Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 48 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 48 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Eyang, saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Pemanahan.

"Apa yang akan kau tanyakan cucuku Pemanahan" kata Ki Ageng Sela.

"Eyang, tombak Kyai Pleret adalah tombak pusaka tertinggi keluarga Sela, kenapa harus dibawa juga ke Pajang? Apakah tidak cukup kalau yang dibawa hanya tombak Kyai Penatas saja?" kata Pemanahan.

"Pemanahan dan kalian anak cucuku semua, beberapa warsa yang lalu, salah seorang Walisongo, Kanjeng Sunan Giri Kedaton pernah berkata, kelak, nanti pada suatu saat anak keturunan Sela akan menjadi seorang raja di tanah Jawa" kata Ki Ageng Sela.


"Pada saat ini, keluarga Sela telah mendapat sebuah kehormatan, cucu buyutku Sutawijaya akan dijadikan sebagai anak angkat oleh Adipati Pajang, mudah-mudahan ini bisa menjadi jalan bagi anak keturunanku untuk menjadi seorang raja di tanah Jawa" kata Ki Ageng Sela.

"Selanjutnya, tombak Kyai Pleret memang aku wariskan untuk cucu buyutku Sutawijaya, dan sekarang dia akan berdiam di Pajang, jadi biarlah tombak miliknya itu dibawanya ke Pajang" kata eyangnya.

Semua yang hadir terdiam, mereka memang berharap perkataan Kanjeng Sunan Giri Kedaton bisa menjadi kenyataan, kelak keturunan dari Ki Ageng Sela akan menjadi seorang raja di tanah Jawa,

"Baiklah eyang, saya setuju dengan keinginan eyang Sela, bagaimana dengan ayah? Apakah ayah setuju kalau tombak Kyai Pleret juga ikut dibawa ke Pajang?" kata Pemanahan.

"Ya, biarlah tombak Kyai Pleret dibawa ke Pajang bersama Danang, mudah-mudahan cucuku Sutawijaya yang akan mendapatkan kamukten itu" kata Ki Ageng Nis.

"Baik, kalau begitu kita semua sepakat, besok kalau Danang Sutawijaya berangkat ke Pajang, ia akan membawa dua buah tombak pusaka keluarga Sela, Kyai Pleret dan Kyai Penatas" kata Ki Ageng Sela.

Semua orang yang berada dipendapa mengangguk-angukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat Ki Ageng Sela,

"Ada satu lagi permintaan dari Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata Pemanahan.

"Apa permintaan lainnya dari Kanjeng Adipati, Pemanahan?" tanya Ki Ageng Sela.

"Mengenai Kakang Juru Martani" kata Pemanahan.

"Tentang aku?" kata Juru Martani.

"Ya, kakang Juru Martani tetap diminta menjadi pemomong Danang Sutawijaya, meskipun jebeng sudah menjadi anak angkat Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

"Berarti aku juga harus pindah ke Pajang?" tanya Juru Martani.

"Ya, Kanjeng Adipati menghendaki kakang Juru Martani pindah ke Pajang bersama Sutawijaya" kata Pemanahan.

"Bagaimana Juru, kau bersedia pindah ke Pajang bersama cucu buyutku?" tanya Ki Ageng Sela.

"Baiklah eyang, saya bersedia pindah ke Pajang supaya bisa terus mengasuh Danang Sutawijaya" kata Juru Martani.

"Baik, kemudian kapan kalian akan berangkat ke Pajang?" tanya Ki Ageng Sela.

"Besok pagi kami akan mempersiapkan diri, supaya lusa kami bisa berangkat ke Pajang" kata Pemanahan.

Setelah itu merekapun masih berbincang beberapa saat, dan setelah memasuki waktu sepi wong, merekapun mengakhiri pembicaraan lalu Pemanahanpun kembali ke rumahnya.

Malam semakin larut, semuanya telah tidur nyenyak, tidak ada beban apapun yang menjadi bahan pikiran mereka.

Ketika malam sudah berakhir, langitpun menjadi terang, dan pada hari itu, Pemanahan, Penjawi, Juru Martani dan Sutawijaya mempersiapkan bekal untuk berangkat ke Pajang esok pagi.

Mereka mempersiapkan bekal makanan secukupnya, disiapkan pula empat ekor kuda yang tegar, persiapan membawa sebuah tombak Kyai Penatas, dan yang paling penting adalah membawa pusaka tertinggi perguruan Sela, sebuah tombak yang ngedap-edapi, Kyai Plered.

Keesokan harinya, semua penduduk Sela dan murid-murid perguruan Sela berkumpul melepas keberangkatan Sutawijaya ke Pajang, merekapun ikut senang karena Danang Sutawijaya akan dijadikan anak angkat Adipati Pajang.

Setelah berpamitan kepada setiap orang dan mencium tangan eyang buyut Sela dan eyangnya Nis Sela, maka berangkatlah rombongan Sutawijaya menuju Pajang.

Beberapa saat kemudian, empat ekor kuda telah berjalan meninggalkan Sela menuju ke arah barat. Didepan sendiri, duduk diatas punggung kuda, seorang anak yang belum dewasa, Sutawijaya yang memegang sebuah tombak pusaka Kyai Plered.

Di belakangnya, tampak Juru Martani yang berkuda sambil membawa tombak Kyai Penatas, lalu dibelakangnya berkuda dua orang, Pemanahan dan Penjawi, keduanya tidak membawa tombak, tetapi dipinggangnya tergantung senjatanya, sebuah pedang pendek.

Empat ekor kuda berlari tidak terlalu cepat menembus udara pagi di daerah Sela, suara kaki-kaki kuda terdengar beraturan ketika lewat di beberapa pedesaan disebelah barat desa Sela.

"Kita lewat mana ayah, lurus ke barat lewat Sima atau lewat belok agak ke selatan?" tanya Sutawijaya.

"Kita tidak lewat Sima, tetapi kita lewat disebelah timur hutan Sima, kemudian kita nanti akan lewat disebelah utara gunung Kemukus" kata Pemanahan.

Menjelang matahari terbenam, perjalanan mereka hampir sampai di sisi utara gunung Kemukus.

"Kita bermalam disini adi?" tanya Juru Martani kepada Pemanahan.

"Ya kakang, nanti kita akan berhenti di daerah yang dekat dengan sebuah sungai" kata Pemanahan.

Mereka berempat berjalan terus, dan ketika didepannya terdapat sebuah sungai yang melintang dijalan, maka merekapun turun dari kudanya, bersiap untuk beristirahat dan nanti malam akan menginap di tempat itu.

Juru Martani kemudian mengambil dua buah bambu sepanjang setengah depa, yang disimpan di samping pelana kuda, kemudian bambu itu ditancapkan berdiri di tanah, seperti sebuah ploncon tombak, lalu kedua tombak pusaka itupun dimasukkan ke dalam lobang bambu, sehingga dua buah tombak pusaka itu sekarang dalam keadaan berdiri. Pemanahan melihat berkeliling, tanah yang berbukit-bukit, dan hutan yang tidak terlalu lebat ada disebelah barat mereka.

Matahari semakin redup, sebentar lagi langit akan menjadi gelap, dan saat itu mereka berada disisi timur hutan Sima, di sebelah utara gunung Kemukus, dan desa Sela terletak jauh dibelakang mereka, di arah timur laut dari tempat itu.

Setelah membersihkan dirinya disungai, dan memberi minum kuda-kuda yang kelelahan, mereka berempat kemudian beristirahat dan bersiap untuk bermalam dipinggir sungai itu.

Sutawijayapun segera mencari ranting dan cabang pohon yang kering, kemudian dikumpulkan, lalu dibuatnya sebuah perapian. Hangatnya api yang membakar ranting kayu yang kering, mampu mengusir dinginnya angin malam yang berhembus di utara gunung Kemukus.

Sambil makan jagung bakar, mereka duduk berempat mengelilingi perapian.

"Kau masih mau makan ketela bakar lagi Jebeng?" tanya Pemanahan.

"Tidak ayah, aku sudah kenyang" jawab Sutawijaya.

"Besok siang kita sudah sampai di Pajang" kata Pemanahan.

Malam itu mereka berkerudung kain panjang, untuk melindungi dari dinginnya angin malam.

Malam yang sunyi, yang terdengar hanya suara cengkerik, diselingi suara kepakan sayap kelelawar dan suara beberapa binatang malam lainnya.

Ketika langit menjadi terang, suara cengkerikpun telah berhenti, sayapnya terlalu lelah setelah semalam saling bergesek sehingga dapat berbunyi sepanjang malam.

Ketika matahari telah memanjat langit di sebelah timur, empat ekor kuda yang diatas punggungnya terdapat empat orang yang menguasai ilmu perguruan Sela, mulai melanjutkan perjalanannya ke Pajang. Kuda-kuda itu terus bergerak ke arah Pajang, dan ketika matahari hampir berada dipuncak langit, ke empat orang itu telah memasuki tanah lapang di depan dalem Kadipaten Pajang.

Setelah sampai di depan regol Kadipaten, mereka turun dari kuda lalu mengikatnya di tonggak kayu yang berada di halaman depan. Beberapa orang abdi terlihat berlari menghampirinya, lalu menuntun empat ekor kuda yang kelelahan itu untuk diberi makan dan minum di halaman belakang.

Pemanahan bersama tiga orang itu kemudian mencuci kakinya, lalu merekapun berjalan menuju pendapa Kadipaten. Kempat orang itu kemudian naik ke pendapa Kadipaten, dan di pendapa telah menunggu Adipati Pajang bersama semua nayaka praja Kadipaten Pajang,

Adipati Hadiwijaya duduk di sebuah dingklik yang agak lebar, sedangkan semua nayaka praja duduk diatas tikar.

"Selamat datang anakku Danang Sutawijaya, kakang Juru Martani, kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, silakan duduk semuanya" kata Adipati Hadiwijaya.

Ketika dilihatnya Sutawijaya dan Juru Martani membawa tombak, maka Adipati Pajangpun meminta mereka untuk meletakkan tombaknya.

"Sebaiknya kau letakkan tombakmu diatas ploncon itu Sutawijaya" kata Kanjeng Adipati sambil menunjuk dua buah ploncon yang berada tidak jauh dari tempat duduknya.

Juru Martani kemudian memasukkan tombak Kyai Penatas dan Kyai Plered kedalam ploncon yang telah disediakan. Sutawijaya lalu mencium tangan dan menyembah kepada calon ayah angkatnya, lalu bersama lainnya, mereka duduk di atas tikar.

"Kalian semua selamat? Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Kanjeng Adipati.

"Kami semua selamat Kanjeng Adipati, perjalanan kamipun lancar, sehingga kami bisa kembali lagi ke Pajang” jawab Pemanahan..

"Bagaimana kabar Ki Ageng Sela, Ki Ageng Nis, mereka semua dalam keadaan selamat dan sehat?" tanya Kanjeng Adipati.

"Atas pangestu Kanjeng Adipati, eyang Sela dan ayahanda Nis Sela semua dalam keadaan sehat" kata Pemanahan.

"Kakang Pemanahan, kau dari Sela ke Pajang membawa pusaka berupa dua buah tombak, pusaka apakah yang kau bawa itu?" tanya Kanjeng Adipati.

"Kanjeng Adipati, kami membawa dua buah pusaka milik Danang Sutawijaya, yaitu tombak Kyai Plered dan tombak Kyai Penatas" jawab Pemanahan.

Adipati Hadiwijaya tersenyum, kini tombak Kyai Plered yang pernah hadir dalam mimpinya telah berada di dalem Kadipaten Pajang.

"Pajang akan semakin kuat apabila tombak Kyai Plered dapat menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang" katanya dalam hati.

"Ya, kedua tombak pusaka itu milik Sutawijaya?" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati, eyang Sela yang telah memerintahkan untuk membawa tombak Kyai Plered ke Pajang" kata Pemanahan.

Adipati Hadwijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu pandangannya beralih ke arah Sutawijaya.

"Jadi Ki Ageng Sela yang telah memerintahkan tombak Kyai Penatas dan Kyai Plered supaya dibawa ke Pajang, nah kau Sutawijaya, apakah kau bersedia kalau kau aku angkat sebagai anakku?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya, mau, pamanda Hadiwijaya" kata Sutawijaya.

"Bagus, mulai sekarang kau panggil aku dengan panggilan ayahanda" kata Adipati Pajang.

"Ya, ayahanda" kata Sutawijaya.

"Kakang Pemanahan" kata Sang Adipati.

"Siapkan pisowanan tiga hari lagi, semua nayaka praja, pemimpin prajurit dan pemimpin padukuhan supaya hadir, aku akan mengumumkan pengangkatan Sutawijaya sebagai anakku" kata Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

"Untuk sementara, kakang Juru Martani dan Sutawijaya tidur di tempat kakang Pemanahan, nanti Sutawijaya akan aku buatkan sebuah rumah di sebelah utara pasar" kata Adipati Pajang.

"Di daerah lor pasar" kata Pemanahan.

"Ya, dalem itu akan dibangun di daerah lor pasar" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ampun ayahanda, apakah dalem di lor pasar itu buat tempat tinggal ananda?" tanya Sutawjaya.

"Ya anakku, rumah itu untukmu" kata Hadiwijaya.

"Terima kasih ayahanda" kata Sutawijaya.

"Kakang Pemanahan, besok pagi pembangunan dalem untuk Sutawijaya di lor pasar sudah bisa dimulai, perintahkan beberapa tukang kayu untuk mengerjakannya" kata Kanjeng Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Pemanahan.

"Ayahanda, kalau diperbolehkan, bolehkan salah satu tombak pusaka yang ananda bawa, dapat disimpan di dalem lor pasar?" tanya Sutawijaya

"Ya, manakah yang nanti akan kau simpan di dalem lor pasar, Sutawijaya?" tanya Sang Adipati.

"Terserah ayahanda, yang manakah tombak pusaka yang bisa ananda bawa ke dalem lor pasar" kata Sutawijaya.

"Sutawijaya, karena kau adalah anakku, tombak Kyai Pleret biarlah disimpan di dalem Kadipaten, kau bisa bawa tombak Kyai Penatas, tombak Kyai Pleret lebih aman kalau disimpan disini, sekaligus bisa menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik ayahanda" kata Sutawijaya.

"Sementara ini, tombak Kyai Penatas dapat kau simpan dulu di rumah ayahmu Pemanahan, kalau rumahmu sudah jadi, tombak pusaka itu bisa di simpan di dalem lor pasar" kata Adipati Pajang.

Beberapa saat mereka masih berada di pendapa, lalu setelah perbincangan selesai, maka tombak Kyai Pleret dibawa masuk ke ruang dalam, sedangkan tombak Kyai Penatas dibawa ke rumah Pemanahan.

Esoknya beberapa orang tukang kayu sudah mulai membangun rumah di derah lor pasar, yang nanti akan digunakan sebagai tempat tinggal Sutawijaya, anak angkat Adipati Pajang.

Dua hari kemudian ketika di Sasana Sewaka Kadipaten Pajang diadakan pisowanan, maka diumumkan kepada seluruh rakyat Pajang, bahwa mulai saat ini Sutawijaya telah diangkat menjadi anak oleh Adipati Hadiwijaya, dan mendapat sebutan Mas Ngabehi Sutawijaya, dan akan berdiam di dalem lor pasar.

Demikianlah, mulai saat itu tombak pusaka Kyai Pleret telah disimpan dan menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang, sedangkan Mas Ngabehi Sutawijaya menyimpan tombak pusaka Kyai Penatas di rumah ayahnya, Pemanahan.

Keesokan harinya, pada saat hari masih pagi, seorang prajurit menghadap Kanjeng Adipati Hadiwijaya, mengatakan bahwa ada prajurit sandi yang baru datang dari Panarukan, ingin menghadap Kanjeng Adipati.

"Suruh prajurit itu masuk ke ruang dalam" kata Adipati Hadiwijaya.

Prajurit itupun keluar, beberapa saat kemudian masuklah seorang prajurit sandi Pajang yang bertugas di Panarukan.

"Masuklah" kata Adipati Pajang.

Prajurit sandi itupun masuk ke ruangan dalam, kemudian iapun duduk bersila dihadapan Adipati Hadiwijaya.

"Kabar apa yang kau bawa dari Panarukan?" tanya sang Adipati.

"Tidak ada kabar baru, Kanjeng Adipati, pasukan Demak masih belum menyerang kedalam benteng Panarukan" kata prajurit sandi.

Adipati Hadiwijaya mengngguk-anggukkan kepalanya, lalu iapun bertanya :"Ada berita lainnya?"

"Tidak ada Kanjeng Adipati" kata prajurit sandi itu.

"Ya, kalau begitu kau boleh pulang" kata Adipati Pajang.

Prajurit itupun kemudian pamit untuk beristirahat, lalu iapun keluar dari ruang dalam.

Adipati Hadiwijaya kemudian memanggil seorang prajurit untuk mempersiapkan seekor kuda, kemudian Sang Adipatipun pergi ke daerah lor pasar, untuk melihat pembangunan rumah untuk anak angkatnya Mas Ngabehi Sutawijaya.

Karena letak dalem Mas Ngabehi Sutawijaya berada di daerah lor pasar, mulai saat itu Sutawijayapun sering dipanggil dengan sebutan Mas Ngabehi Loring Pasar

Mataharipun terlihat masih memancarkan sinar dan panasnya di bumi Pajang, dan ketika Adipati Hadiwijaya sedang sibuk membuatkan sebuah rumah untuk anak angkatnya Mas Ngabehi Loring Pasar, maka di Panarukan terjadi kejenuhan yang melanda ribuan prajurit di pasukan Kasultanan Demak yang sedang mengepung benteng kota Panarukan.

Para prajurit hanya bisa menunggu perintah dari Senapati Agung Kanjeng Sultan Trenggana, kapan mereka akan mendobrak pintu benteng Panarukan.

Rasa jenuh bukan hanya menghinggapi para prajurit saja, tetapi juga dialami oleh para Tumenggung dan para pimpinan dari semua kesatuan prajurit Demak.

Di dalam salah satu perahu yang berlabuh tidak jauh dari pesisir, yang berisi prajurit tempur laut Jala Pati, Rangga Pawira terlihat sedang berbicara dengan Panji Sokayana.

"Ki Panji, saya akan turun ke darat mengambil perbekalan bahan makanan untuk para prajurit Jala Pati" kata Rangga Pawira.

"Ya berangkatlah Ki Rangga, hari ini memang hari pengambilan perbekalan bahan makanan untuk para prajurit Jala Pati" kata Panji Sokayana.

"Tetapi Ki Panji, bolehkah saya menyampaikan keluhan ratusan prajurit kita?" kata Rangga Pawira.

"Keluhan prajurit? Tidak seharusnya para prajurit Jala Pati mengeluh" kata Panji Sokayana.

"Mereka bukan mengeluh tentang makan maupun minum, apalagi ketakutan terhadap musuh, tetapi mereka merasa jenuh Ki Tumenggung, hanya mengepung musuh tanpa berbuat sesuatu selama hampir tiga candra" kata Rangga Pawira.

"Ya Ki Rangga, akupun sebetulnya juga merasa jenuh hanya bisa menunggu saja, tetapi kita semua hanya bisa menunggu perintah dari Senapati Agung Kanjeng Sultan Trenggana" kata Ki Panji.

"Ya Ki Panji" sahut Ki Rangga.

"Selama belum ada perintah dari Senapati Agung, maka para prajuritpun tidak bisa berbuat sesuatu, mereka hanya berdiam diri menunggu perintah" kata Panji Sokayana

"Ya Ki Panji, tetapi apakah Ki Panji tidak bisa mengajukan usul kepada Ki Tumenggung Siung Laut, untuk membicarakan masalah ini dengan para Senapati Pengapit?" kata Rangga Pawira.

"Ki Rangga, kejenuhan ini bukan hanya melanda pasukan tempur laut Jala Pati saja, tetapi mungkin sudah melanda semua prajurit Demak yang mengepung benteng kota Panarukan" kata Panji Sokayana.

"Ya Ki Panji" jawab Rangga Pawira.

"Baiklah Ki Rangga, hari ini biarlah aku saja yang berangkat mengambil perbekalan, aku akan menghadap Ki Tumenggung Siung Laut, dan aku akan berbicara tentang kejenuhan para prajurit Jala Pati" kata Ki Panji.

"Baik Ki Panji" kata Rangga Pawira.

"Kau jaga semua perahu Jala Pati, aku segera akan berangkat mengambil perbekalan" kata Panji Sokayana.

"Baik Ki Panji" kata Ki Rangga.

Beberapa saat kemudian tiga buah perahu Jala Pati telah bergerak menuju pantai untuk mengambil perbekalan bahan makanan bagi separo prajurit Jala Pati yang berada diatas perahu.

Para prajuritpun mendayung perahu menuju arah selatan, hempasan ombak yang mengenai dinding perahu membuat perahu sedikit terayun ke samping.

Beberapa saat kemudian ketiga perahu itupun telah berhenti, ujung lunas perahu telah kandas terkena pasir pantai, kemudian Panji Sokayana bersama beberapa prajurit Jala Pati turun dari perahu, berjalan menuju tempat menyimpan perbekalan bahan makanan,

Setelah berbicara dengan para prajurit yang menjaga perbekalan, maka Ki Panjipun berunding dengan beberapa prajuritnya.

"Dua orang ikut aku, lainnya mengisi dua buah perahu kita dengan bahan makanan, aku akan mencari Ki Tumenggung Siung Laut, setelah kalian selesai, tunggu aku disini" kata Panji Sokayana.

Setelah berkata demikian, maka Ki Panji Sokayana bersama dua orang prajuritnya, berjalan mengitari benteng, menuju perkemahan Jala Pati, tempat berkumpulnya separo pasukan Jala Pati.

Ketika Ki Panji bertemu dengan beberapa prajurit Jala Pati, maka para prajuritpun mengangguk hormat.

"Dimana Ki Tumenggung Siung Laut?" tanya Panji Sokayana.

"Ada didalam gubug, Ki Panji" kata salah seorang prajurit.

Panji Sokayana kemudian berjalan menuju gubug tempat Tumenggung Siung Laut, lalu seorang prajurit memberitahukan kepada Tumenggung Siung Laut tentang kedatangan Panji Sokayana.

"Masuklah Ki Panji" kata Tumenggung Siung Laut.

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Panji Sokayana, lalu iapun masuk kedalam gubug, kedua prajurit yang mengawalnya menunggu diluar gubug.

"Duduklah Ki Panji" kaa Ki Tumenggung.

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Panji Sokayana, kemudian iapun duduk diatas dingklik kayu dihadapan Tumenggung Siung Laut.

"Kau akan mengambil perbekalan bahan makanan Ki Panji?" tanya Ki Tumenggung.

"Ya Ki Tumenggung, bahan makanan sedang dimuat ke dalam perahu" kata Ki Panji.

"Ya, bagaimana dengan para prajurit Jala Pati yang berada diatas perahu?" tanya Ki Tumenggung.

"Itu yang akan saya sampaikan ki Tumenggung, keadaan dan keinginan ratusan prajurit Jala Pati yang berada diatas perahu" kata Panji Sokayana.

"Ada apa dengan para prajurit Jala Pati yang berada di atas perahu?" tanya Tumenggung Siung Laut.

"Mereka baik-baik saja Ki Tumenggung, cuma hampir semua prajurit Jala Pati resah karena merasa jenuh, hampir tiga candra kita mengepung benteng Panarukan, tetapi tidak berbuat apapun juga, mereka ingin segera mendobrak pintu benteng, sehingga permasalahan Demak dan Panarukan bisa cepat selesai" kata Panji Sokayana.

"Ki Panji" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung" jawab Ki Panji.

"Ternyata apa yang dirasakan oleh hampir semua prajurit Jala Pati, juga dirasakan oleh semua prajurit disini. Aku baru saja bertemu dan berbicara dengan Tumenggung Surapati dari Wira Manggala, dan Tumenggung Suranata dari Wira Tamtama, para prajurit dari kesatuan mereka ternyata juga telah merasa jenuh, mereka ingin segera menyerang masuk ke kota Panarukan" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung" kata Ki Panji.

"Baik Ki Panji, aku akan menemui semua para Tumenggung dan Senapati Pengapit, nanti bersama dengan Tumenggung Gajah Birawa, aku akan menghadap Senapati Agung Kanjeng Sultan Trenggana, kalau Senapati Agung mengijinkan, besok pagi kita dobrak pintu benteng Panarukan" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik Ki Tumenggung, segera saya persiapkan pasukan Jala Pati untuk merapat ke pantai, bersiap untuk menyerang benteng Panarukan" kata Panji Sokayana.

"Jangan tergesa-gesa Ki Panji, sebaiknya kedua perahu pengangkut perbekalan bahan makanan supaya diberangkatkan lebih dulu, sedangkan Ki Panji untuk sementara berada disini dulu sambil menunggu perintah dari Senapati Agung, bukankan di perahu sudah ada Ki Rangga Pawira?" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung, Ki Rangga Pawira berada diatas perahu" kata Panji Sokayana.

"Aku akan pergi menemui Ki Tumenggung Gagak Anabrang, lalu tentang urusan perbekalan, biar nanti Ki Rangga Pawira yang mengurus pembagian bahan makanan di perahu" kata Tumenggung Siung Laut

"Ya, saya mohon diri, Ki Tumenggung" kata Ki Panji, lalu iapun keluar dari gubug diikuti oleh kedua prajurit Jala Pati menuju tempat penyimpanan perbekalan.

Kedua perahu pengangkut bahan makanan itupun kemudian diperintahkan untuk berangkat lebih dulu menemui Ki Rangga Pawira, sedangkan Panji Sokayana tetap berada di perkemahan Jala Pati untuk menerima perintah selanjutnya dari Tumenggung Siung Laut.

Tumenggung Siung Laut kemudian keluar dari gubug, lalu iapun berkata kepada dua orang penjaga gubug :"Kalau ada yg mencari aku, bilang aku pergi ke perkemahan Wira Braja, menemui Ki Tumenggung Gagak Anabrang"

"Ya Ki Tumenggung" kata prajurit itu.

Kemudian Tumenggung Siung Lautpun mengajak dua orang prajurit Jala Pati lainnya, lalu mereka bertiga berjalan ke perkemahan prajurit Wira Braja.

Setelah sampai diperkemahan Wira Braja, lalu Ki Tumenggungpun bertanya kepada salah seorang prajurit Wira Braja.

"Prajurit, apakah Ki Tumenggung Gagak Anabrang berada di dalam gubugnya?" tanya Tumenggung Siung Laut.

"Ada, Ki Tumenggung sedang menerima tamu Ki Tumenggung Ranapati dan Ki Tumenggung Palang Nagara" kata prajurit itu.

"Baik, katakan kepada Ki Tumenggung Gagak Anabrang, aku ingin menemuinya" kata Tumenggung Siung Laut.

Prajurit itupun kemudian masuk kedalam gubug, tak lama kemudian iapun keluar dari gubug dan berkata :"Silakan masuk Ki Tumenggung Siung Laut"

Tumenggung Siung Lautpun masuk kedalam gubug, disana terlihat Tumenggung Gagak Anabrang duduk berhadapan dengan Tumenggung Ranapati dan Tumenggung Palang Nagara.

"Silakan duduk Ki Tumenggung Siung Laut" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

Setelah menanyakan keselamatan masing-masing, maka Tumenggung Gagak Anabrang berkata kepada tamunya, Tumenggung Siung Laut.

"Njanur gunung Ki Tumenggung Siung Laut mengunjungi perkemahan prajurit Wira Braja, ada yang penting Ki Tumenggung?" tanya Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya Ki Tumenggung, maaf ternyata ada tamu Ki Tumenggung Ranapati dan Ki Tumenggung Palang Nagara" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya Ki Tumenggung, memang sebaiknya kita lebih sering berkumpul seperti ini" kata Tumenggung Ranapati.

"Kebetulan Ki Tumenggung berdua berada di perkemahan Wira Braja, sehingga aku tidak perlu berjalan kaki mencari Ki Tumenggung berdua dengan mengitari benteng Panarukan" kata Tumenggung Siung Laut.

Ketiga Tumenggung itupun tersenyum mendengar perkataan Tumenggung Siung Laut.

"Ki Tumenggung Gagak Anabrang dan Ki Tumenggung berdua, kedatangan saya kemari, hanya ingin berbincang, apakah prajurit Wira Braja mengalami keadaan seperti yang dialami oleh prajurit Jala Pati" kata Ki Tumenggung Siung Laut.

"Ada apa dengan para prajurit Jala Pati?" tanya Tumenggung Gagak Anabrang.

"Mereka jenuh, karena hampir tiga candra ini hanya mengepung Panarukan, berdiam diri tanpa berbuat sesuatu, lalu bagaimana keadaan para prajurit Wira Braja maupun yang lainnya?" tanya Tumenggung Siung Laut.

"Beberapa Rangga telah melapor kepadaku tentang kejenuhan para prajurit Wira Braja" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Prajurit Wira Radya juga telah merasa sangat jenuh, itu juga sebetulnya yang kami bicarakan saat ini dengan Ki Tumengung Gagak Anabrang" kata Tumengung Ranapati.

"Ya para prajurit Wira Yudha juga telah merasa jenuh, kita harus berbuat sesuatu" kata Tumenggung Palang Nagara.

"Ya Ki Tumenggung, tadi saya telah bertemu dengan Tumenggung Surapati dan Tumenggung Suranata, ternyata semua prajurit Wira Manggala dan Wira Tamtama juga telah merasa jenuh" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya, persoalan ini harus disampaikan kepada Senapati Muda, Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya, sebaiknya memang dilaporkan kepada Senapati Muda, sebagai wakil dari Senapati Agung" kata Tumenggung Palang Nagara.

"Bersama Ki Tumenggung Gajah Birawa, nanti kita semua sebaiknya menghadap Senapati Agung Kanjeng Sultan Trenggana" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Baik, nanti setelah matahari terbenam, kita berkumpul disini, di perkemahan Wira Braja, kemah yang paling dekat dengan perkemahan Wira Tamtama, kita bersama-sama akan menghadap Senapati Agung" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

Ketiga Tumenggung lainnya mengangguk-angukkan kepalanya, tanda menyetujui perkataan Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya, aku setuju, kalau begitu aku mohon diri, nanti setelah matahari terbenam aku akan kemari lagi" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ya, baiklah, jangan lupa, nanti setelah matahari terbenam" kata Tumenggung Palang Nagara. Tumenggung Siung Laut kemudian bangkit berdiri, melangkah keluar dari perkemahan Wira Braja, lalu berjalan kaki menuju perkemahan Jala Pati.

(bersambung)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita