.

Tak lama kemudian di kejauhan terdengar lamat-lamat suara kentongan yang ditabuh dengan nada dara muluk.

"Tengah malam" kata seorang nenek yang sedang memeluk cucunya yang masih kecil, di rumahnya yang tidak jauh dari pasar Pajang.

Malam semakin larut, Pemanahan dan Penjawi telah pulang ke rumahnya, suasanapun semakin dingin dan sepi hanya terdengar suara beberapa burung malam yang sedang mencari mangsa.

Pagipun telah menjelang, tak lama kemudian mataharipun menampakkan dirinya, naik ke langit yang cerah, dan udara pagipun terasa segar.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita