Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 36 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 36 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Ternyata Ki Kebo Kanigara memang orang yang pinunjul, tetapi apakah ia mengenal salah seorang guruku, pertapa di Segara Anakan yang mengajarkan ilmu Segara Muncar?" kata Wenang Wulan dalam hati.

Wenang Wulan terdiam, diapun masih menebak-nebak, hingga terdengar Kanjeng Sunan Kalijaga berkata:" Kita berangkat sekarang anakmas Kanigara?" 

"Silakan Kanjeng Sunan" kata Kebo Kanigara.

Kanjeng Sunanpun kemudian berbicara dengan dua orang prajurit Wira Manggala, lalu salah seorang prajurit itupun berkata kepada semua orang yang berada di halaman:"Kita berangkat menuju dalem Gajah Birawan sekarang, nanti akan kita atur semuanya kalau kita sudah berada di dalem Gajah Birawan"

Setelah semuanya mempersiapkan diri, maka berangkatlah rombongan itu berjalan menuju ke arah barat.


Didepan sendiri berjalan dua orang prajurit Wira Manggala, Adipati Hadiwijaya bersama Kanjeng Sunan Kalijaga dan Kebo Kanigara, lalu disusul empat orang perempuan tua, dibelakangnya berjalan para sesepuh bersama pengikut lainnya, lalu paling belakang ada enam buah tandu yang dipikul oleh para santri, empat diantaranya berbentuk gunungan kecil.

Beberapa orang yang nanti akan menginap di dalem Gajah Birawan, telah membawa bungkusan berisi pakaian masing-masing. 

"Nanti kita menuju ke dalem Gajah Birawan dan akan menginap disana, tidak kembali ke Kadilangu, semua rombongan kita sudah membawa bungkusan pakaiannya?" kata Hadiwijaya kepada Pemanahan. 

"Sudah Kanjeng Adipati" jawab Pemanahan.

Kaki-kaki rombongan itupun melangkah terus menuju ke barat, tak lama kemudian merekapun sampai dipinggir sungai Tuntang.

Dipinggir sungai, telah tertambat sebuah rakit dengan dua batang galah bambu sebagai pendorongnya yang tergeletak di atas rakit. Beberapa orang santri dibantu oleh prajurit Pajang, Prayoga dan Prayuda segera turun ke tepian, merekapun mendorong rakit sedikit ketengah sehingga rakitnya masuk kedalam air dan mengapung di sungai.

Kemudian Sunan Kalijaga, Hadiwijaya, Kebo Kanigara bersama beberapa orang naik ke atas rakit, lalu dua orang santri mendorong rakit itu dengan menggunakan galah kearah barat. Beberapa saat kemudian setelah rakit itu merapat ketepi sebelah barat, maka Kanjeng Sunan bersama yang lainnya segera naik ke atas tanah, rakitpun kembali ke timur untuk menyeberangkan yang lainnya.

Demikianlah beberapa kali rakit itu menyeberangkan rombongan hingga semua orang termasuk enam buah tandu yang dipikul oleh beberapa santri Kadilangu, semuanya telah dapat diseberangkan ke tepi barat sungai Tuntang.

Setelah semua orang berada di tepi sungai sebelah barat, maka perjalanan dilanjutkan lagi, rombonganpun bergerak, tidak terlalu cepat, tetapi karena jarak ke dalem Gajah Birawan tidak terlalu jauh, maka tak berapa lama rombonganpun sudah sampai didepan dalem Gajah Birawan.

Didepan dalem Gajah Birawan, dua orang prajurit Wira Tamtama bersama dengan seorang perwira, Rangga Pideksa, sedang menunggu didepan pintu gerbang, menyongsong kedatangan rombongan dari Pajang, 

"Kanjeng Sunan, Kanjeng Adipati, silahkan semuanya naik di pendapa" kata Rangga Pideksa.

Kemudian semua orang naik dan duduk di pendapa yang sudah diberi tikar pandan, sedangkan enam buah tandu diletakkan didepan pendapa.

Dua orang prajurit Wira Manggala kemudian berjalan menuju ke Kraton untuk melaporkan kedatangan romongan dari Pajang di dalem Gajah Birawan, sedangkan di pendapa, Rangga Pideksa berbincang-bincang dengan Kanjeng Adipati Hadiwijaya bersama para sesepuh yang ikut dalam rombongan itu. Sambil menunggu perintah dari Kraton, merekapun berbincang-bincang tentang beberapa persoalan.

"Aku telah lama mendengar kebesaran nama Ki Kebo Kanigara, tetapi baru sekarang aku bisa bertemu dengan kakang Kanigara" kata Rangga Pideksa. 

"Maaf Ki Rangga, aku terlalu sibuk menggarap sawah dikaki gunung Merbabu, sehingga aku jarang sekali pergi ke kotaraja Demak" jawab Kebo Kanigara sambil tersenyum.

Rangga Pideksa juga tersenyum, ia sama sekali tidak percaya pada ucapan uwa Adipati Hadiwijaya itu. 

"Kakang Kanigara pasti sering datang ke kotaraja" kata Ki Rangga didalam hatinya.

"Kakang Kanigara, dua kali aku diselamatkan oleh Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata Rangga Pideksa. 

Adipati Hadiwijaya yang mendengar percakapan itu hanya tersenyum saja. 

"O, ya, kapan Ki Rangga?" tanya Kebo Kanigara.

"Yang pertama, ketika kami bertemu dengan penjahat yang telah malang melintang di pantai utara mulai dari daerah Wedung sampai di daerah Keling, yang bernama Klabang Ireng dan Klabang Ijo, aku dan seorang prajurit Wira Tamtama yang bernama Tumpak sudah tidak mampu melawan Klabang Ireng, tetapi akhirnya penjahat itu dibunuh oleh Kanjeng Adipati, dengan luka bakar di dadanya" kata Rangga Pideksa.

Kebo Kanigara hanya tersenyum ketika mendengar cerita Rangga Pideksa.

"Yang kedua ketika ada seekor Kebo ndanu mengamuk di perkemahan Kanjeng Sultan di hutan Prawata" kata Rangga Pideksa. 

"Kerbau mengamuk di perkemahan? Aneh " kata Kebo Kanigara.

Mendengar perkataan Ki Rangga Pideksa, sekarang Ki Buyut Banyubiru yang terlihat sedang tersenyum. 

"Ya, ketika ada seekor kerbau yang mengamuk di perkemahan, aku yang memimpin belasan prajurit Wira Tamtama untuk menaklukkannya" cerita Ki Rangga bersemangat. 

"Tidak ada senjata yang mampu melukai tubuh kerbau itu, kulitnya terlalu liat, hanya sekejap, enam orang prajurit Wira Tamtama telah terluka, dan kekalahanku hanya tinggal menunggu waktu saja" kata Ki Rangga.

"Tetapi tiba-tiba aku tidak tahu datangnya dari mana, didepan kerbau gila itu telah berdiri Adipati Hadiwijaya, dan dengan sekali pukul kerbau itu jatuh dan mati, kepala kerbau itu terbakar dengan gambar bekas telapak tangan" kata Rangga Pideksa.

Kebo Kanigara mendengarkan cerita Ki Rangga Pideksa sambil menganggukkan kepalanya, lalu didengarnya Ki Rangga menarik nafas lega. 

"Hampir saja aku menanggung malu terhadap Kanjeng Sultan yang melihat dari luar gubug, aku seorang Rangga ternyata tidak mampu menyelesaikan sebuah persoalan yang mudah, hanya membunuh seekor kerbau yang mengamuk" kata Rangga Pideksa.

Pembicaraan mereka terhenti ketika dua orang prajurit Wira Manggala telah memasuki halaman dalem Gajah Birawan.

"Itu prajurit Wira Manggala, utusan dari Kraton sudah tiba" kata Rangga Pideksa, lalu iapun turun dari pendapa menemui kedua orang praurt itu.

Setelah berbicara sebentar, Ki Rangga lalu berkata kepada Adipati Hadiwijaya, Kanjeng Sunan dan Kebo Kanigara ;" Kanjeng Sultan Trenggana sudah siap, mari kita berangkat sekarang"

"Baik Ki Rangga" kata Kanjeng Sunan.

Sesaat kemudian Rangga Pideksa telah mengatur rombongan yang akan berangkat, yang berjalan didepan Rangga Pideksa bersama Kanjeng Sunan Kalijaga, Kebo Kanigara, dan Adipati Hadiwijaya. 

Setelah itu berjalan empat orang perempuan tua, dibelakangnya berjalan para sesepuh bersama para pengikut lainnya dari Pajang, Pengging, Tingkir dan Banyubiru, lalu paling belakang ada sebuah tandu yang memuat dua buah kotak berisi barang-barang pitukon, sebuah tandu berisi jodang makanan, lalu empat buah gunungan hasil bumi, padi, palawija, sayur mayur dan buah-buahan.

Disepanjang jalan yang dilewatinya, terlihat ratusan rakyat Demak di kotaraja, melihat lewatnya rombongan yang membawa gunungan dari Kadipaten Pajang, mereka bergerombol di sebelah kanan dan kiri jalan mulai dari dalem Gajah Birawan sampai di alun-alun menuju Kraton Demak.

Rombongan berjalan terus, tak lama kemudian rombonganpun telah melewati alun-alun dan tiba di depan pintu gerbang Kraton, dan ketika rombongan berjalan melewati pintu gerbang Kraton, prajurit yang menjaga pintu gerbangpun memberi hormat kepada Rangga Pideksa, Didalam halaman Kraton, sudah banyak orang-orang yang menyambut tamu rombongan dari Pajang.

Rombongan berjalan terus menuju Sasana Sewaka, dan disana telah bersiap Patih Wanasalam, didampingi oleh Tumenggung Surapati dari kesatuan Wira Manggala, Tumengung Suranata dari kesatuan Wira Tamtama, Tumenggung Siung Laut dari kesatuan Jala Pati, Tumenggung Ranapati dari kesatuan Wira Radya, Tumenggung Palang Nagara dari kesatuan Wira Yudha, dan Tumenggung Jaya Santika dari kesatuan Patang Puluhan, ditambah dengan beberapa orang perwira yang berpangkat Panji dan Rangga.

Disebelahnya, terlihat putra Kanjeng Sultan, Pangeran Arya atau Bagus Mukmin yang sekarang telah berganti nama menjadi Sunan Prawata bersama isterinya, Ratu Prawata yang menggandeng putra bungsu Kanjeng Sultan yang masih anak-anak, Pangeran Timur. Dibelakangnya ada seorang emban yang mengendong seorang anak laki-laki yang berusia satu warsa, satu-satunya putra Sunan Prawata, yang bernama Raden Arya Pangiri. 

Disebelahnya lagi berdiri putri Kanjeng Sultan, Ratu Kencana yang berdiam di pesanggrahan Kalinyamat dan sekarang disebut Ratu Kalinyamat beserta suaminya, pangeran Hadiri atau yang disebut juga Pangeran Kalinyamat. Mereka semuanya menyambut kedatangan Adipati Hadiwijaya beserta rombongannya didepan Sasana Sewaka.

Wajah Ki Kebo Kanigara menjadi sedikit tegang, ketika akan memasuki Sasana Sewaka, yang didalamnya nanti terdapat Kanjeng Sultan Trenggana, saudara sepupunya.

"Hm aku telah menyingkir dari pergaulan sanak kadang, tangga teparo, hampir seusia Karebet sendiri, tetapi sekarang persoalan Pengging memang telah selesai" kata Kebo Kanigara dalam hati. 

"Didalam Sasana Sewaka nanti ada Sultan Trenggana, hampir tiga windu aku tidak pernah bertemu dengannya" desis Kebo Kanigara.

Setelah Adipati Hadiwijaya dan rombongan telah tiba di Sasana Sewaka, kemudian mereka semuanya dipersilahkan masuk ke Sasana Sewaka, didepan telah dipersiapkan beberapa kursi dan beberapa dingklik yang masih kosong. 

Patih Wanasalam kemudian mempersilahkan Kanjeng Sunan Kalijaga untuk duduk disalah satu kursi yang ada disana, lalu Adipati Hadiwijaya bersama Kebo Kanigara dipersilahkan duduk di dingklik.

Setelah itu beberapa Tumenggung dan keluarga Kratonpun duduk di beberapa dingklik yang berada di depan, berhadapan dengan tempat duduk Adipati Hadiwijaya serta Ki Kebo Kanigara, dipaling belakang duduk bersimpuh seorang emban bersama cucu Kanjeng Sultan Trenggana. 

Semua rombongan para sesepuh beserta nayaka praja Pajang dipersilakan masuk ke Sasana Sewaka dan merekapun duduk bersila di lantai, kecuali Pemanahan dan Penjawi yang masih berada diluar, menjaga dua buah kotak berisi beberapa barang pitukon untuk Sekar Kedaton. Enam buah tandu, semuanya telah diletakkan di halaman Sasana Sewaka, dan semua orang yang memikul tandu terlihat berdiri menjaga di sebelahnya.

Setelah semuanya bersiap, Tumenggung Surapati berkata, bahwa Kanjeng Sultan akan segera memasuki Sasana Sewaka. 

Tak lama kemudian, dari ruang dalam Kraton, keluarlah sebuah rombongan kecil, yang berjalan paling depan adalah dua orang Tumenggung, yang disebelah kanan, seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Tamtama yang bertubuh tinggi besar, Tumenggung Gajah Birawa, sedangkan yang berjalan disebelah kiri adalah seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Braja, Tumenggung Gagak Anabrang.

Kedua orang Tumenggung itu berjalan mengapit Kanjeng Sultan Trenggana sebelah menyebelah, dan saat itu Kanjeng Sultan telihat memakai busana kesatrian, sedangkan dibelakangnya berjalan seorang abdi dalem yang membawa sebuah songsong Kasultanan Demak yang berwarna kuning, memayungi Kanjeng Sultan yang sedang berjalan.Setelah itu, dibelakang Kanjeng Sultan berjalan Kanjeng Prameswari dan yang paling belakang adalah dua orang prajurit Wira Tamtama.

Sesaat kemudian Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswari telah memasuki Sasana Sewaka.

Tumenggung Gajah Birawa yang berjalan bersama Tumenggung Gagak Anabrang, berjalan perlahan-lahan menuju kursi yang berada didepan, kursi singgasana, sebuah dampar denta khusus untuk Kanjeng Sultan Trenggana.

Semua yang hadir di Sasana Sewaka terlihat menyembah ketika Kanjeng Sultan Trenggana sedang lewat didepannya.

Ketika Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang telah sampai di depan, maka kedua Tumenggung itupun mempersilahkan Kanjeng Sultan Trenggana untuk duduk di dampar denta yang terletak di depan.

Kanjeng Sultanpun segera duduk di kursi singgasana raja, berhadapan dengan para tamu dari Pajang, lalu agak dibelakang kursi kerajaan ditancapkan pada sebuah jagrak, sebuah payung kasultanan, sebuah songsong kaprabon yang dibawa oleh seorang abdi dalem yang berjalan dibelakang Kanjeng Sultan. Setelah menancapkan songsong kerajaan, maka abdi dalem itupun kemudian duduk bersila di belakang Kanjeng Sultan. 

Kanjeng Prameswaripun kemudian juga duduk di kursi agak dibelakang, di sebelah kiri Kanjeng Sultan Trenggana. Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang kemudian duduk didingklik disebelah kanan dan kiri, mengapit Kanjeng Sultan yang duduk di dampar keprabon. 

Kanjeng Sultan Trenggana yang melihat Kebo Kanigara duduk bersama para pengombyong, berkata dalam hati :"Hm ternyata Ki Kebo Kanigara telah bersedia datang ke Kraton, tidak seperti adiknya, Ki Kebo Kenanga yang memilih mati daripada seba di Kasultanan Demak"

Kanjeng Sultanpun tersenyum, dan dengan ramahnya ia segera menyapa adik sepupunya :"Adimas Kanigara, kau selamat adimas"

Kebo Kanigara yang wajahnya semula tegang, akhirnya menjadi cair setelah mendengar sapa dan melihat senyum Kanjeng Sultan Trenggana. Kebo Kanigara segera menggeser duduknya, lalu iapun menyembah kepada Sultan Trenggana.

"Atas doa dan restu Kanjeng Sultan, hamba sekeluarga dalam keadaan selamat" jawab Kebo Kanigara.

"Silahkan duduk yang nyaman adimas" kata Kanjeng Sultan.

"Terima kasih Kanjeng Sultan" kata Kebo Kanigara.

Setelah semuanya siap maka Tumenggung Surapati segera meminta semua yang hadir untuk mendengarkan titah Kanjeng Sultan Trenggana.

Kemudian Kanjeng Sultan berbicara dan bertanya kepada Kebo Kanigara yang duduk dihadapannya, ada maksud apakah rombongan dari Pajang sowan ke hadapan Sultan Trenggana di Kasultanan Demak. 

Dengan hati-hati Kebo Kanigara menyembah lalu iapun menjawab :"Kanjeng Sultan yang kami suyuti dan kami turuti segala titahnya, hamba bernama Kebo Kanigara dari Pengging, datang menghadap Kanjeng Sultan, karena ditangisi oleh keponakan hamba, Adipati Pajang Hadiwijaya, yang menginginkan Nimas Ayu Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, untuk dijadikan sebagai seorang istri "

"Hamba mohon maaf Kanjeng Sultan, hamba terpaksa lancang berani berbicara dihadapan Kanjeng Sultan beserta Kanjeng Prameswari, berhubung Adipati Hadiwijaya sudah tidak mempunyai orang tua, maka sebagai uwanya, hamba memberanikan diri melamarkan Sekar Kedaton Kasultanan Demak untuk menjadi Ratu di Kadipaten Pajang, mengenai uba rampe sangsangan yang tidak seberapa telah hamba persiapkan, hanya itu yang hamba punya, sekedar pitukon untuk Nimas Ayu Sekar Kedaton" kata Kebo Kanigara.

Ketika Kanjeng Sultan menganggukkan kepalanya, maka Pemanahan dan Penjawi segera bersiap dan mereka mengambil kedua kotak kayu berukir, kemudian dibawanya dengan laku dodok, berjalan sambil berjongkok, lalu keduanya bergerak menuju tempat dampar keprabon, Kanjeng Sultan Trenggana.

Dengan tetap berjongkok dan menundukkan kepalanya, Pemanahan dan Penjawi mengangkat kotak kayu kedepan, lalu Kebo Kanigara maju kedepan dengan laku dodok, menyembah , lalu mengambil kotak kayu yang dipegang oleh Pemanahan, lalu diberikan kepada Kanjeng Sultan dengan tubuh masih bersikap laku dodok.

Kanjeng Sultan lalu menerima kotak itu membukanya, dilihat isinya, lalu ditutup kembali, kemudian kotak itupun diberikan kepada Tumenggung Gajah Birawa. Demikian juga dengan kotak yang dibawa oleh Penjawi, Kebo Kanigara segera memberikannya kepada Kanjeng Sultan, setelah dilihat isinya lalu diberikan kepada Tumenggung Gagak Anabrang,

Setelah memberikan kedua kotak kayu berukir, Kebo Kanigara kembali mundur dan duduk di tempatnya semula, kemudian diikuti oleh Pemanahan dan Penjawi yang segera menyembah, lalu mundur dan duduk bersila bersama yang lain.

Selanjutnya Kanjeng Sultan mengucapkan terima kasih kepada Kebo Kanigara yang telah memberikan sangsangan kepada Sekar Kedaton, dan dikatakan juga oleh Kanjeng Sultan kalau dirinya menerima lamaran Kebo Kanigara terhadap Sekar Kedaton untuk dijadikan istri untuk keponakannya, Adipati Hadiwijaya.

Ternyata jalannya adi cara lamaran berlangsung singkat, dikatakan oleh Kanjeng Sultan, nanti akan ada prajurit dari Wira Tamtama yang akan ke dalem Gajah Birawan untuk memberitahukan acara-acara selanjutnya. Setelah pembacaan doa, maka Kanjeng Sultan beserta permaisuri segera kembali ke ruang dalam Kraton bersama Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Gagak Anabrang diikuti oleh pembawa payung Kasultanan, yang paling belakang adalah kedua pengawalnya, dua orang prajurit Wira Tamtama.

Setelah Kanjeng Sultan kembali ke kraton, maka Patih Wanasalam mengajak para tamu untuk kembul bujana di Sasana Handrawina.

Sementara itu di kaputren, Nyai Madusari saat itu sedang berada di dalam kamar Sekar Kedaton, mereka berdua sedang berbincang beberapa hal.

"Kenapa aku tidak boleh ikut bertemu dengan Kakangmas Hadiwijaya, Nyai?" tanya Sekar Kedaton Putri Mas Cempaka. 

"Tidak boleh Gusti Putri, dua hari lagi Gusti Putri akan menjadi pengantin, Gusti Putri hari ini masih dipingit, tidak boleh keluar dari Kaputren, sedangkan untuk bertemu dengan ibunda Prameswari saja, Kanjeng Prameswari yang harus datang ke Kaputren" kata Nyai Madusari.

"Aku deg-degan Nyai" kata Putri Mas Cempaka.

Nyai Madusari tersenyum, lalu iapun menjawab ;" Memang begitulah Gusti Putri, kalau akan menjadi pengantin, hati ini akan berdebar-debar" 

"Sekarang kakangmas Hadiwijaya sedang berada dimana Nyai?" tanya Bunga Cempaka.

Nyai Madusari tertawa, terlihat deretan giginya yang rata karena pernah di pangur :" Bagaimana saya bisa tahu Gusti Putri, kita bersama diruang ini dari tadi" 

Sekar Kedaton juga tertawa ;"Betul Nyai, tetapi kalau acara di Sasana Sewaka sudah selesai, mereka akan berada di Sasana Handrawina"

"Ya Gusti Putri, mungkin Adipati Hadiwijaya sekarang sudah tidak berada di Sasana Sewaka, tetapi telah berada di Sasana Handrawina, atau malah sudah pulang ke dalem Gajah Birawan" kata Nyai Madusari.

"Ya Nyai" kata Gusti Putri Mas Cempaka.

Gusti Putri Sekar Kedaton terdiam, lalu seakan-akan kepada diri sendiri iapun berkata ;" Waktu berjalan seperti siput, lambat sekali"

Ternyata apa yang telah dikatakan Nyai Madusari hampir tepat, setelah selesai acara pinangan di Sasana Sewaka, lalu acara dilanjutkan di Sasana Handrawina, maka saat ini rombongan dari Pajang baru saja keluar dari pintu gerbang Kraton, mereka dalam perjalanan pulang setelah menyelesaian adi cara melamar Sekar Kedaton.

Patih Wanasalam beserta beberapa orang Tumenggung, mengantar rombongan Adipati Hadiwijaya sampai di pintu gerbang Kraton. Rombongan itu bergerak perlahan-lahan meninggalkan kraton masih dikawal oleh Rangga Pideksa bersama dua orang prajurit Wira Tamtama. 

"Kita menuju dalem Gajah Birawan" kata Sunan Kalijaga kepada Kebo Kanigara.

"Ya Kanjeng Sunan" jawab Ki Kebo Kanigara, dan mereka semuanya berjalan bersama-sama menuju dalem Gajah Birawan.

Jarak yang tidak begitu jauh antara Kraton dengan dalem Gajah Birawan, hanya mereka jalani beberapa saat saja, Setelah sampai di dalem Gajah Birawan, mereka berkumpul di pendapa, setelah beristirahat sejenak, maka Kanjeng Sunan Kalijagapun berkata kepada Kebo Kanigara :"Anakmas Kanigara, nanti akan ada prajurit Wira Tamtama yang datang kemari untuk memberitahukan adi cara selanjutnya yang harus dijalani oleh angger Hadiwijaya”. 

"Ya Kanjeng Sunan" kata Kebo Kanigara.

"Rombongan Kadilangu akan pulang dulu, nanti kalau ada berita yang dibawa oleh prajurit Wira Tamtama mengenai adi cara selanjutnya, supaya ada yang memberitahukan ke Kadilangu" kata Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan"jawab Kebo Kanigara.

"Hadiwijaya, aku akan kembali ke Kadilangu" kata Kanjeng Sunan.

"Ya Kanjeng Sunan, nanti kalau ada kabar dari Kraton, akan ada utusan yang menyampaikan berita ke Kadilangu" kata Adipati Hadiwijaya. 

"Baik, Ki Rangga Pideksa, aku pulang dulu" pamit Sunan Kalijaga.

"Silahkan Kanjeng Sunan" kata perwira Wira Tamtama, Rangga Pideksa 

Setelah berpamitan kepada Ki Buyut Banyubiru, Ki Ageng Nis Sela dan kepada semua rombongan dari Pajang, maka Kanjeng Sunan beserta para santri berjalan kembali ke Kadilangu, Kebo Kanigara dan Adipati Hadiwijaya mengantar sampai pintu gerbang dalem Gajah Birawan.

Adipati Hadiwijaya menatap langkah kaki gurunya yang berpakaian serba wulung, memakai pakaian yang panjang berwarna hitam hampir sampai mata kaki, gurunya yang usianya sudah sangat sepuh, terlihat berjalan ke arah selatan bersama para santrinya, dan tak lama kemudian merekapun berbelok ke arah timur menuju rakit yang masih berada disana.

Di dalem Gajah Birawan, Adipati Hadiwijaya mendapatkan satu kamar, demikian juga dengan Kebo Kanigara yang juga mendapatkan satu kamar untuk menginap, sedangkan para nayaka praja Pajang bersama Ki Buyut Banyubiru, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang dan Ki Ageng Nis Sela, mendapatkan tempat beristirahat di rumah samping di sebelah rumah utama dalem Gajah Birawan, bersama orang-orang dari Tingkir, Banyubiru, serta dari Pengging. 

Beberapa orang masih berada di pendapa termasuk para pembawa kuda beban dari Banyubiru dan Pengging. 

"Nanti kita menginap di rumah samping, Ganjur" kata Prayoga kepada Ganjur.

"Aku sudah tahu, dulu aku pernah dipanggil kemari oleh ndara Menggung pada saat Hadiwijaya masih belum menjadi prajurit Wira Tamtama" kata Ganjur.

"Nanti malam Ki Ganjur bisa tidur bersama Kanjeng Adipati di kamar belakang, Kanjeng Adipati pasti mengijinkan Ki Ganjur tidur di kamarnya" kata Prayoga. 

"Prayoga " kata Ki Ganjur keras :" Nanti malam aku kau suruh tidur di kamar Hadiwijaya? Kau kira aku berani melawan ndara Menggung Gajah Birawa?"

Prayogapun tertawa tetapi Ganjurpun bersungut-sungut sambil berkata :"Badannya saja sudah sebesar Buta ijo, jari tangan ndara Menggung saja besar sekali, sebesar pisang raja" 

Demikianlah, menjelang sore hari, dua orang prajurit Wira Tamtama datang ke dalem Gajah Birawan, mereka mengganti tugas dua orang prajurit yang berjaga dari pagi, sekaligus mereka membawa kabar dari Kraton. 

Merekapun segera berkumpul, duduk di tikar, dipendapa dalem Gajah Birawan.

"Kau Tumpak" kata Adipati Hadiwijaya kepada prajurit Wira Tamtama yang baru datang.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Tumpak sambil tersenyum, Tumpak teringat ketika mereka sedang jaga berdua, sewaktu Hadiwijaya masih menjadi prajurit Wira Tamtama, Gusti Putri sering sekali mondar mandir lewat didepannya, akan menghadap Gusti Prameswari, dan kini, sebentar lagi mereka berdua akan menjadi pengantin.

"Karebet yang berwajah tampan, bernasib sangat baik, setelah menjadi seorang Adipati, besok pagi dia akan menjadi menantu Kanjeng Sultan Trenggana" kata Tumpak dalam hati.

"Kabar apa yang kau bawa dari Kraton Tumpak?" kata Rangga Pideksa. 

"Kanjeng Adipati Hadiwijaya, Ki Kebo Kanigara beserta Ki Rangga Pideksa, ada beberapa berita dari Kraton yang akan kami sampaikan kepada rombongan dari Pajang" kata Tumpak sambil menggeser duduknya menghadap Kebo Kanigara.

"Setelah tadi pagi adi cara pinangan di Sasana Sewaka telah selesai, maka besok pagi dimulai acara Nyantri oleh calon pengantin laki-laki, acara Nyantri adalah sebuah acara untuk memperkenalkan adat dan tatacara kraton untuk calon menantu Sultan" kata Tumpak.

"Pada acara Nyantri, nanti Kanjeng Adipati akan dijemput oleh Tumenggung Jaya Santika dari prajurit Patang Puluhan" kata Tumpak menjelaskan. 

"Selama acara nyantri, calon pengantin laki-laki akan berada di kesatrian selama satu hari, sampai dimulainya acara panggih" kata Tumpak.

"Keberangkatan Kanjeng Adipati ke kesatrian, nanti akan mengendarai seekor kuda, serta diiringi oleh empat puluh orang prajurit dari kesatuan Patang Puluhan" kata Tumpak .

"Esok lusa di pagi hari, calon pengantin laki-laki berangkat dari Kesatrian menuju Sasana Sewaka untuk menjalani ijab kabul, setelah itu pengantin laki-laki kembali pulang ke kesatrian" kata Tumpak menjelaskan. 

"Setelah menjadi istri Kanjeng Adipati Hadiwijaya, nama Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, berubah namanya menjadi Kanjeng Ratu Mas Cempaka, dan setelah acara ijab kabul, pada siang harinya diadakan adicara Panggih di Sasana Sewaka" kata Tumpak menjelaskan :"Kemudian sehari setelah acara Panggih, adicara yang terakhir adalah adicara Kirab Pengantin Kasultanan Demak. Kanjeng Adipati nanti akan naik kuda disebelah kanan Kanjeng Ratu Mas Cempaka yang naik tandu joli jempana mengelilingi Kraton, dikawal oleh pasukan Patang Puluhan, pasukan Wira Tamtama dan pasukan Wira Braja" kata Tumpak selanjutnya.

"Jadi acara nyantri besok pagi, aku akan dijemput oleh prajurit Patang Puluhan?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati" jawab Tumpak.

"Apakah aku berangkat sendiri atau bersama semua orang yang ada didalam rombongan Pajang?" tanya Hadiijaya selanjutnya. 

"Kanjeng Adipati berangkat diantar oleh Ki Kebo Kanigara beserta yang lainnya, kemudian Ki Kebo Kanigara menyerahkan kepada pihak kraton di depan dalem ksatrian, nanti disana Ki Kebo Kanigara akan diterima oleh salah seorang kerabat kraton" kata Tumpak.

"Setelah acara panggih, Hadiwijaya akan tinggal dimana? Apakah akan tinggal di kesatrian?" tanya Kebo Kanigara.

"Setelah selesai adicara Pahargyan Pengantin, Kanjeng Adipati tinggal di dalem Kilen, setelah itu, sepasar kemudian, Kanjeng Ratu Mas Cempaka akan diboyong ke Pajang" kata Tumpak selanjutnya.

"Dalem Kilen, rumah yang berada di ujung paling barat di Kraton Kasultanan Demak" kata Kebo Kanigara dalam hati.

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkkan kepalanya, ia mengerti semua penjelasan yang diberikan oleh Tumpak, tentang acara Pahargyan Pengantin.

Setelah Tumpak selesai menjelaskan, maka Rangga Pideksa bersama dua orang prajurit Wira Tamtama yang telah berjaga dari pagi, pamit meninggalkan dalem Gajah Birawan, karena telah digantikan oleh Tumpak dan seorang kawannya.

Setelah Rangga Pideksa meninggalkan dalem Gajah Birawan, maka Adipati Hadiwijaya segera memanggil dua orang prajurit Pajang yang ikut ke Demak, Prayoga dan Prayuda. Ketika keduanya sudah datang menghadap maka kemudian Adipati Hadiwijaya memerintahkan keduanya untuk segera pergi ke Kadilangu.

"Kalian berdua pergilah menghadap Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu, ceritakan mengenai rencana semua rangkaian adicara pahargyan pengantin mulai besok yang akan di adakan di kraton" kata Adipati Hadiwijaya.

Hadiwijaya kemudian menerangkan urut-urutan adicara semuanya, mulai acara nyantri besok pagi sampai dengan boyongan, sepasar setelah kirab pengantin. 

"Baik Kanjeng Adipati" kata Prayoga.

"Kalau perlu penjelasan lagi, kalian bisa bertanya kepada prajurit Wira Tamtama yang sedang bertugas jaga di dalem Gajah Birawan ini, yang bernama Tumpak" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati, kami segera mempersiapkan diri untuk berangkat menuju Kadilangu" kata Prayuda.

Keduanya kemudian menghampiri prajurit Wira Tamtama, yang bernama Tumpak, setelah berbincang sebentar, keduanya kemudian berjalan meninggalkan dalem Gajah Birawan menuju Kadilangu. Keduanya berjalan ke selatan, lalu tak lama kemudian mereka berbelok ke arah timur, lalu merekapun menyeberangi sungai Tuntang dengan menggunakan sebuah rakit.

Sementara itu di dalem Gajah Birawan, beberapa saat setelah matahari baru saja terbenam, Prayoga dan Prayuda terlihat baru saja memasuki gerbang pintu depan, setelah berjalan dari Kadilangu menemui Kanjeng Sunan Kalijaga.

Setelah membersihkan dirinya di pakiwan, maka keduanya segera menghadap Adipati Hadiwijaya yang sedang berdua dengan Kebo Kanigara di pendapa. 

"Bagaimana hasilnya setelah kalian aku utus ke Kadilangu?" tanya Adipati Hadiwijaya. 

"Kanjeng Adipati, kami telah sampai di Kadilangu dan telah bertemu dengan Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Prayoga.

"Ya, lalu apa yang dikatakan oleh Kanjeng Sunan? " tanya Kanjeng Adipati.

"Untuk acara Nyantri, Kanjeng Adipati cukup diantar oleh Ki Kebo Kanigara dan sesepuh lainnya, beserta dengan seluruh rombongan dari Pajang, Banyubiru, Pengging, Tingkir, Butuh dan Ngerang" kata Prayoga.

"Kanjeng Sunan akan datang ke Kraton besuk pada acara ijab kabul di Sasana Sewaka, yang dilanjutkan dengan acara Panggih, setelah acara Panggih selesai, nanti akan dilanjutkan dengan acara di Sasana Handrawina. Disana akan berkumpul semua kerabat Kraton, termasuk Kanjeng Adipati Jipang Arya Penangsang bersama puluhan orang yang diundang oleh Kanjeng Sultan" kata Prayoga menjelaskan.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita