Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 37 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 37 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Pada saat acara pinangan tadi pagi, Kanjeng Sunan telah datang dengan beberapa orang santri Kadilangu, tetapi besok pada acara ijab kabul, Kanjeng Sunan Kalijaga akan datang ke kraton bersama dengan dua orang santri Kadilangu" kata Prayuda.

"Ya, tidak apa-apa, lalu Kanjeng Sunan berpesan apa lagi?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Hanya itu yang dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Prayoga.

"Ya, cukup jelas, silahkan kalau kalian akan istirahat" kata Sang Adipati.

"Terima kasih Kanjeng Adipati, kami akan ke rumah samping dulu" kata Prayuda.

Setelah berkata demikian, maka Prayoga dan Prayuda segera mundur dan berjalan menuju rumah samping, berkumpul bersama dengan yang lain.

Tak lama kemudian, setelah keduanya meninggalkan pendapa, masuklah Tumenggung Gajah Birawa ke dalem Gajah Birawan, setelah sejak pagi bertugas mendampingi Kanjeng Sultan. 

Setelah membersihkan dirinya, maka Ki Tumenggung menemui Adipati Hadiwijaya dan Kebo Kanigara di ruang belakang.


"Bagaimana Ki Tumenggung, ada kabar baru dari Kraton?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Tidak ada perubahan Kanjeng Adipati, masih tetap seperti rencana semula seperti yang telah disampaikan oleh Tumpak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang beberapa persoalan, dan beberapa saat kemudian Ki Tumenggungpun berkata ;" Sudah malam, silahkan kalau Kanjeng Adipati dan Ki Kebo Kanigara akan beristirahat" 

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Kebo Kanigara, kemudian Ki Tumenggung Gajah Birawapun meninggalkan mereka, masuk ke ruang dalam.

Malam semakin larut di dalem Gajah Birawan, ketika terdengar suara kentongan yang ditabuh dengan nada dara muluk, hampir semua tamu dari Pajang sudah terlelap tidur. 

Ketika dilangit sebelah timur sudah semburat berwarna merah, burungpun mulai berkicau, ayam peliharaan di dalem Gajah Birawanpun telah berkokok menyambut pagi, para tamu yang menginap juga sudah bangun, bersiap untuk mengikuti acara pahargyan pengantin pagi ini, mengantar calon pengantin laki-laki Nyantri ke dalem kesatrian di Kraton Demak.

Belasan orang yang menginap di dalem Gajah Birawan, bergantian membersihkan dirinya di pakiwan, langitpun semakin lama semakin terang, Tumenggung Gajah Birawapun telah berangkat menuju Kraton.

Adipati Hadiwijayapun telah mempersiapkan dirinya, demikian juga dengan Kebo Kanigara, beserta para sesepuh yang berada di dalem Gajah Birawan. 

Mereka telah bersiap, tinggal menunggu kedatangan pasukan penjemput dari Kraton. 

Sementara itu di depan Sasana Sewaka, telah berkumpul puluhan prajurit, satu persatu mereka datang, bergabung dengan yang sudah datang terlebih dahulu. Tiga orang prajurit, dari kesatuan Wira Tamtama, Wira Braja dan kesatuan Patang Puluhan, masing-masing membawa tiga buah bendera kesatuan yang diikatkan pada sebuah tongkat panjang, sedangkan seorang prajurit Wira Tamtama membawa sebuah bendera Gula Kelapa yang berukuran agak besar.

Disebelahnya, telah siap seekor kuda berwarna putih tanpa penunggang, tali kendalinya dipegang oleh seorang prajurit Patang Puluhan, didekatnya terlihat Lurah Mada dari kesatuan prajurit Wira Tamtama sibuk menghitung beberapa prajurit Wira Tamtama yang ditugaskan menjemput ke dalem Gajah Birawan.

"Sudah lengkap, prajurit Wira Tamtama sudah datang semua, sepuluh orang" kata Lurah Mada dalam hati, demikian juga Lurah Sungkawa dari kesatuan prajurit Wira Braja, dia menghitung orang yang berpakaian prajurit Wira Braja yang berada di depan Sasana Sewaka.

"Prajurit Wira Braja semua sudah lengkap, sudah datang sepuluh orang" kata Lurah Sungkawa.

Yang terlihat paling banyak adalah prajurit dari kesatuan Patang Puluhan, mereka mengenakan pakaian keprajuritan yang berwarna hijau, telah berbaris tegak didepan Lurah Srana yang mengenakan kain cinde berwarna merah.

"Empat puluh orang prajurit, lengkap" kata Lurah Srana, kemudian iapun segera berjalan menuju tempat pemimpin acara penjemputan ini, Tumenggung Jaya Santika yang sedang berdiri disamping Pangeran Hadiri dan disebelahnya berdiri Tumenggung Suranata.

Ketika Ki Tumenggung Jaya Santika menerima laporan dari Lurah Srana, maka Tumenggung Jaya Santika berkata kepada Pangeran Hadiri ;"Para prajurit sudah siap diberangkatkan menjemput calon pengantin, Pangeran" 

"Baik Ki Tumenggung, mereka bisa diberangkatkan sekarang" kata Pangeran Hadiri.

Tumenggung Jaya Santika kemudian bersiap, iapun segera memberi perintah kepada Ki Lurah Srana, dan sesaat kemudian terdengarlah bunyi bende yang ditabuh keras. 

Maka bersiaplah semua prajurit, mereka berbaris, didepan sendiri seorang prajurit Wira Tamtama membawa sebuah bendera Gula Kelapa. lalu dibelakangnya seorang prajurit Wira Tamtama membawa sebuah bendera yang berwarna hitam, bergambar sebuah Cakra berwarna kuning emas, itulah bendera kesatuan Wira Tamtama, yang bernama Cakra Baskara. Dibelakangnya, berbaris sepuluh orang prajurit Wira Tamtama yang membawa sebuah pedang yang tergantung di pinggangnya.

Di belakang prajurit Wira Tamtama, terlihat seorang prajurit yang membawa bendera yang berwarna pare anom bergambar sebuah Trisula berwarna hitam, itulah bendera kesatuan Wira Braja, yang bernama Trisula Sakti, dibelakang prajurit Wira Tamtama ada seekor kuda yang berwarna putih tanpa penunggang, dan disampingnya berdiri seorang prajurit Patang Puluhan sedang memegang tali kendali kuda. 

Di belakangnya ada seorang prajurit yang membawa sebuah bende, setelah itu, seorang prajurit Patang Puluhan memegang sebuah bendera berwarna hijau bergambar seekor harimau putih yang sedang mengaum, itulah bendera kesatuan Patang Puluhan, yang bernama Sardula Seta.

Yang paling belakang adalah empat puluh prajurit dari kesatuan Patang Puluhan yang berbaris rapi, siap menjemput calon pengantin laki-laki.

Ketika terdengar bende yang ditabuh untuk kedua kalinya, maka semua prajurit yang akan menjemput calon pengantin pria segera bersiap. Tumenggung Jaya Santika segera bersiap di depan, dan ketika Pangeran Hadiri menganggukkan kepalanya, maka ditabuhlah bende untuk ketiga kalinya, suaranya terdengar oleh semua prajurit yang berada didepan Sasana Sewaka. 

Kemudian mulailah prajurit Wira Tamtama yang membawa bendera Gula Kelapa telah bergerak maju, lalu diikuti oleh tiga kesatuan prajurit yang bertugas menjemput calon pengantin laki-laki.

Dengan langkah teratur, para prajurit berbaris gagah menuju dalem Gajah Birawan, tempat calon pengantin yang sudah siap menunggu, seekor kuda putih tanpa penunggang yang dituntun oleh seorang prajurit, terlihat gagah berada diantara warna warni pakaian seragam prajurit Kraton.

Di dalem Gajah Birawan, Kebo Kanigara dan Adipati Hadiwijaya beserta para pengombyong sudah siap untuk menerima kedatangan pasukan penjemputnya, mereka berdiri rapi dibelakang dua orang prajurit Wira Tamtama yang tegak menanti pasukan penjemput calon pengantin.

Tak lama kemudian pasukan penjemput telah berhenti didepan gerbang dalem Gajah Birawan, pemimpin pasukan, Tumenggung Jaya Santika berjalan mendekati Tumpak, seorang prajurit Wira Tamtama yang tegak berdiri di halaman depan pendapa.

Keduanya berbincang sebentar, lalu Tumenggung Jaya Santika bersama kedua orang prajurit Wira Tamtama, diikuti oleh Kebo Kanigara berserta Adipati Hadiwijaya dan dibelakangnya, diikuti oleh pengikutnya, berjalan menuju ke tempat kuda putih yang sudah bersiap di tengah barisan.

Tumenggung Jaya Santika kemudian mempersilahkan Adipati Hadiwijaya untuk naik ke atas punggung kuda putih, dan sesaat kemudian telihat Adipati Hadiwijaya yang memakai busana kesatrian, dengan gagahnya telah duduk di atas punggung seekor kuda putih.

Kebo Kanigara bersama pengombyong yang lain menempatkan diri, berdiri rapi dibelakang kuda putih, Ganjurpun mendesak maju, ia ingin berjalan didekat kemenakannya yang akan menjadi pengantin. 

Tumenggung Jaya Santika kemudian berjalan menuju ke depan sebelah kanan, lalu iapun memberi aba-aba untuk berangkat, dan bergeraklah barisan itu kedepan, lalu memutar dan berbalik arah menuju ke Kraton dan tak lama kemudian barisanpun telah memasuki pintu gerbang Kraton dan langsung bergerak menuju ke bangsal Kesatrian.

Didepan Kesatrian, telah bersiap wakil dari Kraton, menantu Kanjeng Sultan Trenggana, suami Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadiri yang akan menerima kedatangan calon pengantin laki-laki untuk menjalani laku Nyantri, belajar adat istiadat, tata krama ataupun subasita untuk menjadi keluarga Kraton Demak. 

Ketika barisan penjemput berhenti, Adipati Hadiwijayapun turun dari kudanya, maka Tumenggung Jaya Santika kembali berjalan ketempat Pangeran Hadiri, melaporkan kedatangan calon pengantin yang akan Nyantri.

Penerimaan calon pengantin hanya berlangsung singkat, Pangeran Hadiri maju ke tempat Adipati Hadiwijaya, berbicara singkat dengan Kebo Kanigara, lalu Adipati Hadiwijaya bersama Pangeran Hadiri segera berjalan memasuki bangsal kesatrian, diikuti oleh Kebo Kanigara beserta semua pengombyong.

Ketika mereka berdua menghilang dibalik pintu, maka Tumenggung Jaya Santikapun segera membubarkan barisan penjemput, hanya para prajurit dari kesatuan Wira Tamtama yang tidak ikut membubarkan diri, mereka berjaga diluar bangsal kesatrian, bersiap untuk mengawal acara selanjutnya.

Di bangsal Kesatrian, sebelum Adipati Hadiwiaya menjalani laku Nyantri, terlebih dulu harus menjalani acara siraman. Air untuk siraman diambilkan dari tujuh buah sumur yang berbeda didaerah sekitar kotaraja Demak.

Penyiraman pertama dilakukan oleh Kebo Kanigara, kemudian dilanjutkan oleh para sesepuh, Ki Buyut Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan beberapa pengombyong yang lain, tidak ketinggalan Ganjurpun minta supaya bisa ikut menyiram calon pengantin dengan air dari tujuh sumur yang berbeda.

"Aku adalah pamannya, aku harus diperbolehkan ikut mengguyur kepala Karebet dengan air dari tujuh sumur" kata Ganjur kepada Ki Prayuda yang duduk disebelahnya.

Setelah melakukan siraman, maka acara Nyantripun segera dimulai, Pangeran Hadiripun kemudian memperkenalkan semua adat istiadat Kraton kepada calon pengantin laki-laki.

Ketika Adipati Hadiwijaya sedang menjalani laku Nyantri di bangsal Kesatrian, maka di Bangsal Keputren, Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka sedang menjalani acara sungkeman, yang dipandu oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat.

Acara sungkeman-pun berjalan dengan lancar dan telah selesai dilaksanakan, lalu dilanjutkan dengan acara siraman calon pengantin putri. Siraman pertama dilakukan oleh Kanjeng Prameswari, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Prawata dan beberapa kerabat Kraton yang lain.

Matahari terus merayap naik, dan ketika matahari telah melewati puncak langit, maka acara selanjutnya, yaitu acara Tantingan-pun segera dipersiapkan. Lima orang prajurit Wira Tamtama segera menuju Kaputren, mengawal calon pengantin putri Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka beserta Ratu Kalinyamat dan beberapa orang yang lain menuju ruang Sasana Sewaka.

Setelah itu, dari Kesatrian, calon pengantin laki-laki Adipati Hadiwijaya dikawal oleh lima orang prajurit Wira Tamtama dan diikuti oleh para pengombyong, berjalan menuju Sasana Sewaka.

Sambil berjalan dibelakang Adipati Hadiwijaya, Ganjurpun bertanya kepada Prayoga yang berjalan disebelahnya. 

"Ini acara apa lagi?, acaranya ternyata banyak sekali" kata Ganjur.

"Tantingan" jawab Prayoga.

"Ditanting ?, he Prayoga, aku sudah tahu apa jawaban Karebet nanti, kenapa harus ditanting?" tanya Ganjur.

"Aku juga tidak tahu Ki, coba Ki Ganjur tanya kepada Ki Tumenggung Jaya Santika" jawab Prayoga. 

“Aku tidak berani” kata Ganjur, lalu iapun menggeremang sendiri, tetapi ia tidak berani bertanya kepada Tumenggung Jaya Santika.

Beberapa saat kemudian, rombongan calon pengantin pria sudah sampai di depan Sasana Sewaka, dan didalamnya telah menunggu Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari yang duduk di kursi, bersama Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka yang duduk bersimpuh di hadapan Kanjeng Sultan, sedangkan dibelakangnya duduk bersimpuh Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Kanjeng Ratu Prawata bersama para kerabat Kraton yang lain. 

Didekat Kanjeng Sultan, duduk bersila pengawal setianya, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang, dan dibelakangnya, berdiri tegak songsong Kasultanan Demak yang berwarna kuning emas.

Didepan Sasana Sewaka, Adipati Hadiwijaya disambut oleh putra mahkota Kasultanan Demak, Bagus Mukmin dari pesanggrahan Prawata yang sekarang bernama Sunan Prawata beserta menantu Kanjeng Sultan dari Kalinyamat, Pangeran Hadiri.

Mereka kemudian memasuki Sasana Sewaka, Adipati Hadiwijaya menempatkan diri disebelah Sekar Kedaton, sedangkan Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri duduk bersila di samping Kanjeng Sultan. 

Setelah terlebih dulu menyembah, kemudian semua pengombyong duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan, Sekar Kedaton yang datang terlebih dulu di Sasana Sewaka, wajahnya menunduk, tapi bibirnya terlihat sedang tersenyum, 

"Kakangmas Hadiwijaya memang gagah kalau memakai busana kesatrian" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka hampir tidak terdengar.

"Saat ini aku berada disebelah kakangmas Hadiwijaya, tetapi aku tidak boleh berbicara apapun, harus menunggu sampai besok pagi, hmm lama sekali" kata Bunga Cempaka didalam hatinya. 

Setelah itu, acara Tantinganpun segera dimulai, Adipati Hadiwijaya bersama Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka menggeser duduknya mendekat ke Kanjeng Sultan.

Acara Tantingan berlangsung singkat, kedua calon pengantin ditanya oleh Kanjeng Sultan tentang kesiapan dan kemantapan mereka menjadi sepasang suami istri. Adipati Hadiwijaya dan Sekar Kedatonpun menjawab singkat, mereka telah siap dan tidak ragu-ragu untuk menjalani kehidupan sebagai suami isteri.

Ketika Adipati Hadiwijaya menyatakan kesanggupannya, Ganjurpun berbisik perlahan kepada orang yang duduk bersila disebelahnya.

"Nah, apa kataku tadi, Karebet pasti mau kalau ia menjadi suami Sekar Kedaton" kata Ki Ganjur dengan bangga.

Orang yang disebelahnya, Prayoga, hanya menjawab dengan desisan :"Sssssstt"

Cep klakep Ganjur terdiam, dia baru sadar kalau berada dihadapan Kanjeng Sultan, siapapun tidak diperkenankan berbicara sendiri tanpa melalui Kanjeng Sultan. Ganjurpun gemetar, dia melirik kearah prajurit Wira Tamtama, dan dia merasa beruntung karena tak seorang prajuritpun yang mendengar suaranya.

Setelah acara Tantingan selesai, maka Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswari berdiri dikawal oleh kedua Tumenggung, meninggalkan Sasana Sewaka menuju ruang dalam Kraton.

Setelah itu Adipati Hadiwijaya diiringi Pangeran Hadiri dan Sunan Prawata dikawal oleh lima orang prajurit Wira Tamtama dan diiringi para pengombyong meninggalkan Sasana Sewaka menuju ke bangsal Kesatrian. Demikian juga dengan Sekar Kedaton, iapun berjalan menuju kaputren bersama Ratu Kalinyamat dan Ratu Prawata, diikuti oleh para pengiring lainnya.

Setelah mengantar Adipati Hadiwijaya pulang ke bangsal Kesatrian, maka Kebo Kanigara beserta para pengombyong lainnya berpamitan, kembali ke dalem Gajah Birawan, sedangkan Adipati Hadiwijaya tetap berada di bangsal Kesatrian sampai acara ijab kabul besok pagi.

Sementara itu di Kaputren, setelah matahari terbenam nanti, akan ada acara khusus untuk pengantin putri, Midadareni. 

Malam harinya di Kaputren, pada malam Midadareni, semua perhatian tertuju kepada Gusti Putri Mas Cempaka yang sedang dirias oleh juru rias Kraton. 

Seorang emban yang gemuk berkata lirih kepada seorang perempuan disebelahnya :"Waduh, Gusti Putri memang manglingi kalau sudah dipaesi pengantin, ih aku ingin jadi pengantin lagi"

Perempuan yang disebelahnya, Nyai Madusari berkata :"Jadi, kau dengan abdi dalem yang kurus itu belum menjadi pengantin?"

"Belum, dari dulu dia cuma janji-janji terus" kata emban yang gemuk itu sambil tersenyum.

Kanjeng Prameswari pun memuji kecantikan anaknya :"Ajeng, kau malam ini terlihat sangat cantik" 

"Semua pengantin kalau dipaesi berubah menjadi cantik Kanjeng Ibu " jawab Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.

"Ajeng, besok setelah menjadi istri Adipati Hadiwijaya, namamu akan berubah menjadi Ratu Mas Cempaka" kata Kanjeng Prameswari.

"Sendika dawuh Kanjeng ibu" kata Sekar Kedaton.

"Kau memang cantik malam ini Nimas, manglingi, sayang, Adimas Hadiwijaya saat ini tidak bisa memandangmu, bagaimana kalau besok pagi Adimas Hadiwijaya tidak mengenalimu, Nimas?" kata Ratu Kalinyamat. 

"Ah Yunda Ratu, kakangmas Hadiwijaya pasti tahu dimana aku, karena dari ratusan orang yang hadir, hanya akulah satu-satunya wanita yang berani memakai cundhuk menthul" kata Sekar Kedaton dengan tersenyum.

Malam itu dikaputren adalah malam Midodareni bagi calon pengantin putri, suatu malam terakhir bagi seorang gadis, karena esok hari semuanya akan berubah, pemuda yang selama ini menjadi belahan jiwanya, akan bersama-sama mengarungi lautan suka dan duka sampai di penghujung usia.

Waktu hampir mencapai tengah malam ketika Sekar Kedaton beranjak tidur, dan malam itu Bunga Cempaka sulit sekali tidur, angan-angannya melayang layang, menembus awan, meniti pelangi, hatinya penuh dengan harapan disertai degup kencang denyut nadinya, tak terasa, besok pagi dia akan melangkah menuju gerbang pernikahan, begitu bahagianya, sesuatu yang dahulu hanya sebatas angan-angan untuk hidup bersama dengan seorang pemuda tampan dari Pengging, besok pagi akan menjadi kenyataan.

Sayup-sayup terdengar suara kentongan dari kejauhan yang ditabuh dengan irama dara muluk, kemudian disusul dengan suara kentongan dengan nada yang sama, yang ditabuh oleh prajurit yang sedang jaga di depan kaputren.

Bintangpun masih berkerlip, dan bulanpun masih tetap bergerak ke barat, fajar yang menyingsing di ufuk timur telah mampu membuat langit berwarna semburat merah, sayup-sayup terdengar kokok ayam jantan dan kicau burung diatas pohon belimbing.

Di Kadilangu, setelah sholat subuh berjamaah, Kanjeng Sunan Kalijaga segera memanggil dua orang santrinya untuk diajak menghadiri ijab kabul pengantin Kasultanan Demak.

"Kita menuju dalem Gajah Birawan, nanti kita bersama-sama menuju ke Kraton" kata Kanjeng Sunan Kalijaga..

"Baik Kanjeng Sunan" kata dua orang santrinya.

Setelah hari menjadi terang, maka berangkatlah Kanjeng Sunan Kalijaga kearah barat bersama dua orang santrinya menuju dalem Gajah Birawan. 

Setelah naik rakit yang berada di pinggir kali Tuntang, maka Kanjeng Sunan Kalijaga berjalan ke utara, dan tak lama kemudian Kanjeng Sunan telah memasuki pintu gerbang dalem Gajah Birawan.

Disana, Kebo Kanigara beserta para pengombyong telah bersiap, 

"Anakmas Kanigara, kita berangkat sekarang?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga. 

"Ya Kanjeng Sunan, kita menuju Kesatrian, lalu menuju Sasana Sewaka, untuk melaksanakan ijab kabul" kata Kebo Kanigara.

"Anakmas Kanigara sudah mempersiapkan saksi?" tanya Kanjeng Sunan. 

"Sudah Kanjeng Sunan" jawab Ki Kebo Kanigara.

"Baik, kita berangkat sekarang" kata Sunan Kalijaga.

Dua orang prajurit Wira Tamtama yang berjaga di dalem Gajah Birawan segera bersiap, salah satu dari mereka mengantar para pengombyong ke bangsal Kesatrian. 

Maka berjalanlah rombongan para pengombyong calon pengantin laki-laki menuju bangsal kesatrian, didepan sendiri berjalan Kebo Kanigara, dan disebelahnya berjalan Kanjeng Sunan Kalijaga.

Beberapa saat kemudian, rombongan sudah memasuki pintu gerbang Kraton dan terus berjalan menuju Kesatrian. Didepan Kesatrian, Adipati Hadiwijaya sudah bersiap, nanti pada waktu berangkat, separo prajurit Patang Puluhan akan mengawal Adipati Hadiijaya, sedangkan yang separo lagi akan mengawal rombongan Sekar Kedaton.

Tumenggung Jaya Santika segera menghampiri Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kebo Kanigara, setelah semuanya siap maka Ki Tumenggungpun segera memerintahkan separo dari prajurit Patang Puluhan untuk menjemput rombongan pengantin putri di Kaputren lalu membawanya ke Sasana Sewaka.

Setelah menunggu sejenak, beberapa saat kemudian, rombonganpun berangkat dari bangsal kesatrian menuju Sasana Sewaka, dikawal oleh dua puluh prajurit Patang Puluhan. 

Adipati Hadiwijaya berada didepan, disebelah kanannya berjalan Kanjeng Sunan Kalijaga, disebelah kirinya berjalan Kebo Kanigara, setelah itu rombongan pengombyong berada dibelakangnya, dan yang terakhir adalah para prajurit Patang Puluhan. 

Sesampai di Sasana Sewaka, ternyata rombongan pengantin putri Sekar Kedaton telah lebih dulu tiba di sana. Tumenggung jaya Santika kemudian mengantar Adipati Hadiwijaya kedepan, duduk bersebelahan dengan pengantin putri Sekar Kedaton, sedangkan Kanjeng Sunan Kalijaga duduk di kursi yang telah disediakan. 

Disebelah Sekar Kedaton, duduk Pangeran Hadiri yang bertindak sebagai saksi dari pihak pengantin putri, sedangkan dari pihak Adipati Hadiwijaya, yang bertindak sebagai saksi adalah saudara seperguruan yang juga menjadi sedulur sinara wedi Ki Ageng Pengging, yaitu Ki Ageng Butuh. 

Duduk agak di belakang, para pengombyong dari rombongan para pengantin, dan agak di sebelah pinggir, Prayoga yang duduk bersila disebelah Ganjur, heran melihat Ganjur terlihat gelisah.

"Ki Ganjur, kenapa wajahmu kau tekuk begitu, seharusnya Ki Ganjur banyak tersenyum, karena kemenakannya menjadi pengantin?" kata Prayoga.

"Kenapa Ki Kebo Kanigara memilih Ki Ageng Butuh sebagai saksi? Aku kan pamannya, harusnya aku yang dipilih menjadi saksi" kata Ganjur.

"Seharusnya aku yang ditanya terlebih dulu, apakah aku bersedia menjadi saksi" kata Ganjur selanjutnya.

"Sudahlah Ki Ganjur, besok kalau Ki Ganjur menjadi pengantin, Ki Ganjur bisa memillih siapa yang akan dijadikan saksi, kalau aku dipilih, aku juga bersedia Ki Ganjur" kata Prayoga. Ganjur tidak menjawab, tetapi terdengar dia menggeremang dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Dibelakang pengantin putri, duduk bersimpuh, Ratu Kalinyamat, Ratu Prawata dan beberapa kerabat Kraton yang lain. Didekatnya, diatas sebuah dingklik yang agak tinggi, terdapat sebuah kotak yang berisi perlengkapan mas kawin.

Tak lama kemudian masuklah Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswari, dikawal oleh Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang, tak lupa dibelakangnya dibawa pula songsong Kasultanan yang menandakan kehadiran Kanjeng Sultan Demak.

Setelah Kanjeng Sultan duduk di depan, dan disebelahnya duduk pula Kanjeng Prameswari, maka ijab kobulpun segera dimulai. 

Ternyata Kanjeng Sultan sendiri yang berkenan menikahkan putrinya. 

Hanya singkat berlangsungnya ijab kabul, setelah Adipati Hadiwijaya menjawab dan mengucapkan kalimat ijab kabul dan disaksikan oleh kedua orang saksi, serta adanya mas kawin yang berada didalam kotak kayu berukir, maka acara ijab kabulpun dianggap sah, kemudian acara yang terakhir, doapun segera diucapkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Setelah doa selesai, maka Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari segera kembali ke ruang dalam, dan kedua rombongan pengantinpun bersiap untuk berjalan kembali ke Kesatrian dan ke Kaputren. 

Ganjurpun bertanya kepada Prayoga yang masih berada disebelahnya.

"Setelah dari Sasana Sewaka, sekarang kita menuju ke Sasana Handrawina?" tanya Ganjur. 

"Tidak Ki Ganjur, acara di Sasana Handrawina nanti setelah acara Panggih, nanti siang" kata Prayoga. 

Sambil berbisik ke telinga Ganjur, Prayogapun berkata ;"Nanti kita akan mendapat makanan di bangsal Kesatrian" 

Rombongan pengantin putripun telah berdiri dan berjalan kembali ke Kaputren, kemudian rombongan Adipati Hadiwijayapun bersiap untuk kembali ke Kesatrian. Tumenggung Jaya Sentika kemudian mempersilahkan Adipati Hadiwijaya untuk berjalan keluar dari Sasana Sewaka, dan sesaat kemudian merekapun berjalan menuju Kesatrian.

"Prayoga, Kenapa Karebet tidak menuju ke Kraton Kilen? Mereka sudah sah menjadi suami istri. kenapa harus kembali ke Kesatrian?" tanya Ki Ganjur. 

"Ya karena jarak ke kesatrian lebih dekat, kalau ke Kraton Kilen jaraknya lebih jauh" kata Prayoga sambil tertawa.

Ganjurpun memandang Prayoga, bibirnya terlihat bergerak-gerak, tetapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Kaki-kaki mereka masih berjalan terus, tak lama kemudian merekapun telah sampai di bangsal Kesatrian, semuanya masuk kedalam, kecuali para prajurit Patang Puluhan, yang menunggu untuk mengantar sang pengantin untuk menyelesaikan acara yag terakhir, Panggih, yang dilanjutkan dengan acara di Sasana Handrawina.

Persiapan untuk acara panggih telah dilakukan, sejak semalam di bagian samping Sasana sewaka telah disiapkan seperangkat gamelan yang akan dibunyikan sewaktu kedua pengantin akan bertemu. 

Sasana Handrawinapun sudah disiapkan untuk menampung tamu yang diundang oleh Kanjeng Sultan.

Meskipun Kanjeng Sultan tidak mengundang para raja manca nagara, tetapi para penguasa daerah Perdikan, Kabupaten maupun Kadipaten di wilayah Kasultanan Demak, semua diundang ke kotaraja Demak.

Para tamu yang diundang Kanjeng Sultan berasal dari daerah Asem Arang, Tegalan, Jepara, Kudus, Pati, Tuban, Jipang, Trowulan dan beberapa daerah di bang wetan, Sela, Kuwu, Wedi, Sima, Banyubiru, Pingit, Sarapadan sampai ke Gunung Kidul, Cirebon dan beberapa daerah di bang kulon.

(bersambung)KERIS KYAI SETAN KOBER 37

KARYA : APUNG SWARNA

BAB 14 : PAHARGYAN PENGANTIN 1 

"Pada saat acara pinangan tadi pagi, Kanjeng Sunan telah datang dengan beberapa orang santri Kadilangu, tetapi besok pada acara ijab kabul, Kanjeng Sunan Kalijaga akan datang ke kraton bersama dengan dua orang santri Kadilangu" kata Prayuda.

"Ya, tidak apa-apa, lalu Kanjeng Sunan berpesan apa lagi?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Hanya itu yang dikatakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Prayoga.

"Ya, cukup jelas, silahkan kalau kalian akan istirahat" kata Sang Adipati.

"Terima kasih Kanjeng Adipati, kami akan ke rumah samping dulu" kata Prayuda.

Setelah berkata demikian, maka Prayoga dan Prayuda segera mundur dan berjalan menuju rumah samping, berkumpul bersama dengan yang lain.

Tak lama kemudian, setelah keduanya meninggalkan pendapa, masuklah Tumenggung Gajah Birawa ke dalem Gajah Birawan, setelah sejak pagi bertugas mendampingi Kanjeng Sultan. 

Setelah membersihkan dirinya, maka Ki Tumenggung menemui Adipati Hadiwijaya dan Kebo Kanigara di ruang belakang.

"Bagaimana Ki Tumenggung, ada kabar baru dari Kraton?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Tidak ada perubahan Kanjeng Adipati, masih tetap seperti rencana semula seperti yang telah disampaikan oleh Tumpak" kata Tumenggung Gajah Birawa.

Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang beberapa persoalan, dan beberapa saat kemudian Ki Tumenggungpun berkata ;" Sudah malam, silahkan kalau Kanjeng Adipati dan Ki Kebo Kanigara akan beristirahat" 

"Terima kasih Ki Tumenggung" kata Kebo Kanigara, kemudian Ki Tumenggung Gajah Birawapun meninggalkan mereka, masuk ke ruang dalam.

Malam semakin larut di dalem Gajah Birawan, ketika terdengar suara kentongan yang ditabuh dengan nada dara muluk, hampir semua tamu dari Pajang sudah terlelap tidur. 

Ketika dilangit sebelah timur sudah semburat berwarna merah, burungpun mulai berkicau, ayam peliharaan di dalem Gajah Birawanpun telah berkokok menyambut pagi, para tamu yang menginap juga sudah bangun, bersiap untuk mengikuti acara pahargyan pengantin pagi ini, mengantar calon pengantin laki-laki Nyantri ke dalem kesatrian di Kraton Demak.

Belasan orang yang menginap di dalem Gajah Birawan, bergantian membersihkan dirinya di pakiwan, langitpun semakin lama semakin terang, Tumenggung Gajah Birawapun telah berangkat menuju Kraton.

Adipati Hadiwijayapun telah mempersiapkan dirinya, demikian juga dengan Kebo Kanigara, beserta para sesepuh yang berada di dalem Gajah Birawan. 

Mereka telah bersiap, tinggal menunggu kedatangan pasukan penjemput dari Kraton. 

Sementara itu di depan Sasana Sewaka, telah berkumpul puluhan prajurit, satu persatu mereka datang, bergabung dengan yang sudah datang terlebih dahulu. Tiga orang prajurit, dari kesatuan Wira Tamtama, Wira Braja dan kesatuan Patang Puluhan, masing-masing membawa tiga buah bendera kesatuan yang diikatkan pada sebuah tongkat panjang, sedangkan seorang prajurit Wira Tamtama membawa sebuah bendera Gula Kelapa yang berukuran agak besar.

Disebelahnya, telah siap seekor kuda berwarna putih tanpa penunggang, tali kendalinya dipegang oleh seorang prajurit Patang Puluhan, didekatnya terlihat Lurah Mada dari kesatuan prajurit Wira Tamtama sibuk menghitung beberapa prajurit Wira Tamtama yang ditugaskan menjemput ke dalem Gajah Birawan.

"Sudah lengkap, prajurit Wira Tamtama sudah datang semua, sepuluh orang" kata Lurah Mada dalam hati, demikian juga Lurah Sungkawa dari kesatuan prajurit Wira Braja, dia menghitung orang yang berpakaian prajurit Wira Braja yang berada di depan Sasana Sewaka.

"Prajurit Wira Braja semua sudah lengkap, sudah datang sepuluh orang" kata Lurah Sungkawa.

Yang terlihat paling banyak adalah prajurit dari kesatuan Patang Puluhan, mereka mengenakan pakaian keprajuritan yang berwarna hijau, telah berbaris tegak didepan Lurah Srana yang mengenakan kain cinde berwarna merah.

"Empat puluh orang prajurit, lengkap" kata Lurah Srana, kemudian iapun segera berjalan menuju tempat pemimpin acara penjemputan ini, Tumenggung Jaya Santika yang sedang berdiri disamping Pangeran Hadiri dan disebelahnya berdiri Tumenggung Suranata.

Ketika Ki Tumenggung Jaya Santika menerima laporan dari Lurah Srana, maka Tumenggung Jaya Santika berkata kepada Pangeran Hadiri ;"Para prajurit sudah siap diberangkatkan menjemput calon pengantin, Pangeran" 

"Baik Ki Tumenggung, mereka bisa diberangkatkan sekarang" kata Pangeran Hadiri.

Tumenggung Jaya Santika kemudian bersiap, iapun segera memberi perintah kepada Ki Lurah Srana, dan sesaat kemudian terdengarlah bunyi bende yang ditabuh keras. 

Maka bersiaplah semua prajurit, mereka berbaris, didepan sendiri seorang prajurit Wira Tamtama membawa sebuah bendera Gula Kelapa. lalu dibelakangnya seorang prajurit Wira Tamtama membawa sebuah bendera yang berwarna hitam, bergambar sebuah Cakra berwarna kuning emas, itulah bendera kesatuan Wira Tamtama, yang bernama Cakra Baskara. Dibelakangnya, berbaris sepuluh orang prajurit Wira Tamtama yang membawa sebuah pedang yang tergantung di pinggangnya.

Di belakang prajurit Wira Tamtama, terlihat seorang prajurit yang membawa bendera yang berwarna pare anom bergambar sebuah Trisula berwarna hitam, itulah bendera kesatuan Wira Braja, yang bernama Trisula Sakti, dibelakang prajurit Wira Tamtama ada seekor kuda yang berwarna putih tanpa penunggang, dan disampingnya berdiri seorang prajurit Patang Puluhan sedang memegang tali kendali kuda. 

Di belakangnya ada seorang prajurit yang membawa sebuah bende, setelah itu, seorang prajurit Patang Puluhan memegang sebuah bendera berwarna hijau bergambar seekor harimau putih yang sedang mengaum, itulah bendera kesatuan Patang Puluhan, yang bernama Sardula Seta.

Yang paling belakang adalah empat puluh prajurit dari kesatuan Patang Puluhan yang berbaris rapi, siap menjemput calon pengantin laki-laki.

Ketika terdengar bende yang ditabuh untuk kedua kalinya, maka semua prajurit yang akan menjemput calon pengantin pria segera bersiap. Tumenggung Jaya Santika segera bersiap di depan, dan ketika Pangeran Hadiri menganggukkan kepalanya, maka ditabuhlah bende untuk ketiga kalinya, suaranya terdengar oleh semua prajurit yang berada didepan Sasana Sewaka. 

Kemudian mulailah prajurit Wira Tamtama yang membawa bendera Gula Kelapa telah bergerak maju, lalu diikuti oleh tiga kesatuan prajurit yang bertugas menjemput calon pengantin laki-laki.

Dengan langkah teratur, para prajurit berbaris gagah menuju dalem Gajah Birawan, tempat calon pengantin yang sudah siap menunggu, seekor kuda putih tanpa penunggang yang dituntun oleh seorang prajurit, terlihat gagah berada diantara warna warni pakaian seragam prajurit Kraton.

Di dalem Gajah Birawan, Kebo Kanigara dan Adipati Hadiwijaya beserta para pengombyong sudah siap untuk menerima kedatangan pasukan penjemputnya, mereka berdiri rapi dibelakang dua orang prajurit Wira Tamtama yang tegak menanti pasukan penjemput calon pengantin.

Tak lama kemudian pasukan penjemput telah berhenti didepan gerbang dalem Gajah Birawan, pemimpin pasukan, Tumenggung Jaya Santika berjalan mendekati Tumpak, seorang prajurit Wira Tamtama yang tegak berdiri di halaman depan pendapa.

Keduanya berbincang sebentar, lalu Tumenggung Jaya Santika bersama kedua orang prajurit Wira Tamtama, diikuti oleh Kebo Kanigara berserta Adipati Hadiwijaya dan dibelakangnya, diikuti oleh pengikutnya, berjalan menuju ke tempat kuda putih yang sudah bersiap di tengah barisan.

Tumenggung Jaya Santika kemudian mempersilahkan Adipati Hadiwijaya untuk naik ke atas punggung kuda putih, dan sesaat kemudian telihat Adipati Hadiwijaya yang memakai busana kesatrian, dengan gagahnya telah duduk di atas punggung seekor kuda putih.

Kebo Kanigara bersama pengombyong yang lain menempatkan diri, berdiri rapi dibelakang kuda putih, Ganjurpun mendesak maju, ia ingin berjalan didekat kemenakannya yang akan menjadi pengantin. 

Tumenggung Jaya Santika kemudian berjalan menuju ke depan sebelah kanan, lalu iapun memberi aba-aba untuk berangkat, dan bergeraklah barisan itu kedepan, lalu memutar dan berbalik arah menuju ke Kraton dan tak lama kemudian barisanpun telah memasuki pintu gerbang Kraton dan langsung bergerak menuju ke bangsal Kesatrian.

Didepan Kesatrian, telah bersiap wakil dari Kraton, menantu Kanjeng Sultan Trenggana, suami Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadiri yang akan menerima kedatangan calon pengantin laki-laki untuk menjalani laku Nyantri, belajar adat istiadat, tata krama ataupun subasita untuk menjadi keluarga Kraton Demak. 

Ketika barisan penjemput berhenti, Adipati Hadiwijayapun turun dari kudanya, maka Tumenggung Jaya Santika kembali berjalan ketempat Pangeran Hadiri, melaporkan kedatangan calon pengantin yang akan Nyantri.

Penerimaan calon pengantin hanya berlangsung singkat, Pangeran Hadiri maju ke tempat Adipati Hadiwijaya, berbicara singkat dengan Kebo Kanigara, lalu Adipati Hadiwijaya bersama Pangeran Hadiri segera berjalan memasuki bangsal kesatrian, diikuti oleh Kebo Kanigara beserta semua pengombyong.

Ketika mereka berdua menghilang dibalik pintu, maka Tumenggung Jaya Santikapun segera membubarkan barisan penjemput, hanya para prajurit dari kesatuan Wira Tamtama yang tidak ikut membubarkan diri, mereka berjaga diluar bangsal kesatrian, bersiap untuk mengawal acara selanjutnya.

Di bangsal Kesatrian, sebelum Adipati Hadiwiaya menjalani laku Nyantri, terlebih dulu harus menjalani acara siraman. Air untuk siraman diambilkan dari tujuh buah sumur yang berbeda didaerah sekitar kotaraja Demak.

Penyiraman pertama dilakukan oleh Kebo Kanigara, kemudian dilanjutkan oleh para sesepuh, Ki Buyut Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan beberapa pengombyong yang lain, tidak ketinggalan Ganjurpun minta supaya bisa ikut menyiram calon pengantin dengan air dari tujuh sumur yang berbeda.

"Aku adalah pamannya, aku harus diperbolehkan ikut mengguyur kepala Karebet dengan air dari tujuh sumur" kata Ganjur kepada Ki Prayuda yang duduk disebelahnya.

Setelah melakukan siraman, maka acara Nyantripun segera dimulai, Pangeran Hadiripun kemudian memperkenalkan semua adat istiadat Kraton kepada calon pengantin laki-laki.

Ketika Adipati Hadiwijaya sedang menjalani laku Nyantri di bangsal Kesatrian, maka di Bangsal Keputren, Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka sedang menjalani acara sungkeman, yang dipandu oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat.

Acara sungkeman-pun berjalan dengan lancar dan telah selesai dilaksanakan, lalu dilanjutkan dengan acara siraman calon pengantin putri. Siraman pertama dilakukan oleh Kanjeng Prameswari, Kanjeng Ratu Kalinyamat, Kanjeng Ratu Prawata dan beberapa kerabat Kraton yang lain.

Matahari terus merayap naik, dan ketika matahari telah melewati puncak langit, maka acara selanjutnya, yaitu acara Tantingan-pun segera dipersiapkan. Lima orang prajurit Wira Tamtama segera menuju Kaputren, mengawal calon pengantin putri Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka beserta Ratu Kalinyamat dan beberapa orang yang lain menuju ruang Sasana Sewaka.

Setelah itu, dari Kesatrian, calon pengantin laki-laki Adipati Hadiwijaya dikawal oleh lima orang prajurit Wira Tamtama dan diikuti oleh para pengombyong, berjalan menuju Sasana Sewaka.

Sambil berjalan dibelakang Adipati Hadiwijaya, Ganjurpun bertanya kepada Prayoga yang berjalan disebelahnya. 

"Ini acara apa lagi?, acaranya ternyata banyak sekali" kata Ganjur.

"Tantingan" jawab Prayoga.

"Ditanting ?, he Prayoga, aku sudah tahu apa jawaban Karebet nanti, kenapa harus ditanting?" tanya Ganjur.

"Aku juga tidak tahu Ki, coba Ki Ganjur tanya kepada Ki Tumenggung Jaya Santika" jawab Prayoga. 

“Aku tidak berani” kata Ganjur, lalu iapun menggeremang sendiri, tetapi ia tidak berani bertanya kepada Tumenggung Jaya Santika.

Beberapa saat kemudian, rombongan calon pengantin pria sudah sampai di depan Sasana Sewaka, dan didalamnya telah menunggu Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari yang duduk di kursi, bersama Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka yang duduk bersimpuh di hadapan Kanjeng Sultan, sedangkan dibelakangnya duduk bersimpuh Kanjeng Ratu Kalinyamat dan Kanjeng Ratu Prawata bersama para kerabat Kraton yang lain. 

Didekat Kanjeng Sultan, duduk bersila pengawal setianya, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang, dan dibelakangnya, berdiri tegak songsong Kasultanan Demak yang berwarna kuning emas.

Didepan Sasana Sewaka, Adipati Hadiwijaya disambut oleh putra mahkota Kasultanan Demak, Bagus Mukmin dari pesanggrahan Prawata yang sekarang bernama Sunan Prawata beserta menantu Kanjeng Sultan dari Kalinyamat, Pangeran Hadiri.

Mereka kemudian memasuki Sasana Sewaka, Adipati Hadiwijaya menempatkan diri disebelah Sekar Kedaton, sedangkan Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri duduk bersila di samping Kanjeng Sultan. 

Setelah terlebih dulu menyembah, kemudian semua pengombyong duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan, Sekar Kedaton yang datang terlebih dulu di Sasana Sewaka, wajahnya menunduk, tapi bibirnya terlihat sedang tersenyum, 

"Kakangmas Hadiwijaya memang gagah kalau memakai busana kesatrian" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka hampir tidak terdengar.

"Saat ini aku berada disebelah kakangmas Hadiwijaya, tetapi aku tidak boleh berbicara apapun, harus menunggu sampai besok pagi, hmm lama sekali" kata Bunga Cempaka didalam hatinya. 

Setelah itu, acara Tantinganpun segera dimulai, Adipati Hadiwijaya bersama Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka menggeser duduknya mendekat ke Kanjeng Sultan.

Acara Tantingan berlangsung singkat, kedua calon pengantin ditanya oleh Kanjeng Sultan tentang kesiapan dan kemantapan mereka menjadi sepasang suami istri. Adipati Hadiwijaya dan Sekar Kedatonpun menjawab singkat, mereka telah siap dan tidak ragu-ragu untuk menjalani kehidupan sebagai suami isteri.

Ketika Adipati Hadiwijaya menyatakan kesanggupannya, Ganjurpun berbisik perlahan kepada orang yang duduk bersila disebelahnya.

"Nah, apa kataku tadi, Karebet pasti mau kalau ia menjadi suami Sekar Kedaton" kata Ki Ganjur dengan bangga.

Orang yang disebelahnya, Prayoga, hanya menjawab dengan desisan :"Sssssstt"

Cep klakep Ganjur terdiam, dia baru sadar kalau berada dihadapan Kanjeng Sultan, siapapun tidak diperkenankan berbicara sendiri tanpa melalui Kanjeng Sultan. Ganjurpun gemetar, dia melirik kearah prajurit Wira Tamtama, dan dia merasa beruntung karena tak seorang prajuritpun yang mendengar suaranya.

Setelah acara Tantingan selesai, maka Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswari berdiri dikawal oleh kedua Tumenggung, meninggalkan Sasana Sewaka menuju ruang dalam Kraton.

Setelah itu Adipati Hadiwijaya diiringi Pangeran Hadiri dan Sunan Prawata dikawal oleh lima orang prajurit Wira Tamtama dan diiringi para pengombyong meninggalkan Sasana Sewaka menuju ke bangsal Kesatrian. Demikian juga dengan Sekar Kedaton, iapun berjalan menuju kaputren bersama Ratu Kalinyamat dan Ratu Prawata, diikuti oleh para pengiring lainnya.

Setelah mengantar Adipati Hadiwijaya pulang ke bangsal Kesatrian, maka Kebo Kanigara beserta para pengombyong lainnya berpamitan, kembali ke dalem Gajah Birawan, sedangkan Adipati Hadiwijaya tetap berada di bangsal Kesatrian sampai acara ijab kabul besok pagi.

Sementara itu di Kaputren, setelah matahari terbenam nanti, akan ada acara khusus untuk pengantin putri, Midadareni. 

Malam harinya di Kaputren, pada malam Midadareni, semua perhatian tertuju kepada Gusti Putri Mas Cempaka yang sedang dirias oleh juru rias Kraton. 

Seorang emban yang gemuk berkata lirih kepada seorang perempuan disebelahnya :"Waduh, Gusti Putri memang manglingi kalau sudah dipaesi pengantin, ih aku ingin jadi pengantin lagi"

Perempuan yang disebelahnya, Nyai Madusari berkata :"Jadi, kau dengan abdi dalem yang kurus itu belum menjadi pengantin?"

"Belum, dari dulu dia cuma janji-janji terus" kata emban yang gemuk itu sambil tersenyum.

Kanjeng Prameswari pun memuji kecantikan anaknya :"Ajeng, kau malam ini terlihat sangat cantik" 

"Semua pengantin kalau dipaesi berubah menjadi cantik Kanjeng Ibu " jawab Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.

"Ajeng, besok setelah menjadi istri Adipati Hadiwijaya, namamu akan berubah menjadi Ratu Mas Cempaka" kata Kanjeng Prameswari.

"Sendika dawuh Kanjeng ibu" kata Sekar Kedaton.

"Kau memang cantik malam ini Nimas, manglingi, sayang, Adimas Hadiwijaya saat ini tidak bisa memandangmu, bagaimana kalau besok pagi Adimas Hadiwijaya tidak mengenalimu, Nimas?" kata Ratu Kalinyamat. 

"Ah Yunda Ratu, kakangmas Hadiwijaya pasti tahu dimana aku, karena dari ratusan orang yang hadir, hanya akulah satu-satunya wanita yang berani memakai cundhuk menthul" kata Sekar Kedaton dengan tersenyum.

Malam itu dikaputren adalah malam Midodareni bagi calon pengantin putri, suatu malam terakhir bagi seorang gadis, karena esok hari semuanya akan berubah, pemuda yang selama ini menjadi belahan jiwanya, akan bersama-sama mengarungi lautan suka dan duka sampai di penghujung usia.

Waktu hampir mencapai tengah malam ketika Sekar Kedaton beranjak tidur, dan malam itu Bunga Cempaka sulit sekali tidur, angan-angannya melayang layang, menembus awan, meniti pelangi, hatinya penuh dengan harapan disertai degup kencang denyut nadinya, tak terasa, besok pagi dia akan melangkah menuju gerbang pernikahan, begitu bahagianya, sesuatu yang dahulu hanya sebatas angan-angan untuk hidup bersama dengan seorang pemuda tampan dari Pengging, besok pagi akan menjadi kenyataan.

Sayup-sayup terdengar suara kentongan dari kejauhan yang ditabuh dengan irama dara muluk, kemudian disusul dengan suara kentongan dengan nada yang sama, yang ditabuh oleh prajurit yang sedang jaga di depan kaputren.

Bintangpun masih berkerlip, dan bulanpun masih tetap bergerak ke barat, fajar yang menyingsing di ufuk timur telah mampu membuat langit berwarna semburat merah, sayup-sayup terdengar kokok ayam jantan dan kicau burung diatas pohon belimbing.

Di Kadilangu, setelah sholat subuh berjamaah, Kanjeng Sunan Kalijaga segera memanggil dua orang santrinya untuk diajak menghadiri ijab kabul pengantin Kasultanan Demak.

"Kita menuju dalem Gajah Birawan, nanti kita bersama-sama menuju ke Kraton" kata Kanjeng Sunan Kalijaga..

"Baik Kanjeng Sunan" kata dua orang santrinya.

Setelah hari menjadi terang, maka berangkatlah Kanjeng Sunan Kalijaga kearah barat bersama dua orang santrinya menuju dalem Gajah Birawan. 

Setelah naik rakit yang berada di pinggir kali Tuntang, maka Kanjeng Sunan Kalijaga berjalan ke utara, dan tak lama kemudian Kanjeng Sunan telah memasuki pintu gerbang dalem Gajah Birawan.

Disana, Kebo Kanigara beserta para pengombyong telah bersiap, 

"Anakmas Kanigara, kita berangkat sekarang?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga. 

"Ya Kanjeng Sunan, kita menuju Kesatrian, lalu menuju Sasana Sewaka, untuk melaksanakan ijab kabul" kata Kebo Kanigara.

"Anakmas Kanigara sudah mempersiapkan saksi?" tanya Kanjeng Sunan. 

"Sudah Kanjeng Sunan" jawab Ki Kebo Kanigara.

"Baik, kita berangkat sekarang" kata Sunan Kalijaga.

Dua orang prajurit Wira Tamtama yang berjaga di dalem Gajah Birawan segera bersiap, salah satu dari mereka mengantar para pengombyong ke bangsal Kesatrian. 

Maka berjalanlah rombongan para pengombyong calon pengantin laki-laki menuju bangsal kesatrian, didepan sendiri berjalan Kebo Kanigara, dan disebelahnya berjalan Kanjeng Sunan Kalijaga.

Beberapa saat kemudian, rombongan sudah memasuki pintu gerbang Kraton dan terus berjalan menuju Kesatrian. Didepan Kesatrian, Adipati Hadiwijaya sudah bersiap, nanti pada waktu berangkat, separo prajurit Patang Puluhan akan mengawal Adipati Hadiijaya, sedangkan yang separo lagi akan mengawal rombongan Sekar Kedaton.

Tumenggung Jaya Santika segera menghampiri Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kebo Kanigara, setelah semuanya siap maka Ki Tumenggungpun segera memerintahkan separo dari prajurit Patang Puluhan untuk menjemput rombongan pengantin putri di Kaputren lalu membawanya ke Sasana Sewaka.

Setelah menunggu sejenak, beberapa saat kemudian, rombonganpun berangkat dari bangsal kesatrian menuju Sasana Sewaka, dikawal oleh dua puluh prajurit Patang Puluhan. 

Adipati Hadiwijaya berada didepan, disebelah kanannya berjalan Kanjeng Sunan Kalijaga, disebelah kirinya berjalan Kebo Kanigara, setelah itu rombongan pengombyong berada dibelakangnya, dan yang terakhir adalah para prajurit Patang Puluhan. 

Sesampai di Sasana Sewaka, ternyata rombongan pengantin putri Sekar Kedaton telah lebih dulu tiba di sana. Tumenggung jaya Santika kemudian mengantar Adipati Hadiwijaya kedepan, duduk bersebelahan dengan pengantin putri Sekar Kedaton, sedangkan Kanjeng Sunan Kalijaga duduk di kursi yang telah disediakan. 

Disebelah Sekar Kedaton, duduk Pangeran Hadiri yang bertindak sebagai saksi dari pihak pengantin putri, sedangkan dari pihak Adipati Hadiwijaya, yang bertindak sebagai saksi adalah saudara seperguruan yang juga menjadi sedulur sinara wedi Ki Ageng Pengging, yaitu Ki Ageng Butuh. 

Duduk agak di belakang, para pengombyong dari rombongan para pengantin, dan agak di sebelah pinggir, Prayoga yang duduk bersila disebelah Ganjur, heran melihat Ganjur terlihat gelisah.

"Ki Ganjur, kenapa wajahmu kau tekuk begitu, seharusnya Ki Ganjur banyak tersenyum, karena kemenakannya menjadi pengantin?" kata Prayoga.

"Kenapa Ki Kebo Kanigara memilih Ki Ageng Butuh sebagai saksi? Aku kan pamannya, harusnya aku yang dipilih menjadi saksi" kata Ganjur.

"Seharusnya aku yang ditanya terlebih dulu, apakah aku bersedia menjadi saksi" kata Ganjur selanjutnya.

"Sudahlah Ki Ganjur, besok kalau Ki Ganjur menjadi pengantin, Ki Ganjur bisa memillih siapa yang akan dijadikan saksi, kalau aku dipilih, aku juga bersedia Ki Ganjur" kata Prayoga. Ganjur tidak menjawab, tetapi terdengar dia menggeremang dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Dibelakang pengantin putri, duduk bersimpuh, Ratu Kalinyamat, Ratu Prawata dan beberapa kerabat Kraton yang lain. Didekatnya, diatas sebuah dingklik yang agak tinggi, terdapat sebuah kotak yang berisi perlengkapan mas kawin.

Tak lama kemudian masuklah Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswari, dikawal oleh Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang, tak lupa dibelakangnya dibawa pula songsong Kasultanan yang menandakan kehadiran Kanjeng Sultan Demak.

Setelah Kanjeng Sultan duduk di depan, dan disebelahnya duduk pula Kanjeng Prameswari, maka ijab kobulpun segera dimulai. 

Ternyata Kanjeng Sultan sendiri yang berkenan menikahkan putrinya. 

Hanya singkat berlangsungnya ijab kabul, setelah Adipati Hadiwijaya menjawab dan mengucapkan kalimat ijab kabul dan disaksikan oleh kedua orang saksi, serta adanya mas kawin yang berada didalam kotak kayu berukir, maka acara ijab kabulpun dianggap sah, kemudian acara yang terakhir, doapun segera diucapkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Setelah doa selesai, maka Kanjeng Sultan dan Kanjeng Prameswari segera kembali ke ruang dalam, dan kedua rombongan pengantinpun bersiap untuk berjalan kembali ke Kesatrian dan ke Kaputren. 

Ganjurpun bertanya kepada Prayoga yang masih berada disebelahnya.

"Setelah dari Sasana Sewaka, sekarang kita menuju ke Sasana Handrawina?" tanya Ganjur. 

"Tidak Ki Ganjur, acara di Sasana Handrawina nanti setelah acara Panggih, nanti siang" kata Prayoga. 

Sambil berbisik ke telinga Ganjur, Prayogapun berkata ;"Nanti kita akan mendapat makanan di bangsal Kesatrian" 

Rombongan pengantin putripun telah berdiri dan berjalan kembali ke Kaputren, kemudian rombongan Adipati Hadiwijayapun bersiap untuk kembali ke Kesatrian. Tumenggung Jaya Sentika kemudian mempersilahkan Adipati Hadiwijaya untuk berjalan keluar dari Sasana Sewaka, dan sesaat kemudian merekapun berjalan menuju Kesatrian.

"Prayoga, Kenapa Karebet tidak menuju ke Kraton Kilen? Mereka sudah sah menjadi suami istri. kenapa harus kembali ke Kesatrian?" tanya Ki Ganjur. 

"Ya karena jarak ke kesatrian lebih dekat, kalau ke Kraton Kilen jaraknya lebih jauh" kata Prayoga sambil tertawa.

Ganjurpun memandang Prayoga, bibirnya terlihat bergerak-gerak, tetapi tidak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya.

Kaki-kaki mereka masih berjalan terus, tak lama kemudian merekapun telah sampai di bangsal Kesatrian, semuanya masuk kedalam, kecuali para prajurit Patang Puluhan, yang menunggu untuk mengantar sang pengantin untuk menyelesaikan acara yag terakhir, Panggih, yang dilanjutkan dengan acara di Sasana Handrawina.

Persiapan untuk acara panggih telah dilakukan, sejak semalam di bagian samping Sasana sewaka telah disiapkan seperangkat gamelan yang akan dibunyikan sewaktu kedua pengantin akan bertemu. 

Sasana Handrawinapun sudah disiapkan untuk menampung tamu yang diundang oleh Kanjeng Sultan.

Meskipun Kanjeng Sultan tidak mengundang para raja manca nagara, tetapi para penguasa daerah Perdikan, Kabupaten maupun Kadipaten di wilayah Kasultanan Demak, semua diundang ke kotaraja Demak.

Para tamu yang diundang Kanjeng Sultan berasal dari daerah Asem Arang, Tegalan, Jepara, Kudus, Pati, Tuban, Jipang, Trowulan dan beberapa daerah di bang wetan, Sela, Kuwu, Wedi, Sima, Banyubiru, Pingit, Sarapadan sampai ke Gunung Kidul, Cirebon dan beberapa daerah di bang kulon.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita