Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 45 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 45 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Lembu Ireng sangat terkejut, ia segera melompat untuk menghindari serangan tombak lawannya, dan dengan cepat ia membalas dengan serangan trisula yang terjulur lurus kearah leher.

Sesaat kemudian Tumenggung Ranapati dan Lembu Ireng telah terlibat dalam pertarungan yang sengit, sehingga beberapa prajurit yang bertempur di dekatnya telah menyingkir agak jauh, khawatir terkena ujung tombak atau ujung trisula yang bergerak cepat. Beberapa kali, dua landeyan dari kayu yang kuat saling berbenturan, sekejap kemudian ujung bilah tombak bergetar mengancam dada, lalu dibalas dengan ujung trisula yang bergerak cepat akan menusuk leher,

Sementara itu di induk pasukan Panarukan, Senapati Agung Tumenggung Jayarana mengamati jalannya pertempuran, yang sedikit berat sebelah, ternyata pasukannya dapat di desak mundur beberapa langkah oleh pasukan Demak.

“Jumlah prajurit Panarukan ternyata lebih sedikit dibandingkan jumlah prajurit Demak” katanya dalam hati.

“Trenggana akan aku tantang untuk berperang tanding, seorang lawan seorang” desis Senapati Agung Panarukan.

Ki Tumenggung yang mengenal watak Sultan Trenggana, mempunyai keyakinan kalau Sultan Demak itu tidak akan menolak tantangannya.

“Trenggana bukan seorang penakut, dia tidak pernah menghindar dari tantangan lawannya” kata Tumenggung Jayarana dalam hati.

“Meskipun Trenggana melindungi dirinya dengan aji Tameng Waja, aku pasti mampu menembusnya” desis Ki Tumenggung.

Tumenggung Jayarana mengedarkannya pandangannya berkeliling, tetapi ia terkejut ketika seorang penghubung yang datang menghadapnya telah mengatakan Menak Alit dan Lembu Ireng telah bertarung dan mendapat lawan yang seimbang.

“Hm Menak Alit dan Lembu Ireng belum berhasil membunuh Senapati Pengapit pasukan Demak” kata Tumenggung jayarana didalam hati.

“Bagaimana dengan sayap kanan? Coba kau lihat apakah Kebo Lajer sudah berada di tempat Sura Kalong” perintahnya kepada prajurit penghubung.

Penghubung itupun segera berlari ke sayap kanan pasukan Panarukan, dan dilihatnya Kebo Lajer yang ditangannya menggenggam sebuah pedang, sedang berjalan dengan cepat, mendekati pertarungan Sura Kalong melawan seorang perwira pasukan Demak.

Tetapi langkah Kebo Lajer terhenti ketika didepannya menghadang tiga buah pedang milik prajurit Wirapati telah siap mematuk dadanya.

“Tiga orang prajurit Demak, mereka harus dibunuh terlebih dulu, setelah itu aku bisa membantu Sura Kalong” kata Kebo Lajer didalam hatinya.

Tanpa berkata apapun Kebo Lajer segera menyerang ketiga prajurit Wirapati yang berada didepannya, pedangnya berkelebat cepat bergantian mengancam ketiganya.

Ketiga prajurit itu melangkah mundur mengambil jarak, lalu ketiganya bergantian menyerang Kebo Lajer dari tiga arah yang berbeda, tetapi Kebo Lajer sama sekali tidak mengalami kesulitan melawan tiga orang prajurit Wirapati, bahkan ia mampu membuat ketiga prajurit itu harus mengerahkan seluruh kemampuannya.

Pertarungan satu lawan tiga menjadi semakin sengit, bayangan pedang Kebo Lajer berkelebat kesana kemari, terlihat semakin mendekat ke tubuh lawan-lawannya, pedangnyapun diputar kencang seperti baling-baling dan tiba-tiba telah berubah arah menusuk dada salah seorang prajurit yang didepannya .

Prajurit itu terkejut, dengan sekuat tenaga dibenturkannya pedang ditangannya dengan senjata lawannya, akibatnya tangannyapun bergetar, dan tanpa dapat di cegah pedangnyapun terlempar ke tanah.

Kebo Lajer tertawa pendek, lalu iapun segera bersiap untuk membunuh lawannya, tetapi ia terkejut ketika mendengar suara disampingnya ;”Prajurit, minggirlah, biarlah aku yang melawan orang Panarukan ini”

Kebo Lajer menengok kesamping, dan disampingnya kini telah berdiri seorang yang memakai pakaian Tumenggung dan ditangannya telah tergenggam sebuah pedang. Orang itu kemudian berjalan menghampiri tiga orang prajurit Demak dan berkata :”Minggirlah”

Kebo Lajer memandang kedepan dan kini didepannya telah berdiri seorang yang membawa pedang, sedangkan disebelahnya, seorang prajurit sedang memungut senjatanya yang telah jatuh ketanah.

“Kau akan ikut campur urusan ini Ki Tumenggung?” kata Kebo Lajer.

“Aku Tumenggung Palang Nagara, kau anggap urusan prajurit ini bukan urusanku? Siapa namamu he orang Panarukan” kata Tumenggung Palang Nagara.

“Aku Kebo Lajer, kau Senapati Pengapit pasukan Demak, Ki Tumenggung?” tanya Kebo Lajer.

“Bukan” jawab Ki Tumenggung.

“Siapapun kau, seorang Senapati atau bukan, aku yang akan membunuhmu, bersiaplah Ki Tumenggung” kata Kebo Lajer sambil melangkah maju, ujung pedangnyapun telah bergetar.

“Minggirlah kalian, orang ini biar menjadi urusanku” kata Tumenggung Palang Nagara kepada tiga orang prajurit Wirapati.

Belum selesai Ki Tumenggung berbicara, Kebo Lajer sudah melompat menyerang Tumenggung Palang Nagara, pedangnya bergerak cepat menusuk leher, tetapi yang diserangnya adalah pandega pasukan khusus Wira Yudha, maka dengan mudah serangan itupun dihindarinya.

Tumenggung Palang Nagara melangkah mundur, lalu iapun menggerakkan pedangnya mendatar, kearah perut lawannya, sehingga Kebo Lajerpun terpaksa menangkis dengan pedangnya.

Terjadilah benturan yang keras yang menyebabkan tangan kedua orang yang memegang pedang menjadi bergetar, lalu dengan cepat keduanya melompat mundur dan segera bersiap untuk menyerang lawannya, dan sesaat kemudian terjadilah pertarungan yang sengit, Tumenggung Palang Nagara melawan Kebo Lajer, kedua pedang mereka berkelebat saling mengancam tubuh lawannya. Ujung pedang yang bergetar seakan mampu menari dan mengitari tubuh lawannya tanpa henti.

Sementara itu di sayap kanan, Senapati Pengapit pasukan Demak Tumenggung Gagak Anabrang yang bersenjatakan sebuah pedang pendek, sedang bertempur melawan seorang Senapati Pengapit pasukan bang wetan, Menak Alit dari Blambangan yang bersenjatakan sepasang pedang rangkap.

“Hati-hati Gagak Anabrang, kalau kau terlambat menghindar, pedang rangkapku akan menyobek perutmu” kata Menak Alit sambil menyerang lawannya.

“Kau tidak usah banyak bicara Menak Alit, kau urusi saja prajuritmu yang terus terdesak mundur, hee dengar Menak Alit, prajurit Panarukan tidak akan mampu melawan prajurit Demak” kata Tumenggung Gagak Anabrang. Menak Alit menggeram marah, dengan cepat ia menggerakkan pedang rangkapnya kedepan, bergantian menusuk leher dan dada lawannya.

Tumenggung Gagak Anabrang mundur selangkah, dengan cepat dibenturkannya pedang pendeknya ke pedang lawannya, dan terjadilah benturan keras disertai percikan bunga api, yang menyebabkan telapak tangan keduanya menjadi pedih, dan sekejap kemudian kedua Senapati itu telah terlibat kembali dalam sebuah pertarungan yang semakin sengit.

Semakin lama, Tumenggung Gagak Anabrang kelihatan sedikit diatas angin, ilmunya selapis tipis diatas ilmu Menak Alit, tetapi untuk mengalahkan Menak Alit tidak semudah kalau memijat wohing ranti. Menak Alitpun menjadi semakin marah, dikeluarkannya semua ilmu yang dimilikinya, dikeluarkannya semua kemampuannya sampai tuntas, sehingga pertarungan keduanya menjadi semakin ketat.

Sementara itu, hampir di semua medan petempuran, pasukan Demak mampu mendesak lawannya beberapa langkah ke arah timur.

Di tengah induk pasukan Demak, di barisan depan, Rangga Pideksa bersama para prajurit lainnya terus mendesak maju. Beberapa kali prajurit Panarukan harus melawan Ki Rangga dengan dua atau tiga orang prajurit bersama-sama.

“Senapati Agung Panarukan berada ditengah pasukan induk, masih agak jauh, dia dilindungi beberapa lapis prajurit” kata Ki Rangga dalam hati.

Ki Ranggapun mengeluarkan semua kemampuannya untuk dapat mendesak maju ke arah Senapati Agung Panarukan. Beberapa puluh langkah dibelakang Rangga Pideksa, Senapati Agung pasukan Demak, Sultan Trenggana sedang mengamati pertempuran keseluruhannya, di induk pasukan maupun di sapit kanan dan sapit kiri pada gelar Sapit Urang.

Kanjeng Sultan melihat meskipun pasukan Demak mampu mendesak mundur pasukan bang wetan beberapa langkah, tetapi belum mampu memecah dan menghancurkan gelar Cakra Byuha dari pasukan Panarukan.

Senapati Agung Kanjeng Sultan Trenggana akhirnya mengambil sebuah keputusan, lalu iapun berkata kepada Tumenggung Gajah Birawa :” Kibarkan dua buah bendera merah di ekor gelar Sapit Urang, sekarang”

Tumenggung Gajah Birawa memanggil dua orang penghubung lalu diperintahkan untuk mengibarkan dua bendera merah di ekor gelar Sapit Urang, di pesisir dan di barisan paling belakang pasukan Demak.

Seorang penghubung kemudian berlari menyusup diantara riuhnya pertempuran, berlari dengan cepat ke pantai yang terletak tidak jauh dari daerah pertempuran, menemui beberapa prajurit yang berjaga disana, dan beberapa saat kemudian salah seorang prajurit itu mengibarkan sebuah bendera berwarna merah yang berukuran besar, lalu menggerakkan kekanan dan kekiri sehingga dapat terlihat dari puluhan perahu pasukan Jala Pati yang berlabuh tidak jauh dari pesisir.

Diatas salah satu perahu, Tumenggung Siung Laut tanggap atas isyarat yang diberikan oleh para prajurit yang berada di pesisir, sehingga iapun memerintahkan untuk mengangkat sauh.

Di perahu yang lain, Ki Panji Sokayana dan Ki Rangga Pawira maupun Lurah prajurit lainnya, juga telah mengangkat sauhnya, siap menjalankan perintah Senapati Agung, dan tak lama kemudian, semua perahu Jala Pati telah didayung oleh para prajurit, telah bergerak menuju pantai.

Di dalam riuhnya pertempuran, seorang penghubung pasukan Demak lainnya segera berlari ke barisan paling belakang lalu menggerakkan bendera merah kekanan dan kekiri, dan beberapa saat kemudian, para prajurit Turangga Seta yang dipimpin oleh Panji Honggopati dengan pedang ditangannya, telah bergerak menuju ke barisan depan, siap menyerbu prajurit Panarukan.

Matahari semakin tinggi, seakan-akan tidak ingin menyaksikan darah tertumpah di medan pertempuran yang sedang berlangsung di dekat pesisir sebelah barat Panarukan.

Diinduk pasukan Panarukan, Senapati Agung pasukan Panarukan, Tumenggung Jayarana telah mendapat laporan dari beberapa penghubung secara terus menerus. Dua orang penghubung mengabarkan pasukan Panarukan di sayap kanan maupun sayap kiri telah terdesak, mereka terpaksa bergerak sedikit ke belakang karena jumlah pasukan lawan yang lebih banyak.

“Belum sempat aku menantang Trenggana untuk berperang tanding, pasukanku telah dapat didesak mundur” kata Tumenggung Jayarana dalam hati. Beberapa saat yang lalu Tumenggung Jayarana telah mendapat laporan bahwa Menak Alit dan Lembu Ireng telah bertarung sengit melawan dua orang perwira Demak, kini datang penghubung lainnya yang melaporkan Sura Kalong dan Kebo Lajer juga telah mendapatan dua orang lawan yang seimbang di sayap kanan.

“Ternyata tidak mudah untuk mengalahkan Senapati Pengapit pasukan Demak” desis Ki Tumenggung.

Baru saja Tumenggung Jayarana akan memikirkan keempat orang yang merupakan gerigi tajam gelar Cakra Byuha ternyata mendapatkan lawan yang seimbang, serta memikirkan pasukannya yang terdesak terus menerus, ia terkejut dan merasa khawatir ketika seorang penghubung lainnya baru saja memberitahukan bahwa puluhan perahu yang berada di arah utara telah bergerak mendekati pesisir.

“Melawan pasukan Demak yang didarat saja kita sudah kalah dalam jumlah prajurit dan bisa didesak mundur ke timur, apalagi nanti kalau ditambah dengan ratusan prajurit Jala Pati yang berada diatas perahu” kata Tumenggung Jayarana dalam hati.

“Kalau nanti ratusan prajurit laut Jala Pati sudah menusuk pasukan Panarukan di arah utara gelar Cakra Byuha, maka pasukan Panarukan sudah tidak mempunyai waktu lagi untuk menyelamatkan diri, mereka akan dijepit dari arah barat dan utara” kata Tumenggung Jayarana mengeluh dalam hati.

“Kalau dibiarkan seperti ini, maka sebentar lagi pasukan Jala Pati yang segar akan menggilas prajurit Panarukan di sisi kanan gelar Cakra Byuha di dekat pesisir” desis Senapati Agung Panarukan. Belum sempat ia menemukan jalan yang terbaik untuk pasukannya, datang seorang penghubung lainnya yang mengatakan puluhan pasukan berkuda Demak telah bergerak kedepan dan siap menyerbu pasukan Panarukan.

“Ternyata pasukan Jala Pati dan Turangga Seta yang masih segar segera terjun ke peperangan, sebentar lagi mereka akan menyerang dan mengobrak-abrik pasukan Panarukan yang kelelahan” desis Tumenggung Jayarana.

Sekali lagi Tumenggung Jayarana mengedarkan pandangannya berkeliling, dilihatnya Pasukan Panarukan masih tetap terdesak dan sedikit mundur kebelakang.

“Apabila nanti pasukan Jala Pati dan Turangga Seta telah terlanjur bertempur melawan pasukan Panarukan, maka kekalahan pasukan Panarukan hanya tinggal sepenginang saja” kata Tumenggung Jayarana mengeluh dalam hati.

Senapati Agung Panarukan dengan cepat mengambil sebuah keputusan yang pahit, mumpung pasukannya masih mempunyai kesempatan untuk menyelamatkan diri. Tak lama kemudian terdengar suitan nyaring pendek dua kali dari arah Tumenggung Jayarana, lalu suitan itu diteruskan oleh beberapa penghubung keseluruh medan pertempuran

Mendengar suitan keras dua kali, maka seluruh pasukan gabungan Panarukan, Blambangan, Wengker dan Gelang-gelang perlahan-lahan mundur ke arah timur, mereka sekelompok demi sekelompok bergerak menuju pintu benteng. Perintah untuk mundur telah diberikan kepada semua pasukan Panarukan, dan sebagian dari mereka telah memasuki benteng kota melalui pintu gerbang yang masih terbuka.

“Jangan dikejar, biarkan mereka mundur masuk ke benteng kota, kita hindari korban yang terlalu banyak, disana banyak perempuan dan anak-anak” kata Senapati Agung Pasukan Demak, Kanjeng Sultan Trenggana yang juga berpikir pasukan Demak kurang mengenal lekuk liku sudut kota Panarukan.

Tumenggung Gajah Birawa yang berada disebelahnya segera bersuit nyaring, panjang, dan segera perintah dari Senapatipun telah menyebar keseluruh daerah pertempuran.

“Jangan dikejar, biarkan mereka mundur” teriak beberapa Lurah Prajurit.

Di sayap kanan pasukan Panarukan, Sura Kalong yang sedang bertempur dengan Tumenggung Surapati menjadi marah sekali karena baju kesayangannya telah robek sejengkal oleh tusukan tombak lawannya yang tajam.

“Senapati, kau atau aku yang akan mati disini” kata Sura Kalong dengan suara bergetar.

“Untung hanya bajumu yang robek Sura Kalong, sebentar lagi tombakku akan membuat kau tidak bisa pulang ke Wengker” kata Tumenggung Surapati.

Kemarahan Sura Kalong sudah sampai puncaknya, ia kemudian menggerakkan talinya untuk menyerang lawannya, Senapati Pengapit pasukan Demak. Keduanyapun kembali bertarung sengit, tetapi Sura Kalong menjadi terkejut ketika mendengar suitan isyarat mundur dari arah pasukan Panarukan.

Sura Kalongpun segera mengendorkan tekanannya dan bersiap menghentikan serangannya, tetapi ia masih tetap waspada terhadap serangan mendadak dari Tumenggung Surapati. Sura Kalong berdiri tegak, tangannya memegang tali pusakanya, matanya tajam menatap lawannya,Tumenggung Surapati yang masih tegak berdiri dengan memegang tombaknya, sesaat kemudian Sura Kalongpun mundur perlahan-lahan sambil tetap waspada, ia siap dan berjaga-jaga atas serangan dari pihak lawan.

Tumenggung Surapati yang juga mendengar perintah dari Senapati Agung Demak, ia sama sekali tidak mengejar lawannya, Ki Tumenggung membiarkan Sura Kalong mundur ke arah timur

“Aku belum kalah, kita bertemu lain kali Senapati” teriak Sura Kalong yang sudah berada didalam pasukan Panarukan.

Tidak jauh dari tempat Sura Kalong bergerak mundur, Tumenggung Palang Nagara masih bertarung sengit dengan Kebo Lajer, keduanya saling menyerang dan saat itu pundak Kebo Lajer telah tergores oleh pedang lawannya, hanya sebuah goresan yang kecil, tetapi telah menjadikan darah Kebo Lajer mendidih

Dengan berteriak keras, Kebo Lajer bersiap mateg aji kebanggaannya, ia sudah bertekad menggunakan ilmunya yang tertinggi untuk membunuh lawannya Tumenggung Palang Nagara.

Kedua kakinyapun segera direnggangkannya, ujung pedangnyapun telah menunjuk kedepan dan telah bergetar siap melumat tubuh lawannya.

Kebo Lajer berdiri terpaku, tanpa diduga, ketika baru saja ia akan memulai persiapan mateg aji kebanggaannya, tiba-tiba terdengar perintah berupa isyarat suitan pendek dua kali, yang merupakan isyarat dari Senapati Agung Tumenggung Jayarana, perintah yang mengharuskan semua pasukan bang wetan mundur dan berlindung di dalam benteng. Mendengar perintah itu, Kebo Lajerpun segera menarik napas panjang, meredakan gejolak darahnya yang terasa sudah hampir menggelora, seakan-akan sedang mencari penyaluran keluar untuk menghancurkan lawannya.

Kini Tumenggung Palang Negara dan Kebo Lajer berdiri berhadapan, tetapi perintah dari Senapati Agung mengharuskan Kebo Lajer untuk menghentikan pertarungannya, dan iapun bersiap untuk mundur bersama para prajurit lainnya. Tumenggung Palang Negara masih memegang senjatanya dengan erat, ketika ia melihat lawannya, Kebo Lajer melompat mundur, iapun tidak mengejarnya dan membiarkan lawannya mundur ke timur bersama para prajurit Panarukan lainnya.

Gerak mundur pasukan Panarukan terjadi di semua medan pertempuran, di induk pasukan, di sayap kiri maupun sayap kanan, terlihat ribuan prajurit perlahan-lahan mundur kearah timur.

Beberapa orang terlihat memapah prajurit yang terluka, mereka bergerak memasuki benteng kota Panarukan. Prajurit yang terluka telah berada dalam perlindungan para prajurit lainnya.

“Cepat lari !!!” teriak beberapa orang yang berada di pintu gerbang benteng kota, lalu puluhan prajurit bang wetan berlari memasuki jalan-jalan di kota Panarukan.

Dipihak pasukan dari Demak, semua prajurit patuh pada perintah Senapati Agung, semua prajurit tidak ada yang mengejarnya, mereka hanya berjalan dengan jarak sepuluh dua puluh langkah mengikuti langkah pasukan Panarukan yang mundur ke dalam benteng.

“Jangan dikejar !!” teriak Rangga Pideksa dari induk pasukan.

Sementara itu di sayap kiri pasukan Panarukan, Menak Alit yang mendengar suara suitan telah mengendorkan serangannya, lalu iapun berteriak keras kepada lawannya ;”Kita belum selesai Gagak Anabrang”

Tumenggung Gagak Anabrang tidak menjawab, tetapi ia melihat Menak Alit menghentikan serangannya, lalu perlahan-lahan bergerak mundur kebelakang dan Ki Tumenggungpun tidak mengejarnya, ia membiarkan lawannya bergerak mundur ke arah timur bersama ribuan prajurit Panarukan lainnya.

Tidak jauh dari tempat itu, Lembu Ireng yang sedang bertarung melawan Tumenggung Ranapati, dengan cepat menyerang lawannya seperti angin lesus, sehingga Tumenggung Ranapatipun terpaksa mundur kebelakang, dan kesempatan itu dipergunakan Lembu Ireng untuk melompat mundur, masuk kedalam kerumunan prajurit bang wetan yang sedang mundur ke benteng kota.

Tumenggung Ranapati yang kedua tangannya masih menggenggam senjatanya, berniat akan mengejarnya, tetapi perintah dari Senapati Agung Demak telah membuatnya hanya berdiri dan membiarkan Lembu Ireng menuju ke tengah prajurit bang wetan yang sedang bergerak mundur ke timur. Dengan cepat, ribuan prajurit gabungan Panarukan, Blambangan Wengker dan Gelang-gelang, semuanya bergerak memasuki benteng kota Panarukan.

“Cepat masuk kedalam, semuanya lari, cepat !!!” teriak seorang Lurah prajurit Panarukan di pintu benteng. Para prajurit yang telah mundur mendekati pintu gerbang, segera berlari cepat masuk kedalam benteng, sehingga gerak mundur pasukan bang wetan menjadi lancar.

Di induk pasukan bang wetan, Tumenggung Jayarana bersama Kanjeng Bupati perlahan-lahan juga mundur ke arah kota Panarukan.

“Apa boleh buat Kanjeng Bupati, kita terpaksa mundur, karena pasukan tempur laut Jala Pati dan pasukan berkuda Turangga Seta akan segera menyerang, kalau kita teruskan perang ini, kita bisa tumpes tapis tanpa sisa” kata Tumenggung Jayarana.

“Ya, mari kita semua mundur masuk ke dalam benteng” jawab Kanjeng Bupati.

Upaya mundur pasukan Panarukan berlangsung cepat, sebelum pasukan laut Jala Pati dan pasukan Turangga Seta menyerbu kedalam pertempuran, maka sebagian besar pasukan sudah berada di dalam benteng kota.

Pasukan Demakpun terlihat hanya mengikuti saja perjalanan prajurit bang wetan yang mundur ke dalam kota Panarukan.

Tak berapa lama semua pasukan bang wetan telah memasuki benteng kota Panarukan, lalu pintu gerbangpun ditutupnya dari dalam, daun pintu yang besar itupun diselarak dengan dua batang kayu yang berukuran besar dan kuat.

Para prajurit Demakpun kemudian bergerak kedepan, mendekat dalam jarak yang aman, dua puluh atau tiga puluh langkah dari benteng kota Panarukan. Senapati Agung pasukan Demak turun dari kudanya, kemudian dengan diapit oleh Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata mereka bertiga berjalan kedepan dan berhenti agak jauh dari pintu benteng.

Tak lama kemudian Kanjeng Sultan Trenggana memanggil Tumenggung Gajah Birawa.

“Tumenggung Gajah Birawa, kumpulkan semua Senapati dan para Tumenggung, sekarang” perintah Kanjeng Sultan.

“Sendika dawuh Kanjeng Sultan” kata Tumenggung Gajah Birawa.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian memerintahkan beberapa prajurit untuk menghubungi para Senapati dan para Tumenggung, untuk segera menghadap Kanjeng Sultan. Beberapa saat kemudian datanglah kedua Senapati Pengapit, Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang, disusul kedatangan Tumenggung Ranapati dan Tumenggung Palang Nagara. Setelah iu, terlihat pula Tumenggung Siung Laut yang telah datang bersama beberapa orang prajurit Jala Pati.

Ketika semua Tumenggung sudah mendekat dan berkumpul dihadapannya, maka Sultan Trengganapun kemudian berkata kepada semua pandega pasukan Demak.

“Para Senapati dan para Tumenggung, saat ini kita mengalami kesulitan mengalahkan pasukan Panarukan yang telah mundur kedalam benteng, kalau kita kejar dan terjadi pertempuran di dalam benteng, maka akan jatuh korban yang banyak sekali, karena didalam benteng banyak perempuan dan anak-anak, disamping itu, para prajurit Demak belum mengenal liku-liku kota Panarukan, jangan sampai banyak korban dari pasukan Demak, karena di dalam kota Panarukan mungkin terdapat banyak jebakan, biarkan mereka berada di dalam benteng kota Panarukan, kita kepung mereka temu gelang sampai mereka kehabisan perbekalan dan menyerah kepada kita” kata Senapati Agung Sultan Trenggana

Tumenggung Gajah Birawa bersama para Tumenggung yang lain telah mendengar keputusan Kanjeng Sultan sebagai Senapati Agung, tetapi mereka menyadari saat ini memang keputusan Kanjeng Sultan ini adalah yang terbaik, meskipun semuanya akan mengalami kesulitan, baik yang didalam benteng maupun yang diluar benteng.

Bagaimanapun semua orang yang berada di dalam benteng kota Panarukan akan mengalami kesulitan, ribuan prajurit bang wetan maupun semua penduduk yang berada didalam benteng kota Panarukan, semuanya membutuhkan bahan makanan dan air setiap hari, demikian juga pasukan Demak dan pasukan dari bang kulon yang mengepung benteng kota secara temu gelang, mereka jumlahnya jauh lebih banyak daripada pasukan bang wetan, sehingga kebutuhan bahan makanan dan air adalah lebih besar.

“Nanti malam kita berkumpul lagi” kata Kanjeng Sultan.

Setelah itu Kanjeng Sultan segera memerintahkan kepada para Tumenggung untuk menggerakkan para prajurit untuk mengepung kota Panarukan temu gelang. Mulailah para prajurit Demak berjalan melingkar, mengepung benteng Panarukan temu gelang, sedangkan di empat pintu benteng, timur, barat, utara dan selatan, dijaga oleh para prajurit yang jumlahnya berlipat.

Beberapa saat kemudian, sebagian dari para prajurit bekerja untuk membuat ratusan gubug disepanjang lingkaran luar benteng, sebagian lagi kembali ke tempat pertempuran, mulai membersihkan bekas medan pertempuran, menolong prajurit yang terluka meskipun dari pihak lawan, dan mengubur mereka yang telah terbunuh di peperangan

Matahari telah tenggelam, rembang petang perlahan-lahan mulai menyelimuti bumi Panarukan, dan pada saat itu, beberapa puluh gubug telah selesai dibangun disepanjang lingkaran temu gelang kepungan prajurit Demak.

Senjapun telah berlalu, malam telah membayang, di angkasa bintang bertaburan berkerlip mesra tanpa menghiraukan ribuan perang yang masih akan terjadi di bumi ini.

Ketika malam semakin gelap, didalam gubug yang berukuran agak besar serta didalamnya terdapat songsong Kasultanan, Kanjeng Sultan dihadap oleh semua Tumenggung, sedang membicarakan langkah-langkah yang akan ditempuh oleh pasukan Demak selanjutnya, dan sesaat kemudian datang pula Bupati Surabaya yang telah mengikuti pasukan Demak berangkat ke Pasuruan.

“Para Senapati, Tumenggung, dan Bupati Surabaya, kita sudah mulai mengepung kota Pasuruan, kita tidak tahu berapa pasar atau berapa candra kita berada disini, dan selama kita disini, kita butuh bahan makanan yang banyak untuk ribuan prajurit Demak” kata Kanjeng Sultan

“Tumenggung Surapati” kata Kanjeng Sultan.

“Dawuh dalem Kanjeng Sultan” kata Tumenggung Surapati.

“Perintahkan kepada beberapa prajurit untuk meminta tambahan bahan makanan kepada Bupati Tuban, bahan makanan supaya dikirim setiap beberapa hari sekali, lalu kirim lagi dua orang penghubung ke kotaraja Demak menemui Ki Patih Wanasalam, untuk meminta tambahan bahan makanan. Disini hadir juga bupati Surabaya, nanti dari Surabaya juga akan diminta mengirim bahan makanan ke sini, selain itu, perintahkan kepada pemimpin pasukan cadangan, Arya Penangsang, untuk tetap siaga dengan pasukannya, setiap saat pasukan cadangan dapat diberangkatkan ke Panarukan untuk membantu mendobrak benteng Panarukan” kata Kanjeng Sultan.

“Sendika dawuh Kanjeng Sultan” jawab Tumenggung Surapati.

“Tumenggung Siung Laut” kata Kanjeng Sultan.

“Dawuh dalem Kanjeng Sultan” jawab Tumenggung Siung Laut.

“Pasukan Jala Pati supaya dibagi dua, separo tetap di perahu, separo lagi ikut mengepung Panarukan”

“Sendika dawuh Kanjeng Sultan” kata Tumenggung Siung Laut.

Malam itu para prajurit yang sedang mengepung kota Panarukan, separo diantaranya masih bertugas jaga, separo sisanya telah beristirahat di gubug dan disekitarnya dengan berkerudung kain panjang.

Keesokan harinya, ketika matahari telah memancarkan sinarnya, terlihat kesibukan di beberapa gubug pasukan Jala Pati.

“Ki Panji Sokayana, kau bawa semua perahu ketempat semula jangan terlalu jauh dari pesisir, kau pimpin separo prajurit Jala Pati di perahu, sedangkan para prajurit yg separo tetap berada disini bersamaku” kata Tumenggung Siung Laut.

“Baik Ki Tumenggung” kata Panji Sokayana.

Panji Sokayana segera mohon diri, akan segera mempersiapkan para prajurit yang bertugas diperahu.

Sesaat kemudian Panji Sokayana menemui Rangga Pawira, lalu terlihat keduanya berkeliling untuk mempersiapkan keberangkatan separo pasukan Jala Pati yang akan berjaga tidak jauh dari pesisir.

Beberapa saat kemudian, perahu-perahu Jala Pati yang dulu pernah dipakai berlayar ke Malaka dibawah pimpinan Pangeran Sabrang Lor, perlahan-lahan telah bergerak menjauhi pesisir, menuju ke arah Utara.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita