Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 31 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 31 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Kadipaten Pajang adalah sebuah Kadipaten yang baru saja lahir, Kadipaten yang baru akan tumbuh, kita semua belum tahu songsong berwarna apa yang nanti akan diberikan oleh Kasultanan Demak untuk Kadipaten Pajang, mungkin nanti setelah pawiwahan pengantin, kita semua bisa mengetahui songsong Kadipaten Pajang" kata Pemanahan.

Wenangpun menganggukkan kepalanya, ia bisa mengerti keterangan yang diberikan oleh Pemanahan, mungkin saat ini songsong Kadipaten Pajang sedang dibuat di kotaraja Demak, dan nanti pada saatnya, songsong itu akan diberikan untuk Kadipaten Pajang. Pembicaraan mereka berdua terhenti ketika Lurah Wasana bersama seorang prajurit Wira Manggala yang berusia setengah baya, mendekati Wenang dan Pemanahan.


"Ki Pemanahan, nanti yang menjadi pranata adi cara adalah Ki Prana, sedangkan saya bersama Ki Ageng Nis Sela dan dua orang prajurit Wira Manggala lainnya akan menjemput Kanjeng Adipati di dalem Kadipaten" kata Lurah Wasana.

"Baik Ki Lurah Wasana" kata Pemanahan.

Tidak lama kemudian, beberapa orang bebahu beberapa dusun di Kadipaten Pajang yang akan mengikuti pasewakan, telah ada yang datang ke Sasana Sewaka.

Didepan Sasana Sewaka, beberapa orang berpakaian prajurit dari kesatuan Wira Manggala tampak berjaga-jaga dengan menyandang sebuah pedang pendek yang disangkutkan di ikat pinggangnya

Seperti air mengalir, satu per satu para bebahu datang ke Sasana Sewaka, ada juga dari tempat yang jauh, Pengging atau Butuh yang masih termasuk dalam wilayah Kadipaten Pajang. Beberapa orang prajurit Wira Manggala ada yang bertugas mencatat mereka yang datang, ada pula yang mengantar mereka masuk ke dalam Sasana Sewaka.


Wenang yang berdiri bersama Lurah Wasana, Pemanahan dan beberapa orang yang lain, yang saat itu yang berada didepan Sasana Sewaka, melangkah maju, ketika melihat seorang tua yang baru saja datang dan akan mengikuti acara pasewakan. Setelah bertemu, lalu diajaknya dan dikenalkannya kepada yang ada didepan Sasana Sewaka.

"Ini ayahku, Ki Ageng Butuh" kata Wenang

"Senang bertemu Ki Ageng" kata Pemanahan.

Ki Ageng Butuh, saudara seperguruan Ki Ageng Pengging, tersenyum ramah kepada semua calon nayaka praja Kadipaten Pajang. Setelah itu Wenangpun mengantar Ki Ageng Butuh masuk ke dalam ruangan Sasana Sewaka.


Ketika matahari semakin tinggi, Sasana Sewaka sudah hampir penuh, kelihatannya pasewakan akan segera dimulai.

Diluar Sasana Sewaka, dipenuhi puluhan orang-orang yang tidak ikut masuk kedalam, mereka bukan para bebahu Pajang, tetapi rakyat Pajang yang ingin menyaksikan jalannya pasewakan yang pertama di Kadipaten Pajang.

Diantara puluhan orang-orang yang berjalan kesana kemari didepan Sasana Sewaka, terdapat seorang tua berpandangan tajam, memakai ikat kepala dan membawa tongkat, kumis dan janggutnya sudah berwarna putih. Orang tua itu berjalan tertatih-tatih, berbaur bersama puluhan orang yang lain.


Ketika dilihatnya didalam Sasana Sewaka hampir penuh, iapun mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata dalam hati :"Kelihatannya para bebahu Pajang semuanya datang, tidak ada yang mbalela"

Orang tua itupun berkali-kali mengelus kumis dan janggutnya yang putih :"Mudah-mudahan kumis dan janggutku ini cukup kuat, tidak jatuh dijalan" kata orang tua itu dalam hati.

Betapa ia bangga terhadap kemenakannya, anak dari adiknya Kebo Kenanga, Karebet yang sekarang bernama Hadiwijaya, satu-satunya keturunan Pengging yang mampu menyamai kedudukan eyangnya, menjadi seorang adipati.


Ketika didepan Sasana Sewaka ada seorang anak muda yang telah dilihatnya semalam, maka iapun berkata dalam hati :"Itu Wenang, ilmunya cukup untuk menjadi salah satu benteng Kadipaten Pajang, dia pantas untuk menjadi seorang nayaka praja Pajang"

"Ternyata Wenang adalah anak dari Ki Ageng Butuh" katanya dalam hati sambil berjalan perlahan-lahan menuju kesebuah pohon diseberang Sasana Sewaka dan duduk disitu bersama beberapa orang yang lain.

Orang tua yang membawa tongkat itu adalah Kebo Kanigara yang sedang menyamar, yang selalu membayangi dan melindungi kemenakannya.

Pandangan matanya yang tajam melihat beberapa orang calon nayaka praja masih berdiri didepan Sasana Sewaka, dilihatnya Ki Ageng Nis sedang berbicara dengan seorang Lurah prajurit Wira Manggala.

"Itu Ki Ageng Nis Sela, mudah-mudahan Hadiwijaya bisa menarik dia supaya berpihak ke Pajang" kata Kebo Kanigara dalam hati.


Dilihatnya Lurah Wira Manggala sedang berbicara dengan seorang prajurit, lalu semua orang calon nayaka praja masuk ke dalam Sasana Sewaka.

Setelah itu Ki Ageng Nis Sela dan Lurah Wira Manggala serta dua orang prajurit, berjalan menuju dalem kadipaten untuk menjemput Adipati Hadiwijaya.

Didalam Sasana Sewaka, di depan sendiri, duduk bersila Wenang, Pemanahan, Penjawi, Wuragil, Jaka Wila dan Mas Manca.

Seorang prajurit Wira Manggala, Ki Prana, yang menjadi pranata adi cara pasewakan, memberitahukan sebentar lagi Kanjeng Adipati Hadiwijaya akan memasuki ruangan.

Ki Prana berbicara dengan keras, sehingga bisa didengar oleh semua yang hadir di Sasana Sewaka, iapun mohon kepada semua yang hadir untuk berdiri, bersikap dengan tangan ngapurancang, serta kepala menunduk sebagai rasa hormat kepada Adipati Pajang, Kanjeng Adipati Hadiwijaya.

Para bebahu yang hadir semuanya telah berdiri, menunggu kedatangan Adipati Hadiwijaya di ruangan Sasana Sewaka.


Tak lama kemudian, terlihat Adipati Hadiwijaya mengenakan busana ksatrian, memakai keris yang menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang, berjalan perlahan-lahan memasuki Sasana Sewaka, di sebelah kanannya berjalan Lurah Wasana dari kesatuan prajurit Wira Manggala Kasultanan Demak, disebelah kirinya berjalan Ki Ageng Nis Sela, sedangkan dibelakangnya berjalan dua orang prajurit Wira Manggala Demak.

Semua yang hadir bersikap ngapurancang dan membungkukkan badannya serta menyembah ketika Sang Adipati lewat didepannya.

Perlahan-lahan Adipati Hadiwijaya berjalan kedepan, kemudian duduk di kursi, menghadap ke semua yang hadir di Sasana Sewaka. Setelah Adipati Hadiwijaya duduk di kursi, para bebahu yang hadir kemudian kembali duduk bersila dilantai, dengan kepala tetap menunduk.


Setelah mengantar Adipati Hadiwijaya duduk di kursi, Lurah Wasana dan Ki Ageng Nis Sela kemudian berdiri di belakang Sang Adipati, sedangkan dua orang prajurit Wira Manggala segera duduk bersila dilantai di belakang Lurah Wasana dan Ki Ageng Nis Sela. Didalam Sasana Sewaka, Ki Prana mengatakan pasewakan akan segera dimulai, dan semua yang hadir akan mendengarkan titah dari Kanjeng Adipati Hadiwijaya.

Adipati Hadiwijaya mengedarkan pandangannya kepada semua bebahu yang duduk bersila dihadapannya, lalu dilanjutkan dengan sambutannya yang pertama, yang diucapkan dengan tenang dan tegas.

Tidak banyak kalimat yang diucapkan, Adipati Hadiwijaya hanya menjelaskan, saat ini kedudukannya sebagai Adipati Pajang adalah sah karena diangkat oleh Kanjeng Sultan Trenggana, sebagai penguasa tunggal Kasultanan Demak


Kadipaten Pajang berada dibawah kekuasaan Kasultanan Demak yang kekuasaannya meliputi semua Kadipaten, Tanah Perdikan, Kademangan, Kabuyutan, Pedusunan, Pakuwon yang tersebar hampir diseluruh tanah Jawa.

Tak lupa Adipati Hadiwijayapun mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan pemberian asok bulu bekti yang telah diberikan oleh para bebahu diseluruh tlatah Pajang dan telah diterimanya kemarin.

Kemudian dilanjutkannya dengan acara pengangkatan beberapa orang yang akan dijadikan sebagai nayaka praja pemerintahan Kadipaten Pajang. Hampir semua orang yang hadir berdebar-debar menanti titah Kanjeng Adipati Hadiwijaya selanjutnya, menunggu apa yang akan diucapkan tentang pengangkatan nayaka praja Kadipaten Pajang.

"Untuk pembentukan nayaka praja, aku telah mempertimbangkan masak-masak, semua yang aku angkat telah aku ketahui kesetiaannya kepada Kadipaten Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.


"Yang pertama, Dimas Wenang, aku angkat menjadi sentana dalem, dengan nama baru Wenang Wulan" kata Adipati Hadiwijaya.

Ki Ageng Butuh yang mendengar anaknya, Wenang diangkat menjadi sentana dalem menjadi gembira.

"Nama barunya Wenang Wulan, dan aku telah menyaksikan sendiri ketika berada ditepi sungai mengejar seberkas sinar yang ternyata sinar itu adalah sebuah wahyu keraton, dan sekarang wahyu itu sudah masuk, manjing didalam diri Adipati Hadiwijaya, dan sebentar lagi akan meningkat menjadi seorang Raja atau seorang Sultan, Sultan Hadiwijaya, maka Wenang Wuianpun sebutannya berubah menjadi seorang Pangeran, Pangeran Wenang Wulan" kata Ki Ageng Butuh dalam hati.

Ki Ageng Butuhpun menjadi gembira karena Wenang Wulan sekarang sudah menjadi seorang sentana dalem Kadipaten Pajang.

"Aku hanya menjadi seorang bebahu di Butuh, tetapi anakku Wenang Wulan diangkat menjadi seorang sentana dalem Kadipaten Pajang" desis Ki Ageng Butuh tersenyum gembira


Suasana Sasana Sewaka menjadi hening, kemudian terdengar suara Adipati Hadiwijaya.

"Untuk pengangkatan nayaka praja Kadipaten Pajang selanjutnya" kata Adipati Pajang :"Ki Pemanahan dan Ki Penjawi, keduanya aku angkat sebagai perwira Penatus Kadipaten Pajang sekaligus merangkap tugas sebagai penasehat Adipati" kata Adipati Hadiwijaya.

Mendengar keputusan tentang pengangkatan terhadap anaknya Pemanahan dan anak angkatnya Penjawi, Ki Ageng Nis Sela yang berdiri berada di belakang Sang Adipati menjadi senang.

"Bagus, Pemanahan dan Penjawi telah diangkat menjadi seorang perwira Penatus Kadipaten Pajang, yang berhak memimpin prajurit paling sedikit seratus orang" kata Ki Ageng Nis dalam hati.

"Kalau beberapa warsa lagi Kadipaten Pajang bisa menjadi besar, maka Pemanahan dan Penjawi bukan lagi seorang perwira Penatus, tetapi bisa naik menjadi seorang perwira Panewu, bahkan nantinya mereka dapat menjadi seorang senapati yang bisa memimpin prajurit segelar sepapan" pikir Ki Ageng Nis menganyam harapan.

"Disamping menjadi seorang perwira Penatus, Pemanahan dan Penjawi juga mendapat kehormatan sebagai penasehat Adipati Pajang" kata Ki Ageng Nis Sela sambil tersenyum.


"Pembentukan nayaka praja selanjutnya" kata Adipati Pajang :"Ki Wuragil dan Dimas Jaka Wila, keduanya aku angkat sebagai Bupati njero dengan nama baru Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta" kata Adipati Hadiwijaya.

"Selanjutnya, Mas Manca akan menjalankan tugas sebagai Patih Kadipaten Pajang dengan nama baru, Patih Mancanagara" kata Adipati Pajang.

Semua yang hadir menyaksikan, pembentukan nayaka praja Kadipaten Pajang sudah selesai dibacakan oleh Adipati Hadiwijaya, dan acara pasewakan kemudian dilanjutkan dengan pemberian Serat Kekancingan.

Para nayaka praja yang baru diangkat, sentana dalem Wenang Wulan, Pemanahan, Penjawi, Ngabehi Wuragil, Ngabehi Wilamarta dan Patih Mancanagara, semuanya berdiri dan siap menerima Serat Kekancingan yang telah dipersiapkan. Mereka menerima Serat Kekancingan yang ditulis sendiri oleh Adipati Hadiwijaya dalam keadaan tergulung, setelah itu merekapun kembali ketempatnya, duduk bersila dihadapan Adipati Hadiwijaya.


Setelah acara pembentukan nayaka praja selesai, maka Adipati Hadiwijaya mengatakan kepada semua yang hadir, dua pasar lagi ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Sekar Kedaton Kasultanan Demak, Putri Mas Cempaka.

Adipati Hadiwijaya mengatakan, dua pasar lagi rombongan Adipati Pajang akan berangkat ke kotaraja untuk melaksanakan adi cara lamaran kepada putri Sultan Trenggana yang menjadi Sekar Kedaton Kasultanan Demak, putri Mas Cempaka.

Selanjutnya Sang Adipati menjelaskan, setelah pahargyan pernikahannya, maka sepasar kemudian pengantin wanita akan diboyong ke Pajang, untuk itu ia mohon doa restu kepada seluruh rakyat Pajang, agar supaya semua acara yang di jalani dapat terlaksana dengan lancar.

Setelah itu Ki Prana mengatakan, adi cara pasewakan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang akan dibacakan oleh Pemanahan.


Pemanahanpun berdiri dan sebagai salah seorang murid dari Kanjeng Sunan Kalijaga, maka Pemanahanpun dengan tenang dan lancar segera membaca doa. Tak lama kemudian, setelah pembacaan doa selesai, maka acara Pasewakan telah dinyatakan selesai, Ki Prana mempersilahkan Kanjeng Adipati Hadiwijaya, untuk berdiri dan kembali ke ruang dalem kadipaten.

Setelah mendengar Kanjeng Adipati kembali ke ruang dalem Kadipaten, maka semua yang hadir di Sasana Sewaka segera berdiri ngapurancang, membungkukkan badan dan menundukkan kepala, lalu merekapun menyembah, menghormat kepada Kanjeng Adipati yang lewat di depannya.

Lurah Wasana dan Ki Ageng Nis Sela juga segera berdiri mengapit Kanjeng Adipati yang bersiap untuk berjalan ke dalem kadipaten, demikian juga dengan dua orang prajurit Wira Manggala yang duduk dibelakangnya, mereka berdua telah berdiri, siap mengawal Adipati Hadiwijaya.

Beberapa saat kemudian, berjalanlah Adipati Hadiwijaya diapit oleh Lurah Wasana dan Ki Ageng Nis Sela dan dibelakangnya berjalan dua orang prajurit Wira Manggala.


Demikianlah, pasewakan pertama telah dilaksanakan di Kadipaten Pajang, semua acara telah berlangsung lancar, dan setelah Adipati Hadiwjaya kembali ke dalem Kadipaten, pasewakanpun selesai dan telah dibubarkan.

Terlihat beberapa orang bergerombol pulang meninggalkan Sasana Sewaka, termasuk juga seorang tua yang memakai tongkat dan berjalan tertatih-tatih menuju ke arah hutan disebelah barat bersama beberapa orang yang lain, dan setelah sampai dibawah kerimbunan pohon-pohon ditepi hutan, tiba-tiba orang tua itupun telah menghilang dari pandangan.

 Di depan Sasana Sewaka, setelah berpamitan kepada nayaka praja Kadipaten Pajang, Ki Ageng Butuhpun berjalan pulang ke Butuh diantar oleh Wenang Wulan sampai di tepi hutan,


Sementara itu di Kadipaten Jipang, di depan Sasana Sewaka, beberapa orang kepercayaan Adipati Arya Penangsang sedang berdiri dan berbicara tentang kesiapan menata Jipang yang baru tumbuh.

Rangkud bersama Lurah Radya dari kesatuan Wira Manggala sedang membicarakan persiapan pasewakan yang pertama bagi Kadipaten Jipang.

"Kapan Adipati Arya Penangsang akan mengadakan pasewakan di Kadipaten Jipang, Rangkud?" kata Lurah Radya,

"Empat hari lagi Ki Lurah" jawab Rangkut.

"Kita masih punya waktu tiga hari, besok para prajurit Wira Manggala akan berkeliling memberitahukan ke para bebahu diseluruh tlatah Jipang" kata Lurah Radya.

"Ya Ki Lurah, nanti biar diantar oleh beberapa orang Jipang" kata Rangkud.


Didekatnya, Matahun sedang bersiap untuk melihat pembangunan dalem kepatihan.

Setelah mendapatkan tempat yang tidak jauh dari dalem kadipaten, Matahun sejak kemarin tiga orang tukang dan seorang pembantu, mulai melaksanakan perintah Kanjeng Adipati Jipang, Arya Penangsang untuk membangun dalem Kepatihan.

"Siapapun nanti yang akan diangkat menjadi patih Jipang, bagiku tidak masalah, terserah Kanjeng Adipati Arya Penangsang" kata Matahun dalam hati.

Sejak kemarin, tiga orang tukang dibantu oleh seorang pemuda telah mulai bekerja, membersihkan dan menebang beberapa pohon yang tidak terlalu besar, yang berada di tempat itu, mereka berempat bekerja keras dari pagi sampai sore hari. Ketika matahari semakin tinggi, Matahunpun kemudian berjalan menuju tempat yang akan dibangun dalem kepatihan.


Secara diam-diam, Matahun memperhatikan pemuda yang membantu menebang pohon, seorang pemuda yang rajin, berkerja terus menerus dari pagi sampai petang, berbadan tegap, kuat, berkumis tipis, mempunyai pandangan mata yang tajam seperti seekor macan.

"Hm seorang anak muda yang tegap dan gagah, dari pada hanya membantu tukang kayu, anak itu lebih pantas menjadi seorang prajurit Jipang" kata Ki Matahun dalam hati.

Ketika waktu istirahat, Matahunpun memanggil anak muda yang menarik perhatiannya itu.

"Siapa namamu anak muda?" tanya Matahun.

"Nama saya Anderpati" jawab anakmuda itu.

"Kau berasal dari mana Nderpati?" tanya Matahun.

"Dari sini Ki, Jipang" jawab Anderpati

"Kau sejak kecil tinggal di Jipang?"

"Ya Ki Matahun, sejak lahir saya berada di Jipang"

"Daripada menjadi pembantu tukang kayu, sebetulnya kau lebih pantas menjadi seorang prajurit Jipang, Nderpati" kata Ki Matahun.

"Belum mendapat kesempatan Ki" kata Anderpati.

"Nderpati, nanti setelah Kanjeng Adipati Arya Penangsang pulang dari kotaraja Demak tiga pasar lagi, akan segera dibentuk prajurit Jipang, aku harapkan kau bisa ikut pendadaran prajurit Nderpati" kata Matahun.

"Ya, Ki Matahun" jawab Anderpati.

"Nderpati, kalau kau menjadi prajurit, apa yang akan kau perbuat untuk Kadipaten Jipang?" tanya Matahun.


Anderpati yang bermata tajam setajam mata seekor macan, menjawab pertanyaan Ki Matahun dengan suara tegas dan tenang :"Ki Matahun, saya seutuhnya adalah orang Jipang, saya lahir di Jipang, hidup di Jipang, makan dan minum dari bumi Jipang, seluruh hidupku akan saya abdikan untuk Kadipaten Jipang"

Matahun yang semakin tertarik dengan anak muda yang rajin dan bertubuh kuat itu, lalu menepuk bahu anak muda itu dan berkata pelan :"Bagus Nderpati, sikapmu sebagus namamu Anderpati"

"Nanti malam wayah sepi bocah, datanglah di tanah lapang ditepi Bengawan Sore, kau tunggu aku disana" kata Matahun selanjutnya.

"Baik Ki Matahun" jawab Anderpati.


Setelah melihat-lihat hasil pembersihan lahan yang akan dibuat dalem kepatihan, Matahunpun kemudian berniat pulang ke dalem Kadipaten.

"Aku tinggal dulu Nderpati, aku akan kembali ke dalem Kadipaten, jangan lupa nanti malam, disaat waktu sudah menunjukkan sepi bocah, kita bertemu di tanah lapang, ditepi Bengawan Sore" kata Matahun.

"Baik Ki Matahun" kata Anderpati.

Anderpati melihat ke arah Ki Matahun, orang yang berilmu tinggi dan dihormati di Kadipaten Jipang Panolan, berjalan meninggalkannya, kembali menuju dalem Kadipaten.

Hingga matahari condong kebarat, Anderpati bekerja tanpa kenal lelah, tubuhnya yang kuat, dengan mudah dipergunakan untuk menyingkirkan kayu-kayu yang sudah ditebang.


Demikianlah, suasana yang terang berangsur-angsur berubah menjadi gelap, siang berganti malam, dan ketika gelap telah menyelimuti bumi Jipang, Anderpatipun terlihat sedang berjalan menuju sebuah tanah lapang kecil dipinggir Bengawan Sore.

"Apa maksud Ki Matahun menyuruhku datang ke tanah lapang di tepi Bengawan Sore?" katanya dalam hati.

Anderpati berjalan terus, bulan yang hanya sepotong, tidak cukup kuat untuk menerangi daerah disekitar Bengawan Sore, sehingga bayangan pohon kelihatan seperti sebuah bayangan hantu yang siap menerkam.

Tetapi Anderpati adalah bukan seorang penakut, ia terus berjalan menuju sebuah tanah lapang tanpa menghiraukan bayangan hantu yang akan menerkamnya. Beberapa saat kemudian sampailah ia ke sebuah lapangan kecil yang banyak beterbaran rumput-rumput dipinggir Bengawan Sore.

Kemudian Anderpatipun duduk dibawah sebatang pohon, tidak menghiraukan keindahan pantulan cahaya bulan yang memantul di permukaan air Bengawan Sore, Pandangan matanya yang tajam, setajam mata harimau, menyapu daerah sekelilingnya, mencari sosok bayangan Ki Matahun yang menyuruhnya menunggu di tepi Bengawan Sore.


Anderpati tidak usah menunggu lama, dari kejauhan tampak dua sosok bayangan hitam berjalan menuju ke tanah lapang, berjalan mendekatinya.

"Itu Ki Matahun dan Ki Rangkud" desis Anderpati, lalu iapun berdiri menanti bayangan yang semakin lama semakin dekat.

"Nderpati" kata Matahun setelah jarak keduanya sudah dekat.

"Ya Ki Matahun" kata Anderpati.

"Bagus, kau mau datang ketempat ini, kau tahu maksudku kalau kita ingin bertemu di tempat yang sepi ini?" tanya Matahun.

"Belum Ki" kata Ki Matahun.

"Dengar Nderpati, kau aku panggil kesini, karena aku ingin membunuhmu" kata Matahun.

"Ki Matahun ingin membunuhku? Aneh, kita tidak mempunyai persoalan apapun" kata Anderpati heran.

"Ada atau tidak ada persoalan malam ini aku ingin membunuhmu ditepi Bengawan Sore ini, tempat ini sepi, tentu tidak ada seorangpun yang tahu kalau aku membunuh seorang anak muda yang bernama Anderpati, bersiaplah Nderpati" kata Matahun.

"Rangkud, bunuh dia" teriak Matahun keras sambil telunjuknya menuding ke arah Anderpati.


Setelah memberi perintah kepada Rangkud, maka Matahun kemudian menepi dan berdiri sambil bersedekap menyilangkan kedua tangan di depan dadanya, menunggu Rangkud yang yang berjalan mendekati Anderpati.

Anderpati yang masih heran melihat sikap Matahun, orang yang berilmu tinggi dan dihormati oleh penduduk Jipang, terkejut ketika melihat Rangkud telah bersiap menyerangnya, dan Anderpatipun tahu, Rangkud adalah salah seorang tokoh yang berilmu tinggi di Kadipaten Jipang, orang kepercayaan Adipati Arya Penangsang.

Tetapi Anderpati bukan seorang pengecut, dia pernah diajari olah kanuragan oleh pamannya yang menjadi tukang, yang saat ini sedang membangun dalem kepatihan, sesaat kemudian Anderpatipun juga bersiap, dia tidak mau mati di tepi Bengawan Sore tanpa perlawanan.

"Bersiaplah Nderpati, aku akan membunuhmu sekarang, melawan atau tidak melawan" kata Rangkud.

Kemudian Rangkudpun melompat kedepan, tangannya terayun keras memukul badan Anderpati, yang terpaksa melompat mundur. Rangkudpun melompat sekali lagi mengejar Anderpati, dengan pukulan sisi telapak tangannya, dari arah samping kanan, dan Rangkudpun berusaha memukul pundak Anderpati.


Dengan cepat Anderpati memutar dan menggeser badannya kesamping, dan jari tangannya mengepal dan memukul lurus tangan Rangkud yang sedang menyerangnya.

Rangkud yang sudah menduga serangan itu, sisi telapak tangannya seketika berubah mengembang lima jari, dan dengan kecepatan yang tidak diduga oleh lawannya, kepalan tangan Anderpati masuk kedalam cengkeraman lima jari Rangkud.

Anderpati merasa terkejut ketika kepalan tangannya tertangkap oleh lima jari Rangkud yang kuat. Anderpati merasa kepalan tangannya seperti dijepit besi, tetapi tiba-tiba terasa jepitan itu melonggar dan tangannyapun terlepas, dan ketika ia merasa kepalan tangannya sudah bebas, maka dengan cepat ia melompat maju, dan tendangan kaki Anderpati bergerak akan menghantam perut Rangkud.

Rangkudpun tidak mau perutnya diadu dengan kaki lawannya, segera kedua tangannya digerakkan kebawah menangkis kaki Anderpati.


Untuk kedua kalinya terjadi benturan, kaki Anderpati beradu dengan tangan Rangkud.

Anderpati merasa kakinya seperti membentur dinding batu padas, sehingga ia melompat mundur selangkah, tetapi akibat yang tidak diduganya adalah, benturan itu mengakibatkan Rangkud terlempar ke belakang dua langkah, jatuh berguling lalu dengan tangkasnya Rangkudpun bisa berdiri tegak, bersiap menerima serangan dari Anderpati.

Melihat Rangkud terlempar kebelakang tiga langkah, Anderpati berbesar hati, iapun lalu melompat kedepan menyerang dengan sisi telapak tangannya kearah kepala.

Ditepi lapangan, Matahun dengan sepenuh hati memperhatikan pertarungan antara Rangkud melawan Anderpati, matanya yang tajam mengamati setiap gerakan yang dilakukan oleh Anderpati.

Pandangan mata Matahun yang tajam melihat gerakan olah kanuragan yang dilakukan oleh Anderpati.

Semua gerakan yang dilakukan oleh Anderpati diperhatikan oleh Matahun, menendang, menyikut, memukul, menangkis, menghindar kesamping, berguling, melompat kedepan maupun kebelakang, semuanya tidak luput dari pandangan Matahun yang tajam.

"Hmm semua gerakannya masih mentah" kata Matahun dalam hati.

"Anderpati hanya berbekal keberanian saja, untung saja bentuk tubuh dan kekuatannya bagus, jadi lebih mudah membentuknya" kata Matahun dalam hati


Beberapa saat telah berlalu, Rangkudpun masih melayani semua serangan yang dilakukan oleh Anderpati, keduanya bergerak cepat saling serang, saling pukul, seringnya terjadi benturan mengakibatkan tangan dan kaki Anderpati terasa sakit.

Mereka berdua masih mampu bergerak cepat, baju Anderpati telah basah kuyup terkena keringat yang keluar dari badannya.

Ketika Rangkud sudah merasa pertarungan sudah cukup lama, maka iapun berniat untuk menghentikan pertarungan ini, iapun memandang ke arah Matahun, dan Rangkudpun melihat Ki Matahun menganggukkan kepalanya.


Ketika Anderpati memukul wajah Rangkud dengan kepalan tangannya, dengan cepat Rangkud bergeser dan berputar ke kiri, dan tiba-tiba Anderpati merasa tangannya dipegang Rangkud erat sekali, dan dengan kecepatan yang mengagumkan, Rangkud bergerak ke bekakang tubuhnya, dan secara cepat tangannya telah terpilin ke belakang, sehingga Anderpati tidak mampu sama sekali untuk bergerak.

"Cukup Rangkud, berhenti Nderpati" teriak Matahun.

"Berhenti !" teriak Matahun selanjutnya.

Anderpati yang tangannya terpilin kebelakang, tidak bisa bergerak sama sekali, kecepatan Rangkud sewaktu memilin tangannya ke punggungnya adalah diluar dugaannya, cepat sekali.

Rangkudpun kemudian melepaskan tangan Anderpati yang telah dipilinnya sehingga lekat kepunggungnya sendiri.

"Berhenti, cukup sekian latihan untuk hari ini" kata Matahun selanjutnya.

Anderpati terkejut, dengan nafas terengah-engah maka iapun menghentikan pertarungan.

"Latihan, maksud Ki Matahun semua ini hanya latihan?" tanya Anderpati.

"Ya, semua ini memang latihan, kenapa ?" tanya Matahun sambil tersenyum.

"Ki Matahun tidak jadi membunuh aku?" tanya Anderpati.

"Nderpati, Nderpati, mana mungkin aku akan membunuh orang yang setia kepada Jipang, aku bilang akan membunuhmu, supaya kau mengeluarkan semua kemampuanmu, tetapi ternyata kenyataannya, kemampuanmu masih mentah, kau tidak punya bekal kemampuan olah kanuragan sama sekali" kata Matahun.


" Ya Ki" jawab Anderpati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu dilihatnya Rangkud dengan tubuh yang masih segar tersenyum kepadanya.

"Berarti Ki Rangkud tadi hanya pura-pura terlempar ketika terkena tendangan kakiku" kata Anderpati.

"Ya, supaya kau bertambah semangat untuk berusaha bisa mengalahkan aku" kata Rangkud.

"Bukan begitu Ki Rangkud, tetapi saya tidak mau mati terbunuh disini" kata Anderpati.

"Dengar Nderpati" kata Ki Matahun :"Aku inginkan kau besok menjadi salah satu pemimpin prajurit Jipang yang berkemampuan tinggi seperti Rangkud, tetapi saat ini ilmu kanuraganmu masih mentah, sehingga kau masih perlu banyak belajar dan berlatih" kata Matahun.

"Ya Ki Matahun, saya sudah berusaha tetapi dari dulu ilmu kanuragan saya tidak pernah meningkat" kata Anderpati.

"Baiklah Anderpati, mulai besok malam kau akan kulatih, sebelum kita punya tempat yang lebih baik, kau akan kulatih ditepi Bengawan Sore ini, kecuali kalau aku ada kepentingan lainnya tidak berada di Jipang, kau bisa berlatih sendiri, kau bisa mengulang semua jurus yang sudah aku ajarkan" kata Matahun

"Terima kasih Ki Matahun, terima kasih, Ki Matahun sudah mau menerima saya sebagai murid" kata Anderpati.

"Ya, yang penting bagiku adalah sikapmu Nderpati, hidup matimu kau pergunakan untuk membela Jipang"

"Ya Ki, berarti saya bersama-sama Ki Rangkud adalah saudara seperguruan" kata Anderpati.

"Berbahagialah kau Anderpati, aku memang pernah diajari sejurus dua jurus, tetapi aku bukan murid Ki Matahun, kau adalah satu-satunya orang yang diangkat menjadi murid oleh Ki Matahun" kata Rangkud menjelaskan.

"Terima kasih Ki Matahun, terima kasih Ki Rangkud" kata Nderapati

"Ya mari kita pulang, besok kita berlatih lagi" kata Matahun.


Matahun dan Rangkudpun kemudian meninggalkan tanah lapang ditepi Bengawan Sore, demikian juga dengan Anderpati yang mempunyai sorot mata seperti seekor macan, dia mengambil jalan lain, pulang ke rumahnya sendiri.

Malampun semakin larut, dan ketika malam telah sampai diujungnya, maka matahari segera muncul disebelah timur, dan bangunlah seisi bumi Jipang,

Ketika tlatah Jipang sudah semakin terang, maka Lurah Radya memerintahkan beberapa orang prajurit Wira Manggala untuk berkeliling diseluruh pelosok Jipang, memberitahu kepada semua bebahu Kadipaten Jipang untuk memenuhi kewajiban sowan pada pasewakan yang pertama yang akan diadakan di Sasana Sewaka, dua hari lagi.

Tiga kelompok prajurit Jipang bersama seorang penunjuk jalan dari Jipang, mulai berangkat meninggalkan Sasana Sewaka,

Tanpa kesuiitan apapun, mereka menemui semua bebahu, dan sambutan dari para bebahu semuanya sangat baik, karena keluarga Arya Penangsang sudah sangat dikenal dan dihormati di seluruh Kadipaten Jipang. Sejak jaman Majapahit, Jipang sudah merupakan sebuah desa yang besar, yang mempunyai seorang Senapati Demak, Sunan Ngudung yang merupakan eyang dari Adipati Arya Penangsang.

Saat ini, tidak ada seorangpun bebahu dari Kadipaten Jipang yang menyangsikan kemampuan Arya Penangsang dalam memimpin Kadipaten Jipang.

(bersambung)

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita