Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 27 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 27 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Orang yang berdiri dihadapan Adipati Hadiwijaya memakai pakaian seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Braja, orang itu adalah Tumenggung Gagak Anabrang.

Tumenggung Gagak Anabrang tersenyum, kakinya maju selangkah, lalu kedua tangannya diulurkan kedepan menyalami Adipati Hadiwijaya.

"Selamat Kanjeng Adipati, saya ikut senang" kata Tumenggung Gagak Anabrang.

Adipati Hadiwijaya menyambut uluran tangan Tumenggung Gagak Anabrang dengan hangat :"Terima kasih Ki Tumenggung Gagak Anabrang"

Dibelakang Tumenggung Gagak Anabrang, ternyata ada Tumenggung Surapati, Tumenggung Siung Laut dan beberapa Tumenggung yang lain.


Dibelakang para Tumenggung, ada Rangga Pideksa dan beberapa orang yang berpangkat Panji, mereka semuanya memberi ucapan selamat kepada Adipati Hadiwijaya.

Setelah para Tumenggung, Panji dan Rangga telah selesai memberikan ucapan selamat, maka Adipati Hadiwijaya keluar dari Sasana Sewaka, dibelakangnya berjalan Pemanahan dan Penjawi.

Didepan Sasana Sewaka, ketika Adipati Hadiwijaya sedang berjalan, terdengar suara memanggil namanya perlahan :"Kanjeng Adipati Hadiwijaya"

Adipati Hadiwijaya menoleh, dilihatnya empat orang berpakaian Wira Tamtama sedang berdiri didekatnya, dengan tangan ngapurancang, lalu keempat orang itupun membungkuk hormat.

"Ternyata Ki Lurah Wirya, Ki Lurah Mada, Tumpak dan kau Soma" kata Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati, selamat, saya ikut senang Kanjeng Adipati" kata Lurah Wirya.

"Terima kasih Ki Lurah Wirya" kata Adipati Hadiwijaya.

"Selamat Kanjeng Adipati" kata Tumpak.

"Ya Tumpak, kau tidak termasuk lima belas orang prajurit yang akan diperbantukan ke Pajang ?" tanya Sang Adipati.

"Tidak Kanjeng Adipati, yang diperbantukan adalah prajurit dari kesatuan Wira Manggala, bukan dari kesatuan Wira Tamtama" jawab Tumpak.

"Ya, kapan prajurit Wira Manggala berangkat ke Pajang" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Besok pagi Kanjeng Adipati, lima belas orang prajurit Wira Manggala besok pagi akan berangkat ke empat lokasi, Jipang, Pajang, Kalinyamat dan Prawata" kata Lurah Wirya

"Kalinyamat dan Prawata juga mendapat bantuan prajurit Wira Manggala?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Adipati, setiap daerah mendapat bantuan lima belas orang prajurit Wira Manggala" kata Lurah Mada.

Belum selesai mereka berbicara, terdengar suara seorang yang berkata :"Kanjeng Adipati Hadiwijaya"


Adipati Hadiwijaya menoleh, dilihatnya Nyai Madusari sedang membungkukkan badannya.

"Ya Nyai" kata Adipati Hadiwijaya

"Kanjeng Adipati hari ini akan langsung kembali ke Pajang ? Kuda Kanjeng Adipati ditinggal dimana?" tanya Nyai Madusari

"Ya nyai, aku akan kembali ke Pajang hari ini, tetapi aku akan singgah dulu di Kadilangu, kudaku ada disana" kata Adipati Hadiwijaya.

Nyai Madusari seperti teringat sesuatu, lalu iapun menelangkupkan kedua tangannya, dan berkata :"Mohon maaf Kanjeng Adipati, saya lupa tata krama, saya lupa dengan siapa saya berbicara"

"Tidak apa apa nyai" kata Adipati Hadiwijaya.


Sementara itu, pada saat yang sama dari ruang dalam keluar Kanjeng Sunan Kalijaga bersama dengan Kanjeng Sunan Kudus, dibelakangnya juga berjalan Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata.

Adipati Hadiwijaya ketika melihat Kanjeng Sunan Kalijaga bersama beberapa orang keluar dari ruang dalam, maka iapun berkata :"Nyai Madusari, tolong bilang pada Gusti Putri, aku meninggalkan kraton bersama Kanjeng Sunan Kalijaga ke Kadilangu, setelah dari Kadilangu aku akan segera pulang ke Pajang"

"Baik Kanjeng Adipati" kata nyai Madusari.

"Ki Lurah Wirya, Ki Lurah Mada, Tumpak, Soma dan kau Nyai Madusari, aku tinggal dulu, aku akan menemui Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Kanjeng Adipati.

"Silakan Kanjeng Adipati" kata mereka hampir bersamaan.

Adipati Hadiwijaya kemudian berjalan menuju ke pintu ruang dalam, dibelakangnya menyusul Pemanahan dan Penjawi.


Kanjeng Sunan Kalijaga melihat Adipati Hadiwijaya berjalan menuju ke arahnya, maka Kanjeng Sunanpun mendekati Adipati Hadiwijaya dan mengulurkan kedua tangannya, mengucapkan selamat kepadanya.

"Terima kasih Kanjeng Sunan" kata Adipati Hadiwijaya mengulurkan kedua tangannya menyambut tangan Sunan Kalijaga.

Setelah itu berturut-turut Kanjeng Sunan Kudus mengucapkan selamat, disusul Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata.

"Nakmas Hadiwijaya, kau lihat dimana anakku Penangsang?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.

"Saya tidak tahu Kanjeng Sunan,ketika kami berada didalam, Adipati Arya Penangsang sudah keluar dari Sasana Sewaka bersama Raden Arya Mataram dan Ki Matahun" jawab Adipati Hadiwijaya.

"Baik, aku akan mencari mereka" kata Kanjeng Sunan Kudus, setelah itu Sunan Kuduspun pamit kepada Kanjeng Sunan Kalijaga.

Kanjeng Sunan Kuduspun mengucap salam lalu Kanjeng Sunan Kalijaga bersama yang lain menjawab salamnya.


Kanjeng Sunan Kuduspun kemudian pergi berjalan mencari muridnya, Adipati Arya Penangsang.

Setelah Kanjeng Sunan Kudus tidak terlihat lagi, maka Sunan Kalijaga mengajak Hadiwijaya, Pemanahan dan Penjawi pulang Ke Kadilangu.

Kemudian merekapun berpamitan kepada Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Suranata, lalu keempat orang itupun kemudian berjalan menuju pintu gerbang kraton.

"Nakmas Hadiwijaya" sambil berjalan Kanjeng Sunan Kalijaga berbicara kepada Adipati Hadiwijaya.

"Ya Kanjeng Sunan" kata Adipati Hadiwijaya.

"Ada beberapa pesan dari Kanjeng Sultan Trenggana mengenai anakmas yang telah disampaikan kepadaku, nanti saja akan kita bicarakan setelah sampai di Kadilangu" kata Sunan Kaijaga.

"Baik Kanjeng Sunan" kata Hadiwijaya.

"Nakmas jangan langsung pulang ke Pajang, tunggu nanti setelah sholat dhuhur di Kadilangu" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Baik Kanjeng Sunan" kata Adipati Hadiwijaya.

Dua orang penjaga pintu gerbang membungkuk hormat ketika Hadiwijaya bersama Kanjeng Sunan Kalijaga melewati pintu gerbang.


Merekapun terus berjalan, ketika mereka keluar dari pintu gerbang kraton, disana sudah menunggu Mas Manca dan Jaka Wila serta dua orang santri dari Kadilangu.

Keempat orang tersebut lalu mendekati Adipati Hadiwijaya dan dengan membungkukkan badan serta tangan bersikap ngapurancang mereka mengucapkan selamat kepada Adipati Hadiwijaya.

"Terima kasih" kata Adipati Hadiwijaya.

Matahari sudah tinggi meskipun belum mencapai puncak langit, ketika delapan orang itu berjalan ke arah selatan, kembali menuju Kadilangu.


Mereka berjalan terus, tak lama kemudian merekapun berbelok ke arah timur, beberapa langkah mereka berjalan, sampailah rombongan Kanjeng Sunan Kalijaga di tepi sungai Tuntang.

Rakit yang tadi pagi dipakai untuk menyeberang ke barat masih tertambat di tepi sungai,

Mereka kemudian naik keatas rakit, kedua santri lalu memasukkan galah ke dalam air sungai dan mendorongnya ke arah barat maka perlahan-lahan rakitpun bergerak ke timur, air sungai Tuntang yang tenang, membuat laju rakit menjadi lancar.

Beberapa saat kemudian ujung rakit telah menyentuh tepi sungai sebelah timur lalu semua penumpangnya naik ke tepi sungai serta melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa langkah lagi.


Ketika memasuki gerbang pesantren Kadilangu, merekapun mengucap salam, dan dari dalam terdengar suara seorang santri yang membalas salamnya.

"Nakmas Hadiwijaya, silahkan kalau mau ke pakiwan atau mau ganti pakaian dulu, setelah itu kita berbicara didalam" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Baik Kanjeng Sunan" kata Hadiwijaya, lalu, ia bersama Pemanahan, Penjawi, Mas Manca dan Jaka Wila, berjalan ke sumur dibelakang rumah, membersihkan diri dan berganti pakaian.

Matahari semakin meninggi, udarapun semakin panas, namun di ruang dalam pesantren Kadilangu, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk bersila, berhadapan dengan Adipati Pajang Hadiwijaya, dan dibelakangnya duduk Pemanahan, Penjawi, Mas Manca dan Jaka Wila.

"Nakmas Hadiwijaya, ada hal yang penting dibicarakan oleh Kanjeng Sultan Trenggana mengenai nakmas Hadiwijaya" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Mengenai saya Kanjeng Sunan ?" tanya Adipati Hadiwijaya.

"Ya, mengenai pernikahan nakmas dengan Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.


Hadiwijaya menggeser duduknya maju sejengkal, berusaha mendengarkan kata-kata Kanjeng Sunan Kalijaga dengan lebih jelas.

"Sebetulnya Kanjeng Sultan ingin berbicara langsung kepada kedua orang tua pihak laki-laki, tetapi karena kedua orang tuamu Ki Ageng Pengging dan Nyai Ageng Pengging telah meninggal dunia, dan Ki Kebo Kanigara sebagai uwamu tidak diketahui tempat tinggalnya, maka aku sebagai gurumu memberanikan diri mewakili kedua orang tuamu, nakmas tidak keberatan ?" tanya Kanjeng Sunan Kaijaga.

"Tidak Kanjeng Sunan, sama sekali tidak berkeberatan" kata Hadiwijaya.

"Nah tadi ketika aku berada diruang dalam kraton, secara singkat Kanjeng Sultan ingin agar lamaran dari pihak laki-laki dilaksanakan secepatnya, tiga pasar setelah pelantikan nakmas Hadiwijaya sebagai Adipati Pajang" kata Kanjeng Sunan.

"Begitu cepatnya" kata Hadiwijaya lirih.

"Ya, memang begitu rencana dari Kanjeng Sultan Trenggana, setelah acara lamaran, besoknya dilanjutkan dengan upacara pahargyan pengantin secara sederhana, tidak perlu mengundang raja-raja manca negara, hanya petinggi nayaka praja Kasultanan Demak saja, lalu sepasar kemudian Sekar Kedaton bisa nakmas boyong ke Pajang" kata Kanjeng Sunan Kalijaga menjelaskan rencana Kanjeng Sultan Trenggana.


Hadiwijaya mendengarkan dengan cermat semua kalimat dari Kanjeng Sultan lewat gurunya Kanjeng Sunan Kalijaga.

Semakin jelas bagi Hadiwijaya, ternyata sikap Kanjeng Sultan hampir seperti perkiraan uwanya Kebo Kanigara, bahwa Demak dalam persiapan perang.

"Kanjeng Sultan sedemikian tergesa-gesa menikahkan Sekar Kedaton, secara sederhana, tidak mengundang raja-raja manca negara karena segera akan mempersiapkan sebuah pasukan penggempur yang kuat dan akan menyerang ke salah satu daerah di bang wetan atau bang kulon" kata Kanjeng Adipati didalam hatinya.

Adipati Hadiwijaya terlihat sedang menundukkan kepala, tetapi pikirannya sedang memperkirakan apa yang akan terjadi dalam waktu dekat ini.

"Besok akan berangkat lima belas orang prajurit Wira Manggala dari Demak ke Pajang, dan kalau betul Kanjeng Sultan akan mempersiapkan pasukan penggempur, tidak lama lagi lima belas orang prajurit itupun pasti akan ditarik ke kotaraja Demak, dan keadaan Kadipaten Pajang saat itu tidak mempunyai prajurit seorangpun" kata Hadiwijaya dalam hati.


"Sebelum prajurit Wira Manggala ditarik ke Demak, prajurit Pajang harus sudah terbentuk, paling tidak prajurit Pajang bisa melindungi dirinya sendiri menghadapi serangan dari luar Pajang. Aku harus bergerak cepat, sepasar lagi aku akan mengadakan pasewakan para bebahu Kadipaten Pajang, lalu dalam waktu sepasar selanjutnya prajurit Pajang harus sudah diresmikan" desis Kanjeng Adipati.

Adipati Hadiwijayapun mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi iapun terkejut ketika Kanjeng Sunan Kalijaga berkata :"Nakmas Hadiwijaya, apakah saat ini Ki Kebo Kanigara sudah tahu rencana pernikahan nakmas dengan Sekar Kedaton ?"

Angan-angan Adipati Hadiwijaya tentang keinginannya membentuk sebuah kesatuan prajurit Pajang yang harus terlaksana dalam waktu dua pasar menjadi buyar, ketika Kanjeng Sunan Kalijaga bertanya kepadanya tentang masalah pernikahannya yang belum tuntas mereka bicarakan.

"Kalau rencana pernikahan saya, siwa Kebo Kanigara sudah mengetahui Kanjeng Sunan, hanya kapan acara pernikahannya dilaksanakan, siwa Kebo Kanigara belum mengetahuinya" kata Adipati Hadiwijaya.


"Aku masih mengharapkan Ki Kebo Kanigara mau mendampingimu pada saat lamaran dan pada saat pahargyan pengantin nanti" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan, saya sudah minta kepada siwa Kebo Kanigara untuk ikut ke kotaraja Demak, tetapi siwa masih mempertimbangkannya" kata Sang Adipati,

"Aku bisa mengerti jalan pikiran Ki Kebo Kanigara, tapi masalah Pengging adalah persoalan masa lalu, yang sudah berjalan lebih dari dua puluh warsa, yang sebetulnya masalahnya sudah selesai" kata. Kanjeng Sunan.

"Ya Kanjeng Sunan, menurut Kanjeng Sultan Trenggana, sebetulnya masalah Pengging memang sudah selesai" kata Adipati Hadiwijaya.

"Lebih dari dua puluh warsa Ki Kebo Kanigara menarik diri dari pergaulan dan pertemanan, meninggalkan rumah yang bertahun-tahun ditempatinya, menyendiri tanpa ada yang tahu dimana tempat tinggalnya" kata Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan"


"Mudah-mudahan Ki Kebo Kanigara bisa mendampingi nakmas di acara lamaran dan upacara pahargyan pengantin, sebab bagaimanapun nakmas adalah satu-satunya orang yang bisa mengangkat nama keturunan Pengging"

"Ya Kanjeng Sunan" jawab Sang Adipati.

"Besok pada waktu nakmas Hadiwijaya melamar Sekar Kedaton, kita berangkat dari Kadilangu, seperti tadi pagi" kata Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan"

"Nakmas datang ke Kadilangu sehari dua hari sebelumnya, sehingga kita cukup waktu menyiapkan segala uba rampe lamarannya"

"Apa saja yang diperlukan untuk uba rampe acara lamarannya Kanjeng Sunan ?" tanya Adipati Pajang.

"Kanjeng Sultan merencanakan, acara lamaran dan pahargyan pengantin memang dibuat sederhana, beberapa hasil bumi nanti bisa kita pakai sebagai uba rampe acara lamarannya, selain itu ada beberapa perhiasan untuk diberikan kepada Sekar Kedaton sebagai mas kawin, nakmas Hadiwijaya masih punya beberapa perhiasan untuk wanita ?" tanya Sunan Kalijaga.


"Ya Kanjeng Sunan, dirumah ada beberapa perhiasan peninggalan eyang Asmayawati, istri dari eyang Adipati Pengging Witaradya, eyang Handayaningrat, nanti saya akan minta ijin siwa Kebo Kanigara, beberapa perhiasan apakah bisa diberikan sebagai mas kawin untuk diajeng Sekar Kedaton" kata Hadiwijaya.

"Nah, nanti nakmas bawa saja perhiasan untuk Sekar Kedaton, sedangkan urusan jodang berisi hasil bumi maupun makanan, biar diurus para santri dari Kadilangu" kata Kanjeng Sunan.

"Terima kasih Kanjeng Sunan"

"Selain perhiasan, apakah masih ada beberapa kain milik eyangmu yang masih nakmas simpan?"

"Ya Kanjeng Sunan, di Pengging masih tersimpan beberapa kain peninggalan eyang Asmayawati, kainnya saat ini masih dalam keadaan baik" jawab Sang Adipati.

"Ya, kainnya pasti masih baik, itu adalah kain peninggalan dari kraton Majapahit, bawalah sekalian untuk diberikan kepada Sekar kedaton"

"Baik Kanjeng Sunan"

"Nanti anakmas bisa mengajak beberapa orang tua untuk ikut dalam acara lamaran nanti"

"Ya Kanjeng Sunan, ada beberapa orang tua yang bisa ikut ke kotaraja, nanti saya yang akan minta untuk menemani saya waktu lamaran dan pahargyan pengantin" kata Adipati Pajang.

"Siapa saja orang tua yang nanti ikut ke kotaraja?"


"Saya akan minta kepada beberapa orang tua untuk ikut ke kotaraja, Ki Buyut Banyubiru, Ki Majasta, Ki Wuragil, Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Ngerang, dan siwa Kebo Kanigara" jawab Adipati Hadiwijaya.

"Bagus, cukup banyak, nanti mereka bisa menginap di Kadilangu, sehingga kita bisa berangkat bersama-sama ke kraton"

Mereka masih berbicara beberapa hal, dan mataharipun terus bergerak sampai di puncak langit, sesaat kemudian terdengarlah suara kentongan, menandakan telah tiba waktu untuk sholat dhuhur.

"Mari kita bersama-sama menunaikan sholat dhuhur dulu" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.


Merekapun segera keluar dari ruang dalam, lalu mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat dhuhur berjamaah bersama Kanjeng Sunan Kalijaga beserta segenap santri Kadilangu.

Beberapa saat setelah selesai sholat dhuhur, merekapun mohon pamit pulang ke Pajang.

"Nakmas tidak makan siang dulu?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Tadi sudah makan Kanjeng Sunan, diruang belakang, bersama para santri" kata Hadiwijaya.

"Baiklah nakmas, hati-hati dijalan, aku hanya bisa nyangoni slamet" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Terima kasih Kanjeng Sunan" kata Hadiwijaya, sementara Pemanahan, Penjawi, Mas Manca dan Jaka Wila juga mohon diri.

"Hat-hati dijalan" kata Kanjeng Sunan.


Setelah mengucap salam dan Kanjeng Sunanpun menjawab salamnya, maka Hadiwijaya kemudian naik kuda keluar dari pintu gerbang Kadilangu, diikuti oleh keempat sahabatnya.

Lima ekor kuda yang di pelananya tergantung masing-masing satu bungkusan berisi pakaian dan bekal makanan, berlari meninggalkan pesantren Kadilangu menuju arah selatan.

Adipati Hadiwijaya berkuda paling depan, keris pusaka Pengging yang sekarang menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang, Kyai Naga Siluman, dipakai dengan cara nyote, terselip di depan, dilambung sebelah kiri, bukan diselipkan dibelakang, karena saat ini Adipati Hadiwijaya sedang menunggang seekor kuda.

Debu berhamburan di belakang kaki kuda yang mereka tumpangi, dan mataharipun tanpa henti terus bergerak kearah barat


Sekali dua kali mereka berhenti untuk memberi minum kuda-kuda mereka, lalu merekapun melanjutan perjalanannya, duduk diatas punggung kuda yang sedang berlari.

Matahari telah condong kebarat, ketika mereka sampai disuatu jalan pertigaan, terlihat Adipati Hadiwijaya menghentikan kudanya dan berkata :"Kita berhenti dulu disini, ada hal penting yang akan kita bicarakan"

Mereka berlima kemudian berhenti lalu duduk dibawah pohon, membiarkan kudanya makan rumput yang tumbuh disekitar tempat itu.

Adipati Hadiwijaya duduk beralaskan rumput, sedangkan empat orang sahabatnya duduk bersila dihadapannya.

"Kakang Pemanahan, kakang Penjawi, Mas Manca dan kau Jaka Wila" kata Adipati Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata mereka berempat hampir bersamaan.

"Didepan kita, setelah jalan yang kita lewati dari Kadilangu ini, ada sebuah pertigaan, jalan simpang bercabang dua, jalan yang lurus dan jalan yang berbelok ke kiri.

"Jalan didepan yang lurus, yang biasa kita lewati adalah jalan yang menuju ke Sima atau ke Banyubiru, sedangkan yang belok ke timur ini kelihatannya menuju ke Sela, betul begitu kakang Pemanahan ?" tanya Kanjeng Adipati Hadiwijaya.


"Betul Kanjeng Adipati, jalan ini menuju Sela, kalau dari Kadilangu pulang ke Sela, saya juga melalui jalan ini" kata Pemanahan.

"Besok pagi lima belas orang prajurit Wira Manggala akan berangkat dari kotaraja ke Pajang, mereka akan menjaga keamanan Kadipaten Pajang sebelum Pajang bisa menjaga dirinya sendiri" kata Adipati Hadiwijaya.

"Aku rencanakan, sepasar setelah ini, Kadipaten Pajang mengadakan pasewakan para bebahu yang pertama, setelah itu aku inginkan, sepasar selanjutnya, Pajang sudah resmi mempunyai prajurit sendiri, jadi apabila setiap saat semua prajurit Wira Manggala yang berada di Pajang ditarik ke kotaraja, Pajang sudah bisa menjaga dirinya sendiri" kata Sang Adipati.

'Banyak yang harus kita kerjakan, kakang Pemanahan, di Sela, berapa ratus orang laskar Sela yang ada sekarang?" tanya Hadiwijaya.

"Laskar Sela saat ini sekitar empat ratus orang Kanjeng Adipati" jawab Pemanahan.

"Ada berapa orang pande besi di Sela kakang Pemanahan ?" tanya Kanjeng Adipati.

"Ada dua orang, Kanjeng Adipati" jawab Pemanahan.

"Apakah kedua orang pande besi itu bisa membuat seratus pedang pendek dalam waktu dua pasar?" tanya Kanjeng Adipati.

"Tidak bisa Kanjeng Adipati, waktunya paling tidak dua tiga candra"

"Bagaimana caranya supaya pada waktu peresmian prajurit Pajang sudah bisa mempunyai pedang pendek paling sedikit seratus buah ?"

Pemanahan berpikir sejenak, seteah itu Pemanahanpun berkata :"Kanjeng Adipati, ijinkan saya saat ini kembali ke Sela, nanti akan saya bawa seratus buah pedang pendek dan dua puluh bilah tombak ke Pajang, persenjataan laskar Sela berkurang seperempatnya, tidak akan banyak pengaruhnya, nanti pande besi Sela dengan cepat bisa membuatkan gantinya" kata Pemanahan.

"Bagus kakang Pemanahan, nanti kekurangan senjata untuk prajurit Pajang bisa dibuat oleh pande besi di Butuh" kata Kanjeng Adipati.

"Mohon maaf Kanjeng Adipati, di Banyubiru juga ada dua orang pande besi" kata Jaka Wila.

"Ya, nanti Jaka Wila langsung menuju ke Banyubiru, tidak usah bersama rombongan yang ke Pajang, nanti disamping pesan lima puluh buah pedang pendek dan tigapuluh bilah tombak, atas namaku, kau juga mohon kepada Ki Buyut Banyubiru dan Ki Majasta untuk ikut dalam acara lamaran dan pahargyan pengantin tiga pasar lagi, nanti Ki Buyut Banyubiru dan Ki Majasta menginap di Kadilangu" kata Adipati Pajang.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Jaka Wila.

"Baik, mari kita sekarang meneruskan perjalanan sampai matahari terbenam nanti, kakang Pemanahan belok ke arah timur menuju Sela, kita akan berkuda lurus mengikuti sungai Tuntang ini"


Kemudian merekapun bangkit berdiri, menghampiri kuda mereka, dan ketika mereka sudah berada dipunggung kuda, Pemanahanpun berkata :"Kanjeng Adipati, saya belok ke timur"

"Baik kakang Pemanahan, hati-hati dijalan" kata Adipati Hadiwijaya.

Kemudian kuda yang ditunggangi Pemanahanpun berlari ke timur menuju Sela.

Sesaat kemudian keempat orang itupun juga menjalankan kudanya menyusuri sungai Tuntang.

Mataharipun terus berjalan menuju cakrawala, empat ekor kuda itupun masih tetap berlari hingga lembayung senja membayang di langit sebelah barat.

Adipati Hadiwijaya menghentikan kudanya, diikuti oleh ketiga orang lainnya, dan ketika semua kuda telah berhenti kelelahan, penunggangnyapun turun, mencari tempat untuk membersihkan diri.

Jaka Wila membawa kuda-kuda itu ketepi sungai, lalu ditambatkannya pada sebatang pohon yang tumbuh tidak jauh dari sungai Tuntang.

Hadiwijaya kemudian masuk ke dalam air sungai, membersihkan dirinya, sedangkan ditempat terpisah agak jauh dari tempat itu, Penjawi, Mas Manca dan Jaka Wila juga membersihkan dirinya.


Malam itu, setelah makan bekal pemberian para santri Kadilangu, seorang adipati dan tiga orang pengikutnya beristirahat di tepi sungai Tuntang, tidur beratap langit serta bersandarkan pada sebatang pohon.

Malam yang dihiasi ribuan bintang terasa sangat indah, namun ke empat orang itupun tidak sempat menikmati keindahannya, karena mereka semua telah berkerudung kain panjang, terbuai dialam mimpi,

Malampun telah sampai ke ujungnya, semburat merah diufuk timur, bersaing dengan lintang panjer rina yang bersinar cemerlang, bintang timur, seakan-akan memancarkan kedip cahaya sekuat tenaganya, sebelum akhirnya redup terkalahkan oleh terangnya sinar matahari pagi.

Adipati Hadiwijaya beserta tiga orang pengikutnya segera membersihkan dirinya di sungai Tuntang dan bersiap meneruskan perjalanannya, dan beberapa saat kemudian, empat ekor kuda berlari menyusuri sungai Tuntang ke arah hulu, ke arah Rawa Pening.


Matahari telah merayap semakin tinggi, ketika mereka sampai dipertigaan yang menuju Sima.

Kuda Adipati Hadiwijaya berhenti diikuti oleh pengikutnya, lalu terlihat Jaka Wila mendekatkan kudanya ke Hadiwijaya.

"Bagaimana Kanjeng Adipati ?" tanya Jaka Wila.

"Ini Jalan simpang, yang ke kiri menuju Sima, sedangkan yang lurus menuju Rawa Pening, kau lewat yang lurus menuju Banyubiru, sedangkan aku bersama kakang Penjawi dan Mas Manca belok kekiri lewat Sima menuju Pajang" kata Adipati Pajang.

"Baik Kanjeng Adipati, saya sekarang akan berjalan lurus, menuju Banyubiru" kata Jaka Wila.

"Hati-hati Jaka Wila"

Jaka Wilapun menjalankan kudanya, lurus menuju Banyubiru, sedangkan Adipati Hadiwijaya bersama Penjawi dan Mas Manca membelokkan kudanya ke arah Sima.

Ketika memasuki hutan didekat Sima, kuda mereka tidak bisa lari cepat, terpaksa mereka menjalankan kudanya perlahan-lahan, bahkan kadang-kadang merekapun menuntunnya apabila melewati batang pohon yang roboh ditengah jalan.


Matahari telah condong ke barat, sebentar lagi akan menghilang di cakrawala, setelah beberapa kali beristirahat, sampailah Adipati Hadiwijaya di bumi Pajang.

Kuda-kuda masih berlari menuju ke arah bulak amba yang sekarang telah menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Pajang.

Wuragil dan Wenang berdiri menyambut kedatangan Adipati Hadiwijaya, mereka berdua berdiri didepan dalem kadipaten,

Kuda yang ditumpangi Hadiwijaya kemudian berhenti di depan dalem kadipaten, disusul oleh dua ekor kuda yang lain, kemudian Wuragil dan Wenang menghampiri Adipati Hadiwijaya yang telah turun dari kudanya.

Setelah berhadapan dengan Hadiwijaya, keduanya lalu mengucapkan selamat atas pegangkatannya sebagai Adipati Pajang,

"Terima kasih" kata Hadiwijaya.

Wenangpun maju memegang tali kendali kuda Hadiwijaya, lalu di bawanya kebelakang, setelah itu kuda-kuda yang lainpun juga dibawa kebelakang.


Malam itu, setelah membersihkan dirinya, Adipati Hadiwijaya beristirahat, baru keesokan harinya, Hadiwijaya mengumpulkan para sahabatnya di pendapa kadipaten,

"Ki Wuragil, kakang Penjawi, Mas Manca, dan kau Wenang" kata Hadiwijaya.

"Dawuh dalem Kanjeng Adipati" kata Wuragil.

"Diperjalanan kemarin, aku sudah berbicara dengan kakang Penjawi dan Mas Manca tentang rencana kedepan, tetapi aku belum membicarakan dengan Ki Wuragil dan Wenang" kata Adipati Hadiwijaya.

Semua yang hadir bersiap mendengarkan, terutama Wuragil dan Wenang yang tidak ikut ke kotaraja Demak.

"Ki Wuragil dan Wenang, setelah aku di wisuda menjadi Adipati Pajang dan mendapat layang kekancingan dari Kanjeng Sultan Trenggana, namaku sekarang adalah Hadiwijaya, dan aku merencanakan, empat hari lagi di Sasana Sewaka kadipaten Pajang ini, supaya diadakan pasewakan yang pertama bagi para bebahu diseluruh bumi Pajang" kata Adipati Pajang.

"Kemarin pagi, telah berangkat ke Pajang, lima belas orang prajurit dari kesatuan Wira Manggala, mereka akan membantu disini selama kita belum mempunyai prajurit sendiri, dan mereka akan tiba ditempat kita, kira-kira nanti sore" kata Adipati Hadiwijaya.


Setelah terdiam sejenak, maka Adipati Hadiwijaya melanjutkan :"Aku inginkan, sepasar setelah pasewakan para bebahu, Pajang sudah bisa mempunyai prajurit sendiri, dan untuk kepentingan para prajurit, maka kakang Pemanahan pulang sebentar ke Sela untuk mengambil seratus buah pedang pendek dan dua puluh bilah tombak yang akan digunakan untuk perlengkapan prajurit Pajang"

"Kekurangannya masih banyak, tetapi sebagian sudah dipesankan oleh Jaka Wila ke Banyubiru, dan aku harapkan Jaka Wila nanti sore sudah bisa kembali ke Pajang. Tetapi senjata yang dipesankan oleh Jaka Wila kepada pande besi Banyubiru ternyata juga masih kurang, dan untuk kekurangannya, ini adalah tugas dari Wenang" kata Hadiwijya selanjutnya.

Wenang mengangkat wajahnya, bersiap menjalankan perintah Adipati Hadiwijaya.

"Wenang, hari ini kau pergilah ke Butuh, pesankan ke pande besi di Butuh, untuk membuat lima puluh bilah pedang pendek beserta dua puluh bilah tombak, katakan kepada pande besi, pesanan ini supaya diselesaikan secepatnya" kata Kanjeng Adipati.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" jawab Wenang.

"Selain itu, dalam rangka lamaran dan pahargyan pengantin diajeng Sekar Kedaton, tolong sampaikan kepada Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, agar supaya mereka bisa ikut mendampingiku ke kotaraja Demak, tiga pasar setelah pisowanan agung kemarin"

"Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang aku harapkan bisa hadir sehari sebelum acara lamaran, dan nanti menginap di pesantren Kadilangu, Ki Ageng berdua sudah ditunggu oleh Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Adipati Hadiwijaya.

"Sendika dawuh Kanjeng Adipati" kata Wenang menyanggupi perintah Sang Adipati.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita