Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 40 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 40 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Kalau suatu saat kalian sempat berada di Pajang, mampirlah di dalem Kadipaten" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Tumpak.

Setelah itu Adipati Pajang kemudian naik ke punggung kudanya, sesaat kemudian terdengarlah suara bende yang ditabuh, maka bergeraklah barisan menuju perbatasan kotaraja yang sudah tidak terlalu jauh lagi. 


Sementara itu, di ruangan dalam Kraton, Kanjeng Sultan duduk di kursi dihadap oleh Patih Wanasalam, Tumenggung Suranata, Tumenggung Gajah Birawa, Tumenggung Surapati, Tumenggung Gagak Anabrang, dan Panji Danapati. 

"Tumenggung Surapati" kata Kanjeng Sultan Trenggana.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Surapati, pemimpin prajurit kesatuan Wira Manggala.

"Kau sudah mengirim utusan ke daerah-daerah?" tanya Kanjeng Sultan.

"Prajurit Wira Manggala semuanya sudah berangkat Kanjeng Sultan, ke Pati hingga Gunung Kidul, ke Tegal Arang hingga gunung Slamet, ke bang wetan maupun bang kulon, yang belum diberi tahu tinggal Kadipaten Jipang dan Pajang" jawab Tumenggung Surapati.

"Besok kirim dua orang prajurit Wira Manggala ke Jipang sekaligus ke Pajang, setelah dari Jipang langsung menuju ke Pajang" kata Kanjeng Sultan..

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumeggung Surapati.

"Kau bawa nawalaku ini, berikan kepada Arya Penangsang dan Hadiwijaya" kata Kanjeng Sultan, lalu Kanjeng Sultanpun memberikan dua buah nawala kepada Tumenggung Surapati. Tumenggung Surapatipun kemudian menggeser duduknya sedikit ke depan dan menerima dua buah nawala dari Kanjeng Sultan.

"Selain itu, nanti prajurit yang ke Jipang sekalian membawa sebuah songsong dan sebuah bendera Gula Kelapa untuk Kadipaten Jipang" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jawab K Tumenggung.

"Kita memberangkatkan prajurit ke bang wetan setelah semuanya berkumpul, dari Cirebon aku minta bantuan dua ribu prajurit, kemungkinan mereka sudah dalam perjalanan ke kotaraja, selain itu, lusa kau berangkatkan sepuluh orang prajurit sandi ke Panarukan, laporkan kepadaku kalau ada berita yang penting, siapkan pula untuk perbekalan selama kita dalam perjalanan maupun selama peperangan di Panarukan" perintah Sultan Demak.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati” jawab Tumenggung Surapati.

"Panji Danapati" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Panji Danapati.

"Kau sediakan dana untuk keperluan makan maupun keperluan lainnya, bagi ribuan prajurit Demak maupun Cirebon yang berada di kotaraja nanti, siapkan pula dana untuk perbekalan prajurit kita ke Panarukan" kata Kanjeng Sultan. 

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan” kata Ki Panji.

"Patih Wanasalam" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam.

"Selama aku berada di Panarukan, kau yang memimpin pemerintahan di Kasultanan Demak ini sebagai wakilku, laporkan kepadaku kalau ada sesuatu yang sangat penting" kata Sultan Trenggana.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jawab Ki Patih.

"Tumenggung Gajah Birawa, Tumenggung Suranata dan kau Tumenggung Gagak Anabrang. kalian bertiga mengawasi terus jalannya persiapan perang ini, jangan sampai ada hal yang bisa menyebabkan terganggunya persiapan perang ini" kata Sultan Demak.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata para Tumenggung itu.

Ketika Kanjeng Sultan menganggap pertemuan itu sudah cukup, dan dapat dibubarkan, dan pada saat yang bersamaan, diperbatasan kotaraja, Tumenggung Jaya Santika menghentikan gerak maju rombongan pengantar. Adipati Hadiwijaya kemudian turun dari kudanya, ketika melihat Tumenggung Jaya Santika menghampirinya.

"Kanjeng Adipati, hanya sampai disini para prajurit mengantar Kanjeng Adipati dan Gusti Ratu Pajang, semoga rombongan ini bisa selamat sampai di Pajang" kata Ki Tumenggung.

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Adipati Hadiwijaya.

Setelah itu, barisan prajurit Wira Tamtama, Wira Manggala dan prajurit Patang Puluhan berbalik arah, berbaris memutar menuju ke arah Kraton. 

Rombongan Adipati Hadiwijaya yang akan melanjutkan perjalanan menuju ke Pajang tinggal sang pengantin baru, prajurit berkuda pembawa bendera Gula Kelapa dan songsong Kadipaten Pajang, empat orang prajurit pemikul tandu yang memikul secara bergantian dengan empat orang pemikul yang naik kuda, empat orang yang menuntun kuda yang dinaiki oleh dua orang emban, nyai Madusari dan Menur, prawan kencur anak Nyai Madusari. 

Disamping itu ada lima orang nayaka praja dan prajurit Pajang, Pemanahan beserta empat orang temannya, serta dua orang yang menuntun dua ekor kuda beban. Seorang prajurit yang berwajah tampan, menuntun kuda yang ditunggangi oleh Nyai Madusari.

"Nyai Menggung" kata prajurit yang berwajah tampan.

"Ada apa prajurit" kata Nyai Madusari.

"Kau tahu Nyai Menggung, kita paling cepat dua hari lagi baru sampai di Pajang" kata prajurit itu sambil tersenyum. 

'Ya aku tahu" kata Nyai Menggung.

"Kau tahu, aku lelah menuntun kuda ini sampai Pajang" kata prajurit itu.

"Ya" kata Nyai Madusari yang masih terlihat cantik.

"Setelah nanti kita sampai di Pajang, aku minta upah ya Nyai" kata prajurit itu sambil mengedipkan sebuah kelopak matanya. 

"Apaaaaa ???" kata Nyai Menggung.

Prajurit itu terdiam, tetapi pandangannya terus melekat pada wajah dan tubuh Nyai Madusari.

"Sebuah wajah yang cantik, dengan tubuh yang indah, sempurna" kata prajurit itu.

Mendengar perkataan itu, Nyai Madusari diam saja, sudah terlalu banyak orang yang memuji kecantikannya. 

"Bagaimana mungkin, Nyai Menggung yang berusia sekitar lima windu, sepuluh warsa lebih tua dari umurku, wajah dan tubuhnya masih tetap bagus" kata prajurit itu dalam hati. 

"Kau inginkan upah apa, prajurit?" tanya Nyai Menggung.

"Kenapa bisa terjadi, Nyai Mengung yang sudah punya anak sebesar Menur tetapi masih tetap terlihat cantik?" kata prajurit itu tanpa menghiraukan pertanyaan Nyai Menggung.

"Wanita harus pandai ngadi sarira dan ngadi busana,... hei kau membelokkan pembicaraan kita" kata Nyai Madusari.

Prajurit itu tidak menjawab, hanya terlihat ia tersenyum sambil memandang Nyai Madusari tanpa berkata apapun.

"Baik" kata Nyai Menggung ;" Aku jawab permintaanmu, aku pindah ke Pajang karena aku diajak oleh Gusti Ratu Mas Cempaka, kalau kau minta upah, nanti permintaanmu akan aku sampaikan kepada Gusti Ratu"

Prajurit itupun tertawa pendek ;"Haha, ternyata Nyai pandai menggertak aku"

Nyai Madusari tidak menjawab, tetapi sama seperti pada umumnya seorang wanita, didalam hatinya iapun senang kalau ada seorang laki-laki yang memuji kecantikannya.

Sementara itu, didalam tandu joli jempana yang dipikul empat orang, Ratu Mas Cempaka melihat ke arah suaminya yang sedang berkuda disampingnya, teringatlah ia ketika ia naik diatas tandu joli jempana menuju ke perahu Kyai Garuda, yang akan melakukan perjalanan menyusuri sungai Tuntang hingga ke pesisir pantai.

Diatas tandu joli jempana, ia melihat ke samping tandu, seorang prajurit Wira Tamtama yang bertugas mengawalnya, Karebet yang pada saat itu sedang berjalan disampingnya, waktu itu, betapa ia merasa terpesona, terpikat oleh prajurit Wira Tamtama yang sering diintipnya ketika sedang melakukan tugas jaga didepan kaputren. 

"Kau lelah Ratu" kata suaminya dari atas punggung kuda.

"Ya Kanjeng Adipati" jawab Ratu Mas Cempaka.

"Turunlah, naiklah di punggung kuda ini, nanti aku yang akan menuntunnya" kata Adipati Pajang, sambil memerintahkan pemikul tandu untuk berhenti. Pemikul tandupun kemudian berhenti dan meletakkan tandu di tanah, lalu Ratu Mas Cempaka kemudian turun dari tandu.

Adipati Hadiwijaya kemudian turun dari punggung kudanya, lalu membimbing tangan istrinya untuk dinaikkan di atas punggung kudanya. Ratu Mas Cempaka yang seumur hidupnya belum pernah naik di atas punggung kuda, awalnya merasa takut, tetapi ia percaya, selama ia berada disamping suaminya, ia akan merasa aman. 

Adipati Hadiwijaya kemudian menuntun kudanya berjalan perlahan-lahan, semakin lama semakin cepat. Ratu Mas Cempaka yang berada diatas punggung kuda, kini tersenyum senang, ia tidak merasa takut lagi berkuda dituntun suaminya yang berlari-lari kecil. Sebuah kekuatan cinta yang luar biasa, percaya akan adanya rasa aman yang menyelimuti dirinya, ternyata mampu menyingkirkan rasa takut yang pernah dirasakannya.

"Kanjeng Adipati tidak merasa lelah?" tanya Ratu Mas Cempaka ketika melihat suaminya berlari-lari kecil disampingnya.

"Nanti kalau aku lelah, aku akan beristirahat, Ratu" kata suaminya.

Kuda yang dituntun oleh Adipati Pajang sambil berlari-lari kecil. telah berada didepan, jauh meninggalkan rombongan yang berada dibelakang.

"Dibawah pohon yang didepan itu, kita berhenti Kanjeng Adipati, kita tunggu rombongan yang berada dibelakang kita" kata Sang Ratu. 

"Baiklah, kita tunggu mereka disana" kata Adipati Hadiwijaya. 

Tidak beberapa lama, rombonganpun sudah sampai di bawah pohon, tetapi setelah rombongan menyusulnya, Ratu Pajang menginginkan kudanya dituntun lagi sambil berlari-lari kecil. Kembali Adipati Hadiwijaya menuntun kuda itu sambil berlari-lari kecil, sehingga jarak dengan rombongannya kembali menjadi jauh.

Didalam rombongan, Nyai Madusari berkata kepada prajurit yang menuntun kudanya :"Aku ingin kau berlari terus menerus sampai di Pajang, seperti Kanjeng Adipati, nanti kau kuberi upah"

"Berlari sampai di Pajang? Sebelum sampai di hutan Sima, aku sudah pingsan, lalu akupun dipikul di atas tandu" kata prajurit yang menuntun kudanya. 

Kembai Nyai Madusari tertawa, memperlihatkan giginya yang rapi karena di pangur.

"Hm gigi Nyai Menggung ternyata miji timun, indah sekali" kata prajurit itu didalam hatinya.

"Kukira badanmu sekuat macan gembong, mampu berlari tanpa henti" kata Nyai Menggung.

Prajurit itu tidak menjawab, ia hanya mampu memperlihatkan sebuah senyum yang kecut.

Ketika matahari semakin tinggi, Sang Adipati menunggu datangnya rombongan, setelah bertemu, maka Adipati Haiwijaya berkata kepada Pemanahan :" Nanti kita beristirahat sebentar di sebelah barat Mrapen, dibawah pohon munggur yang rindang"

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

"Mari kita lari lagi Kanjeng Adipati, mari kita tinggal mereka" kata Sang Ratu gembira.

Adipati Hadiwijayapun kembali berlari-lari kecil meninggalkan rombongan yang tertinggal dibelakang. Kuda yang dipakai oleh Hadiwijaya adalah kuda yang jinak, sehingga kuda itupun menurut kemauan Sang Adipati.

Matahari belum mencapai puncaknya, ketika rombongan tiba di Mrapen, Pemanahanpun segera mengajak mereka menuju ke arah barat, disana dijumpai sebatang pohon munggur yang besar, dan di atas batu yang besar telah duduk kedua pengantin baru.

Pemanahanpun kemudian mengatur tempat istirahat, beberapa orang merawat kuda-kuda yang kelelahan.

Ditepi sungai kecil didekat pohon munggur, didirikan empat buah galah bambu yang ditutup kain, lalu beberapa buah bumbung berisi air dibawa masuk ke dalam tenda. Sang Ratupun seorang diri masuk ke dalam tenda, beberapa saat kemudian San Ratupun keluar dari tenda, setelah itu masuklah Nyai Madusari kedalam tenda bergantian dengan Menur dan kedua orang emban. 

Perlengkapan makan yang dibawa oleh kedua ekor kuda beban, diturunkan, lalu semuanya menyantap makan siang bersama, dibawah pohon munggur yang daunnya rindang.

Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Pajang duduk ditengah, agak jauh disekelilingnya betebaran semua anggota rombongan yang sedang menikmati makanan.

"Air, mana air" kata Nyai Madusari yang merasa kepedasan. Menur mengambilkan sebuah bumbung yang berisi air, dan isinya langsung diminum oleh Nyai Madusari.

"Sambalnya terlalu pedas, sampai keluar air mataku" kata Nyai Menggung. 

"Aku kira kau menangis karena teringat prajurit Wira Tamtama yang berkumis tipis itu" kata salah seorang emban.

"Ah kau" kata Nyai Menggung tersipu malu. Disebelahnya Ratu Mas Cempaka merasakan nasi dingin yang ia makan adalah nasi yang sangat enak. 

"Tambah lagi nasinya Kanjeng Adipati" kata Ratu Mas Cempaka. 

"Ya Ratu" kata Adipati Hadiwijaya sambil mengambil tambahan nasi.

"Tempat ini pernah untuk pertemuan aku dengan prajurit Tumpak, sewaktu aku masih dihukum Kanjeng Sultan" kata Adipati Pajang.

Sang Ratupun mendengarkan cerita suaminya sewaktu masih menjalani hukuman.

"Sepulang dari sini, Tumpak memberi aku bekal untuk makan diperjalanan" kata suaminya.

Setelah acara istirahat dan makan siang telah selesai, maka merekapun segera berkemas untuk berangkat lagi. "Ayo kita berangkat sekarang Kanjeng Adipati" kata Ratu Mas Cempaka.

"Baik" kata Kanjeng Adipati, lalu kepada Ki Pemanahan iapun berkata :"Kakang Pemanahan, aku mendahului, nanti kakang menyusul"

"Baik, Kanjeng Adipati, kami juga akan memberesi semua peralatan dan tenda-tenda yang berada ditepi sungai" kata Pemanahan.

Adipati Hadiwijaya dan Ratu Mas Cempaka kemudian bangkit, lalu mereka berdua menuju ke kudanya dan tak lama kemudian Sang Ratupun telah berada diatas punggung kudanya, dan ketika kuda yang dituntun Kanjeng Adipati baru saja berjalan, Sang Ratupun berkata ;"Kanjeng Adipati, kita lihat api di Mrapen"

Adipati Pajang lalu menuruti keinginan istrinya, lalu iapun menuntun kudanya membelok kearah api yang menyala terus menerus.

"Kenapa api ini bisa menyala sepanjang hari Kanjeng Adipati?" tanya Ratu Mas Cempaka, tanpa turun dari kudanya.

"Aku tidak tahu Ratu, didalam tanah mungkin ada sumber apinya" kata Adipati Hadiwijaya.

Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri sungai Tuntang.

"Ratu, coba pegang tali kendali kuda ini, kalau ingin berhenti, tarik talinya, tidak apa-apa, kuda ini sudah jinak" kata suaminya sambil menyerahkan tali kendali kuda yang dipegangnya. 

Sekali lagi, rasa aman yang menyelimuti Sang Ratu telah mengalahkan rasa ketakutannya untuk naik di atas punggung kuda. Dicobanya mengendalikan kuda itu, sambil melihat ke arah suaminya yang berlari disampingnya, ternyata Ratu Mas Cempaka mampu mengendalikan kuda yang jinak itu.

"Kanjeng Adipati" kata Ratu Pajang gembira :"hamba bisa naik kuda sekarang"

Adipati Hadiwijaya tersenyum, betapa ia senang melihat istrinya gembira, sudah mampu mengendalikan seekor kuda. 

Matahari terus bergerak ke arah barat, saat itu menjelang senja, setelah beberapa kali beristirahat dan beberapa kali menyeberangi sungai, maka telah tiba saat rombongan itu untuk beristirahat.

"Kita bermalan disini" kata Adipati Hadiwijaya kepada Ki Pemanahan.

Pemanahanpun segera memerintahkan mencari tempat yang luas untuk beristirahat, setelah itu semua barang-barang yang berada diatas kuda beban telah diturunkan. Prayoga dan Prayuda kemudian mendirikan sebuah tenda untuk tidur sang Adipati, dan sebuah tenda kecil juga didirikan ditepi sungai untuk membersihkan diri Sang Ratu. 

Agak jauh disebelah timur, beberapa orang secara bergantian membersihkan diri di sungai.

Malam itu rombonganpun beristirahat, setelah membuat perapian, lalu merekapun makan makanan bekal.

"Kanjeng Adipati, pinggang hamba terasa pegal, tadi tidak terasa, sekarang baru terasa sakitnya" kata Sang Ratu manja, Adipati Hadiwijaya tersenyum, ia tanggap akan keinginan istrinya, lalu iapun berkata :" Ya Ratu, pinggang sakit karena tidak terbiasa naik kuda, nanti kalau sudah terbiasa naik kuda, pinggangnya tidak akan sakit lagi"

"Ya Kanjeng Adipati"

"Besok pagi perjalanan mulai masuk ke hutan, meskipun tidak terlalu lebat, sebaiknya besok Ratu naik tandu saja, biar perjalanan menjadi agak cepat, karena kalau naik kuda, agak sulit mengendalikannya" kata Adipati Hadiwijaya.

Malam itu semua orang bisa tidur nyenyak, meskipun badan disergap oleh udara dingin di pinggir sungai Tuntang, beberapa orang menahan hawa dingin dengan memakai selimut kain panjang rangkap yang dikerudungkan di sekujur tubuhnya.

Ketika malam sampai ke ujungnya, mataharipun terbit di ufuk timur, menggantikan tugas sang rembulan menerangi jagad, hari semakin terang, rombongan boyongan dari kotaraja Demak itupun telah terbangun seluruhnya. 

Beberapa orang telah menanak nasi, yang akan dimakan pagi ini dan akan dibawa pula sebagai bekal diperjalanan.

Setelah semuanya selesai, maka rombonganpun telah siap untuk berangkat, kain yang dipergunakan untuk membuat tenda telah dibongkar, dilipat dan diikat di punggung seekor kuda beban, sedangkan beberapa bungkusan telah diikat disebelah pelana kuda mereka.

Beberapa saat kemudian, ketika rombongan sudah siap untuk berangkat, maka Pemanahan memanggil dua orang prajurit Pajang. 

"Prayoga dan kau Prayuda" kata Pemanahan.

"Ya Ki " kata Prayoga dan Prayuda mendekati Pemanahan.

"Nanti kalian jalan paling depan, pergunakan pedangmu untuk memperlancar perjalanan, babat dan bersihkan sulur-sulur atau ranting maupun daun yang mengganggu perjalanan"

"Baik Ki" kata Prayoga dan Prayuda bersamaan, lalu mereka berdua siap berada didepan, merintis jalan supaya mudah dilalui rombongan berkuda. 

Kemudian terlihat Ratu Pajang naik ke atas joli jempana, sedangkan disampingnya telah berdiri empat orang pemikul tandu. 

"Mari kita berangkat" kata Adipati Hadiwijaya yang duduk diatas punggung kuda.

Prayoga dan Prayuda, dua orang bersaudara yang menjadi prajurit Pajang mulai melangkah maju berjalan kaki, ditangan kanannya memegang sebuah pedang pendek, sedangkan tangan kirinya menuntun kuda tunggangannya. Beberapa sulur yang mengganggu kelancaran perjalanan, dibersihkan, dipotong dan disingkirkan ketepi.

Meskipun sempat beberapa kali tersendat, tetapi perjalanan rombonganpun bisa melaju terus, dan belum sampai tengah hari, hutan Sima pun sudah bisa dilewati.

Ketika mereka keluar dari hutan, ternyata didepan mereka telah menunggu tiga orang yang telah bersiap dengan sebuah pedati kosong dan beberapa ekor kuda.

"Itu Wenang Wulan" kata Pemanahan.

Adipati Hadiwijaya menjalankan kudanya mendekati Wenang Wulan, yang sedang berdiri bersama Naya dan seorang lagi yang bertugas sebagai sais pedati.

"Wenang Wulan, paman Naya, kau bawa sebuah pedati dan beberapa ekor kuda?" tanya Adipati Pajang.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Wenang Wulan.

"Bagaimana dengan rombongan yang membawa barang-barang beberapa hari yang lalu?" tanya Kanjeng Adipati.

"Mereka sudah sampai di Pajang Kanjeng Adipati, rombongan itu kami antar sampai di kali Pepe, diseberang kali Pepe rombongan berganti naik pedati yang disediakan oleh Ngabehi Wilamarta, setelah itu kami kembali lagi ke sini" kata Wenang Wulan.

"Kakang Pemanahan" panggil Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Pemanahan.

"Apakah kita memerlukan pedati?" tanya Adipati Hadiwijaya. 

"Maaf Kanjeng Adipati, kalau Gusti Ratu naik kuda, biarlah tandu dan beberapa barang lainnya dapat dinaikkan di pedati" kata Pemanahan.

"Ya, Ratu akan naik kuda sampai di Pajang, nanti kalau jalannya pedati agak pelan, kita bisa mendahuluinya sampai ke Pajang" kata Adipati Pajang.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan. 

Kemudian tandu dan beberapa barang lainnya dimasukkan kedalam pedati, setelah itu Ratu Mas Cempaka naik ke punggung kuda diikuti oleh Adipati Hadiwijaya.

Mulailah kembali perjalanan rombongan berkuda, perjalanan menjadi lancar karena beberapa orang dan barang yang naik pedati ditinggal dibelakang, dan ketika matahari berada dipuncak langit, maka rombonganpun beristirahat di tepi sebuah sungai kecil.

"Kita makan siang disini" kata Adipati Pajang.

Tak lama kemudian, setelah mereka beristirahat, maka perjalanannyapun dilanjutkan lagi, dan ketika telah melewati sungai Pepe, ternyata diseberang telah menunggu Ngabehi Wilamarta bersama sebuah pedati yang kosong.

"Itu Ngabehi Wilamarta" kata Adipati Hadiwijaya

"Dia nayaka praja Kadipaten Pajang?" tanya Ratu Mas Cempaka.

"Ya Ratu" jawab Sang Adipati.

Keduanya kemudian mendekati Ngabehi Wilamarta yang berdiri bersama seorang sais pedati, keduanya terlihat membungkukkan badannya, menghormat kepada Adipati dan Ratunya. 

"Ngabehi Wilamarta, bagaimana keadaan Kadipaten Pajang selama aku tinggal beberapa hari ke kotaraja?" kata Adipati Hadiwijaya.

"Semua baik Kanjeng Adipati, latihan keprajuritan tetap berjalan terus, rombongan yang membawa barang-barang dari Kraton sudah tiba di dalem Kadipaten, lalu barangnyapun juga sudah dirakit kembali" kata Ngabehi Wilamarta.

"Baik, sais dan pedatinya bisa menunggu disini, untuk memuat barang-barang yang dimuat di pedati yang dikawal oleh Wenang Wulan" kata Adipati Hadiwijaya. 

"Baik Kanjeng Adipati" kata Ngabehi Wilamarta.

"Kau ikut kembali ke Pajang" kata Kanjeng Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Ngabehi Wilamarta. 

Beberapa saat kemudian rombonganpun melanjutkan perjalanan ke Pajang :"Menjelang matahari terbenam nanti kita sudah sampai di dalem Kadipaten” kata Adipati Pajang..

Akhirnya setelah menempuh jarak dua hari penuh, sampailah rombongan di depan dalem Kadipaten, disana sudah berdiri Patih Mancanegara, Lurah Wasana dan beberapa prajurit Wira Manggala Demak menyambut kedatangan Adipati Pajang. 

Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka kemudian turun dari kuda, diikuti oleh semua rombongan.

"Patih Mancanagara" sapa Kanjeng Adipati ;"Semua baik-baik saja selama aku tinggal?"

"Ya Kanjeng Adipati, semuanya baik-baik saja" kata Patih Mancanagara. 

"Kakang Pemanahan" kata Adipati Pajang :"Kita akan beristirahat, tugaskan Ngabehi Wilamarta untuk menunggu Wenang Wulan, kemungkinan tengah malam baru tiba disini" 

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati.

Setelah itu Adiwijaya menggandeng istrinya menaiki pendapa Kadipaten Pajang, diikuti oleh Patih Mancanagara.

"Ini rumah kita Ratu" kata Sang Adipati.

"Ya Kanjeng Adipati" sahut Sang Ratu.

Setelah sampai dipintu ruangan dalam, maka Kanjeng Adipatipun berkata kepada Patih Mancanagara :"Aku akan beristirahat dulu Ki Patih" 

"Silahkan Kanjeng Adipati" kata Patih Mancanagara.

Keduanya kemudian masuk ke kamar dan beristirahat :"Lelah sekali Kanjeng Adipati, tetapi hamba senang sudah bisa sampai di Pajang" kata Ratu Pajang.

"Ya Ratu, kita bisa beristirahat penuh malam ini, sehingga besok pagi badan kita sudah bisa segar kembali” kata suaminya. 

"Kanjeng Adipati, hamba akan membersihkan diri, dimana letak sumur dan pakiwan?" tanya Sang Ratu.

"Mari aku antar" kata suaminya sambil bediri, lalu keduanya berjalan menuju ke belakang. 

Malam itu semuanya yang kelelahan bisa beristirahat, dan menjelang tengah malam, pedati yang dikawal oleh Wenang Wulan telah tiba di dalem Kadipaten.

Malam yang telah sampai keujungnya, telah berganti menjadi hari-hari yang baru untuk Adipati Pajang bersama Sang Ratu.

Demikianlah hari-hari awal di kadipaten Pajang dipakai oleh Ratu Mas Cempaka, untuk beristirahat dan pengenalan lingkungan di Kadipaten dan pengenalan semua nayaka praja.

Waktupun berjalan terus, sementara itu di Kadipaten Jipang, beberapa hari kemudian Adipati Jipang, Arya Penangsang sedang menerima kedatangan dua orang prajurit Wira Manggala dari Kasultanan Demak, yang menyerahkan songsong Kadipaten Jipang beserta sebuah bendera Gula Kelapa.

Disamping Arya Penangsang, duduk pula adiknya, Arya Mataram, disampingnya duduk pula nayaka praja Kadipaten Jipang, Patih Matahun dan Rangkud, lalu ada pula Lurah Radya yang memimpin lima belas orang prajurit Wira Manggala yang diperbantukan di Kadipaten Jipang. 

"Ya aku terima songsong dan bendera Gula Kelapa ini prajurit" kata Adipati Jipang Arya Penangsang kepada prajurit Wira Manggala utusan dari Demak.

"Selain ini Kanjeng Adipati, Kanjeng Sultan menitipkan nawala ini untuk dihaturkan kepada Kanjeng Adipati Jipang" kata prajurit itu sambil menyerahkan sebuah nawala kepada Adipati Arya Penangsang.

Arya Penangsangpun menerima nawala dari Kanjeng Sultan dan setelah dibacanya, wajahnya berubah tegang, tetapi sejenak kemudian wajahnyapun berangsung angsur kembali seperti semula.

"Ki Lurah Radya, mulai saat ini pasukan Wira Manggala yang berada di Jipang semuanya ditarik ke Demak, besok pagi silahkan kalau ingin berangkat ke Demak, untuk keamanan Jipang, akan diurus oleh nayaka praja Kadipaten Jipang sendiri" kata Arya Penangsang. 

"Dan kau prajurit, kau akan meneruskan perjalanan ke Pajang sekarang?" tanya Adipati Jipang.

"Ya Kanjeng Adipati" jawab prajurit utusan dari Demak.

"Baik" kata Arya Penangsang.

" Rangkud !" kata Sang Adipati. 

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata Rangkud.

"Kau beri bekal prajurit Demak yang akan berangkat ke Pajang" kata Arya Penangsang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Rangkud, lalu iapun pamit keluar bersama Lurah Radya dan kedua prajurit Demak.

Di pendapa, sekarang tinggal Adipati jipang bersama Patih Matahun dan Arya Mataram.

"Paman Patih Matahun" kata Arya Penangsang.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata Matahun.

"Kira-kira sepasar lagi Demak bersama pasukan bang kulon akan nglurug perang ke Panarukan, oleh pamanda Sultan, aku tidak diperbolehkan ikut berangkat perang ke Panarukan, aku diminta untuk memikirkan Kadipaten Jipang yang baru saja berdiri ini" kata Arya Penangsang.

"Ya Kanjeng Adipati, mungkin Kanjeng Sultan menganggap kekuatan Demak sudah cukup kuat untuk menaklukkan Panarukan" kata Patih Matahun. 

"Tidak bisa begitu paman, aku tidak mau berdiam diri, sementara prajurit Demak segelar sepapan berangkat perang ke Panarukan, besok aku akan ke Demak, menghadap Pamanda Sultan untuk minta dijadikan salah satu Senapati Pengapit pasukan Demak" kata Arya Penangsang.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita