Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 24 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 24 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan Trenggana.
"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.
"Dalam pertempuran di Panarukan nanti, seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Tamtama dan seorang Tumenggung dari kesatuan Wira Braja juga akan menjadi Senapati Pengapit pasukan Demak" kata Kanjeng Sultan. "Penangsang dan Karebet tidak perlu ikut bertempur di Panarukan, biarlah mereka menata kadipatennya yang baru mulai tumbuh, demikian juga anakku yang sulung Pangeran Arya yang sekarang bernama Sunan Prawata serta Pangeran Hadiri atau Pangeran Kalinyamat, biarlah mereka tinggal dipesanggrahannya masing-masing" kata Kanjeng Sultan selanjutnya.
"Perkiraan kita berangkat menggempur Panarukan sekitar satu candra setelah pahargyan pengantin Sekar Kedaton. Mulai sekarang Tumenggung Siung Laut, aku harap kau terus memantau perbaikan perahu-perahu yang akan kita pergunakan nanti" lanjut Kanjeng Sultan.
"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.
"Mulai sekarang Tumenggung Gajah Birawa supaya merencanakan pasukan dari daerah mana yang akan ditarik ke kotaraja, dan akan ikut dalam pertempuran ke bang wetan"
"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" jaab Ki Tumenggung.
 "Ya kali ini cukup sekian, Tumenggung Gajah Birawa, persiapkan pisowanan agung, pahargyan pengantin serta rencana boyongan Sekar Kedaton ke kadipaten Pajang yang hanya berjarak beberapa hari saja. Setelah itu baru kita beragkat ke Panarukan. Sekarang silakan kalian kembali ketempatmu" perintah Kanjeng Sultan
Kedua orang Tumenggung itu menyembah, lalu bergeser ke pintu dan segera keluar dari ruangan dalam.
Sementara itu, dipenjagaan kaputren, seorang prajurit Wira Tamtama, Tumpak, sedang berbincang dengan sahabatnya, Karebet.
"Kau belum cerita Karebet, kenapa kau dipanggil Kanjeng Sultan" tanya Tumpak setelah Karebet didekatnya.
"Tumpak, dengarkan baik-baik kenapa hari ini aku dari Pajang dipanggil menghadap Kanjeng Sultan di kotaraja Demak" kata Karebet.
Tumpakpun diam bersiap mendengarkan kalimat yang akan dikatakan oleh Karebet.
"Dengarkan, aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan karena...."
"Karena apa?" tanya Tumpak.
"Karena Kanjeng Sultan rindu padaku" kata Karebet.
Tumpakpun tertawa dan iapun berkata :"Ah kau, padahal tadi aku sudah bersungguh-sungguh mendengarkan perkataanmu".
Karebetpun ikut tertawa, kemudian iapun berkata :"Besok pada hari Anggara Kasih, akan ada pisowanan agung"
"Ya, aku sudah tahu" kata Tumpak.
"Kau ikut pisowanan di Sasana Sewaka ?" tanya Karebet.
"Tidak, hanya yang berpangkat lurah keatas yang ikut pisowanan agung, aku yang hanya seorang prajurit tentu akan ikut pisowanan, tetapi aku akan berada diluar, lalu ada apa dengan pisowanan agung?".
"Nanti dalam pisowanan agung aku.." kata karebet tidak dilanjutkan.
"Kau akan diangkat menjadi adipati Pajang" kata Tumpak memotong kata-kata Karebet..
"Darimana kau tahu ?" kata Karebet.
"Tebakanku pasti betul" kata Tumpak bangga.
Karebetpun mengangguk kecil.
"Betul, tebakanmu betul, aku akan dilantik menjadi adipati Pajang, bersama raden Penangsang yg dilantik menjadi Adipati Jipang" kata Karebet.
"Sebetulnya aku iri dengan kau Karebet" kata Tumpak.
"Iri ?" Karebetpun heran dengan perkataan Tumpak.
"Ya, aku yang lebih dulu menjadi prajurit Wira Tamtama dibandingkan dengan kau, tetapi kau bisa lebih dulu menjadi seorang lurah prajurit, sekarang kau malah akan diangkat menjadi adipati Pajang" kata Tumpak.
"Kaupun bisa seperti aku, Tumpak" kata Karebet.
"Tidak, aku tidak akan berani melawan seekor buaya besar didalam air, tidak berani melawan seekor macan gembong, dan tidak berani melawan Klabang Ijo maupun Klabang Ireng seorang lawan seorang" jawab Tumak sambil tersenyum.
"Ya" kata Karebet.
"Melawan seekor buaya ataupun seekor macan gembong, dengan menggunakan senjatapun aku belum tentu menang, apalagi tidak menggunakan senjata apapun, tetapi kalau melawan seekor kerbau gila yang mengamuk diperkemahan aku berani, maksudku aku berani melawan kalau bersama puluhan prajurit yang lain" kata Tumpak.
"Ada beberapa orang prajurit telah terluka terkena tanduknya" desis Karebet perlahan.
"Kerbau itu memang gila, pedangku pernah sekali mengenai perutnya, tetapi ternyata tubuhnya kebal, kulitnya terlalu liat. Untung saat itu Kanjeng Sultan melihatmu, lalu dipanggil untuk membunuh kerbau itu, lalu kau pukul kepala kerbau itu hingga terbakar" kata Tumpak.
"Hanya kebetulan, kerbau itu memang kasihan kepadaku, memberi kesempatan padaku untuk kembali menjadi Lurah Wira Tamtama" kata Karebet.
Tumpakpun tertawa, lalu iapun berkata :"Sampai sekarang aku masih heran, kenapa tiba-tiba ada seekor kerbau yang muncul dan mengamuk di perkemahan Kanjeng Sultan, padahal selama ini, tidak ada seekor binatangpun yang berani mendekat ke pekemahan pemburu"
"Harusnya dulu kau tanyakan kepada kerbaunya, kenapa dia menjadi gila dan mengamuk di perkemahan" kata Karebet.
Keduanya kemudian tertawa, tawa dari dua orang sahabat yang pada waktu dulu adalah senasib menjadi prajurit Wira Tamtama, namun dalam beberapa hari lagi nasibnya akan berbeda.
"Karebet, besok pada waktu kau datang ke pisowanan agung, kau akan menginap dimana?" tanya Tumpak
"Njanur gunung kau bertanya dimana aku akan tidur, kau sudah tahu kalau aku sudah terbiasa tidur dengan bersandar pada sebatang pohon" kata Karebet.
"Ya, tetapi nanti setelah pisowanan agung, kau adalah seorang Adipati Pajang, kau sudah tidak pantas lagi tidur dengan bersandar pada sebatang pohon" kata Tumpak.
"Sama saja bagiku, nanti kalau aku menjadi seorang Adipati, kalau kemalaman diperjalanan, aku tetap akan tidur di hutan Kau akan menawarkan kepadaku untuk menginap dirumahmu ?" tanya Karebet
"Andaikan rumahku besar dan pantas untukmu, pasti kau akan kutawarkan untuk menginap di rumahku, tetapi aku hanya mempunyai rumah yang berukuran kecil" jawab Tumpak.
"Dalam pisowanan agung, aku akan berangkat dari Pajang beserta dua orang lainnya" kata Tumpak.
"Rumahku tidak cukup kalau untuk tidur tiga orang tamu, lalu siapa saja yang kau ajak menghadiri pisowanan agung?" tanya Tumpak.
"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet.
"Mereka berdua masih di Pajang ?" tanya Tumpak.
"Ya, mereka akan tinggal di Pajang, mereka akan menjadi warangka praja Kadipaten Pajang" kata Karebet.
"Karebet, kalau ada jabatan patih Pajang yang masih belum terisi, coba kau tawarkan kepadaku" kata Tumpak
Karebetpun tertawa, dan mereka berdua masih berbicara dan bercanda, tak lama kemudian Karebetpun pamit akan pulang ke Pajang.
"Aku pulang dulu ke Pajang, Tumpak, tetapi aku akan singgah dulu di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya, Karebet hati-hati diperjalanan" kata Tumpak, dan kedua sahabat itupun berpisah, Tumpak masih tetap melaksanakan tugasnya, berjaga di depan pintu Kaputren, sedangkan Karebet kemudian berjalan menuju pintu gerbang Kraton, mengambil tali kendali kudanya, dan menuntunnya keluar dari halaman kraton.
Sebuah bungkusan yang selalu tergantung di pelana kudanya, setia menemaninya selama dalam perjalanan. Bungkusan yang berisi beberapa bekal makanan mentah, serta beberapa lembar pakaian, dan sebilah pedang pendek yang selalu tersimpan didalamnya.
Ketika Karebet berada didepan pintu gerbang dan bersiap akan naik ke punggung kudanya, dari jauh terlihat ada seekor kuda berlari mendekat dengan penunggangnya berpakaian seorang Tumenggung.
Kuda itu berhenti di depan Karebet, lalu dan Karebetpun sedikit membungkukkan badannya dambil mengangguk memberi hormat.
Orang yang berpakaian Tumenggung itupun kemudian turun dari kudanya, kemudian seorang prajurit penjaga pintu gerbang kraton mendekati kuda itu, memegang kendalinya dan menuntunnya masuk kedalam halaman, lalu menambatkannya pada tonggak yang berada di sudut halaman.
"Hormat saya untuk Ki Tumenggung Suranata" kata Karebet.
"Terima kasih, Karebet, kau dari mana" kata Tumenggung Suranata.
"Saya dipanggil untuk menghadap Kanjeng Sultan, Ki Tumenggung"
"Kanjeng Sultan membicarakan tentang pisowanan agung nanti ?" tanya Ki Tumenggung.
"Ya, Ki Tumenggung"
"Bagus, sebentar lagi kau akan resmi menjadi Adipati Pajang" kata Ki Tumenggung.
"Terima kasih Ki Tumenggung" jawab Karebet.
"Kau dari Pajang singgah di Tingkir? Bagaimana kabar pamanmu sekarang ?" tanya Ki Tumenggung Suranata.
"Paman Ganjur sekarang berada di desa Tingkir Ki Tumenggung, menemani biyung yang sudah tua" jawab Karebet.
"Tidak apa-apa Karebet, akupun kalau sudah tidak lagi menjadi seorang prajurit, aku tidak mau tinggal di kotaraja yang panas ini, tetapi aku ingin menghabiskan sisa umurku tinggal di sebuah desa, di kaki sebuah gunung" kata Tumenggung Suranata.
"Ya Ki Tumenggung, saya mohon maaf, paman Ganjur sekarang tidak kembali ke Suranatan" kata Karebet.
"Ya" Ki Tumenggung Suranatapun menganggukkan kepalanya, diapun menyadari tidak mungkin orang bisa bekerja seterusnya sampai tua tanpa henti, semua ada batasnya.
Ki Tumenggungpun lalu bertanya kepada Karebet :"Besok pada waktu pisowanan agung, kau datang dari Pajang ke Demak, kau akan menginap di kotaraja?"
"Saya belum tahu menginap dimana, Ki Tumenggung" jawab Karebet.
Ki Tumenggung tersenyum, lalu iapun berkata :"Menginaplah di dalem Suranatan, di dalam masih ada kamar yang kosong atau kalau kau tidak mau tidur di dalem tengah, menginaplah di bekas kamar yang pernah ditempati oleh pamanmu Ki Ganjur"
"Terima kasih Ki Tumenggung, tetapi dari Pajang saya akan datang bertiga"
"Bertigapun tidak apa-apa Karebet" kata Ki Tumenggung.
"Ya Ki Tumenggung, terima kasih."
"Karebet, aku akan ke Kraton, kita berpisah, kita saling mendo'akan semoga kita semua selamat" kata ki Tumenggung
"Ya Ki Tumenggung" kata Karebet
Tumenggung Suranatapun kemudian berjalan masuk ke dalam Kraton, sedangkan Karebetpun naik ke punggung kudanya, lalu menjalankan kudanya ke arah selatan.
Karebet sengaja menjalankan kudanya tidak terlalu cepat, karena jarak ke Kadilangu tidak terlalu jauh, apalagi sekarang dia berada dipunggung kuda.
Matahari telah condong ke barat, sinarnya telah membentuk bayangan di arah timur, bayangan orang sedang menunggang seekor kuda yang berlari sejajar dengan kuda Karebet yang berlari ke arah selatan.
Beberapa saat kemudian Karebetpun membelokkan kudanya ke arah timur, menuju tepian barat sungai Tuntang.
Derap kaki kudanya terdengar teratur, karena Karebet menjalankan kudanya tidak terlalu cepat.
Sungai Tuntang terlihat semakin dekat, tak lama lagi kuda yang ditunggangi Karebet menyeberangi sungai Tuntang.
Tak berapa lama kuda yang ditunggangi Karebet telah sampai di tepian sungai Tuntang, lalu Karebetpun turun dari punggung kudanya dan bersiap untuk masuk kedalam air sungai, menyeberang ke sisi sebelah timur.
Karebet memegang tali kendali kudanya, kemudian perlahan-lahan iapun turun, memasukkan kakinya kedalam sungai, lalu berjalan menyeberangi sungai yang dalamnya sebatas perutnya, sambil menuntun kudanya menyeberang ke arah timur.
Sambil menyeberangi sungai dengan berjalan perlahan-lahan, tangan kanan Karebet memegang tali kendali kudanya, sedangkan tangan kirinya diangkat keatas sambil memegang bungkusannya.
Setapak demi setapak Karebet menuntun kudanya menyeberangi sungai Tuntang, dan tak lama kemudian diapun telah tiba di tepi sungai sebelah timur.
Setelah menambatkan tali kendali kudanya pada dahan sebuah pohon, kemudian Karebetpun membuka bungkusan yang dibawanya, lalu diambilnya sebuah pakaian kering sebagai penganti pakaiannya yg basah terkena air sungai.
Setelah berganti pakaian yang kering dan bersih, Karebetpun memeras pakaian yang basah, lalu di jemurnya pakaian itu di cabang pohon yang agak tinggi.
"Malam ini aku akan menginap di Kadilangu" kata Karebet dalam hati.
Sesaat kemudian Karebetpun telah naik dipunggung kudanya, lalu menjalankannya menuju pesantren Kanjeng Sunan Kalijaga yang jaraknya tidak begitu jauh lagi.
Didepan pintu gerbang Karebetpun turun dari kudanya, lalu iapun mengucap salam, dan terdengar jawaban dari seorang santri yang sedang mengambil air untuk mengisi padasan.
"Kanjeng Sunan Kalijaga berada di dalam ?" tanya Karebet.
"Ada, silahkan masuk, langsung saja ke ruang Kanjeng Sunan" kata santri Kadilangu.
Karebetpun lalu masuk ke halaman dan menambatkan kudanya pada tonggak kayu yang terdapat di dekat pohon belimbing.
Mataharipun telah bergeser semakin turun, beberapa santri berjalan beriringan membersihkan diri ke sungai yang tidak jauh dari pesantren, sedangkan di sebuah ruang didalam, Kanjeng Sunan Kalijaga duduk berhadapan dengan muridnya, calon Adipati Pajang, Karebet.
"Jadi kau akan dilantik pada hari Anggara Kasih disaat pisowanan agung di Sasana Sewaka ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Betul Kanjeng Sunan" jawab Karebet.
"Mungkin sebentar lagi ada undangan dari Kanjeng Sultan, tetapi sekarang diantara para ulama Wali Sanga, sudah ada yang meninggal dunia. Memang sudah agak lama Wali Sanga tidak berkumpul di Kraton Demak. Sejak Demak berdiri, dan Raden Patah menjadi raja pertama sampai sekarang sudah lebih dari delapan windu. Hampir sembilan windu, memang sudah lama sekali" kata Sunan Kalijaga.
Karebetpun menunduk mendengarkan perkataan Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Beberapa waktu yang lalu Sunan Kudus juga sakit" kata Sunan Kalijaga.
"Mudah-mudahan sekarang sudah sembuh Kanjeng Sunan" kata Karebet.
"Ya, Karebet, kau akan kembali ke Pajang besok pagi ?" tanya Kanjeng Sunan Kalijaga.
"Ya Kanjeng Sunan, mohon ijin untuk bisa menginap di Kadilangu" kata Karebet.
"Ya menginaplah disini, nanti setelah sholat Isya, kau bisa mengaji lagi"
"Ya Kanjeng Sunan"
"Pada hari pisowanan agung, kau juga bisa menginap di sini Karebet" kata Sunan Kalijaga.
"Terima kasih Kanjeng Sunan, saya nanti bersama kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet.
"Ya , tidurlah kalian bertiga di Kadilangu" kata Kanjeng Sunan.
Waktu terus berjalan, mataharipun terus bergerak turun, dan alampun berangsur-angsur menjadi gelap.
Setelah sholat isya, Kanjeng Sunan Kalijaga pun mengajar Karebet mengaji, bersama beberapa orang santri yang lain.
Pada saat yang bersamaan, di Panti Kudus, didalam sebuah ruangan yang diterangi dengan sebuah lampu minyak, Kanjeng Sunan Kudus duduk bersila berhadapan dengan muridnya, calon adipati Jipang, Arya Penangsang.
"Penangsang, kapan akan diadakan Pisowanan Agung?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.
"Hari Anggara Kasih, tiga pasar lagi Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Biasanya ada utusan dari Kraton yg akan mengundang aku untuk menghadiri pisowanan Agung, kali ini sekaligus dengan pelantikanmu sebagai Adipati Jipang" kata Sunan Kudus :"Pada malam menjelang pelantikanmu nanti, kau tidurlah di Panti Kudus, nanti kita bersama-sama menuju Demak"
"Ya Bapa Sunan" kata Arya Penangsang.
"Kita berangkat sehari sebelumnya, kita tidak usah menginap di Kraton, kau ada tempat menginap di Demak?" tanya Sunan Kudus.
"Ada Bapa Sunan, dirumah sahabat saya, Lurah Pasar Pon, orangnya saat ini berada di Jipang, membantu pembangunan Kadipaten, nantinya dia akan berangkat mendahului ke Demak, untuk mempersiapkan tempat untuk kita Bapa Sunan" jawab Penangsang.

"Baik, kita berangkat sehari sebelumnya dan kita akan menginap di rumah Lurah Pasar Pon" kata Sunan Kudus.
"Ya Bapa Sunan" jawab Penangsang.
"Dalam pisowanan nanti, kau akan berangkat dari Jipang bersama siapa Penangsang?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.
"Saya akan mengajak Dimas Arya Mataram dan paman Matahun, Bapa Sunan" kata Penangsang.
"Bagus, Matahun adalah orang yang sangat setia kepadamu, dia pantas kau jadikan warangka praja Kadipaten Jipang" kata Sunan Kudus.
"Ya Kanjeng Sunan, paman Matahun adalah orang yang setia terhadap keluarga eyang Sunan Ngudung, dan paman Matahun adalah orang yang cerdik dan berilmu tinggi, iapun juga bersedia diajak bersama-sama membesarkan kadipaten Jipang" kata Penangsang.
"Ya, mulai sekarang bisa kau pikirkan sebuah jabatan di Kadipaten Jipang, yang pantas kau berikan kepada Matahun, orang yang mengabdikan seumur hidupnya kepada keluarga Sekar Seda Lepen" kata Kanjeng Sunan.
Arya Penangsang menganggukkan kepalanya, iapun mempertimbangkan akan memberikan jabatan tertinggi kadipaten Jipang kepada Matahun, patih Jipang.
"Paman Matahun yang setia, sangat pantas kalau aku beri jabatan sebagai patih Jipang, Patih Matahun" kata Penangsang dalam hati.
"Nanti kalau Kadipaten Jipang mengadakan acara pisowanan untuk yang pertama kali, paman Matahun akan aku angkat sebagai patih Kadipaten Jipang" kata Penangsang dalam hati.
"Penangsang" kata Kanjeng Sunan Kudus :"Kau berangkat ke Jipang besok pagi ?".
"Ya Kanjeng Sunan" jawab Penangsang.
"Bagus, berangkatlah setelah kita menjalankan sholat subuh berjamaah, malam ini masih ada sedikit waktu, pergunakanlah untuk mengaji" kata Kanjeng Sunan Kudus.
"Ya Kanjeng Sunan"
Maka di awal malam itu, Penangsangpun mengaji dengan dibimbing oleh gurunya, Sunan Kudus.
Malampun semakin gelap, hanya nyala lampu minyak yang menari-nari ditiup angin yang semilir perlahan. Bintangpun berkedip di angkasa, sesekali satu dua buah bintang berpindah tempat.
Malam yang gelap, hanya suara cengkerik yang terdengar perlahan, kadang-kadang juga terdengar suara kelelawar yang sedang mencari buah-buahan, sesekali terdengar suara burung hantu memecah keheningan malam.
Diujung malam, lintang panjer rina yang muncul di arah timur bersinar semakin cemerlang, fajarpun telah merekah, warna merahpun terlihat di langit bang wetan, seisi bumi Kuduspun mulai terbangun.
Ketika matahari mulai bergerak naik, langitpun mulai terlihat terang, meskipun bumi Kudus masih terasa dingin, namun seekor kuda gagah berwarna hitam telah keluar dari pintu gerbang Panti Kudus menembus dinginnya pagi, berlari menuju ke arah selatan, lalu sedikit berbelok kearah tenggara.
Arya Penangsang telah berada diatas punggung Gagak Rimang yang berlari cepat menuju arah tenggara, ke arah hutan Prawata, lalu setelah sampai disana, kudanya berbelok ke selatan, ke arah Jipang Panolan.
"Mudah-mudahan malam nanti aku sudah sampai di Jipang" kata Penangsang sambil memacu kuda hitamnya, Gagak Rimang.
Sementara itu, di daerah kotaraja Demak, seekor kuda keluar dari pintu gerbang pesantren Kadilangu, dengan dituntun oleh seseorang.
Setelah keluar dari pintu gerbang, maka orang yang menuntun kuda itu, Karebet, kemudian melompat menunggangi kuda itu dipunggungnya.
Dengan cepat kuda yang ditunggangi Karebet, menyusuri sungai Tuntang menuju arah selatan, menuju Pajang, setelah terlebih dulu mengambil pakaiannya yg dijemur diatas pohon lalu memasukkannya kedalam bungkusan yang dibawanya.
Matahari semakin tinggi ketika Karebet memacu kudanya sejajar dengan sungai Tuntang, dan beberapa kali iapun menuntun kudanya menyeberangi beberapa sungai kecil yang melintang menghadang perjalanannya.
Matahari hampir tenggelam di cakrawala, ketika Karebet memasuki hutan di daerah Sima, kudanya terlihat kelelahan meskipun telah beberapa kali istirahat dan telah diberi makan dan minum.
"Kuda ini sudah lelah, aku tidak dapat memacunya lebih cepat lagi" kata Karebet dalam hati :"Nanti malam aku terpaksa bermalam di dekat Sima"
Ketika langit sudah dirembang petang, Karebetpun turun dari kudanya, lalu mengikat tali kendali kudanya di dahan sebuah pohon, kemudian iapun berjalan untuk membersihkan dirinya disebuah sungai kecil ditepi hutan tidak jauh dari desa Sima.
Malam itu setelah makan bekal yang didapat dari pemberian para santri Kadilangu, Karebetpun berselimut kain panjang, menghindari dari gigitan nyamuk, sekaligus untuk menahan udara dingin dipinggir hutan Sima.
Malam semakin dalam, suasana gelap pekat menyelimuti hutan didekat desa Sima, angin bertiup agak kencang, suara angin yang mengalir di sela-sela dahan pohon yang sempit menimbulkan suara seperti siulan dari sesosok memedi, seperti akan menerkam Karebet yang sedang berusaha tidur dengan bersandar pada sebatang pohon.
Tetapi Karebet bukan seorang penakut, Ayam Jantan dari Pengging itupun tidak memperdulikan suara siulan memedi yang mengganggunya, dan iapun dengan tenangnya berusaha untuk bisa tidur.
Sekejap Karebet sempat tertidur, dan ketika ia terbangun, malam telah sampai di ujungnya, terlihat langit di ufuk timur telah berwarna merah, pertanda alam akan berangsur terang.
Karebetpun segera bangkit, lalu berjalan menuju ke sungai kecil untuk membersihkan diri.
Tidak beberapa lama, Karebetpun kembali telah berada diatas punggung kudanya, menuju arah Pajang.
Kudanya dilarikannya tidak begitu kencang, diapun tidak perlu tergesa-gesa.
"Sudah dekat" gumannya pelan.
Kudanya masih tetap berlari ditepi hutan Sima yang tidak begitu lebat
"Masih pagi" kata Karebet :"Siang nanti aku akan sampai di Pajang"
"Hm sudah lama aku berpikir untuk menjadikan tombak pusaka Kyai Pleret untuk menjadi sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Karebet berangan angan diatas punggung kudanya.
"Bagaimana caranya supaya tombak Kyai Plered bisa disimpan di Pajang ?" tanya Karebet kepada dirinya sendiri,
Tetapi Karebet terkejut, ketika beberapa lembar daun pada sebuah dahan dari sebatang pohon hampir menyapu wajahnya, dengan tangkas iapun menggerakkan kepalanya kesamping, sehingga dahan beserta daunnya tidak mengenai wajahnya.
"Hampir saja kepalaku terkena dahan yang melintang" kata Karebet di dalam hatinya.
"Sutawijaya,,,tombak pusaka itu dikuasai Sutawijaya" kata Karebet.
"Aku harus bisa menarik Sutawijaya, tinggal di Kadipaten Pajang" Karebetpun masih meneruskan lamunannya.
"Kalau Sutawijaya berada di Pajang, dia akan tidur dimana ?" pertanyaan itupun berputar didalam pikirannya.
"Aku harus membuat satu rumah lagi, membuat sebuah rumah untuk Kesatrian, yang terletak dibelakang dalem kadipaten. Biarlah sementara Sutawijaya nanti berdiam di ksatrian bersama Wenang, putra Ki Ageng Butuh. Kalau Wenang berdiam di ksatrian dibelakang dalem kadipaten, dia bisa menjaga keamanan dalem kadipaten di bagian belakang" kata Karebet.
Karebetpun menganggukkan kepalanya, menyetujui rencananya sendiri, membuat sebuah rumah dibelakang dalem Kadipaten.
"Baik, aku akan membuat sebuah rumah kesatrian, dan yang akan membangun Kesatrian adalah tukang yang baru, yang akan diambilkan dari Pengging. Sekarang aku akan menuju ke Pengging, mencari tukang yang bisa membangun rumah" kata karebet, lalu iapun segera memacu kudanya menuju Pengging.
Matahari telah merayap agak tinggi di langit sebelah timur, ketika kuda yang ditumpangi Karebet semakin dekat dengan desa Pengging, desa tempat kelahirannya.
Di sebelah kanannya, tegak berdiri gunung Merapi, yang saat itu kawahnya dalam keadaan tidur, sehingga terlihat begitu tenang. Lekuk liku lembah jurang di lereng gunung kelihatan indah dipandang mata, terkena sinar matahari dari arah timur.
"Hm saat ini gunung Merapi dalam keadaan tenang, kalau gunung itu murka, tak seorangpun mampu menahan amukannya. Amukan wedus gembelnya mampu membakar hangus sebuah desa, apalagi kalau ia memuntahkan batu-batu yang membara, hancur luluh desa yang ditimpanya" kata Karebet didalam hatinya.
Kudanya terus berlari, meninggalkan debu dibelakangnya, dan tak lama kemudian iapun telah memasuki desa Pengging, sebuah desa yang pada jaman Majapahit pernah mengalami masa kejayaannya, pernah menjadi sebuah Kadipaten yang bernama Kadipaten Pengging Witaradya yang dipimpin oleh Adipati Dayaningrat.
Karebetpun memperlambat lari kudanya, beberapa orang petani yang bertemu dengannya, semuanya membungkukkan badannya, menghormati putra Ki Ageng Pengging, mereka bangga, salah seorang pemuda kelahiran Pengging, Karebet, putra Ki Kebo Kenanga atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Ageng Pengging, akan menjadi seorang Adipati di Pajang
Kuda yang ditunggangi Karebet terus berlari, lalu berbelok di sebuah rumah yang halamannya luas, rumah peninggalan orang tuanya Ki Kebo Kenanga yang pernah menjadi penguasa daerah Pengging.
Ketika kuda yang ditunggangi Karebet berhenti maka Karebetpun turun dari kuda, dan berjalan menuju ke pendapa.
Dari halaman samping rumah, keluarlah seorang yang sudah tua, pembantu ayahnya yang setia berlari-lari kecil menghampirinya.
"Ngger Karebet, kebetulan kau datang hari ini ngger, uwamu, Ki Kebo Kanigara datang tadi malam, sekarang Ki Kanigara sedang berada di ruang dalam" kata penunggu rumah ayahnya, Ki Purwa.
"Siwa Kanigara berada didalam ?" tanya Karebet senang, ia terlihat gembira mendengar uwanya berada di Pengging.
"Ya, silakan kau temui uwa-mu didalam, aku akan mencarikanmu buah kelapa muda ngger" kata pembantunya yang setia.
Karebetpun kemudian mencuci kakinya dengan menggunakan air yang berada didalam jambangan yang berada di sudut halaman, lalu iapun naik ke pendapa, berjalan masuk ke ruang dalam, dan dilihatnya seseorang sedang duduk bersila diatas amben, sambil menilmati wedang jahe ditambah secuil gula aren dan beberapa ubi rebus.
"Kau Karebet" kata orang itu, Kebo Kanigara.
"Ya wa" kata Karebet, diraihnya tangan uwanya, kemudian diciumnya sebagai tanda rasa hormat.
"Duduklah" kata uwanya.
Karebetpun kemudian duduk bersila didepan uwanya.
"Kau selamat Karebet, dari mana saja kau" kata uwanya.
"Atas pangestu siwa Kanigara, saya selamat, dan baru saja saya dipanggil menghadap Kanjeng Sultan Trenggana di Demak".
"Tentang pelantikanmu sebagai adipati Pajang ?" tanya uwanya.
"Ya wa, Kanjeng Sultan Trenggana membicarakan pelantikan saya sebagai Adipati Pajang besok pada saat Pisowanan Agung Kasultanan Demak, sekalian membicarakan pernikahan saya dengan Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka" kata Karebet.
"Sebelum kau bercerita tentang pelantikan dan penikahanmu, aku mau bertanya kepadamu, apakah saat ini Demak dalam keadaan persiapan perang?" tanya Karebet.
"Perang ?" kata Karebet terkejut, lalu iapun berkata kepada uwanya :"Kanjeng Sultan tidak pernah membicarakannya wa, yang dibicarakan hanyalah soal pelantikan dan pernikahan saya dengan diajeng Sekar Kedaton, soal kesiapan Demak akan berperang, mungkin Kanjeng Sultan hanya membicarakannya dengan Ki Tumenggung Gajah Birawa dari kesatuan Wira Tamtama".
Kebo Kanigara menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata perlahan.
"Aku melihat sebuah persiapan untuk berperang, lebih dari dua puluh lima buah kapal perang yang dulu pernah digunakan oleh Pangeran Sabrang Lor, sudah siap untuk diterjunkan di peperangan di laut" kata Kebo Kanigara.
"Dimana siwa melihatnya?" tanya Karebet.
"Disekitar bandar Jepara, di pesisir Keling dan pesisir Wedung" jawab uwanya.
"Kalau begitu, berarti semua yang memperbaiki adalah dari kesatuan pasukan laut yang dipimpin oleh Tumenggung Siung Laut" kata Karebet.
"Apakah Kasultanan Demak akan menyerang orang asing ke seberang ?" tanya uwanya.
"Selama ini tidak ada berita apapun, tidak ada berita mengenai orang asing, tidak ada permintaan bantuan untuk sebuah pertempuran di laut" kata Karebet..
"Pasti menyerang daerah pesisir, kalau bukan di daerah pesisir, tidak akan ada persiapan kapal perang" kata uwanya, lalu Kebo Kanigarapun melanjutkan pertanyaannya.
"Apakah ada daerah pesisir yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya Kebo Kanigara.
"Kalau bang kulon kelihatannya tidak ada yang mbalela, wa, hubungan Demak dengan Cirebon selama ini adalah sangat baik" kata Karebet.
"Kalau bang wetan, Lasem, Tuban, Gresik, Madura, Panarukan apakah ada yang mbalela terhadap Kasultanan Demak?" tanya uwanya.
"Saya tidak tahu wa"
Kebo Kanigarapun menganggukkan kepalanya.
"Karebet, persiapan pasukan Demak untuk berperang telah terasa sekali" kata uwanya.
"Ya wa, memang pengangkatan saya sebagai adipati Pajang dan pernikahan saya kelihatannya dibuat agak tergesa-gesa, ternyata jawabannya adalah, saat ini Demak memang akan berangkat berperang" kata Karebet.
"Karebet, kalau kau diajak berangkat berperang, kau harus siap, kalau Kanjeng Sultan nanti madeg Senapati sebagai seorang Senapati Agung yang memimpin pasukan Demak segelar sepapan, kau nanti yang akan menjadi Senapati Pengapitnya" kata uwanya.
"Ya, wa" jawab Karebet.
"Karebet, diajak berperang ataupun tidak, kau harus mematangkan ilmumu Lembu Sekilan, bagaimanapun kalau kau sebagai Adipati Pajang, kau pasti membutuhkan aji Lembu Sekilan pada tingkat tertinggi."kata Kebo Kanigara.
"Baik, wa" jawab Karebet.
Karebet kemudian memandang kepada dirinya sendiri yang telah mempunyai sebuah aji yang jarang tandingannya, Lembu Sekilan.
(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita