Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 28 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 28 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Satu lagi Wenang, ini mendahului wara-wara yang nanti akan disampaikan oleh para prajurit Wira Manggala, tolong sampaikan kepada Ki Ageng Butuh, bahwa tiga hari lagi akan ada pasewakan yang pertama di Sasana Sewaka Kadipaten Pajang, diharapkan semua bebahu di kadipaten Pajang bisa hadir di Sasana Sewaka" kata Adipati Hadiwijaya.

"Besok pagi prajurit Wira Manggala akan mengunjungi setiap bebahu di semua wilayah yang masuk dalam lingkup Kadipaten Pajang, termasuk desa Butuh dan desa Pengging" kata Adipati Hadiwijaya.

"Wenang, kau berangkat ke Butuh pagi ini, sedangkan untuk pengawasan pembangunan rumah termasuk pembangunan dalem ksatrian, nanti bisa diawasi dan dibantu oleh Mas Manca, Ki Wuragil dan kakang Penjawi" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Wenang.

"Aku hari ini akan ke Pengging, menyiapkan uba rampe acara lamaran, karena aku harus mencari beberapa barang yang akan dibawa ke kotaraja, sesuai saran yang diberikan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga " kata Hadiwijaya selanjutnya.

"Ya, Wenang, kapan kau berangkat ke Butuh?"

"Saya berangkat sekarang Kanjeng Adipati, mohon pamit, besok siang saya kembali lagi ke Pajang" kata Wenang.

"Ya, hati-hati dijalan" kata Hadiwijaya.


Kemudian, setelah itu pertemuanpun dibubarkan, Wenang segera bersiap untuk pergi ke Butuh, sedangkan Wuragil, Penjawi beserta Mas Manca segera bekerja bersama beberapa tukang, meneruskan pekerjaan membangun rumah.

Adipati Hadiwijayapun segera masuk ke kamarnya bersiap untuk pergi ke Pengging, untuk mengambil beberapa barang uba rampe lamarannya terhadap Sekar Kedaton Kasultanan Demak.

Dikamarnya, Adipati Hadiwijaya segera mengambil keris pusaka Kyai Naga Siluman, lalu dipakainya dengan cara nyote, diselipkan pada lambung depan sebelah kiri, lalu ditutup dengan baju yang dipakainya.

"Hm mulai sekarang setiap aku pergi, aku harus membawa keris pusaka sipat kandel Kadipaten Pajang" desis Sang Adipati.

Setelah menyelipkan kerisnya, maka Hadiwijaya segera menghampiri kudanya, sesaat kemudian seekor kuda berlari meninggalkan Kadipaten Pajang menuju Pengging dengan Hadiwijaya berada di punggungnya.

Kuda yang ditunggangi Hadiwijaya berlari tidak terlalu cepat, hari masih pagi, sehingga penunggangnya tidak perlu merasa tergesa-gesa.

Udara yang sejuk, titik-titik embun yang mulai menguap di pucuk dedaunan, mengiringi derap langkah kaki kuda yang ditunggangi Adipati Pajang.

"Udara yang sejuk" kata Hadiwijaya dalam hati.

Ketika memasuki desa Pengging, sebelum sampai ke rumahnya, kudanya dibelokkan menuju salah satu rumah di sudut jalan simpang yang membelah desa Pengging.

Kuda Adipati Hadiwijaya memasuki halaman sebuah rumah yang cukup besar, lalu kuda itu berhenti di bawah pohon disudut halaman, penunggangnyapun turun setelah menambatkan tali kendali kuda ke tonggak yang ada di dekat pohon.

Dari dalam rumah keluar seorang tua, tetapi tubuhnya masih terlihat sehat, tangannyapun terlihat kuat.


Orang tua itupun terkejut ketika melihat tamu yang mengunjunginya, dan sambil membungkukkan badannya iapun berkata :"Selamat datang Kanjeng Adipati Hadiwijaya"

Meskipun heran dengan ucapan orang tua itu, Hadiwijaya menjawabnya :"Terima kasih siwa Krama Sungging"

"Silahkan naik ke pendapa Kanjeng Adipati" kata Krama Sungging.

Adipati Hadiwijayapun kemudian naik ke pendapa, dan duduk pada amben yang telah berada disana, dan Karma sunggingpun tidak mau duduk diamben, dia memilih duduk bersila dilantai.

"Kau selamat siwa Krama Sungging?" tanya Kanjeng Adipati.

"Atas pangestu Kanjeng Adipati, saya sekeluarga selamat tak kurang suatu apa" jawab Krama Sungging.

"Siwa Krama Sungging, darimana kau mengetahui aku telah menjadi seorang Adipati dan sekarang aku mendapat nama baru, Hadiwijaya?" tanya Hadiwijaya.

"Semua orang Pengging sudah tahu Kanjeng Adipati, tadi pagi, setelah bersama pulang dari langgar, saya telah diberi tahu oleh kakang Purwa, abdi setia sejak Ki Ageng Pengging, yang setia menunggu rumah Kanjeng Adipati di Pengging" kata Krama Sungging.

Adipati Hadiwijaya menganggukkan kepalanya, meskipun ia heran, darimana pembantu yang sekarang menunggu rumah peninggalan Ki Ageng Pengging bisa mengetahui kejadian yang terjadi di kotaraja.

"Siwa Krama Sungging, aku datang kemari menginginkan kau dan saudara-saudaramu bekerja menghias dalem kadipaten terutama kayu sakanya dengan beberapa ukir-ukiran yang disungging dengan warna yang indah" kata Kanjeng Adipati.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati"


"Berapa orang saudaramu yang bisa mengukir dan menyungging?"

"Ada empat orang Kanjeng Adipati, yang bungsu merangkap menjadi tukang kayu" jawab Krama Sungging.

"Ya, kalian berempat besok bisa mulai bekerja menyungging di dalem Kadipaten Pajang"

"Selain mengukir di dalem kadipaten Pajang, kau buatkan aku sebuah dampar kedaton, sebuah kursi yang berukir untuk keperluan pasewakan di Sasana Sewaka" kata Kanjeng Adipati.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati"

"Baik, siwa Krama Sungging, sekarang aku akan meneruskan perjalanan, aku akan pulang kerumah"

"Terima kasih Kanjeng Adipati"

Adipati Hadiwijaya kemudian turun dari pendapa, menghampiri kudanya, dan sesaat kemudian iapun telah berada di atas punggung kudanya yang berlari menuju kerumah peninggalan orang tuanya, Ki Ageng Pengging.

Di perjalanan iapun sempat bertanya didalam hati tentang pembantu ayahnya yang setia :"Setelah pisowanan agung aku langsung pulang, baru tadi malam aku tiba di Pajang, dari siapakah siwa Purwa tahu kalau namaku Hadiwijaya?"


Kudanya terus dilarikan menuju rumah peninggalan ayahnya, tak lama kemudian kuda itupun dikurangi kecepatan larinya, karena akan berbelok memasuki halaman rumahnya.

Disudut halaman, Ki Purwa, pembantu ayahnya yang setia sedang membersihkan daun-daun yang betebaran, kemudian ia mengangkat kepalanya ketika telinganya mendengar derap kaki kuda, lalu terlihat seekor kuda berlari memasuki halaman dan sesaat kemudian kuda itupun telah berhenti beberapa langkah disampingnya.

Ki Purwa yang mengetahui Hadiwijaya datang dengan menunggang kuda dan berhenti di dekatnya, segera menghampirinya dan berkata :"Selamat datang Kanjeng Adipati Hadiwijaya, Kanjeng Adipati sudah ditunggu nakmas Kebo Kanigara di ruang dalam"

Hadiwijaya kemudian turun dari punggung kudanya, lalu tali kendali kuda itu diberikan kepada orang tua itu.

"Siwa Kebo Kanigara sudah lama berada di Pengging ?" tanya Hadiwijaya.

"Tidak, nakmas Kanigara baru tadi sore tiba di Pengging, pagi ini nakmas Kanigara sudah siap di ruang dalam, menunggu Kanjeng Adipati yang akan datang dari Pajang" kata pembantu ayahnya.

"Baik wa, tolong urus kuda ini, aku akan menemui siwa Kebo Kanigara di ruang dalam" kata Hadiwijaya.

Pembantunya kemudian mengikatkan tali kendali kuda ke tonggak yang sudah ada di sudut halaman.

Hadiwijaya melangkah naik ke pendapa rumahnya, lalu masuk ke ruang dalam, disana sudah menunggu uwanya, Ki Kebo Kanigara yang duduk diatas amben, menghadapi secangkir wedang jahe, secuil gula aren beserta beberapa potong ubi rebus.


"Duduklah Hadiwijaya" kata Kebo Kanigara.

Hadiwijayapun kemudian mencium tangan uwanya, lalu iapun duduk bersila didepan uwanya.

"Kau selamat Hadiwijaya ?" tanya Kebo Kanigara.

"Atas pangestu siwa, saya selamat wa" jawab Adipati Hadiwijaya.

"Ya, aku memang ingin bertemu denganmu, karena menurut perhitunganku, setelah tiba di Pajang, kau akan pergi ke Pengging, karena kau butuh beberapa barang yang akan kau bawa ke Demak, dan sejak pagi tadi, aku sudah menunggumu disini" kata uwanya sambil tersenyum.

"Ya wa, aku memang butuh beberapa barang untuk keperluan melamar diajeng Sekar Kedaton, siwa berada di Pengging sudah lama ?" Tanya Sang Adipati.

"Baru tadi sore aku tiba di Pengging"

"Siwa dari mana?"

"Dari kotaraja Demak, aku berada disekitar Kraton pada hari pisowanan agung" kata uwanya.

"Siwa melihat saya disana ?"

"Ya, aku melihatmu bersama Kanjeng Sunan Kalijaga dan enam orang lainnya, disamping itu aku juga melihat Adipati Jipang Arya Penangsang bersama Kanjeng Sunan Kudus, diringi oleh Ki Matahun, Arya Mataram bersama dua orang yang lain" kata Kebo Kanigara.

"Dimana siwa melihat Arya Penangsang?"


"Aku melihat empat orang, Kanjeng Sunan Kudus, Arya Penangsang, Arya Mataram dan Ki Matahun, ketika mereka akan memasuki pintu gerbang Kraton, dua orang temannya tidak ikut masuk ke kraton, mereka ditinggal di alun-alun untuk menjaga enam ekor kuda milik mereka, salah satunya adalah kuda hitam milik Arya Penangsang, Gagak Rimang" kata uwanya.

Adipati Hadiwijaya mengangguk-anggukkan kepalanya, ternyata uwanya berada di kotaraja pada saat pisowanan agung sehingga uwanya memang mengetahui kalau ia telah mendapatkan sebuah nama baru.

"Siwa masuk kedalam Kraton?"

"Ya, tetapi aku tidak masuk ke Sasana Sewaka, hanya diluar, diluarpun juga banyak sekali orang yang mengikuti jalannya acara Pisowanan Agung"

Sekali lagi Hadiwijaya menganggukkan kepalanya, dia percaya uwanya mampu menyelinap di keramaian pisowanan agung, melewati penjagaan dua orang penjaga pintu gerbang Kraton.

"Tetapi kenapa siwa sudah tiba di Pengging tadi sore, siwa dari kotaraja Demak naik kuda ?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Tidak, aku tidak berkuda, apakah ada yang aneh, Hadiwijaya ?" kata Ki Kebo Kanigara sambil tersenyum.

"Ya wa, karena saya berangkat dari Kadilangu setelah dhuhur, baru tiba di Pajang tadi sore, tetapi siwa juga tiba di Pengging sore hari"


"Ya, aku tahu, kau tidak merasa bahwa kau dan aku berangkat bersama-sama dari Kadilangu?" tanya uwanya.

"Tidak wa, siwa berangkat pada saat yang sama dengan rombongan saya? Saya naik kuda wa"

"Ya, aku berlari dibelakangmu"

"Siwa mampu berlari secepat lari seekor kuda ?" tanya Kanjheng Adipati.

"Ah kau" jawab Ki Kebo Kanigara:" Tidak ada seorangpun yang mampu berlari menyamai kecepatan lari seekor kuda, aku bisa berlari membayangimu karena kau beberapa kali beristirahat memberi minum kudamu yang kehausan dan beberapa kali kau menyeberangi sungai, bahkan pada malam harinya aku tidur tidak jauh dari rombonganmu beristirahat"

"Siwa berlari sepanjang hari ?" tanya Adipati Hadiwijaya.


Kebo Kanigara tertawa kecil, Hadiwijayapun tersenyum, jarang sekali ia melihat uwanya tertawa,

"Hadiwijaya, ada beberapa orang yang mampu berlari tanpa henti, lalu berenang menyeberangi sungai, ditambah menjelajah hutan, dan mereka mampu menempuh separo jarak dari Demak ke Pengging"

"Perjalanan berlari mengikutimu, sebenarnya tidak begitu berat bagiku, karena aku beberapa kali bisa beristirahat" kata uwanya.

"Ya wa"

"Kau juga mampu melakukannya Hadiwijaya, berlari separo jarak dari Demak ke Pajang" kata Ki Kebo Kanigara.

Hadiwijaya melihat kepada dirinya sendiri, ia ingin bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia mampu berlari menempuh separo jarak dari Demak ke Pajang.

"Beberapa candra yang lalu, setelah membunuh kebo ndanu dihadapan Kanjeng Sultan Trenggana dihutan Prawata, aku berjalan, berlari dan berenang mulai dari hutan Prawata sampai ke kotaraja Demak" kata Hadiwijaya dalam hati.

"Jauhnya hampir sama, jarak dari hutan Prawata ke Demak, dengan separo jarak dari Demak ke Pajang" kata Hadiwijaya dalam hati.

"Aku mengetahui semua keputusan Sultan Trenggana atas dirimu, bahkan aku juga mendengar tiga minggu setelah pisowanan agung itu, kau akan melamar Sekar Kedaton" kata uwanya.

"Darimana siwa tahu rencana tentang lamaran itu?"

"Kau sendiri yang memberitahukan semua itu kepada pengikutmu, dan aku ikut mendengarkannya" kata Kebo Kanigara.

"Siwa bisa mendengarkan semua yang saya ucapkan?"

"Tidak, waktu itu aku tidak jauh darimu, hanya sebagian yang kau ucapkan saja, aku bisa mendengarnya, karena saat itu angin bertiup agak kencang dari arah dirimu ke padaku" kata Kebo Kanigara.

Hadiwijaya menundukkan kepalanya, sejak dahulu, ia memang mengagumi kemampuan uwanya Kebo Kanigara yang mempunyai ilmu kanuragan yang pinunjul, ilmunya sudah mengendap, dan ia adalah satu-satunya orang yang mampu mewarisi ilmu perguruan Pengging sampai tuntas.

"Hadiwijaya, kau dari Pajang berkuda langsung menuju kemari ?" tanya uwanya.

"Tidak wa, saya mampir dulu ke rumah Krama Sungging"

"Semua saka kayu yang berada di dalem Kadipaten Pajang akan kau sungging?"

"Ya wa, dalem Kadipaten Pajang saya minta supaya ditatah dan diukir halus, dengan ukiran dan sunggingan yang bagus, seperti ukiran di kraton Majapahit, dan saya pesan untuk dibuatkan sebuah dampar keprabon yang juga diukir dan disungging" kata Hadiwijaya.


"Dampar keprabon ?" tanya Ki Kebo Kanigara.

"Ya wa, dampar keprabon yang ukurannya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan dampar keprabon Kasultanan Demak, tetapi lebih besar dibandingkan dengan dampar Kadipaten yang bentuknya hanya seperti sebuah dingklik yang berukuran agak tinggi, seperti yang pernah dipakai oleh eyang Handayaningrat" kata Hadiwijaya.

"Ya, dingklik itu sekarang masih kita simpan dirumah ini" kata uwanya.

"Sebelum dampar keprabon yang saya pesan itu selesai, nanti pada waktu pasewakan pertama di Sasana Sewaka, dingklik tinggi yang dipergunakan untuk pasewakan peninggalan eyang Handayaningrat itu akan saya pakai dulu.

"Kapan rencana kau akan mengadakan pasewakan yang pertama?"

"Tiga hari lagi wa, dan nanti sore akan datang lima belas orang prajurit Wira Manggala yang untuk sementara diperbantukan ke Pajang, besok pagi mereka akan memberitahu ke para bebahu tentang adanya pasewakan yang pertama di Kadipaten Pajang" kata Kanjeng Adipati.

"Ya, besok dingklik untuk pasewakan biar diantar ke Pajang dengan menggunakan sebuah pedati"

"Ya wa" kata Adipati Hadiwijaya.

"Kau bawa sebuah keris di lambungmu?" tanya Kebo Kanigara selanjutnya.

"Ya wa, saya membawa keris Kyai Naga Siluman" jawab Hadiwijaya sambil menggeser kerisnya agak kebelakang.

"Bagus, mulai sekarang setiap kau pergi, jangan lupa membawa keris pusaka sipat kandel Kadipaten Pajang" kata uwanya.

"Ya wa" kata Hadiwijaya.


Pembicaraan terhenti ketika pembantunya yang setia membawakan wedang jahe dan beberapa potong ubi rebus.

"Diminum dulu ngger Adipati, ini siwa buatkan wedang jahe, ubi rebus dan gula aren" kata Ki Purwa.

"Ya wa, terima kasih"

Setelah pembantunya pergi kebelakang, Hadiwijaya mendengar uwanya berkata :"Lalu rencana lamaran besok, siapa saja yang akan mendampingimu ke Demak?"

"Ada beberapa orang tua wa, Ki Buyut Banyubiru, Ki Majasta, Ki Wuragil, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang dan tentu saja saya sangat mengharapkan siwa Kanigara untuk mendampingi saya ke Demak" kata Adipati Pajang.

"Baik, setelah saya pertimbangkan beberapa hari, baiklah, besok aku akan mendampingimu ke Demak"

"Terima kasih wa", kata Hadiwijaya yang hatinya senang sekali, akhirnya siwanya bersedia menampinginya ke Demak, bertemu dengan Sultan Trenggana.

"Nanti semuanya berkumpul di Kadilangu wa, kita berangkat dari sana"

"Hadiwijaya, aku tidak berjanji untuk menginap di Kadilangu, yang penting, aku akan bergabung dengan rombonganmu sebelum sampai di Kraton Demak" kata Kebo Kanigara.

"Terima kasih wa" kata Hadiwijaya.

"Wedangnya diminum dulu" kata uwanya sambil mengambil sepotong ubi rebus.

"Ya wa" Hadiwijayapun kemudian minum wedang jahe yang telah disajikan oleh siwanya.

Mereka berdua lalu minum wedang jahe sambil makan ubi rebus yang diberi sedikit gula aren.

"Segar wa, wedangnya" kata Hadiwijaya sambil menyeka keringat yang ada di wajahnya.


Beberapa saat kemudian, Ki Kebo Kanigara memulai lagi pembicaraannya dengan kemenakannya, putra Ki kebo Kenanga, Adipati Pajang, Hadiwijaya.

"Hadiwijaya, apakah kau sudah mempersiapkan beberapa orang untuk menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang?" tanya uwanya.

"Sudah wa, nanti akan saya umumkan pada waktu pasewakan di Kadipaten Pajang" kata Hadiwijaya.

"Siapa saja yang akan kau angkat menjadi nayaka praja kadipaten Pajang?"

"Ada beberapa orang wa, Ki Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila, kakang Pemanahan, kakang Penjawi, serta Wenang" kata Hadiwijaya:" Mereka telah menunjukkan kesetiaan kepadaku, mereka ikut mbabat alas membuat Kadipaten Pajang mulai dari awal"

"Ya" kata Kebo Kanigara ;"Mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi, bisa diandalkan dan pantas menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang"

"Ya wa, mereka nantinya yang menjadi benteng kekuatan Pajang untuk menghadapi serangan dari luar" kata Hadiwijaya.

"Lalu rencanamu tentang acara lamaran nanti bagaimana Hadiwijaya?"

"Kanjeng Sunan Kalijaga menyarankan kalau saya masih punya perhiasan bisa diberikan kepada diajeng Sekar Kedaton sebagai mas kawinnya, disamping itu kalau mempunyai kain yang bagus bisa juga dibawa ke Demak"

"Ya betul kata Kanjeng Sunan Kalijaga, memang sebaiknya begitu, sebentar, aku ambilkan perhiasannya dulu" kata Kebo Kanigara,kemudian iapun bangkit berdiri dan berjalan menuju ke sebuah ruangan.

Beberapa saat kemudian Ki Kebo Kanigara telah kembali sambil membawa dua buah kotak kayu berukir dan sebuah bumbung yang panjangnya dua jengkal.

Setelah meletakkan kotak kayu dan bambu itu didepan Hadiwijaya, maka Kebo Kanigara kembali duduk ditempatnya semula.

"Ini perhiasannya, semuanya peninggalan eyang putrimu Dewi Asmayawati yang berasal dari kraton Majapahit, semula ada tiga buah kotak kayu, kotak yang satunya telah kau ambil, dan telah diganti dengan bumbung ini"

"Ya wa, kotak itu sekarang ada di dalem Kadipaten Pajang, kotak itu dipakai untuk tempat keris Kyai Naga Siluman" kata Hadiwijaya.

"Sebaiknya keris Kyai Naga Siluman, nanti kau letakkan pada ploncon tempat keris, sedangkan kotak kayunya dikembalikan lagi menjadi tempat perhiasan" kata uwanya.

"Baik wa, kotak kayu itu dulu saya ambil dari siwa Purwa untuk tempat keris yang saya sembunyikan di atas pohon beringin"

"Ya, aku masih mempunyai sebuah ploncon tempat keris, ploncon itu besok akan aku jadikan satu dengan dampar yang akan dibawa ke Pajang dengan menggunakan pedati" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa" kata Adipati Hadiwijaya


Kebo Kanigara kemudian membuka dua buah kotak kayu berukir dan membuka tutup bambu penyimpan perhiasan, lalu isinya dikeluarkan semua.

Di atas amben dihadapan Hadiwijaya dan pamannya, terlihat ada belasan perhiasan, ada beberapa gelang binggel, gelang kana, kalung rantai ada yang berukuran panjang dan ada pula yang pendek, kalung susun tiga, kalung berondong, anting-anting, cincin, giwang, tusuk konde, kelat bahu, sumping, timang, semuanya dari emas bahkan ada beberapa perhiasan yang bertreteskan berlian.

"Mana yang akan dipakai untuk mas kawin wa" tanya Hadiwijaya.

"Kita mempunyai beberapa pasang, giwang, anting-anting, tusuk konde, gelang, kalung dan beberapa cincin, kita ambil masing-masing sepasang untuk acara lamaran nanti" kata uwanya.

Uwanya kemudian memilihkan beberapa perhiasan, lalu semua perhiasan itu dibungkus dengan secarik kain.

"Ini semua perhiasan yang akan kau bawa ke Demak, kau masukkan semua ini kedalam peti yang ada padamu, apakah ini masih kurang Hadiwijaya?"

tanya uwanya.

"Cukup wa, semua ini sudah lengkap" kata Hadiwijaya.

Kebo Kanigara kemudian memasukkan sisa perhiasan kedalam dua buah peti kayu, lalu iapun berkata :"Kainnya aku ambil dulu"

Uwanyapun kemudian berdiri mengambil kotak kayu yang berisi perhiasan lalu mengembalikan kotak kayu itu kedalam kamar, sesaat kemudian iapun keluar lagi sambil membawa sebuah kotak kayu yang berukuran agak besar yang berisi setumpuk kain.

"Ini kainnya Hadiwijaya, masih bagus semua, karena disekelilingnya aku beri beberapa ramuan sehingga tidak ada binatang kecil yang mendekat" kata uwanya.

"Ya wa" jawab Hadiwijaya.

"Berapa lembar kain yang akan kau bawa ?" tanya uwanya.

"Terserah siwa saja"

"Bukalah, lima lembar sudah cukup, kita pilihkan kain yang paling bagus" kata uwanya.

Hadiwijayapun kemudian membuka kotak kayu, mengeluarkan isinya, lalu memilih beberapa kain, sedangkan sisanya di letakkan disebelahnya.

Kain yang dipilihnya itu kemudian dimasukkan kedalam kotak kayu tempatnya semula.

"Kau bawa kain beserta kotak kayunya, nanti akan aku buatkan sebuah kotak kayu yang baru untuk tempat sisa kainnya" kata uwanya Kebo Kanigara sambil membereskan sisa kain dan membawanya kembali masuk kedalam kamar.


Adipati Hadiwijayapun kemudian memasukkan perhiasan yg telah dibungkusnya kedalam kotak kayu, menjadi satu dengan kain yang telah berada didalamnya.

Ketika uwanya keluar dari kamar sambil membawa selembar kain pembungkus, lalu kotak yang berisi kain dan perhiasan itupun dibungkusnya.

"Bungkusan ini yang nanti kau bawa ke Demak" kata uwannya :"Mengenai perlengkapan uba rampe lainnya bagaimana Hadiwijaya ?"

"Semuanya akan dibuat oleh para santri Kadilangu wa"

"Bagus, berarti barang-barang yang akan kau bawa sudah lengkap"

"Ya wa, meskipun yang melamar orangnya tidak lengkap, semuanya adalah laki-laki, tidak ada seorangpun yang perempuan" kata Kanjeng Adipati.

"Tidak apa-apa Hadiwjaya, ibumu telah meninggal, istrikupun juga telah meninggal dunia"

Demikianlah, maka Hadiwijaya masih berada di Pengging berbicara dengan Kebo Kanigara sampai matahari mencapai puncaknya.

Setelah itu, Hadiwijayapun mohon diri, pamit kepada uwanya dan pembantunya yang setia, kembali ke Pajang.

"Hati-hati Hadiwijaya, kalau ada kesulitan kau hubungi aku" kata uwanya.

"Baik wa"

"Hati-hati ngger", kata pembantunya.

Hadiwijaya yang membawa sebuah bungkusan segera naik ke punggung kudanya, lalu dijalankannya kudanya keluar dari halaman rumah peninggalan orang tuanya, Ki Ageng Pengging.

Kudanyapun berlari menyusuri jalan-jalan di desa Pengging menuju Pajang.

Adipati Hadiwijaya melarikan kudanya melaju menuju Pajang, kudanya lari tidak terlalu kencang dan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh, maka perjalanan terasa cepat sekali dan tak lama kemudian bumi Pajangpun telah berada didepan mata.


Derap kaki kuda terdengar di sekitar dalem Kadipaten, saat itu Penjawi yang sedang membantu pembangunan rumah, bergegas menuju dalem kadipaten, dan ketika dilihatnya Adipati Hadiwijaya turun dari punggung kudanya, maka iapun lalu memegang tali kendali kudanya dan mengikatnya pada tonggak di halaman dalem kadipaten.

"Kakang Penjawi, dimana orang-orang yang lain ?" tanya Hadiwijaya.

"Ki Wuragil dan Mas Manca sedang membantu para tukang mendirikan beberapa tiang Kanjeng Adipati" kata Penjawi.

Adipati Hadiwiijaya lalu berjalan berkeliling, melihat beberapa rumah yang sedang dibangun, dilihatnya tiang-tiang saka telah berdiri, demikian juga beberapa tiang yang lain, paling lama dua pasar lagi, rangka rumah mereka sudah terpasang, tinggal memberi atap daun kelapa, diharapkan tidak sampai satu candra kedepan, pembangunan beberapa rumah sudah selesai, sehingga mereka tidak perlu tidur berhimpitan di Sasana Sewaka.

Pembuatan sumur juga sedang berlangsung, ada beberapa brunjung dari bambu yang dimasukkan kedalam lobang sumur, setelah itu diperkuat dengan bambu yang ditancapkan melingkar mengikuti lingkaran brunjung bambu.

Ketika matahari telah condong kebarat, dari arah utara terlihat Jaka Wila sedang berjalan kaki memasuki tanah lapang di depan dalem kadipaten dan di belakangnya, dua orang sedang berjalan sambil menuntun dua ekor kuda yang diberi beban dipunggungnya.

Setelah mengikat kudanya pada tonggak yang ada dibawah pohon, Jaka Wila berjalan menuju pendapa, sedangkan dua orang yang datang bersamanya menunggu di bawah pohon diluar pendapa.

Sesaat kemudian, Adipati Hadiwijaya yang saat itu sedang duduk di pendapa menerima kedatangan Jaka Wila yang duduk bersila dihadapannya.

"Kau selamat Jaka Wila ?" kata Adipati Hadiwijaya,

"Atas pangestu Kanjeng Adipati, perjalanan saya dari Banyubiru berjalan lancar" kata Jaka Wila.

"Bagaimana keadaan Ki Buyut Banyubiru ? Dan bagaimana kesediaan Ki Buyut tentang rencana acara lamaran ke kraton ?" tanya Kanjeng Adipati.

"Ki Buyut Banyubiru dalam keadaan sehat Kanjeng Adipati, Ki Buyut bersama Ki Majasta besok bersedia ikut dalam acara lamaran dan pahargyan pengantin ke kotaraja Demak" kata Jaka Wila.

"Syukurlah, kau bawa dua ekor kuda beban?"

"Ya Kanjeng Adipati, saya membawa beras dan jagung, disamping itu saya membawa dua orang tukang dari Pingit yang bisa membantu pembuatan dalem Ksatrian maupun rumah yang lain, atau bisa juga membantu mempercepat pembuatan sumur"

"Bagus, nanti tukang-tukang yang ada bisa saling mengisi dan membantu untuk menyelesaikan pembangunan beberapa rumah" kata Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Jaka Wila

"Baik silahkan beristirahat, masukkan bahan pangannya di lumbung sementara, didalam gubug"

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Jaka Wila, lalu iapun keluar dan bersama dengan dua orang tukang dari Pingit, mereka mengambil beras dari punggung kuda dan menyimpannya didalam gubug.


Matahari berjalan terus ke barat, sebentar lagi senjapun membayang, ketika itulah Penjawi melaporkan, di Sasana Sewaka, telah datang lima belas orang prajurit Wira Manggala yang berangkat dari kotaraja dan dipimpin oleh seorang lurah prajurit.

"Para prajurit Wira Manggala dipimpin oleh Ki Lurah Wasana" kata Ki Penjawi.

Bersama Ki Penjawi, Adipati Hadiwijaya kemudian menerima Ki Lurah Wasana di pendapa Kadipaten Pajang.

"Silahkan duduk Ki. Lurah Wasana"

"Terima kasih Kanjeng Adipati" kata Ki Lurah Wasana.

Ki Lurah Wasanapun kemudian duduk di bawah, bersama dengan Ki Penjawi.

"Kau selamat Ki Lurah ? Bagaimana dengan perjalananmu ke Pajang ?" tanya Adipati Pajang.

"Atas pangestu Kanjeng Adipati, perjalanan saya dari Demak ke Pajang semuanya lancar"

"Bagaimana titah Kanjeng Sultan kepada para prajurit Wira Manggala Ki Lurah ?"

"Kanjeng Adipati, titah Kanjeng Sultan Trenggana kepada prajurit Wira Manggala adalah membantu Pajang sebelum Pajang mempunyai prajurit sendiri" jawab Lurah Wasana.

"Terima Kasih Ki Lurah" jawab Adipati Hadiwijaya

"Berapa lama prajurit Wira Manggala diperbantukan di Pajang"

"Sekitar dua candra Kanjeng Adipati, karena itu, sebelum dua candra, Pajang harus mempunyai prajurit sendiri"

"Ya Ki Lurah, nanti sebelum dua candra mudah-mudahan Pajang sudah bisa mempunyai prajurit sendiri" kata Hadiwijaya.

"Prajurit Wira Manggala selama berada di Pajang berada dibawah perintah Kanjeng Adipati Hadiwijaya"

"Terima kasih, besok pagi saja kita bicarakan tentang tugas para prajurit, sekarang silahkan ki Lurah dan para prajurit membersihkan badan di sungai kecil, nanti Ki Penjawi yang akan mengantar Ki Lurah" kata Hadiwijaya.

"Terima kasih Kanjeng Adipati"

"Untuk tidur, silahkan istirahat dan tidur di Sasana Sewaka bersama yang lain"

"Terima kasih Kanjeng Adipati"

Kemudian Lurah Wasana bersama Penjawi keluar dari pendapa menuju Sasana Sewaka.

Para prajurit Wira Manggala yang berada di Sasana Sewaka kemudian pergi membersihkan diri ke sungai diantar oleh Ki Penjawi,


Sementara itu, di Kalinyamat dan Prawata, Pangeran Hadiri dan Sunan Prawata juga mendapat bantuan masing-masing lima belas orang prajurit Wira Manggala Demak.

Ketika di Pajang, Lurah Wasana sedang beristirahat di Sasana Sewaka, pada saat yang sama, di Jipang Panolan, Arya Penangsang bersama Matahun dan Rangkud, sedang menerima seorang lurah yang memimpin lima belas orang prajurit Wira Manggala dari kotaraja yang diperbantukan di Jipang

"Bagaimana Ki Lurah Radya" kata Adipati Arya Penangsang.

"Lima belas orang prajurit Wira Manggala yang diperbantukan di Jipang berada dibawah perintah Kanjeng Adipati Arya Penangsang" kata Lurah Radya dari kesatuan Wira Manggala.

"Terima kasih Ki Lurah" kata Arya Penangsang.

"Prajurit Wira Manggala yang diperbantukan di Jipang hanya selama dua candra Kanjeng Adipati, setelah itu akan ditarik ke kotaraja Demak, diharapkan sebelum pasukan Wira Manggala ditarik, Jipang sudah mempunyai prajurit sendiri" kata lurah Radya.

"Mudah-mudahan Ki Lurah" kata Arya Penangsang :"Mudah-mudahan dalam waktu dekat Jipang sudah bisa mempunyai prajurit meskipun jumlahnya tidak sebanyak prajurit segelar sepapan"

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita