Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 30 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 30 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Sementara itu, di Sasana Sewaka, beberapa saat yang lalu, Wenang yang sebetulnya belum tidur, mendengar suara burung kedasih yang tiba-tiba terdengar menjauh.

Pengalamannya meninggalkan desa Butuh bertahun-tahun untuk berguru ilmu kanuragan di beberapa perguruan di tanah Jawa, membuatnya mampu bersikap waspada.

Dengan tidak menarik perhatian orang-orang yang berada di Sasana Sewaka, Wenang mengambil pedang pendeknya, kemudian Wenangpun melangkahkan kakinya turun dari Sasana Sewaka, menuju halaman belakang, dan pedangnyapun kemudian disangkutkan pada ikat pinggangnya,

Matanya yang tajam memandang ke arah suara burung kedasih, dan sempat dilihatnya sekelebat orang yang sedang berlari, setelah itu bayangan itupun hilang di kegelapan malam.

"Siapa orang itu" katanya dalam hati, pada saai ini, semua sahabat-sahabatnya sedang berada di Sasana Sewaka.

Dengan cepat dan tangkas, Wenang berlari mengejar bayangan yang telah menghilang di kegelapan malam, Wenang sama sekali tidak dapat melihatnya karena cahaya bulan yang lemah tidak mampu untuk menerangi seluruh jalan disekitar dalem kadipaten.

Di kejauhan, di arah barat, masih terdengar suara burung kedasih, Wenangpun dengan penuh kewaspadaan berjalan hati-hati menuju ke arah suara itu.

"Orang itu menuju ke arah barat" kata Wenang dalam hati.


Sementara itu, agak jauh dari tempat Wenang berjalan mencari suara burung kedasih, Kebo Kanigara sedang duduk diatas kayu yang mellintang, sedang berbicara dengan kemenakannya, Adipati Hadiwijaya.

"Ternyata setelah Pajang menjadi sebuah Kadipaten, banyak orang yang babat alas, mendirikan rumah di sekitar kadipaten" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, nanti kedepan, didaerah ini bisa menjadi sebuah kotaraja yang ramai. Kotaraja Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.

Kebo Kanigara terdiam, hanya memandang tajam kepada kemenakannya.

"Mereka yang mendirikan rumah di sini banyak yang berasal dari jauh, ada yang berasal dari balik gunung Merapi, ada pula yang berasal dari seberang alas Mentaok, ada juga yang berasal dari sebelah kulon kali Progo, dekat dengan ujung perbukitan Menoreh" kata Kebo Kanigara.

"Mudah-mudahan mereka kerasan tinggal di Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.

Kebo Kanigara terdiam, suasana menjadi sepi, bulan yang hanya separo mampu sedikit memberi pendar cahaya di sekeliling tempat itu.


Tiba-tiba Kebo Kanigara berkata lirih:" Ada orang yang datang, dia berjalan menuju kemari"

Adipati Hadiwijaya terkejut, ditajamkannya pendengarannya dan didengarnya suara langkah kaki seseorang yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

Keduanya dengan cepat berdiri dan berlindung dibalik pohon, dan dengan matanya yang tajam, meskipun cahaya bulan tidak sepenuhnya bisa membantu, tetapi dari bentuk tubuhnya, Hadiwijaya bisa segera mengetahuinya.

"Itu Wenang, dia pasti mengejar saya" kata Adipati Hadiwijaya lirih.

"Wenang, orang yang besok akan kau angkat menjadi nayaka praja ?" tanya uwanya.

"Ya wa, hanya dia yang belum aku ketahui tingkat ilmu kanuragannya, yang lainnya saya sudah tahu wa" kata Hadiwijaya.

"Kau akan mencoba kemampuan ilmu kanuragannya ?" tanya Kebo Kanigara.

Hadiwijaya mengangguk, mereka yang ikut bergabung di Pajang, Pemanahan, Penjawi, Wuragil, Mas Manca maupun Jaka Wila telah diketahui kemampuan ilmu kanuragannya, hanya Wenang yang belum pernah dilihat kemampuannya.


Wenang, yang pernah berkeliling di daerah bang kulon, belajar di beberapa perguruan, berlatih olah kanuragan sampai Cirebon, ke Gunung Ciremai bahkan sampai ke Segara Anakan, tentu mempunyai bekal yang cukup untuk dijadikan benteng Kadipaten Pajang.

Kebo Kanigara lalu mengeluarkan sebuah kain segi empat berwarna hitam yang panjangnya tiga jengkal, lalu kain itupun diberikan kepada Hadiwijaya.

"Kau pakai kain ini sebagai tutup muka dan kau pancing ia ke lapangan rumput yang agak luas disebelah barat pohon randu alas" kata uwanya.

Adipati Hadiwijaya kemudian menggunakan kain itu sebagai tutup muka, lalu dibagian belakang kepala diikat dengan erat, dan iapun siap untuk mencoba kemampuan Wenang dalam olah kanuragan.

Sementara itu Wenang yang berjalan berhati-hati, dengan penuh kewaspadaan mencari suara burung kedasih dan bayangan orang yang berkelebat berlari ke arah barat.

Tetapi Wenang terkejut ketika dengan tidak diketahui dari mana datangnya, ia melihat ada seseorang yang berjalan berlawanan arah, agak jauh di depannya, seakan-akan sedang menghampirinya.

"Orang itu sangat mencurigakan" kata Wenang dalam hati.


Dirabanya ikat pinggangnya, ketika tangannya menyentuh hulu pedang pendeknya, maka iapun berniat untuk menangkap orang yang mencurigakan, berjalan dimalam hari tanpa membawa penerangan apapun.

"Orang yang berjalan dimalam hari biasanya membawa sebuah obor" kata Wenang dalam hati.

Dibawah sinar bulan yang tidak begitu terang, Wenang tidak mengetahui siapakah orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya.

Orang itu belum melihatnya, ia berjalan melenggang seenaknya dan ketika jaraknya sudah semakin dekat, tinggal beberapa langkah lagi, maka orang itupun terlihat terkejut ketika melihat Wenang, lalu iapun berbalik arah dan berlari menjauh.

Dengan sigap Wenangpun mengejarnya dan berteriak :"Berhenti Ki Sanak"

Tetapi orang itupun tetap belari cepat ke arah barat dan Wenangpun dengan sekuat tenaga mengejarnya.

Wenang mengerahkan semua kemampuannya untuk mengejar orang yang berlari didepannya, tetapi orang itupun juga tidak mau ditangkap, maka iapun lari dengan sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari orang yang mengejarnya.

Beberapa saat mereka berkejaran, setelah melewati sebuah pohon randu alas, tibalah mereka disebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas, lalu orang yang dikejar telah berhenti dan berbalik arah, menghadap ke pengejarnya.


Setelah berhadapan, barulah Wenang melihat dengan jelas, orang yang dikejarnya memakai secarik kain berwarna hitam untuk menutupi wajahnya.

Wenang adalah seorang pemuda yang cukup cerdik, ia sadar bahwa orang itu telah berpura-pura lari ketakutan.

"Aku telah dipancingnya berlari ke tanah lapang ini" kata Wenang dalam hati.

Diedarkannya pandangannya, ada kemungkinan orang yang dikejarnya membawa beberapa kawan untuk mengeroyoknya.

Tetapi suasana didekat pohon randu alas saat itu terlihat sepi, tidak ada gerakan apapun di sekitarnya.

"Ki sanak, kenapa kau lari ?" tanya Wenang :"Kenapa kau memancingku supaya aku mengejarmu ke tempat ini ? Kenapa wajahmu kau tutup dengan kain, siapa kau sebenarnya ?

Orang itu tidak menjawab apapun, hanya matanya yang tajam memandang ke arah Wenang.

"Kalau kau tidak mau menjawab, kau akan kutangkap, dan kau akan kubawa menghadap Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata Wenang.

Orang itupun masih tetap diam, tetapi terlihat ia menjadi gelisah.

"Menyerahlah" kata Wenang, tetapi ia terkejut ketika orang itu menyerangnya, dengan melompat kedepan dan kakinya terjulur menendang lambungnya.


Dengan cepat Wenang menghindar, memiringkan tubuhnya kearah kanan, sehingga tendangan orang yang wajahnya ditutup kain hitam itu tidak mengenainya.

Iapun tidak tinggal diam, tangannya bergerak kedepan dengan kekuatan penuh Wenang menghantam pundak lawannya.

Lawannya melangkah mundur, tetapi Wenang tidak melepaskannya, ia melompat dan dengan sisi telapak tangannya ia menghantam kepala lawannya

Kecepatan gerak Wenang memang mengagumkan, lawannya terkejut ketika sisi telapak tangan Wenang tiba-tiba bergerak akan menghantam kepalanya, diapun tidak sempat menghindar, yang dapat dilakukannya adalah menyilangkan kedua tangannya diatas kepalanya, mencoba membenturkan kekuatan kedua tangannya dengan sisi telapak tangan Wenang.

Terjadilah benturan yang keras, dan ternyata keduanya terkejut, Wenang dengan segenap kekuatan yang disalurkan disisi telapak tangannya seakan-akan merasa membentur tembok baja yang kuat sehingga kekuatan tangannya terpental membalik kebelakang, dan dengan susah payah Wenangpun mencoba menguasai dirinya, lalu iapun segera melompat mundur dua langkah, mencoba menjaga jarak dari serangan lawannya.


Lawannya tak kalah terkejutnya, hantaman sisi telapak tangan Wenang telah dapat ditahan dengan dua tangan bersilang diatas kepalanya, namun ternyata benturan itu mampu mendorongnya selangkah mundur, karena kedua tangannya terasa seperti tertimpa sebongkah batu hitam.

Benturan pertama mengakibatkan keduanya bisa mengukur dan mengetahui kekuatan lawannya.

"Ternyata tenaganya besar juga,ia mampu mendorongku mundur" desis orang yang wajahnya tertutup kain hitam.

"Bukan main, tenagaku tidak mampu membongkar pertahanan kedua tangannya yang bersilang" kata Wenang didalam hati :"Kedua tangannya kuat sekali"

Sadar bahwa lawannya berilmu tinggi, Wenang yang berniat akan secepatnya menangkap orang itu, segera mempersiapkan sebuah ilmu yang didapat dari seorang pertapa yang menyendiri di Segara Anakan.

Wenangpun akan berusaha melumpuhkan lawannya pada pancaran ilmunya yang pertama.

Direntangkannya kedua tangannya kesamping, hanya sekejap, setelah itu Wenangpun berteriak nyaring, melompat menyerang lawannya.

Kedua sisi telapak tangannya silih berganti tanpa henti menyerang tubuh orang yang wajahnya tertutup kain, dengan kecepatan yang mengagumkan.

Itulah ilmu gerak Segara Muncar, ilmu yang menyerang seperti ombak Segara Kidul, yang menghantam batu karang di tepi pantai, terus menerus tanpa berhenti.

Dengan cepat Wenang dapat mendesak lawannya yang terpaksa bergerak mundur, telah dua kali tangannya menyentuh pundak lawannya, tetapi kekuatan tubuh lawannya sangat luar biasa, dia seperti tidak merasakan rasa sakit ketika pundaknya tersentuh tangannya.


Cahaya bulan yang lemah menyinari tanah lapang disebelah pohon randu alas, seperti menyaksikan dua ekor ayam jantan yang sedang bertarung.

Terlihat samar-samar orang yang menggunakan penutup wajah mengalami kesulitan, dia beberapa kali melangkah mundur, terdesak oleh lawannya yang dapat bergerak cepat.

Secara bergantian kedua telapak tangan Wenang mengepal kuat, menghantam kearah dada, lalu berubah menjadi tusukan dua jari kearah mata, kemudian berubah lagi menjadi serangan sisi telapak tangan menyerang pundak, hanya kurang dari sejengkal, serangan sisi telapak tangan itu telah berubah menjadi cengkeraman lima jari mengancam leher.

Lawannya melompat mundur, ia tidak mau lehernya berlubang di lima tempat, dan iapun tidak mau dicecar ilmu lawannya, telah dua kali pundaknya terasa sakit tersentuh tangan lawannya.

Untuk melawannya, maka iapun segera mempersiapkan sebuah ilmunya, setelah melompat mundur, maka dengan cepat ia menghimpun tenaganya, melawan ilmu lawannya dengan sebuah ilmu kebanggaannya, Trisula Manik.

Sesaat kemudian Wenang melihat lawannya melompat kedepan sambil berteriak menyerang dirinya, Wenang tak mau dirinya tersentuh tangan lawannya, maka iapun melompat kesamping, lalu tangannya pun membalas menyerang.

Terjadilah benturan dua macam ilmu gerak, dan beberapa saat kemudian Wenangpun merasakan tekanan yang berat dari lawannya, dua buah tangan lawannya seakan-akan berubah seperti menjadi tiga buah.

Benturan-benturan yang terjadi, ternyata mampu mendorong Wenang bergerak mundur, badannya telah dua kali terkena tangan lawannya.

"Ilmu apa ini, mampu mendesak ilmu Segara Muncar, luar biasa ilmu kanuragan orang ini, mampu mendorongku mundur, siapakah dia sebenarnya" kata Wenang dalam hati, sambil tangannya menangkis serangan lawannya.


Dibawah cahaya bulan yang remang-remang, orang yang wajahnya tertutup kain berwarna hitam mendesak Wenang terus mundur kebelakang.

Ketika dua tangan lawannya menyerang bergantian, maka Wenangpun menghindar kesamping, tetapi ketika sekali lagi pundaknya terkena pukulan tangan yang ketiga, maka Wenangpun melompat mundur dua langkah, tangannya dengan cepat meraba hulu pedangnya dan dalam sekejap tangannya telah menggenggam erat pedang pendeknya.

Ketika sinar bulan yang lemah menyentuh ujung pedang yang digenggam Wenang, maka lawannyapun melihat betapa berbahayanya Wenang dengan ilmu yang mengandalkan gerak kecepatan tangan dipadukan dengan tajamnya sebuah pedang pendek.

"Menyerahlah sebelum terlambat, kau akan kubawa menghadap Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata Wenang sambil bersiap menyerang dengan menggunakan pedang pendeknya.

"Berbahaya" kata lawannya dalam hati.


Lawannya menarik nafas panjang, ketika Wenang sedang berbicara, maka iapun mempergunakan waktu yang sekejap itu untuk mateg aji yang dapat melindungi dirinya dari sentuhan pedang pendek lawannya, dengan cepat dibangunnya sebuah kekuatan yang luar biasa, aji Lembu Sekilan.

"Menyerahlah" teriak Wenang sekali lagi.

Orang yang wajahnya tertutup kain itu tidak menjawab, ketika ia merasa pemusatan kekuatan aji Lembu Sekilan itu telah selesai, dan ilmu itu sepenuhnya telah manjing didalam dirinya, maka dengan berani orang yang memakai penutup wajah mulai bergerak menyerang lawannya yang bersenjatakan sebuah pedang pendek.

Wenangpun maju menyongsong lawannya, pedangnya berkelebat mengitari lawannya yang memakai kain penutup wajah.

Wenang dengan kecepatan yang mengangumkan segera menggerakkan pedang pendeknya ke kanan dan ke kiri, ia memang sejak semula tidak berniat membunuh lawannya, hanya berusaha melumpuhkan dengan melukai tangan atau kakinya saja.

Dengan lambaran ilmu Segara Muncar, pedang Wenang bergerak cepat sekali, seperti lebah yang mengitari tubuh lawannya.


Beberapa saat telah berlalu, sinar bulan yang lemah, hanya memperlihatkan pantulan pendar cahaya di pedang pendek yang digerakkan oleh Wenang.

Wenang melihat lawannya dengan gigih masih melawannya tanpa senjata apapun, tetapi ternyata Wenang tidak mampu untuk mendesaknya mundur.

"Apa boleh buat kalau ia mati atau terluka parah terkena pedangku" kata Wenang yang mulai tidak sabar, dengan cepat ia bersiap menyerang di tempat yang berbahaya.

"Ini peringatan terakhir, menyerahlah, supaya tidak ada yang terbunuh disini, kau akan kubawa ke hadapan Kanjeng Adipati Hadiwijaya" teriak Wenang.

Orang yang wajahnya ditutup kain hitam itu tidak menjawab, maka Wenangpun menggerakkan pedangnya kedepan, mulai menyerang lawannya dengan puncak ilmu Segara Muncar.

Wenang memutar pedangnya seperti baling-baling, lalu tiba-tiba berubah lurus kedepan menusuk pundak, sehingga membuat lawannya terkejut, dengan cepat iapun mundur selangkah kebelakang, tetapi Wenangpun melompat maju sambil berteriak, dalam sekejap telah merubah sebuah tusukan kepundak menjadi sabetan ke arah dada.


Lawannya tidak sempat melompat mundur, sabetan pedang Wenang yang dilambari puncak ilmu Segara Muncar yang mengarah ke dada, datangnya terlalu cepat.

Wenang yang sudah memperhitungkan ujung pedangnya akan menggores dada lawannya, menjadi kecewa, ketika pedangnya tertahan oleh sebuah perisai yang tidak terlihat, yang berjarak hanya sekilan dari tubuh lawannya.

Kembali Wenang mengeluarkan semua kemampuannya, ujung pedang pendeknya dipadukan dengan puncak ilmu Segara Muncar, ilmu yang didapat dari Segara Anakan, segera beterbaran mengarah ke semua bagian tubuh lawannya.

Pedang pendek yang ujungnya selalu bergetar dan mempunyai kecepatan yang luar biasa itu mampu bergerak beberapa kali akan menusuk tubuh lawannya.

Lawannya segera melompat mundur, tetapi ia kalah cepat dengan datangnya serangan ujung pedang pendek yang mengarah leher dan pundaknya.

Tetapi sekali lagi Wenang terkejut, ketika ujung pedangnya yang bergetar cepat sekali, yang digerakkannya secara tiba-tiba menusuk lurus kedepan, tetapi tidak bisa menyentuh pundak lawannya, tertahan oleh sebuah perisai yang tidak kasat mata.

"Ilmu apa ini, pedangku tak mampu menyentuh tubuhnya" kata Wenang dalam hati, sambil terus menggerakkan pedang, menyerang lawannya tanpa henti.

Lawannya yang merasa sudah cukup mengadu ilmu dengan Wenang, berniat akan mengakhiri perkelahian ini, iapun kemudian bertempur semakin gigih, kedua tangannya menyerang bergantian, mendesak Wenang ke arah pohon randu alas, ditepi tanah lapang.

Wenang terkejut ketika melihat lawannya menyusup maju di sela-sela ujung pedangnya, dan mampu mendesaknya mundur.


Dengan penuh percaya diri, lawannya berani menangkis ayunan pedang pendeknya dengan tangkisan tangannya, tanpa takut tangannya terluka,

Wenang yang memegang sebuah pedang pendek, terpaksa terus menerus terdesak mundur oleh serangan lawannya yang tidak memegang senjata apapun.

Wenang melompat mundur, kini ia telah berada dibawah pohon randu alas, ketika sisi telapak tangan lawannya hampir mengenai kepalanya, dengan cepat Wenang memiringkan kepalanya, tetapi alangkah terkejutnya, ketika kekuatan tangan lawannya diubah menjadi pukulan terhadap tangannya yang memegang pedang, dan tanpa bisa dicegah, pedangnyapun terlempar ketanah, disusul sebuah tendangan kaki yang mengarah ke perutnya.

Wenangpun tidak mau perutnya terkena kaki lawannya, iapun terpaksa bergerak mundur, sehingga kaki lawannya mengenai tempat kosong, tetapi belum sempat berdiri tegak, iapun terkejut ketika tanpa ia duga, tangan lawannya secara tiba-tiba telah berhasil mendorong pundaknya.

Sebuah tenaga yang sangat kuat telah mendorong pundaknya, sehingga ia jatuh berguling ke samping beberapa kali, tetapi dengan tangkasnya Wenangpun melompat berdiri diatas kedua kakinya yang kokoh, tangannya menyilang didepan dada, bersiap menahan serangan dari lawannya yang ternyata mempunyai kemampuan yang tinggi.


Tetapi Wenang terkejut sekali, ketika ia memandang kedepan, yang terlihat hanyalah kegelapan malam, seberkas sinar bulan yang lemah telah menyentuh daun pohon randu alas ditepi tanah lapang itu.

"Hilang, kemana dia?" kata Wenang dalam hati.

Beberapa saat Wenang masih berdiri dalam keadaan siaga penuh, menunggu lawannya muncul.

"Ternyata orang yang wajahnya ditutup kain hitam telah melarikan diri masuk di kegelapan malam" kata Wenang dalam hati.

"Kenapa dia lari ? Orang itu berilmu tinggi, ilmunya jauh diatasku, siapakah dia sebenarnya ?" katanya dalam hati.,

Setelah ditunggu beberapa saat tidak ada gerakan apapun, maka Wenangpun kemudian berjalan, dan memungut pedangnya yang jatuh terlempar ke tanah, lalu iapun duduk dibawah pohon randu alas, pedangnyapun diletakkan disebelahnya.

Pundaknya masih terasa sakit terkena tiga kali sentuhan tangan lawannya.

"Ilmunya luar biasa, pedangku tak mampu melukainya" kata Wenang, dan iapun mengingat-ingat beberapa ilmu yang luar biasa.

"Ilmu apakah itu ? Puncak ilmu Segara Muncar yang ditambah dengan tajamnya sebuah pedang pendek, tak mampu menyentuh tubuhnya, luar biasa" desisnya perlahan.

Dari beberapa gurunya, dia pernah diberi pengetahuan tentang bermacam-macam aji jaya kawijayan guna kasantikan, ilmu yang kasat mata maupun ilmu yang tidak terlihat.


"Lembu Sekilan, ya itu adalah aji Lembu Sekilan yang ngedab-edabi, siapakah orang yang telah mempunyai aji Lembu Sekilan itu" desis Wenang.

"Luar biasa, ternyata ilmu yang dulu pernah dimiliki oleh mahapatih Gajah Mada sekarang telah dimiliki oleh orang itu" kata Wenang dalam hati.

"Pantas kalau pedangku tak mampu menyentuhnya, tertahan di jarak sekilan dari tubuhnya" desis Wenang.

"Tubuhnya menjadi kebal, selama Aji Lembu Sekilan masih manjing kedalam dirinya, tak ada senjata yang mampu menggores tubuhnya" kata Wenang dalam hati.

"Tetapi bagaimana dengan beberapa pusaka yang ampuh, apakah bisa menembus Aji Lembu Sekilan ?" tanya Wenang kepada dirinya sendiri.

"Di Majapahit ada keris Kyai Condong Campur, di ruang pusaka Demak ada keris Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten, dan Kyai Sangkelat, di Panti Kudus, Kanjeng Sunan Kudus mempunyai sebuah Trisula, keris Kyai Setan Kober dan keris Kyai Cinthaka, di Kadilangu Kanjeng Sunan Kalijaga mempunyai keris Kyai Carubuk, di Sela, Sutawijaya mempunyai tombak kyai Plered, apakah pusaka-pusaka itu mampu menembus perisai Aji Lembu Sekilan?" tanya Wenang dalam hati.


Lalu pertanyaan itupun telah dijawabnya sendiri :"Tentu setiap pusaka mempunyai kekuatan yang berbeda, dan tentu tergantung pula dengan kekuatan pertahanan orang yang mempunyai aji Lembu Sekilan"

"Kanjeng Sunan Kalijaga mempunyai kotang Antakusuma yang dapat membuat pemakainya kebal senjata, tetapi ternyata kekebalan itu dapat ditembus oleh keris Kyai Nagasasra" desis Wenang.

"Kalau diperbandingkan, mana yang lebih kuat, kotang Antakusuma dengan aji Lembu Sekilan?" pertanyaan yang tidak terjawab itu muncul dari dalam dirinya.

"Darimana dia bisa mendapatkan aji Lembu Sekilan itu?"Kata Wenang pelan.

Wenangpun masih duduk dibawah pohon randu alas, diapun cukup cerdik untuk mengurai pertarungannya tadi.

"Kenapa wajahnya sengaja ditutup kain hitam, apakah aku sudah pernah melihat wajahnya ?"

"Kenapa dia tidak berbicara sepatah katapun? Apakah dia seorang yang tidak dapat berbicara, seorang yang bisu? Hm mungkin suaranya sudah pernah aku kenal" pikir Wenang.

"Siapakah orang itu? Kawan atau lawan? Kalau orang itu seorang lawan yang berniat jahat, pasti yang diincar adalah kematian Kanjeng Adipati Hadiwijaya, dan sebagai seorang pengikutnya, aku pasti sudah dibunuhnya" desis Wenang.


 "Aku terjatuh sampai terguling beberapa kali, karena dia mendorong pundakku, tenaganya kuat sekali. Kenapa hanya mendorong, kalau dia memukul, tulang bahuku bisa patah" kata Wenang masih menghitung kekuatan orang yang menjadi lawannya.

"Ia tidak berniat jahat, apakah orang itu salah seorang dari penghuni kadipaten Pajang? Tidak mungkin, saat ini semua orang sedang berada di pendapa Sasana Sewaka termasuk Ki Ageng Nis Sela" pikir Wenang.

"Apakah orang itu Ki Lurah Wasana? Kelihatannya bukan, apalagi Ki Lurah Wasana tadi masih berada di Sasana Sewaka bersama para prajurit Wira Manggala lainnya"

"Apakah salah seorang tukang yang tidur di gubug? Tidak mungkin, orang itu bukan tukang yang tidur digubug" kata Wenang dalam hati.

Sambil duduk dibawah pohon randu alas, Wenang yang cerdik masih terus berpikir tentang orang yang bertarung dengannya.

"Siapa? Kelihatannya tidak ada lagi, semua sudah aku sebut namanya" kata Wenangpun sambil mencoba mengingat kembali bentuk tubuh orang yang bertarung dengannya.

"Siapakah yang mempunyai bentuk tubuh seperti itu ?"


Tiba-tiba seperti tersengat kalajengking, Wenang terloncat, bentuk tubuh seperti itu ada di Kadipaten Pajang :"Ada, orang itu ada"

Seketika itu Wenangpun bangkit berdiri, mengambil pedang pendeknya lalu berlari meninggalkan pohon randu alas, secepatnya kembali ke dalem kadipaten.

"Apakah aku akan terlambat? Mudah-mudahan tidak terlambat" kata Wenang.

Tangkas dan cepat, Wenang berlari menuju bulak amba, dan tak lama kemudian iapun menuju dalem Kadipaten, bukan menuju ke Sasana Sewaka.

"Kelihatannya terlambat, seharusnya aku mulai berlari pada saat pedangku terlempar, lari secepatnya menuju dalem Kadipaten" kata Wenang.

Saat itu suasana sepi, hanya terdengar suara cengkerik yang diselingi suara burung malam.

Dengan baju yang basah kuyup terkena keringat karena telah bertarung dan berlari, perlahan-lahan Wenang naik ke pendapa, memasuki ruang dalam, ia berjalan perlahan-lahan, dan ketika sampai didepan kamar tidur Adipati Hadiwijaya, Wenangpun kemudian duduk bersila.


Dari dalam kamar terdengar suara dengkur, suara orang yang sedang tertidur, Wenangpun ragu-ragu, dia hanya duduk bersila, tetapi akhirnya iapun memantapkan tekadnya, membangunkan Adipati Hadiwijaya, hatinya belum merasa puas, kalau belum bertemu dengan Adipati Hadiwijaya.

"Mohon maaf Kanjeng Adipati, saya Wenang, ada persoalan penting yang akan saya sampaikan" kata Wenang sambil menundukkan kepala.

Suara dengkur masih terdengar, sehingga Wenangpun mengulangi dengan suara yang agak keras :"Mohon maaf Kanjeng Adipati, saya Wenang, ada persoalan penting yang akan saya sampaikan"

Dari dalam kamar, suara dengkur telah berhenti, lalu terdengar suara dari dalam kamar :"Siapa?"

"Saya Wenang, Kanjeng Adipati, ada persoalan penting yang akan saya sampaikan" kata Wenang

Terdengar langkah kaki menuju pintu, dan sesaat kemudian pintupun terbuka, lalu terdengar suara Adipati Hadiwijaya perlahan :"Ada apa Wenang"

Wenang melihat baju yang dipakai Hadiwijaya adalah baju yang bersih, berbeda dengan baju yang dipakainya, basah kuyup terkena keringat.

"Baju yang dipakai Kanjeng Adipati adalah baju yang kering dan bersih, tidak ada bekas terkena setitik keringatpun" kata Wenang dalam hati.


Wenang juga melihat mata Hadiwijaya redup, kelihatan kalau masih mengantuk sekali, dan ketika Wenang memandangnya, terlihat Adipati Hadiwijaya sedang menguap.

"Seharusnya aku mengadu kecepatan lari sejak tadi" kaya Wenang dalam hati sambil memandang mata Adipati Hadiwijaya yang terlihat mengantuk.

Adipati Hadiwijaya bertanya lagi sambil menguap sekali lagi :"Aku masih mengantuk, ada apa Wenang ?"

"Saya baru saja bertarung dengan seseorang yang mencurigakan, dia berilmu tinggi Kanjeng Adipati" kata Wenang.

"Kau baru saja bertarung dengan seseorang ? Pantas bajumu basah kuyup terkena keringat" kata Adipati Hadiwijaya sambil memandang ke arah baju Wenang.

"Ya Kanjeng Adipati, kami bertarung di tanah lapang agak jauh ke arah barat, didekat pohon randu alas" kata Wenang.

"O disitu, syukurlah kau bisa menang" kata Adipati Hadiwijaya memuji.

"Tidak Kanjeng Adipati, saya kalah, dan saya terjatuh, ketika saya bisa bangkit kembali, orang itu telah menghilang" kata Wenang menjelaskan pertarungannya.

"Mungkin orang itu akan mencuri, padi, ayam atau kambing, coba nanti kau periksa, apakah ada barang kita yang hilang" kata Adipati Hadiwijaya dengan mata terpejam.

"Tidak ada barang yang hilang, Kanjeng Adipati" jawab Wenang.

"Ya, kalau tidak ada barang kita yang hilang, biar saja tidak apa apa, tetapi kalau ada milik kita yang hilang, pencuri itu harus dihukum, nah kau beristirahatkah, besok kita akan mengadakan pasewakan" kata Adipati 


Hadiwijaya, dan iapun masuk kedalam kamar lagi dan menutup pintunya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Wenang, kemudian iapun berdiri lalu berjalan meninggalkan dalem Kadipaten menuju Sasana Sewaka untuk beristirahat.

"Ternyata Kanjeng Adipati sedang tidur, suara dengkurnya terdengar sampai diluar kamar" kata Wenang dalam hati, tetapi ternyata muncul pertanyaan lagi :"Apakah betul Kanjeng Adipati sedang tidur?"

Tetapi untuk bertanya langsung kepada Adipati Hadiwijaya, iapun merasa tidak mempunyai keberanian.

Wenangpun menggeleng-gelengkan kepalanya :"Pertanyaan yang tidak terjawab"

Ketika ia berjalan naik ke Sasana Sewaka, seorang prajurit Wira Manggala yang belum tidur bertanya kepadanya :"Darimana kau Wenang"

"Nganglang" jawab Wenang.

Prajurit itupun terdiam, tetapi iapun heran melihat baju yang dipakai Wenang terlihat basah terkena air.

"Mungkin Wenang terjebur di sungai, tetapi ia malu untuk berterus terang" kata prajurit itu dalam hati.

Wenangpun kemudian mengganti baju nya yang basah kuyup oleh keringat dengan baju yang bersih, lalu iapun merebahkan dirinya, berusaha untuk tidur,

"Aku terlambat, ketika aku terjatuh, seharusnya aku berlari secepatnya pulang ke dalem Kadipaten, tidak usah duduk dibawah pohon randu alas'" katanya dalam hati, masih menyesali keterlambatannya.

"Siapakah orang yang luar biasa itu ?" Kata Wenang dalam hati.

"Orang itu mempunyai ilmu yang luar biasa, yang bisa membuat sebuah bayangan tangan, yang mampu mendesak mundur ilmu dari Segara Anakan"

"Tanpa senjata apapun, kedua tangannya mampu melawan putaran pedang pendekku pada saat aku memainkan puncak ilmu Segara Muncar" kata Wenang yang masih terus memuji lawan yang tidak diketahui jati dirinya.


Ketika dari jauh lamat-lamat terdengar bunyi kentongan yang ditabuh dengan irama dara muluk, maka iapun berkata :" Sudah tengah malam"

Wenangpun kemudian bangkit berdiri menuju kentongan yang tergantung di sudut pendapa, lalu ditabuhnya kentongan itu dengan irama yang sama, dara muluk.

Setelah memukul kentongan, Wenangpun berjalan kembali ke tempatnya, membaringkan dirinya, berusaha untuk bisa tidur.

Sambil membaringkan tubuhnya, Wenang masih terus menyesali keterlambatannya dalam mengambil keputusan untuk berlari pulang ke Kadipaten.

"Kalau saja aku tidak terlambat berlari, aku bisa mengetahui orang itu, tetapi kalau ternyata salah, apakah mungkin ada orang yang lain, selain orang yang berada di Kadipaten Pajang?" kata Wenang dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Apa yang diperbuat oleh orang yang mengejar suara burung kedasih ? Siapakah orang yang menirukan suara burung kedasih? Apakah orang yang mengejar suara burung kedasih sama dengan orang yang menyerangku?" tanya Wenang kepada diri sendiri.

"Pasti ada orang lain, karena semua orang saat itu sedang berada di Sasana Sewaka"

"Orang yang bertempur melawanku saja belum ketemu, apalagi mencari orang yang menirukan suara burung kedasih" kata Wenang.


Semakin dipikirkannya kemungkinan apa yang dialaminya malam ini, semakin tidak bisa terjawab semua pertanyaan dan persoalan yang telah dilihatnya.

"Banyak pertanyaan yang tidak terjawab, aku hanya bisa menebak saja, semuanya masih gelap" desis Wenang sambil memejamkan matanya.

Badan yang lelah setelah bertarung dengan orang tak dikenal, serta diusap oleh semilir angin yang sejuk di Sasana Sewaka, maka Wenangpun bisa tertidur sejenak.

Bulanpun masih beredar, hanya memancarkan sinar yang lemah di tlatah Pajang.

Malampun telah berakhir, pagipun terasa segar, dan Sasana Sewakapun segera berbenah diri, untuk menjadi tempat pasewakan pertama Kadipaten Pajang.

Tempat pasewakan sudah terlihat bersih, hanya ada satu buah kursi untuk Adipati Hadiwijaya, kursi yang dahulu pernah dipakai oleh eyangnya Adipati Dayaningrat, dari Kadipaten Pengging Witaradya pada jaman Majapahit.

Ketika Wenang melihat Sasana Sewaka yang telah siap menerima para bebahu yang akan sowan Adipati Pajang, iapun merasa ada yang sedikit kekurangan pada ruangan pasewakan.

Wenang segera menghampiri Ki Pemanahan untuk membicarakan kekurangan di pasewakan.

"Ki Pemanahan, apakah dulu waktu pisowanan agung, di dalam ruangan Sasana Sewaka Demak ada sebuah songsong agungnya ?" tanya Wenang.

"Ya ada, sebuah payung kebesaran Kasultanan Demak yang berwarna kuning, menandakan kehadiran Kanjeng Sultan Demak" jawab Pemanahan.

"Kenapa pada pasewakan Kadipaten Pajang kali ini tidak ada songsong yang menandakan kehadiran Adipati Hadiwijaya?" tanya Wenang.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita