Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 42 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 42 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Tumenggung Surapati" kata Sultan Trenggana.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala.

"Di beberapa sungai yang lebar telah kau persiapkan beberapa rakit untuk menyeberang?" tanya Kanjeng Sultan.

"Sudah Kanjeng Sultan, semua sungai yang akan kita lewati sudah kita buatkan beberapa buah rakit yang akan disambung berjejer sehingga bisa dilewati oleh para prajurit" kata Tumenggung Surapati menjelaskan.

"Baiklah, lalu Ki Patih Wanasalam dan para Tumenggung semua, selama aku berangkat ke bang wetan, maka untuk sementara pemerintahan di Kasultanan Demak aku limpahkan kepada Ki Patih Wanasalam" kata Sultan Trenggana.


"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam menyanggupi.

"Sedangkan nanti di Panarukan, kalau aku berhalangan maka yang memimpin semua pasukan Demak adalah Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan selanjutnya.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

“Nah, sekarang kita tinggal menunggu kedatangan pasukan dari bang kulon yang akan datang hari ini, setelah itu persiapkan diri kalian, besok pagi kita akan berangkat ke bang wetan” demikian perintah Kanjeng Sultan.

Setelah berbicara beberapa hal lagi, Sultan Trenggana menganggap yang disampaikannya sudah cukup, maka Kanjeng Sultanpun berjalan keluar ruangan diikuti oleh Patih Wanasalam dan Tumenggung Gajah Birawa. 

Setelah Kanjeng Sultan keluar ruangan, maka Arya Penangsang beserta para Tumenggung yang hadir segera berdiri dan berjalan keluar ruangan. 

Tumenggung Siung Lautpun kemudian berjalan menuju pintu gerbang Kraton, disana telah menunggu tiga orang prajurit kesatuan tempur laut Jala Pati.

"Bagaimana Ki Tumenggung?" tanya salah seorang prajurit itu. 

"Kalian berdua, kau dan kau, berangkat ke Keling sekarang, katakan kepada Ki Panji Sokayana, kita akan berangkat besok pagi, nanti perahu yang dari Keling supaya bergabung dengan perahu yang berangkat dari Wedung, katakan juga kepada Ki Panji Sokayana jangan berangkat dulu, tunggu kedatanganku, kita akan berangkat bersama-sama dua puluh delapan perahu, sedangkan delapan perahu nanti akan dipersiapkan untuk menyeberangkan pasukan di bengawan di sebelah barat Gresik" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik ki Tumenggung" kata prajurit Jala Pati.

Kemudian dua orang prajurit itu naik ke atas pungung kuda, lalu dua ekor kuda itu segera berlari ke timur menyeberang sungai Tuntang, lalu berlari ke utara, dilanjutkan menuju ke timur, ke arah Keling, tempat pemusatan kekuatan pasukan tempur laut Jala Pati disebelah timur bandar Jepara. 

Di depan gerbang Kraton, Tumenggung Siung Lautpun bersiap akan meninggalkan Kraton. 

"Kita kembali ke Wedung" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik Ki Tumenggung" kata prajurit Jala Pati.

Tumenggung Siung laut kemudian naik ke punggung kuda, dengan cepat diikuti pula oleh seorang prajuritnya, dan sesaat kemudian dua ekor kuda berlari meninggalkan alun-alun menuju ke arah utara. Debu mengepul dibelakang kaki kuda, ketika dua ekor kuda itu berlari cepat menerobos beberapa semak dan perdu yang berserakan di jalan.

Setelah menyeberangi beberapa sungai kecil, kuda-kuda itu hampir mendekati pantai, dan terasa udarapun sudah mulai berbau angin laut,

Matahari telah mencapai puncaknya, perjalanan kedua orang itu saat ini hampir sampai ke pantai utara, dari jauh terlihat beberapa buah bangunan dari kayu yang digunakan sebagai tempat pemusatan pasukan Jala Pati di daerah Wedung.

Ketika kedua kuda itu semakin dekat, maka terlihatlah ratusan orang yang berada disekitar bangunan, sedangkan dipesisir pantai, terlihat belasan perahu yang siap untuk diberangkatkan ke Panarukan. 

Di depan bangunan yang agak besar, Tumenggung Siung Laut menghentikan kudanya, lalu seorang prajurit Jala Pati berlari mendekati dan memegang kendali kudanya, didekatnya, seorang prajurit mendekat dan menyapa Ki Tumenggung Siung laut.

"Ki Tumenggung" kata orang itu. 

Tumenggung Siung Laut menoleh, lalu iapun berkata :"Ki Rangga Pawira, kumpulkan semua Lurah prajurit, sekarang"

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pawira. 

Kemudian Rangga Pawira menemui beberapa orang prajurit Jala Pati, lalu memerintahkan untuk memanggil semua Lurah Jala Pati.

Tak lama kemudian belasan orang Lurah Jala Pati telah memasuki ruangan, dan disana telah menunggu Tumenggung Siung Laut bersama Rangga Pawira. 

Ki Tumenggung yang dihadap belasan Lurah prajurit, kemudian menjelaskan titah Kanjeng Sultan, tentang keberangkatan ke Panarukan.

"Kita berangkat dua puluh perahu bersama pasukan kita yang berada di Keling, sedangkan yang delapan buah perahu dipakai untuk menyeberangkan pasukan di Bengawan disebelah barat Gresik" kata Tumenggung Siung Laut.

"Ki Rangga Pawira, nanti kau pimpin delapan buah perahu yang dipersiapkan untuk penyeberangan di bengawan di dekat Gresik" kata Tumenggung Siung Laut . 

Ketika Tumenggung Siung Laut sedang berada diruangan bersama dengan belasan Lurah Jala Pati, maka pada saat yang bersamaan, prajurit Wira Manggala yang berangkat dari Pajang, telah sampai di kotaraja Demak, kemudian merekapun bergabung dengan pasukan Wira Manggala yang telah terlebih dulu berada di kotaraja. 

Matahari telah condong kebarat, ketika lebih dari seribu orang prajurit dari Jayakarta, Banten dan tambahan prajurit dari Cirebon telah memasuki kotaraja Demak. 

Suasana di kotarajapun bertambah ramai dengan kedatangan para prajurit dari bang kulon, mereka ditampung di beberapa bangunan yang baru saja dibuat oleh para prajurit Wira Manggala. Ratusan orang yang bertugas di dapurpun bertambah sibuk, beberapa pedati yang memuat bahan makanan telah mengalir ke kotaraja. 

Ketika matahari telah tenggelam di cakrawala, maka langitpun perlahan-lahan meredup, suasana di kotarajapun terlihat ramai, ribuan prajurit telah siap untuk diberangkatkan besok pagi. 

Malam yang gelap, perlahan-lahan menjadi semakin terang dengan terbitnya Sang Matahari di ufuk timur, dan ketika hari menjadi semakin terang, suasana di alun-alun Demak menjadi ramai dengan berkumpulnya para prajurit yang akan berangkat ke bang wetan..

Secara berkelompok, prajurit dari berbagai kesatuan datang dari berbagai arah memadati alun-alun, dengan memakai pakaian yang berwarna warni dari berbagai kesatuan prajurit Demak maupun prajurit dari bang kulon. Alun-alun telah terlihat padat dengan ribuan prajurit, melebar ke beberapa jalan disekitar alun-alun, bahkan memenuhi jalan yang menuju arah Asem Arang.

Disamping pasukan yang bersenjata pedang, terdapat pula kesatuan prajurit yang bersenjata tombak, panah serta beberapa puluh pasukan berkuda. 

Didepan gerbang Kraton, tampak Kanjeng Sultan Trenggana didampingi oleh Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata dari kesatuan pengawal raja, Wira Tamtama. 

Disebelahnya tampak berdiri semua pimpinan kesatuan prajurit Demak, Tumenggung Gagak Anabrang dari kesatuan Wira Braja, Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala, Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan, dan disebelahnya Tumenggung Palang Negara dari pasukan khusus Wira Yudha.

Dibelakang Sultan Trenggana tampak seorang prajurit yang memegang songsong Kasultanan Demak yang berwarna kuning, dibelakangnya, berdiri putra mahkota Kasultanan Demak, Sunan Prawata bersama Ratu Prawata, disebelahnya tampak Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat, lalu disebelahnya berdiri Patih Wanasalam, lalu yang paling ujung berdiri Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Semua kadang sentana Kraton yang tidak kelihatan hadir, hanya Adipati Pajang Hadiwijaya beserta Ratu Mas Cempaka karena Kanjeng Sultan melarang untuk datang menyaksikan keberangkatannya ke Panarukan, demikian juga Kanjeng Sunan Kudus dan Kanjeng Sunan Kalijaga, tidak terlihat diantara semua yang hadir di depan gerbang Kraton. 

Kanjeng Prameswari juga tidak berada bersama Kanjeng Sultan, tetapi Kanjeng Prameswari lebih senang berada didalam kamar bersama putra bungsunya, Pangeran Timur, sedangkan yang duduk dipangkuannya, cucu satu-satunya, putra dari Sunan Prawata, Arya Pangiri. 

Kanjeng Sultan mengedarkan pandangannya, dilihatnya para prajurit Demak beserta prajurit dari bang kulon yang memenuhi alun-alun Demak, bahkan terlihat memanjang memenuhi jalan yang menuju ke barat, kemudian dilihatnya beberapa bendera kesatuan prajurit yang berkibar megah diudara pagi kotaraja Demak. 

Bendera yang berkibar di sebelah kiri adalah bendera kesatuan Wira Braja, yang mempunyai dasar warna pare anom bergambar sebuah Trisula warna hitam, Trisula Sakti, disebelahnya berkibar bendera yang mempunyai dasar warna hitam, bergambar sebuah Cakra berwarna kuning emas, itulah bendera kesatuan Wira Tamtama, Cakra Baskara.

Agak sedikit ke barat, berkibar bendera dari kesatuan Wira Manggala dengan warna dasar putih, bergambar sinar matahari terbit berwarna merah, Surya Sumirat, disebelahnya berkibar bendera dari kesatuan Wira Radya yang berwarna biru dengan gambar sebuah mata tombak yang berwarna kuning, Jati Ngarang.

Didekatnya berkibar dua buah bendera kembar berwarna dasar merah dan lainnya berwarna dasar hitam yang bergambar pisau belati bersilang berwarna putih, itulah bendera Wira Sakti, kesatuan tempur Narapati dan pasukan penggempur Wirapati, disebelahnya berkibar bendera berwarna dasar putih bergambar busur terentang, itulah bendera dari pasukan panah Wira Warasta, sedangkan disebelahnya berkibar bendera berwarna dasar merah bergambar seekor kuda putih dari pasukan berkuda, Turangga Seta.

Disamping bendera-bendera kesatuan prajurit yang berkibar, terdapat beberapa bendera Gula Kelapa yang berukuran sedang, dan yang berkibar ditengah adalah sebuah bendera Gula Kelapa yang berukuran besar, dan di ujung tiang bendera Gula Kelapa terpasang pusaka Kasultanan Demak, sebuah pancasula, tombak berujung lima yang bernama Kyai Wajra.

Kanjeng Sultanpun kemudian melihat di sudut alun-alun, sepasukan dari kesatuan Patang Puluhan yang merupakan sebagian pasukan cadangan Kasultanan Demak, yang hari ini tidak ikut diberangkatkan ke Panarukan.

Ketika semuanya sudah siap berangkat, Kanjeng Sultanpun mengangguk kepada Tumengung Gajah Birawa, maka terdengarlah suara bende yang pertama, dan tak lama kemudian seorang prajurit melepaskan sebuah panah sendaren ke udara yang suaranya bergaung diseluruh alun-alun.

Mendengar gaung suara panah sendaren, maka pasukan segelar sepapan yang berada di alun-alun segera mempersiapkan diri untuk berangkat menuju ke timur. 

Sultan Trengganapun kemudian melangkah menuju kudanya, bersiap untuk berangkat menuju peperangan, diiringi tatapan cemas dari anak-anaknya. Dibelakangnya, semua Tumenggung yang ikut pergi ke bang wetan berjalan menuju kuda masing-masing, yang berada tak jauh dari kuda Kanjeng Sultan.

Yang tidak ikut melangkah maju hanya Patih Wanasalam, Arya Penangsang, Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan, beserta putra dan putri Kanjeng Sultan.

Setelah itu terdengarlah suara bende yang ditabuh untuk kedua kalinya, disusul dengan gaung suara panah sendaren yang terdengar oleh para prajurit yang berada di sekitar alun-alun. Beberapa orang Tumenggung segera menjalankan kudanya menuju masing-masing kelompok pasukannya yang tersebar di seluruh alun-alun, kuda Tumenggung Ranapati menuju ke timur di ujung barisan, kali ini Tumenggung Ranapati bertugas sebagai cucuk lampah pasukan segelar sepapan Kasultanan Demak.

Semua Tumenggung sudah berada di dalam kelompok kesatuannya, hanya Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata tetap berada di kanan dan kiri Kanjeng Sultan, dikelilingi oleh ratusan prajurit Wira Tamtama.

Sultan Trenggana yang memakai busana kesatrian terlihat gagah berada di atas punggung kuda, diapit oleh dua orang Tumenggung Wira Tamtama, pasukan pengawal raja. Ketika terdengar suara bende yang ketiga, maka panah sendarenpun meluncur lagi ke udara, dan bergeraklah ujung pasukan Demak, berderap gagah menuju menggempur Panarukan, daerah yang telah dianggap mbalela karena beberapa kali tidak pernah seba di Kasultanan Demak.

Tumenggung Ranapati dari pasukan Wira Radya yang menjadi cucuking lampah segera menjalankan kudanya tidak terlalu cepat, diikuti oleh pasukan yang dibelakangnya. 

Pasukanpun sudah bergerak cepat ke timur berjalan dengan tegapnya, bendera kesatuan merekapun berkibar megah, ditiup angin pagi di bumi Demak. Belum lama gerak maju pasukan Demak, Tumenggung Ranapati sebagai cucuk lampah sudah sampai di tepi sebelah barat sungai Tuntang yang sudah diratakan sehingga tepi sungaipun menjadi landai.

Demikian banyaknya prajurit yang akan menyerang Panarukan, sehingga ketika cucuk lampah telah sampai di sungai Tuntang, ekor barisan masih tertahan di alun alun.

Tumenggung Ranapati melihat ke sungai Tuntang, di sungai yang airnya mengalir pelan ke utara, telah berjejer lima buah rakit dari bambu, yang diatur sambung menyambung dari tepi sungai sebelah barat hingga ke sebelah timur.

Di tengah sungai, ditancapkan ke dasar sungai, belasan kayu dan bambu yang kuat untuk menahan rakit supaya tidak hanyut terkena aliran sungai Tuntang. Belasan kayu dan bambu ditancapkan di kedua sisi rakit, yang sebelah selatan, rakit diikat kuat dengan kayu yang telah ditancapkan. Sebuah jembatan apung yang sengaja dibuat oleh para prajurit Wira Manggala untuk melancarkan penyeberangan ribuan prajurit Demak.

Maka dimulailah penyeberangan pasukan segelar sepapan dari tepi sebelah barat ke timur, dengan menggunakan sebuah jembatan rakit. Ketika para prajurit mulai melangkah menuruni tepi sungai dan berjalan diatas rakit, maka Rangga Pideksa yang berdiri di tepi sungai berteriak keras :" Lari prajurit !!" 

Maka para prajurit yang berada diatas rakitpun berlari cepat keseberang, sehingga perjalananpun menjadi lancar. Tumenggung Ranapati pun kemudian menyusul berlari menyeberang di atas rakit, dan tak lama kemudian, sampailah Ki Tumenggung ke tepi sungai sebelah timur. 

Tanah ditepi sungai sebelah barat maupun timur yang telah dibuat menjadi landai, sehingga mempermudah gerak maju para prajurit yang berlari diatas rakit. Empat atau lima orang sekaligus bisa berlari diatas rakit susul menyusul, sehingga rakitpun menjadi sedikit bergoyang.

Gerak cepat para prajurit Demak yang berlari diatas rakit, membuat perjalanan pasukan menjadi lancar. Ketika para prajurit yang sudah menyeberang semakin banyak, maka Tumenggung Ranapati yang sudah berada di seberang segera mulai memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan ke timur.

Ribuan prajurit yang disebelah barat masih tertahan, tetapi ribuan prajurit telah berhasil menyeberang dan telah berada disebelah timur, mulai begerak maju.

"Cepat, lari prajurit !!" teriak Rangga Pideksa dari tepi sungai sebelah barat, lalu secara bergelombang terus menerus para prajuritpun berlari mengalir ke timur.

Beberapa saat kemudian para prajurit yang masih berada di sebelah barat menyusut dengan cepat, hampir semuanya telah menyeberang ke timur sedangkan yang masih belum menyeberang hanya Kanjeng Sultan dan beberapa prajurit Wira Tamtama serta sekelompok pasukan berkuda Turangga Seta, 

Sultan Trenggana kemudian turun dari kuda diikuti oleh Tumenggung Suranata beserta Tumenggung Gajah Birawa, dan ketiganyapun bersiap menyeberang. Tiga orang prajurit Wira Tamtama kemudian maju kedepan sambil memegang tali kendali kuda Kanjeng Sultan dan kedua Tumenggungnya.

Sultan Trenggana kemudian turun melewati tepi sungai yang landai, berjalan menuju rakit, diapit oleh kedua orang Tumenggung pengawal raja.

Rakitpun sedikit bergoyang, ketika ketiga orang itu berjalan ke seberang, sedangkan dibelakangnya telah bersiap menyeberang tiga prajurit Wira Tamtama yang sedang menuntun kuda.

Beberapa saat kemudian Sultan Trenggana beserta kedua Tumenggungnya telah sampai diseberang, disusul dengan naiknya tiga ekor kuda ke tepi sungai yang dituntun oleh tiga orang prajurit Wira Tamtama.

Setelah itu, dibelakangnya berjalan sambil menuntun kuda, pandega pasukan berkuda Kasultanan Demak, Panji Honggopati, kemudian diikuti oleh puluhan prajurit Turangga Seta menyeberangi rakit dengan menuntun kudanya, satu persatu mereka berjalan diatas rakit yang melintang diatas sungai Tuntang.

Ketika semua sudah naik ke seberang, maka Kanjeng Sultan, Tumenggung Gajah Birawa, Tumenggung Suranata dan puluhan prajurit Turangga Seta kemudian naik ke punggung kuda. Kanjeng Sultanpun kemudian menjalankan kudanya, menyusul pasukan yang telah berada jauh didepan, diikuti oleh kedua Tumenggung Wira Tamtama dan dibelakangnya berlari puluhan ekor kuda dengan prajurit Turangga Seta berada di punggungnya. 

Tak lama kemudian Sultan Trenggana telah dapat menyusul barisan yang berada didepannya, dan mereka kemudian merapat menjadi satu menjadi sebuah barisan yang sangat panjang.

Matahari merayap dilangit semakin tinggi, satu demi satu barisan dengan cepat melewati beberapa sungai kecil yang melintang disepanjang jalan

Menjelang sampai di Kudus, pasukan Demak melewati sungai Serang, sungai yang lebarnya hampir sama dengan sungai Tuntang. Di sungai Serang yang telah dibuatkan jembatan apung, para prajurit bisa melewati jembatan dengan berlari cepat diatas beberapa rakit yang terhubung memanjang. 

Setelah beberapa kali beristirahat, pada saat matahari akan terbenam, sampailah pasukan itu di sebuah tanah lapang yang luas di daerah Pati, sebuah tanah lapang yang tidak jauh dari sebuah sungai yang dapat dipakai untuk membersihkan diri.

Disana sudah terdapat beberapa buah gubug yang telah dibangun oleh para prajurit, beberapa hari yang lalu. Disudut lapangan, ada beberapa pedati yang memuat bahan makanan yang akan digunakan untuk makan malam ribuan prajurit, disampingnya juga ada beberapa kuda beban, yang sebagian bebannya telah diturunkan. Pedati-pedati itu, sebagian pasokan bahan makanannya berasal dari beberapa petinggi di daerah Pati, yang ikut mendukung penyerangan Demak ke bang wetan.

Kanjeng Sultan kemudian memasuki sebuah gubug bersama kedua Tumenggung Wira Tamtama, sebuah gubug yang didalamnya terdapat songsong Kasultanan Demak.

Ketika malam telah menyelimuti tanah lapang tempat pasukan Demak bermalam, seorang prajurit Wira Tamtama yang berkerudung kain panjang sambil bersandar pada sebatang pohon, sedang berbicara dengan seorang prajurit yang berada disebelahnya.

"Mudah-mudahan pedang pendekku masih ada gunanya di peperangan nanti, Soma" kata prajurit Wira Tamtama itu.

"Ya Tumpak, mudah-mudahan kita masih bernasib baik" kata Soma sambil menguap, kelelahan setelah sehari penuh berjalan kaki dari kotaraja Demak ke Pati.

Tumpak hanya menghela napas panjang, ia berusaha untuk tidur, supaya besok masih mampu berjalan sehari penuh lagi.

"Tidurlah, biar besok pagi tenagamu bisa pulih kembali" kata Tumpak sambil menarik kainnya lebih rapat lagi, sehingga menutupi seluruh tubuhnya .

Malam itu hanya suara binatang malam yang memenuhi udara perkemahan, seisi perkemahanpun telah terlelap tidur dengan berselimut kain panjang.

Ketika lintang panjer rina semakin cemerlang, fajarpun telah menyingsing, seisi perkemahan telah menggeliat terbangun, ribuan prajurit kemudian mendapat jatah makan pagi, lalu bersiap untuk melanjutkan perjalanan menuju ke timur.

Ketika matahari mulai menapak naik di langit sebelah timur, barisan segelar sepapan Kasultanan Demak beserta ribuan prajurit dari bang kulon telah mulai bergerak ke timur, beberapa sungai kecil yang melintang di jalan telah dapat dilalui dengan mudah, bahkan sungai Juwana yang selebar sungai Serangpun telah dapat dilewati oleh para prajurit dengan berlari diatas jembatan apung.

Matahari telah condong kebarat, ketika pasukan Demak yang berjalan ke timur telah melewati daerah Lasem. Barisan yang panjang saat itu menyusuri tepi pantai, dan di arah utara, tidak jauh dari pantai, terlihat puluhan perahu dari pasukan tempur laut Jala Pati yang membayangi perjalanan pasukan yang berjalan kaki.

"Itu pasukan Jala Pati" kata Tumpak kepada prajurit disebelahnya.

"Ya, pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Siung Laut" kata prajurit Wira Tamtama disebelahnya. 

Saat itu, di dalam salah satu perahu, Tumenggung Siung Laut melihat beberapa bendera yang dibawa oleh pasukan yang berjalan kaki.

"Itu pasukan Demak " kata Tumenggung Siung Laut kepada seorang Rangga disebelahnya.

"Ya Ki Tumenggung, setelah melewati Lasem, mereka terus berjalan menyusuri pantai sampai di Tuban" kata Rangga Pawira.

"Dimana mereka akan bermalam?" tanya Ki Tumengung.

"Didepan Ki Tumenggung, disebelah sungai yang tidak jauh dari gerumbul itu" kata Rangga Pawira sambil menunjuk ke sebuah gerumbul yg berada di tepi pantai. 

"Ki Panji Sokayana pasti sudah melhatnya" kata Tumenggung Siung Laut.

Di atas perahu lainnya, Panji Sokayana telah melihat pula bendera-bendera kesatuan prajurit yang berjalan di tepi pantai.

"Itu pasukan yang berjalan kaki" kata Panji Sokayana kepada seorang Lurah prajurit Jala Pati yang berada disebelahnya. 

"Ya Ki Panji" jawab Lurah prajurit itu. 

"Sebentar lagi para prajurit akan beristirahat dan bermalam di dekat gerumbul yang berada didepan itu" kata Panji Sokayana.

"Ya Ki Tumenggung" kata Lurah prajurit yang disebelahnya, dan perlahan-lahan semua perahu Jala Pati bergerak tertiup angin menuju ke arah timur, membayangi perjalanan prajurit Demak yang berjalan kaki.

Di dalam perahu yang ditumpangi pandega kesatuan Jala Pati, Tumenggung Siung Laut bersama Rangga Pawira sedang memperhatikan gerak ribuan prajurit Demak yang terlihat di kejauhan. 

"Ki Rangga, kau sebaiknya berangkat ke tepi bengawan sekarang, kau pimpin delapan buah perahu, kau tunggu para prajurit ditepi sebelah barat bengawan" kata Tumenggung Siung Laut.

"Baik Ki Tumenggung" kata Rangga Pawira. 

Sesaat kemudian Ki Rangga mengambil sebuah galah bambu yang panjangnya sedepa, diujungnya terdapat bendera berwarna merah, lalu digerakkan kekanan dan kekiri, sehingga terlihat dari perahu yang bergerak disampingnya.

Tak lama kemudian sebuah perahu yang berukuran agak kecil bergerak mendekati perahu Ki Tumenggung, dan setelah kedua perahu menjadi dekat, maka Rangga Pawirapun melompat, pindah ke perahu disebelahnya.

Ketika senja telah membayang, Ki Tumengung melihat pasukan Demak berhenti di pinggir pantai yang landai dan agak luas, maka Ki Tumenggungpun kemudian memerintahkan perahu untuk berhenti, tidak jauh dari perkemahan prajurit Demak.

Seorang prajurit Jala Pati kemudian mengibarkan bendera berwarna hitam, dan sesaat kemudian perahu-perahupun berhenti, kecuali delapan perahu yang berukuran agak kecil, meneruskan perjalanan masuk ke dalam muara bengawan di sebelah barat Gresik. 

Beberapa prajurit mengeluarkan beberapa buah batu pemberat yang diikat dengan tali, diturunkan ke dasar laut, supaya perahu tidak dapat hanyut terseret arus laut. Beberapa perahu telah berhenti, meskipun perahu masih sedikit bergoyang karena terkena alun ombak yang bergelombang menuju pantai.

Di perahu yang lain, Rangga Pawira kemudian memimpin delapan buah perahu yang terus berlayar menuju ke timur, meneruskan perjalanan serta meninggalkan perahu-perahu lainnya yang berhenti di belakangnya. 

Tumenggung Siung Laut melihat delapan buah perahu yang menuju muara bengawan, telah melaju semakin jauh ke timur,

Mataharipun telah lama tenggelam, di perkemahan prajurit Demak, para prajuritpun telah beristirahat di beberapa gubug maupun disekitarnya, hanya terlihat beberapa prajurit yang sedang bertugas, mereka berjaga secara bergantian. Di beberapa perahu yang berlabuh tidak jauh dari pesisir, juga tidak ada kegiatan apapun, puluhan prajurit beristirahat di geladak, angin laut yang kencang membuat para prajurit lebih merapatkan kain panjangnya. 

Tumenggung Siung Laut menengadahkan wajahnya, dilihatnya gemerlap ribuan bintang di angkasa, beberapa bintang terlihat sedang bergerak berpindah tempat.

"Ada beberapa lintang ngalih malam ini" kata Ki Tumenggung.

Sebagai seorang pelaut sejak usia masih muda, dan pernah ikut didalam armada Demak menyerang Malaka dibawah pimpinan Pati Unus, Ki Tumenggung Siung Laut sudah sangat akrab dengan suasana malam di tengah laut. 

"Selama bintang gubug penceng tidak tertutup awan, aku tidak akan kehilangan arah" kata Tumenggung Siung Laut dalam hati, dilihatnya dilangit arah pesisir, empat buah bintang yang berbentuk seperti sebuah layang-layang, bintang gubug penceng, yang ujungnya menunjuk ke arah selatan

Ketika malam telah berakhir, langit diufuk timurpun telah membayang warna merah, hari yang baru telah dimulai, hari yang melelahkan buat para prajurit Demak.

Ketika langit sudah semakin terang, Tumenggung Siung Laut melihat ke arah pantai, bendera yang dibawa para prajurit Demak telah terlihat bergerak maju, maka Ki Tumenggungpun segera menggerakkan perahunya maju membayangi perjalanan prajurit yang berjalan kaki. 

Perjalanan para prajurit menyusuri pantai berjalan cepat, beberapa prajurit yang berjalan di depan telah mencabut pedang pendeknya, beberapa sulur maupun perdu yang mengganggu perjalanan prajurit di babat habis.

"Hari ini apakah kita bisa mencapai kadipaten Tuban?" tanya Soma kepada prajurit yang berjalan disebelahnya. 

Sebelum prajurit disebelahnya menjawab, terdengar suara dibelakangnya, menjawab pertanyaannya. 

"Belum, masih jauh, baru besok siang kita sampai di Tuban, nanti kita masih bermalam di pesisir sebelum sampai di Tuban" kata suara Lurah Mada yang berada di belakangnya.

Merekapun masih berjalan terus, setelah matahari hampir terbenam, ribuan prajuritpun telah beristirahat, dan kembali mereka bermalam di sekitar pesisir pantai. 

Keesokan harinya, ketika para prajurit melanjutkan perjalanannya, kota kadipaten Tuban telah berada didepan mata, dan ketika matahari telah berada di atas langit, merekapun tiba di Tuban, dan pasukan Demakpun telah beristirahat, dan para prajuritpun mendapat suguhan makan siang dari Adipati Tuban.

Jumlah pasukan Demak telah bertambah dengan bergabungnya ratusan prajurit bang wetan yang telah menunggu di kota Tuban. 

Setelah Kanjeng Sultan selesai beristirahat dan telah menerima penyerahan prajurit dari Adipati Tuban, maka Sultan Trengganapun segera memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanannya kembali.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita