Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 29 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 29 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Mendengar perkataan Adipati Jipang Arya Penangsang, Lurah Radya menganggukkan kepalanya.

"Satu lagi Ki Lurah" kata Arya Penangsang :"Sekarang aku sudah diangkat oleh pamanda Sultan, menjadi seorang Adipati, aku inginkan

Jipang mengadakan pasewakan yang pertama sebelum aku berangkat ke Demak menghadiri pahargyan pengantin Dimas Hadiwijaya"

"Baik Kanjeng Adipati, sebaiknya sebelum dua pasar, Kanjeng Adipati sudah mengadakan pasewakan yang pertama, nanti kalau pasewakan kurang dua tiga hari, para prajurit Wira Manggala yang akan berkelilng jipang menyampaikan wara-wara ke seluruh bebahu Jipang" kata Ki Lurah.

"Baik Ki Lurah, malam ini apakah ada yang perlu dibicarakan lagi ?" tanya Arya Penangsang.

"Tidak ada Kanjeng Adipati" kata Lurah Radya.

"Baik" kata Arya Penangsang, lalu iapun memanggil pembantunya yang setia.

"Rangkud !!" teriak Kanjeng Adipati.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata Rangkud.


"Kau antar Ki Lurah Radya ke Sasana Sewaka, biar para prajurit bisa beristirahat disana"

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Rangkud, kemudian iapun berdiri mengantar Ki Lurah Radya menuju Sasana Sewaka.

Setelah Rangkud dan Ki Lurah Radya keluar dari pendapa Kadipaten, maka Arya Penangsangpun berbicara dengan Ki Matahun.

"Paman Matahun" kata Sang Adipati.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati"

"Nanti dalam pasewakan yang pertama yang akan diadakan sebelum kita berangkat ke Demak, aku akan mengangkat beberapa nayaka praja Kadipaten Jipang" kata Arya Penangsang.


Matahunpun mendengarkan semua kalimat yang diucapkan dari junjungannya.

"Aku inginkan kita membuat dua buah rumah lagi, dalem Kesatrian dan dalem Kepatihan"

"Hm Patih, siapakah yang akan diangkat menjadi patih Kadipaten Jipang?" tanya Matahun dalam hati.

"Dalem Kesatrian, sementara bisa digunakan untuk keperluan sentana Jipang, sedangkan dalem Kepatihan aku peruntukkan bagi patih Kadipaten Jipang" kata Arya Penangsang.

"Besok paman menemui tukang kayu dari Jipang, perintahkan untuk membangun dua buah rumah, untuk dalem Kepatihan, nanti paman bisa pilihkan tempat yang tidak jauh dari dalem Kadipaten ini" kata Adipati Jipang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati"

"Ya itu saja, tugas paman Matahun adalah mempersiapkan pasewakan sebelum dua pasar mendatang, lalu membangun dalem Kepatihan dan dalem Kesatrian"

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" jawab Matahun.

"Aku tinggal kedalam dulu" kata Arya Penangsang, lalu iapun masuk kedalam kamar.


Waktu berjalan terus, malampun semakin larut, yang terdengar hanya suara cengkerik yang membelah sepinya malam.

Ketika terdengar kentongan yang ditabuh dengan irama dara muluk, beberapa orang berguman perlahan :"Tengah malam"

Diujung malam, bias sinar merah telah membayang di ufuk timur, kokok ayam jantanpun bersahutan, dan kawula Jipangpun telah bangun dari tidurnya.


Di Sasana Sewaka Jipang, para prajurit Wira Manggala Demak dibawah pimpinan Lurah Radya, bergantian membersihkan diri di sebuah sungai yang tak jauh dari dalem Kadipaten Jipang, untuk memulai tugas mereka dibawah perintah Adipati Jipang, Arya Penangsang.

Sementara itu pada saat yang bersamaan, di Pajang, para prajurit Wira Manggala dibawah pimpinan Lurah Wasana sudah bersiap untuk melaksanakan perintah dari Adipati Pajang, Hadiwijaya, untuk menyebarkan wara-wara tentang pasewakan yang akan diadakan dua hari lagi, yang wajib diikuti oleh semua bebahu se Kadipaten Pajang.

"Ki Lurah Wasana" kata Adipati Hadiwijaya kepada Lurah Wasana yang berada di pendapa bersama beberapa sahabatnya.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" jawab Lurah Wasana.

"Ki Lurah, kalau Ki Lurah berkeliling menemui para bebahu diseluruh Pajang, nanti bisa diantar oleh salah seorang dari kami" kata Kanjeng Adipati.

"Terima kasih Kanjeng Adipati" kata Lurah Wasana

"Ki Wuragil, Mas Manca, dan Jaka Wila" kata Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata mereka bertiga

"Kalian antar Ki Lurah Wasana berkeliling diseluruh bebahu Pajang, berkuda" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati"


Lurah Wasana bersama Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila kemudian turun dari pendapa menemui para prajuritnya yang berada diluar.

"Para prajurit yang akan ke Pengging supaya naik kuda bersama Ki Manca, yang ke butuh bersama Ki Jaka, sedangkan Ki Wuragil bersama saya berkelling desa Pajang" kata Lurah Wasana.

Demikianlah tak lama kemudian tiga orang prajurit bersama Mas Manca bekuda menuju desa Butuh, sedangkan tiga orang lainnya menuju Pengging bersama Jaka Wila, sedangkan Ki Lurah beserta dua orang prajurit yang lain berkuda bersama Wuragil.

Tiga kelompok prajurit Wira Manggala bergerak berpencar di bumi Pajang, menyampaikan wara-wara kepada semua bebahu Pajang tentang akan diadakannya pasewakan di Kadipaten Pajang dua hari kagi.

Sementara itu, di desa Butuh, Ki Ageng Butuh memberikan nasehat kepada anaknya, Wenang yang sudah beberapa waktu yang lalu mengabdikan dirinya di Kadipaten Pajang dan sekarang akan berangkat lagi ke Pajang.

"Kau jaga dirimu, tindakanmu dan ucapanmu di Pajang, Wenang" kata Ki Ageng Butuh :"Sampaikan kepada Kanjeng Adipati, aku bersama Ki Ageng Ngerang bersedia ikut ke kotaraja Demak dalam acara lamaran dan pahargyan pengantin".

"Baik ayah, akan saya sampaikan, saya mohon diri, berangkat ke Pajang sekarang" kata Wenang.

"Ya, ayah hanya bisa nyangoni slamet" kata Ki Ageng Butuh sambil mengusap kepala anaknya.

Kemudian Wenangpun keluar dari pendapa rumahnya, berjalan menuju ke Pajang.


Tugas dari Adipati Pajang, Hadiwijaya telah dilaksanakan dengan baik, pemberitahuan ke ayahnya tentang pasewakan di Kadipaten Pajang dua hari lagi dan nanti akan disusul oleh pemberitahuan resmi oleh para prajurit Wira Manggala,

Satu lagi tugas dari Adipati Hadiwijaya, yaitu menemui beberapa pande besi untuk membuat lima puluh pedang pendek dan dua puluh bilah mata tombak, telah dilaksanakan kemarin.

Matahari terus merayap naik, dengan ringan Wenang melangkahkan kaki melewati hutan di luar desa Butuh.

Ketika matahari sudah tinggi, Wenang melihat, didepannya ada empat ekor kuda yang sedang menuju ke arahnya.

Empat ekor kuda itu berlari tidak begitu kencang, sebentar lagi mereka akan berpapasan dengan Wenang.

"Empat ekor kuda itu berlari kelihatannya sedang menuju ke desa Butuh, siapa mereka?" kata Wenang dalam hati.

Ketika semakin lama empat ekor kuda berpenunggang itu semakin dekat, maka penunggangnyapun semakin jelas.

"Itu Mas Manca bersama tiga orang prajurit Wira Manggala" kata Wenang dalam hati, dan Wenangpun berjalan terus, semakin lama semakin dekat dengan rombongan prajurit Wira Manggala.


Ketika mereka sudah berhadapan, Wenang melihat keempat orang itu turun dari kudanya, kemudian merekapun menghampirinya.

Mas Mancapun memperkenalkan Wenang kepada tiga orang prajurit Wira Manggala sebagai salah seorang penghuni Kadipaten Pajang, yang seperti dirinya, mengabdi kepada Adipati Hadiwijaya.

"Kami akan menuju ke desa Butuh" kata salah seorang prajurit Wira Manggala.

"Ya, Ki Ageng Butuh sudah menunggu kedatangan petugas dari Kadipaten Pajang" kata Wenang.

"Terima kasih, kami akan melanjutkan perjalanan ke desa Butuh" kata prajurit itu.

"Silahkan, saya juga akan melanjutkan perjalanan ke Pajang" kata Wenang, kemudian dilihatnya tiga orang prajurit bersama Mas Manca segera naik ke punggung kudanya, dan sesaat kemudian kuda-kuda itupun berlari dan hanya meninggalkan hamburan debu, berlari menuju desa Butuh. .

Sesaat kemudian Wenangpun kemudian melanjutkan perjalanannya, berjalan kaki menuju ke Pajang.

Matahari terus bergerak naik, dan ketika matahari hampir sampai di puncak langit, Wenang yang berjalan tanpa henti telah memasuki tanah lapang di depan dalem kadipaten.

Wenangpun kemudian berjalan ke pendapa menemui Adipati Hadiwijaya yang sedang membersihkan kotak kayu berukir tempat untuk menyimpan perhiasan yang akan digunakan sebagai perlengkapan acara lamaran.

"Bagaimana perjalananmu dari Butuh, Wenang ?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Atas doa restu Kanjeng Adipati, perjalanan saya dari Butuh lancar, tadi diperjalanan juga bertemu dengan Mas Manca bersama tiga orang prajurit Wira Manggala"

"Ya, bagaimana keadaan kesehatan Ki Ageng Butuh ?" tanya Adipati Pajang.

"Ayah dalam keadaan sehat, dan nanti dalam acara pahargyan pengantin, ayah bersedia untuk ikut ke kotaraja Demak bersama Ki Ageng Ngerang" jawab Wenang.

"Terima kasih Wenang" kata Hadiwijaya yang merasa senang karena kedua orang tua itu bersedia mendampinginya ke kotaraja Demak.


Belum selesai mereka berbicara, dari arah barat mereka melihat sebuah pedati yang berjalan perlahan-lahan menuju dalem kadipaten, dan terlihat empat orang sedang berjalan disampingnya, dua orang berjalan di sebelah kanan dan dua orang berjakan di sebelah kiri pedati.

"Wenang, coba kau lihat pedati yang menuju kemari itu, tanya dari mana dia" perintah Kanjeng Adipati.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" jawab Wenang.

Dengan cepat Wenangpun berjalan menyongsong pedati yang menuju dalem kadipaten, menghentikan dan menanyakan beberapa hal, setelah itu iapun berjalan kembali ke pendapa bersama empat orang yang baru saja datang.

"Pedati itu datang dari Pengging Kanjeng Adipati, bersama Krama Sungging beserta tiga orang saudaranya, membawa bahan pangan dan sebuah kursi beserta ploncon untuk menyimpan beberapa buah keris" kata Wenang setelah sampai dihadapan Hadiwijaya.

"Ya, siwa Krama Sungging, beserta tiga saudaranya, selamat datang di Pajang, nanti siwa bisa langsung bekerja. Wenang, turunkan muatan yang ada di pedati, kursi dan plonconnya dibawa ke pendapa, lalu bahan pangannya dimasukkan ke dalam gubug" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" jawab Wenang, lalu bersama Krama Sungging dan beberapa orang saudaranya, mereka menurunkan beberapa bahan pangan dan menyimpannya ke dalam gubug.

Ketika semua bahan pangan sudah dimasukkan ke dalam gubug, kursi dan plonconpun segera dimasukkan di ruangan dalem Kadipaten, dan setelah itu, pedati bersama saisnyapun berjalan kembali, pulang ke Pengging.


Waktu berjalan terus, ketika matahari telah condong kebarat, dua orang telah tiba di dalem kadipaten dengan menggandeng tiga ekor kuda beban.

Ketika Wenang menghadap Adipati Hadiwijaya, memberitahukan kalau ada dua orang yang telah datang, dan salah satunya adalah Pemanahan yang datang bersama seorang yang berumur setengah baya, maka Hadiwijayapun bergegas keluar menemuinya.

Ketika Adipati Hadiwijaya melihat orang itu, iapun tersenyum gembira karena ternyata Pemanahan berangkat dari Sela bersama ayahnya, Ki Ageng Nis, putra dari Ki Ageng Sela.

"Selamat datang kakang Pemanahan, selamat datang Ki Ageng Nis Sela, selamat datang di Kadipaten Pajang" kata Adipati Hadiwijaya.

"Lama kita tak berjumpa, hormat saya untuk Kanjeng Adipati Hadiwijaya" kata Ki Ageng Nis Sela.

Hadiwijaya tersenyum, Ki Ageng Nis adalah teman berlatih olah kanuragan, ketika ia masih belajar di perguruan Sela.

Kecepatan gerak Ki Ageng Nis yang luar biasa membuatnya tidak mudah untuk dikalahkan, tetapi Ki Ageng Nis juga sulit untuk mengalahkannya karena Hadiwijaya adalah orang yang tangguh tanggon.

Hadiwijayapun kemudian berkata kepada Pemanahan :"Kau bawa senjata untuk para prajurit Pajang kakang Pemanahan ?"

"Ya Kanjeng Adipati, saya bawa seratus buah pedang dan dua puluh mata tombak, semuanya ada di punggung tiga ekor kuda beban itu" kata Pemanahan.

"Terima kasih kakang Pemanahan" kata Adipati Hadiwijaya, kemudian Kanjeng Adipatipun berkata :"Wenang, kau bantu menurunkan pedang dan mata tombak dari punggung kuda, letakkan dulu disudut Sasana Sewaka"

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Wenang, lalu iapun segera berjalan keluar dari pendapa dan menurunkan beberapa ikat pedang dan mata tombak yang berada di atas punggung kuda.

"Ki Ageng Nis dan kakang Pemanahan, silahkan beristirahat di Sasana Sewaka atau di gubug kita, atau silahkan kalau ingin membersihkan diri di sungai, nanti malam kita semuanya berkumpul, ada yang perlu kita bicarakan" kata Adipati Pajang.


"Baik Kanjeng Adipati" kata Pemanahan, kemudian Pemanahan bersama ayahnya, Ki Ageng Nis keluar dari pendapa menuju gubug yang berada tidak jauh dari dalem kadipaten.

Menjelang senja, semua rombongan prajurit Wira Manggala yang berkeliling di seluruh Pajang telah kembali ke dalem kadipaten dan ketika hari mulai gelap maka merekapun beristirahat di Sasana Sewaka.

Beberapa saat kemudian, setelah makan malam, di pendapa dalem Kadipaten telah berkumpul beberapa orang yang duduk bersila di lantai, beralaskan anyaman daun kelapa, menunggu keluarnya Adipati Hadiwijaya dari dalam kamar.

Nyala pelita kecil yang terpasang menempel di kayu saka, hanya menghasilkan seberkas cahaya yang redup, apinya begerak terus karena terusap angin malam yang berhembus masuk ke dalam pendapa.

Sesaat kemudian Adipati Hadiwijaya keluar dari ruang dalam, berjalan menuju sebuah dingklik besar yang berada tak jauh dari pelita yang menyala.

Setelah Adipati Hadiwijaya duduk, maka dilihatnya semua yang hadir, Pemanahan, Penjawi, Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila, Wenang, ditambah Ageng Nis Sela dan Lurah Wasana dari kesatuan prajurit Wira Manggala, Demak..

"Sudah lengkap semua" kata Hadiwikaya.

"Kita akan berbicara tentang pasewakan yang akan kita adakan besok lusa, Ki Lurah Wasana, bagaimana wara-wara yang telah dilakukan oleh para prajurit Wira Manggala si seluruh tlatah Pajang ?" tanya Adipati Hadiwijaya sambil memandang ke arah Lurah Wasana.

"Semua sudah saya laksanakan Kanjeng Adipati, diseluruh bumi Pajang para bebahu sudah diberitahu tentang pasewakan yang akan diadakan besok lusa di Sasana Sewaka Kadipaten Pajang" kata Lurah Wasana

"Terima kasih Ki Lurah, lalu untuk acara pasewakan besok lusa, aku akan mengangkat beberapa orang menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang, nanti akan aku angkat seorang patih, dua orang menjadi bupati njero, dua orang menjadi perwira prajurit Pajang, dan yang seorang saya angkat mejadi sentana dalem, menjadi seorang Pangeran" kata Adipati Hadiwijaya.


Semua yang hadir mendengarkan semua perkataan Adipati Hadiwijaya dan hanya bisa bertanya dalam hati, siapakah nanti yang akan diangkat menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang.

"Besok pada waktu pasewakan, Ki Pemanahan, Ki Penjawi, Ki Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila, dan Wenang supaya duduk dihadapanku dilajur yang paling depan, dan aku minta salah seorang prajurit Wira Manggala bisa menjadi seorang pranatacara di acara pasewakan tersebut, bagaimana ki Lurah Wasana ?" tanya Sang Adipati..

"Baik Kanjeng Adipati, pranatacara nanti bisa dari salah seorang prajurit Wira Manggala" kata Lurah Wasana.

"Pada waktu pasewakan, aku minta para prajurit Wira Manggala berjaga disekitar dalem kadipaten, disamping itu ada yang mencatat kehadiran para bebahu, catat siapa saja yang tidak hadir pada acara pasewakan, dan mulai besok supaya ada dua orang prajurit yang mencatat pemberian asok bulu bekti yang masuk di dalem kadipaten" kata Adipati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati" kata Lurah Wasana.

"Selanjutnya nanti bagi yang diangkat, akan aku serahkan sebuah layang kekancingan sebagai tanda telah resmi menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang" kata Adipati Hadiwijaya selanjutnya.

"Nuwun sewu Kanjeng Adipati, apakah Kanjeng Adipati sudah mempersiapkan layang kekancingan yang akan diserahkan nanti ?" tanya Ki Ageng Nis Sela.

"Belum Ki Ageng, rencananya besok akan saya tulis diatas potongan kain, aku tidak sempat membuat dari kulit binatang yang untuk mengeringkannya membutuhkan waktu dua tiga pasar" kata Kanjeng Adipati.

"Kalau Kanjeng Adipati berkenan, dari Sela saya membawa lembaran kulit kambing yang bisa dibuat sebagai layang kekancingan" kata Ki Ageng Nis Sela.

"Terima kasih Ki Ageng Nis Sela, memang kulit kambing lebih baik daripada kain, seperti layang kekancingan yang aku terima dari Kanjeng Sultan Trenggana yang terbuat dari kulit kambing" jawab Adipati Hadiwijaya.

"Baik, nanti akan saya serahkan Kanjeng Adipati"


"Terima kasih Ki Ageng, selain itu aku mohon kepada Ki Ageng untuk bisa ikut ke kotaraja Demak, di acara lamaran dan pahargyan pengantin bersama beberapa sesepuh yang lain" pinta Adpiati Hadiwijaya.

"Baik Kanjeng Adipati, saya bersedia ikut ke Demak" kata Ki Ageng Nis Sela.

"Terima kasih Ki Ageng, nantinya sesepuh yang ikut ke Demak adalah, Ki Buyut Banyubiru, Ki Majasta, Ki Wuragil, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan Ki Ageng Nis Sela, tentunya di Kadilangu Demak telah ada pula Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Hadiwijaya yang sengaja tidak menyebut nama uwanya, Kebo Kanigara.

"Sesepuh yang ikut ke Demak, nanti bisa ditambah seorang dua orang dari desa Tingkir, dan setelah pasewakan nanti, aku akan mengunjungi desa Tingkir, untuk mohon doa restu pada biyungku Nyai Ageng Tingkir" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ternyata cukup banyak sesepuh yang mendampingi Kanjeng Adipati ke Demak" kata Ki Ageng Nis Sela.

"Ya Ki Ageng meskipun tidak ada sesepuh perempuannya"

"Tidak apa apa Kanjeng Adipati, karena ibunda Kanjeng Adipati, Nyai Ageng Pengging sudah lama meninggal dunia" kata Ki Ageng Nis Sela

"Ya, saat ini biyung angkat Nyai Ageng Tingkir sudah sepuh sekali, sudah banyak yang lupa" kata Adipati Pajang.


Semuanya yang hadir terdiam mendengarkan Hadiwijaya berbicara, kemudian Adipati Pajangpun meneruskan :" Ki Ageng coba aku lihat kulit kambing yang nanti akan dibuat menjadi serat kekancingan"

Ki Ageng Nis Selapun segera berdiri dan berjalan menuju Sasana Sewaka mengambil kulit kambing yang berada di dalam bungkusan yang dibawanya, selembar kulit kambing yang telah kering dan telah dibersihkan bulunya.

Setelah mengambil kulit, maka Ki Ageng Nis kemudian kembali berjalan menuju pendapa kadipaten Pajang.

Ki Ageng Nis Sela kemudian menyerahkan kulit kambing yang dalam keadaan tergulung kepada Adipati Hadiwijaya.

"Kulit ini lebar, cukup kalau dipotong dan dibagi menjadi enam bagian, Ini adalah kulit kambing yang baik, jauh lebih baik dibandingkan dengan tulisan di daun lontar, yang banyak kita jumpai di dalam Kraton." kata Adipati Hadiwijaya.

"Kebetulan kulit itu sudah ada di Sela sejak satu dua candra yang lalu Kanjeng Adipati" kata Ki Ageng Nis.

Hadiwijaya masih melihat kulit yang dipegangnya, kemudian iapun berkata :"Kulit yang halus"

"Apakah masih ada yang perlu dibicarakan lagi ?" tanya Adipati Pajang, Hadiwijaya.

Tidak ada seorangpun yang menjawab, semua hanya saling berpandangan.

"Kalau tidak ada yang akan dibicarakan lagi, silakan dibubarkan, aku akan masuk kedalam" kata Hadiwijaya, lalu iapun masuk ke ruangan dalam.

Malam itu, seperti pada malam-malam lainnya, gelap dan sepi menyelimuti di seluruh bumi Pajang.


Keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, kesibukan mulai membuat Pajang menggeliat, ternyata di daerah yang dulu dikenal dengan nama bulak amba sekarang telah menjadi semakin ramai.

Di beberapa tempat, terlihat belasan orang sedang bersiap membersihkan lahan untuk membangun rumah, mereka bukan orang Pajang, tetapi berasal dari jauh, banyak orang yang memutuskan untuk pindah ke Pajang setelah Pajang berubah menjadi sebuah Kadipaten,

Hanya beberapa candra setelah pembuatan dalem kadipaten, daerah Pajang telah menjadi semakin ramai, bahkan agak kesebelah timur ada suatu tempat yang dipergunakan oleh banyak orang Pajang untuk melakukan jual beli ataupun tukar menukar barang.

Didaerah itulah, besok kalau Pajang sudah menjadi semakin ramai, nantinya bisa menjadi cikal bakal sebuah pasar yang ada di kotaraja Pajang.

Matahari sudah semakin tinggi, di Sasana Sewaka terlihat ada beberapa kesibukan berkaitan dengan akan diadakannya pasewakan pada esok hari.

Puluhan pedang dan mata tombak yang dibawa dari Sela oleh Ki Pemanahan yang kemarin berada di Sasana Sewaka telah disingkirkan dan dimasukkan kedalam gubug yang ada di sekitar dalem kadipaten, demikian juga dengan beberapa peralatan milik pasukan Wira Manggala, semuanya juga dimasukkan kedalam gubug.


Ketika matahari semakin tinggi, beberapa orang telah tiba di dalem kadipaten, belasan orang bebahu dengan membawa beberapa hasil bumi, yang akan dihaturkan sebagai asok bulu bekti kapada Adipati Pajang.

Ada yang membawa padi, beras, jagung, kelapa, ubi atau ketela, bahkan ada yang berupa hewan peliharaan, beberapa ekor ayam dan kambing.

Para bebahu datang ke dalem kadipaten secara berurutan terus menerus, bergantian menyerahkan tanda setia kepada Kanjeng Adipati Pajang.

Ada beberapa bebahu yang datang sendiri, tetapi ada pula yang mengutus beberapa orang untuk datang ke dalem kadipaten.

Beberapa prajurit Wira Manggala sibuk mengatur penempatan dan penyimpanan hasil bumi yang datang, semuanya telah dimasukkan kedalam beberapa gubug.

Meskipun di sasana Sewaka dan di gubug-gubug disekitar dalem kadipaten terlihat kesibukan, tetapi pembuatan beberapa rumah dan pembuatan sebuah sumur masih tetap berlangsung.

Para tukang masih tetap bekerja menyelesaikan rangka bangunan rumah yang terlihat sudah hampir lengkap.

Pemanahan dan Penjawi tetap membantu beberapa pekerjaan, demikian juga dengan Jaka Wila dan Mas Manca, sedangkan Wenang membantu di dalem kesatrian.

"Dari tadi pagi Kanjeng Adipati tidak keluar dari kamarnya" kata Wenang didalam hatinya.


Di dalem Kadipaten, Adipati Hadiwijaya sedang sibuk membuat beberapa serat kekancingan yang besok akan diserahkan kepada nayaka praja Kadipaten Pajang.

Dengan pedang pendeknya, Hadiwijaya memotong kulit kambing menjadi lembaran kulit yang lebarnya sejengkal dan semuanya berjumlah enam buah.

Kemudian Adipati Hadiwijaya menulis serat kakancingan satu demi satu, dan saat ini yang ditulisnya adalah sebuah nama baru untuk seseorang yang akan diangkat sebagai nayaka praja, berpangkat bupati njero.

Kulit kambing itu digores dengan ujung sebuah pisau yang agak tumpul, sehingga membekas goresan dan membentuk sebuah tulisan yang bisa dibaca, Wa wulu, La nglegena, Ma layar. Ta nglegena.

"Ini nama baru sebagai bupati njero Kadipaten Pajang" kata Hadiwijaya dalam hati.

Adipati Hadiwijaya kemudian menulis beberapa serat kekancingan yang lainnya. Penunjukan tugas bagi para sahabatnya untuk menjadi nayaka praja telah dipikirkan masak-masak, dan telah disesuaikan dengan kemampuannya.

Matahari telah condong kebarat, di depan pendapa dalem kadipaten, prajurit Wira Manggala yang bertugas masih menerima beberapa orang bebahu yang datang dengan membawa hasil bumi, kemudian hasil bumi itupun dimasukkan ke dalam gubug.

"Besok disini perlu dibuatkan sebuah lumbung yang besar, yang bisa menampung seluruh asok bulu bekti yang berupa hasil bumi dari para bebahu Pajang". Kata Wenang yang ikut membantu membawa padi ke dalam gubug.


Demikianlah, sore itu kesibukan menerima asok bulu bekti berupa hasil bumi dari para bebahu telah selesai,

Malam harinya, ketika para prajurit telah berkumpul dan beristirahat di Sasana Sewaka, Ki Ageng Nis sedang duduk bersila bersama Pemanahan dan Penjawi, disebelahnya ada juga Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila dan Wenang.

"Besok pagi pada waktu pasewakan, kalian harus bersiap untuk memangku jabatan apapun yang akan diberikan oleh Kanjeng Adipati Hadiwijaya, bahkan kalian juga harus bersikap legawa kalau kalian tidak diberi jabatan apapun" kata Ki Ageng Nis Sela.

Mendengar perkataan ayahnya, Pemanahan dan Penjawi menganggukkan kepalanya, demikian juga mereka yang ikut mendengarkan, semuanya setuju dengan kalimat yang diucapkan oleh Ki Ageng Nis Sela.

Mereka masih berbicara dan bercerita di pendapa sampai wayah sepi bocah, dan ketika sudah memasuki wayah sepi wong, maka mereka bersama para prajurit telah beristirahat, berbaring di Sasana Sewaka, diatas anyaman daun kelapa.

Sasana Sewakapun telah mulai sepi, demikian juga di dalem kadipaten, Adipati Hadiwijaya yang sedang berbaring menganyam angan-angan terkejut ketika mendengar suara burung kedasih yang terdengar dekat sekali dengan dinding rumahnya.


Dengan cepat Hadiwijaya bangkit dari pembaringan, lalu diambilnya keris Kyai Naga Siluman dari tempatnya, keris yang berbentuk naga yang separo badannya masuk ke bilah keris, bermahkota kinatah emas, yang dimulutnya menggigit sebutir berlian.

Adipati Hadiwijayapun kemudian menyelipkan keris Kyai Naga Siluman kedalam bajunya dan dengan perlahan-lahan ia menyelinap keluar melalui pintu belakang, dan ketika ia sudah sampai di dekat sumur di halaman belakang yang hampir selesai dikerjakan, maka dengan tangkasnya ia bergerak cepat tanpa mengeluarkan suara, mengejar suara burung kedasih yang bergerak menjauh.

Suara burung kedasih masih terdengar lamat-lamat diarah barat, dan Adipati Hadiwijayapun masih berlari mengejarnya

"Cepat sekali, aku tak mampu mengejarnya" kata Adipati Hadiwijaya dalam hati.

Setelah beberapa saat ia berlari, dan telah agak jauh dari dalem kadipaten, suara burung kedasih yang terus menerus berbunyi tiba-tiba telah berhenti, dan didepannya nampak seseorang yang bentuk tubuhnya telah dikenalnya, sedang menanti dirinya, duduk diatas sebatang kayu yang melintang.

Setelah dekat dengan orang itu maka Adipati Hadiwijayapun berkata :"Siwa Kebo Kanigara?"

"Ya, duduklah" kata siwanya.


Adipati Hadiwijaya melangkah kedepan, mencium tangan siwanya, lalu iapun duduk disebelahnya.

"Bagaimana persiapanmu tentang pasewakan besok pagi?" tanya uwanya.

"Semuanya sudah siap wa, mulai tadi pagi para bebahu telah datang menyerahkan hasil bumi ke dalem kadipaten" kata Adipati Pajang.

"Ya, aku sudah melihatnya di gubug, para bebahu yang menyerahkan hasil bumi banyak sekali, kelihatannya para bebahu di seluruh Pajang tidak ada yang mbalela terhadap Kadipaten Pajang"

"Mudah-mudahan besok pagi semua bebahu bisa datang di Sasana Sewaka"

"Serat kekancingan untuk nayaka praja sudah kau persiapkan ?" tanya Kebo Kanigara.

"Sudah wa, saya diberi selembar kulit kambing dari Ki Ageng Nis dari Sela" kata Kanjeng Adipati.

"Ya, aku lihat Ki Ageng Nis Sela, tadi ia berada di pendapa" kata uwanya.

"Ya wa, semua yang akan menjadi nayaka praja sudah aku tulis di kulit kambing, dan besok pagi akan saya berikan pada saat pasewakan"

"Lalu jabatan apa saja yang kau berikan kepada mereka ?" tanya uwanya.


Hadiwijayapun kemudian menjelaskan siapa saja yang akan diangkat sebagai kepala prajurit, sebagai bupati dalam, sebagai sentana dalem seorang pangeran, dan sebagai patih Kadipaten Pajang.

"Ya, pilihanmu sudah tepat Hadiwijaya, mudah-mudahan semua bisa legawa menerima jabatan yang diberikan kepadanya" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Adipati Hadiwijaya.

"Lalu kapan rencanamu akan pamit ke biyungmu di Tingkir?"

"Nanti wa, saya rencanakan setelah pasewakan, mungkin dua tiga hari lagi dan nanti saya akan menginap di Tingkir, menemani biyung semalam" kata Sang Adipati,

"Bagaimana dengan keadaan biyungmu nyai Ageng Tingkir ?" tanya uwanya.

"Biyung masih sehat, tetapi sudah agak pikun wa, sekarang dirawat oleh paman Ganjur" kata Hadiwijaya.

"Pamanmu Ganjur, kalau wadagnya masih mampu naik kuda, sebaiknya kau ajak juga ke kotaraja Demak, sebagai ganti biyungmu yang tidak bisa datang ke kotaraja Demak"

"Baik wa" kata Adipati Hadiwijaya.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita