Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 20 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 20 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Ketika Karebet melihat keempat orang yang turun dari punggung kuda, senyumnya mengembang, hatinya senang dengan kedatangan mereka.

"Selamat datang orang-orang pinunjul dari Banyubiru, selamat datang di Pajang" kata Karebet sambil maju kedepan, lalu keempat orang itupun dipersilahkan masuk kedalam gubug. Lalu Karebetpun memperkenalkan keempat orang yang baru datang itu kepada Lurah Wiguna.

Keempat orang itu, Wuragil, Majasta, Mas Manca dan Jaka Wila, datang ke Pajang, setelah di beri tahu oleh Suta dan Naya yang berkunjung ke Banyubiru, untuk segera membantu pembuatan dalem Kadipaten Pajang.

Setelah Karebet memperkenalkan nama ke empat orang dari Banyubiru, maka Lurah Wigunapun juga memperkenalkan dirinya.

"Selamat datang di Pajang, saya Lurah Wiguna dari kesatuan Wira Manggala" kata Lurah Wiguna, lalu iapun memperkenalkan semua rombongan dari yang berada digubug tersebut.

"Angger Karebet" kata Majasta :"Beberapa hari yang lalu, Suta dan Naya, telah berkunjung ke Banyubiru, memberitahu angger Karebet sudah berangkat ke Pajang membangun dalem Kadipaten, maka kami berempat menyusul ke sini"

"Saat ini Ki Buyut Banyubiru belum bisa ikut kesini, tetapi besok pagi dari Banyubiru akan menyusul berangkat dua orang tukang kayu dari Banyubiru yang membawa dua ekor kuda beban dan diperkirakan besok lusa akan sampai di Pajang. Empat ekor kuda ini biar disini untuk memperkuat pajurit Pajang, ditambah dua ekor kuda beban yang datang besok lusa, semuanya biar disini untuk kepentingan Pajang" kata Majasta.

"Terima kasih Ki Majasta" sahut Karebet yang tersenyum senang karena mendapat tambahan enam ekor kuda dan dua orang tenaga tukang dari Banyubiru.


Ketika matahari telah tenggelam di langit sebelah barat, lima orang yang mendapat tugas mencari pohon yang akan di tebang telah kembali ke gubug.

Mereka telah menemukan hutan jati tidak jauh dari daerah Pajang. Puluhan batang pohon telah ditandai, sehingga besok pagi tinggal memotong saja

Ketika mereka telah memasuki gubug, maka Wigunapun memperkenalkan mereka dengan orang-orang dari Banyubiru.

Ketika semua orang yang berada di gubug sudah membersihkan dirinya di sungai, maka juru adangpun mempersiapkan makan malam, nasi jagung beserta sayur kluwih.

"Silahkan dimakan, adanya cuma ini, nasi jagung" kata juru adang mempesilahkan.

Setelah makan, sambil menghangatkan badan didepan perapian, Lurah Wiguna berbicara dengan Karebet beserta empat orang dari Banyubiru.

"Adi Karebet, salah satu pekerjaan yang akan dilakukan besok pagi adalah pembuatan ompak" kata Lurah Wiguna.

"Berapa buah ompak yang akan dibutuhkan Ki Lurah?"

"Untuk dalem Kadipaten dan ruang paseban masing-masing butuh ompak sebanyak enam belas, jadi kita butuh tiga puluh dua buah ompak"

"Di daerah Pengging ada dua orang yang pekerjaannya membuat ompak" kata Karebet.

"Nah kita berbagi tugas, siapa yang akan membantu membuat ompak?" tanya Karebet kepada Ki Majasta dan Ki Wuragil.

" Biar aku yang membuat ompak beserta Jaka Wila" kata Wuragil menyanggupi untuk membantu membuat ompak.

"Nah kalau begitu, besok pagi Ki Wuragil bersama adi Jaka Wila berangkat ke Pengging menemui pembuat ompak yang bernama Ki Truna Ompak beserta anaknya yang juga pembuat ompak" kata Karebet.

"Baik, besok aku akan ke pergi Penging, akan aku mencari letak rumah Ki Truna Ompak" jawab Wuragil.


Karebet menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Ki Wuragil dan adi Jaka Wila kalau pergi ke Pengging, sebaiknya berkuda, supaya bisa cepat kalau akan pergi kesana kemari"

"Baik, besok aku akan pergi berkuda" kata Wuragil, lalu merekapun berbicara mengenai rencana untuk membangun dalem Kadipaten sampai wayah sepi bocah.

Ternyata kesibukan mengumpulkan para bebahu beserta rakyatnya tidak hanya dilakukan di Pajang, tetapi juga dilakukan di Kalinyamat, Prawata dan di Jipang,

Pangeran Hadiri dan Pangeran Arya memperkenalkan dirinya sebagai penghuni pesanggrahan yang akan dibangun di Kalinyamat maupun di Prawata, sedangkan Penangsang yang sudah dikenal di Jipang memperkenalkan dirinya sebagai seorang calon Adipati Jipang.

Malam itu kegelapan menyelimuti bumi Kalinyamat, Prawata, Jipang maupun Pajang, dan malampun terus berjalan sampai ke ujungnya, setelah itu mataharipun muncul di ufuk timur, semua orang yang berada di sebuah gubug di daerah bulak amba Pajang, telah terbangun dan mulai melakukan berbagai kegiatan

Juru adang sudah mulai menanak nasi, untuk bekal makan siang bagi para penebang kayu yang berjumlah lima orang, dan bekal untuk Wuragil dan Jaka Wila yang akan pergi ke Pengging.


Ketika matahari mulai memanjat naik di langit sebelah timur, maka orang-orang yang dikirim oleh para bebahu di seluruh Pajang sudah mulai berdatangan.

Semakin lama orang yang datang menjadi semakin banyak sehingga ketika hari sudah semakin terang, yang berkumpul sudah hampir memenuhi tempat didepan gubug.

Mereka datang dengan membawa bermacam-macam alat, ada beberapa orang yang membawa cangkul, parang, dan ada yang membawa keranjang.

"Lebih dari lima puluh orang" kata Lurah Wiguna, setelah menghitung semua orang yang datang di depan gubug.

Ki Lurah Wigunapun kemudian bertanya kepada orang-orang yang sudah berkumpul di depan gubug :"Siapakah diantara kalian yang bisa membuat ompak?"

Tiga orang mengangkat tangannya, lalu Lurah Wigunapun menyuruh mereka untuk maju kedepan.

"Kau bisa membuat ompak ?" tanya Lurah Wiguna.

"Bisa Ki Lurah" kata mereka bertiga bersamaan.

"Baik hari ini kalian akan bekerja membuat ompak bersama kami, kalian tunggu disini dulu" kata Ki Lurah.


Lurah Wigunapun memanggil Wuragil, lalu Wuragilpun menemui ketiga orang pembuat ompak dari Pajang.

Ki Wuragilpun berkata kepada ketiga orang dari Pajang yang mengaku bisa membuat ompak :"Namaku Wuragil, ini Jaka Wila, kita akan bersama-sama naik kuda ke Pengging, kalian bisa mengendarai kuda?"

"Bisa Ki" kata salah seorang dari mereka.

Sementara itu, Lurah Wiguna berkata lagi kepada rakyat Pajang yang berkumpul di bulak amba, yang akan bergotong royong mendirikan dalem Kadipaten :"Apakah diantara kalian ada yang bisa memotong pohon, maupun memotong kayu ?"

Ada sepuluh orang mengangkat tangannya, beberapa orang diantaranya ada yang membawa kapak untuk memotong pohon.

Sesaat kemudian, Lurah Wigunapun menyuruh mereka maju dan berkumpul menjadi satu dengan para tukang kayu yang akan berangkat memotong pohon di hutan jati.

Setelah itu Lurah Wigunapun berkata lagi :"Apakah diantara kalian ada yang bisa membuat batu bata?"


Ternyata tidak ada satupun rakyat Pajang yang mengangkat tangannya.

"Baik, kalau tidak ada yang bisa mencetak batu bata, silahkan maju sepuluh orang, nanti kalian akan dibimbing dan diajari cara membuat batu bata" kata Ki Lurah.

Lalu beberapa orang maju kedepan dan Lurah Wigunapun menunggu sampai ada sepuluh orang, lalu merekapun dikumpulkan tersendiri..

Disudut gubug, seorang tukang kayu dari Tingkir berbisik kepada Banu yang berpakaian prajurit Wira Manggala :" Buat apa mencetak batu bata banyak sekali ?"

"Nanti batu bata yang sudah dibakar akan diatur berjejer untuk lantai dalem Kadipaten maupun untuk lantai Sasana Sewaka ruang Paseban, seperti yang ada di ruangan Kraton Demak" jawab Banu.

"Lantai dari bata akan terlihat bersih, jadi kalau kita duduk bersila menghadap Kanjeng Sultan, pakaian kita tidak kotor terkena tanah" kata Banu menerangkan.

Mendengar penjelasan prajurit Wira Manggala, tukang kayu dari Tingkirpun menganggukkan kepalanya.

Didepan gubug, orang-orang yang masih menunggu perintah, ternyata lebih dari tiga puluh orang dan oleh Lurah Wiguna, mereka kemudian diajak bekerja bergotong royong meratakan tanah di bulak amba.


Di lokasi yang akan dibangun dalem Kadipaten maupun ruang paseban, akan diurug dengan tanah, supaya nanti letaknya bisa agak lebih tinggi dari tanah disekitarnya.

Lurah Wigunapun mendekati Ki Majasta dan iapun berkata :"Ki Majasta, nanti orang-orang ini diarahkan dulu untuk mengurug lokasi calon dalem Kadipaten, sementara saya akan mengajari beberapa orang untuk mencetak bata, dan untuk pengawasannya, nanti saya akan mengajak Mas Manca untuk bekerja bersama mereka."

"Baik Lurah" sahut Ki Majasta.

"Kita punya enam buah keranjang dan enam buah cangkul, ditambah beberapa cangkul dan keranjang yang telah dibawa orang-orang itu, kemungkinan pekerjaan pengurugan bisa lancar" kata Ki Lurah.

Maka mulailah Lurah Wiguna, Majasta bersama rakyat Pajang meratakan tanah di bulak amba, tanah yang tadinya bergelombang tak beraturan, dicangkul dan diratakan, sedangkan sisa tanahnyapun diangkut dengan keranjang dan diurugkan ke lokasi dalem Kadipaten.

Beberapa gundukan tanah yang tidak terlalu tinggi juga diratakan dengan cangkul yang dibawanya.

"Ini yang namanya membuat siti inggil" kata salah seorang pekerja kepada temannya.

Di gubug, dua orang juru adang telah memberikan bekal makanan dan air kepada belasan orang yang akan berangkat memotong pohon jati. Beberapa orang dari mereka membawa beberapa kapak, pethel maupun pedang pendek.


Setelah menerima bekal makanan yang cukup, kemudian belasan orang itu berjalan beriringan menuju ke hutan jati yang berada disebelah barat Pajang.

Setelah memberikan bekal makanan kepada pekerja yang akan memotong pohon, dua orang juru adang kembali memberikan bekal kepada Wuragil dan Jaka Wila yang akan pergi ke desa Pengging menemui Truna Ompak.

Wuragil, Jaka Wila dan tiga orang Pajang yang akan membuat ompak, menuju ke belakang gubug, memeriksa kesiapan beberapa kuda yang akan membawa mereka ke Pengging.

"Ki Wuragil nanti kita akan lewat didepan rumahku, nanti aku akan berhenti sebentar mengambil beberapa alat-alat untuk membuat ompak" kata salah seorang dari mereka.

"Baik, nanti kalau lewat depan rumahmu, kita berhenti sebentar" kata Wuragil sambil naik keatas punggung kuda, diikuti oleh Jaka Wila serta tiga orang lainnya.

Sejenak kemudian terdengar derap beberapa ekor kuda meninggalkan Pajang menuju Pengging.

Lurah Wiguna menghampiri Ki Majasta yang sedang mengatur gugur gunung meratakan tanah, mengatakan bahwa ia akan pergi bersama sepuluh orang yang akan membuat bata.

"Ki Majasta, tolong diawasi perataan tanah bulak dan pengurugan tanah" kata Ki Lurah.

"Baik Ki Lurah" kata Ki Majasta.

Setelah berbicara dengan Majasta, maka Lurah Wiguna kembali memasuki gubug, menemui Karebet. "Adi Karebet, aku akan mengajari sepuluh orang untuk membuat bata" kata Lurah Wiguna sambil mengambil enam buah cetakan bata yang terbuat dari kayu yang dibawanya dari Demak.

"Silahkan Ki Lurah, nanti saya juga akan berkuda berkeliling ketempat para pekerja" kata Karebet, lalu keduanyapun keluar dari gubug.

Didepan, dilihatnya Mas Manca sedang membawa keranjang berisi tanah.

"Mas Manca, kita berangkat sekarang"

"Baik Ki Lurah" kata Mas Manca, kemudian iapun memberikan keranjangnya kepada salah seorang dari mereka, dan Mas Mancapun mengikuti Lurah Wiguna dari belakang.


Ki Lurah Wiguna lalu pergi ke samping gubug, menghampiri sepuluh orang yang akan membuat bata. "Ini adalah cetakan batu bata, cetakan ini aku bawa dari Demak, coba kalian bawa cetakan ini" kata Ki Lurah sambil menyerahkan enam buah cetakan batu bata.

"Kalian tahu, di daerah mana yang banyak terdapat tanah liat?" tanya Ki Lurah Wiguna.

"Ada Ki Lurah, di daerah wetan kali" kata salah seorang dari mereka.

Lalu merekapun berjalan menuju wetan kali, yang banyak terdapat tanah yang bercampur dengan tanah liat.

Mas Mancapun mengambil beberapa genggam tanah, lalu dengan menggunakan tangan, tanah liat itupun di campur, dan diaduk berkali-kali, melihat itu, Ki Lurah Wigunapun merasa puas.

"Tanah liat disini cukup baik untuk dibuat batu bata" kata Ki Lurah.

Lalu merekapun berjalan menuju wetan kali, yang banyak terdapat tanah yang bercampur dengan tanah liat.

Mas Mancapun mengambil beberapa genggam tanah liat dan tanah biasa, lalu dengan menggunakan kedua tangannya, tanah liat itupun di campur dengan tanah, dan diaduk berkali-kali, melihat itu, Lurah Wigunapun merasa puas.

"Tanah liat disini cukup baik untuk dibuat batu bata" kata Lurah Wiguna.

"Saya akan mengaduk tanah liat yang agak banyak" kata Lurah Wiguna sambil meminjam sebuah cangkul yang dibawa oleh salah seorang yang ikut gugur gunung.


Ki Lurah kemudian mencangkul tanah liat beberapa kali, setelah tanah liat terkumpul agak banyak, lalu dicampur dengan sedikit tanah, dan diberi air yang diambilkan dari sungai didekatnya dengan menggunakan bumbung yang dibawanya, setelah itu hasil campuran itupun diinjak injak untuk mendapatkan kekentalan yang cukup.

"Campuran tanah liat ini diberi sedikit air, jangan terlalu encer, jangan pula terlalu padat, sebaiknya dibuat lunak seperti ini, lalu diaduk dan diinjak-injak, setelah itu tanah liat yang sudah diaduk, dimasukkan kedalam cetakan bata" kata Ki Lurah.

Mas Mancapun kemudian ikut menginjak-injak tanah liat bersama Ki Lurah Wiguna, sampai tanah liatnya siap untuk dimasukkan kedalam alat pencetak bata.


Kemudian Ki Lurah Wigunapun mengajari mereka mencetak tanah liat dengan menggunakan beberapa cetakan bata yang dibawanya dari Demak

"Setelah dilepas dari cetakan, bata mentah kemudian dijemur dibawah sinar matahari sampai kering, setelah kering bata yang masih mentah itu kemudian dibakar" kata Ki Lurah Wiguna menjelaskan.

"Untung saja saat ini adalah musim kemarau, sehingga tanah liat yang dijemur cepat menjadi kering, kalau dimusim penghujan, kita pasti kesulitan menjemurnya"

Jaka Wilapun kemudian mencangkul tanah liat, dan bersama beberapa orang merekapun menginjak-injak tanah liat, lalu menyiramnya dengan sedikit air supaya tanah liat itu tidak terlalu padat.


Sementara itu, ditempat yang lain, kuda-kuda Wuragil dan Jaka Wila beserta tiga orang temannya telah memasuki desa Pengging, setelah singgah sejenak di rumah salah seorang dari mereka, mengambil beberapa alat untuk membuat ompak.

Ketika Ki Wuragil melihat seseorang sedang berjalan, maka Wuragilpun menghentikan kudanya dan bertanya :" Ki Sanak, dimanakah rumah Ki Truna Ompak, yang rumahnya di daerah Pengging?"

"Ki Sanak lurus saja, nanti sebelum umbul Pengging, ada rumah yang halamannya banyak terdapat batu, nah itulah rumah Truna Ompak" kata orang tersebut sambil tangannya menunjuk ke arah umbul Pengging.

"Terima Kasih Ki Sanak" lalu Wuragilpun melanjutkan perjalanannya ke arah umbul Pengging.

Kaki-kaki kudapun berderap kembali menuju rumah Truna Ompak yang sudah semakin dekat.

Ketika laju kuda hampir sampai di Umbul Pengging, terlihat sebuah rumah ditepi jalan yang di sudut halamannya terdapat beberapa batu yang berserakan, maka Wuragil dan rombongannya membelokkan kudanya memasuki halaman rumah itu.

Disudut halaman, dibawah sebatang pohon, ada seorang yang sedang duduk, bekerja memukul dan meratakan sebuah batu. Ketika dilihatnya serombongan orang berkuda masuk ke halaman rumahnya dan turun dari kudanya, maka iapun berdiri dan menyambutnya.


           "Selamat datang Ki Sanak, aku Truna Ompak, silahkan masuk dan silahkan duduk dulu             

            di pendapa" kata Truna Ompak mempersilahkan.


Kemudian Wuragilpun duduk dipendapa, berhadapan dengan Ki Truna Ompak, sedangkan keempat orang yang lain berada dibelakang Ki Wuragil.

"Nama saya Wuragil, saya kesini diutus untuk menemui Ki Truna Ompak dan ini semua ada hubungannya dengan Titah Kanjeng Sultan Trenggana" lalu Wuragilpun menerangkan tentang pembuatan dalem Kadipaten Pajang yang sekarang sedang dikerjakan.

"Jadi nanti Karebet yang akan menjadi Adipati Pajang ?" tanya Ki Truna Ompak sambil tersenyum, betapa bangganya dia, seorang anak muda kelahiran Pengging bisa menjadi seorang Adipati di Pajang.

"Ya, titah dalem Kanjeng Sultan Demak memang begitu, putra Ki Ageng Pengging yang akan diangkat menjadi seorang Adipati" kata Wuragil menjelaskan.

"Ya, aku sangat bangga nanti yang menjadi Adipati Pajang adalah Karebet, lalu apa yang bisa saya kerjakan ?" tanya Truna Ompak.

"Di Pajang, saat ini kami sedang membangun dalem Kadipaten dan ruang paseban, nah kami butuh tiga puluh dua ompak yang akan kami pasang di dalem Kadipaten Pajang dan ruang Paseban" kata Wuragil.

"Baik, berarti untuk menopang tiang saka, masing-masing butuh ompak empat buah, sehingga kita butuh ompak yang berukuran besar adalah delapan, sedangkan yang berukuran sedang, kita butuh dua puluh empat buah" jawab Truna Ompak.

"Ki Truna Ompak, disini sudah ada tersedia ompak berapa buah ?" tanya Wuragil.

"Ki Wuragil, yang sudah jadi ompak, kami hanya punya beberapa buah, tetapi kami mempunyai batu banyak sekali, yang bisa segera dibuat menjadi ompak, nanti kalau persediaan batunya habis, kita bisa mencari batu bekas muntahan gunung Merapi" kata Truna Ompak.

"Ya, nanti ki Truna Ompak akan dibantu oleh beberapa pemuda ini, mereka sudah membawa alat-alatnya sendiri" kata Wuragil sambil menunjuk kepada pemuda yang ikut bersamanya.

"Nanti akan aku buatkan dulu contoh ompak yang ukuran besar dan ukuran tanggung, nanti kalian tinggal menyontoh ukurannya. Nanti, pembuatan ompak disesuaikan dengan ukuran tiangnya, lalu tiang saka yang berjumlah empat buah itu seberapa ukurannya ?" tanya Truna Ompak.

"Ah" kata Ki Wuragil menyadari kesalahannya :"Nanti aku tanyakan kepada Ki Lurah seberapa ukuran kayu saka yang akan dipakai untuk dalem Kadipaten"

"Baik, biasanya kayu saka yang dipakai adalah sebesar sepelukan orang" kata Truna Ompak menjelaskan.

"Ya, mungkin ukurannya seelukan orang" kata Wuragil sambil menganggukkan kepalanya.

"Marilah kita mulai membuat ompak, saya punya beberapa alat untuk membuat ompak, nanti Ki Wuragil bisa menggunakan alat-alat yang ada disini" ajak Truna Ompak.

Merekapun kemudian keluar menuju halaman dan mulai bekerja membentuk batu menjadi sebuah ompak.


Sementara itu, Karebet yang berada di gubugpun kemudian ikut bekerja bersama orang-orang Pajang, menimbun tanah di lokasi dalem Kadipaten.

Ketika matahari sudah agak tinggi, maka Karebetpun kemudian kembali ke gubug, mengambil seekor kuda, lalu berkata kepada Tumpak :"Aku akan berkeliling ke tempat yang lain"

Lalu kepada Banupun ia berkata :"Selama Ki Lurah masih berada ditempat pembuatan bata, tolong awasi yang sedang bekerja mengurug tanah" kata Karebet sambil naik ke punggung kuda.

"Ya" sahut Tumpak dan Banu, merekapun melihat Karebet menjalankan kudanyan berlari meninggalkan gubug mereka.

Karebet yang telah mengetahui lekuk liku daerah Pajang, menjalankan kudanya tidak terlalu cepat menuju kearah barat, menuju hutan jati.


Beberapa saat kemudian kuda yang berlari meninggalkan bulak amba berhenti karena tali kekangnya ditarik.

Penunggang kuda itu, Karebet, sesaat kemudian berdiam diri, mendongakkan kepalanya, untuk mendengarkan suara pohon yang ditebang. Suara kapak yang menghantam batang pohon terdengar berkali-kali.

"Disana" katanya didalam hati, lalu iapun memajukan kudanya beberapa langkah, lalu Karebetpun turun dari punggung kudanya.

Ditambatkannya tali kendali kudanya pada sebatang pohon, lalu Karebetppun berjalan memasuki hutan.


Ketika Karebet masuk kehutan semakin dalam maka suara pohon yang terkena kapak menjadi semakin jelas, dan tak lama kemudian tampak beberapa orang sedang sibuk mengerjakan beberapa pekerjaan, ada beberapa orang yang menebang pohon, ada juga yang memotong beberapa dahan pohon yang sudah roboh.

Di atas tanah, tergeletak tiga batang kayu yang sudah dirobohkan berukuran hampir sebesar sepelukan orang.

Batang-batang kayu sedang dipotong, dibuat panjang yang sama.

"Ini untuk saka, dalem Kadipaten butuh empat buah tiang, sedangkan untuk ruang paseban butuh empat tiang juga" kata orang yang memotong kayu kepada Karebet.

Ketika Karebet melihat ada seseorang sedang duduk kelelahan setelah menebang sebuah pohon, dan sebuah kapak tergeletak disampingnya, maka Karebetpun menghampirinya dan meminjam kapaknya.

Dengan sebuah kapak ditangan, Karebetpun ikut memotong cabang-cabang pohon yang masih terdapat di batang pohon yang tergeletak di atas tanah.


Mataharipun merayap naik hampir mencapai puncak langit, tetapi Karebet masih berada di hutan jati, bekerja memotong pohon bersama belasan orang lainnya.

Kesibukan ternyata tidak hanya terjadi di Pajang saja, tetapi juga terjadi di daerah Kalinyamat, Prawata maupun Jipang.


Di Jipang, Lurah Kerta sibuk memimpin beberapa orang yang sedang memotong pohon jati yang tumbuh tidak jauh dari tepi Bengawan Sore.

Arya Penangsang, di pagi hari itu dengan naik kuda yang gagah berwarna hitam, Gagak Rimang, mengunjungi puluhan orang yang memotong pohon jati.

Matahun, orang yang setia kepada Penangsang, meskipun sudah berusia lanjut, ternyata tenaganya masih kuat dan tangannya masih trampil memotong pohon jati dengan menggunakan kapak.

Ketika Penangsang melihat rakyat Jipang gugur gunung membangun dalem Kadipaten, maka iapun turun dari punggung kudanya dan menyingsingkan lengan bajunya, ikut bekerja memotong pohon bersama puluhan rakyat Jipang.


Ketika dilihatnya Arya Penangsang ikut bekerja memotong kayu bersama rakyat Jipang, maka Matahunpun perlahan-lahan mendekati Penangsang.

"Raden" kata Ki Matahun perlahan-lahan.

Penangsangpun menoleh :"Ada apa paman Matahun"

"Raden, apakah tidak sebaiknya, ketika kita semua sibuk bekerja begini, Raden Penangsang bisa memanggil adik Raden untuk membantu" kata Matahun

"Adikku? Arya Mataram? Ah dia adalah seorang yang penakut" kata Penangsang sambil tetap bekerja memotong dahan.

"Itu dulu Raden, sekarang raden Arya Mataram sudah berbeda dengan yang dulu, dia adalah seorang pemuda pemberani" kata Matahun

"Kenapa aku disini sudah dua tiga hari dia tidak muncul kerumah ?" tanya Penangsang

"Sampai saat ini Raden Arya Mataram belum tahu kalau raden berada di Jipang" kata Ki Matahun.

"Dimana dia sekarang?"

"Dia berlatih aji jaya kawijayan di hutan sebelah timur, di seberang Bengawan Sore, kalau Raden Arya Mataram berada disini, paling tidak tenaganya dapat digunakan untuk membantu kita" kata Ki Matahun memberi pertimbangan.

"Rangkud !!" panggil Arya Penangsang dengan keras.


Rangkudpun yang sedang bekerja bersama belasan orang-orang Jipang yang berada tidak jauh darinya, berlari-lari kecil menuju ke tempat Arya Penangsang.

"Rangkud, setelah pekerjaanmu selesai kau pergilah ke tempat adikku berlatih, Arya Mataram, bilang kepadanya supaya membantu pekerjaanku di Jipang" kata Penangsang memerintah orang kepercayaannya.

"Baik raden" kata Rangkud menyanggupi.

Penangsangpun kemudian melanjutkan pekerjaannya, tanpa kenal lelah Penangsangpun ikut menebang pohon memakai kapak.

Tenaga Penangsang yang kuat membuatnya tidak memerlukan waktu yang lama untuk merobohkan sebatang pohon sebesar sepelukan orang.

Matahun yang melihat Arya Penangsang bekerja keras merasa bahwa tenaga yang membangun Jipang perlu ditambah beberapa orang lagi.

"Nanti akan aku carikan tambahan tenaga" kata Matahun dalam hati.


Tak terasa matahari telah condong kebarat, sementara itu di Pajang, Karebet telah selesai membantu penebangan pohon di hutan sebelah barat Pajang,

Alat-alat sudah dikumpulkan, dan orang-orangpun bersiap kembali ke gubug di bulak amba.

Karebetpun kemudian berkuda mendahului pulang ke gubug terlebih dulu.

Di bulak amba, pengurugan tanah sudah selesai, Majasta pun telah beristirahat bersama puluhan orang lainnya.

Ketika dilihatnya Karebet datang berkuda mendekati gubug, maka Majastapun berdiri menyambutnya.

"Bagaimana Ki Majasta, apakah pengurugannya mengalami kesulitan?" kata Karebet sambil turun dari punggung kudanya.

"Tidak angger Karebet, semuanya lancar, sekarang sudah selesai, lalu rencana gugur gunung besok pagi bagaimana ?" tanya Majasta

"Besok puluhan orang itu bisa menyeret kayu yang sudah selesai ditebang, tetapi nanti kita tunggu perintah dari Ki Lurah Wiguna" kata Karebet.


Ketika matahari sudah hampir tenggelam di cakrawala barat, gubugpun sepi, orang-orang yang bekerja sudah pulang semua, Ki Lurah Wiguna dan Mas Manca telah kembali dari mencetak bata, Ki Wuragil dan Jaka Wilapun telah pulang dari membuat ompak.

Ketika Karebet sedang berbincang dengan Ki Lurah Wiguna, telinganya yang tajam mendengar derap beberapa ekor kuda mendatangi gubug di bulak amba.

"Siapakah yang berkuda menuju kemari?" tanya Karebet lirih.

Karebet segera berdiri dan melangkah keluar dari gubug bersama Lurah Wiguna, dibelakangnya menyusul Majasta, Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila.

Ketika mereka tiba diluar gubug, terlihat enam orang sedang turun dari kudanya, lima orang laki laki dan seorang anak muda yang belum dewasa, memegang sebatang tombak yang mempunyai landeyan berukuran satu setengah depa.


Ketika Karebet melihat mereka, maka dengan gembira iapun menyambutnya:"Selamat datang kakang Pemanahan, kakang Penjawi, kakang Juru Martani dan kau Danang Sutawijaya, selamat datang di Pajang"

"Maaf, kami agak terlambat adi, ada beberapa pekerjaan di Sela yang harus aku selesaikan terlebih dulu" kata Pemanahan sambil melangkah maju

"Adi Karebet, aku bersama dua orang tukang kayu dari Sela yang akan membantu pembuatan dalem Kadipaten Pajang" kata Penjawi menambahkan.

"Selamat datang Ki Sanak berdua" kata Karebet, lalu kedua orang itupun mengangguk hormat.

Lalu oleh Karebet, mereka semuanya diperkenalkan dengan Lurah Wiguna, lalu kepada Majasta, Wuragil, Mas Manca dan Jaka Wila.

Beberapa orang kemudian memberi makan dan minum kuda-kuda yang baru saja datang dari Sela.

Beberapa saat kemudian, di keremangan senja, merekapun membersihkan dirinya di sungai kecil di sebelah gubug di bulak amba.


Malam itu, Karebet, Lurah Wiguna, Majasta, Wuragil dan beberapa orang lainnya mengelilingi perapian yang dinyalakan didepan gubug, mereka menghangatkan badan sambil membakar ubi dan jagung,

"Danang, kau sudah besar sekarang" kata Karebet kepada Danang Sutawijaya.

Sutawijayapun tersenyum mendengar perkataan Karebet :"Ya pamanda Karebet"

"Sebaiknya kau memang sering pergi ke berbagai daerah, supaya pengalaman dan pengetahuanmu bisa bertambah banyak" kata Karebet.

"Sutawijaya biar belajar membantu disini sekitar empat lima pasar, setelah itu dia akan pulang ke Sela diantar kakang Juru Martani" kata Ki Pemanahan sambil membalik jagung bakarnya.

Mendengar perkataan Pemanahan, Karebetpun tersenyum senang.

"Jebeng, kau membantu bekerja disini, turuti semua perintah pamanmu Karebet" kata Pemanahan, dan Sutawijayapun menganggukkan kepalanya.

"Kau membawa tombak dari Sela, Danang?" tanya Karebet kepada Danang Sutawijaya.

"Ya pamanda, saya membawa sebatang tombak pendek" jawab Sutawijaya.

"Kau taruh dimana tombak itu?"

"Di dalam gubug paman" jawab Sutawijaya sambil tangannya menunjuk gubug didepannya.

"Disini tidak ada ploncon, untuk meletakkan tombakmu, besok kau buat sebuah bumbung yang ditancapkan di tanah, nanti pangkal tombak yang kau bawa itu bisa kau masukkan di lubang bumbung yang ditanam itu, sehingga tombakmu bisa kau simpan dengan baik" kata Karebet.

Karebetpun kemudian bertanya kepada Pemanahan :"Kakang Pemanahan, apakah tombak yang dibawa Danang itu tombak Kyai Pleret ?"

"Bukan adi, tombak pusaka Kyai Plered masih berada di Sela, tombak yang dibawa Jebeng adalah tombak yang bernama Kyai Penatas, yang juga merupakan pusaka dari Sela. Kyai Penatas memang sengaja diberi landeyan pendek, yang terbuat dari kayu Walikukun sepanjang satu setengah depa" kata Pemanahan menjelaskan.


"Memang sengaja aku ijinkan Jebeng Sutawijaya membawa tombak Kyai Penatas untuk berjaga-jaga, kalau di perjalanan nanti bertemu dengan perampok, biar dia bisa melindungi dirinya sendiri" kata Pemanahan

"Meskipun tombak pusaka Kyai Penatas belum setingkat dengan tombak pusaka Kyai Pleret, namun tombak Kyai Penatas juga merupakan salah satu pusaka Sela warisan dari Kraton Majapahit" kata Pemanahan sambil mengambil jagung yang dibakarnya.

Melihat banyaknya sahabat-sahabat yang berdatangan membantu pembuatan dalem Kadipaten, Lurah Wigunapun se akan-akan berbicara kepada diri sendiri :"Tiga buah gubug yang sudah kita bangun, ternyata masih kurang, besok aku akan membuat tambahan satu gubug lagi".

Kemudian merekapun mengambil jagung atau ubi yang telah matang dari perapian, dan menikmati makanan hangat ditengah dinginnya udara di bulak amba.

Sementara itu di Jipang, seorang abdi yang setia, Matahun memberanikan dirinya menghadap Arya Penangsang di ruang dalam.

"Ada apa paman Matahun ?" tanya Penangsang ketika mengetahui Ki Matahun menghadapnya.

"Raden, kelihatannya kita kekurangan tenaga untuk membangun dalem Kadipaten, saya khawatir, kalau nanti pada waktu raden diwisuda menjadi Adipati, dalem yang kita bangun ternyata belum jadi".


"Biar saja paman, kalau nanti diperlukan untuk paseban, kita bisa menggunakan rumahku ini, dan untuk tidurpun akupun biasa tidur dirumah ini" jawab Penangsang.

"Ya raden, tetapi jangan sampai terlambat, kita malu apabila pembangunan dalem Kadipaten jipang dikalahkan oleh anak Pengging, Karebet yang membangun dalem Kadipaten Pajang" kata Matahun yang rambutnya telah memutih.

"Lalu apa maumu paman Matahun" tanya Penangsang.

"Bagaimana kalau kita minta bantuan dari kakak seperguruan saya yang berada di Gunung Lawu ?" kata Matahun.

"Kakak seperguruanmu? Panembahan Sekar Jagad dari Gunung Lawu ?" tanya Penangsang.

"Ya raden, Panembahan Sekar Jagad yang ilmunya tak terukur, kita bisa minta bantuan murid-murid padepokannya yang berjumlah puluhan orang untuk ikut mempercepat pembangunan dalem Kadipaten" saran Matahun.

Penangsangpun mengangguk, lalu iapun berkata :"Lalu siapa nanti yang akan pergi ke Gunung Lawu?"

"Biar nanti Rangkud yang akan kesana raden" kata Matahun.

"Dimana Rangkud sekarang ?" tanya Penangsang.


Belum sempat Matahun menjawab, terlihat dua orang sedang berjalan memasuki pendapa, dan salah seorang dari mereka bergegas menuju tempat Arya Penangsang.

"Kakangmas" kata pemuda itu memanggil Penangsang.

"Kau Mataram, dari mana saja kau ini ?" tanya Penangsang.

"Dari hutan sebelah timur Bengawan Sore, sudah lama Kakangmas pulang di Jipang?" tanya Arya Mataram, adik dari Arya Penangsang.

"Ya, kau disusul oleh Rangkud ?" tanya Penangsang tda menghiraukan pertanyaan dari Arya Mataram.

"Ya kakangmas, Rangkud yang menyusul saya, meminta saya pulang, dan tadi Rangkudpun sudah bercerita semuanya" jawab Arya Mataram.

"Baik, besok kau bantu aku membangun dalem Kadipaten" minta Penangsang kepada Arya Mataram.

"Baik kakangmas" kata Arya Mataram, dan iapun berjalan ke belakang rumah.

Setelah itu Penangsangpun memanggil abdi setianya :"Rangkud"


Rangkudpun kemudian menghadap kepada Arya Penangsang.

"Rangkud kau besok pergi ke gunung Lawu, naik kuda" perintah Penangsang

"Baik Raden" jawab Rangkud

"Kau pergi ke padepokan Sekar Jagad, menemui Panembahan Sekar Jagad, bilang aku memerlukan bantuannya untuk menyelesaikan pekerjaan ini" perintah Penangsang.

"Baik raden" jawab Rangkud.

Matahunpun menambahkan:"Rangkud, kau ceritakan semuanya kepada Panembahan Sekar Jagad kalau raden Penangsang akan diangkat menjadi Adipati, dan bilang kepada Panembahan, aku minta bantuan dua puluh lima atau tiga puluh orang muridnya"

"Baik paman Matahun"

"Kau berangkat pagi hari setelah matahari terbit" kata Penangsang menambahkan.

"Baik raden" jawab Rangkud, lalu iapun bergeser kebelakang.

Perlahan-lahan Rangkudpun keluar dari ruang dalam, dibelakangnya menyusul Matahun.

Malam semakin larut, kegelapanpun menyelimuti di seluruh bumi Demak, hanya sesekali terdengar suara binatang malam.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita