Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 35 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 35 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Setelah membersihkan diri disungai serta merawat kuda-kuda mereka dengan memberi makan rumput yang banyak terdapat disekitar tempat itu, maka semua orang yang ikut di dalam rombongan itupun segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan ke Kadilangu. Disebelah kanan dan kiri punggung tiga ekor kuda telah diberi beban enam buah bungkusan besar yang berisi padi dan hasil palawija dari desa Tingkir.

Tenda kecil sudah dibongkar, kain panjang yang dipakai untuk menutupi tenda sudah dilipat dan dimasukkan kedalam bungkusan yang dibawa oleh Prayoga dan Prayuda, dan ketika dilihatnya semua sudah siap untuk berangkat, Adipati Hadiwijaya kemudian naik ke atas punggung kudanya, kemudian diikuti oleh ki Buyut Banyubiru, Ki Ageng Nis Sela dan semua orang yang ada di dalam rombongan itu. 

Ganjurpun kemudian berjalan menuju kudanya, lalu iapun bersiap akan naik keatas punggung kudanya.


"Hidup ini seperti sebuah rahasia, betul-betul aneh, kenapa Karebet bisa mendapatkan calon istri Sekar Kedaton yang merupakan seorang putri raja?" kata Ganjur didalam hatinya. 

"Karebet bernasib baik, dia sekarang menjadi seorang Adipati" kata Ganjur dalam hati.

Dari sisi sebelah kiri kudanya, sambil melamun, Ganjur merasa ada yang aneh ketika ia berusaha naik ke atas punggung kudanya. 

Prayoga melihat Ganjur mengalami kesulitan ketika akan naik ke atas punggung kudanya, salah satu kaki Ganjur sudah dimasukkan pada tempat kaki yang terhubung dengan pelana kudanya.

"Paman Ganjur" kata Prayoga :" Kalau paman akan naik kuda dari sisi sebelah kiri, kaki yang lebih dulu naik adalah kaki kiri, kalau paman menaikkan kaki yang sebelah kanan dulu, nanti setelah paman berada di atas punggung kuda, paman akan menghadap kebelakang"

"Ya Prayoga, dari tadi aku sudah merasa ada yang aneh dengan kakiku" jawab Ganjur, lalu Ganjurpun mengeluarkan kaki kanannya yang terlanjur telah dimasukkan kedalam tempat kaki, kemudian Prayogapun dengan sigap membantu Ganjur untuk naik ke punggung kuda.

Sekarang Ganjur dengan gagah telah berada diatas punggung kudanya, siap untuk meneruskan perjalanan ke Kadilangu Demak, dan iapun berkata dalam hati :”Aku adalah paman dari seorang Adipati di Pajang”.

Sesaat kemudian, setelah semuanya siap, maka Adipati Hadiwijaya segera menjalankan kudanya maju kedepan diikuti oleh kuda-kuda lainnya. Perlahan lahan semua kuda bergerak ke arah utara, tiga orang berkuda yang paling belakang, Suta, Prayoga dan Prayuda menggandeng masing-masing seekor kuda yang membawa beban. Suara telapak kaki kuda terdengar lemah, karena kuda-kuda itu hanya berjalan perlahan, bukan berlari kencang. 

Matahari semakin tinggi, rombonganpun masih terus berjalan, semakin lama semakin dekat ke Kadilangu. 

"Menjelang tengah hari kita baru bisa tiba di Kadilangu" kata Hadiwijaya dalam hati.

Setelah dua tiga kali beristirahat, dan beberapa kali melintasi sungai kecil, dan ketika matahari hampir sampai di puncak langit, maka rombongan berkuda dari Pajangpun sudah memasuki desa Kadilangu. Setelah sampai dipertigaan jalan, maka rombonganpun berbelok ke kanan dan tak lama kemudian mereka telah tiba didepan pintu gerbang yang tertutup di pesantren Kadilangu. 

Semua orang didalam rombongan segera turun dari kudanya. Adipati Hadiwijaya yang telah turun dari kudanya, lalu berjalan mendekati pintu gerbang, dan disana iapun mengucapkan salam.

Dari halaman terdengar jawaban salam, dan muncullah seorang santri yang kemudian membuka pintu serta mempersilahkan mereka untuk memasuki halaman.

"Rombongan dari Pajang telah tiba" kata santri itu kepada seorang santri yang lain. 

Belasan orang santri segera bergegas mendatangi rombongan dan meminta tali kendali kuda, lalu mereka membawa kuda-kuda itu ke halaman belakang.

Selanjutnya mereka merawat kuda-kuda yang kelelahan, memberi minum dan menurunkan beban yang berada disamping punggung kudanya.

Setelah mencuci kaki, para tamu dipersilahkan duduk di pendapa yang telah diberi tikar pandan, dan tak berapa lama kemudian, dari ruang dalam munculah Kanjeng Sunan Kalijaga, dan dibelakangnya diikuti oleh dua orang tua, yang ternyata adalah Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, setelah itu Kanjeng Sunan Kalijaga berserta kedua orang tua itu menyalami semua tamu yang berada di pendapa.

"Ternyata ayah sudah lebih dulu sampai di Kadilangu" kata Wenang Wulan dalam hatinya, ketika melihat Ki Ageng Butuh bersama Ki Ageng Ngerang.

Adipati Hadiwijaya kemudian berdiri menyambut uluran tangan dari Kanjeng Sunan Kalijaga. 

"Kau sehat dan selamat Hadiwijaya, juga semua orang didalam rombonganmu ?" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan, atas doa restu Kanjeng Sunan saya bersama rombongan semuanya selamat" jawab Adipati Hadiwijaya.

"Ki Buyut dalam keadaan sehat?" kata Kanjeng Sunan Kalijaga ketika menyalami Ki Buyut Banyubiru.

"Ya Kanjeng Sunan, atas doa Kanjeng Sunan, saya dalam keadaan sehat". Jawab Ki Buyut Banyubiru.

Kanjeng Sunan juga menyalami dua muridnya yang lain :"Kalian sehat semua, Pemanahan dan Penjawi?" 

"Atas doa Kanjeng Sunan, saya dalam keadaan sehat" kata Pemanahan dan Penjawi hampir bersamaan.

Setelah menyalami semua yang hadir, maka Kanjeng Sunan Kalijaga beserta Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang duduk bersama di tikar yang ada di pendapa, dan sesaat kemudian beberapa orang santri mengeluarkan air minum lalu disuguhkan kepada para tamunya.

Ketika matahari telah berada dipuncak langit, terdengar suara kentongan yang dibunyikan oleh seorang santri, sebagai tanda telah masuk waktu dhuhur.

Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian mengajak para tamu untuk ikut sholat dhuhur berjamaah.

Setelah melaksanakan sholat dhuhur berjamaah dan makan siang bersama, maka sebagian tamu membantu para santri yang sedang membuat beberapa rangka tandu dari batang bambu, yang akan dipergunakan untuk membawa hasil bumi sebagai uba rampe sangsangan untuk Sekar Kedaton.

"Berapa gunungan yang besok akan dibawa ke kraton?" tanya Hadiwijaya kepada para santri yang sedang membuat tandu.

"Empat, tetapi kami membuat enam buah tandu" kata seorang santri sambil memotong sebatang bambu. 

"Enam ?" tanya Hadiwijaya.

"Ya enam, Kanjeng Sunan memerintahkan kami membuat empat buah tandu untuk tempat gunungan hasil bumi dan dua tandu untuk tempat barang lainnya" jawab santri itu. Adipati Hadiwijaya menganggukkan kepalanya, tetapi percakapan mereka terhenti, ketika seorang santri yang baru saja tiba di halaman belakang mencarinya. 

"Kanjeng Adipati diharap menghadap Kanjeng Sunan sekarang juga diruang dalam, Kanjeng Sunan baru saja menerima tamu dua orang prajurit Wira Tamtama utusan Kanjeng Sultan." kata santri itu.

Hadiwijayapun kemudian bergegas masuk kedalam ruangan dalam, disana terlihat Kanjeng Sunan sedang duduk berhadapan dengan dua orang prajurit Wira Tamtama. Kanjeng Sunan duduk di kursi, sedangkan didepannya duduk diatas dingklik, dua orang prajurit Wira Tamtama Demak, dan disebelahya lagi ada sebuah dingklik kosong,

"Masuklah Hadiwijaya" kata Kanjeng Sunan Kalijaga. Adipati Hadiwijaya kemudian masuk ke ruangan lalu iapun duduk diatas dingklik disamping prajurit Wira Tamtama.

Prajurit Wira Tamtama itupun mengangguk hormat kepada Adipati Hadiwijaya, dan iapun segera membalasnya.

"Hadiwijaya, ini ada utusan dua orang prajurit Wira Tamtama, membawa sebuah nawala dari Kanjeng Sultan, menanyakan kesiapan kita untuk upacara pemberian sangsangan untuk besok pagi" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan" jawab Hadiwijaya.

"Sebelum matahari sepenggalah, kita harus sudah sampai di Kraton, acara diadakan di Sasana Sewaka, sedangkan untuk beberapa orang, acara dilanjutkan dengan acara di Sasana Handrawina" kata Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan" jawab Adipati Hadiwijaya.

Lalu kepada prajurit Wira Tamtama, Kanjeng Sunanpun melanjutkan pembicaraan :" Nanti orang tua yang akan bertindak mewakili ayah Adipati Hadiwijaya adalah Ki Kebo Kanigara yang merupakan uwanya, kakak dari ayahnya, Ki Kebo Kenanga"

"Karena jarak Kadilangu dan Kraton tidak begitu jauh, maka kami harapkan dalam waktu yang tidak terlalu lama rombongan kami sudah bisa sampai ke Kraton" lanjut Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan, nanti akan ada dua orang prajurit Wira Manggala yang akan mengawal rombongan dari Kadilangu sampai ke Kraton" kata salah seorang prajurit Wira Tamtama.

"Baik, lalu tentang barang-barang yang dibawa adalah empat buah gunungan yang berisi hasil bumi, sebuah tandu berisi beberapa jodang makanan, dan sebuah tandu berisi beberapa barang sebagai sangsangan yang akan diberikan kepada putri Sekar Kedaton" lanjut Kanjeng Sunan.

"Nanti ada empat orang perempuan tua dari desa Kadilangu yang aku ajak ikut ke Kraton, yang sekarang sedang membuat makanan untuk dibawa besok pagi" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

Adipati Hadiwijaya menarik nafas dalam-dalam, ternyata yang akan ikut pada adi cara lamaran, terdapat empat orang perempuan tua. 

"Rombongan dari Kadilangu semuanya ada berapa orang Kanjeng Sunan?" tanya utusan dari Kraton.

"Rombongan berjumlah dua puluh orang ditambah enam buah gunungan yang dipikul masing-masing oleh empat orang" kata Kanjeng Sunan. 

"Semuanya hampir lima puluh orang Kanjeng Sunan" kata utusan Kanjeng Sultan. 

"Ya, hampir lima puluh orang" kata Kanjeng Sunan.

Setelah terdiam sejenak, maka Kanjeng Sunanpun melanjutkan lagi :"Setelah selesai acara lamaran, rombongan dari Kadilangu akan pulang ke kadilangu, lalu rombongan dari Pajang akan di tempatkan dimana?"

"Ya Kanjeng Sunan, ada dua tempat yang ditawarkan untuk menginap rombongan dari Pajang, yaitu di dalem Suranatan dan dalem Gajah Birawan" kata utusan itu.

"Ya, Ki Tumenggung Gajah Birawa dan Ki Tumenggung Suranata, keduanya telah pernah menikahkan anaknya" kata Kanjeng Sunan, lalu kepada Adipati Hadiwijaya, iapun bertanya: "Bagaimana Hadiwijaya, rombongan dari Pajang akan menginap di dalem Gajah Birawan atau di dalem Suranatan?" 

"Sebaiknya di dalem Gajah Birawan saja Kanjeng Sunan, yang lebih dekat dengan Kraton" jawab Sang Adipati. 

"Ya, nanti rombongan dari Pajang akan menginap di dalem Gajah Birawan" kata Kanjeng Sunan kepada utusan dari Kraton. 

"Baik Kanjeng Sunan, nanti akan saya lapokan kepada Kanjeng Sultan dan kepada Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata salah seorang prajurit wira Tamtama.

"Ya, sementara cukup ini dulu, nanti kalau ada perubahan, aku akan menyampaikan ke prajurit Wira Tamtama" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Baik Kanjeng Sunan, kalau tidak ada yang lain, kami mohon pamit, besok pagi, dua orang prajurit Wira Manggala nanti akan datang ke Kadilangu" kata utusan Kanjeng Sultan Trenggana. Kemudian dua orang prajurit Wira Tamtama itu mohon pamit, akan kembali ke Kraton dan melaporkan hasilnya kepada Kanjeng Sultan dan Tumenggung Gajah Birawa.

Kedua orang utusan Kanjeng Sultan kemudian berdiri dan keluar dari ruangan, lalu berjalan menuju pintu gerbang, kembali ke Kraton Demak. 

"Kau tentu lelah, beristirahatlah dikamar belakang Hadiwijaya" kata Kanjeng Sunan Kalijaga, setelah kedua tamunya sudah pulang

"Ya Kanjeng Sunan" kata Hadiwijaya 

Adipati Hadiwijaya kemudian berjalan keluar ruangan kembali menuju halaman belakang melihat beberapa orang sedang menyelesaikan rangka tandu. 

Rangka tandu yang sudah selesai lalu dibawa ke pendapa dan akan diisi dengan berbagai hasil bumi. Sebuah tandu sudah ada telah diisi dengan belasan ikat padi yang disusun menjadi sebuah gunungan kecil.

Matahari telah bergeser ke barat, seorang santri mengabarkan telah datang dua ekor kuda dituntun oleh dua orang yang datang dari Pengging, dan saat ini mereka masih berada di halaman dekat pintu gerbang. 

Hadiwijayapun kemudian berjalan kedepan dan dilihatnya dua orang yang membawa dua ekor kuda yang membawa beban, disebelahnya beberapa orang santri membantu menurunkan beban yang berada dipunggung kuda.

"Kau Surip" kata Hadiwijaya menyapa orang Pengging yang sudah dikenalnya.

"Ya Kanjeng Adipati" kata Surip yang datang dari Pengging.

"Kapan kau berangkat dari Pengging?" tanya Hadiwijaya. 

"Kemarin, Kanjeng Adipati" jawab Surip.

"Dimana siwa Kebo Kanigara?" tanya Kanjeng Adipati.

"Kami disuruh mendahului berangkat kemarin, sedangkan Ki Kebo Kanigara baru bisa berangkat dari Pengging tadi pagi" kaa Surip menjelaskan.

Hadiwijayapun menganggukkan kepalanya, kemudian iapun berkata kepada keduanya ;"Kalian beristirahatlah di pendapa, dua ekor kuda ini biar diberi makan oleh para santri disini".

"Silahkan beristirahat Ki Sanak, kuda-kuda ini beserta muatannya biar kami yang mengurusnya" kata salah seorang santri Kadilangu, lalu kedua orang dari Pengging kemudian berjalan menuju ke pendapa, dan merekapun beristirahat bersama beberapa orang lainnya. 

Kemudian, beberapa saat setelah matahari terbenam tibalah tiga pemuda dari Banyubiru yang menuntun tiga ekor kuda yang diberi beban sayuran dan buah-buahan. 

Beberapa orang santri kemudian membantu menurunkan beban dan membawanya ke pendapa. 

Di pendapa, enam buah rangka tandu telah siap, sebuah tandu telah diisi berupa gunungan padi, lalu dua buah tandu diisi berupa gunungan palawija, sedangkan sebuah tandu akan diisi gunungan buah dan sayur dari Banyubiru, sedangan dua buah tandu lainnya yang masih kosong akan diisi jodang berisi makanan dan barang sangsangan.

Malam harinya, sebagian para tamu beristirahat dan tidur di pendapa sedangkan sebagian yang lain tidur bersama di ruangan para santri, hanya Hadiwijaya yang tidur di sebuah kamar di belakang.

Bagaimanapun juga, Hadiwijaya adalah seorang Adipati sekaligus seorang calon menantu Kanjeng Sultan Trenggana, sehingga Kanjeng Sunan Kalijaga memberinya sebuah kamar tersendiri untuk beristirahat malam ini.

Didalam kamarnya, sambil merebahkan badannya, angan-angan Hadiwijaya melayang-layang bebas di awang-awang, dan teringatlah ia akan kasih sayang yang diberikan oleh biyungnya, Nyai Ageng Tingkir. 

"Sayang, raga biyung sudah sangat lemah, seandainya raga biyung masih kuat alangkah senangnya kalau ia melihatku menjadi pengantin, bersanding dengan Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka" katanya dalam hati, tetapi untunglah, adik biyungnya, paman Ganjur meskipun sudah terlihat tua, berkeinginan untuk ikut ke kotaraja Demak.

Baru saja, sebelum masuk ke kamarnya, Hadiwijaya menghampiri pamannya yang sedang tiduran di pendapa, pamannya sedang berbaring tengkurap, matanya terpejam, mulutnya bergerak-gerak menahan sakit karena sedang dipijat pinggangnya oleh prajurit Pajang, Prayuda.

"Paman Ganjur lelah? Kalau paman Ganjur terlalu lelah, sebaiknya paman segera beristirahat" kata Hadiwijaya.

Ganjur membuka matanya, lalu iapun menjawab :" Tidak Hadiwijaya, aku tidak lelah, cuma pinggangku ini agak sedikit pegal, aku minta Prayuda memijatku, besok pagi pasti sudah sembuh dan aku siap berjalan kaki menuju ke Kraton Demak"

Hadiwijayapun tersenyum, ke Kraton Demak, kata paman Ganjur, disana ada Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka. 

"Saat ini pasti diajeng Mas Cempaka sedang dipingit di kaputren, pasti ia tidak boleh keluar menemui ibundanya, Kanjeng Prameswari di ruang dalam" kata Sang Adipati didalam hatinya :"Berapa hari pingitan yang dilakukan terhadap diajeng Sekar Kedaton?"

Lalu angan-angan Hadiwijaya beralih lagi,sekarang tertuju kepada uwanya Kebo Kanigara, dan iapun sempat bertanya dalam hati, kenapa uwanya Kebo Kanigara baru hari ini berangkat dari Pengging.

"Tentu siwa Kebo Kanigara baru berangkat tadi pagi dari Pengging, bagaimana kalau siwa Kebo Kanigara besok pagi terlambat sampai disini?" kata Hadiwijaya dalam hati.

Tetapi pertanyaan itu dijawabnya sendiri :"Siwa Kebo Kanigara adalah orang yang mampu berlari tanpa henti menempuh separo jarak dari Pengging ke Kadilangu"

Hadiwijayapun tersenyum dalam hati, pasti siwanya mempunyai alasan tersendiri, kenapa siwanya tidak mau menginap di Kadilangu, setelah itu, dipandangnya dua buah kotak kayu berukir yang berisi perhiasan dan berisi kain peninggalan dari kraton Majapahit yang dulu pernah menjadi milik eyang putrinya, yang semuanya nanti akan diberikan kepada Gusti Putri Sekar Kedaton. 

Didalam kamarnya, beberapa saat yang lalu kedua kotak kayu berukir itu sempat dibukanya.

"Isinya masih utuh" kata sang Adipati.

Angan-angan Sang Adipatipun terus mengembara, matanya masih belum bisa terpejam. baru setelah waktu melewati tengah malam, Hadiwijayapun telah tertidur. 

Adipati Hadiwijaya hanya bisa tidur sebentar, tak lama kemudian, semua penghuni pesantren Kadilangu bergegas bangun dari tidurnya, karena terdengar suara kentongan yang ditabuh keras, suaranya bergema memenuhi udara disekitar pesantren Kadilangu.

"Subuh" kata Pemanahan yang terbangun dari tidurnya, bersama beberapa orang yang berada di pendapa. 

Setelah sholat subuh berjamaah bersama lainnya, Adipati Hadiwijaya segera pergi ke pakiwan untuk membersihkan dirinya, bersiap untuk menjalani sebuah acara penting bagi perjalanan kehidupannya yaitu melaksanakan acara lamaran ke Kraton Demak. 

"Hm, sampai saat ini siwa Kebo Kanigara belum datang juga" katanya dalam hati.

"Dimana siwa Kebo Kanigara tidur tadi malam?" kata Hadiwijaya dalam hati. Seperti dirinya, uwanya bisa tidur dimanapun, bahkan tidak tidurpun uwanya juga sering melakukannya.

Matahari pagi telah memancarkan sinarnya, di ruang dalam, empat orang perempuan tua dari desa Kadilangu sedang menghadap Kanjeng Sunan Kalijaga.

Perempuan tua itu menyerahkan beberapa jodang makanan, ada yang berupa ketan yang ditanak setengah matang, lalu diberi cairan gula aren, kemudian ketan yang berwarna coklat itu diberi sedikit santan yaitu buah kelapa yang ditumbuk di lumpang batu sampai hancur, buah kelapa yang telah hancur itu dicampur dengan sedikit air, dan ditanak lagi sampai matang. 

Setelah matang, kemudian ketan itu dipadatkan di sebuah tampah yang sudah diberi alas daun pisang 

Ada pula sebuah tampah yang berisi ketan yang dicampur dengan santan, warnanya tetap putih, setelah matang, kemudian dipadatkan di sebuah tampah yang juga diberi daun pisang. 

Selain itu ada juga jodang yang berisi makanan yang dibuat dari beras yang ditumbuk halus, dibungkus dengan daun pisang, didalamnya diberi sepotong pisang, kemudian daun pisang yang berisi tepung beras dan sepotong pisang itu ditusuk dengan potongan lidi, lalu ditanak hingga matang. 

"Makanan apa yang kau bawa Nyai?" tanya Kanjeng Sunan.

"Wajik ketan, jadah dan nagasari Kanjeng Sunan" kata salah seorang perempuan tua itu.

"Ya, kau bawa semua makanan itu ke pendapa, nanti para santri yang akan mengaturnya" kata Kanjeng Sunan.

Keempat perempuan itu kemudian menuju pendapa, jodang berisi makananpun, oleh para santri dibawa ke pendapa untuk diatur dan diletakkan diatas tandu. Lima buah tandu sudah siap, empat diantaranya berupa gunungan padi, palawija dan sayur serta buah-buahan, sebuah tandu berisi jodang makanan jadah, wajik ketan dan nagasari, sedangkan satu tandu lainnya terlihat masih kosong.

Wenang Wulan yang sedang di pendapa, bergegas menuju ke ruang belakang, ketika seorang santri memberitahukan kalau ia dipanggil oleh Adipati Hadiwijaya. Tak lama kemudian Wenang Wulanpun telah keluar menuju ke pendapa bersama Adipati Hadiwijaya. 

Adipati Hadiwijaya terlihat memakai busana keprajuritan, dipinggang belakangnya terselip keris sipat kandel Kadipaten Pajang, Kyai Naga Siluman, dan ditangan Sang Adipati terlihat membawa dua buah kotak yang akan diberikan kepada Kanjeng Sultan sebagai benda pitukon untuk putrinya, Sekar Kedaton.

Sedangkan Wenang Wulan membawa sebuah bungkusan yang berisi keris Kyai Megantara, sabuk Jalu Sengara dan beberapa pakaian Adipati Hadiwijaya.

"Wenang Wulan, kau bawa dan jaga bungkusan itu, jangan sampai hilang" kata Hadiwijaya.

"Baik, Kanjeng Adipati" jawab Wenang Wulan.

Setelah sampai di pendapa, Adipati Hadiwijaya menyerahkan kedua peti kayu beruklir untuk dihias dan diletakkan diatas tandu. Beberapa orang santri menghias tandu tempat kotak itu dengan beberapa hiasan dari janur, daun kelapa yang masih muda. 

"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" panggil Sang Adipati.

Pemanahan dan Penjawi mendekat ke Adipati Hadiwijaya.

"Kakang berdua mengawasi kotak yang berada diatas tandu itu, jangan sampai hilang" kata Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan dan Penjawi hampir bersamaan.

Sementara itu, didepan pintu gerbang pesantren, telah datang dua orang prajurit Wira Manggala yang akan mengawal rombongan Pajang itu ke Kraton. Kedua prajurit itu segera menghadap ke Kanjeng Sunan di ruang dalam, melapor siap untuk berangkat bersama rombongan ke Kraton Demak. Beberapa saat kemudian kedua prajurit itupun keluar dari ruang dalam, lalu berkumpul di pendapa bersama dengan yang lainnya.

Matahari terus merambat naik, sekarang Hadiwijaya betul-betul gelisah, uwanya Kebo Kanigara belum datang juga, padahal sebentar lagi rombongan akan berangkat. 

Tak lama kemudian dari ruangan dalam, muncul Kanjeng Sunan Kalijaga lalu iapun berkata kepada kedua orang prajurit Wira Manggala :"Kita berangkat sekarang" 

"Baik Kanjeng Sunan" kata prajurit Wira Manggala. lalu prajurit itupun mulai mengatur tandu-tandu yang ada di pendapa. Semua tandu segera diturunkan dari pendapa, lalu diletakkan di halaman, sedangkan yang memikul tandu adalah para santri Kadilangu dibantu orang-orang yang datang dari Pengging dan dari Banyubiru

"Kita berangkat sekarang" kata Kanjeng Sunan kepada Hadiwijaya.

Mendengar kata-kata Kanjeng Sunan Kalijaga, Hadiwijayapun semakin gelisah, dan iapun terpaksa menjawab ;" Ya, Kanjeng Sunan"

Mendengar jawaban Hadiwijaya, Kanjeng Sunan Kalijaga tersenyum, kemudian tanpa berkata apapun Kanjeng Sunan turun ke halaman menuju pintu gerbang, Hadiwijayapun kemudian berjalan mengikuti dibelakangnya, dan dilihatnya Kanjeng Sunan menunjuk ke arah pintu gerbang pesantren.

Hadiwijayapun kemudian mengikuti arah telunjuk Kanjeng Sunan, dilihatnya pintu gerbang pesantren, sepi, tidak ada seorangpun yang sedang berada disana.

Baru saja Hadiwijaya akan bertanya kepada Kanjeng Sunan, ditengah gerbang telah terlihat seorang laki-laki berusia lebih dari setengah abad, berdiri dengan tangan ngapurancang, membungkuk hormat ke arah Kanjeng Sunan Kalijaga.

Melihat orang yang berdiri didepan pintu pesantren, Hadiwijayapun tersenyum, hatinya yang gelisah menjadi adem seperti tersiram air wayu sewindu, kegelisahan yang melanda dirinya selama ini, sekarang telah hilang musnah. Dilihatnya seseorang yang berwajah bersih, berpakaian lengkap memakai keris di belakang, menunduk hormat dengan kedua tangannya masih bersikap ngapurancang. 

Orang yang berdiri ditengah pintu adalah uwanya Kebo Kanigara yang berjanji akan datang pada acara lamaran dan pernikahan dirinya.

Dengan kedatangannya di Kadilangu, Kebo Kanigara terlihat telah mau mengalah, mengabaikan semua kepentingan dirinya serta menganggap semua persoalan masa lalu adalah persoalan yang telah selesai.

Kebo Kanigara yang merasa keluarganya tersingkir sejak adanya peristiwa Pengging ataupun peristiwa-peristiwa sebelumnya, rela datang ke Kraton Demak dan bertemu dengan Sultan Trenggana, semata-mata hanya untuk masa depan kemenakannya, yang bisa mengangkat derajat Hadiwijaya sebagai satu-satunya keturunan laki-laki dari darah Pengging, untuk dapat meraih kedudukan yang lebih baik.

Kebo Kanigara rela muncul kembali dan bergaul lagi dengan orang-orang disekitarnya, setelah lebih dari tiga windu menarik diri dari pergaulan rakyat Demak, hidup berpindah-pindah tanpa ada seorangpun yang mengetahui tempat tinggalnya.

Hadiwijaya tersenyum, ia baru pertama kali melihat uwanya berpakaian rapi, memakai keris dipinggang belakang, pakaian yang pantas dipakai di dalam acara melamar putri Sekar Kedaton Kasultanan Demak untuk dirinya.

Kebo Kanigara melihat Kanjeng Sunan menghampirnya, maka iapun segera menyongsong maju kedepan, lalu kedua orang itupun telah bersalaman. 

"Bagaimana kabar anakmas Kebo Kanigara selama ini?" kata Kanjeng Sunan Kalijaga. 

"Atas restu Kanjeng Sunan, saya dalam keadaan selamat" kata Kebo Kanigara.

Hadiwijaya yang berada di belakang Sunan Kalijaga maju kedepan, kemudian iapun menyalaminya serta mencium tangan uwanya.

"Siwa membuat hatiku gelisah" kata Hadiwijaya, dan uwanya hanya tersenyum mendengar kata kemenakannya.

Adipati Hadiwijayapun juga tersenyum, dia merasa memang kemunculan uwanya bukan suatu kebetulan, uwanya pasti sengaja, waktu kedatangannya memang dibuat tepat ketika rombongan sudah siap akan berangkat, kalau Kebo Kanigara mau, setiap saat uwanya bisa muncul di Kadilangu, kapan saja. 

Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerangpun segera maju kedepan menyalami Kebo Kanigara, 

"Adimas Kanigara, puluhan warsa kita tidak pernah bertemu, kita bertemu terakhir sewaktu aku berada di Pengging dirumah adi Kebo Kenanga, beberapa warsa sebelum anakmas Hadiwijaya lahir" kata Ki Ageng Butuh

Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, ia juga mengetahui kalau Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang adalah saudara seperguruan Ki Kebo Kenanga, ayah dari Hadiwijaya.

"Ya Ki Ageng, kita memang telah lama tidak bertemu" kata Kebo Kanigara.

Kemudian Ki Buyut Banyubiru, Majasta dan Ngabehi Wuragil juga menyalami sambil berkata "Ternyata anakmas Kanigara masih terlihat gagah"

"Kita sudah sama-sama tua Ki Buyut" jawab Kebo Kanigara

"Ya" kata Ki Buyut Banyubiru sambil tertawa ;"Tetapi aku lebih tua dua tiga windu dari anakmas Kanigara, sekarangpun aku sudah sering sakit-sakitan"

Kebo Kanigarapun tertawa mendengar kata-kata dari Ki Buyut Banyubiru :" Siapa yang tidak mengenal tiga bersaudara dari Banyubiru" 

Kemudian Pemanahan dan Penjawi juga maju kedepan, menyalami uwa dari Sang Adipati.

"Inilah orang yang benama Ki Kebo Kanigara, orang yang mempunyai ilmu mumpuni, orang yang mampu menuntaskan semua ilmu dari perguruan Pengging" kata Pemanahan dalam hati. 

Ki Ageng Nis Sela juga maju menyalami, lalu iapun berkata ;"Puluhan tahun yang lalu kita pernah bertemu sekali dan berlatih bersama, tetapi sekarang ilmuku bukan tandingan kakang Kanigara" 

"Adi, siapa yang tidak mengenal kecepatan gerak dari perguruan Sela, yang mampu menangkap petir" kata Kebo Kanigara. Ki Ageng Nis Selapun tertawa mendengar ucapan dari Ki Kebo Kanigara.

Wenang Wulan juga maju kedepan, kedua tangannya menyalami Ki Kebo Kanigara.

"Inikah pemuda nayaka praja Kadipaten Pajang yang bernama Wenang Wulan, putra Ki Ageng Butuh? Luar biasa, masih muda sudah berilmu tinggi" kata Kebo Kanigara. 

Wenang Wulan dan Ki Ageng Butuh tersenyum mendengar ucapan Kebo Kanigara, tetapi senyum Wenang Wulan menjadi hilang, berganti menjadi rasa terkejut, ketika Kebo Kanigara berkata kepada Ki Ageng Butuh ;"Putra Ki Ageng Butuh adalah seorang anak muda yang hebat, ilmu Segara Muncar yang dimilikinya sangat luar biasa" 

"Dari mana Ki Kebo Kanigara tahu aku punya ilmu Segara Muncar? Apakah dia orang yang memakai penutup wajah yang telah bertarung denganku sewaktu aku mengejar suara burung kedasih? Kelihatannya bukan dia, bentuk tubuhnya tidak seperti itu, orang itu pasti bukan Ki Kebo Kanigara" kata Wenang Wulan dalam hati. 

"Tetapi dari mana dia tahu ilmuku Segara Muncar?" desis Wenang Wulan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. 

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita