Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 44 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 44 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Kalau nanti aku tidak mampu melawan Senapati Pengapit pasukan Panarukan, kau ambil alih lawanku, lawan dia bersama enam atau tujuh orang prajurit" kata Tumenggung Gagak Anabrang,

"Baik Ki Tumenggung" kata Panji Kertapati. 

Tidak jauh dari tempat itu, di induk pasukan, Tumenggung Suranata memanggil seorang perwira Wira Tamtama, Rangga Pideksa.

"Ki Rangga, kau tetap berada di induk pasukan bersama aku, selama aku masih berada disamping Kanjeng Sultan, kau yang mengawasi gerakan pasukan induk lawan, kalau kau lihat Senapati Agung pasukan Panarukan sudah turun ke pertempuran, segera kau beritahu aku" kata Tumenggung Suranata. 

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa.


"Jangan lupa, nanti prajurit Wira Tamtama berada dibelakang prajurit Wira Braja dan Wira Radya" 

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pideksa, setelah itu Ki Rangga berjalan menuju ke depan, memberikan pengarahan kepada para Lurah Wira Tamtama, lalu dipilihnya beberapa Lurah prajurit dan beberapa prajurit lainnya untuk dipersiapkan menahan serangan Senapati Agung Panarukan. 

Kanjeng Sultan mengedarkan pandangannya, dan ketika semua prajurit sudah terlihat siap maka Tumenggung Gajah Birawa diperintahkan untuk menabuh bende yang pertama kali. Tak lama kemudian seorang prajurit telah menabuh sebuah bende lalu disusul dengan meluncurnya sebuah panah sendaren ke udara, dan terdengarlah gaung suara panah sendaren yang dapat didengar oleh seluruh pasukan Demak.

Tak lama kemudian berdatanganlah para Tumenggung menghadap dan siap menerima perintah dari Senapati Agung pasukan Demak. 

"Para Tumenggung, kalian sudah siap?" tanya Senapati Agung, Sultan Trenggana.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan, semua prajurit sudah siap untuk berangkat" kata Tumenggung Palang Nagara yang berada didepan Kanjeng Sultan. 

Sultan Trenggana kemudian menganggukkan kepalanya, dan terdengarlah suara bende yang kedua disusul dengan gaung suara panah sendaren. Senapati Agung kemudian dengan tangkasnya naik ke atas punggung kuda, dan dibelakangnya telah siap seorang prajurit Wira Tamtama yang membawa songsong Kasultanan Demak. 

Tumenggung Surapati sebagai Senapati Pengapit segera menuju ke sapit kiri, sedangkan Tumenggung Gagak Anabrang yang juga menjadi Senapati Pengapit segera menuju ke sapit kanan, kemudian diikuti oleh para Tumenggung lainnya yang berpencar kembali menuju ke kesatuannya, 

Ketika kemudian terdengar suara bende yang ketiga kalinya dan terdengar pula suara gaung panah sendaren, maka mulailah pasukan Demak segelar sepapan, bergerak ke timur untuk menghukum Panarukan.

Berderaplah langkah prajurit Wira Warastra yang bersenjatakan panah dan sebagian lagi membawa perisai, mereka berada di barisan paling depan, kemudian dibelakangnya berjalan pasukan Wira Radya dan Wira Manggala, yang dilapis oleh pasukan khusus yang mempunyai kemampuan perorangan yang tinggi, pasukan Wira Yudha yang dibagi menjadi dua kelompok besar pasukan penggempur kesatuan Wirapati dan pasukan Narapati.

Ditengah pasukan, Senapati Agung Sultan Trenggana duduk diatas punggung kuda diapit oleh Tumenggung yang bertubuh tinggi besar, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata. Disekelingnya bertebaran ratusan prajurit Wira Tamtama sebagai prajurit pengawal Sultan lapis pertama dan prajurit Wira Braja sebagai lapis kedua.

Didekatnya, berkibar bendera Gula Kelapa, bendera Kasultanan Demak yang berwarna merah dan putih, yang dijaga oleh puluhan prajurit Wira Tamtama.

Di barisan paling belakang, pasukan berkuda Wira Turangga Seta juga telah menjalankan kudanya berjalan maju kedepan, merekapun bersiap, setiap saat Senapati Agung dapat memerintahkan mereka untuk menyerbu di garis benturan kedua pasukan. 

Semua pasukan telah bergerak ke timur dengan kesiagaan penuh, bendera merekapun telah bergerak maju dan berkibar dengan megahnya. Gerak maju dari bendera yang berkibar, telah terlihat oleh Tumenggung Siung Laut yang berada di atas perahu tidak jauh dari pesisir, dan iapun kemudian memerintahkan semua perahu untuk bergerak maju membayangi gerak pasukan yang berjalan didarat.

Sesaat kemudian sauh pemberat telah diangkat naik, dan para prajuritpun kemudian mulai mendayung sehingga perahu melaju ke arah timur, Tumenggung Siung Laut melihat agak jauh disebelah kanannya, perahu yang ditumpangi oleh Panji Sokayana, dan disebelah kirinya, sebuah perahu yang ditumpangi oleh Rangga Pawira. 

Disepanjang garis pantai, semua perahu pasukan laut Jala Pati bergerak perlahan, membayangi gerak maju pasukan Demak yang berjalan di pesisir pantai, sementara itu disepanjang garis lintas kedua pasukan, beberapa kali terdengar suara panah sendaren yang terlontar ke udara. 

Beberapa prajurit sandi dari Panarukan yang mendengar suara panah sendaren dari arah pasukan Demak, segera melontarkan panah sendaren yang kemudian diteruskan oleh prajurit sandi lainnya, sehingga dapat terdengar dari dalam benteng kota Panarukan. 

Di dalam kota Panarukan Tumenggung Jayarana bersama Bupati Panarukan, dan kedua Senapati Pengapit serta Ki Kebo Lajer, telah bersiap untuk menggerakkan prajurit Panarukan dan Blambangan, dibantu sebagian prajurit dari daerah Wengker dan Gelang-gelang, menyongsong pasukan Demak. 

"Pasukan Demak telah bergerak maju" kata Tumenggung Jayarana. 

"Pasukan kita nanti akan menggunakan gelar Cakra Byuha" kata Tumenggung Jayarana.

"Gelar perang Cakra Byuha?" tanya Menak Alit.

"Ya, gelar Cakra Byuha, kita mempunai beberapa gerigi tajam di sisi Cakra" kata Tumenggung Jayarana. 

"Saya tetap di sayap kanan?" tanya Sura Kalong yang berkumis sekepal dan berpakaian serba hitam.

"Ya, kau sebagai Senapati Pengapit di sayap kanan, Menak Alit berada di sayap kiri" kata Jumenggung Jayarana

"Ya, nanti akan kubunuh lawan saya, yang menjadi Senapati Pengapit di sayap kanan pasukan Demak" kata Menak Alit.

"Baik, buktikan kemampuanmu Menak Alit" kata Tumenggung Jayarana 

Menak Alit menggeram, tetapi ia bertekad untuk membuktikan kemampuannya, membunuh lawannya dengan senjata andalannya, sepasang pedang rangkap.

"Kebo Lajer" kata Tumenggung Jayarana selanjutnya.

"Ya Ki Tumenggung" kata Kebo Lajer.

"Kau sebagai gerigi Cakra di sayap kanan, kau bantu Sura Kalong membunuh lawannya, kalau melawan kalian berdua, tidak ada sepenginang Senapati Pengapit di sayap kiri pasukan Demak pasti sudah mati" kata Tumenggung

"Baik Ki Tumenggung" kata Kebo Lajer. 

"Lembu Ireng!" Tumenggung Jayarana memanggil seseorang yang sedang berdiri didekatnya sambil memegang landeyan sebuah tombak bercabang tiga, sebuah trisula pemberian gurunya, 

"Ya Ki Tumenggung" jawab Lembu Ireng mendekat, landeyan trisula kesayangannya masih dipegang dengan eratnya.

"Kau nanti berada di sayap kiri, kau bantu Menak Alit membunuh Senapati Pengapit sayap kanan Demak" kata Tumenggung Jayarana.

"Baik Ki Tumenggung" kata Lembu Ireng,

Menak Alit menaikkan alisnya, wajahnya terlihat tidak begitu senang mendengar perkataan Tumenggung Jayarana.

"Ki Tumenggung meremehkan kemampuanku, sebelum Lembu Ireng datang membantuku, Senapati Demak itu sudah dapat kubunuh" kata Menak Alit dalam hati, sambil meraba pedang rangkapnya. Tumenggung Jayarana kemudian melangkah mendekati Kanjeng Bupati, yang berdiri di dekatnya. 

"Kanjeng Bupati, sebaiknya Kanjeng Bupati berada di barisan belakang, nanti saya sendiri yang akan melawan Trenggana satu lawan satu" kata Tumenggung Jayarana.

"Ya Ki Tumenggung" kata Kanjeng Bupati.

"Menak Alit, perintahkan semua pasukan Panarukan untuk berangkat sekarang, kita tunggu pasukan Demak di bulak disebelah barat benteng yang tidak jauh dari pesisir" kata Ki Tumenggung, 

Sesaat kemudian seorang prajurit Panarukan melepaskan sebuah panah sendaren, sekejap kemudian suara gaung panah sendaren telah terdengar di dalam benteng, dan segera para prajurit Panarukan mulai keluar dari benteng kota, berlari ke sebuah bulak yang terletak di sebelah barat benteng. Dengan cepat ribuan prajurit telah keluar dari pintu benteng, mereka berkelompok menuju ke sebuah bulak yang luas, sebuah lapangan yang jarang terdapat pepohonan. 

"Pasukan panah dan perisai berada didepan, cepat !!" teriak Menak Alit, dan segera prajurit yang bersenjatakan panah maupun prajurit yang membawa perisai berlari-lari menuju barisan terdepan.

Ketika semua prajurit Panarukan sudah bersiap di lapangan yang luas, seorang penghubung melaporkan kepada Tumenggung Jayarana, perahu-perahu pasukan Demak sudah berada di arah utara, tidak jauh dari pasukan Panarukan. 

"Tumenggung Siung Laut sudah berada disini, berarti sebentar lagi pasukan Demak akan tiba di bulak ini, Menak Alit, kau ke sayap kiri, bersama Lembu Ireng, dan kau Sura Kalong, kau ke sayap kanan bersama Kebo Lajer, dan sekarang Menak Alit, kau bentuk barisan dengan gelar Cakra Byuha, sekarang" kata Tumenggung Jayarana. 

Dengan cepat merekapun berpencar, Menak Alit maju ke barisan paling depan dengan membawa sebuah bendera, setelah sampai di depan pasukan Panarukan, maka diputarnya bendera itu ke kiri dua kali dan kekanan dua kali, yang merupakan isyarat pembentukan gelar Cakra Byuha. Sesaat kemudian beberapa kelompok prajurit bergerak untuk membentuk gelar perang Cakra Byuha, sebuah gelar perang yang mempunyai beberapa gerigi tajam di sisinya. 

Beberapa saat kemudian pasukan Panarukan telah sepenuhnya berada dalam gelar yang kuat, Cakra Byuha, dan para prajuritpun telah siap dengan senjatanya menunggu kedatangan pasukan lawan. Ribuan prajurit dari Panarukan, Blambangan, Wengker dan Gelang-gelang telah mencabut senjatanya dan menggenggam hulu pedangnya semakin erat.

Suro Kalongpun telah bersiap sepenuhnya menghadapi Senapati Pengapit Demak, senjata pusakanya yang berupa sebuah tali sebesar ibu jari kaki, telah dilolos dari ikat pinggangnya, dan tak lama kemudian terdengar suara panah sendaren yang dilepaskan oleh petugas sandi Panarukan yang telah melihat gerakan pasukan Demak yang berada didepan mereka.

"Sebentar lagi mereka akan berbenturan di bulak ini" kata seorang prajurut sandi kepada seorang temannya.

"Ya kita menyingkir dulu, mereka akan lewat ditempat ini" kata temannya yang telah melepaskan panah sendaren, kemudian kedua prajurit sandi Panarukan itu berlari, menyingkir dari tempat itu, pindah ketempat yang lebih aman, agak jauh dari benturan kedua pasukan yang sudah saling berhadapan.

Tak berapa lama pasukan Demakpun memasuki sebuah tanah lapang yang luas, kemudian pasukan itupun bergerak menyebar, melebar ke samping, memenuhi sebagian sisi bulak sebelah barat. Dari kejauhan di arah sebelah timur, para prajurit Demak telah melihat sebuah barisan memanjang, itulah pasukan Panarukan yang memenuhi lebar seluruh tanah lapang itu.

Beberapa prajurit telah mencabut senjatanya, sebuah pedang pendek, kemudian diikuti oleh para prajurit lainnya, sedangkan prajurit yang bersenjatakan panah, di tangan kirinya telah memegang sebuah busur dan tangan kanannya telah memegang sebuah anak panah. 

Para prajurit Wira Radya yang bersenjatakan tombakpun telah merundukkan tombaknya dan landeyannyapun telah digenggam semakin erat.

Pasukan Demak terus bergerak melangkah kedepan, semua prajurit dari berbagai kesatuan telah bersiap sepenuhnya, bertempur melawan pasukan Panarukan. Di sapit kiri, Senapati Pengapit, Tumenggung Surapati didukung oleh Tumenggung Palang Nagara dari kesatuan Wira Yudha, terus melangkah maju, keduanya telah menggenggam pedang pendeknya.

Di induk pasukan, Tumenggung Suranata melihat Rangga Pideksa telah mengatur para prajurit untuk menempati posisi gelar Sapit Urang, dan ketika pasukan Panarukan semakin dekat, maka Rangga Pideksapun telah mencabut pedang pendeknya.

Di sapit kanan, Senapati Pengapit Tumenggung Gagak Anabrang yang memegang sebuah pedang pendek, telah melangkah maju, dibelakangnya berjalan Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, yang dipinggangnya telah tergantung sebuah pedang, sedangkan ditangannya telah tergenggam sebuah tombak pendek, sama seperti senjata dari prajurit Wira Radya lainnya. Tumenggung Ranapati memegang landeyan tombaknya semakin erat, bersiap mengadapi senjata lawan tetapi ia percaya landeyan tombaknya yang terbuat dari kayu Nagasari adalah sebuah landeyan yang kuat, 

Jarak kedua pasukan semakin dekat, dan ketika jarak keduanya telah dapat dijangkau oleh lontaran anak panah, maka pada waktu yang hampir bersamaan, dari kedua pasukan telah meluncur berpuluh puluh anak panah yang dilontarkan ke arah lawan.

Kedua pasukan terus bergerak saling mendekat, beberapa orang telah terluka terkena anak panah yang menyusup di sela-sela beberapa perisai yang terpasang di depan barisan. Bukan hanya prajurit yang didepan saja yang menerima hujan panah, tetapi prajurit yang berjalan agak dibelakangpun tak luput juga dari patukan anak panah. Sebuah anak panah dengan kerasnya melesat keatas, lalu dengan cepatnya menukik kebawah, dan tanpa diduga mampu mematuk pundak yang tak terlindungi.

Ketika pasukan lawan semakin dekat, dan jarak kedua pasukan tinggal sepuluh langkah, maka merekapun mengganti busurnya dengan pedang yang tergantung dilambungnya. Prajurit Wira Warastra kemudian mencabut pedang yang tergantung dipinggangnya, dan telah bersiap menghadapi serangan lawan.

Sesaat kemudian ujung kedua pasukanpun telah bertemu, prajurit Panarukan telah mulai bertempur melawan pasukan Demak yang berada di barisan paling depan, prajurit Wira Warasta, Wira Radya dan Wira Manggala. 

Peperangan antara pasukan Demak melawan pasukan Panarukan berlangsung sengit, beberapa orang telah menjadi korban sabetan pedang atau tusukan tombak pada benturan pertama.

Ratusan prajurit Panarukan telah berhasil menyusup maju ke tengah melewati penjagaan prajurit Wira Manggala Wira Warasta maupun Wira Radya, tetapi prajurit Panarukan telah terbentur oleh ketangguhan prajurit Wirapati dan prajurit Narapati yang berada agak kedalam.

Beberapa saat setelah benturan pertama, korban yang jatuh semakin banyak, suara benturan senjata diselingi teriak kemenangan bercampur dengan keluh kesakitan dari prajurit yang terluka, terdengar dimana-mana. Semakin lama para prajurit Demak semakin mendesak mundur pasukan Panarukan, jumlah prajurit Demak yang lebih banyak, menyebabkan seorang prajurit Panarukan kadang-kadang harus berhadapan dengan dua orang lawan.

Di sayap kiri pasukan Pasuruan, Menak Alit yang sudah menggenggam pedang rangkapnya melompat kedepan mencari Senapati Pengapit lawan, dan yang dilihatnya adalah seseorang yang sedang berdiri menunggunya dengan sebuah pedang pendek di tangannya.

"Aku Menak Alit, kau yang menjadi Senapati Pengapit pasukan Demak?" tanya Menak Alit.

"Ya, aku Gagak Anabrang, akulah Senapati Pengapit pasukan Demak, Menak Alit" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Bagus, Gagak Anabrang, hari ini hanya namamu saja yang bisa pulang ke Demak" kata Menak Alit

Tumenggung Gagak Anabrang tidak menjawab, tetapi ia bersiap sepenuhnya menghadapi permainan pedang rangkap dari Menak Alit. Sesaat kemudian Menak Alit dengan cepat telah melompat maju, pedang rangkapnya berkelebat mengancam leher lawannya, tetapi yang diserang adalah Tumenggung Gagak Anabrang, salah seorang Tumenggung agul-agul Kasultanan Demak.

Tumenggung Gagak Anabrang melangkah mundur, tetapi sesaat kemudian pedangnya dengan cepat menusuk perut lawannya. Menak Alit menggeser tubuhnya kesamping, sehingga pedang Tumenggung Gagak Anabrang tidak mampu menyentuhnya, dan beberapa saat kemudian keduanya telah terlibat dalam sebuah pertarungan yang sengit, satu lawan satu. 

Di induk pasukan Demak, Rangga Pideksa memimpin prajuritnya mendesak maju kedepan, pandangannya mencari Senapati Agung dari pihak lawan, yang saat ini masih berada di tengah-tengah pasukan Panarukan.

Rangga Pideksa menggerakkan pedangnya seperti baling-baling, mendesak lawannya mundur, tetapi kemudian datang seorang prajurit Panarukan yang membantu kawannya, sehingga gerak maju Ki Rangga telah tertahan karena harus melawan dua orang prajurit, 

Dibelakangnya, Tumenggung Suranata yang berdiri disamping kuda Senapati Agung Sultan Trenggana, melihat pasukan Demak yang berjumlah lebih banyak perlahan-lahan dapat sedikit mendesak lawannya mundur beberapa langkah. 

Pertempuran kedua pasukan itupun menjadi semakin sengit, prajurit Demak tidak dapat di desak mundur oleh pasukan Panarukan, bahkan karena jumlah prajurit yang lebih banyak, maka di beberapa titik pertempuran mereka bisa mendesak pasukan Panarukan mundur beberapa langkah. 

Pasukan penggempur Wirapati yang didukung oleh pasukan Narapati mulai bergerak maju ke garis benturan terdepan, merekapun mampu mendesak pasukan Panarukan sedikit mundur ke arah kota. Kemampuan perorangan yang tinggi dari pasukan khusus itu mampu merubah garis pertempuran sehingga bergeser sedikit ke arah timur. 

Gerak maju para prajurit Demak dari kesatuan Wira Manggala, Wira Radya, Wira Warasta ditambah prajurit dari kesatuan Wirapati dan prajurit Narapati tidak tertahan lagi, perlahan-lahan mereka mendesak mundur pasukan gabungan dari Panarukan, 

Gelar perang Sapit Urang yang dipakai oleh Senapati Agung Kasultanan Demak Kanjeng Sultan Trenggana mampu menjepit pasukan Panarukan yang diperkuat oleh ribuan prajurit dari Kadipaten Blambangan, Wengker, dan dari Gelang-gelang

Pasukan Panarukan berusaha bertahan dari gempuran pasukan Demak, dengan sekuat tenaga mereka menggerakkan senjatanya untuk menahan serangan lawan yang menang pengalaman serta menang dalam jumlah prajurit. 

Suara beradunya dua buah senjata terdengar nyaring, kadang-kadang diselingi teriakan kesakitan bercampur teriakan kekecewaan maupun teriakan kemenangan. 

Di beberapa tempat berserakan puluhan anak panah, landeyan yang patah, pedang yang sudah tidak utuh lagi atau sebuah perisai yang terlempar dari tangan pemiliknya.

Didaerah Sapit kiri pasukan Demak, Senapati Pengapit Tumenggung Surapati memimpin beberapa orang prajurit Demak dan berhasil mendesak mundur pasukan Panarukan, tetapi ia. terpaksa menghentikan gerak majunya, karena didepannya telah berdiri seorang yang mempunyai kumis sekepal, memakai pakaian serba hitam, memakai ikat kepala hitam, baju hitam, celana longgar warna hitam, memegang sebuah tali yang panjangnya lebih dari sedepa dan berukuran sebesar ibu jari kaki.

"Aku Sura Kalong dari Wengker, kau Senapati Demak? Siapa namamu Senapati?" tanya Sura Kalong dengan suaranya yang berat.

"Aku Senapati Pengapit, Tumenggung Surapati" jawabnya.

"Akulah lawanmu, seranglah aku Senapati" kata Sura Kalong yang berkumis sekepal, sambil menimang-nimang talinya.

Tumenggung Surapati tidak menjawab, tetapi dengan cepat ia melompat satu lompatan kedepan, pedang pendek Tumenggung Surapati berkelebat cepat mengancam dada lawannya, tetapi ia menjadi terkejut ketika tali yang dipegang lawannya telah membelit pedang pendeknya, dan ketika Sura Kalong menggerakkan tangannya, dengan sekali sentakan sendal pancing, tanpa dapat dicegah pedangnyapun telah terpelintir, terpuntir keras dan berputar, sehingga terlepas dari genggaman tangannya.

Tumenggung Surapati sangat terkejut, kekuatan telapak tangannya ternyata tidak mampu mempertahankan hulu pedangnya yang terputar keras.

Suro Kalong tertawa pendek melihat pedang Senapati Demak itu runtuh ke tanah. Hati Tumenggung Surapati tergetar keras, jantungnya berdebar kencang, ia tak mampu mempertahankan satu-satunya senjata yang ada padanya, pedangnya telah terlepas pada benturan pertama. 

Sambil tertawa keras, Sura Kalong maju selangkah, tangannya masih memegang kedua ujung tali pusakanya. Dengan cepat Tumenggung Surapati melompat mundur kebelakang, tetapi Sura Kalong yang berpakaian serba hitam tidak melepaskannya, iapun melompat kedepan memburu perwira Demak yang sudah tidak bersenjata lagi, tetapi langkahnya terhenti ketika didepannya, empat buah tombak prajurit dari kesatuan Wira Radya, merunduk mengancam dadanya.

Tumenggung Surapati segera melangkah mundur, sehingga iapun telah berada di dalam lindungan para prajurit Demak.

"Pakai tombak ini Ki Tumenggung" kata seorang prajurit dari pasukan Wira Radya, sambil memberikan sebatang tombak kepada Tumenggung Surapati.

"Terima kasih" kata Tumenggung Surapati yang segera menyambut tombak yang diberikan itu, lalu landeyan tombak itupun digenggamnya dengan kedua belah tangannya, sedangkan prajurit itu segera mencabut senjatanya yang lain, sebuah pedang pendek yang tergantung di lambungnya.

Dengan bersenjatakan sebuah tombak, Tumenggung Surapati kembali melangkah maju ke depan untuk menghadapi Sura Kalong, dan dengan cepat dijulurkannya landeyan tombaknya menyerang dada, dan disambut Sura Kalong dengan sabetan talinya.

Dengan menggenggam landeyan yang ukurannya lebih panjang dari senjata lawannya, keadaan Tumenggung Surapati sekarang berada diatas angin, tidak mudah bagi senjata lawannya untuk mendekat dan membelit tombak yang dipegang dengan kedua belah tangannya

Perlahan-lahan Tumenggung Surapati mampu mendesak Sura Kalong, permainan tombaknyapun tidak mengecewakan, kedua tangannya memegang landeyan, dan ujung tombaknya mampu menari, seperti seekor lebah yang terbang mengelilingi tubuh lawannya.

Bukan hanya ujungnya saja, pangkal tombaknyapun tiba-tiba telah menyerang mata lawannya, sehingga Sura Kalongpun terpaksa melompat mundur.

Dua orang Senapati Pengapit di Sapit kanan dan Sapit kiri pasukan Demak telah bertempur dengan sengitnya, sedangkan sebagai ekor gelar Sapit Urang, tidak jauh dari pesisir Panarukan, dua puluh delapan buah perahu armada Demak dari pasukan Jala Pati yang dipandegani oleh Tumenggung Siung Laut bersiap menunggu perintah untuk turun ke darat mengempur pasukan Panarukan dari arah utara.

Sementara itu di induk pasukan Demak, Kanjeng Sultan Trenggana yang duduk diatas punggung kuda, didampingi oleh Tumenggung Gajah Birawa di sebelah kanannya dan Tumenggung Suranata disebelah kirinya, serta dikelilingi oleh puluhan prajurit Wira Tamtama dan prajurit Wira Braja, mengedarkan pandangannya berkeliling, melihat jalannya pertempuran yang agak berat sebelah.

Beberapa langkah dibelakang Senapati Agung Sultan Trenggana, berkibar sebuah bendera Gula Kelapa berukuran besar, yang dijaga oleh puluhan prajurit Wira Tamtama, berkibar megah tertiup angin laut 

Pasukan Demak yang segelar sepapan, serta dibantu oleh ribuan prajurit dari bang kulon, berusaha untuk mendesak maju dan mengalahkan lawannya, pasukan gabungan dari beberapa daerah di bang wetan. Meskipun di beberapa titik pertempuran pasukan Demak mampu mendesak pasukan Panarukan mundur beberapa langkah, tetapi mereka belum mampu memecah ataupun menghancurkan gelar Cakra Byuha. 

Pasukan Panarukan mengandalkan beberapa orang yang berilmu tinggi untuk menjadi gerigi-gerigi senjata Cakra, yang diharapkan akan mampu membunuh Senapati Pengapit kanan dan Senapati Pengapit kiri pasukan Demak.

Salah satu kekuatan yang menjadi gerigi Cakra di sayap kiri pasukan Panarukan adalah Lembu Ireng yang telah membawa sebuah senjata tombak berujung tiga, trisula.

Didekat garis benturan kedua pasukan, Lembu Ireng mengedarkan pandangannya berkeliling, dilihatnya para prajurit kedua belah pihak sedang gigih bertempur, silih ungkih genti kalindih, singa lena prapteng lampus, saling bergantian menyerang, yang lengah akan terkena senjata lawannya.

Lembu Ireng maju kedepan beberapa langkah, lalu pandangannya menatap tajam beberapa puluh langkah disampingnya, dilihatnya Menak Alit sedang bertempur melawan seorang perwira pasukan Demak. Tatapan mata Lembu Ireng yang tajam, telah dapat mengetahui pakaian yang dipakai oleh lawan Menak Alit adalah seorang Tumenggung.

"Kalau melihat pakaiannya, lawan Menak Alit adalah seorang Tumenggung, mungkin Tumenggung itu yang menjadi Senapati Pengapit pasukan Demak" desis Lembu Ireng

"Berarti lawan Menak Alit itu adalah seorang Senapati Demak yang harus kubunuh" kata Lembu Ireng dalam hati, dan iapun segera bersiap untuk mengeroyok lawan Menak Alit. 

Sesaat kemudian Lembu Ireng segera melompat ke depan dan berlari mendekati Menak Alit yang sedang bertarung ketat melawan seorang perwira Demak.

Tetapi Lembu Ireng yang sedang berlari, merasa terkejut dan cepat-cepat menghentikan langkahnya, ketika tiba-tiba didepannya telah berdiri seorang yang membawa tombak, dan berpakaian seorang Tumenggung dari pasukan Demak. 

"Berhenti !! Kau akan mencampuri urusan seorang Senapati Pengapit? Kau akan mengeroyoknya berdua?" kata orang yang berdiri dihadapannya.

"Siapa namamu Tumenggung?" kata Lembu Ireng.

"Aku Tumenggung Ranapati" kata Tumenggung Ranapati. 

"Aku Lembu Ireng dari lereng gunung Semeru, hee Tumenggung, kau dengar, aku berada di peperangan, aku bebas pergi kemanapun" kata Lembu Ireng.

Tumenggung Ranapati tidak mau berlama-lama, kedua tangannyapun menggenggam landeyan tombaknya semakin erat.

"Lembu Ireng, akan kita lihat apakah kau mampu mendekat ke tempat Senapati Pengapit Demak, bersiaplah, aku akan menyerangmu" kata Tumenggung Ranapati.

Lembu Ireng menjadi marah, ia tidak menjawab, dan tiba-tiba tanpa diduga, ujung trisulanya dengan cepat mematuk ke arah dada Tumenggung Ranapati.

Tumenggung Ranapati waspada, secepat ayunan trisula Lembu Ireng, secepat itu pula tombak yang dipegang oleh kedua tangannya bergerak memukul trisula yang menyerangnya. 

Terjadi benturan keras, landeyan trisula Lembu Ireng terkena hantaman landeyan tombak Tumenggung Ranapati, benturan kedua landeyan yang terbuat dari kayu pilihan itu mengakibatkan tangan keduanya menjadi bergetar. 

Lembu Ireng terkejut, dengan cepat ditariknya trisula andalannya, kemudian dengan sekali putaran, ujung trisula mengancam kepala lawannya, tetapi yang dilawannya adalah Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, sebuah kesatuan prajurit Kasultanan Demak yang memang khusus bersenjatakan sebatang tombak.

Dengan cepat Tumenggung Ranapati mundur selangkah, menghindar dari goresan tiga buah ujung trisula yang tajam, sehingga serangan trisula Lembu Ireng tidak mengenai tubuhnya.

Kembali Lembu Ireng menarik mundur senjatanya, kemudian dengan cepatnya ia menggerakkan trisulanya menusuk ke beberapa tempat yang mematikan di tubuh lawannya. 

Tumenggung Ranapatipun membalasnya, pengalamannya yang hampir sepanjang hidupnya bertarung dengan menggunakan senjata tombak sangat membantunya dalam menghadapi lawannya yang kali ini menggunakan senjata trisula.

Sejak puluhan tahun yang lalu ia telah menjadi prajurit kasultanan Demak di kesatuan Wira Radya yang khusus bersenjatakan tombak, sehingga gerakan tombaknya seperti telah menyatu dengan dirinya.

Dengan cepat tombak ditangannya diputar seperti baling-baling, kemudian ujung tombaknya mematuk setinggi dada, lalu dengan cepat pangkal landeyannyapun dengan kerasnya menyapu kaki lawannya.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita