Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 39 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 39 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Yah, hari ini kita bertiga akan naik kuda sehari penuh menuju ke desa Tingkir" kata Ganjur.

"Kenapa kakang Ganjur?" tanya Suta.

"Kalau naik kuda sehari penuh, pinggangku terasa seperti patah" jawab Ganjur.

"Apakah nanti Ki Ganjur tidak mau naik kuda? Ya sudah tidak apa-apa, kami berdua yang akan naik kuda, nanti Ki Ganjur berjalan kaki saja" kata Wenang Wulan. 

"Tidak, tidak, aku bersedia naik kuda sehari penuh juga tidak apa-apa" kata Ganjur.

Setelah menyeberangi sungai Tuntang, tak lama kemudian merekapun tiba didepan regol pesantren Kadilangu. 

"Sebelum kita pulang ke Tingkir, kita harus pamit dulu kepada Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Ganjur.

"Ya " kata Wenang Wulan :"Mudah-mudahan Kanjeng Sunan berada di pesantren.

Ketika mereka berlima memasuki halaman pesantren, pada saat yang bersamaan, di depan bangsal Kaputren, dua orang tukang kayu sedang bekerja melepas sebuah tempat tidur dari kayu jati yang diukir indah milik Ratu Mas Cempaka. 


Beberapa pasak yang terdapat di tempat tidur itu dilepas, sehingga tempat tidur itu sekarang telah menjadi beberapa bagian yang kecil-kecil, sehingga bisa diangkut dengan menggunakan kuda beban.

Hari semakin siang, matahari memanjat langit semakin tinggi, kedua tukang itu masih tetap bekerja, setelah melepas tempat tidur, maka merekapun melepas dua buah gledeg kayu, tempat pakaian Ratu Mas Cempaka,

Lalu beberapa barang lainnya telah dikeluarkan oleh beberapa orang emban yang bertugas di kaputren. Kedua orang tukang yang sedang bekerja itu menghentikan pekerjaannya, ketika mereka melihat Tumenggung Surapati mendekati mereka. 

"Sudah selesai pekerjaanmu?" tanya Tumenggung Surapati.

"Belum Ki Tumenggung, kelihatannya nanti menjelang tengah hari baru selesai, dan bisa di ikat di pelana kuda" kata salah seorang tukang itu.

"Kapan kau berangkat?" Tanya Ki Tumenggung.

"Kelihatannya hari ini sudah terlalu siang, kalau Ki Tumenggung mengijinkan, kami akan berangkat besok pagi" kata tukang itu.

"Baik, kalian bisa berangkat besok pagi bersama tiga orang prajurit Wira Manggala" kata Tumenggung Surapati.

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata tukang kayu itu.

Beberapa saat kemudian Tumenggung Surapati berjalan meninggalkan kedua orang tukang kayu yang masih tetap bekerja.

Sementara itu, di jalan sebelah timur sungai Tuntang, Wenang Wulan bersama Ganjur dan Suta sedang berkuda menuju desa Tingkir, setelah tadi pagi berpamitan kepada Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu sekaligus mengambil lima ekor kuda yang dititipkan di Kadilangu.

Dari santri Kadilangu, mereka diberi bekal makanan yang bisa dimakan selama diperjalanan, dan di Kadilangu pula mereka berpisah dengan Prayoga dan Prayuda, yang membawa beberapa ekor kuda menuju ke Kraton Demak.

Kuda yang ditunggangi oleh Ganjur masih tetap berderap, tidak terlalu kencang menyusuri sungai Tuntang. Wenang Wulan dan Suta berkuda sambil tangan kirinya menggandeng masing-masing tali kendali seekor kuda. Setelah beberapa kali beristirahat, maka senjapun telah membayang, matahari hampir hilang di cakrawala, Ganjurpun telah meminta Wenang Wulan untuk beristirahat. 

"Ki Ganjur sudah lelah?" tanya Wenang Wulan. 

"Kita sudah berkuda dari pagi sampai sore, sudah waktunya beristirahat" jawab Ganjur.

"Ya, kita beristirahat dilapangan disebelah pohon beringin beberapa puluh langkah didepan kita" kata Wenang Wulan.

"Jangan didekat pohon beringin itu" kata Ganjur.

"Kenapa" tanya Wenang Wulan.

"Itu daerah yang angker, kita beristirahat disini saja" kata Ganjur.

"Baik, Ki Suta, kita beristirahat disini saja" kata Wenang Wulan.

Dimalam yang dingin, ketiga orang itu beristirahat, tidur terbuai mimpi, sambil berselimut kain panjang. Ketika fajar telah menyingsing, langit di bang wetan telah memerah, maka ketiga orang itupun telah bangun dari tidurnya, membersihkan badan, dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke Tingkir. 

Langit semakin terang, ketiga orang yang membawa lima ekor kuda itu telah menjalankan kudanya berderap perlahan menuju Tingkir.

"Nanti siang kita sudah tiba di desa Tingkir" kata Wenang Wulan.

Ketika Ganjur sedang berkuda pulang ke Tingkir, di pintu gerbang Kraton, telah keluar lima ekor kuda beban, yang memuat barang-barang milik Ratu Mas Cempaka. 

Lima orang terlihat sedang menuntun lima ekor kuda, yang berada didepan, dua orang tukang kayu sedangkan dibelakangnya tiga orang prajurit Wira Manggala yang memakai pakaian petani. Mereka berlima berjalan beriringan sambil menuntun kuda, berjalan terus kearah selatan, menuju ke Pajang.

"Kuda kita berjalan lambat, kemungkinan besok malam, kita baru sampai di Pajang" kata seorang prajurit Wira Manggala.

"Tidak apa-apa, Kanjeng Adipati baru akan berangkat ke Pajang dua hari lagi" kata temannya yang menuntun kuda didepan.

"Kalau besok sore kita belum tiba di Pajang, maka kita harus menginap dijalan lagi, berarti perjalanan dari Demak ke Pajang kita tempuh dalam tiga hari"

"Ya" jawab temannya, sambil terus berjalan menuntun kudanya.

Lima ekor kuda itupun masih terus berjalan perlahan ke arah selatan, dan mataharipun juga berjalan terus ke arah barat tanpa mengenal lelah.

Pagi berganti menjadi siang, siang berganti menjadi malam, dan malampun telah berganti lagi menjadi pagi. Di Kraton Kilen, didalam kamarnya, pengantin baru Adipati Hadiwijaya terlihat berbincang dengan istrinya, ratu Mas Cempaka. 

"Ratu, besok kita berangkat ke Pajang, kau sudah siap meninggalkan kotaraja?" tanya Adipati Hadiwijaya.

Ratu Mas Cempaka tersenyum ;"Siap tidak siap kita harus berangkat Kanjeng Adipati"

"Ya, mau tidak mau suatu saat kita memang harus berpisah dengan orang-orang yang kita cintai, Ratu" kata Sang Pengantin.

"Kanjeng Adipati, selama ini hamba belum pernah berpisah dengan ayahanda Sultan maupun dengan Kanjeng Ibu, sekali berpisah, ternyata ke tempat yang jauh" jawab Sang Ratu Pajang.

"Pajang bukan sebuah tempat yang jauh Ratu, kalau kita berjalan kaki dari Demak, tidak sampai dua hari, kita sudah sampai di Pajang" 

"Besok pagi hamba akan berada diatas tandu joli jempana, Kanjeng Adipati" kata Ratu Mas Cempaka.

"Kau akan jenuh diatas tandu, besok perjalananmu, sebagian akan diselingi dengan naik kuda, Ratu" kata Sang Adipati.

"Hamba takut naik kuda Kanjeng Adipati" kata Ratu Bunga Cempaka.

Adipati Hadiwijaya tersenyum, dan melihat senyum itu, Gusti Ratupun berkata ;"Senyum itu yang membuat hamba dulu merasa tidak takut terhadap apapun juga, Kanjeng Adipati"

"Sudahlah, semuanya sudah lewat, semuanya telah menjadi masa lalu, Ratuku" kata Adipati Hadiwijaya.

Ratu Mas Cempaka tersenyum, teringat betapa kisah cintanya dengan seorang Lurah Wira Tamtama yang bernama Karebet, penuh dengan perjuangan yang membuat hatinya selalu berdebar-debar.

"Lalu bagaimana dengan tandu itu Ratu?" tanya suaminya.

"Hamba menurut apa yang Kanjeng inginkan, kalau bersama Kanjeng, tdak ada yang hamba takuti" kata Ratu Pajang.

"Baik, besok perjalananmu akan diselingi dengan naik kuda" 

"Naik kuda sendiri Kanjeng?" tanya sang Ratu.

"Ya, nanti aku yang menuntun kuda itu, kau harus mengenakan rangkapan pakaian khusus, bukan mengenakan kain panjang seperti biasanya" kata suaminya.

Sang Ratupun tersenyum :"Jangan jauh dariku Kanjeng" katanya berbisik perlahan ditelinga suaminya.

Tetapi pembicaraan mereka berdua terhenti karena pintu kamarnya diketuk oleh prajurit Wira Tamtama yang sedang berjaga. 

Sang Adipatipun membuka pintu dan bertanya kepada prajurit Wira Tamtama yang mengetuk pintunya :"Ada apa?"

"Ki Pemanahan beserta empat orang lainnya ingin menghadap Kanjeng Adipati, mereka menunggu di pendapa" kata prajurit itu.

"Baik, aku segera ke pendapa" jawab Adipati Hadiwijaya.

Prajurit itupun kembali berjaga di depan Kraton Kilen, beberapa saat kemudian Adipati Hadiwijayapun segera keluar menuju ke pendapa.

Di pendapa, telah duduk menunggu Ki Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Wuragil, Prayoga dan Prayuda, mereka berlima duduk diatas tikar pandan. Adipati Hadiwijayapun kemudian duduk bersama mereka, duduk berhadapan diatas tikar. 

"Bagaimana kakang Pemanahan, ada kesulitan di dalem Gajah Birawan?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Tidak Kanjeng Adipati, semuanya baik-baik saja" kata Pemanahan.

Adipati Hadiwijaya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Besok kita akan berangkat pagi hari" kata Sang Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati, besok pagi hari, kami akan datang kemari" kata Pemanahan.

"Lalu kuda-kuda kita yang berada di Kadilangu sudah diambil semua?" tanya Adipati Pajang. 

"Sudah Kanjeng, sudah diambil oleh Prayoga dan Prayuda, dibantu olen beberapa orang santri Kadilangu" jawab Ki Pemanahan.

"Aku belum bertemu dengan Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, kami nanti malam akan menghadap Ki Tumenggung untuk mohon pamit sekaligus mengucapkan terima kasih" kata Pemanahan.

Adipati Hadiwijaya menganggukkan kepalanya, dan hingga beberapa saat kemudian, mereka masih berbicara tentang beberapa persoalan. Setelah cukup mereka berbincang, maka Ki Pemanahanpun mohon pamit, kembali ke dalem Gajah Birawan.

"Ya, jangan lupa besok pagi kalian sudah siap disini" kata Kanjeng Adipati.

"Baik Kanjeng Adipati" jawab Pemanahan.

Sesaat kemudian mereka berlima keluar dari pendapa Kraton Kilen, berjalan menuju pintu gerbang Kraton, pulang ke dalem katumenggungan. 

Ketika hari berangsur menjadi gelap, didalam kamarnya, Kanjeng Ratu Mas Cempaka merasa agak gelisah, karena malam itu adalah malam terakhir ia berada di Demak.

Perasaannya bercampur aduk, ada rasa senang, bahagia, tetapi ada pula rasa sedih dan cemas karena harus berpisah dengan ibunya yang selama ini tidak pernah berpisah dengannya. Ratu Pajang menjadi terkejut, ketika terdengar suara ketukan di pintu, tetapi ketika ia melihat suaminya tersenyum kepadanya, maka iapun merasa agak sedikit merasa tenteram. Adipati Hadiwijaya kemudian membuka pintu dan bertanya kepada prajurit Wira Tamtama yang bertugas.

"Ada apa?" tanya Sang Adipati.

"Kanjeng Prameswari berkunjung kemari, sekarang sedang menunggu di pendapa" kata prajurit Wira Tamtama.

"Baik, kami segera ke pendapa" kata Adipati Pajang.

Prajurit itupun segera mohon diri kembali ke tempatnya bertugas, sedangkan Adipati Pajang kembali masuk ke kamarnya. 

"Ratu, Kanjeng Prameswari berkunjung kemari" kata Adipati Hadiwijaya.

"Kanjeng ibu datang kemari?" kata Ratu Mas Cempaka, dan wajahnya segera berubah menjadi ceria. 

"Ya, mari kita ke pendapa" ajak suaminya.

Keduanya kemudian keluar dari kamar menuju ke pendapa, dan disana sudah menunggu Kanjeng Prameswari yang duduk di kursi, disampingnya duduk bersimpuh dua orang embannya, sedangkan pengawalnya, seorang prajurit Wira Tamtama menunggu diluar pendapa.

Adipati Hadiwijaya kemudian duduk bersila diatas tikar dilantai pendapa dihadapan Kanjeng Prameswari, kemudian Ratu Mas Cempaka duduk bersimpuh disebelahnya.

"Bagaimana Ajeng, kau dalam keadaan sehat?" tanya Kanjeng Prameswari.

"Ya Kanjeng ibu, saya dalam keadaan baik" jawab Ratu Mas Cempaka.

"Kau jadi berangkat besok pagi Ajeng" kata ibunya.

"Ya Kanjeng ibu" jawab Ratu Pajang.

"Siapa saja nanti yang kau ajak pindah ke Pajang" tanya ibunya.

"Kanjeng ibu, ada dua orang emban yang bersedia pindah ke Pajang, selain itu Nyai Madusari juga ikut bersama putrinya, genduk Menur" kata Sang Ratu.

Kanjeng Prameswari menganggukkan kepalanya, lalu kepada Adipati Hadiwijaya, iapun bertanya ;"Besok pagi yang ikut mengantar boyongan ke Pajang tidak banyak Hadiwijaya"

"Tidak apa-apa Gusti Ratu, nanti akan ada lima orang prajurit dan nayaka praja Pajang yang berangkat bersama-sama, sekarang mereka masih berada di dalem Gajah Birawan" kata Adipati Hadiwijaya.

Kanjeng Prameswari menganggukkan kepalanya, ia teringat akan perkataan Kanjeng Sultan ketika ia minta pengawalan yang kuat untuk putrinya dalam perjalanan ke Pajang.

"Tidak perlu pengawalan prajurit yang banyak, Hadiwijaya seorang diri mampu menjaga keselamatan putrimu" kata Kanjeng Sultan waktu itu.

"Hadiwijaya" kata Kanjeng Prameswari.

"Dawuh dalem Gusti Ratu" kata Adipati Hadiwijaya.

"Nanti setelah sampai di Pajang, jaga istrimu baik-baik, lindungi dan sayangi, jangan kau sia-siakan dia" kata Kanjeng Prameswari. 

"Sendika dawuh Gusti Ratu" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ajeng" kata Kanjeng Prameswari.

"Dawuh dalem Kanjeng ibu" kata Ratu Pajang. 

"Kau harus menurut apa kata suamimu, jangan membantah, jangan terlalu banyak menuntut" kata ibunya. 

"Sendika dawuh Kanjeng ibu" kata Ratu Pajang.

Beberapa saat kemudian, Kanjeng Prameswaripun masih berbincang-bincang dan memberi beberapa nasehat kepada keduanya. Tidak berapa lama, maka Kanjeng Prameswaripun kembali ke ruangan dalam di Kraton, diiringi oleh dua orang emban dan seorang prajurit Wira Tamtama.

Malam semakin dalam menyelimuti Kraton Kilen, tempat pengantin baru menghabiskan malam itu sebelum esok pagi akan boyongan menuju Kadipaten Pajang.

Ketika malam telah sampai ke ujungnya, di bang wetan terlihat semburat warna merah, maka bangunlah seisi bumi Demak.

"Kita jangan sampai terlambat" kata Pemanahan kepada Prayoga, dan merekapun bergantian membersihkan dirinya.

Ketika langit telah menjadi terang, maka merekapun telah bersiap untuk berangkat menuju ke Kraton.

"Kita tidak usah pamit lagi, tadi malam kita sudah pamit Ki Tumenggung, pagi ini Ki Tumenggung sudah berangkat ke Kraton" kata Ngabehi Wuragil.

Merekapun berpamitan kepada dua orang pembantu dalem Katumenggungan, dan beberapa saat kemudian, dengan membawa bungkusan miliknya, Pemanahan, Penjawi, Ngabehi Wuragil, Prayoga dan Prayuda berjalan menuju ke Kraton.

Setelah melalui penjagaan dua orang prajurit di pintu gerbang, maka sampailah mereka berlima didalam halaman Kraton.

Dihalaman dalam, terlihat belasan prajurit Patang Puluhan yang sudah datang, ada pula beberapa orang prajurit Wira Tamtama dan Wira Manggala, lalu ada songsong Kadipaten Pajang yang berwarna kuning dengan garis tebal melingkar berwarna hijau, disebelahnya ada sebuah bendera Gula Kelapa, sebuah tandu joli jempana yang berukuran kecil, dua ekor kuda beban yang diisi perbekalan makanan selama di perjalanan dan perlengkapan peralatan yang akan digunakan untuk tidur Kanjeng Adipati, dan terlihat pula beberapa ekor kuda milik Adipati Hadiwijaya yang akan dibawa ke Pajang.

Prajurit yang datang ke halaman Kraton, semakin lama semakin banyak, satu persatu mereka berkumpul dengan sesama prajurit. Delapan orang prajurit Wira Manggala pemikul tandu juga telah siap, mereka berpakaian abdi dalem Kasultanan Demak.

Mereka dipilih dari para prajurit yang berbadan tegap dan kuat, yang mampu memikul tandu yang akan menempuh perjalanan yang jauh.

Disebelahnya tampak seorang prajurit yang membawa sebuah bende serta tiga orang lurah prajurit, dari kesatuan Wira Tamtama, Wira Manggala dan Patang Puluhan. 

Tampak pula dua orang emban yang akan mengikuti Ratu Mas Kencana pindah ke Pajang, lalu disebelahnya terlihat Nyai Madusari beserta Menur, putrinya yang sudah menjadi prawan kencur.

Rombongan Pemanahanpun kemudian mendekat dan bercampur bersama para prajurit.

Beberapa saat kemudian para prajurit yang akan mengantarpun sudah lengkap dan terlihat Ki Tumenggung Jaya Santika mendekati para Lurah prajurit, lalu memerintahkan, siap untuk berangkat. 

"Kita hanya mengantar sampai perbatasan kotaraja" kata Tumenggung Jaya Santika.

Kemudian terdengarlah suara bende ditabuh untuk kali yang pertama, suaranya terdengar oleh semua orang yang hadir di halaman Kraton.

Para prajuritpun kemudian mengatur barisan, didepan sendiri seorang prajurit Wira Manggala yang akan ikut ke Pajang berada diatas punggung kuda dengan membawa bendera Gula Kelapa, dibelakangnya sepuluh orang prajurit Wira Tamtama, lalu sepuluh orang prajurit Wira Manggala, dibelakangnya sebuah tandu joli jempana yang belum terisi, disebelah tandu berdiri delapan orang prajurit berpakaian abdi dalem, kemudian ada prajurit yang membawa sebuah songsong Kadipaten Pajang, beberapa ekor kuda tanpa penumpang, dua ekor kuda yang mengangkut beban, Pemanahan bersama rombongan, disampingnya berdiri Nyai Madusari serta genduk Menur bersama dua orang emban, seorang prajurit yang membawa bende, dan yang paling belakang adalah empat puluh prajurit Patang Puluhan.

Tumenggung Jaya Santika beserta tiga orang Lurah prajurit, kemudian berjalan menuju Kraton Kilen untuk menjemput Adipati Hadiwijaya beserta Ratu Mas Cempaka.

Di Kraton Kilen, Adiwijaya sudah bersiap duduk di pendapa bersama Ratu Mas Cempaka yang mengenakan pakaian rangkap untuk naik dipunggung kuda. Ketika dilihatnya Tumenggung Jaya Santika menjemputnya, maka Adipati Hadiwijaya dan Ratu Pajang kemudian berdiri dan merekapun berjalan bersama menuju ruangan dalam kraton, untuk berpamitan kepada Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari. 

Ketika Adipati Hadiwijaya naik ke pendapa, yang mengantar hanya Tumenggung Jaya Santika, sedangkan tiga orang Lurah prajurit kembali bergabung dengan prajurit yang lain. 

Di dalam ruangan, Kanjeng Sultan duduk di kursi, disebelahnya duduk Kanjeng Prameswari sedang menunggu kedatangan putri dan menantunya.

Didepan pintu yang tertutup telah berdiri Tumenggung Gajah Birawa bersama Tumenggung Suranata, yang telah menunggu kedatangan mereka berdua.

Tumenggung Gajah Birawa kemudian mempersilahkan Adipati Hadiwijaya dan Ratu Mas Cempaka untuk memasuki ruangan dalam, sedangkan ketiga orang Tumenggung itu menunggu di samping pintu. 

Adipati Hadiwijaya beserta Sang ratu kemudian memasuki ruangan dengan berjalan jongkok, lalu mereka berdua duduk dihadapan Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari.

Setelah mereka berdua menyembah, maka Adipati Hadiwijaya kemudian berkata ;

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, hamba berdua mohon pamit dan mohon doa restu, hamba akan berangkat ke Pajang sekarang" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ya, hati-hati diperjalanan, dan bimbing istrimu baik-baik" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Hamba mohon pamit Ayahanda Sultan" kata Ratu Mas Cempaka.

"Ya anakku, mudah-mudahan kau bahagia tinggal di Pajang" kata Kanjeng Sultan Trenggana

Adipati Hadiwijaya kemudian melakukan sungkem terhadap Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari, diikuti oleh Ratu Mas Cempaka. 

Setelah Ratu Mas Cempaka sungkem kepada ayahandanya, lalu dilanjutkan dengan sungkem kepada ibundanya.

Ketika Kanjeng Prameswari melihat anaknya berjalan jongkok akan sungkem kepadanya, maka dengan cepat Kanjeng Prameswari meraih bahu Ratu Mas Cempaka, kemudian iapun merangkul putrinya dan sesaat kemudian meledaklah tangis keduanya.

Cukup lama Ratu Mas Cempaka menangis dipelukan ibundanya, Kanjeng Prameswari, sampai akhirnya Kanjeng Sultanpun memisahkan mereka berdua.

"Sudahlah Ratu, biarkan putrimu berangkat ke Pajang" kata Sultan Trenggana. 

Kanjeng Prameswari kemudian melepaskan pelukannya, lalu Ratu Mas Cempakapun kemudian kembali duduk bersimpuh dihadapannya. 

"Ratu, marilah kita antar mereka berdua sampai ke pendapa" kata Kanjeng Sultan. 

Adipati Hadiwijaya beserta istrinya kemudian menyembah, setelah itu Kanjeng Sultanpun bangkit berdiri diikuti oleh Kanjeng Prameswari. Keduanya lalu berjalan menuju pintu, kemudian diikuti oleh Adipati Hadiwijaya bersama Ratu Mas Cempaka.

Ketiga orang Tumenggung yang masih berada didepan pintu, segera mengikuti dibelakang Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari

Ketika Kanjeng Sultan sampai di pendapa, di halaman terlihat beberapa keluarga Kraton, putra sulung yang menjadi Pangeran Pati Kasultanan Demak, Bagus Mukmin yang tinggal di Prawata yang sekarang bernama Sunan Prawata beserta Ratu Prawata, Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat bersama Ratu Kalinyamat, disampingnya berdiri Pangeran Timur, putra bungsu Kanjeng Sultan yang masih anak-anak.

Disampingnya berdiri Kanjeng Sunan Kalijaga yang datang dari Kadilangu khusus untuk melihat dan mengantar boyongan muridnya 

Dibelakangnya berdiri Patih Wanasalam, Tumenggung Gagak Anabrang, Tumenggung Surapati, Tumenggung Siung Laut dan beberapa orang Tumenggung lainnya.

Dibelakangnya, berdiri beberapa orang berpangkat Panji dan beberapa orang berpangkat Rangga. 

Ketika Kanjeng Sultan menghentikan langkahnya berdiri dipinggir lantai pendapa, maka sekali lagi Adipati Hadiwijaya bersama istrinya menyembah kepada Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari, lalu keduanya turun dari pendapa, berjalan menghampiri dan berpamitan kepada Sunan Prawata dan Ratu Prawata, setelah itu keduanya menuju ketempat Pangeran Hadiri dan Ratu Kalinyamat.

Ketika Ratu Kalinyamat melihat Ratu Mas Cempaka mendekat, maka Ratu Kalinyamatpun kemudian maju selangkah kedepan, lalu meraih dan memeluk erat adik kandungnya, Ratu Pajang, sambil meneteskan air mata.

Ratu Pajangpun juga menangis, didalam pelukan kakaknya Ratu Kalinyamat.

Beberapa saat kemudian, keduanya melepaskan pelukannya, lalu Ratu Pajang kemudian memeluk dan mencium adiknya yang masih anak-anak, Pangeran Timur. 

Sang Adipati kemudian menghampiri Kanjeng Sunan Kalijaga, meraih tangannya dan menciumnya ;"Mohon doa restu Kanjeng Sunan" 

"Ya Hadiwijaya, hati-hati dijalan, semoga selamat sampai di Pajang" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

Setelah itu Adipati Hadiwijaya berpamitan kepada Patih Wanasalam dan kepada para Tumenggung, Panji dan Rangga.

"Selamat jalan Kanjeng Adipati" kata Patih Wanasalam. 

"Terima kasih Ki Patih" kata Adipati Pajang.

"Hati-hati dijalan Kanjeng Adipati" kata Panji Danapati

"Semoga selamat sampai di Pajang, Kanjeng Adipati" kata Rangga Pideksa 

"Terima kasih Ki Panji, terima kasih Ki Rangga" kata Adipati Pajang.

Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranatapun kemudian turun ke halaman menghampiri Sang Adipati.

"Terima kasih atas bantuan Ki Tumenggung selama ini" kata Adipati Pajang kepada Tumenggung Gajah Birawa.

"Selamat jalan Kanjeng Adipati" kata Tumenggung Gajah Birawa sambil tersenyum, diapun teringat, diantara semua prajurit Demak, hanya dialah yang pernah mencoba kekuatan Adipati Hadiwijaya, dan pada saat itu, ia tak mampu mengalahkan Karebet yang berusia sama dengan anaknya.

Setelah selesai berpamitan, maka Tumenggung Jaya Santika mengangkat tangannya, dan terdengarlah suara bende yang ditabuh untuk kedua kalinya. 

Kanjeng Ratu Mas Cempaka kemudian naik ke tandu joli jempana yang berukuran agak kecil, lalu tandu itupun diangkat oleh empat orang prajurit yang mengenakan pakaian abdi dalem, sedangkan empat orang pengusung tandu lainnya naik kuda yang berada agak jauh dibelakang tandu. 

Adipati Hadiwijaya kemudian naik ke punggung kuda yang berada disebelah kanan tandu, lalu disusul oleh Pemanahan, Penjawi, Ngabehi Wuragil, Prayoga dan Prayuda, naik kuda dibelakang prajurit berkuda pengusung tandu. 

Prajurit pembawa songsong Kadipaten Pajang, telah berada diatas punggung kuda dibelakang Kanjeng Adipati Pajang. Setelah itu Nyai Madusari, Menur dan dua orang emban naik ke atas punggung kuda, yang tali kendalinya dipegang oleh seorang prajurit, dua ekor kuda bebanpun sudah siap dituntun oleh dua orang prajurit.

Setelah semuanya siap, maka Tumenggung Jaya Santika memberkan aba-aba, lalu terdengarlah suara bende yang ketiga kalinya, dan bergeraklah prajurit yang membawa bendera Gula Kelapa, diikuti oleh semua rombongan yang berangkat ke Pajang maupun yang hanya mengantar ke perbatasan kotaraja. 

Semua orang yang menyaksikan melambaikan tangannya, Ratu Mas Cempakapun juga membalas melambaikan tangannya sambil matanya berlinang untaian air mata.

Ketika rombongan prajurit telah hilang dari pandangan, maka Kanjeng Sultanpun berkata kepada Tumenggung Suranata ;" Panggil Tumenggung Surapati, Tumenggung Gagak Anabrang dan Panji Danapati, suruh mereka menghadapku sekarang"

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Surapati.

Sesaat kemudian Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswaripun segera masuk kembali ke ruangan dalam, dikawal oleh Tumenggung Gajah Birawa. 

Pada saat itu rombongan boyongan yang dipimpin oleh Tumenggung Jaya Santika telah keluar dari pintu gerbang Kraton, mereka berjalan menuju arah selatan. 

Belum begitu jauh dari alun-alun, Adipati Hadiwijaya melihat lima orang sedang berdiri di pinggir jalan, seperti sengaja untuk melihat dari dekat Sang Pengantin baru. 

"Hm, ternyata mereka adalah Tumpak, Soma, Ki Lurah Mada, Ki Lurah Wirya dan Ki Lurah Wiguna" kata Sang Adipati yang segera mengangkat tangannya memberi isyarat kepada pemimpin prajurit, Tumenggung Jaya Santika. 

Sesaat kemudian terdengarlah suara bende yang ditabuh dua kali, ketika kuda pembawa bendera Gula Kelapa berhenti, maka semua rombonganpun kemudian segera berhenti.

Adipati Hadiwijaya kemudian turun dari kudanya, lalu iapun menghampiri mereka berlima, dan ketika Sang Adipati tiba didepannya, maka kelima orang itu membungkuk hormat sambil berkata :"Hormat kami untuk Kanjeng Adipati Hadiwijaya" 

Lalu Lurah Wirya melanjutkan :" Selamat jalan Kanjeng Adipati, semoga selamat sampai di Pajang" 

"Terima kasih semuanya" kata Adipati Hadiwijaya sambil tersenyum.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita