Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 41 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 41 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Ya Kanjeng Adipati, menaklukkan Panarukan adalah bukan sebuah pekerjaan yang sulit bagi Demak. Kelihatannya Kanjeng Sultan memang menganggap perang ini bukan suatu perang yang berat" kata Patih Matahun.

"Ya paman, pasukan Demak menang dalam jumlah dan menang dalam perbandingan kemampuan tempur" kata Adipati Jipang. 

"Kalau Kanjeng Adipati Jipang tidak diperbolehkan ikut perang, kemungkinan besar semua anak dan menantunya tidak boleh ikut perang ke Panarukan" kata Patih Matahun.


"Ya, kelihatannya Kanjeng Sultan cukup hanya mengandalkan para Tumenggung yang ada pada pasukan tempur Demak" sahut Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati, kekuatan prajurit Kasultanan Demak sudah cukup untuk menaklukkan Panarukan" kata Patih Matahun

"Memang perhitungannya begitu paman, tetapi aku akan tetap ke Demak besok bersama Rangkud, dan aku akan menginap di Panti Kudus, kau tunggu di sini, paman" kata Sang Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati" sahut Patih Matahun.

"Secepatnya paman Matahun supaya mengadakan pendadaran untuk menjadi calon prajurit Jipang, nanti paman bisa dibantu oleh para Soreng dari gunung Lawu, kalau bisa mulai besok pagi sudah menyebar wara-wara diseluruh Jipang, dan libatkan semua murid Panembahan Sekar Jagad, biar mereka bekerja untuk kepentingan Kadipaten Jipang" kata Adipati Jipang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Patih Matahun.

Keesokan harinya, ketika Lurah Radya berpamitan akan berangkat ke kotaraja Demak, maka Arya Penangsang bersama Rangkudpun bersiap akan berkuda menuju Kudus.

"Kita akan bersama-sama ke Demak, terapi aku akan ke Kudus terlebih dulu Ki Lurah" kata Arya Penangsang.

Maka berangkatlah lima belas orang prajurit Wira Manggala berjalan kaki menuju kotaraja, untuk bergabung dengan pasukan yang lain, yang akan berangkat perang ke Panarukan. 

Beberapa saat kemudian dua ekor kuda keluar dari dalem Kadipaten Jipang menuju Kudus, salah satu diantaranya adalah seekor kuda tegar berwarna hitam, Gagak Rimang, dengan Arya Penangsang berada diatas punggungnya.

Ketika didepannya ada rombongan prajurit Wira Manggala yang berjalan menuju kotaraja Demak, maka Arya Penangsang berkata kepada pemimpin prajurit :" Ki Lurah Radya, aku mendahului !" 

"Silahkan Kanjeng Adipati" kata Ki Lurah Radya. 

Kembali Gagak Rimang berderap melaju meninggalkan debu yang mengepul dibelakangnya. 

Sementara itu di pesanggrahan Kalinyamat, Pangeran Hadiri juga telah menerima nawala dari utusan Kanjeng Sultan yang isinya akan menarik prajurit yang berada di daerah Kalinyamat, selain itu juga melarang Pangeran Hadiri untuk ikut berangkat perang ke Panarukan. 

"Mungkin Ayahanda Sultan cukup berangkat dengan beberapa orang Tumenggung kepecayaannya" kata Ratu Kalinyamat, demikian juga di daerah Prawata, Putra Mahkota Kasultanan Demak, Sunan Prawata juga dilarang ikut ke Panarukan, selain itu prajurit yang berada di daerah Prawata juga ditarik ke Demak. 

"Prajurit yang ada di Prawata ditarik ke kotaraja Demak" kata Sunan Prawata kepada Ratu Prawata.

"Ya Kanjeng Sunan" kata Ratu Prawata.

"Aku juga tidak diperbolehkan ikut ke Panarukan" kata Sunan Prawata sambil menyentuh wrangka keris pusakanya, Kyai Bethok.

"Ya Kanjeng Sunan" kata Kanjeng Ratu Prawata yang merasa senang suaminya tidak diperbolehkan ikut karena mempunyai sedikit kelemahan di penglihatannya.

Sama seperti di Jipang, di Kalinyamat maupun di Prawata, di Kadipaten Pajang, utusan Kanjeng Sultan sudah sampai di dalem Kadipaten dan diterima oleh Adipati Hadiwijaya yang saat itu sedang dihadap nayaka praja Kadipaten Pajang bersama Lurah Wira Manggala Demak, Lurah Wasana.

Prajurit Wira Manggala utusan Kanjeng Sultan itupun segera menyerahkan nawala dari Kanjeng Sultan, dan ketika Adipati Hadiwijaya membaca surat itu, maka iapun mengangguk-anggukkan kepalanya :"Ternyata perhitungan siwa Kebo Kanigara betul, Demak akan berperang melawan bang wetan, ternyata Panarukan yang akan digempur oleh pasukan Demak dari darat dan dari laut"

"Ki Lurah Wasana" kata Adipati Hadiwijaya :"Prajurit Wira Manggala yang bertugas di Pajang akan ditarik ke kotaraja Demak, silahkan kalau Ki Lurah akan berangkat besok pagi"

"Ya Kanjeng Adipati, kami akan berangkat besok pagi, bersama prajurit utusan Kanjeng Sultan" kata Lurah Wasana. 

Malam harinya, dengan hati-hati Adipati Hadiwijaya berbicara dengan Ratu Mas Cempaka tentang nawala dari Kanjeng Sultan.

"Jadi Ayahanda Sultan empat hari lagi akan berangkat perang ke Panarukan, dan Kanjeng Adipati tidak boleh ikut perang?" tanya Sang Ratu.

"Ya Ratu" kata Adipati Hadiwijaya.

"Kanjeng Adipati, rasa hati ini merasa was-was melepas Kanjeng Sultan berangkat perang ke bang wetan" kata Ratu Pajang, dan tanpa terasa air matanyapun mengalir, mengingat ayahanda Sultan yang empat hari lagi akan berangkat perang ke Panarukan.

"Ya Ratu" kata Sang Adipati.

Sesaat kemudian, Adipati Hadiwijaya berkata ;"Ratu, besok aku akan ke Pengging, menemui siwa Kebo Kanigara" kata Adipati Hadiwijaya. 

"Ya Kanjeng Adipati, jangan lama-lama Kanjeng Adipati, setelah tahu akan ada perang, hamba menjadi takut kehilangan sesuatu" kata Ratu Mas Cempaka.

"Ya Ratu, setelah selesai bertemu siwa Kebo Kanigara, aku akan segera kembali ke Pajang" kata Sang Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati, besok kalau ke Pengging, Kanjeng akan berangkat pagi hari?" tanya Ratu Mas Cempaka.

"Agak siang Ratu, biar prajurit Wira Manggala Demak berangkat terlebih dahulu" kata Adipati Hadiwijaya.

Malam itu suasana di dalem Kadipaten Pajang terlihat sepi, beberapa penghuni sekitar dalem Kadipaten telah tertidur, tengah malam, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara kentongan yang ditabuh dengan irama pelan semakin lama semakin cepat, setelah itu kembali berangsur-angsur menjadi pelan lagi, dan sesaat kemudian suara kentonganpun berhenti. 

"Dara muluk" kata Wenang Wulan, lalu iapun kemudian bangkit berdiri dan menabuh kentongan di pendapa dengan nada yang sama, dara muluk.

Di ujung malam ketika fajar telah menyingsing di arah timur, seisi bumi Pajangpun telah terbangun, saat itu Lurah Wasanapun kemudian mempersiapkan diri bersama prajurit Wira Manggala yang diperbantukan di Pajang.

"Sebentar lagi kita berangkat" kata Lurah Wasana. 

"Baik Ki Lurah" kata beberapa orang prajurit Wira Manggala.

Ketika langit menjadi semakin terang, maka Lurah Wasanapun berpamitan kepada Adipati Hadiwijaya di pendapa Kadipaten.

"Terima kasih, hati-hati di jalan Ki Lurah Wasana" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati, rombongan akan berangkat sekarang" kata Ki Lurah, lalu iapun segera bersiap untuk berangkat ke Demak bersama belasan prajurit Wira Manggala, dan sesaat kemudian para prajuritpun berangkat menuju Demak, disaksikan beberapa nayaka praja Kadipaten Pajang.

Mataharipun masih tetap merambat naik, dan ketika matahari sudah tinggi, maka Adipati Hadiwijaya bersiap untuk pergi ke Pengging.

"Aku berangkat sekarang ke Pengging Ratu" kata Sang Adipati.

"Hati-hati dijalan Kanjeng Adipati" kata Ratu Mas Cempaka.

Ketika sampai di pendapa, maka Sang Adipatipun berkata kepada Pemanahan :"Nanti malam kita berkumpul di pendapa guna membicarakan surat dari Kanjeng Sultan" 

"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

Adipati Pajangpun kemudian turun dari pendapa, lalu naik ke atas punggung kudanya kemudian dilarikannya menuju Pengging.

"Mudah-mudahan siwa Kanigara berada dirumah" katanya dalam hati.

Kudanya masih terus melaju, jalan yang sedikit menanjak tidak menghambat laju kuda Adipati Pajang. Beberapa saat kemudian kudanya telah memasuki batas desa Pengging dan terus dilarikan perlahan menuju rumahnya yang terlihat paling besar di seluruh Pengging.

Ketika kudanya berjalan memasuki halaman, penunggu rumahnya, sedang menjemur jagung di sudut halaman. Adipati Hadiwijaya kemudian turun dari punggung kudanya, lalu iapun bertanya kepada penjaga rumahnya.

"Siwa Purwa, siwa Kanigara berada dirumah ?" 

"Ada angger Adipati, siwamu Kanigara berada di ruang dalam" sahut Ki Purwa sambil menghampiri dan memegang tali kendali kudanya, kemudian kuda itu dituntunnya ke bawah pohon.

Hadiwijaya kemudian berjalan naik ke pendapa, setelah mengucapkan salam, iapun memasuki ruang dalam, disana dilihatnya siwanya sedang duduk di amben menunggu dirinya.

"Duduklah Hadiwijaya" kata Kebo Kanigara perlahan.

Adipati Hadiwijaya kemudian mencium tangan uwanya, lalu iapun duduk didepan uwanya Kebo Kanigara.

"Sudah beberapa hari aku berada disini, menunggumu Hadiwijaya" kata uwanya.

"Ya wa, baru kemarin ada utusan dari Kanjeng Sultan yg datang di Pajang" kata Adipati Pajang. 

"Membicarakan soal perang?" tanya uwanya.

"Ya wa, utusan itu membawa nawala dari Kanjeng Sultan, yang mengatakan akan menarik prajurit Wira Manggala, dan saya tidak diperbolehkan ikut perang ke Panarukan" kata adipati Hadiwijaya.

"Panarukan, jadi Panarukan yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya Kebo Kanigara.

"Ya wa" jawab Adipati Pajang.

"Kalau kau tidak boleh ikut perang, kemungkinan besar Sunan Prawata, Pangeran Hadiri ataupun Arya Penangsang juga tidak diajak ke Panarukan" kata uwanya.

"Ya wa, utusan itu memang baru saja datang dari Jipang, dari sana ia menuju ke Pajang" kata Hadiwijaya.

"Lalu apa yang akan kau perbuat Hadiwijaya?" tanya Kebo Kanigara yang ingin tahu apa yang akan diperbuat oleh kemenakannya.

"Saya hanya bisa menunggu wa, baru nanti malam akan dibicarakan dengan nayaka praja Pajang, mungkin besok hanya mengirim beberapa prajurit sandi Pajang ke Panarukan" kata Hadiwijaya.

"Tepat, paling tidak kau kirim enam atau tujuh prajurit sandi ke Panarukan, perhitunganku, Jipang juga akan mengirim pasukan sandi ke Panarukan, Arya Penangsang pasti ingin mengetahui apa yang terjadi di medan pertempuran" kata uwanya.

"Ya wa, paling lambat lusa prajurit sandi sudah diberangkatkan ke Panarukan" kata Sang Adipati.

Pembicaraan mereka berdua terhenti, ketika siwa Purwa keluar dengan membawa wedang jahe beserta pisang rebus.

"Wedang jahenya diminum Kanjeng Adipati" kata Ki Purwa.

"Ya wa Purwa" kata Adipati Hadiwijaya sambil mengambil sebuah pisang rebus.

"Pisangnya enak Kanjeng Adipati, tidak terlalu lembek" kata pembantu setia ayahnya itu.

"Ya wa, memang enak pisangnya" kata Adipati Pajang.

Setelah meletakkan wedang dan pisangnya, maka pembantu ayahnyapun kemudian berjalan ke belakang rumah.

"Bagaimana tanggapan istrimu tentang nawala Kanjeng Sultan, Hadiwijaya" tanya uwanya.

"Saat ini Ratu merasa khawatir dan ketakutan wa, nanti setelah dari sini, saya langsung pulang ke Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, adalah hal yang wajar, apalagi untuk seorang perempuan, ketika mengetahui ayahandanya akan maju berperang, timbul perasaan didalam dirinya, kekhawatiran akan kehilangan sesuatu" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, lalu siwa akan berada di Pengging sampai kapan?" tanya Adipati Pajang.

"Besok pagi aku akan berangkat ke kotaraja Demak, setelah itu akupun akan pergi ke Panarukan" kata uwanya.

"Ke Panarukan? Kenapa wa?" tanya Adipati Pajang.

"Melihat perang" kata uwanya sambil tersenyum. 

Adipati Hadiwijayapun juga tersenyum, meskipun Kebo Kanigara tidak mau melibatkan diri secara langsung didalam perang Panarukan, uwanya pasti tidak akan melewatkan menyaksikan perang besar yang melibatkan Sultan Trenggana, yang akan terjun dipeperangan sebagai Senapati Agung pasukan segelar sepapan dari Kasultanan Demak.

Tidak lama Adipati Hadiwijaya berada di Pengging, setelah berbicara berbagai persoalan, maka Sang Adipatipun mohon pamit kembali ke Pajang.

"Saya pulang dulu ke Pajang wa" kata Hadiwijaya.

"Hati-hati dijalan Hadiwijaya" kata uwanya.

"Ya wa" kata Adipati Hadiwijaya sambil mencium tangan uwanya.

Setelah itu Adipati Hadiwijaya keluar dari rumah orang tuanya, turun dari pendapa lalu berjalan menuju ke kudanya yang tali kendalinya tertambat dibawah pohon, lalu beberapa saat kemudian, keluarlah seekor kuda dari halaman rumah Ki Ageng Pengging dengan Adipati Hadiwijaya berada dipunggungnya.

Kuda itu terus berlari menuju Pajang, meninggalkan debu yang beterbangan dibelakang kaki kuda.

Matahari telah mencapai puncaknya ketika Sang Adipati memasuki daerah bulak amba yang sekarang telah menjadi dalem Kadipaten. 

Sementara itu keadaan di kotaraja semakin ramai oleh berbagai kesatuan prajurit yang telah ditarik ke kotaraja Demak. Ribuan prajurit telah siaga di kotaraja, setiap saat siap untuk diberangkatkan ke bang wetan, ke Panarukan.

Beberapa puluh kuda beban dengan muatan bahan makanan, kemarin telah mendahului berangkat ke timur serta dikawal oleh para prajurit Wira Manggala. Keadaan di kotaraja Demak bertambah ramai, ketika lebih dari seribu prajurit dari Cirebon dan dari beberapa daerah di bang kulon telah tiba di kotaraja Demak.

"Besok pagi akan datang seribu prajurit dari daerah bang kulon lainnya" kata salah seorang pimpinan prajurit bang kulon.

Siang itu, Tumenggung Surapati terkejut, ketika seorang prajurit sandi yang ditugaskan di bang wetan bergegas menemuinya.

"Kau prajurit sandi yang ditugaskan di bang wetan?" tanya Tumenggung Surapati. 

"Ya Ki Tumenggung" kata prajurit sandi.

"Kau bawa kabar dari Panarukan?" tanya Ki Tumenggung.

"Ya Ki Tumenggung" kata prajurit sandi itu.

Kemudian prajurit sandi itu bercerita tentang apa yang diketahuinya di bang wetan.

Setelah menerima laporan dari prajurit sandi, kemudian Tumenggung Surapatipun, berjalan menghadap Kanjeng Sultan Trenggana yang saat itu berada di ruang dalam bersama Tumengung Gajah Birawa. 

Tumenggung Surapati yang memimpin prajurit Wira Manggala itupun menyembah kepada Kanjeng Sultan, lalu Ki Tumenggungpun duduk bersila didepan Kanjeng Sultan. 

"Tumenggung Surapati, ada perlu apakah kau menghadapku tanpa dipanggil?" tanya Kanjeng Sultan

"Mohon maaf Kanjeng Sultan, baru saja ada seorang prajurit sandi yang bertugas di bang wetan, membawa sebuah kabar penting tentang gerakan pasukan bang wetan di Panarukan, Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Surapati.

"Ada kabar apa, Tumenggung Surapati?" tanya Sultan Trenggana.

"Dari Kadipaten Blambangan, telah bergerak ke Panarukan lebih dari seribu prajurit yang dipimpin oleh sentana Kadipaten yang bernama Menak Alit" kata Tumenggung Surapati. 

"Hm, ternyata Blambangan bekerja sama dengan Panarukan" kata Kanjeng Sultan didalam hatinya.

"Ya, kemungkinan masih ada bantuan pasukan lagi yang akan mengalir ke Panarukan" kata Kanjeng Sultan. 

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan Trenggana. 

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Besok pagi kumpulkan para Tumenggung dan para Panji yang akan memimpin pasukan tempur" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Ki Tumenggung.

Setelah itu Tumenggung Surapati keluar dari ruangan, dan dipintu depan Tumenggung Surapati mengangguk hormat ketika bertemu dengan seseorang yang berkumis melintang yang akan menghadap Kanjeng Sultan. 

Orang itu, Adipati Jipang, Arya Penangsang, membalas mengangguk hormat, lalu berjalan menuju ruang dalam.

Diruangan dalam, Kanjeng Sultan yang sedang berbincang dengan Tumenggung Gajah Birawa melihat Arya Penangsang duduk bersila didepan pintu sambil menundukkan kepala. 

"Masuklah Penangsang" kata Kanjeng Sultan.

Arya Penangsang bergeser masuk kedalam ruangan dengan berjalan jongkok, lalu sesampai dihadapan Kanjeng Sultan, maka Arya Penangsangpun menyembah Kanjeng Sultan. 

"Ada apa Penangsang, tanpa dipanggil kau telah menghadapku?" tanya Kanjeng Sultan. 

Adipati Jipang Arya Penangsang menggeser duduknya, lalu dengan hati-hati ia berkata dengan kepala menunduk. 

"Mohon maaf Pamanda Sultan, bukannya hamba mengabaikan nawala dan merendahkan kemampuan prajurit Demak Pamanda Sultan, tetapi hamba ingin ikut berangkat perang ke Panarukan, syukur kalau hamba bisa ditunjuk sebagai salah satu Senapati Pengapit pasukan Demak" kata Arya Penangsang. 

"Penangsang, kau tidak usah ikut perang ke Panarukan, bukannya aku meragukan kemampuanmu, tetapi sebaiknya kau dirumah saja, kau urus dan bangun Kadipatenmu yang baru saja tumbuh itu" kata Kanjeng Sultan.

"Tetapi Pamanda Sultan, hamba merasa tidak nyaman, kalau hamba hanya berdiam diri dirumah saja, sementara semua prajurit Demak bertempur di Panarukan" jawab Adipati Jipang.

"Baiklah Penangsang, akan aku libatkan kau pada perang ini, besok pagi kau menghadapku disini bersama para Tumenggung dan para Panji" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Pamanda Sultan, sekarang hamba mohon diri" kata Arya Penangsang.

Setelah menyembah Kanjeng Sultan Trenggana, maka Adipati Jipangpun mundur, lalu begeser dan melakukan laku jongkok keluar ruangan. 

Arya Penangsangpun kemudian keluar dari ruangan dalam dan berjalan keluar dari pendapa kraton,

Di kotaraja saat itu keadaan semakin ramai, puluhan gubug telah dibangun untuk menampung ribuan prajurit yang ditarik dan sekarang berada di kotaraja.

Dari beragam pakaian prajurit, tampak berjalan di jalan-jalan utama kotaraja prajurit dari kesatuan pengawal raja Wira Tamtama, Wirabraja, lalu pasukan Wira Radya, Wira Manggala, pasukan panah Wira Warastra, pasukan berkuda Wira Turangga Seta, dan pasukan khusus Wira Yudha, yang didalamnya terdapat pasukan penggempur Wirapati dan pasukan tempur Narapati.

Hanya prajurit dari kesatuan pasukan laut Jala Pati, yang tidak terlihat, karena mereka dipusatkan di daerah Wedung dan Keling, daerah yang dekat dengan Bandar Jepara 

Pasukan kesatuan Patang Puluhan yang merupakan pasukan keamanan kotaraja Demak juga tidak terlihat, dan dari semua prajurit yang sudah ditarik ke kotaraja, hanya prajurit Wira Manggala yang di perbantukan di Kadipaten Pajang yang belum bergabung di kotaraja. Saat ini mereka masih berada diperjalanan, diharapkan besok pagi semua prajurit itu bisa bergabung ke pasukan induknya, sehingga lusa mereka bisa ikut diberangkatkan bersama ke bang wetan.

Siang itu, Pangeran Hadiri bersama istrinya, Ratu Kalinyamat telah datang ke Kraton, kemudian disusul kedatangan Sunan Prawata bersama Ratu Prawata. Meskipun mereka telah dilarang ikut berangkat perang ke Panarukan, tetapi mereka ingin menyaksikan keberangkatan Ayahanda Sultan ke medan perang.

Ketika matahari telah hilang dibalik cakrawala, malampun telah meyelimuti bumi Demak, yang sedang disibukkan oleh persiapan menjelang keberangkatan prajurit segelar sepapan ke medan pertempuran di bang wetan.

Di Pajang, saat itu Adipati Hadiwijaya sedang berbicara dengan semua nayaka praja Kadipaten Pajang. 

"Saat ini Kasultanan Demak dalam persiapan perang dengan Panarukan, dan kemarin Kanjeng Sultan telah mengirim nawala, yang isinya menarik prajurit Wira Manggala yang diperbantukan di Pajang dan melarangku untuk ikut perang ke Panarukan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Nah, apa yang akan kita lakukan kalau pasukan Demak sudah bertempur dengan pasukan Pasuruan?" tanya Adipati Pajang.

"Kanjeng Adipati, sebaiknya kita bisa mengetahui keadaan kedua pasukan yang berperang di Panarukan" kata Pemanahan.

"Ya, kita memang akan mengirim ke Panarukan enam atau tujuh orang prajurit sandi dari kesatuan Wira Sandi Yudha Kadipaten Pajang, dan setiap sepasar atau dua pasar ada yang berangkat ke Panarukan dan ada yang pulang ke Pajang, sehingga kita bisa dengan cepat mengetahui perubahan yang terjadi di medan pertempuran" kata Sang Adipati.

"Wenang Wulan, kau persiapkan prajurit sandi yang akan diberangkatkan, besok pagi berangkatkan mereka berkuda. Dua orang prajurit sandi lainnya kau tugaskan ke kotaraja Demak, pantau keadaan kotaraja setelah para prajurit berangkat ke bang wetan, dan seorang prajurit sandi lagi kau tugaskan ke Kadipaten Jipang" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Wenang Wulan"

"Kakang Pemanahan, kau siagakan semua prajurit Pajang dalam masa perang ini dan kau persiapkan penjagaan dalem Kadipaten, karena prajurit Wira Manggala yang diperbantukan sudah ditarik ke Demak" 

"Ya Kanjeng Adipati, mulai sekarang prajurit Pajang dalam keadaan siap siaga karena Demak dalam suasana perang" kata Pemanahan.

“Ya, dalam suasana seperti ini kita hanya bisa menunggu, karena Kanjeng Sultan melarang aku ikut perang ke Panarukan” kata Adipati Hadiwijaya.

Malam itu, setelah mengadakan pertemuan dengan nayaka praja Pajang, Adipati Hadiwijaya berusaha menenteramkan hati Sang Ratu Pajang :“Ratu, Kanjeng Sultan tentu sudah mempunyai perhitungan tersendiri, kenapa prajurit Demak berani menyerang Panarukan” 

“Ya Kanjeng Adipati, tetapi hamba tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kekhawatiran, karena Ayahanda Sultan sendiri yang akan menjadi Senapati Agung prajurit Demak” kata Ratu Mas Cempaka. 

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, sepi, hanya suara binatang malam yang kadang-kadang terdengar disekeliling dalem Kadipaten Pajang.

Keesokan paginya, ketika langit sudah mulai terang, semua orang sudah mulai terbangun di seluruh Kadipaten Pajang, demikian juga yang terjadi di kotaraja Demak, para prajurit sudah memulai kegiatan untuk mempersiapkan keberangkatan ke medan tempur Panarukan. Para prajurit dari berbagai kesatuan sudah bersiap lahir batin untuk diberangkatkan besok pagi ke bang wetan.

Di ruang dalam Kraton Kasultanan Demak, pagi itu Kanjeng Sultan Trenggana dihadap oleh para nayaka praja Kasultanan Demak, Kanjeng Sultan duduk di kursi, di sebelahnya kanannya duduk Patih Wanasalam, sedangkan disebelah kirinya duduk bersila Tumenggung Gajah Birawa.

Didepan Kanjeng Sultan, duduk berjajar para Tumenggung yang menjadi agul-agul Kasultanan Demak, duduk bersila paling depan Tumenggung Suranata dari kesatuan Wira Tamtama, disebelahnya duduk Tumenggung Gagak Anabrang dari kesatuan Wira Braja, disebelahnya duduk bersila Tumenggung Siung Laut dari kesatuan tempur laut Jala Pati, Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala, Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan, dan disebelahnya Tumenggung Palang Negara dari pasukan khusus Wira Yudha, yang didalamnya terdapat pasukan penggempur Wirapati dan kesatuan tempur Narapati. 

Dibelakang para Tumenggung, terlihat Adipati Jipang, Arya Penangsang yang telah memohon kepada Kanjeng Sultan untuk diikutkan dalam pertempuran di Panarukan.

Kanjeng Sultan kemudian mengedarkan pandangannya, ketika dilihatnya semua Tumenggung yang memimpin pasukan sudah lengkap, maka Kanjeng Sultanpun segera berbicara :“Para Tumenggung, besok pagi kita akan berangkat ke Panarukan, aku harapkan semua pasukan Demak sudah mempersiapkan diri. Setelah kemarin datang seribu orang prajurit, maka nanti siang pasukan bantuan dari bang kulon akan datang lagi lebih dari seribu orang prajurit, yang semuanya akan kita berangkatkan besok pagi bersama-sama dengan prajurit Kasultanan Demak”

“Dari laporan prajurit sandi yang bertugas di bang wetan, kemarin telah bergerak pasukan dari Blambangan untuk membantu Panarukan, tetapi itu tidak berpengaruh apapun juga, jumlah prajurit kita lebih jauh lebih banyak. Besok sewaktu pasukan Demak bertemu dengan pasukan Panarukan, gelar yang kita gunakan adalah gelar Sapit Urang, aku yang bertindak sebagai Senapati Agung, dibantu oleh dua orang Senapati Pengapit yang berada di sebelah kanan dan di sebelah kiri ” kata Sultan Trenggana.

“Tumenggung Palang Negara” kata Kanjeng Sultan.

“Dawuh dalem Kanjeng Sultan” kata Tumenggung Palang Negara, pemimpin pasukan khusus Wira Yudha.

“Nanti pasukan tempur Wirapati dan pasukan Narapati yang tergabung dalam pasukan Wira Yudha, berada di sapit kanan dan sapit kiri gelar Sapit Urang, dilapis oleh pasukan Wira Radya yang bersenjatakan tombak yang dipimpin oleh Tumenggung Ranapati, sedangkan ekor gelar akan menusuk dari arah pesisir, berupa enam ratus prajurit dari pasukan tempur laut yang dipimpin oleh Tumenggung Siung Laut” kata Sultan Demak.

“Besok setelah kedua pasukan berhadapan, aku akan mengangkat dua orang Tumenggung sebagai Senapati Pengapit kanan dan Senapati Pengapit kiri. Tugas Senapati Pengapit sangat berat, karena harus berhadapan dengan senapati Pengapit di sayap kanan dan sayap kiri lawan, yang berilmu tinggi” kata Kanjeng Sultan.

Para Tumenggung banyak yang menghela napas melepaskan ketegangan yang menyelimuti dirinya, kedudukan sebagai Senapati Pengapit adalah suatu kehormatan yang tinggi, dipercaya Kanjeng Sultan yang menjadi Senapati Agung, untuk memimpin pasukan di sayap kanan atau sayap kiri.

“Tumenggung Siung Laut” kata Kanjeng Sultan.

“Dawuh dalem Kanjeng Sultan” kata Tumenggung Siung Laut.

“Besok pagi sudah bisa diberangkatkan dua puluh perahu yang akan membayangi perjalanan pasukan yang bergerak di darat, sisanya delapan buah perahu, persiapkan ditepi bengawan yang sangat lebar di sebelah barat Gresik untuk menyeberangkan ribuan prajurit Demak dan bang kulon, seberangkan semua prajurit kesebelah timur bengawan, siang dan malam” kata Kanjeng Sultan.

“Sendika dawuh Kanjeng Sultan” jawab Tumenggung Siung Laut.

“Tumenggung Jaya Santika“ kata Kanjeng Sultan. 

“Dawuh dalem Kanjeng Sultan” kata Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan.

“Dan kau Arya Penangsang” kata Sultan Trenggana.

“Dawuh dalem Pamanda Sultan” kata Adipati Jipang.

“Tidak semua prajurit akan diberangkatkan ke bang wetan, kita sisakan seribu prajurit cadangan yang siap berangkat setiap saat menyusul ke bang wetan, dan dari seribu orang itu termasuk Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan, serta beberapa kesatuan prajurit lainnya, dan semua pasukan cadangan itu nanti dipimpin oleh Adipati Jipang, Arya Penangsang” kata Kanjeng Sultan.

Arya Penangsang terkejut dan merasa sangat kecewa mendengar keputusan Kanjeng Sultan yang mengangkatnya sebagai pemimpin pasukan cadangan.

“Kenapa aku tidak dijadikan salah seorang Senapati Pengapit, tetapi malah dijadikan pemimpin pasukan cadangan yang memimpin seribu prajurit, yang hanya bisa menunggu di Demak” kata Arya Penangsang dalam hati.

“Penangsang, pasukan cadangan baru bisa bergerak ke bang wetan kalau ada perintah dari Senapati Agung yang nanti akan disampaikan oleh prajurit penghubung” kata Kanjeng Sultan.

“Sendika dawuh Kanjeng Sultan” jawab Adipati Jipang dengan tidak bersemangat.

(bersambung)


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita