Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 22 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 22 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Mataharipun muncul dari balik punggung bukit, sinarnya menerobos dedaunan yang tumbuh di lereng gunung Lawu.
Di pagi hari yang dingin, tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad menuruni lereng gunung Lawu menuju ke utara, dipimpin oleh murid utama Panembahan Sekar Jagad, Sorengrana.
Sorengranapun teringat, tadi malam Panembahan Sekar jagad mengumpulkan semua murid-muridnya di pendapa, dan panembahan menyampaikan keinginannya agar tiga puluh murid perguruan Sekar Jagad bisa menjadi prajurit pilihan Kadipaten Jipang.
Beberapa orang memilih untuk tetap tinggal di padepokan, sedangkan tiga puluh orang lainnya memilih berangkat ke Jipang dengan bertekad merubah hidup menjadi lebih baik lagi, sebagai prajurit Kadipaten Jipang.
"Ternyata Panembahan Sekar Jagad memikirkan masa depan para murid perguruan Sekar Jagad, mereka diarahkan menjadi prajurit Kadipaten Jipang, siapa tahu kalau Kadipaten Jipang bissa menjadi besar, beberapa orang dari murid perguruan Sekar Jagad yang menjadi perintis berdirinya prajurit Jipang bisa menjadi seorang Panji atau Tumenggung" kata Sorengrana dalam hati.
Mereka berjalan terus, beriringan menuruni jalan di kaki gunung Lawu, beberapa orang diantaranya membawa bungkusan berisi bekal makanan, dan disetiap lambung mereka tergantung sebuah pedang pendek.
Hari itu adalah hari yang sibuk, tetapi matahari tetap bergerak dari timur menuju ke arah barat, dan panas sinarnyapun mulai menyebar diseluruh bumi Demak.
Di daerah Kalinyamat yang dekat dengan bandar Jepara, Pangeran Hadiri sibuk membantu pembangunan pesanggrahan yang akan digunakan sebagai tempat kediamannya, dalem Kalinyamat.
Sebagai pewaris tahta Kasultanan Demak urutan kedua, Pangeran Hadiri yang menjadi menantu Sultan Trenggana, sudah ber angan-angan untuk tinggal di Kalinyamat, dan iapun berkata kepada istrinya, putri Sultan Demak yang kedua :"Nanti disana diajeng akan menjadi seorang ratu, Ratu Kalinyamat"
Dengan penuh semangat, Pangeran Hadiri ikut membantu pekerjaan pembangunan pesanggrahannya.
Puluhan rakyat Kalinyamat yang ikut gugur gunung merasa senang, melihat Pangeran Hadiri yang tidak segan-segan bekerja membaur dengan mereka.
Petugas dari Demak bersama Pangeran Hadiri bersama puluhan rakyat Kalinyamat, menebang beberapa pohon jati di hutan yang terletak di dekat kaki gunung Muria di sebelah barat, lalu beramai ramai mereka mendorong dan menyeret kayu jati yang tidak terlalu besar, setelah dibawah kayu jati yang akan diseret itu diberi kayu bundar yang tidak terlalu panjang, sehingga kayu jati itupun dengan mudah di dorong dan digeser selangkah demi selangkah menuju Kalinyamat.
Demikian juga suasana dipinggir hutan Prawata, Pangeran Arya yang sering disebut juga Bagus Mukmin, anak sulung Sultan Trenggana, putra mahkota pewaris tahta Kasultanan Demak, masih disibukkan dengan pekerjaan membangun pesanggrahan dalem Prawata.
Sebagai pewaris tahta Kasultanan Demak, Pangeran Arya tetap bisa membantu orang-orang bekerja, meskipun sedikit terhambat karena ia mempunyai cacat mata, matanya hampir buta, tetapi masih bisa melihat meskipun samar-samar, sedangkan disampingnya selalu berdiri orang kepercayaannya, dan dipinggang Bagus Mukmin selalu terselip keris pusakanya yang tidak pernah terpisah dari tubuhnya, keris Kyai Bethok.
"Aku harus selalu dekat dengan pusakaku keris Kyai Bethok, karena aku tidak bisa melihat dengan jelas. Nanti aku akan tinggal di Prawata, dan aku akan senang, jika nanti rakyat disini memanggilku dengan sebutan Sunan Prawata" kata Pangeran Arya.
Meskipun Pangeran Arya yang lebih senang disebut sebagai Sunan Prawata tidak bisa bekerja karena matanya hampir buta, tetapi dengan membaurnya dia ke rakyat Prawata, maka rakyat yang sedang gugur gunungpun merasa senang, dan merasa diperhatikan oleh putra mahkota Kasultanan Demak.
Bersama beberapa petugas yang dikirim dari Demak, maka rakyat Prawata menebang beberapa pohon jati yang banyak terdapat di hutan Prawata.
Sementara itu di Pajang, Karebet mengendarai kudanya berkeliling, melihat dan membantu orang-orang yang bekerja menebang pohon di hutan sebelah barat Pajang, mencetak bata di wetan kali dan membuat ompak di dekat umbul Pengging.
Ketika matahari hampir tenggelam di cakrawala sebelah barat, orang-orang yang sedang beristirahat di gubug bulak amba melihat ada sebuah pedati yang ditarik oleh dua ekor sapi yang datang dari utara.
Karebet, Lurah Wiguna dan beberapa orang lainnya berdiri dan menyambut kedatangan sebuah pedati yang berjalan perlahan-lahan.
Ketika jarak pedati sudah dekat, Karebetpun tersenyum melihat kedua pembantu biyungnya Nyai Ageng Tingkir, Suta dan Naya duduk berdua di atas pedati.
Pedati berhenti ketika sudah berada di sebelah gubug, Suta dan Nayapun segera turun, kemudian mereka berduapun berjalan menuju ke gubug.
"Selamat datang Ki Suta dan Ki Naya" kata Lurah Wiguna.
"Ya Ki Lurah" kata Suta yang sudah mengenal Lurah Wiguna karena Ki Lurah pernah menginap di Tingkir.
"Bagaimana keadaan biyung paman" tanya Karebet.
"Yah biyungmu masih tetap seperti kemarin, masih sering lupa" kata Naya.
Beberapa orang merawat dua ekor sapi yang kelelahan dan memberinya minum, sedangkan beberapa orang yang lain sibuk menurunkan muatan pedati.
"Aku hanya membawa beras" kata Suta kepada Karebet.
"Tidak apa-apa paman, sekarang silahkan paman membersihkan diri dulu disungai di belakang gubug ini" kata Karebet.
Suta dan Nayapun lalu membersihkan dirinya disungai yang terletak di belakang gubug itu.
Karebet yang ikut menurunkan beras dari atas pedati, melihat Ki Lurah menuju ketempatnya, sehingga Karebetpun meletakkan berasnya.
"Ada apa Ki Lurah?" tanya Karebet.
"Prajurit Tumpak dari Wira Tamtama dan prajurit Banu dari Wira Mangala, besok bisa kembali ke kotaraja, karena di Pajang ternyata para bebahu tidak ada yang mengabaikan titah Kanjeng Sultan Trenggana" kata Lurah Wiguna.
"Silahkan Ki Lurah" kata Karebet.
"Nanti tanggung jawab bendera Gula Kelapa yang berada di sini adalah tanggung jawab saya, dan kalau ada persoalan dengan para bebahu, nanti biar saya yang menyelesaikannya. Bagaiman kalau mereka ikut pedati yang akan kembali ke Tingkir besok pagi ?" tanya Lurah Wiguna.
"Silahkan Ki Lurah" jawab Karebet.
Ki Lurah berhenti sebentar, lalu iapun berkata lagi :"Pedatinya besok berangkat dari sini pagi hari, sore atau malam hari  sudah bisa sampai di Tingkir"
"Ya, besok malam, Tumpak dan Banu biar tidur di rumah biyung di Tingkir saja" kata Karebet.
"Ya, terima kasih" kata Lurah Wiguna, lalu iapun masuk kedalam gubug lagi.
Setelah ditinggal Ki Lurah, maka Karebet melanjutkan pekerjaannya lagi, mengangkat beras ke dalam gubug, setelah itu, maka Karebetpun berjalan mencari Tumpak.
Ketika bertemu dengan Tumpak, maka Tumpakpun berkata :"Karebet, tugasku sudah selesai, besok pagi aku bersama Banu kembali ke kotaraja"
"Terima kasih Tumpak, Ki Lurah Wiguna sudah berbicara padaku. Kau besok akan naik pedati bersama paman Suta dan paman Naya" kata Karebet.
"Ya, sampai desa Tingkir" kata Tumpak :"Kau menginap di Tingkir saja, dirumah biyung"
"Ya, terima kasih, tidur di rumah Nyai Ageng Tingkir lebih baik dari pada tidur di hutan" kata Tumpak sambil tertawa.
Lalu Karebet berkata lirih kepada Tumpak :"Jangan lupa, kalau sampai di kotaraja, ceritakan pembangunan dalem Kadipaten Pajang kepada Nyai Madusari, aku disini baik-baik saja. Katakan juga kepada Nyai Madusari, di sini, semua pekerjaan lancar, banyak sahabat yang membantu mengirim bahan pangan maupun membantu tenaga" kata Karebet.
"Ya" kata Tumpak, lalu iapun bertanya :"Nanti kau akan membentuk prajurit Kadipaten Pajang?"
Karebetpun menjawab :"Ya, Kadipaten Pajang harus punya prajurit sendiri, wilayahnya juga luas, desa Butuh dan Pengging juga termasuk didalam Kadipaten Pajang"
"Ya" kata Tumpak, lalu merekapun berbincang-bincang sampai malam hari.
Malam itu masih seperti malam-malam kemarin, suasana gelap di daerah di Pajang, Kalinyamat, Prawata, dan di Jipang, hanya terlihat kerlip bintang di angkasa.
Tetapi menjelang tengah malam, di Jipang ada kesibukan kecil, tiga puluh orang murid perguruan Sekar Jagad telah tiba di Jipang, setelah melakukan perjalanan jauh dari lereng gunung Lawu.
Didepan sendiri, berjalan Sorengrana, yang langsung disambut oleh Matahun dan Rangkud, lalu merekapun dipersilahkan membersihkan diri di sumur, setelah itu dipersilahkan beristirahat di pendapa.
Tukang adangpun mempersilahkan mereka untuk makan dan minum, ada beberapa orang yang mengambil makanan, namun ada pula yang langsung merebahkan badannya dan tak lama kemudian terdengarlah suara dengkurnya memenuhi pendapa.
Jipangpun telah mendapat tambahan tiga puluh tenaga segar, tenaga yang mempunyai kemampuan olah kanuragan, untuk membantu membangun dalem Kadipaten dan nantinya mereka direncanakan akan menjadi prajurit pillihan Kadipaten Jipang.
Demikianlah, tak terasa hampir satu candra pembangunan dalem kadipaten di Pajang dan Jipang, serta pembangunan pesanggrahan di Kalinyamat dan Prawata.
Dengan segala permasalahannya, hampir semua pekerjaan berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti.
Para prajurit Wira Tamtama dan Wira Manggala yang ikut berperan sejak awal pembangunan, semuanya telah kembali ke kotaraja Demak.
Di Pajang dan Jipang, bangunan dalem kadipaten dan ruang paseban, terlihat tiang saka yang berdiri tegak, yang masing-masing bangunan ada empat buah kayu saka, yang berdiri dengan disokong beberapa kayu yang ukurannya lebih kecil serta ditarik dengan belasan tali besar yang terpilin kuat.
Empat buah tiang kayu sudah berdiri tegak diatas ompak. Bagian atas tiangpun sudah dikunci dengan diberi pasak kayu yang kuat, dikaitkan dengan kayu yang melintang antara saka yang satu dengan saka lainnya.
Malam itu Karebet duduk didepan gubug dekat perapian bersama Lurah Wiguna, memandang delapan buah tiang saka yang sudah berdiri.
"Empat buah tiang utama telah berdiri, tetapi pekerjaan kita masih banyak, kita harus mendirikan tiang-tiang  yang berukuran kebih kecil, bata kita yang sudah jadi puluhan ribu belum dibakar" kata Lurah Wiguna.
"Ya, tapi tidak seberat mendirikan empat buah tiang utama" kata Karebet.
Lurah Wiguna menganggukkan kepalanya, malampun semakin larut, semakin sepi, hanya terdengar suara burung kedasih dipohon disebelah barat bulak amba
"Ada suara burung kedasih" kata Ki Lurah Wiguna.
Karebet tidak menjawab, seakan dia tidak memperhatikan suara burung kedasih yang terdengar sampai di gubugnya.
"Ki Lurah, aku akan ke sungai sebentar" kata Karebet.
"Silahkan" kata Lurah Wiguna
Karebetpun segera berdiri dan iapun segera berjalan menuju ke arah sungai.
Setelah Karebet berada dikegelapan bayangan pohon, dengan tangkasnya ia melompat dan berlari menuju ke arah suara burung kedasih yang suaranya terdengar dari arah barat.
Setelah agak jauh dari gubug, dijalan yang menuju hutan jati, suara burung kedasih berbelok kearah selatan, maka Karebetpun kemudian berbelok ke kiri.
Tidak terlalu jauh Karebet berjalan, didepannya telah berdiri dibawah pohon, seseorang yang memakai caping, terlihat seperti sedang menunggunya.
Karebetpun waspada, tidak tertutup kemungkinan dia salah duga, ada kemungkinan orang itu bukan orang yang ditunggunya.
Tetapi Karebet menarik nafas lega ketika mendengar orang itu berkata :"Karebet"
Karebet hafal dengan suara orang itu, suara uwanya Kebo Kanigara.
Karebetpun maju kedepan, lalu diciumnya tangan uwanya, dan merekapun lalu duduk di sebuah batu besar.
"Bagaimana Karebet, kau selamat ?" tanya Kebo Kanigara.
"Ya wa, atas doa restu siwa saya sehat" jawab Karebet.
"Pekerjaanmu lancar ?" tanya uwanya.
"Ya wa, lancar, banyak sahabat yang sejak awal membantu pembangunan dalem Kadipaten" kata Karebet.
"Siapa saja mereka?"
"Dari Sela, yang datang ke Pajang adalah kakang Pemanahan, kakang Penjawi, kakang juru Martani ditambah Sutawijaya" kata Karebet.
"Bagus, siapa lagi?"
"Dari Banyubiru, ada Ki Majasta, Ki Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila" jawab Karebet.
Kebo Kanigarapun tersenyum puas, mendengar banyak sahabat yang membatu berdirinya Kadipaten Pajang.
"Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang juga datang kemari" kata Karebet melanjutkan ceritanya.
"Ya bagus, lalu bahan pangan dari mana ?" tanya uwanya.
"Mereka membawa beras dan lainnya, dari Tingkir juga dua kali mengirim bahan pangan yang dimuat di pedati, ini sudah hampir habis, nanti akan saya ambilkan dari Pengging" kata Karebet.
"Bagus, lumbung di Pengging masih penuh berisi padi, ambil saja, bawa kemari" kata Kebo Kanigara.
"Siwa dari kotaraja Demak ?" tanya Karebet
"Dari kotaraja, lalu aku beberapa hari berada di Jipang" kata uwanya.
"Siwa dari Jipang?"
"Ya, aku dari Jipang" jawab Kebo Kanigara.
"Bagaimana perbandingan perkembangan pembangunan dalem kadipaten di Jipang wa ?" tanya Karebet kepada Kebo Kanigara.
"Sama seperti di Pajang, tiang saka dalem kadipaten Jipang sudah berdiri, setelah itu mereka akan mengerjakan pekerjaan mendirikan tiang-tiang yang kecil di sekelilingnya" kata uwanya.
Karebetpun mendengarkan cerita Kebo Kanigara tentang apa yang dilihatnya di Jipang.
"Kau ketinggalan selangkah Karebet, ada puluhan murid-murid perguruan Sekar Jagad dari lereng gunung Lawu yang ikut membantu pembangunan di Jipang, dan aku mendengar dari salah seorang penduduk Jipang, mereka nantinya akan dijadikan prajurit Kadipaten Jipang" kata uwanya
"Tetapi di Pajang juga mendapat bantuan beberapa orang dari Sela dan dari Banyubiru, jadi pembangunan kadipaten Jipang dan Pajang sama-sama mendapat bantuan tenaga dari luar wa" kata Karebet.
"Ya, tetapi kau belum menghitung kalau Panembahan Sekar Jagad ikut bergabung ke Jipang, Panembahan Sekar Jagad kakak seperguruan dari Matahun itu benar-benar berbahaya. Ilmu kanuragan Matahun saja sudah mumpuni, apalagi kakak seperguruannya, ilmunya luar biasa" kata Kebo Kanigara.
"Dia berilmu tinggi, dalam tubuhnya penuh berisi bermacam-macam aji jaya kawijayan guna kasantikan, susah untuk mengalahkannya, tapi kemarin aku sudah mencarinya berkeliling, aku tidak melihat dia berada di Jipang" kata Kebo Kanigara.
Karebet mendengarkan semua ucapan dari Kebo Kanigara tentang Panembahan Sekar Jagad, seorang pemimpin perguruan di lereng gunung Lawu, yang membantu pembangunan kadipaten jipang, dengan mengirim puluhan murid-muridnya ke Jipang.
Diam diam Karebetpun membandingkan ilmu kanuragan Panembahan Sekar Jagad dengan ilmu perguruan Pengging yang dimiliki oleh uwanya Kebo Kanigara.
"Apakah siwa Kebo Kanigara kalau perang tanding seorang lawan seorang mampu mengalahkan Panembahan Sekar Jagad ?" tanya Karebet dalam hati :"Siwa Kebo Kanigara adalah satu-satunya orang yang mampu menuntaskan ilmu tertinggi dari perguruan Pengging"
Setelah keduanya berdiam diri, maka sesaat kemudian Kebo Kanigarapun berkata :"Kau tidak boleh ketinggalan terlalu jauh dengan Jipang, mulai besok kau harus mulai memillih para pemuda Pajang yang nanti bisa kau latih menjadi prajurit Pajang"
"Baik wa" jawab Karebet.
"Selain itu, sekarang aku membawa keris pusaka yang dulu pernah menjadi sipat kandel Kadipaten Pengging Kyai Naga Siluman, yang pernah aku ceritakan kepadamu" kata Kebo Kanigara kemudian mengambil sebuah bungkusan yang selalu dibawanya, lalu mengeluarkan sebuah keris pusaka yang masih terbungkus sebuah kain putih, itulah keris pusaka Kyai Naga Siluman, lalu oleh Ki Kebo Kanigara, keris itupun di berikan kepada Karebet.
"Aku wariskan keris pusaka kyai Naga Siluman, pusaka Kadipaten Pengging Witaradya ini kepadamu Karebet, dan jadikan keris pusaka ini salah satu sipat kandel Kadipaten Pajang" kata uwanya.
Dengan kedua tangannya, Karebet menerima keris itu, dalam hati Karebet terasa betapa senangnya karena telah mempunyai sebuah sipat kandel untuk kadipaten yang dibangunnya.
"Terima Kasih wa" kata Karebet..
Lalu keris itupun diselipkan di pinggangnya, dan disembunyikan dibalik bajunya.
"Simpanlah keris itu ditempat yang sangat tersembunyi jangan sampai ada seorangpun yang tahu, atau kalau tidak kau sembunyikan, pakailah keris itu dan jangan pernah terlepas dari tubuhmu" kata uwanya.
"Ya wa" kata Karebet.
"Aku akan selalu berada didekat Pajang dan akan sering menghubungimu" kata uwanya.
"Bagaimana kalau ada sesuatu yang penting dan saya harus menghubungi siwa?" tanya Kaebet.
"Pergilah kau ke Pengging, kau bisa bilang kepada pembantu kita ki Purwa, kalau kau ingin ketemu aku" kata uwanya.
"Baik wa"
"Kalau begitu kita berpisah Karebet, kau kembalilah ke gubugmu" kata uwanya.
Karebetpun lalu mencium tangan uwanya, dan merekapun berjalan terpisah, Karebetpun kembali ke bulak amba.
Kaki Karebet berjalan cepat, ketika samar-samar terlihat ada sebuah pohon beringin liar, maka Karebetpun segera menuju kesana.
Dibawah pohon beringin liar, Karebetpun menajamkan semua kemampuan indranya, dan kemampuan panggrahitanya, setelah ia merasa tidak seorangpun yang berada disana, maka dengan berpegangan beberapa sulur beringin yang kuat, Karebetpin naik ke pohon beringin liar itu,dan meletakkan keris Kyai Naga Siluman di tempat yang tersembunyi.
"Besok akan aku kembali ke pohon beringin liar ini, akan aku buatkan sebuah kotak dari kayu atau dari bumbung besar, untuk tempat keris pusaka" kata Karebet dalam hati.  
Karebetpun lalu turun kebawah dan melanjutkan perjalanan ke bulak amba,
Saat itu keadaan di gubug sudah sepi, perapian sudah padam, Karebetpun masuk ke gubug dan merebahkan badannya, beberapa saat kemudian Karebetpun telah berayun dalam mimpi.
Gelap menyelimuti semua bumi Demak, hanya suara cengkerik yang terdengar tanpa henti memecah keheningan malam, hingga tiba saatnya bias cahaya Sang Bagaskara perlahan-lahan mulai terlihat di langit bang wetan.
Pagi itu di bumi Pajang, semua orang terlihat sibuk bekerja, dibulak amba, Karebetpun melihat orang-orang Pajang tua maupun muda melakukan gugur gunung mendirikan beberapa tiang di beberapa sudut dengan menggunakan kayu yang ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan tiang saka.
Beberapa orang sedang bekerja mengangkat beberapa ompak lalu meletakkannya ditempat yang akan didirikan tiang.
Pembuatan puluhan ompak sudah selesai beberapa hari yang lalu, dan semua ompak sudah dibawa dari Pengging menuju Pajang dengan mengunakan pedati.
Wuragil dan Jaka Wilapun berserta orang-orang dari Pajang, telah selesai membuat ompak di rumah Truna Ompak di Pengging dan kembali bekerja di Pajang membangun dan mendirikan dalem Kadipaten.
"Pajang tidak boleh terlalu jauh ketinggalan dari Jipang, baik pembangunan dalem kadipaten maupun kemampuan para prajurit" tekad Karebet dalam hati
"Jipang saat ini telah mempunyai puluhan calon prajurit yang berasal dari murid-murid perguruan Sekar Jagad, yang telah lama berlatih olah kanuragan" kata Karebet dalam hati.
Karebetpun kemudian mengedarkan pandangannya berkelilng, dilihatnya ada dua orang pemuda berbadan tegap sedang mengangkat sebuah ompak.
Karebet mendekati mereka, dan setelah kedua pemuda itu meletakkan ompak yang dibawanya, maka Kerebetpun menepuk bahu kedua pemuda itu.
"Siapa namamu ?" tanya Karebet.
"Saya, Wage" jawab salah seorang dari mereka.
"Yang satu lagi siapa namamu ?" tanya Karebet kepada pemuda yang disebelahnya.
"Saya, Waras" kata pemuda itu.
"Kalau kadipaten Pajang sudah berdiri, nanti akan dibentuk beberapa pasukan prajurit, diantaranya kesatuan Wira Tamtama dan Wira Manggala, apakah kalian semua bersedia menjadi prajurit Wira Tamtama ?" tanya Karebet.
"Menjadi prajurit Wira Tamtama ? Mau, aku mau menjadi prajurit Wira Tamtama Kadipaten Pajang" kata salah seorang dari mereka.
"Kalau kau, apakah kau mau menjadi seorang prajurit ?" tanya Karebet kepada pemuda yang disebelahnya.
"Mau" jawab Waras.
"Baik, nanti setelah Kadipaten Pajang berdiri, akan diadakan pendadaran untuk menjadi prajurit" kata Karebet.
"Diadu melawan seekor kerbau?" tanya Wage.
"Tidak, pendadarannya adalah, lari, melompat, merayap, naik ke sebuah pohon dan berenang menyeberangi sungai" jawab Karebet.
"Aku akan ikut pendadaran" kata Wage beremangat.
"Aku juga ikut pendadaran" kata Waras.
"Ya beritahukan ini ke teman-temanmu" setelah berkata demikian, Karebetpun meninggalkan mereka, dan iapun masih bertanya kepada beberapa pemuda yang lain, dipilihnya beberapa pemuda yang berbadan tegap, dan ditawarinya untuk menjadi prajurit
Ketika dilihatnya Lurah Wiguna bersama beberapa orang sedang mengangkat sebatang kayu, maka Karebetpun menghampirinya.
"Ki Lurah, aku tinggal sebentar, aku akan pergi ke Pengging, persediaan beras kita perlu dipasok lagi satu atau dua pedati" kata Karebet.
"Ya, silahkan" kata Lurah Wiguna.
Karebetpun lalu menyiapkan kudanya, dan tak lama kemudian seekor kuda telah berlari meninggalkan Pajang menuju Pengging.
Di perjalanan, Karebet memacu kudanya tidak terlalu kencang, jalan yang sedikit menanjak tidak mempengaruhi kecepatan kuda yang ditumpanginya.
Ketika kudanya memasuki desa Pengging, maka lari kuda agak diperlambat, lalu kudanyapun dibelokkan memasuki halaman rumahnya.
Karebetpun kemudian turun dan naik ke pendapa, dan dari dalam keluar seorang pembantu tua yang setia, Ki Purwa.
"Siwa sedang apa ?" tanya Karebet.
"Sedang membelah kayu bakar, kau mau minum kelapa muda ngger, nanti aku ambilkan" kata Ki Purwa.
"Siwa masih kuat naik pohon kelapa?" tanya Karebet.
"Sehari naik pohon kelapa tiga kalipun aku masih kuat" kata pembantunya.
"Tidak usah wa, aku tidak haus" kata Karebet.
"Kau akan ke rumah Truna Ompak ngger ?" tanya pembantunya.
"Tidak wa, pekerjaan membuat ompak telah selesai" jawab Karebet, iapun berhenti sebentar, lalu iapun bertanya :"Lumbung kita isinya masih banyak wa?"
"Hampir penuh"
"Tolong besok siwa bisa menyuruh orang untuk menumbuk padi, atau kalau padinya kurang, kita beli dari beberapa orang tetangga, setelah itu siwa bisa menyuruh orang untuk mengirim ke Pajang dengan menggunakan pedati, siwa bisa mengirim dua kali" kata Karebet.
"Baik ngger" pembantunyapun bersedia untuk mengirim beras ke Pajang.
"Wa, dulu kita punya kotak kayu kecil yang berisi beberapa barang peninggalan ayah Ki Kebo Kenanga, sekarang kotak itu berada dimana ?" tanya Karebet.
"Masih ada, kotak kayu itu masih saya simpan" kata Ki Purwa.
"Coba wa, bawa kesini kotaknya"
Pembantunyapun kemudian pergi kebelakang dan tak lama kemudian iapun datang dengan membawa kotak kayu yang ukurannya tidak terlalu besar, lalu kotak itupun diberikan kepada Karebet, dan Karebetpun menerima kotak kayu sambil berkata dalam hati :"Kotak ini cukup untuk tempat keris Kyai Naga Siluman"
Karebetpun membuka kotak kayu dan mengeluarkan isinya, yang berupa beberapa perhiasan yang dulu pernah dipakai Nyai Ageng Pengging.
"Wa, aku butuh kotak ini, kotak ini akan saya bawa ke Pajang, dan perhiasan ini supaya kau simpan lagi, masukkanlah ke dalam sebuah bumbung" kata Karebet.
"Baik ngger" kata uwa pembantunya, lalu iapun mengambil sebuah kantung kain dan kotak itupun dimasukkan kedalamnya.
Karebetpun menerima bungkusan itu dan iapun kemudian pamit akan ke kembali Pajang
Kembali Karebet naik ke pungung kudanya, dan kuda itupun kemudian berlari ke arah Pajang.
Di perjalanan, dilihatnya beberapa pemuda yang sedang mencangkul sawahnya.
"Daerah Pengging masih termasuk dalam kadipaten Pajang, nanti kalau aku sempat, aku akan berbicara dengan para Pemuda Pengging untuk memberi kesempatan mereka menjadi prajurit Pajang" kata Karebet didalam hatinya.
Kudanyapun masih berlari, dan ketika
Karebet sudah hampir sampai di bulak amba, kudanyapun dibelokkan mendekati sebuah pohon beringin liar.
Setelah memastikan disekelilingnya tidak ada seorangpun, maka sambil membawa bungkusan berisi kotak kayu, Karebetpun kemudian naik ke atas pohon beringin. Diambilnya keris Kyai Naga Siluman yang tadi malam diletakkan disana, lalu dimasukkan kedalam kotak yang dibawanya dari Pengging.
"Sekarang kerisnya aman dari air hujan ataupun embun pagi" kata Karebet sambil menutup kotak kayu itu.
Setelah meletakkan kotak berisi keris Kyai Naga Siluman, ditempat yang tersembunyi, maka Karebetpun turun kebawah, sambil mengelilingi pohon itu, didongakkan kepalanya :"Kotak itu tidak kelihatan, aman, mudah-mudahan tidak ada seorangpun yang tahu"
Sekali lagi Karebet berjalan memutar mengelilingi pohon beringin itu, pandangan matanya melihat kearah tempat penyimpan kotak berisi keris pusaka Kyai Naga Siluman, lalu dipandangnya dahan-dahan pohon itu dari berbagai sudut, dan setelah kotak itu tidak terlihat dari arah manapun, maka Karebetpun kemudian naik ke punggung kudanya dan dilarikannya menuju ke bulak amba.
Saat itu suasana di bulak amba, orang-orang masih disibukkan dengan melakukan kegiatan untuk menyelesaikan pekerjaan pembuatan dalem kadipaten Pajang dan ruang Paseban.
Seekor kuda tertambat disebuah dahan pohon, milik seorang tamu dari kotaraja Demak, tamu seorang prajurit Wira Tamtama utusan Kanjeng Sultan Trenggana yang sedang berbincang dengan Lurah Wiguna.
Ketika kuda yang ditunggangi oleh Karebet mendekati gubug di bulak amba, maka Lurah Wiguna dan tamu dari kotaraja Demak, seorang prajurit Wira Tamtama mendekat menyambut Karebet.
Karebetpun turun dari kudanya lalu berjalan menghampiri Lurah Wiguna dan tamunya.
"Kau Soma" sapa Karebet kepada prajurit Wira Tamtama yang ternyata adalah Soma.
"Ya" kata Soma sambil tersenyum :"Aku diutus Kanjeng Sultan untuk menemui Ki Lurah Wiguna dan menemuimu"
"Dari kotaraja kau pergi sendiri ?" tanya Karebet.
"Aku berangkat berempat, yang ke Pajang aku sendiri, sedangkan tiga orang Wira Tamtama yang lain pergi ke Kalinyamat, Prawata dan Jipang" jawab Soma.
"Berapa hari kau berada di Pajang?" tanya Karebet.
"Besok pagi aku pulang ke kotaraja"
"Cepat sekali, kau disini hanya semalam" kata Karebet.
"Ya, Kanjeng Sultan sudah menunggu laporanku tentang perkembangan pekerjaan pembangunan Kadipaten Pajang, Ki Lurah Wigunapun sudah melaporkannya padaku" kata Soma.
Karebetpun menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum puas iapun berkata :"Di Pajang tidak ada persoalan yang berarti, semuanya lancar, pekerjaan berat mendirikan kayu saka sudah bisa dilaksanakan, tinggal pekerjaan selanjutnya yang tidak begitu berat".
"Ya, tadi Ki Lurah juga sudah bercerita tentang pelaksanaan pembangunan, Ki Lurah juga bercerita tidak ada masalah tentang dana yang dipakai untuk membangun Kadipaten" kata Soma.
Merekapun berbincang-bincang dan tak terasa mataharipun telah turun ke cakrawala, dan ketika gelap malam menyelimuti bumi Pajang, empat orang yang berasal dari Sela, Pemanahan Penjawi, Juru Martani beserta Sutawijaya mendekati Karebet lalu Pemanahanpun berkata:"Adi Karebet, besok pagi aku minta ijin, Danang Sutawijaya akan pulang ke Sela, dan akan diantar oleh Ki Juru Martani sedangkan aku dan adi Penjawi akan tetap tinggal disini".
"Silahkan kakang Pemanahan, pengalaman bekerja ikut membangun dalem kadipaten ini sangat berguna bagi Sutawijaya" kata karebet..
"Ya, bagaimanapun dulu aku sudah berjanji kepada kakeknya untuk mengajak Danang ke Pajang selama sebulan, hanya sebulan" kata Pemanahan.
"Danang, hati-hati di perjalanan besok"
kata Karebet kepada Sutawijaya.
"Ya paman Karebet" jawab Sutawijaya.
"Jangan lupa, kau bawa tombak pusakamu Kyai Penatas" kata Karebet.
"Ya paman"
Dan keesokan harinya, tombak pusaka Kyai Penataspun telah berada didalam genggaman tangan Sutawijaya, yang sudah duduk diatas punggung kuda jantan yang gagah.
Badannya yang masih belum sebesar orang dewasa, terlihat agak kecil dibandingkan dengan kuda jantan yang ditungganginya.
Tangannya dengan erat menggenggam tombak Kyai Penatas, itulah Sutawijaya yang berada diatas punggung kudanya, seorang anak yang belum dewasa, tetapi sudah trampil memainkan senjata tombaknya, yang tidak mudah dikalahkan oleh orang dewasa sekalipun.
"Saya pamit dulu adi, suatu saat aku akan kembali ke sini" kata Juru Martani kepada Karebet.
"Ya kakang Juru Martani, pintu kadipaten Pajang akan selalu terbuka untuk kakang Juru Martani, dan tolong sampaikan salam hormat saya kepada Ki Ageng Enis Sela" kata Karebet.
"Baik adi, nanti saya sampaikan kepada Ki Ageng, saya berangkat sekarang adi Karebet" kata Ki Juru Martani, lalu kudanyapun dijalankan, diikuti oleh kuda Sutawijaya, berlari meninggalkan Pajang.
Debu mengepul di belakang kaki dua ekor kuda yang berlari tidak terlalu kencang.
Setelah kedua ekor kuda itu lenyap dari pandangan, maka Somapun segera pamit kepada Karebet akan segera pulang ke Kotaraja.
"Kanjeng Sultan menunggu kabar dariku" kata Soma.
"Ya Soma, tolong titip salam saya kepada Nyai Madusari, dan bilang kalau aku disini baik-baik saja" kata Karebet.
"Baik nanti saya sampaikan" jawab Soma sambil tertawa.
Karebetpun tersenyum, dan setelah Soma berpamitan kepada semua orang, sesaat kemudian iapun telah berada dipunggung kudanya, lalu dijalankannya kuda itu menuju ke arah kotaraja.
Beberapa saat kemudian, orang-orang telah disibukkan dengan kerja, sebagian orang bekerja membangun dalem kadipaten, sedangkan sebagian orang lagi bekerja membangun ruang paseban, seperti bangunan Sasana Sewaka yang berada di kraton Demak.
Bersama beberapa orang lainnya, Karebetpun ikut mengangkat ompak yang sebentar lagi akan dipasang di ruang paseban.
Ketika semua orang sedang sibuk bekerja, dari jauh terlihat ada seorang pemuda yang mendekati pembangunan dalem Kadipaten, dan setelah bertanya kepada seseorang, maka pemuda itupun di bawa ke Karebet.
Karebet lalu meletakkan ompak yang dibawanya, dilihatnya pemuda itu menundukkan kepalanya dengan sikap ngapurancang.
"Apakah saya berhadapan dengan kakangmas Karebet ?" tanya pemuda itu.
"Ya, aku Karebet, kau siapa ?" tanya Karebet
"Nama saya Wenang, putra Ki Ageng Butuh" kata pemuda itu.
"O kau putra Ki Ageng Butuh, aku lama disana, tapi tidak pernah melihatmu" kata Karebet.
"Ya, karena saya baru kemarin pulang dari bang kulon, lalu ayah menyuruh saya untuk menemui kakangmas Karebet di Pajang"
"Kau baru saja datang dari bang kulon ? Dimana?" tanya Karebet.
"Saya pergi ke Cirebon, lalu berjalan ke gunung Ciremai, terus melanjutkan perjalanan keselatan sampai Segara Anakan" kata Wenang.
"Kau berlatih olah kanuragan di beberapa perguruan ?" tanya karebet.
"Ya"
"Bagus" kata Karebet :"lalu kau kesini diutus Ki Ageng Butuh?"
"Ya, saya disarankan untuk ke Pajang, dan kalau kakangmas Karebet mau menerima, saya bersedia mengabdi di Pajang" kata Wenang.
Karebet tersenyum, dengan bergabungnya Wenang putra Ki Ageng Butuh, maka Pajang akan bertambah kuat.
(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita