Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 25 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 25 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Selain aji Lembu Sekillan, Karebetpun mempunyai beberapa aji jaya kawijayan dari berbagai perguruan, dan telah beberapa kali dipergunakan untuk menghadapi lawan.

"Tugasmu sebagai Adipati Pajang cukup berat, selama Sultan Trenggana masih hidup, kau dalam keadaan aman, tetapi kalau Sultan Trenggana sudah meninggal, kedudukanmu sebagai Adipati Pajang terancam, karena kau juga berhak mewarisi tahta meskipun hanya sebagai putra menantu Sultan Demak" kata uwanya.

"Nanti apabila terjadi sebuah pergantian Sultan Demak, tidak semudah membalik telapak tangan, karena keturunan Pangeran Sekar Seda Lepen juga merasa berhak atas tahta Demak". kata Ki Kebo Kanigara.

"Ya wa, Arya Penangsang tidak akan mudah melupakan haknya untuk menjadi seorang Sultan di Demak karena Penangsang adalah cucu Raden Patah" kata Karebet.

"Kau tidak usah nggege mangsa tentang tahta Demak, diatasmu masih ada Sunan Prawata dan Pangeran Hadiri, merekalah yang saat ini berada di urutan teratas pewaris tahta Demak" kata Kebo Kanigara.

Karebet menganggukkan kepalanya, dia mengerti dan memahami sepenuhnya perkataan dari uwanya Kebo Kanigara.


Pembicaraan terhenti sebentar karena pembantunya yang setia membawakan sebutir kelapa muda.

"Minum dulu ngger Karebet" kata pembantunya, Ki Purwa sambil meletakkan kelapa muda di depan Karebet.

"Terima kasih wa" jawab Karebet.

Setelah meletakkan buah kelapa muda, pembantunyapun kemudian berjalan menuju ke halaman, memberi makan dan minum kuda yang dibawa oleh Karebet.

"Nah Karebet, sekarang kau cerita mengenai dirimu, berkaitan kau dipanggil menghadap Sultan Trenggana kemarin dulu" kata uwanya.

Karebet menggeser duduknya, lalu iapun berkata :"Ya wa, saya kemarin dipanggil menghadap Kanjeng Sultan di Kraton, membicarakan rencana pelantikan Adipati Pajang dan Jipang, yang akan diadakan nanti pada pisowanan agung pada hari Anggara Kasih, sekitar tiga pasar lagi".

Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, sambil mendengarkan penuturan Karebet

"Pada saat menghadap Kanjeng Sultan, saya bertemu dengan Arya Penangsang wa" kata Karebet.

"Kau bertemu dengan Penangsang ?" tanya Kebo Kanigara.

"Ya wa" jawab Karebet.

Kebo Kanigarapun berkata lagi :"Kalau kau bertemu Penangsang, kau harus hati-hati Karebet, kau harus waspada, bagaimanapun juga Penangsang adalah seorang yang berilmu tinggi"

"Ya wa, kami hanya berpapasan saja"

"Lalu apa rencanamu untuk menghadiri pisowanan agung nanti ?" tanya uwanya.

"Saya akan berangkat dari Pajang bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, lalu menginap di Kadilangu wa, lalu esok paginya bersama dengan Kanjeng Sunan Kalijaga, menghadiri pisowanan agung di Sasana Sewaka" kata Karebet.

"Ya, mudah-mudahan kau tidak mengalami kesulitan untuk menghadiri Pisowanan Agung, jangan lupa kau pakai keris Naga Siluman yang telah aku berikan kepadamu" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, nanti setelah pisowanan agung, dua tiga pasar selanjutnya, dilanjutkan dengan acara melamar Sekar Kedaton, serta acara pahargyan pengantin, apakah siwa bisa menghadiri acara itu dan datang sebagai pengganti ayahanda Kebo Kenanga ?" tanya Karebet.


Kebo Kanigara tidak menjawab, hatinya bimbang, teringat akan adiknya Kebo Kenanga yang telah dibunuh oleh Sunan Kudus atas perintah Kanjeng Sultan Demak

"Wa, Kanjeng Sultan pernah berkata kepadaku, bahwa persoalan ayahanda Ki Ageng Pengging telah selesai, jadi tidak ada masalah kalau siwa ikut ke Kraton" kata Karebet.

"Ya, itu aku juga sudah tahu, baik Karebet, akan aku pertimbangkan, apakah aku akan muncul sekali-sekali didepan umum atau tetap seperti ini" kata uwanya.

"Terima kasih wa, kemudian saya ingin membangun rumah kesatrian yang akan saya bangun dibelakang dalem kadipaten, saya bermaksud mengajak Sutawijaya tinggal di Pajang wa, supaya Tombak Kanjeng Kyai Plered bisa disimpan di Pajang" kata Karebet sekanjutnya.

"Ya, jadi untuk keperluan itu kau singgah di Pengging?" tanya Ki Kebo Kanigara.

"Ya wa, tadinya saya akan langsung menuju Pajang, tapi saya belokkan ke Pengging untuk mencari tukang kayu yang akan membangun sebuah rumah kesatrian"

"Kau akan menyuruh orang atau akan mencari sendiri?" tanya uwanya.

"Nanti saya menemui Truna Ompak wa" kata Karebet.


Keduanya kemudian berbincang berdua sambil makan ubi dan minum wedang jahe dan kelapa muda.

"Ubinya dimakan Karebet" kata uwanya.

"Ya wa" kata Karebet , tangannyapun kemudian mengambil sebuah ubi rebus.

Selepas tengah hari, Karebet kemudian pamit keluar, mengambil kudanya dan melarikannya menuju dekat umbul Pengging, dan beberapa saat sebelum sampai di umbul Pengging, Karebetpun berbelok menuju kesebuah rumah.

Dirumah itu, di sudut halaman dibawah sebatang pohon, Karebetpun berhenti kemudian turun dari kudanya, menambatkannya pada dahan pohon lalu mendekati seseorang yang sedang membuat ompak.

"Truna Ompak" kata Karebet

"Kita ketemu lagi calon Adipati Pajang" kata Truna Ompak sambil tertawa.

Karebetpun tertawa lalu iapun berkata :"Aku masih butuh bantuanmu Truna, aku akan membangun beberapa buah rumah lagi, kau segera persiapkan ompaknya"

"Baik, akan aku buatkan ompaknya, kau bisa utusan orang kemari, tidak perlu harus menemui aku disini" kata Truna Ompak.


"Kebetulan aku pulang kerumahku, Truna, coba kau cari dua tiga orang tukang yang bisa membangun rumah di Pajang" kata Karebet.

"Baik, besok aku akan datang ke Pajang dengan tukang dari Pengging seperti yang kau pesan itu" kata Truna Ompak.

"Ya aku tunggu di Pajang" kata Karebet :"Rumah yang akan dibangun nantinya tidak terlalu besar, lebih kecil daripada dalem Kadipaten yang baru dibangun"

"Baik, aku akan membuat semua ompak yang kau butuhkan untuk membangun beberapa rumah" kata Truna Ompak.

"Dua candra yang lalu, setelah kau menyelesaikan pembuatan ompak dalem kadipaten, apakah kau masih terus membuat ompak sampai sekarang?" tanya Karebet.

"Ya, itu dibelakang rumah ada belasan ompak yang sudah siap pakai, nanti bisa segera aku bawa ke Pajang, dengan menggunakan pedati" kata Truna Ompak dan iapun menyanggupi akan segera membawa ompak-ompak yang sudah jadi, ke Pajang.

"Kau bawa juga dua orang tukang gali sumur yang ada di Pengging, untuk membuat sumur di halaman belakang dalem Kadipaten"

"Baik, besok tukang gali sumur akan saya ajak ke Pajang" kata Truna Ompak.

"Ya" kata Karebet.

"Selain itu beberapa hari ini hampir semua perbincangan para pemuda Pengging adalah mengenai akan diadakannya pendadaran untuk menjadi prajurit Pajang" kata Truna Ompak.


Karebetpun kemudian menganggukkan kepalanya, ternyata Pemanahan atau yang lainnya sudah mengadakan wara-wara mengenai akan diadakannya pendadaran untuk menjadi prajurit Pajang. "Lalu apakah ada yang berminat menjadi prajurit Pajang ?" tanya Karebet.

"Banyak, banyak sekali pemuda Pengging yang akan ikut pendadaran di Pajang" jawab Truna Ompak.

Sejenak Karebet masih masih berbincang-bincang, dan beberapa saat kemudian iapun pamit akan kembali kerumahnya.

Karebetpun kemudian berjalan menghampiri kudanya, mengambil tali kendali lalu iapun naik kepunggung kudanya, lalu sesaat kemudian iapun menjalankannya kembali menuju kerumah peninggalan ayahnya, Ki Ageng Pengging.

Waktupun terus berjalan, matahari telah condong kebarat, di pendapa rumah peninggalan Ki Ageng Pengging, Karebet pamit kepada uwanya Kebo Kanigara akan kembali ke dalem Kadipaten di Pajang.

"Karebet, nanti pada waktu pelantikanmu sebagai Adipati, aku akan mengamatimu dari luar, kemudian tentang perkawinanmu, beri aku waktu untuk memikirkannya, mudah-mudahan aku bisa mendampingimu meskipun aku harus bertemu dengan Sultan Trenggana" kata Kebo Kanigara.

"Ya wa, terima kasih" kata Karebet.

"Hati-hati dijalan" kata Ki Kebo Kanigara.

Karebetpun kemudian keluar dari pendapa, naik ke punggung kudanya dan tak lama kemudian seekor kuda keluar dari halaman rumah peninggalan Ki Ageng Pengging dengan Karebet duduk diatas punggungnya.

Kuda Karebet berlari dengan meninggalkan debu yang beterbangan di belakang kakinya.

Jarak yang tidak begitu jauh, jalan setapak yang dilaluinya sudah rata dan hanya sedikit menurun tanpa adanya tanjakan terjal, menyebabkan perjalanan Karebet menjadi lancar dan tak lama kemudian iapun hampir sampai di Pajang.


Ketika sinar matahari sudah berubah kemerahan menjelang lembayung senja, Karebetpun tiba di dalem Kadipaten, dan disanapun sudah berkumpul menyambutnya, Majasta bersama rombongannya dari Banyubiru, Pemanahan dan Penjawi, Wenang dan adapula disana Lurah Wiguna.

Karebetpun turun dari kudanya, Wenangpun dengan cepat memegang kendali kudanya dan membawa ke halaman samping gubug.

"Nanti aku akan cerita, sekarang aku akan membersihkan badanku dulu" kata Karebet dan iapun kemudian pergi ke sungai dan iapun segera membersihkan dirinya.

Malam harinya, dibawah cahaya lampu kecil yang berisi lemak binatang, beberapa orang berkumpul di pendapa duduk diatas tikar yang dibuat dari daun kelapa.

"Ketika aku menghadap Kanjeng Sultan" Karebet mulai bercerita :"Ternyata hampir bersamaan dengan datangnya Penangsang yang juga dipanggil menghadap Kanjeng Sultan."

"Besok pada hari Anggara Kasih, akan diadakan Pisowanan Agung, aku akan dilantik menjadi Adipati Pajang sedangkan Arya Penangsang akan diangkat sebagai Adipati Jipang" kata Karebet.


Mereka mendengarkan dengan sungguh-sungguh kalimat yang diucapkan Karebet.

"Nanti pada saat Pisowanan Agung, kakang Pemanahan dan Kakang Penjawi aku ajak ke kotaraja menemani aku di Sasana Sewaka, sedangan Mas Manca dan Jaka Wila juga ikut, tetapi menunggu di luar Kraton" kata Karebet.

"Ki Wuragil dan Wenang tetap disini, mengawasi para pekerja, sedangkan Ki Majasta, apakah Ki Majasta jadi pulang besok pagi ?" tanya Karebet.

"Ya, besok pagi aku akan pulang ke desa Majasta" kata Majasta.

"Baik Ki Majasta, lalu selanjutnya, tadi siang aku menemui Truna Ompak di rumahnya, ompak-ompak yang akan dipakai untuk landasan beberapa rumah yang akan kita bangun sebagian sudah tersedia, tinggal membawa ke Pajang. Besok akan datang beberapa tukang gali sumur dari Pengging, mereka akan menggali sumur di halaman belakang dalem Kadipaten" kata Karebet.

"Selanjutnya, aku akan membuat sebuah rumah Kesatrian di bagian belakang yang akan dibangun oleh tukang dari Pengging, nanti Wenang untuk sementara akan tinggal disana"

"Baik kakangmas" kata Wenang.

"Kakang Pemanahan, bagaimana dengan rencana pendadaran untuk para calon prajurit Pajang yang akan kita adakan lusa ?" tanya Karebet.

"Ya, kita sudah menghubungi para bebahu di Pajang, Butuh dan Pengging, ternyata banyak pemuda yang berminat menjadi prajurit Pajang" kata Pemanahan.

"Ya, nanti kita akan melatih mereka menjadi para prajurit yang tangguh, masih ada yang perlu di bicarakan lagi ?" tanya Karebet.


"Ya," kata Lurah Wiguna :"Besok pagi rombonganku akan pulang ke kotaraja, karena pekerjaan membuat dalem Kadipaten dan ruang pisowanan sudah selesai".

"Ya Ki Lurah, aku berterima kasih Ki Lurah selama tiga candra telah membuatkan aku sebuah dalem Kadipaten" kata Karebet.

"Ah, itu semua sudah tugasku" kata Ki Lurah Wiguna :"Membangun dalem Kadipaten Pajang adalah tugas yang diberikan oleh Kanjeng Sultan kepadaku"

Kemudian merekapun berbincang mengenai beberapa hal seputar pembangunan Kadipaten Pajang.

"Sebelum Pajang mendapat pasokan bahan makanan asok bulu bekti dari para bebahu desa-desa diseluruh Pajang, untuk keperluan makan, bahan makanan tetap akan dikirim dari Pengging dan dari Tingkir, sedangkan untuk tukang adangnya, nanti kita ambilkan tukang adang dari Pajang" kata Karebet menjelaskan.

"Nanti aku akan singgah ke Banyubiru, dan aku akan minta Ki Buyut Banyubiru untuk mengirim tambahan tukang dan mengirim bahan makanan ke Pajang" kata Majasta..

"Terima kasih Ki Majasta" kata Karebet :" Malam ini aku tidak tidur didalam gubug, tetapi aku mulai tidur di ruang tidur dalem Kadipaten" kata Karebet.


Malam itu, setelah lama berbincang, maka merekapun kembali ke gubug, Karebetpun masuk kedalam kamarnya, tidur diatas amben yang baru saja dibuat oleh tukang kayu, sebuah amben yang sederhana.

"Amben ini tidak pantas untuk tidur diajeng Sekar Kedaton" kata Karebet dalam hati, tetapi diapun tidak bisa berbuat banyak, semua tukang yang ada telah berbuat yang terbaik untuk Kadipaten Pajang.

Tak terasa tengah malampun menyapa bumi Pajang. Kentongan yang tergantung di sudut pendapa yang baru saja dibuat oleh salah seorang tukang dari Tingkir, telah ditabuh dengan nada dara muluk.

"Sudah tengah malam, siapa yang memukul kentongan?" tanya Karebet dan pertanyaan itupun telah dijawabnya sendiri. "Mungkin Wenang"

Kembali malam menjadi sepi, dan tanpa terasa malampun telah sampai ke ujungnya, dan dimulailah sebuah hari baru yang diawali dengan seberkas sinar merah di arah bang wetan.

Semua isi bumi Pajang terbangun, tak terkecuali Lurah Wiguna beserta semua rombongan dari kotaraja Demak, dan merekapun bersiap-siap pulang ke kotaraja dengan berjalan kaki, tiga ekor kuda yang mereka bawa untuk membawa beban sewaktu berangkat, tidak mereka bawa pulang, karena kuda itu telah di berikan kepada Kadipaten Pajang.


Demikian juga dengan Majasta, iapun telah bersiap untuk pulang, tetapi ia akan singgah ke Banyubiru untuk minta tambahan bahan pangan kepada Ki Buyut Banyubiru.

Di depan pendapa kadipaten Pajang semuanyapun berkumpul, lalu Lurah Wigunapun minta diri, akan kembali ke kotaraja Demak.

"Sekali lagi, terima kasih kepada Ki Lurah Wiguna beserta semua rombongan dari kotaraja" kata Karebet.

"Aku juga mohon pamit, akan kembali ke Majasta" kata Majasta.

"Terima kasih Ki Majasta" kata Karebet.

"Adi Wuragil, Mas Manca dan kau Jaka Wila, aku pulang dulu" kata Majasta.

"Baik kakang Majasta, jangan lupa kirim tambahan tukang dari Banyubiru" kata Wuragil.

"Baik" kata Majasta menyanggupi.

Tak lama kemudian rombongan dari kotaraja yang dipimpin oleh Lurah Wiguna, telah berjalan meninggalkan dalem Kadipaten Pajang.

Mereka berjalan bersama-sama menuju arah utara, setelah tiga candra mereka bekerja membangun dalem Kadipaten Pajang.


Yang ditinggal di Pajang, masih disibukkan pembuatan beberapa rumah lagi, tukang dari Tingkir masih mengerjakan beberapa pekerjaan di dalem Kadipaten, sedangkan tukang dari Sela bersama Pemanahan dan Penjawi sibuk menebang pohon di hutan jati, untuk keperluan pembangunan dua buah rumah yang akan mereka bangun.

"Tenyata kita masih perlu tambahan beberapa tukang lagi adi Penjawi" kata Pemanahan kepada Penjawi.

"Ya kakang, tetapi sebelum ada penambahan lagi tukang dari Sela, pembuatan rumah untuk kita, kita kerjakan semampu tukang kita" kata Penjawi, sambil terus mengayunkan kapaknya memotong pohon jati didalam hutan.

Pemotongan pohon jati yang dilakukan oleh Pemanahan dan Penjawi menjadi agak lebih mudah karena ukuran rumah yang akan mereka bangun, lebih kecil dari ukuran dalem Kadipaten Pajang.


Di dalem Kadipaten setelah lewat tengah hari, Truna Ompak datang bersama dua orang tukang dari Pengging, dan Karebetpun memerintahkan kepada Wenang untuk menemani tukang yang akan membangun dalem kesatrian.

Demikianlah, hari itu orang-orang masih disibukkan dengan kerja membangun beberapa rumah di Kadipaten Pajang.

Keesokan harinya, dalem Kadipaten Pajang disibukkan oleh kedatangan pemuda-pemuda dari daerah Pajang, Pengging dan Butuh, yang ingin mengikuti pendadaran menjadi calon prajurit Wira Tamtama.


Lebih dari tiga ratus pemuda telah memenuhi tanah lapang di depan dalem Kadipaten, dan diterima oleh Mas Manca, Jaka Wila, dan Wenang. Ketiganya mencatat nama-nama pemuda yang ikut dalam pendadaran calon prajurit Pajang.

Merekapun dibagi menjadi tiga bagian, Mas Manca, Jaka Wila maupun Wenang masing-masing mengajak lebih dari seratus orang untuk berlari-lari.

"Untuk mengikuti pendadaran ini, kalian semua akan kami ajak untuk berjalan, berlari, berenang dan beberapa kegiatan yang lain, bagi yang tidak kuat, jangan dipaksakan, kalian dipersilakan untuk kembali" kata Mas Manca.

Mas Mancapun lalu mengajak mereka berlari-lari menuju arah barat, sedangkan Jaka Wila menuju arah timur, Wenangpun juga mengajak berlari menuju arah utara.

Satu dua orang yang tidak kuat berlari, telah berhenti dan melupakan impian mereka untuk menjadi seorang prajurit.


Menjelang tengah hari semuanya telah kembali di depan dalem Kadipaten, lalu Mas Mancapun meminta mereka untuk datang dua hari lagi untuk melanjutkan rangkaian pelaksanaan pendadaran selanjutnya.

Keesokan harinya, Pemanahan, Penjawi dan Wuragil telah memotong beberapa pohon jati yang ukurannya agak kecil, tidak sebesar kayu yang dipergunakan untuk membuat kayu saka dalem Kadipaten.

Beberapa kayu yang sudah dipotong, oleh Mas Manca bersama Jaka Wila dan Wenang, dibantu dengan beberapa tukang, telah diangkat dan diseret beramai-ramai, dibawa ke bulak amba, dan ditempatkan di beberapa tempat yang akan dibangun beberapa rumah.

Disamping para tukang, ada juga beberapa orang Pajang yang bekerja membantu pemotongan pohon maupun pembangunan rumah di bulak amba dan beberapa orang Pajang lainnya juga bekerja sebagai tukang adang.

Hari itu, disamping membawa kayu ke bulak amba, mereka juga disibukkan dengan memotong banyak sekali pohon-pohon jati yang mempunyai ukuran kecil, diletakkan dipinggir hutan, sehingga besok pagi tinggal membawa kayu-kayu itu ke bulak amba.


Demikianlah, mereka terus bekerja, membangun beberapa rumah di sekitar dalem kadipaten Pajang, dan mereka juga melakukan kelanjutan pendadaran bagi para calon prajurit Pajang.

Lebih dari tiga ratus orang pemuda yang mengikuti pendadaran, lebih dari dua ratus orang yang telah dinyatakan lulus, dan puluhan pemuda dinyatakan gagal, sehingga harus melupakan angan-angannya untuk menjadi prajurit Pajang.

Para pemuda yang telah lulus pendadaran, setiap hari dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Wenang dan Jaka Wila. Mereka masih belum dibagi menjadi beberapa kesatuan prajurit, hanya beberapa belas orang telah dipilih dan dilatih secara khusus oleh Ki Pemanahan untuk menjadi pasukan sandi kadipaten Pajang.

Calon pasukan sandi Kadipaten Pajang, disamping dilatih olah kanuragan, juga dilatih cara-cara menyusup ke daerah musuh, dan dilatih cara mencari berita di daerah lawan.

Demikianlah beberapa hari telah berlalu, dan hari pisowanan agung, pada hari Anggara Kasih menjadi semakin dekat.


Karebetpun mempersiapkan dirinya dengan sebaik-baiknya, pakaian terbaiknya telah disiapkan, bahkan Keris Kyai Naga Siluman yang berada didalam kotak miliknyapun telah diambilnya dari atas pohon beringin dan saat ini telah disimpan didalam kamarnya.

Ketika waktu pisowanan agung masih kurang tiga hari lagi, Karebetpun telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke kotaraja Demak.

Di malam hari, sebelum keberangkatan mereka esok pagi, iapun mengumpulkan semua sahabat-sahabatnya di pendapa, di bawah nyala pelita kecil yang apinya terus bergerak terkena semilir angin malam.

"Besok pagi kita berlima berangkat setelah matahari terbit" kata Karebet.

"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi nanti ikut masuk di pisowanan agung yang bertempat di Sasana Sewaka, sedangkan Mas Manca dan Jaka Wila menunggu diluar Kraton" kata Karebet,

"Malam harinya kita menginap di jalan, sedangkan malam selanjutnya kita menginap di pesantren Kadilangu, di tempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet.

"Ki Wuragil dan Wenang masih tetap melatih para calon prajurit Pajang, sedangkan para tukang tetap bekerja membangun rumah dibantu oleh beberapa pembantunya yang berasal dari Pajang" lanjut Karebet.


Kemudian merekapun masih berbincang sampai larut malam dan tak terasa haripun telah berganti, mataharipun telah bersinar, saat itu didepan dalem Kadipaten Pajang telah besiap lima orang yang akan berangkat menuju kotaraja Demak.

Di pelana kuda mereka, tergantung sebuah bungkusan yang berisi pakaian terbaik yang mereka miliki, serta sebuah keris yang akan mereka pakai untuk kelengkapan pakaian mereka.

Disamping itu ada sebuah bungkusan yang berisi bekal makanan dan sebuah bumbung kecil berisi air minum.

"Ki Wuragil dan kau Wenang" kata Karebet :"Kami berangkat sekarang, hati-hati, jaga dalem Kadipaten sebaik-baiknya"

Karebet lalu naik ke punggung kudanya, demikian juga keempat sahabatnya, mereka semua naik ke punggung kuda, lalu merekapun menjalankan kudanya menuju kotaraja Demak, diikuti tatapan mata dari Wuragil dan Wenang beserta orang-orang yang berada didepan kadipaten.

Perlahan-lahan kelima ekor kuda berjalan meninggalkan dalem kadipaten, berlari-lari kecil, membawa penunggangnya ke empat orang yang ikut mukti ingin menjadi nayaka praja kadipaten Pajang, sedangkan yang seorang, sedang nggayuh kamukten tertinggi, yang nasibnya telah dikatakan oleh seorang Wali yang berpakaian serba wulung ketika ia sedang menunggu padi gaga di sawah, bahwa dia akan menjadi seorang raja.


Saat ini penunggang kuda yang sedang nggayuh kamukten, Karebet, pemuda yang diramal oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, dua hari lagi akan segera dilantik menjadi Adipati Pajang, yang bisa dijadikan sebuah pancadan untuk meraih kamukten yang lebih tinggi lagi, raja di tanah Jawa.

Matahari belum begitu tinggi memanjat langit, ketika lima ekor kuda berderap meninggalkan Pajang melewati daerah di sebelah timur gunung Merapi.

Debu mengepul dipagi hari, dibelakang kaki lima ekor kuda yang berlari menuju ke arah utara.

Ketika lima ekor kuda telah sampai di hutan Sima, kudapun tidak bisa di pacu, pepohonan menjadi sedikit agak rapat. Mataharipun telah sampai dipuncak langit, dan Karebetpun mengajak sahabatnya untuk beristirahat, makan bekal yang mereka bawa dan memberi minum kuda-kuda mereka yang kelelahan.

"Kita beristirahat di dekat belik di tepi sungai kecil di hutan Sima" kata Karebet.

Ketika kuda-kuda mereka telah tiba di dekat belik yang terletak ditepi sungai kecil, maka para penunggangnyapun semua turun, Mas Manca dan Jaka Wilapun kemudian memegang tali kendali kuda-kuda itu, serta membawanya ke tepi sungai.

Kuda-kuda itupun kemudian diberi minum, setelah itu kendali kudanyapun diikatkan pada sebuah dahan pohon.


Setelah semua kuda telah tertambat pada dahan pohon disekitar sungai, maka Mas Manca dan Jaka Wila kemudian ikut beristirahat dibawah sebatang pohon yang rindang bersama yang lainnya.

Mereka berlimapun duduk dan membuka bekal masing-masing, perut yang lapar ditambah sejuknya duduk dibawah pohon yang rindang, membuat mereka makan dengan lahapnya.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan, merekapun minum air yang berada didalam bumbung-bumbung kecil yang mereka bawa.

"Perut sudah kenyang, aku jadi mengantuk" kata Mas Manca

"Ah kau" sahut Jaka Wila.

"Aku masih haus" kata Mas Manca, kemudian iapun menghabiskan air yang berada didalam bumbungnya.

"Kalau airnya habis, bumbungnya akan aku isi air di belik itu" kata Jaka Wila, lalu mengumpulkan bumbung-bumbung yang telah kosong, kemudian dibawanya ke belik di dekat sungai lalu diisinya dengan air belik.


Beberapa saat mereka beristirahat, setelah dirasa cukup maka Karebetpun mengajak yang lainnya untuk meneruskan perjalanannya.

Maka kembali lima ekor kuda berlari di jalan hutan di daerah Sima, dan tak tak lama kemudian sampailah rombongan itu di tepi sungai Tuntang. Beberapa kali mereka menuntun kudanya menyeberangi sungai kecil yang menghadang perjalanannya, beberapa kali pula mereka berhenti memberi kesempatan kuda mereka untuk makan dan minum.

Ketika matahari hampir tenggelam di cakrawala barat, mereka bertemu dengan sebuah kali kecil, kemudian rombongan dari Pajang memutuskan untuk beristirahat ditempat itu.

Setelah menambatkan kudanya, maka merekapun membersihkan dirinya disungai kecil, dan malam harinya, didepan nyala perapian, mereka membakar beberapa jagung yang masih muda. Tak banyak yang mereka bicarakan, angan-angan merekapun masing-masing telah melayang-layang dan berputar-putar ke seluruh bumi Demak.

Ketika malam semakin larut, perapianpun sudah padam, merekapun tidur bersandar pada pohon ditepi jalan, beratap langit berselimut mega.

Rasa dingin yang menyerang menusuk sampai ke tulang, mereka tahan dengan memakai selembar dua lembar kain panjang yang telah mereka bawa..


Disekitar mereka, hanya terdengar suara cengkerik, diselingi suara burung malam, kadang-kadang juga terdengar suara dari kepak sayap beberapa ekor kelelawar yang sedang mencari buah-buahan yang berada di beberapa pohon disekitar sungai Tuntang.

Setelah lewat tengah malam terdengar beberapa kali kokok ayam alas, yang jaraknya agak jauh dari tempat istirahat mereka.

Setelah fajar menyingsing, suara burung liar yang bersahutan di beberapa pohon telah menghiasi udara pagi yang dingin di tepi sungai Tuntang.

Merekapun semua bangun, lalu membersihkan dirinya di tepi sungai kecil, yang melintang di jalan yang akan dilaluinya nanti.

Ketika udara mulai terasa hangat, lima orang dari Pajang telah berada diatas punggung kuda menuju arah utara.

"Sebelum tengah hari, kita sudah berada di Kadilangu" kata Karebet.

"Ya" kata Pemanahan.

"Saat ini kita belum mencapai daerah Godong, nanti setelah sampai di daerah Godong, kotaraja Demak sudah terasa dekat" kata Penjawi.


Merekapun melarikam kudanya, matahari semakin tinggi ketika kaki-kaki kuda yang mereka kendarai telah menginjak daerah Godong.

Kuda-kudapun masih tetap berlari dan ketika menjelang tengah hari, dari jauh daerah Kadilangu telah kelihatan.

"Itu Kadilangu, kita bisa sampai disana sebelum tengah hari" kata Karebet sambil tangannya menuding arah ke Kadilangu.

Tak lama kemudian merekapun telah sampai di pintu gerbang pesantren Kadilangu, disambut oleh beberapa santri yang berada didepan pintu.

Karebetpun mengucap salam, dan dijawab oleh para santri Kadilangu.

Beberapa orang santri mendekat dan memegang kendali kudanya, untuk dirawat di halaman samping.

"Kanjeng Sunan Kalijaga telah menunggu kedatangan kalian di ruang dalam" kata salah seorang santri kepada Karebet.

"Ya, kami datang tepat waktu" kata Karebet sambil turun dari kudanya, dan diikuti oleh semua orang dalam rombongannya.

"Silahkan masuk, Kanjeng Sunan berada di dalam" kata santri yang menyambutnya.


Kemudian Karebet dan semua orang dalam rombongan mencuci kakinya di jambangan samping rumah lalu merekapun masuk kedalam ruang dalam, tempat Kanjeng Sunan Kalijaga telah menanti kedatangan mereka.

Didepan pintu mereka mengucap salam dan terdengar ada orang yang menjawab salam mereka dari dalam ruangan.

"Masuklah Karebet" kata suara dari dalam ruangan, suara Kanjeng Sunan Kalijaga.

Karebetpun masuk kedalam ruangan, diikuti oleh keempat sahabatnya, dan terlihat didalam ruangan, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk diatas tikar.

Kemudian Karebet dan para sahabatnya menyalami Kanjeng Sunan Kalijaga, dan setelah itu merekapun duduk bersila didepan Kanjeng Sunan.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita