Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 23 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 23 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Baik Wenang, bergabunglah dengan para sahabat yang telah lebih dahulu berada di Pajang, aku kabulkan permintaanmu untuk mengabdi di Kadipaten Pajang, silahkan beristirahat ke gubug yang berada disebelah utara" kata Karebet.

"Terima kasih" kata Wenang, kemudian iapun berjalan dan masuk kedalam gubug yang terletak disebelah utara.

Tak lama kemudian iapun keluar dari gubuk, berjalan kearah orang yang sedang sibuk bekerja, dan Wenangpun bersiap untuk ikut bekerja bersama-sama membangun dalem Kadipaten Pajang.


Hari demi hari telah berlalu, Wenangpun telah larut dalam kerja bersama puluhan orang-orang yang lain, membangun dalem kadipaten Pajang dan ruang paseban.

Setelah hampir tiga candra sejak dimulainya pembangunan, saat ini dalem kadipaten dan ruang Paseban, hampir selesai dikerjakan dan tinggal menyelesaikan dan merapikan beberapa dinding saja.

Gugur gunung yang dilakukan oleh rakyat Pajangpun telah selesai, para bebahu tidak mewajibkan lagi orang-orang Pajang untuk ikut dalam penyelesaian pembangunan dalem kadipaten.

Yang masih tersisa bekerja disana hanyalah pekerja dari Demak dibantu para orang dari Sela, Banyubiru, dan dari Butuh, beserta tukang-tukang yang dibawa oleh mereka.

Dalem kadipaten dan ruang paseban, telah bediri tegak, berdinding papan jati tebal, berlantai bata merah, beratap daun kelapa.

Pembakaran bata telah dilakukan dengan menggunakan kayu bakar yang diambil dari hutan dan ditambah dari tatal-tatal kayu yang telah dikeringkan, yang didapat dari sisa-sisa pembuatan tiang, lalu dibuatkan aling-aling dari bata mentah yang disusun rapat, yang dibuat untuk menghalangi tiupan angin kencang.

Bata mentah yang dibakar dilakukan dengan mengatur posisi bata yang disusun secara berongga, tidak rapat antara bata yang satu dengan yang lain, sehingga bisa menghasilkan hasil pembakaran yang baik.


Bata yang sudah jadi, diletakkan di lantai dan diatur secara mendatar di dalem kadipaten dan di ruang paseban, sehingga setelah selesai terlihat lantai dari bata merah yang rata dan tersusun rapi.

Dindingnyapun dibuat dari kayu jati lurus yang dijejer rapi, dibuat dari kayu yang tidak terlalu besar, kemudian di tipiskan, dikurangi dengan menggunakan pethel, sehingga dinding yang terpasang adalah dinding kayu yang cukup tebal.

Atapnya dibuat dengan menggunakan daun kelapa yang dijepit dengan belahan bambu dan dibuat rangkap dua, sehingga cukup kuat untuk menahan panas dan air hujan.

"Dalem kadipaten dan ruang paseban hampir selesai dikerjakan, sepasar lagi semua pekerjaan telah selesai" kata Ki Lurah Wiguna kepada Karebet ketika di suatu siang mereka bekerja merapikan dinding dalem kadipaten.

"Ya, nanti kekurangan tambahan bangunan bisa dikerjakan oleh tukang dari Tingkir, kalau perlu akan aku panggilkan tukang dari Pengging" kata Karebet

"Tukang dari desa Tingkir bisa melanjutkan pembuatan sumur, pakiwan, kandang kuda, pagar, pintu gerbang dan membuat sebuah rumah lagi yang tidak terlalu besar untuk para emban" kata Lurah Wiguna.

"Ya, mungkin aku perlu membuat bukan hanya sebuah rumah, tetapi beberapa buah rumah lagi untuk nayaka praja Kadipaten Pajang yang akan segera dibentuk" kata Karebet.

"Sepasar lagi, dalem kadipaten ini sudah bisa ditempati, dan tugaskupun sudah selesai"


Ketika mereka sedang berbincang, keduanya mendengar suara derap kaki kuda yang mendekati dalem kadipaten.

Ketika derap sudah terdengar semakin dekat, terlihatlah seekor kuda yang ditumpangi oleh seorang berpakaian prajurit Wira Tamtama Demak.

Kuda itupun berjalan mendekati mereka yang sedang bekerja, dan setelah berada di depan dalem kadipaten, maka prajurit itupun turun, lalu berjalan menghampiri Karebet yang sedang bersama Lurah Wiguna.

"Ki Lurah Wiguna dan Karebet" prajurit Itupun menyapa mereka berdua.

"Kau Wasis" kata Ki Lurah dan Karebet hampir bersamaan.

"Mari duduk dulu, kita masuk ke gubug" kata Lurah Wiguna dan iapun mengajak Wasis untuk masuk ke gubug.

Mereka bertiga duduk didalam gubug, lalu tukang adangpun menyuguhkan air minum kepada tamunya.

"Aku diutus Kanjeng Sultan, Karebet dipanggil besok Kanjeng Sultan ke Demak" kata Wasis

"Aku dipanggil ke Demak?" kata Karebet.

"Ya, besok kita berangkat bersama-sama ke Demak" kata Wasis menjelaskan.

"Baik, bagaimana Ki Lurah Wiguna, besok aku dipanggil Kanjeng Sultan ke Demak?" kata Karebet kepada Ki Lurah.

"Silakan, aku akan disini dulu, menunggu kepulanganmu dari kotaraja Demak" kata Ki Lurah.

"Ya Ki Lurah" kata Karebet, dan kepada Wasis, iapun bertanya :" Wasis, ada kabar apa dari Demak?".


"Dua pasar yang lalu Keluarga Pangeran Arya telah pindah boyongan ke Prawata, dan mulai sekarang ia dipanggil dengan sebutan Sunan Prawata, kemudian sepasar yang lalu keluarga Pangeran Hadiri juga sudah boyongan ke Kalinyamat, disana, orang-orang ada yang menyebutnya Pangeran Kalinyamat, istrinyapun dipanggil dengan sebutan Ratu Kalinyamat" kata Wasis.

"Bagaimana dengan Penangsang ?" tanya Karebet

"Dari dulu raden Penangsang sering berkunjung ke Jipang, lagipula di Jipang ia punya rumah peninggalan kakeknya, Sunan Ngudung dan sejak membangun kadipaten Jipang, raden Penangsang belum pernah sekalipun berada di Demak, tetapi sekarang raden Penangsangpun juga dipanggil oleh Kanjeng Sultan ke Demak" kata Wasis menjelaskan berita dari kotaraja Demak.

Karebetpun menganggukkan kepalanya, dan iapun berkata :"Semuanya sudah berada di rumahnya masing-masing, akupun mulai sekarang juga akan menempati rumah ini"

Kemudian pada malam harinya, Karebet mengumpulkan sahabat-sahabatnya di salah satu gubug di bulak amba.


Hadir disana dua orang dari Sela, Pemanahan dan Penjawi, dari Banyubiru, Majasta, Wuragil, Mas Manca, Jaka Wila, dan putra Ki Ageng Butuh, Wenang.

"Aku besok dipanggil Kanjeng Sultan" kata Karebet menjelaskan

"Kita harus punya rencana kedepan untuk membentuk nayaka praja Kadipaten Pajang" kata Karebet.

"Aku harapkan semua bisa menjadi nayaka praja, bagaimana kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, apakah kakang berdua bersedia menjadi nayaka praja Kadipaten Pajang ?" tanya Karebet.

"Baik adi, aku bersedia tinggal di Pajang, kita bersama-sama akan membesarkan Kadipaten Pajang" kata Pemanahan dan disambung oleh Penjawi :"Ya adi Karebet, aku bersedia bekerja untuk Kadipaten Pajang"

"Terima kasih kakang Pemanahan dan kakang Penjawi" kata Karebet, laluiapun bertanya kepada Majasta :"Bagaimana Ki Majasta, apakah Ki Majasta bersedia menjadi warangka praja Kadipaten Pajang?"

"Angger Karebet, aku sudah tua, aku akan kembali ke rumahku di desa Majasta, tetapi aku akan titip adikku Wuragil dan dua orang keponakanku, Mas Manca dan Jaka Wila untuk menjadi nayaka praja kadipaten Pajang" kata Ki Majasta.

"Baiklah Ki Majasta, silakan kalau Ki Majasta ingin kembali ke Majasta, tetapi sekarang bagaimana dengan Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila, apakah semuanya bersedia menjadi nayaka praja kadipaten Pajang ?" kata Karebet.

"Ya, kami bertiga bersedia bersama-sama membesarkan kadipaten Pajang" kata Wuragil.

"Ya, saya bersedia" kata Mas Manca lalu disambung oleh Jaka Wila :"Akupun bersedia menjadi nayaka praja kadipaten Pajang"

"Terima kasih, bagaimana dengan kau, Wenang, apakah kau bersedia tinggal di Pajang ?" tanya Karebet.

"Ya kakangmas, sejak semula aku sudah bertekad akan mengabdi untuk Kadipaten Pajang" jawab Wenang.

"Terima kasih semuanya, terutama Ki Majasta, yang telah membantu pembangunan dalem kadipaten ini sejak awal" kata Karebet.

"Ya, kepulangku ke desa Majasta nanti menunggu kedatangan angger karebet setelah pulang dari Demak" kata Ki Majasta.


Karebet menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Besok kira-kira sepasar lagi setelah aku pulang dari Demak, Ki Lurah Wiguna dan para tukang akan pulang ke kotaraja Demak, padahal saat ini kita masih akan membangun beberapa rumah lagi".

"Setelah tukang dari Demak pulang, nanti para tukang yang berasal dari Sela biar tetap disini, nanti mereka akan terus melanjukan kerjanya dengan membuat dua buah rumah lagi untuk kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, sedangkan para tukang dari Banyubiru akan membuat tiga buah rumah untuk Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila" kata Karebet selanjutnya.

"Kalau kita kekurangan tenaga, kita bisa memakai tambahan tukang dari Sela atau Banyubiru, sedangkan tukang dari Tingkir akan terus melanjutkan penyelesaian dalem kadipaten yaitu membuat sumur dan pakiwan, membuat lumbung padi, membuat pagar keliling dan membuat kandang kuda, nanti aku akan menyuruh beberapa tukang dari Pengging atau dari Pajang untuk membuat satu rumah lagi untuk para emban" kata Karebet, lalu iapun melanjutkan :"Untuk pembuatan sumur nanti bisa memakai tukang gali sumur dari Pengging"

Semuanya mendengarkan kata Karebet, dan Karebetpun melanjutkan kata-katanya :"Kita ketinggalan selangkah dari kadipaten Jipang, saat ini Jipang sudah mempunyai prajurit kadipaten, sedangkan kita belum mempunyai prajurit apapun".


Karebet berhenti sebentar, lalu iapun kemudian melanjutkan :"Besok sambil kita bekerja menyelesaikan pekerjaan disini, nanti secara bergantian kita semua mulai menghubungi para bebahu untuk mencari para pemuda yang akan dijadikan sebagai calon prajurit, nanti kita tentukan harinya, lalu akan kita adakan pendadaran untuk menyaring mereka, dan bagi yang lolos pendadaran akan kita jadikan sebagai prajurit kadipaten Pajang"

"Karena desa Butuh dan desa Pengging juga termasuk didalam wilayah kadipaten Pajang, maka para pemudanya akan kita jadikan prajurit Pajang. Besok pagi kakang Pemanahan pergi ke para bebahu di Pengging untuk mencari pemuda calon prajurit, Mas Manca dan Jaka Wila ke Pajang, lalu kau Wenang pergilah ke Ki Ageng Butuh" kata Karebet.

Semuanya mendengarkan perkataan Karebet, dan merekapun bersiap untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka.


Malam itu bintang-bintang masih berkedip di angkasa, Karebetpun segera membubarkan pertemuan, lalu berjalan keluar dari gubug, dan mempersiapkan untuk melakukan perjalanan ke Demak esok pagi.

Ketika malam telah berlalu dan langit menjadi terang, Karebet telah bersiap di atas punggung kuda bersama Wasis, seorang prajurit Wira Tamtama utusan Kanjeng Sultan Trenggana.

Didalam kantung yang dibawanya, terdapat beberapa bekal makanan yang dapat digunakan diperjalanan ke Demak selama beberapa hari.

Setelah berpamitan, maka Karebet dan Wasispun perlahan-lahan menjalankan kudanya meninggalkan dalem kadipaten Pajang.

Setelah agak jauh maka Wasispun mulai melarikan kudanya, meskipun tidak terlalu cepat, dua ekor kuda yang berlari telah meninggalkan daerah Pajang.

Setelah beberapa kali berhenti memberi minum kuda yang kehausan, pada siang hari mereka berdua telah sampai di Sima.

"Kita istirahat dulu dibawah pohon, kita makan bekal yang kita bawa dari Pajang" kata Karebet

"Ya, aku sudah lapar" jawab Wasis.


Wasis dan Karebet kemudian berhenti dan menambatkan kudanya di cabang pohon, lalu mereka berdua duduk dan beristirahat di bawah pohon. Wasispun mengeluarkan dua buah bungkusan dari daun pisang, lalu yang satu bungkus diberikan kepada Karebet.

"Ini nasinya" kata Wasis sambil memberikan nasi yang dibungkus oleh daun pisang itu.

"Ini cuma nasi, ikan asinnya mana?" tanya Karebet.

Wasispun kemudian mengambil ikan asin beserta sambalnya dari dalam bungkusannya, kemudian diberikan kepada Karebet, lalu keduanyapun menikmati makan siang di bawah pohon di daerah Sima.

"Yang masak ini tukang adang?" tanya Wasis.

"Ya" jawab Karebet.

"Aku tidak menyangka kalau tukang adang bisa memasak seenak ini" kata Wasis sambil menikmati sambalnya.


Karebet mau menjawab, tetapi ia tersedak, lalu iapun minum dari bumbung yang berada didalam bungkusan.

Setelah minum, Karebetpun berkata :"Kau membikin aku tersedak Wasis, masakan ini memang enak, karena kau jarang sekali makan masakan dari tukang adang. Tetapi aku tiap hari makan makanan seperti ini"

Wasispun tertawa, lalu iapun mengambil bumbung berisi air dan meminumnya untuk mendorong nasi yang berhenti di kerongkongannya.

"Nasi, ikan asin dan sambal, makanan ini memang terasa enak karena saat ini perutku terasa lapar" kata Wasis sambil mengambil lagi sepotong ikan asin.

"Adanya cuma nasi dengan lauk ikan asin" kata Karebet, lalu keduanyapun masih terus mengunyah makanan hingga perut merekapun kenyang.

"Kalau perjalanan tidak tergesa-gesa, sebetulnya kita bisa berburu ayam alas, dan kitapun bisa makan ayam bakar" kata Wasis

Kerebet tidak menjawab, iapun meneruskan makan sampai semua nasi dan ikan asin habis dimakannya. Setelah mereka selesai makan, dan beristirahat sejenak, maka beberapa saat kemudian Karebetpun berdiri dan diikuti oleh Wasis.

Karebet menepuk leher kudanya perlahan-lahan, dan dengan tangkasnya ia naik ke punggung kuda, lalu berjalanlah kuda itu memasuki hutan yang tidak begitu lebat, menuju arah sungai Tuntang.

Di belakangnya, kuda yang ditumpangi Wasis berlari mengikuti dibelakang kuda Karebet, tidak terlalu rapat untuk menghindari debu yang dihamburkan dari kaki-kaki kuda yang ditunggangi oleh Karebet.


Matahari telah turun ketika keduanya telah berada ditepi sungai Tuntang sebelah timur.

"Wasis, kita beristirahat dimana?" tanya Karebet ketika melihat matahari semakin turun mendekati cakrawala.

"Kita beristirahat didepan, mudah-mudahan besok siang kita sudah sampai di kotaraja Demak" kata Wasis.

"Ya" jawab Karebet menyetujui perkataan temannya.

Ketika lembayung senja menghiasi langit bang kulon, keduanya berhenti, karebet dan Wasispun turun dari punggung kuda, kemudian membersihkan dirinya di sungai Tuntang,

Malam itu keduanya, seorang prajurit Demak dan seorang calon Adipati Pajang, tidur bersandarkan sebatang pohon berselimut bintang, dan semilir angin malam yang bertiup di tepian sungai Tuntang, mampu membawa hawa dingin yang menggigit tulang, sehingga kain panjangnyapun dikerudungkan semakin rapat.

 Malampun berjalan sampai ke ujungnya, bang wetan sudah membias warna merah, keduanyapun bangun dari mimpinya, tidur yang sekejap ternyata mampu membuat tubuh mereka menjadi agak segar,


Ketika matahari bergerak memanjat dinding langit, keduanyapun menyeberangi sungai Tuntang ditempat yang tidak terlalu dalam.

Dengan memegang tali kendali, kudanyapun dituntun menyeberangi air yang dalamnya sebatas paha, dan arus sungai yang bergerak perlahan ke arah utara seperti mengusap tubuh-tubuh mereka.

Sesampai di seberang, ditepian sungai sebelah barat, kemudian mereka berduapun melanjutkan perjalanan ke arah utara.

Panas yang menyengat tidak menyebabkan langkah kuda mereka surut, derap kaki kudanya telah meninggalkan daerah Mrapen, yang kini telah berada jauh di belakang.

"Tengah hari kita sudah memasuki kota raja" gumam Wasis hampir tidak terdengar.

Mataharipun telah berada di puncak langit, ketika kaki-kaki kuda mereka menapak di alun-alun Demak

Ketika berada di depan pintu gerbang yang dijaga dua orang prajurit Wira Braja, keduanya turun dari kudanya, dan setelah Wasis berbicara sebentar dengan prajurit penjaga pintu gerbang, maka keduanyapun lalu masuk ke halaman, menambatkan kudanya disebelah seekor kuda berwarna hitam, yang sudah tertambat lebih dulu pada tonggak di dekat dinding Kraton.

"Gagak Rimang" desis Karebet ketika melihat seekor kuda hitam yang gagah di sebelahnya.

 

Setelah menambatkan kudanya, maka keduanyapun berjalan menuju penjagaan ruang dalam.

"Kau Karebet" kata seorang prajurit Wira Tamtama yang sedang berjaga ruang dalam.

"Ya,kau Wira, kau berjaga disini?" tanya karebet.

"Ya, Kanjeng Sultan saat ini sedang menerima Raden Penangsang di dalam ruangan". kata Wira.

"Ya, aku akan menunggu disini" kata Wasis lalu merekapun duduk tidak jauh dari prajurit Wira Tamtama.

Tidak berapa lama keluarlah dari dalam ruangan, seorang laki-laki bertubuh sedang berkumis melintang berpandangan tajam, Arya Penangsang, calon Adipati Jipang yang hampir bersamaan dengan Karebet telah dipanggil menghadap Kanjeng Sultan Trenggana di Demak.

Ketika Karebet melihat Penangsang berjalan melintas di depannya, maka iapun mengangguk hormat, menundukkan kepalanya dan sedikit membungkukkan badannya.

Penangsang, yang melihat Karebet menghormat kepadanya, membalas dengan menganggukkan kepalanya, setelah itu iapun bejalan menuju ketempat tambatan kuda hitamnya, Gagak Rimang.

Prajurit Wira Tamtama, yang bernama Wira, kemudian berjalan menuju ruangan dalam dan sesaat kemudian iapun keluar ruangan lalu menuju ketempat Karebet.

"Silakan menghadap Kanjeng Sultan, sekarang" kata Wira.

"Ya" kata Karebet, kemudian iapun berjalan menuju ruangan dalam,

Sampai didepan pintu, Karebet berdiri bersikap ngapurancang, menunggu panggilan Kanjeng Sultan.

"Masuklah Karebet" terdengar suara Kanjeng Sultan dari dalam ruangan.

Karebetpun masuk keruangan, dengan laku dodok, iapun menyembah Kanjeng Sultan, dan duduk bersila dihadapannya.

"Karebet" kata Kanjeng Sultan Trengana.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab Karebet.

"Bagaimana keadaanmu Karebet" tanya Kanjeng Sultan.

"Atas pangestu Kanjeng Sultan, hamba dalam keadaan selamat" kata Karebet.

"Bagaimana pembangunan dalem kadipaten Pajang?"

"Hampir selesai Kanjeng Sultan, tiga empat hari lagi Ki Lurah Wiguna akan pulang ke Demak, selanjutnya kekurangannya akan hamba kerjakan sendiri" kata Karebet.


"Karebet, apakah selama ini kau pernah mengalami kesulitan dalam membangun dalem Kadipaten ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Tidak ada kesulitan apapun Kanjeng Sultan, semuanya lancar" jawab Karebet

"Kau tadi sempat bertemu Penangsang ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Ya Kanjeng Sultan, kami bertemu diluar" jawab Karebet.

"Kau dan Penangsang saat ini aku panggil ke Demak, karena tiga pasar lagi, pada hari Anggara Kasih, di ruangan Sasana Sewaka akan diadakan pisowanan agung" kata Sultan Trenggana

Karebet terus menundukkan kepala, mendengarkan apa yang dikatakan oleh Kanjeng Sultan.

"Dalam pisowanan agung nanti, kau akan aku lantik sebagai Adipati Pajang, sedangkan Penangsang akan aku lantik sebagai Adipati Jipang" kata Sultan Demak.

"Terima kasih Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Nanti di dalam pisowanan agung, kau akan didampingi oleh dua orang kepercayaanmu, siapakah yang akan kau pilih untuk mendampingimu dalam pelantikan nanti ?"

"Kalau dua orang, hamba akan membawa kakang Pemanahan dan kakang Penjawi untuk mendampingi hamba dalam pisowanan agung nanti Kanjeng Sultan" jawab Karebet.

"Pemanahan dan Penjawi? Dua orang yang berasal dari Sela ?" tanya Sultan Trenggana.

"Betul Kanjeng Sultan, keduanya memang berasal dari Sela" jawab Karebet.

"Baik Karebet, nanti dua tiga pasar setelah pisowanan agung, setelah kau menjadi Adipati Pajang, maka kau bisa melamar anakku Sekar Kedaton, tinggal nanti kita cari hari yang baik. Nanti setelah selesai pisowanan agung, kau jangan pulang dulu ke Pajang, tetapi tunggu sebentar, kau akan kupanggil dan kuberi tahu kapan kau melamar anakku Sekar Kedaton" kata Sultan Demak.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Kau akan pulang langsung ke Pajang?" tanya Kanjeng Sultan.

"Tidak Kanjeng Sultan, hamba akan singgah dulu di Kadilangu" jawab Karebet.

"Ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga?"

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan"

"Bagus" kata Kanjeng Sultan:"Nah, cukup sekian, kau boleh pulang.


Karebetpun menyembah, lalu iapun bergeser kepintu, kemudian keluar dari ruangan, berjalan keluar menemui Wira dan Wasis yang masih menunggu diluar.

"Bagaimana Karebet?" tanya Wasis setelah Karebet berada didekatnya.

"Sudah selesai, aku sudah menghadap Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Nah kalau begitu tugasku sudah selesai, aku akan pulang ke rumahku dan aku akan tidur sampai sore, baru besok pagi aku bertugas lagi" kata Wasis, lalu iapun meninggalkan Wira dan Karebet yang masih berada di depan pintu masuk ruang dalam.

Setelah Wasis tidak terlihat lagi, Karebetpun kemudian bertanya kepada Wira :"Wira, kalau prajurit Tumpak saat ini betugas dimana Wira?"

"Tumpak saat ini bertugas di depan Kaputren" jawab Wira.

"Baiklah Wira, aku sedang ada keperluan dengan Tumpak, aku akan menemuinya ke Kaputren sebentar" kata Karebet.

"Silakan" kata Wira.


Karebetpun kemudian berjalan menuju Kaputren untuk menemui Tumpak.

Langkah Karebetpun terhenti ketika dari kejauhan terllihat seorang perempuan yang telah dikenalnya, berjalan menuju ke arah ruang dalam.

Ketika melihat Karebet, perempuan itu, yang ternyata adalah Nyai Madusari, tersenyum dan berjalan menghampiri Karebet.

"Karebet, kau tunggu didepan Kaputren, aku akan ke Kanjeng Prameswari, minta ijin, Gustri Putri Sekar Kedaton akan menghadap ibundanya" kata Nyai Madusari.

Belum sempat Karebet menjawab, dengan tergesa-gesa Nyai Madusari telah bejalan meninggalkannya menuju ruang dalam.

Karebetpun kemudian berjalan ke Kaputren, dan disana terlihat Tumpak dan seorang temannya bertugas disana.

Ketika melihat Karebet, Tumpakpun kemudian tersenyum dan meyapa sahabatnya :"Karebet, kau dipanggil Kanjeng Sultan?"

"Ya, aku baru saja menghadap Kanjeng Sultan di ruang dalam" kata Karebet.

"Kau berangkat kemarin?" tanya Tumpak.

"Ya, aku bersama Wasis" kata Karebet.


Tumpakpun melihat ke arah ruang dalam, dan terlihat Nyai Madusari berjalan tergesa-gesa menuju Kaputren.

"Sebentar lagi Nyai Madusari masuk ke Kaputren" kata Tumpak.

"Ya" kata Karebet sambil tersenyum.

"Sebentar lagi Gusti Putri pasti keluar menuju ruang dalam menemui ibundanya" kata Tumpak.

Karebet mengernyitkan dahinya, lalu Tumpakpun menyambung perkataannya.

"Ya karena kau berada disini" kata Tumpak.

Karebetpun juga tertawa mendengar perkataan Tumpak.

Nyai Madusaripun berjalan masuk ke pintu Kaputren, tak lama kemudian pintupun terbuka kembali, dan keluarlah Nyai Madusari beserta Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka.

Nyai Madusari lalu berjalan menuju ke arah Tumpak yang sedang berdiri di seberang gerbang kaputren, sedangkan Karebet berjalan mendekati Gusti Putri Sekar Kedaton.

Ketika Putri Sekar Kedaton Mas Cempaka melihat Karebet mendekatinya, wajah Gusti Putri Sekar Kedaton begitu cerah, senyumnya mengembang tiada henti.


"Kau selamat kakangmas ?" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, ketika Karebet telah berada di dekatnya.

"Ya diajeng, aku baik-baik saja, bagaimana keadaanmu diajeng, setelah aku tinggal ke Pajang" kata Karebet.

"Ya kakangmas, aku selalu sehat, dan aku selalu menunggu kabar keselamatanmu dari prajurit yang datang dari Pajang"

"Ketika Tumpak pulang dari Pajang, apakah dia mengabarkan keadaanku kepada Nyai Madusari"

"Ya kakangmas, dan aku senang sekali mendengar kabar tentang kakangmas dari Pajang dan aku sudah tahu kalau hari ini kakangmas akan datang di Demak"

"Ya diajeng, kemarin prajurit Wasis datang ke Pajang, dan kata Wasis aku dipanggil menghadap Kanjeng Sultan"

"Aku sudah diberi tahu rencana ayahanda Sultan, pada hari Anggara Kasih, dalam pisowanan agung nanti, kakangmas akan dilantik menjadi adipati Pajang"

"Ya diajeng, setelah itu tiga pasar setelah pisowanan agung, aku akan melamar diajeng" kata Karebet.

"Tidak lama lagi kakangmas" kata Sekar Kedaton sambil tersenyum.

"Ya diajeng, tidak lama lagi" kata Karebet.

"Kakangmas, pada pisowanan agung nanti, kakangmas berangkat dari Pajang tanpa pengawal? Sebaiknya kakangmas berangkat ke Demak dengan dikawal calon warangka praja kadipaten Pajang"

"Ya diajeng, nanti aku berangkat bersama dua orang yang selama ini membantu mendirikan kadipaten Pajang" kata Karebet.


Gusti Putri menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata kepada Karebet :"Kakangmas, aku akan menghadap ibunda Kanjeng Prameswari sekarang, nanti ibunda terlalu lama menunggu"

Karebet tersenyum, katanya :"Silakan diajeng, aku juga pamit akan pulang ke Pajang"

"Kakangmas akan langsung pulang ke Pajang?" tanya Sekar Kedaton.

"Tidak diajeng, aku akan singgah dulu di Kadilangu, ketempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet.

"Ya kakangmas, aku menghadap ibunda sekarang" kata Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka, lalu iapun memanggil Nyai Madusari untuk mengantar ke ruang dalam.

Nyai Madusaripun kemudian meninggalkan Tumpak, lalu keduanya berjalan menuju ruang dalam, ke ruangan Kanjeng Prameswari.

Ketika Sekar Kedaton dan Nyai Madusari sudah tidak terlihat lagi, Karebetpun berjalan mendekati sahabatnya, prajurit yang sedang berjaga di kaputren, Tumpak.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan, di ruang dalam, Kanjeng Sultan sedang dihadap oleh dua orang Tumenggung yang duduk bersila dihadapannya, Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Siung Laut.

Kedua Tumenggung itu dipanggil Kanjeng Sultan, sesaat setelah Karebet keluar dari ruang dalam.

"Tumenggung Gajah Birawa" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Gajah Birawa.

"Dan kau Tumenggung Siung Laut" kata Sultan Trenggana.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan.

"Kalian berdua aku panggil, sehubungan dengan beberapa persoalan yang sudah lama aku rencanakan, dan akan aku laksanakan dalam waktu dekat ini" kata Kanjeng Sultan.


Kedua Tumenggung itupun bersiap mendengarkan titah Kanjeng Sultan Trenggana.

"Kalian sudah mendengar nanti pada hari Anggara Kasih, pada saat pisowanan agung, aku akan mengangkat Penangsang sebagai adipati Jipang dan mengangkat Karebet sebagai adipati Pajang" kata Sultan Demak, lalu Kanjeng Sultanpun berkata :"Setelah itu, tiga pasar setelah pisowanan agung, adipati Pajang akan melamar anakku Sekar Kedaton"

"Dua tiga pasar setelah itu, maka aku akan menikahkan anakku dengan Adipati Pajang, sepasar setelah pahargyan pengantin, anakku Sekar Kedaton akan diboyong pindah ke Pajang" kata Kanjeng Sultan, lalu Kanjeng Sultan berhenti sebentar, mengamati wajah Tumenggung Gajah Birawa dan Tumenggung Siung Laut.

"Tumenggung Gajah Birawa, seperti ada yang akan kau tanyakan?" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan, kalau boleh hamba bertanya, sepertinya waktu pelantikan adipati, lalu melamar Sekar Kedaton dan waktu pahargyan pengantin, apakah jaraknya memang dibuat terlalu pendek ?" tanya Tumenggung Gajah Birawa.

"Ya, itu semua memang aku sengaja, memang aku percepat, karena berkaitan dengan rencanaku selanjutnya yaitu menggempur Panarukan, nah sekarang kau Tumenggung Siung Laut, bagaimana dengan tugas yang aku berikan kepadamu?" tanya Kanjeng Sultan kepada Tumenggung Siung Laut.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan, dari tiga puluh perahu yang masih tersisa, yang pernah dipakai oleh Pangeran Sabrang Lor, hampir semuanya bisa diperbaiki oleh para pembuat perahu dari Wedung" kata Ki Tumenggung.


Tumenggung Siung Laut berhenti sebentar, lalu iapun menjelaskan lagi :"Perahu-perahu yang bisa diperbaiki sebanyak dua puluh tujuh perahu, sedangkan tiga buah perahu sudah tidak bisa diperbaiki lagi karena kerusakannya terlalu parah" kata Tumenggung Siung Laut.

"Bagus, dua puluh tujuh perahu yang bisa diperbaiki, cukup untuk menggempur Panarukan dari laut" kata Sultan Trenggana :"Tumenggung Siung Laut, sekarang perahunya kau simpan dimana?"

"Perahu itu sebagian berada di daerah Wedung dan sebagian lagi berada di daerah Keling" kata Ki Tumenggung.

"Bagamana dengan pasukan laut mu, apakah masih bersemangat tinggi untuk bertempur di bang wetan ?" tanya Sultan Trenggana.

"Ya Kanjeng Sultan, mereka masih bersemangat dan masih cukup banyak untuk memenuhi perahu-perahu itu" kata Tumenggung Siung Laut.

"Nanti aku sendiri yang akan menjadi Senapati Agung, aku yang akan memimpin prajurit Demak segelar sepapan untuk menuju Bang Wetan, sedangkan yang menjadi Senapati Pengapit, yang memimpin para prajurit laut adalah Tumenggung Siung Laut" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh Kanjeng Sultan" kata Tumenggung Siung Laut.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita