Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 43 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 43 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Beberapa saat kemudian ribuan pasukan Demakpun melanjutkan perjalanan, mereka berbaris meninggalkan Kadipaten Tuban menuju ke arah timur.

"Apakah kita nanti sore akan bisa sampai di tepi bengawan, Ki Lurah?" tanya seorang prajurit kepada Lurah Wirya yang berada disebelahnya. 

"Belum, kita masih bermalam sekali lagi, besok sore, baru kita sampai di bengawan" kata Lurah Wirya. 

Ketika malam telah tiba, pasukan Demakpun telah beristirahat dan bermalam di beberapa gubug tidak jauh dari tepi pantai. Di sebuah gubug yang didalamnya terdapat songsong kasultanan, Sultan Trenggana sedang duduk dihadap oleh Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata. 

"Jadi betul laporan prajurit sandi itu?" tanya Sultan Trenggana. 


"Betul Kanjeng Sultan, untuk kedua kalinya, seribu lebih prajurit Kadipaten Blambangan baru saja tiba di Panarukan, disusul oleh ratusan pajurit yang datang dari daerah disekitar Wengker, serta ratusan prajurit lainnya yang datang dari daerah sebelah selatan Panarukan." jawab Tumenggung Suranata.

"Hm, nanti akan banyak sekali yang menjadi korban akibat peperangan ini" kata Sultan Trenggana dalam hati. 

Kedua orang Tumenggung itupun berdiam diri, menunggu titah Kanjeng Sultan selanjutnya. 

"Bagaimana keadaan kota Panarukan saat ini?" tanya Sultan Trenggana.

"Menurut pasukan sandi, disekeliling kota Panarukan telah dibuatkan benteng dari kayu yang kuat, sehingga sulit untuk dapat ditembus" kata Tumenggung Suranata.

"Apa boleh buat, peperangan memang harus terjadi dan memakan banyak korban, tetapi kalau pasukan kita bisa melewati benteng dan berhasil masuk ke kota Panarukan, sejauh mungkin hindari korban perempuan dan anak-anak" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Temui prajurit sandi yang memberi laporan tadi, perintahkan dia berangkat lagi, bergabung dengan teman-temannya di Panarukan" kata Sultan Trenggana.

"Besok kalau pasukan kita sudah hampir mencapai kota Panarukan, sebelum bertemu dengan pasukan lawan, kita beristirahat sehari penuh, untuk memulihkan kekuatan kita" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata kedua Tumenggung itu.

Beberapa saat kemudian kedua Tumenggung itu keluar dari gubug Kanjeng Sultan, lalu keduanya menuju kesebuah gubug lainnya menemui prajurit sandi yang telah memberikan laporan dari Panarukan. 

Malam semakin larut, kegelapan telah menyelimuti perkemahan pasukan Demak, tidak jauh dari pesisir, samar-samar tampak beberapa perahu yang sedang berlabuh, yang didalamnya dipenuhi oleh ratusan prajurit tempur laut, Jala Pati

Keesokan paginya, ribuan prajurit Demakpun melanjutkan perjalanan menuju ke timur. Setelah istirahat beberapa kali, dan pada saat matahari telah condong ke barat, maka sebentar lagi pasukan Demak akan tiba ditepi bengawan.

Mereka berjalan agak sedikit berbelok ke selatan sehingga lebar bengawan yang akan diseberangi tidak selebar jarak yang berada di muara, 

Ketika pasukan Demak tiba di tepi bengawan yang tanahnya telah dibuat agak landai, disana telah bersiap Rangga Pawira, yang memimpin delapan buah perahu yang akan digunakan untuk menyeberangan ribuan prajurit. Secara bergelombang, ratusan prajurit naik ke delapan buah perahu yang berada di tepi sungai. 

Matahari terus bergerak kebarat, ketika sebuah perahu yang telah diisi dengan lebih dari tiga puluh orang prajurit telah bergerak maju karena didayung beramai ramai oleh para prajurit, Perahu itu didayung ke timur, diikuti oleh tujuh perahu lainnya dan perlahan-lahan merekapun bergerak menuju ke seberang. 

Di sore itu, ternyata tidak semua prajurit menyeberang naik perahu, ribuan orang yang mampu berenang jarak jauh, telah membuka bajunya, dan akan berenang menyeberangi bengawan. Tumpak dan Soma membuka baju keprajuritannya, mereka akan menyeberangi bengawan dengan berenang beramai-ramai. 

"Dulu waktu pendadaran menjadi prajurit Wira Tamtama, aku mampu menyeberangi sungai Tuntang lima kali tanpa berhenti" kata Soma. 

"Aku juga, waktu itu kita bersama-sama mengikuti pendadaran prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak. 

Soma menganggukkan kepalanya, dan iapun masih berkata lagi :"Apakah di sekitar tempat ini masih terdapat beberapa ekor buaya ?"

"Didaerah ini tidak ada buaya, buaya biasanya berada di sebuah kedung yang airnya tenang, atau di gerumbul ditepi sungai, bukan disini, tempat ini terlalu dekat ke muara, buaya tidak akan tahan di air payau" kata Tumpak.

"Kalau buaya muara bisa sampai disini?" tanya Soma.

"Disini agak jauh dari pantai, buaya muara tidak akan masuk ke bengawan melewati jarak sejauh ini, apalagi air bengawan ini mengalir ke laut, tetapi kalau air laut sedang pasang, itu yang berbahaya, mungkin buaya muara bisa sampai disini, buaya itu mengikuti air laut yang mengalir masuk ke bengawan" kata Tumpak.

"Nanti malam, dimana para prajurit akan beristirahat?" tanya Soma.

"Diseberang, disana sudah dibangun beberapa gubug untuk bermalam" jawab Tumpak sambil menunjuk ke seberang.

Para prajurit yang akan berenang sudah banyak yang melepaskan busana keprajuritan, hanya memakai celana pendek, merekapun siap terjun ke bengawan, pakaian keprajuritan mereka dimasukkan kedalam bungkusan dan dititipkan kepada prajurit lainnya yang naik perahu penyeberangan. Setelah itu mulailah ribuan prajurit mulai terjun ke bengawan, berenang berusaha mencapai tepi sungai sebelah timur. 

"Ayo kita berenang sekarang" kata Tumpak sambil melangkah menuju tepi bengawan.

Sesaat kemudian kedua prajurit Wira Tamtama, Tumpak dan Soma terjun ke bengawan yang airnya mengalir perlahan, keduanya bersama dengan para prajurit lainnya dengan cepat berenang menuju keseberang.

Soma dan Tumpakpun mengerahkan semua kekuatannya untuk bisa mencapai tepi sebelah timur dari sebuah bengawan yang lebar, merekapun menggerakkan kedua tangannya bergantian mendayung kanan kiri, sambil menarik napas kesamping, dan tubuh merekapun dengan cepat meluncur kedepan. Meskipun agak lama, tetapi akhirnya mereka berdua sampai juga ke seberang bengawan, dan ketika mereka sudah sampai ditepian, maka merekapun duduk melepaskan lelah, sambil menunggu perahu yang membawa pakaian mereka.

Di arah timur, dikejauhan, disebuah tanah lapang yang agak luas, terlihatlah beberapa gubug yang telah dibangun untuk beristirahat.

"Kita bermalam disana" kata Soma.

"Ya, mari kita ambil pakaian kita Soma" sahut Tumpak sambil berdiri menuju perahu yang baru saja menepi.

Keduanya kemudian menemui prajurit yang membawa bungkusan mereka, lalu merekapun kemudian berjalan menuju gubug tempat bermalam bagi para prajurit. Ketika langit perlahan-lahan menjadi suram, di kedua sisi bengawan, terlihat beberapa prajurit telah membuat perapian yang dapat terlihat dari jauh.

Dengan berpedoman melihat api yang menyala di kedua sisi bengawan, delapan buah perahu masih hilir mudik menyeberangkan para prajurit Demak, sedikit demi sedikit, akhirnya ketika malam semakin dalam, selesailah upaya penyeberangan yang melelahkan.

Sultan Trenggana yang telah berhasil menyeberang, kemudian berjalan ke timur, menuju kesebuah gubug diiringi oleh kedua Tumenggung yang menjadi benteng Kasultanan Demak. 

Demikianlah, beberapa hari kemudian, setelah melewati Gresik dan Surabaya, maka ribuan prajurit Demak telah tiba di sebuah pantai yang pasirnya berwarna putih. 

"Pasukan kita bertambah banyak" kata Lurah Wirya kepada para prajurit Wira Tamtama yang berjalan disebelahnya.

"Ya Ki Lurah"

"Kita mendapat tambahan ratusan prajurit lagi dari Surabaya, bahkan Bupati Surabayapun ikut berangkat ke Panarukan" kata Lurah Wirya selanjutnya, 

"Ya Ki Lurah" sahut prajurit itu sambil terus berjalan menyusuri pantai. 

Dibelakangnya, berjalan beberapa prajurit Wira Tamtama yang lain.

"Pasir dipantai ini warnanya berbeda dengan pantai di daerah Demak" kata Tumpak.

"Ya, pasirnya berwarna putih" kata prajurit disebelahnya.

"Di daerah Demak, pasir pantainya hanya pasir biasa saja, bahkan ada yang berupa lumpur" sahut prajurit yang lain.

"Ya, disini pantainya bagus" kata Tumpak.

Para prajuritpun masih terus berjalan di pesisir menuju ke timur, pasukan Demakpun masih bergerak seperti seekor ular yang panjang. Beberapa saat ketika matahari mendekati cakrawala, maka sampailah mereka di beberapa gubug, tempat untuk beristirahat malam ini.

"Besok kita beristirahat satu hari penuh menjelang penyerangan ke Panarukan, Ki Panji" kata Tumenggung Gagak Anabrang kepada perwira disebelahnya.

Perwira yang diajak berbicara, Ki Panji Kertapati menjawab "Ya Ki Tumenggung"

"Kita berkemah didepan hidung pasukan Panarukan dan pasukan dari Kadipaten Blambangan" kata Ki Tumenggung selanjutnya,

"Bagaimana kalau pada saat kita beristirahat, pasukan Panarukan bergerak menyerang kita?" tanya Panji Kertapati.

"Kita tidak boleh meninggalkan kewaspadaan, didepan kita, mulai dari benteng kota Panarukan sampai di perkemahan, secara berantai, telah kita siapkan para prajurit yang membawa panah sendaren, mereka akan melepaskan panah sendaren, sambung menyambung sehingga kita masih mempunyai kesempatan untuk mempersiapkan diri" kata Ki Tumenggung.

"Ya Ki Tumenggung" kata Panji Kertapati.

"Nanti sampaikan kepada semua prajurit Wira Braja, supaya meningkatkan kewaspadaan, bersiap untuk menghadapi serangan mendadak dari pasukan Panarukan" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Baik Ki Tumenggung" jawab Panji Kertapati.

Malam itu semua prajurit beristirahat, Tumenggung Surapati dari pasukan Wira Manggala telah menugaskan belasan prajuritnya yang membawa panah sendaren dan panah api, mereka bersiaga di garis lintas kedua pasukan. Para prajurit yang membawa panah sendaren dan panah api bertugas bergantian, mengawasi kalau ada peningkatan kegiatan para prajurit Panarukan.

Sementara itu, didalam benteng kota Panarukan, Tumenggung Jayarana yang menjadi pemimpin pasukan Panarukan, sedang mempertimbangkan saran dari pimpinan pasukan Blambangan, Menak Alit.

"Apakah tidak sebaiknya prajurit Trenggana yang sombong itu kita serang sekarang Ki Tumenggung?" kata Menak Alit.

"Jangan Menak Alit, kita masih menunggu bantuan lagi yang akan datang dari daerah sekitar Wengker, kabar itu betul Sura Kalong?" tanya Tumenggung Jayarana.

"Betul Ki Tumenggung, mereka agak terlambat, besok mereka baru sampai disini" kata Sura Kalong yang berkumis tebal sekepal.

"Pasukan Demak adalah pasukan segelar sepapan, saat ini kita kalah dalam jumlah prajurit, mudah-mudahan prajurit Demak belum akan menyerang besok pagi" kata Tumenggung Jayarana.

"Aku tidak sabar lagi, tugaskan aku sebagai salah satu Senapati Pengapit, Ki Tumenggung, akan kubunuh prajurit yang menjadi Senapati Pengapit pasukan Demak" kata Menak Alit.

"Baik, Menak Alit, pada peperangan nanti, kau akan kuangkat menjadi Senapati Pengapit disayap kiri, sedangkan Sura Kalong akan menjadi Senapati Pengapit disayap kanan" kata Tumenggung Jayarana.

"Terima kasih Ki Tumenggung, lalu bagaimana dengan laporan prajurit sandi mengenai puluhan perahu yang berada tidak jauh dari pesisir?" tanya Menak Alit. 

"Ya. perahu-perahu itu pasti berisi ratusan prajurit Jala Pati yang dipimpin oleh Tumenggung Siung Laut yang dulu pernah ikut bersama Pangeran Sabrang Lor menyerang Malaka" kata Tumenggung Jayarana. 

"Kita kalah jumlah prajurit, Ki Tumenggung" kata Sura Kalong dengan suaranya yang berat. 

"Ya, pasukan Demak yang dipimpin oleh Trenggana itu memang pasukan segelar sepapan, karena itu kita tunggu bantuan yang akan datang besok sore" kata Tumenggung Jayarana.

Menak Alit dan Sura Kalongpun menganggukkan kepalanya, dan Ki Tumenggungpun melanjutkan pembicaraannya.

"Kedudukan kita pasti sudah diintai oleh pasukan sandi Demak, sama seperti kita yang juga mengintai pasukan Demak yang didarat maupun dilaut" kata Tumenggung Jayarana. 

Perhitungan Tumenggung Jayarana hampir sama dengan perhitungan para Tumenggung yang menjadi pimpinan prajurit Demak, malam itu puluhan prajurit sandi dari kedua belah pihak telah disebar dan bersiaga dengan membawa panah sendaren dan panah api, mereka berpencar di sekitar daerah yang diperkirakan akan menjadi jalur benturan kedua pasukan. 

Di perkemahan pasukan Demak, semua prajurit telah terlelap tidur, kecuali para prajurit yang bertugas, mereka secara bergantian mereka memandang langit sebelah timur, kalau nanti ada lontaran nyala api keudara atau mendengar suara panah sendaren, maka merekapun segera membangunkan seluruh prajurit yang ada di perkemahan.

Malam semakin dalam, dan ketika lintang panjer rina telah bersinar semakin cemerlang dan diufuk timur Sang Surya mulai memancarkan sinarnya, maka terbangunlah semua penghuni perkemahan para prajurit Demak.

Hari itu mereka beristirahat total untuk mengembalikan kekuatan mereka setelah sekian hari mereka berjalan kaki dari kotaraja hingga hampir sampai di Panarukan.

Di pagi hari, Kanjeng Sultan memerintahkan kepada Tumenggung Suranata untuk memanggil Tumenggung Siung Laut yang berlabuh tidak jauh dari pesisir :"Panggil Tumenggung Siung Laut" kata Kanjeng Sultan.

Tumenggung Suranata segera keluar dari gubug, lalu memerintahkan kepada dua orang prajurit untuk pergi ketepi pantai dan mengibarkan bendera kuning, bendera yang sewarna dengan warna songsong Kasultanan Demak. 

Kedua prajurit itupun kemudian berangkat ke tepi pantai dengan membawa sebuah bendera kuning yang terikat di ujung sebuah galah.

Ketika tiba ditepi pantai yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perkemahan, maka dengan menggunakan kedua tangannya, bendera itupun dikibar-kibarkan dan berkali-kali digerakkan kekanan dan kekiri. Beberapa saat kemudian, dari sebuah perahu yang berlabuh tak jauh dari pesisir, diturunkan sebuah sampan kecil, berisi Tumenggung Siung Laut bersama dua orang prajurit Jala Pati yang bertugas mendayungnya. Dengan cepat perahu kecil yang membawa pandega pasukan tempur laut Jala Pati itupun meluncur menuju pesisir. 

Ketika matahari sudah memanjat langit semakin tinggi, di dalam sebuah gubug, Kanjeng Sultan sedang dihadap oleh semua Tumenggung dan beberapa orang Panji.

"Para Tumenggung semuanya yang menjadi agul-agul Kasultanan Demak" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab beberapa orang Tumenggung.

"Hari ini kita beristirahat sehari penuh, dan kita harapkan pasukan Panarukan belum bergerak menyerang kita hari ini, besok pagi kita akan bergerak menyerang mereka, aku sendiri yang akan memimpin, menjadi Senapati Agung" kata Sultan Trenggana, lalu Kanjeng Sultanpun melanjutkan :"Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata tetap berada disamping Senapati Agung dan gelar perang yang akan kita gunakan nanti adalah gelar Sapit Urang".

"Tumenggung Surapati" kata Kanjeng Sultan 

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Surapati, pandega pasukan Wira Manggala, 

"Mulai sekarang kau aku angkat menjadi Senapati Pengapit di sapit kiri, kau memimpin pasukan yang berada di sebelah kiri" kata Sultan Trenggana.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Surapati yang merasa mendapat kehormatan menjadi seorang Senapati Pengapit,

"Tumenggung Gagak Anabrang" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gagak Anabrang, pandega pasukan Wira Braja. 

"Mulai sekarang kau aku angkat menjadi Senapati Pengapit di sapit kanan, kau memimpin pasukan yang berada di sebelah kanan" kata Sultan Demak.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Gagak Anabrang.

"Tumenggung Siung Laut" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Siung Laut.

"Besok prajurit Jala Pati jangan tergesa-gesa menyerang dulu, tunggu perintahku" kata Kanjeng Sultan. 

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Siung Laut.

"Besok, misalnya Senapati Agung tidak mampu menjalankan tugasnya, maka yang menjadi pimpinan seluruh pasukan adalah Tumenggung Gajah Birawa, sebagai Senapati Muda" kata Sultan Trenggana selanjutnya.

"Para Tumenggung, kita belum tahu, apakah gelar perang besok yang akan digunakan oleh pasukan Panarukan, kemungkinan bisa saja gelar Garuda Nglayang atau Dirada Meta"

"Kalau gelar yang akan dipakai pasukan Panarukan adalah Garuda Nglayang, maka Tumenggung Surapati dan Tumenggung Gagak Anabrang harus siap menghadapi Senapati Pengapit di sayap lawan"

"Mungkin nanti pasukan Panarukan menggunakan gelar perang yang lain, namun apapun gelar perang yang digunakannya, gelar perang Sapit Urang harus siap menghadapinya" kata Kanjeng Sultan.

"Pasukan Jala Pati akan menjadi ekor gelar Sapit Urang, yang nanti akan menusuk dari samping, di sayap kanan pasukan Panarukan. Pasukan kita akan berangkat besok pagi, para Tumenggung bersama para prajurit supaya mempersiapkan diri sebaik-baiknya" kata Kanjeng Sultan 

Setelah itu pembicaraanpun selesai, Kanjeng Sultan kemudian membubarkan para Tumenggung, lalu mempersilahkan untuk kembali ke tempatnya semula. Para Tumenggung kemudian keluar dari gubug, tinggal Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata yang masih berada di dalam gubug Kanjeng Sultan. 

Tumenggung Siung Laut kemudian menemui kedua prajurit Jala Pati yang mengawalnya, lalu mereka bertiga naik kedalam perahu kecil, dan melajulah perahu itu menuju ke sebuah perahu besar yang berlabuh tak jauh dari pesisir Panarukan. 

Matahari telah condong kebarat, sebentar lagi akan menyentuh cakrawala, angin lautpun bertiup kencang menerpa wajah para prajurit yang berada tidak jauh dari pesisir Panarukan. Ketika hari telah menjadi gelap, malampun telah tiba, seorang prajurit sandi yang membawa panah sendaren dan panah api, sedang berdiri didepan gubug Kanjeng Sultan bersama Tumenggung Surapati.

Mereka berdua akan menghadap Kanjeng Sultan untuk menyampaikan sebuah laporan tentang keadaan daerah lawan. Tumenggung Suranata terlihat keluar dari gubug lalu bekata kepada Tumenggung Surapati :"Silahkan masuk Ki Tumenggung". 

Tumenggung Surapati bersama seorang prajurit sandi segera masuk ke gubug Kanjeng Sultan, kemudian keduanya duduk dilantai beralaskan sebuah tikar dari daun kelapa yang dianyam.

Setelah keduanya menyembah, maka Tumenggung Surapatipun berkata :"Ini petugas sandi yang bertugas di Panarukan, akan memberikan laporan Kanjeng Sultan" 

"Apa yang kau lihat dan akan kau laporkan, prajurit?" tanya Kanjeng Sultan.

"Sebuah pasukan sekitar lima ratus orang yang datang dari sebelah timur Wengker baru saja memasuki kota Panarukan Kanjeng Sultan" kata prajurit sandi itu.

"Siapa pemimpinnya ?" tanya Sultan Trenggana.

"Ampun Kanjeng Sultan, kami belum mengetahui siapa nama pemimpinnya, tetapi orangnya berumur kira-kira setengah baya dan bertubuh agak pendek" jawab prajurit sandi.

"Tidak apa-apa, tidak banyak pengaruhnya, di dalam pasukan Demak masih ada Tumenggung Ranapati atau Tumenggung Palang Negara yang nanti akan menjadi lawannya" kata Kanjeng Sultan.

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Bagaimana perbandingan kekuatan prajurit demak dan Panarukan setelah kedatangan lima ratus prajurit dari sebelah timur Wengker?” tanya Sultan Trenggana. 

"Menurut laporan dari prajurit sandi, jumlah prajurit Demak masih jauh lebih banyak dari pasukan gabungan Panarukan, Kanjeng Sultan, pasukan Demak yang berada didarat masih lebih banyak empat ribu prajurit, apalagi kalau ditambah dengan prajurit tempur laut Jala Pati, kita masih lebih banyak hampir lima ribu prajurit Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa, 

"Prajurit, baiklah kali ini sudah cukup laporanmu, kau akan kembali ke tempatmu bertugas?" tanya Sultan Trenggana. 

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata prajurit sandi itu.

Setelah itu Tumenggung Surapati keluar dari gubug bersama prajurit sandi yang akan segera berangkat bertugas kembali ke Panarukan. Setelah pamit kepada Tumenggung Surapati, prajurit sandi itu segera meninggalkan perkemahan menuju ke daerah di sekitar benteng kota Panarukan.

Didalam benteng Panarukan, Tumenggung Jayarana bersama bupati Panarukan sedang menerima kedatangan pimpinan pasukan yang baru saja tiba di Panarukan, didampingi oleh Memak Alit dan Sura Kalong serta beberapa orang yang lain.

"Kami agak terlambat" kata orang yang berumur setengah baya dan bertubuh agak pendek yang baru datang dari daerah sebelah timur Wengker.

"Tidak apa apa Kebo Lajer, kau beristrahatlah, mudah-mudahan Trenggana tidak menyerang malam ini" kata Bupati Panarukan. 

"Ya Kanjeng Bupati" kata Kebo Lajer. 

"Dari daerah mana para prajurit ini Kebo Lajer?" tanya Bupati Panarukan.

"Dari sebelah timur Wengker, ditambah sebagian dari daerah Gelang-gelang" jawab Kebo Lajer.

"Berapa prajurit yang kau bawa Adi Kebo Lajer?" tanya Tumenggung Jayarana.

"Lebih dari lima ratus prajurit Ki Tumenggung" kata Kebo Lajer. 

"Bagus, meskipun pasukan gabungan di Panarukan lebih sedikit dari prajurit Demak, tetapi mudah-mudahan dalam kemampuan perorangan kita bisa unggul" kata Tumenggung Jayarana.

"Ya Ki Tumenggung" kata Kebo Lajer.

"Sekarang kau bersama pasukanmu beristirahatlah, supaya besok pagi para prajurit dari Wengker dan Gelang-gelang bisa pulih kembali kekuatannya" kata Bupati Panarukan.

"Terima kasih" kata Kebo Lajer, dan sesaat kemudian iapun beristirahat didalam sebuah ruangan yang telah disediakan untuknya.

Malam telah larut, didalam kota Panarukan, ribuan prajurit Panarukan ditambah dari Blambangan, Wengker, dan dari daerah Gelang-gelang telah terlelap tidur, tetapi tidak sedikit dari mereka yang belum dapat memejamkan matanya, karena mereka sadar, besok pagi para prajurit akan menyabung nyawa di peperangan.

"Tidurlah, besok kita akan bertempur" kata seorang prajurit Gelang-gelang kepada prajurit lainnya yang berbaring disampingnya.

"Ya, tapi kau juga belum tidur" kata prajurit disebelahnya.

Menjelang tengah malam, semua prajurit telah terlelap, mereka berusaha untuk bisa tidur meskipun hanya beberapa saat saja, sehingga diharapkan pada waktu terbangun esok paginya, kekuatan mereka telah pulih kembali.

Ketika fajar telah merekah di ufuk timur, maka semua prajurit didalam benteng kota Panarukan telah bangun, segera membersihkan diri dan melakukan sarapan pagi, lalu mempersiapkan diri untuk terjun dipertempuran melawan pasukan dari Kasultanan Demak.

Kesibukan para prajurit yang berada didalam benteng kota Panarukan hampir sama dengan keadaan pasukan Demak yang beristirahat tidak jauh dari kota Panarukan.

Setelah membersihkan dirinya, para prajurit Demak mendapatkan sarapan pagi, nasi yang hangat. Seorang prajurit Wira Manggala terlihat sedang sarapan bersama beberapa prajurit yang lain.

"Makanlah yang kenyang, nanti kita akan bertempur sehari penuh, makanan ini akan menjadi salah satu kekuatan kita untuk bertempur di peperangan" kata seorang prajurit.

"Nasi ini terasa enak sekali" kata prajurit disebelahnya.

Prajurit yang berbicara pertama kali hanya menoleh, iapun sibuk makan nasi hangat yang telah disediakan. 

"Mudah-mudahan ini bukan nasi terakhir yang aku makan" kata prajurit lainnya.

"Ah kau, jangan bicara sembarangan" kata temannya.

Mereka kemudian berdiam diri, para prajurit itu masih makan dengan lahapnya.

"Aku berada di sapit kiri, bersama Ki Tumenggung Surapati" kata prajurit itu.

"Aku nanti berada di induk pasukan" kata temannya.

Ketika sarapannya telah selesai, maka segeralah para prajurit itu mempersiapkan dirinya, dikenakannya busana keprajuritan mereka, senjata mereka, sebuah pedang pendek telah di sangkutkan di pinggang kirinya. Lalu secara bergelombang, mereka menempatkan diri di tanah yang luas dekat pesisir, berkelompok-kelompok, sesuai dengan kesatuannya.

Beberapa orang prajurit Wira Radya telah memegang erat-erat landeyan tombak mereka yang panjangnya lebih dari sedepa, tetapi dipinggangnya juga tergantung sebuah pedang pendek. Pasukan panah Wira Warastra juga telah mempersiapkan diri, beberapa prajurit sedang memeriksa busur dan belasan anak panahnya.

"Kita nanti berada di barisan paling depan" kata seorang prajurit Wira Warastra.

"Ya, tetapi kita juga dilindungi oleh prajurit yang membawa perisai" kata temannya.

Di barisan paling belakang, puluhan pasukan berkuda Wira Turangga Seta yang dipimpin oleh Panji Honggopati juga telah bersiap, tetapi untuk peperangan yang berlangsung hari ini pasukan berkuda belum akan mengalami benturan langsung dengan pihak lawan.

Pasukan berkuda hari ini hanya ditempatkan di barisan belakang dan mereka hanya bersiap apabila nanti Senapati Agung memerintahkan mereka untuk menyerbu ke pusat benturan pasukan, maka mereka akan dapat menggempur lawan dengan kecepatan yang tinggi.

Bendera beberapa kesatuan telah berkibar, mulai dari bendera kesatuan Wira Tamtama, Wira Braja, Wira Manggala, Wira Radya, Wira Yudha, Wira Turangga Seta, Wira Warastra, sedangkan di tengah pasukan telah berkibar bendera Gula Kelapa yang berukuran besar yang diujungnya terdapat Pancasula Kyai Wajra, tombak berujung lima, pusaka Kasultanan Demak yang telah dijaga oleh puluhan prajurit Wira Tamtama.

Tidak jauh dari pesisir, duapuluh delapan perahu yang telah bersiap untuk berangkat, telah berkibar bendera Jala Pati yang bergambar ikan Sura yang sedang membuka mulutnya, siap menyerang lawannya, 

Saat itu, senapati Agung Demak, Sultan Trenggana telah siap didepan gubugnya dengan memakai busana kesatrian, dan didekatnya berkumpul para Tumenggungnya.

"Kita tetap seperti rencana semula, memakai gelar Sapit Urang" kata Senapati Agung.

"Tumenggung Palang Nagara dan Tumenggung Ranapati" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata kedua Tumenggung itu.

"Tumenggung Palang Nagara nanti berada di sapit kiri, sedangkan Tumenggung Ranapati berada di sapit kanan. Dipihak lawan, ada seorang yang perlu diwaspadai, yakni pemimpin pasukan yang kemarin membawa bantuan untuk Panarukan sebanyak lima ratus prajurit, itu tugas kalian untuk memyelesaikannya" kata Senapati Agung Demak.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Ranapati dan Tumenggung Palang Nagara.

"Para prajurit yang berada di pasukan induk, dipimpin oleh Tumenggung Suranata, sedangkan Tumenggung Gajah Birawa tetap berada disampingku" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Suranata.

"Baiklah, marilah sekarang kita berangkat, para Senapati Pengapit dan Tumenggung segera bersiap dan kembali ke dalam pasukan" kata Senapati Agung.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata para Tumenggung, kemudian merekapun segera berpencar menuju posisi masing-masing.

Di sapit kanan, Panji Kertapati berjalan maju ketika melihat Tumenggung Gagak Anabrang menuju kearahnya.

"Bagaimana Ki Tumenggung?" tanya Panji Kertapati. 

"Kita tetap berada di sapit kanan Ki Panji" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Ya Ki Tumenggung" kata Panji Kertapati dari kesatuan Wira Braja.

"Kalau aku nanti terikat oleh lawanku, kau ambil alih pimpinan di sapit kanan, beri perintah yg penting kepada para prajurit di sayap kanan" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

"Tumenggung Ranapati juga berada di sapit kanan bersama kita, Ki Tumenggung bertugas mencari pimpinan lawan lainnya di sayap kiri pasukan Panarukan" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita