Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 14 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 14 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Kedua orang prajurit sandi itu sedang membawa sebuah ploncon untuk tempat menancapkan songsong kerajaan di dalam gubug Kanjeng Sultan" kata Karebet dalam hati.

Karebet melihat sekelilingnya, tidak ada yang menarik perhatiannya, hanya dua ekor kuda yang dipakai oleh petugas sandi dari kotaraja terikat pada sebuah dahan pohon.

Kemudian Karebetpun perlahan-lahan berjalan meninggalkan perkemahan dan berjalan kembali ke tempat semula, tempat Ki Wuragil dan kedua temannya yang sedang menunggu di tepi hutan.

Perjalanan kembali menuju tempat semula menjadi lebih cepat, hanya tinggal berjalan berbalik arah melalui jalan yang sudah dilewati tadi. Jalan yang sudah ada jejak berupa ranting pohon maupun sulur-sulur yang terpotong oleh pedang pendeknya.

Tidak beberapa lama kemudian Karebetpun telah sampai ditempat semula dan dijumpainya Ki Wuragil seorang diri.

"Kerbaunya sudah dapat, seekor kerbau jantan yang besar" kata Ki Wuragil.

"Sekarang kerbaunya berada dimana ?" tanya Karebet.

"Kerbau itu sekarang berada di sebelah gerumbul sebelah selatan sungai kecil, sedang diawasi oleh Mas Manca" jawab Ki Wuragil

"Lalu Jaka Wila kemana" tanya Karebet lagi.

"Dia sedang membersihkan binatang buruannya disungai" kata Ki Wuragil.

"Jaka Wila bisa mendapatkan seekor kijang ?" tanya Karebet.

"Agak lebih kecil sedikit, dia mendapatkan seekor kancil" kata Ki Wuragil.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju sebelah gerumbul dan disana terlihat Mas Manca sedang duduk mengawasi seekor kerbau liar yang sedang berada di balik gerumbul.

"Itu kerbaunya, baru saja ia keluar dari sungai" kata Mas Manca

Ya, kita awasi dan ikuti terus sampai besok pagi" kata Karebet.

"Ya, nanti kita bergantian mengawasi kerbau itu" kata Mas Manca.

"Kita mengawasi jangan terlalu dekat, kalau sampai terlihat, dia bisa mengejar kita" kata Karebet.

Tak lama kemudian Jaka Wila datang mendekat dengan membawa beberapa bungkusan daun pisang yang berisi daging kancil yang sudah dibersihkan dan dipotong menjadi potongan kecil-kecil.

"Kijangnya tidak ada, yang ada hanya seekor kancil jantan, ukurannya agak besar, bisa untuk makan kita berempat sekarang dan nanti malam" kata Jaka Wila.

"Jagung dan ubinya masih ada di bungkusan" kata Karebet.

"Ya, coba kalau kita kemarin membawa kendil yang terbuat dari gerabah, jagung dan ubinya bisa kita rebus" kata jaka Wila.

"Kalau kita membawa kendil, sudah hancur kena senggol ekor buaya" kata Mas Manca.

"Aku akan membuat api" kata Jaka Wila selanjutnya.

"Membakarnya agak jauh dari kerbau, jangan sampai kerbaunya melihat dan mengejarmu" kata Ki Wuragil.

Jaka Wila berjalan menjauh sambil membawa daging kancil, beberapa buah jagung dan ubi kayu.

"Pekerjaan kita angon kerbau sampai besok pagi" kata Ki Wuragil.

"Ya kita ikuti terus kemanapun kerbau itu pergi" kata Mas Manca.


Tidak beberapa lama, Jaka Wila datang mendekat, dan sesaat kemudian mereka bertiga makan jagung, ubi, dan daging bakar, sedangkan Mas Manca tetap berdiri mengawasi kerbau liar yang masih di balik gerumbul.

"Kita makan bergantian" kata Ki Wuragil.

"Kita makan daging separo saja, yang separo kita makan nanti malam" kata Jaka Wila.

Matahari berjalan terus ke arah barat, dan saat itu matahari sudah hampir tenggelam.

"Pada saat sore hari seperti ini Kanjeng Sultan sudah tiba ke perkemahan, dan pada waktu nanti malam, Kanjeng Sultan sudah mulai berburu, dan pulang ke perkemahan biasanya besok pagi" kata Karebet.

Mereka berempat terus bergeser, mengikuti kemanapun kerbau itu bergerak.

Matahari sudah tenggelam di cakrawala, malam ini langit diatas hutan Prawata dihiasi bulan yang bulat, bulan purnama penuh, suasanapun tidak gelap gulita, ada sedikit sinar yang memudahkan keempat orang itu mengawasi kerbau liar yang sedang beristirahat.

"Kita mengawasi bergantian, biar sekarang aku yang mengawasi, nanti menjelang tengah malam, Jaka Wila dan Mas Manca yang bergantian menjaganya" kata Ki Wuragil ,

Sisa daging yang masih separo, yang dibakar tadi siang telah habis dimakan bersama jagung dan ubi.

Malam itu semuanya berjalan seperti biasanya, bulan yang telah bersinar terang, dan ketika menjelang fajar menyingsing, terdengar kicau burung dan kokok beberapa ayam hutan.

Langit telah semakin terang, mereka berempat pun bergantian membersihkan diri untuk bersiap mengerjakan sebuah pekerjaan penting, memancing kerbau liar ke perkemahan Kanjeng Sultan.

Setelah selesai membersihkan diri, maka Karebetpun mengutarakan rencananya.

"Aku akan berangkat ke perkemahan lagi, memastikan apakah Kanjeng Sultan sudah kembali" kata Karebet.

Kalian tetap disini mengawasi kerbau liar itu, aku berangkat sekarang" kata Karebet dan iapun berjalan menuju perkemahan Kanjeng Sultan.


Perjalanan menyusurui jalan yang pernah dilalui, bisa lebih cepat, tidak beberapa lama Karebetpun sudah berada di balik sebatang pohon di dekat perkemahan.

Perkemahan masih sepi, Kanjeng Sultan belum pulang dari berburu, dan Karebetpun dengan sabar menunggu kedatangan Kanjeng Sultan.

Karebet tidak perlu menunggu terlalu lama, sesaat kemudian terdngar suara gaduh, belasan orang berjalan mendatangi perkemahan.

"Ternyata yang berjalan bersama Kanjeng Sultan adalah Ki Tumenggung Gajah Birawa dan Ki Tumenggung Gagak Anabrang" kata Karebet dalam hati.

Karebetpun beringsut mundur, dia merasa terlalu berbahaya kalau terlalu lama berada sekitar perkemahan.

"Mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi, terutama ilmu Kanjeng Sultan" kata Karebet dan iapun segera meninggalkan perkemahan menuju ke tempat teman-temannya yang masih menjaga kerbau liar.

Cepat sekali perjalanan yang dilakukan Karebet, sesaat kemudian Karebetpun telah tiba di tempat Ki Wuragil yang sedang mengawasi kerbau liar.

Setelah mereka bertemu, Karebetpun berkata :"Aku akan memancing kerbau itu ke dekat perkemahan, kalian mengikuti kerbau itu dari belakang"

Setelah berkata demikian, Karebet mengambil sebuah ranting pohon yang agak panjang, lalu iapun berjalan mendekati kerbau yang berada dibalik gerumbul perdu.

Ketika kerbau liar itu melihat seseorang mendekat sambil mengacungkan ranting pohon seperti akan memukulnya, maka kerbau itupun menganggapnya sebagai lawan dan berlari mengejarnya.

Sesaat setelah kerbau itu mengejar, ternyata orang yang dikejarnya menghilang, sehingga kerbau itupun berhenti sambil menanti lawannya muncul lagi.

Tidak beberapa lama lawannya muncul lagi jauh didepan, maka kerbau itupun mengejarnya, dan ternyata beberapa saat setelah lari, lawannya menghilang lagi.


Setelah Karebet berhasil memancing kerbau liar beberapa kali mengejarnya, dan saat ini sudah tidak terlalu jauh dari perkemahan, maka mulailah Karebet akan berbuat sesuatu seperti yang di perintahkan oleh Ki Buyut Banyubiru.

Maka dibuanglah ranting pohon yang dipakai untuk menggoda kerbau kemudian Karebetpun mengeluarkan sebuah kantong kain kecil pemberian Ki Buyut Banyubiru, dan dari dalam kantong itu, iapun mengambil segumpal tanah liat.

Tanah liat itu dipegang dengan tangan kanannya, dan Karebetpun menggoda kerbau supaya menyerangnya.

Kerbau yang telah melihat lawan didepannya, maka iapun menyerang, dengan cepat Karebet menghindar ke sebelah kanan, ketika kerbau berbalik, maka dengan cepat Karebet melompat disebelahnya dan memasukkan segumpal tanah liat kedalam telinga kerbau.

Kerbaupun semakin marah, kepalanya digoyang-goyangkan, di geleng-gelengkan untuk mengeluarkan benda yang masuk di telinganya.

Setelah beberapa saat telinganya masih tersumbat, maka kemarahan kerbau liar tertumpah pada lawannya, maka dengan cepat diserangnya lawan yang berada didepannya.

Karebet menghindar melompat kesamping, kerbau itupun mengejarnya, maka Karebetpun lari menuju perkemahan.

Kerbaupun dengan cepat membalikkan badannya lalu dengan cepat berlari mengejar lawannya.

Kerbau liar yang marah karena telinganya disumbat dengan tanah liat, tidak mengetahui lawannya telah menghilang bersembunyi di belakang sebatang pohon, maka kerbau itupun dengan cepat terus berlari lurus masuk ke perkemahan.

Setelah berhasil memancing seekor kerbau liar masuk ke dalam perkemahan Kanjeng Sultan, maka Karebetpun kemudian menemui Ki Wuragil beserta Mas Manca dan Jaka Wila.

"Ki Wuragil, Mas Manca dan kau Jaka Wila, aku akan masuk ke perkemahan, mudah-mudahan perhitungan


Ki Buyut Banyubiru tidak salah, kalian tunggu di tikungan sungai kecil di sebelah barat perkemahan, setelah selesai, aku akan kembali menemui kalian" kata Karebet.

"Baiklah" kata mereka bertiga.

Kemudian Karebetpun segera kembali menuju perkemahan, sedangkan Ki Wuragil beserta kedua temannya berjalan menuju tikungan sungai di sebelah barat perkemahan.

Pada saat yang bersamaan, di perkemahan hutan Prawata, suasana masih ramai, Kanjeng Sultan Trenggana baru saja pulang dari berburu bersama beberapa orang perwira dan prajurit Wira Tamtama.

Enam orang prajurit sudah siap akan mengangkat tiga ekor kijang hasil buruan, yang akan dibersihkan di pinggir sungai kecil di dekat perkemahan.

Kanjeng Sultan baru saja memasuki gubugnya, dan ketika sedang berbicara dengan Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang, tiba-tiba di luar terdengar suara gaduh, suara benda-benda jatuh berderak, suara para prajurit yang terkejut berteriak, lalu ada prajurit yang berteriak supaya semua bersiaga.

"Ada apa ?" tanya Sultan Trenggana kepada Tumenggung Gajah Birawa.

Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang keluar dari gubug, dilihatnya sebuah gubug yang dihuni para prajurit hampir roboh diamuk oleh seekor kerbau liar.

"Ada seekor kerbau liar yang mengamuk di perkemahan, Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Sultan Trengganapun berjalan keluar, dilihatnya seekor kerbau sedang mengamuk dan melemparkan seorang prajurit Wira Tamtama.


Mengetahui Sultan Trenggana telah keluar dari gubug, maka Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang bergeser, keduanya lalu berdiri disamping kanan dan kiri Kanjeng Sultan.

Seorang prajurit dengan tergesa-gesa mengambil bendera Gula Kelapa, yang tertancap di depan gubug Kanjeng Sultan, untuk diselamatkan dari amukan kerbau.

"Awas Ki Rangga !!" teriak seorang prajurit ketika melihat kerbau itu berlari akan menerjang seorang Rangga yang sedang tertegun karena melihat gubugnya telah diobrak abrik dan dinding gubugnya roboh hampir menimpanya.

Orang itu, Ki Rangga Pideksa dengan cepat melompat kesamping, dan iapun segera berusaha menghindar dari tandukan kerbau yang mengamuk itu.

Sebuah gubug telah porak poranda dan hampir rata dengan tanah.

Semua barang-barang yang berada di dalam gubug telah berserakan semuanya.

Seorang prajurit Wira Tamtama yang bertubuh tinggi besar berusaha untuk mengalihkan perhatian kerbau, ia seorang diri berani menghadapi amukan seekor kerbau liar itu.

Ketika kerbau mengobrak abrik gubugnya, iapun melompat maju didepan kerbau, dengan cepat kedua tangannya memegang tanduk kerbau, dan iapun berusaha untuk mematahkan leher kerbau.

Dengan sekuat tenaga, tanduk kerbau itu di putar ke kanan, tetapi tenaganya bukan tandingan tenaga kerbau liar yang telinganya disumbat tanah liat,

Sekejap kemudian prajurit Wira Tamtama itupun terlempar ke belakang dan jatuh disamping kerbau itu.

Prajurit itu dengan cepat melompat berdiri dan sekejap kemudian di tangannya telah tergenggam sebuah pedang pendek.

Beberapa prajurit lainnya juga telah mencabut pedangnya, mereka menghadang kerbau agar supaya tidak lari ke arah gubug Kanjeng Sultan.


Kerbau liar itupun membalikkan badannya, kemudian berlari ke arah gubug yang disebelahnya, mengobrak abrik gubug itu sehingga roboh.

Beberapa lincak, dingklik, dan beberapa bumbung berisi air dan bahan makanan, semua berserakan porak poranda di tanduk kerbau.

"Kepung kerbau itu!! " perintah Ki Rangga kepada para prajurit, dan belasan prajurit dengan menggenggam pedang, segera mengepung kerbau yang mengamuk itu.

Setelah mengobrak abrik dua buah gubug, maka kerbau liar itu berdiri di dalam kepungan belasan orang prajurit Wira Tamtama Demak.

Ki Rangga Pideksa menarik pedang pendek dari warangka yang tergantung di ikat pinggangnya dan berusaha untuk merapatkan kepungan, iapun maju selangkah, tetapi tanpa diduga tiba-tiba kerbau itupun lari ke arahnya.

Dengan cepat Rangga Pideksa menghindar kesamping, dan dengan sekuat tenaga pedangnya menusuk tubuh kerbau yang mengamuk.

Tetapi alangkah terkejutnya Ki Rangga Pideksa ketika pedangnya menusuk tubuh kerbau, ternyata kulit kerbau itu sangat liat, pedangnya tak mampu melukai kerbau itu.

Ki Rangga Pideksa melompat mundur, tempatnya digantikan oleh dua orang prajurit, seorang prajurit menusuk leher, yang seorang lagi menusuk perut kerbau dan ternyata kedua pedang itupun juga tak mampu melukai kerbau itu.

Kerbau liar meskipun ditusuk pedang, ia tidak terluka, hanya merasa kesakitan sehingga kerbaupun bertambah marah, dengan cepat ia maju kedepan, dan tandukannya berhasil melempar seorang prajurit lagi.

Sultan Trenggana yang berada di depan gubug, telah melihat belasan prajuritnya tidak mampu mengatasi amukan seekor kerbau liar, kemudian dilihatnya kerbau itupun masih mampu melemparkan seorang prajurit lagi,


Dua orang prajurit yang telah terluka terkena tanduk, dan satu orang terinjak oleh kerbau liar itu, telah dibawa menyingkir ke luar kepungan.

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Sultan Trenggana.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Kelihatannya para prajurit tidak bisa menguasai keadaan" kata Kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Gajah Birawa.

Tumenggung Gajah Birawa melihat sekelilingnya, kerbau itu masih mengamuk, korban terkena tandukannya bertambah satu lagi, dan prajurit yang terluka itupun juga telah dibawa menyingkir, diangkat ke pinggir lapangan.

Tumenggung Gajah Birawa menjadi bimbang, kalau dia maju menghadapi kerbau itu, bagaimana kalau kerbau itu berlari menuju tempat Kanjeng Sultan.

Rangga Pideksa, yang memimpin pengepungan terhadap kerbau liar menjadi berdebar-debar, empat orang prajuritnya telah terluka dan tidak mampu lagi melakukan perlawanan tehadap kerbau itu.

Sekali lagi Sultan Trenggana melihat seorang prajurit tidak mampu berdiri karena terinjak kaki kerbau, juga telah dipapah di bawa ke pinggir.

Lima orang yang telah terluka akibat amukan seekor kerbau liar, telah diangkat ke pinggir lapangan.

Ketika dilihatnya sebuah pedang yang diayunkan oleh seorang prajurit tak mampu melukai kerbau itu, Kanjeng Sultanpun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil melihat ke arah Tumenggung Gajah Birawa.

"Hm apakah seorang Sultan Trenggana harus melawan Kebo ndanu yang mengamuk di perkemahan?" kata Kanjeng Sultan dalam hati.


Setelah melihat ke arah Tumenggung Gajah Birawa, Sultan Trenggana lalu melihat ke arah kerbau yang mengamuk, Kanjeng Sultanpun menyangsikan apakah Tumenggung Gajah Birawa mampu mengalahkan kerbau yang tak mempan ditusuk pedang oleh para prajurit Wira Tamtama.

Kelihatannya amukan kerbau itu tidak akan teratasi oleh para prajurit Demak.

Kanjeng Sultan melihat, ketika kekuatan prajuritnya masih utuh, belasan prajuritnya tidak mampu menguasai amukan kerbau liar, apalagi saat ini prajuritnya telah berkurang lima orang,

Ketika kerbau itu menyerang lagi, dua orang prajurit maju kedepan, masing-masing memegang tanduk kanan dan kiri, tak lama kemudian dua orang prajurit itupun telah terlempar kesamping.

"Kerbau ini kuat sekali, lama kelamaan prajuritku bisa habis" kata Tumenggung Gajah Birawa dalam hati, dan iapun bergeser menghadap ke Sultan.

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, apakah hamba dan adi Tumenggung Gagak Anabrang diperkenankan melawan kerbau itu ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

Kanjeng Sultanpun memandang Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang bergantian, dan Kanjeng Sultanpun berpikir :"Hm kalau keduanya tidak bisa mengalahkan kerbau itu, terpaksa aku sendiri yang akan melawan Kebo ndanu"

Kanjeng Sultan Trenggana tidak menjawab permintaan Tumenggung Gajah Birawa, tetapi pandangannya diedarkan melihat keadaan di sekililingnya.

Di depannya, dilihatnya seekor kerbau liar yang marah masih tegak berdiri, belum dapat di kalahkan oleh belasan prajuritnya, bahkan lima orang telah terluka.

Lalu dipandangnya Ki Rangga Pideksa, yang terlihat kewalahan mengatur perlawanan terhadap amukan kerbau liar.

Kanjeng Sultan yang mempunyai pengalaman yang sangat banyak, melihat Ki Rangga Pideksa hanya tinggal menunggu waktu kekalahannya saja,

Kanjeng Sultan yang sedang mengedarkan pandangannya, tiba-tiba melihat di ujung jalan ditepi tanah lapang, ada seorang sedang berdiri melihat para prajurit yang sedang mengepung dan berusaha mengalahkan seekor kerbau liar.


Kanjeng Sultan menajamkan pandangannya, orang itu adalah seorang anak muda yang pernah menarik perhatiannya, Karebet, yang telah bersalah membunuh Dadung Awuk dan telah diusir dari kotaraja Demak.

Karebet yang melihat pandangan Kanjeng Sultan yang pada saat itu sedang tertuju kepadanya, maka iapun segera membungkukkan badannya dalam-dalam serta mengatupkan kedua tangan didepan wajahnya, menyembah kepada Kanjeng Sultan.

Sultan Trenggana yang melihat Karebet menyembahnya seakan-akan telah menemukan sebuah jalan untuk menyelasaikan dua persoalan sekaligus, membunuh kerbau yang mengamuk dan membahagiakan putrinya, Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.

"Tumenggung Gajah Birawa, kau lihat anak muda yang berdiri di ujung lapangan itu ? Dia adalah Karebet, kau kesana temuilah dia, bilang pada Karebet, ini perintah dari Sultan Demak, apabila Karebet mampu mengalahkan Kebo ndanu, maka semua kesalahannya yang lalu akan diampuni dan akan dipulihkan haknya sebagai Lurah Wira Tamtama" kata Sultan Trenggana.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa, lalu iapun segera berlari menuju ketempat Karebet.

Setelah sampai di ujung lapangan Tumenggung Gajah Birawa melihat Karebet membungkukkan badannya sambil berkata :"Hormat saya untuk Ki Tumenggung Gajah Birawa"

Kanjeng Sultan melihat Tumenggung Gajah Birawa berbicara dengan Karebet, sesaat kemudian Karebetpun masuk kedalam kepungan para prajurit, kemudian iapun berjalan mendekat ke arah kerbau yang baru saja melemparkan seorang prajurit lagi.

Tumenggung Gajah Birawapun segera kembali ke gubug Kanjeng Sultan.

Kerbau liar yang melihat ada seorang yang masuk mendekat menantangnya, menjadi semakin marah.

Karebet lalu membungkukkan badannya ke arah Kanjeng Sultan lalu kedua telapak tangannya di katupkan didepan wajahnya, Karebetpun menyembah Kanjeng Sultan, sesaat setelah menyembah, ia melihat kerbau liar itu berlari menerjangnya.


Kerbau liar yang melihat ada seorang yang masuk mendekat menantangnya, menjadi semakin marah.

Karebet lalu membungkukkan badannya ke arah Kanjeng Sultan lalu kedua telapak tangannya di katupkan didepan wajahnya, Karebetpun menyembah Kanjeng Sultan, sesaat setelah menyembah, ia melihat kerbau liar itu berlari menerjangnya.

Dengan cepat Karebet menghindar selangkah ke arah kanan, dan dengan cepat tangannya mengambil tanah liat dari dalam telinga kerbau liar itu.

Setelah membuang tanah liat, Karebetpun melompat ke belakang kerbau, berlari beberapa langkah, menjauh dari kerbau, dan dengan cepat dikumpulkannya semua kekuatan aji Hasta Dahana pada telapak tangannya.

Dengan mengatur pernapasannya dan memusatkan pikirannya, Karebet berusaha mateg aji Hasta Dahana.

Kerbau yang merasa kehilangan lawannya, menengok kekiri dan kekanan, lalu kerbaupun membalikkan badannya dan bersamaan dengan itu, Karebetpun telah selesai memusatkan kekuatannya.

Aji Hasta Dahana telah manjing di telapak tangan kanannya.

Tangan kanan Karebet yang sepanas bara api dari gunung Merapi siap dihantamkan pada lawannya.

Karebet bersiap sepenuhnya, ia menghadap ke arah kerbau, dan ketika kerbau itu menyerang dengan tanduknya, Karebetpun bergeser selangkah kesamping kiri, kerbau yang merasa serangannya menemui tempat kosong, segera membalikkan badannya, tepat pada saat itu telapak tangan Karebet yang dilambari aji Hasta Dahana telah menghantam kepalanya, tepat ditengah-tengah, diantara kedua tanduknya.

Sekejap kemudian, kerbaupun terjatuh, tumbang, di kepalanya telah tergambar sebuah telapak tangan berwarna hitam.


Melihat Karebet mengalahkan kerbau yang mengamuk itu dengan sekali pukulan ke arah kepala, maka para prajurit bersorak sambil mengangkat pedangnya keatas, berteriak mbata rubuh.

Sultan Trenggana terkejut, ketika melihat telapak tangan Karebet menghantam kepala kerbau, pandangan mata Kanjeng Sultan yang tajam melihat asap tipis mengepul dari kepala kerbau yang terkena telapak tangan Karebet.

"Karebet menggunakan aji yang sama seperti ketika ia membunuh Klabang Ireng" kata Kanjeng Sultan dalam hati.

Setelah melihat kerbau liar itu tidak bangun kembali, maka Kanjeng Sultan pun berkata :"Tumenggung Gagak Anabrang, kau urus para prajurit itu, nanti kalau semua sudah selesai, perintahkan Karebet supaya menghadapku"

Lalu Kanjeng Sultanpun masuk kedalam gubug diikuti oleh Tumenggung Gajah Birawa, sedangkan Tumenggung Gagak Anabrangpun berjalan menuju tempat Ki Rangga Pideksa.

Di lapangan, sebagian prajurit mengerumuni kerbau yang sudah mati, sebagian lagi mengerumuni Karebet yang baru saja mengalahkan lawannya.

Para prajurit menyarungkan pedangnya, dan mereka bergantian menyalami Karebet.

"Hai Lintang Kemukus yang jelek, kita bertemu lagi" kata seorang prajurit Wira Tamtama disebelahnya.

Karebet menoleh, dilihatnya seorang prajurit Wira Tamtama mendekatinya sambil tertawa senang.

"Kau Tumpak" kata Karebet.

Tumpakpun mendekat dan menyalaminya, hatinya senang Karebet mampu mengalahkan seekor kerbau liar.

Seorang prajurit yang lainnya, juga bertanya kepada Karebet.

"Kau baik-baik saja Karebet?" tanya seorang prajurit.

"Ya Soma, aku baik-baik saja" kata Karebet.


Somapun menyalami Karebet, tangan Karebet dipegangnya, dilihatnya, dan Somapun heran, tangan Karebet bentuknya sama seperti tangannya, tetapi tangan itu telah mampu membunuh seekor kerbau liar dengan hanya sekali pukulan di kepalanya.

"Tanganmu sama dengan tanganku, kenapa sekali pukul kerbau itu bisa mati ?" tanya Soma.

"Kerbau itu memang sengaja mengalah padaku" kata Karebet sambil tersenyum.

Terdengar tawa Soma, Tumpak dan beberapa prajurit lainnya, tetapi mereka terdiam ketika seseorang datang mendekati Karebet.

Beberapa prajurit bergeser dan berkata :"Silahkan Ki Rangga"

Orang yang datang, Rangga Pideksa yang merasa senang karena lawannya, seekor kerbau yang mengamuk telah mati, berjalan mendekati Karebet.

"Kau selamat Karebet" kata Rangga Pideksa.

"Ya Ki Rangga, atas pengestu Ki Rangga saya baik-baik saja, kata Karebet.

"Kau telah dua kali menyelamatkan aku Karebet" kata Rangga Pideksa.

Ki Ranggapun menyalami Karebet sambil menepuk pundaknya.

"Aku masih beruntung, betapa malu seorang Rangga Pideksa apabila tidak mampu mengatasi seekor kerbau yang mengamuk, untung kau telah membunuhnya" kata Ki Rangga.

"Hanya suatu kebetulan Ki Rangga" kata Karebet.

"Kemana saja kau selama ini Karebet?" tanya Ki Rangga Pideksa.

"Di Pengging Ki Rangga, kadang-kadang pergi juga ke beberapa daerah" jawab Karebet.

Ketika Rangga Pideksa dan Karebet melihat Tumenggung Gagak Anabrang mendekatinya, maka Karebetpun mengangguk hormat.

"Hormat saya untuk Ki Tumenggung Gagak Anabrang" kata Karebet.

"Selamat, kau telah kembali dilingkungan prajurit Wira Tamtama lagi, Karebet" kata Ki Tumenggung Gagak Anabrang.

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Karebet.

Mendengar kata Tumenggung Gagak Birawa, kalau Karebet diterima lagi menjadi prajurit Wira Tamtama, yang terlihat paling senang adalah Tumpak.


Di goyang-goyangnya kedua lengan Karebet dari belakang sambil tertawa :"Kau menjadi prajurit Wira Tamtama lagi Karebet"

Karebetpun hanya tersenyum melihat Tumpak tertawa senang.

Tumenggung Gagak Anabrang lalu berkata :"Ki Rangga Pideksa, bagaimana dengan prajurit yang terluka ?"

"Ada enam orang yang terluka Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.

"Karebet kau tunggu disini dulu, aku akan menengok prajurit yang terluka bersama Ki Rangga Pideksa" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Silahkan Ki Tumenggung" jawab Karebet.

Sesaat kemudian Ki Rangga Pideksa bersama Ki Tumenggung Gagak Anabrang berjalan meninggalkan Karebet.

Ketika dilihatnya beberapa orang prajurit mengerumuni kerbau yang telah mati, maka Tumenggung Gagak Anabrangpun berhenti sebentar.

Ki Tumenggungpun berdecak kagum ketika melihat di kepala kerbau ada gambar telapak tangan yang berwarna hitam.

"Luar biasa kemampuan Karebet, sekali pukul kerbau ini mati dengan kepala terbakar, di kepalanya ada gambar telapak tangan berwarna hitam, akupun tak mampu kalau harus berbuat seperti ini" kata Tumenggung Gagak Anabrang dalam hati.

Keduanya lalu melanjutkan berjalan menemui beberapa prajurit yang terluka, yang masih berada di tepi lapangan, dan sedang dirawat oleh sesama prajurit.

"Bagaimana luka kalian?" tanya Ki Tumenggung.

"Tidak apa-apa Ki Tumenggung, hanya luka ringan terkena tanduk kerbau" kata salah seorang prajurit yang pahanya sobek terkena tanduk.

Ki Tumenggung lalu berkata kepada prajurit di sebelahnya.

"Tulang kakimu patah ?" tanya Ki Temenggung.

"Tidak Ki Tumenggung, hanya sedikit terkilir, ketika jatuh dilempar kerbau kebelakang, tumpuan kakiku sedikit terpeleset" jawab prajurit itu.

"Mudah-mudahan kalian besok sudah mampu pulang ke kotaraja dengan naik kuda" kata Ki Tumenggung.

"Kalau besok mudah-mudahan sudah baik Ki Tumenggung"

Ki Tumenggung Gagak Anabrang kemudian kembali lagi ke tempat Karebet dan iapun berbicara dengan Rangga Pideksa :" Ki Rangga, kau singkirkan bangkai kerbau, Karebet akan aku ajak menghadap Kanjeng Sultan"

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.

"Ayo Karebet, kita ke gubug Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.

"Baik Ki Tumenggung" jawab Karebet.


Keduanya lalu menuju gubug Kanjeng Sultan, Karebetpun disuruh menunggu diluar, lalu Tumenggung Gagak Anabrangpun masuk kedalam gubug.

Tak lama kemudian Ki Tumenggung keluar dan menyuruh Karebet masuk kedalam gubug.

Karebet kemudian masuk kedalam gubug, didalam gubug, terlihat Kanjeng Sultan sedang duduk, dihadap oleh Tumenggung Gajah Birawa.

Tumenggung Gagak Anabrang duduk di sebuah dingklik, sedangkan Karebet, duduk di bawah, diatas anyaman daun kelapa.

Setelah duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan, maka Karebetpun menyembah kepada Kanjeng Sultan Trenggana.

"Karebet" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Karebet, hukuman yang aku berikan kepadamu, karena kesalahanmu membunuh Dadung Awuk, aku cabut karena kau telah membunuh Kebo ndanu" kata Sultan Trenggana

"Mulai hari ini kau telah bebas berada di kotaraja, dan mulai besok lusa kau akan kembali menjadi seorang Lurah Wira Tamtama" kata Kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh, terima kasih Kanjeng Sultan" kata Karebet sambil menyembah.

"Selama menjalani hukuman, kau pergi kemana saja Karebet0?" tanya Kanjeng Sultan

"Hamba beberapa waktu yang lalu kembali ke Pengging Kanjeng Sultan" jawab Karebet

"Kau tidak pulang ke Tingkir ?" tanya Sultan Trenggana

"Tidak Kanjeng Sultan, hamba tidak ingin melihat biyung menjadi bersedih" jawab Karebet.

"Ya, mulai besok lusa kedudukanmu sebagai lurah Wira Tamtama telah pulih kembali, nanti biar diatur oleh Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Karebet.

"Kau akan ke kotaraja sekarang ? Kau akan tidur dimana ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Hamba akan ke kotaraja sekarang, dan hamba nanti akan tidur di dalem Suranatan, ikut paman Ganjur, Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Ya, kau boleh pulang sekarang" kata Kanjeng Sultan.


Setelah mengucapkan terima kasih, dan menyembah sekali lagi, maka Karebetpun keluar dari gubug Kanjeng Sultan.

Ketika Karebet telah berada diluar gubug, di lapangan telah terjadi kesibukan, beberapa prajurit berusaha mendirikan gubug yang telah roboh, sebagian lagi, beberapa orang sedang menyeret bangkai kerbau.

Karebetpun kemudian menghampiri para prajurit dan iapun berpamitan akan mendahului ke kotaraja.

"Lusa kita ketemu lagi" kata Tumpak.

"Ya" kata Karebet, dan Karebetpun segera pergi meninggalkan perkemahan.

Karebet berjalan cepat, setelah agak jauh, maka iapun menuju ke tikungan sungai di sebelah barat perkemahan, tempat ia berjanji akan bertemu dengan tiga orang temannya.

Tak lama kemudian sampailah Karebet di tikungan sungai, dan disana telah menunggu tiga orang temannya.

"Ki Wuragil, Mas Manca dan adi Jaka Wila" kata Karebet.

Mereka bertigapun bergeser maju ke depan.

"Aku sudah berhasil bertemu Kanjeng Sultan dan sudah diampuni semua kesalahanku, besok lusa aku akan dipulihkan lagi kedudukanku sebagai seorang Lurah Wira Tamtama" kata Karebet.

"Nah, sekarang aku akan ke kotaraja Demak, kalian kembali ke Banyubiru, nanti, apabila yang dikatakan Ki Buyut Banyubiru itu benar-benar terjadi dan aku bisa mendapatkan kamukten, maka kalian akan aku jemput, kalian akan ikut mukti bersamaku" kata Karebet.

Ketiga temannya mengiyakan dan merekapun senang mendengar janji seorang yang telah dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga maupun Ki Buyut Banyubiru akan menjadi seorang raja di Tanah Jawa.

"Ki Wuragil, Mas Manca dan kau adi Jaka Wila, kita berpisah sekarang, aku akan pergi menuju ke kotaraja" kata Karebet.


Setelah menerima bungkusan miliknya yang berisi pakaian dan sebuah pedang pendek, maka Karebetpun menyalami ketiga temannya, setelah itu merekapun berpisah.

Ki Wuragil bersama kedua temannya kembali ke Banyubiru lewat jalan yang telah dilalui kemarin, sedangkan Karebet mengambil jalan lain.

Karebetpun berjalan bukan lewat jalan yang dilalui semula, tetapi agak ke utara, lewat jalan yang sudah terbuka, jalan yang sering dilalui rombongan berkuda Kanjeng Sultan ketika berburu ke hutan Prawata.

"Aku harus berjalan cepat, supaya sebelum matahari terbenam aku sudah sampai di kotaraja" kata Karebet dalam hati.

"Mudah-mudahan aku tidak terlambat" kata Karebet dan iapun berjalan cepat ke arah barat, bahkan kadang-kadang diselingi dengan berlari-lari kecil.

Ketika matahari hampir sampai dipuncak, Karebet baru saja tiba di tepi sebelah timur sungai Serang.

Setelah menyeberangi sungai Serang, Karebet terus berjalan ke arah kotaraja Demak, istirahat sebentar, hanya makan beberapa buah jambu air yang ditemuinya di perjalanan.

Karebet yang seakan-akan berlomba dengan bergeraknya matahari ke arah barat, membuat ia berjalan cepat bahkan kadang-kadang berlari-lari, membuat perjalanannya cepat sekali.

Ketika Karebet tiba di tepi sebelah timur sungai Tuntang, matahari masih belum terbenam, iapun menarik napas lega: "Ternyata aku belum terlambat" katanya dalam hati.

Karebetpun segera masuk ke dalam air menyeberangi sungai yang tidak terlalu dalam.

Beberapa saat kemudian, Karebet telah berada di tepi sebelah barat sungai Tuntang, selanjutnya iapun melanjutkan perjalanan menuju ke Kraton.

"Matahari belum terbenam, belum terlambat" katanya dalam hati.


Waktu terus berjalan, matahari hampir tenggelam, bergeser turun ke cakrawala sebelah barat,

Ketika senja telah membayang, Nyai Madusari baru saja keluar dari pintu Kaputren, lalu iapun keluar melalui pintu gerbang Kraton, berjalan pulang ke rumahnya, di dalem Katumenggungan.

Setelah berjalan agak jauh dari pintu gerbang, Nyai Madusari terkejut ketika dari balik sebatang pohon muncul seorang pemuda yang membawa sebuah bungkusan, seorang pemuda yang beberapa candra yang lalu telah menemuinya, lalu menghilang dan kini tiba-tiba telah berdiri sambil tersenyum didepannya.

"Kau...kau.." Nyai Madusari kaget, suaranya terputus-putus, sambil tangannya menunjuk pada pemuda itu.

Nyai Madusari seperti tidak percaya pada penglihatannya, ia lalu meng-ucak-ucak kedua matanya, tetapi betapa terkejutnya Nyai Madusari, ketika ia membuka matanya, pemuda yang membawa bungkusan yang telah dikenalnya, yang tadi berada didepannya kini telah tidak ada, hilang.

Nyai Madusari menengok sekelilingnya, tidak ada seorangpun yang berada didekatnya, sepi.

"Hilang, tidak ada, dimana dia?" kata Nyai Madusari dalam hati.

Tetapi tiba-tiba Nyai Madusari terkejut bukan buatan, ketika pundaknya terasa ada yang menepuk dari belakang.

Dengan cepat Nyai Madusari menengok kebelakang, dilihatnya seorang anak muda membawa sebuah bungkusan sambil tersenyum kepadanya.

"Kau...kau Karebet ?" tanya Nyai Madusari.

"Ya Nyai, aku Karebet" kata Karebet.

"Kau senang menggoda aku, kau senang membuat aku kaget setengah mati, kalau aku kaget, kemudian aku pingsan, nanti bagaimana coba" kata Nyai Madusari.

Karebetpun hanya tertawa mendengar kata-kata Nyai Madusari.

"Eh Karebet, saat ini kau masih menjalani hukuman dari Kanjeng Sultan, kalau ketahuan prajurit Wira Tamtama, kau bisa ditangkap" kata Nyai Madusari

"Tidak Nyai, aku kesini membawa kabar gembira" kata Karebet.

"Kabar apa Karebet ?" tanya Nyai Madusari.

"Aku sudah mendapat pengampunan dari Kanjeng Sultan" kata Karebet.

Nyai Madusari terkejut, kemudian iapun bertanya :" Mulai kapan ?"

"Mulai hari ini" jawab Karebet.

"Hari ini Kanjeng Sultan masih berburu di hutan Prawata, belum pulang" kata Nyai Madusari.

"Ya, aku menghadap Kanjeng Sultan di hutan Prawata" jawab Karebet.

Nyai Madusari tidak menjawab, iapun masih terlihat kaget melihat Karebet berada di kotaraja.

"Besok lusa aku sudah bertugas sebagai Lurah Wira Tamtama lagi" kata Karebet meneruskan,

"Katakan kepada Gusti Putri, janjiku untuk kembali ke kotaraja telah aku penuhi" kata Karebet

"Aku akan memberitahu Gusti Putri" kata Nyai Madusari kemudian iapun berjalan kembali menuju kraton.


Langkah Nyai Madusari terayun cepat, kembali berjalan memasuki pintu gerbang Kraton.

Di pintu gerbang Kraton, prajurit penjaga menegurnya :"Kenapa kembali nyai, apakah cincinmu ketinggalan lagi Nyai Menggung ?"

Nyai Madusari menoleh ke prajurit penjaga gerbang:"Huh kau lagi"

Prajurit itupun tertawa :" Nyai, nyai, belum tua sudah mulai pikun"

Tanpa menghiraukan penjaga pintu gerbang, Nyai Madusari berjalan secepatnya menuju Kaputren.

Senja telah berlalu, langit semakin lama semakin redup, malam mulai turun, setelah bertemu dengan Nyai Madusari, saat itu Karebet sedang berjalan menuju dalem Suranatan, untuk menemui pamannya.

"Hm paman Ganjur sudah semakin tua, mudah-mudahan paman masih dalam keadaan sehat" kata Karebet dalam hati.

Dalem Suranatan sudah tidak jauh lagi, Karebet terus berjalan, sebentar lagi ia akan memasuki pintu gerbang.

Ketika Karebet akan memasuki pintu gerbang, iapun menghentikan langkahnya, karena bertepatan dengan keluarnya seekor kuda dari pintu gerbang.

Penunggangnya, Tumenggung Suranata terkejut melihat Karebet berada didepan rumahnya, sehingga Ki Tumenggung Suranatapun menghentikan kudanya.

"Kau Karebet" kata Ki Tumenggung.

"Hormat saya untuk Ki Tumenggung Suranata" kata Karebet sambil membungkukkan badannya.

"Karebet, bukankah kau sedang menjalani hukuman Kanjeng Sultan, kau tidak boleh berada di kotaraja?" tanya Ki Tumenggung Suranata.

"Ya Ki Tumenggung, tetapi saya sudah mendapat pengampunan dari Kanjeng Sultan" kata Karebet.

Tumenggung Suranata menganggukkan kepalanya :"Sejak kapan kau mendapat pengampunan dari Kanjeng Sultan?"

"Mulai hari ini Ki Tumenggung" kata Karebet.

"Kau menghadap Kanjeng Sultan ke hutan Prawata ?" tanya Tumenggung Suranata.

"Ya, Ki Tumenggung" kata Karebet.

"Baik, soal pengampunan dari Kanjeng Sultan, besok akan aku tanyakan kepada kakang Tumenggung Gajah Birawa, sekarang kau mau kemana Karebet ?" tanya Tumenggung Suranata.

"Saya akan menemui paman Ganjur, sekalian minta ijin Ki Tumenggung untuk menginap dua malam di tempat paman Ganjur " kata Karebet.

"Ya, tidak apa-apa, silahkan saja, sekarang aku pergi dulu Karebet, aku akan ke dalem Surapaten" kata Ki Tumenggung.

"Silahkan, terima kasih Ki Tumenggung" kata Karebet.

Tumenggung Suranata menjalankan kudanya kedepan, dan kudanyapun berlari menuju dalem Surapaten, lalu Karebetpun masuk ke dalem Suranatan menemui pamannya Ganjur.

Malam itu Ganjur sedang duduk di lincak di depan rumah, pikirannya melayang-layang, ada rasa rindu kepada kakaknya, Nyai Ageng Tingkir, tetapi untuk pergi ke desa Tingkir, Ganjur merasa sudah tua, tidak mampu untuk melakukan perjalanan sendiri.


Ganjur yang sedang duduk melamun di depan rumah, mendengar langkah seseorang di dalam kamarnya, lalu disusul keluarnya seseorang keluar sambil membawa cething berisi nasi.

"Paman sudah makan ? Nasi ini boleh saya makan ?" tanya orang itu.

"Ya makanlah, aku sudah makan tadi, itu ada belut bakar dan sambal" jawab Ganjur acuh tak acuh.

Orang yang membawa cething kemudian berbalik masuk kedalam rumah lagi, dan Ganjurpun kemudian melanjutkan lamunannya yang terputus.

Sebetulnya Ki Ganjur ingin pergi ke desa Tingkir bersama keponakannya, tetapi saat ini keponakannya yang dulu pernah menjadi seorang Lurah Wira Tamtama, sedang menjalani hukuman, ia tidak lagi menjadi seorang prajurit dan telah diusir dari kotaraja Demak karena dianggap bersalah membunuh Dadung Awuk.

"Sejak dia diusir dari kotaraja, sampai sekarang tidak ada kabar beritanya, sekarang Karebet berada dimana, akupun tidak tahu" kata Ganjur dalam hati.

Tetapi kemudian Ganjurpun terkejut seperti digigit kalajengking, kalau keponakannya sedang menjalani hukuman diusir dari kotaraja, lalu orang yang keluar membawa cething tadi siapa?

Ki Ganjurpun kemudian tergesa-gesa masuk kedalam rumah.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita