Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 19 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 19 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Paman Matahun, apakah tiga orang utusan dari Kraton yang membawa tiga ekor kuda beban sudah sampai disini ?" tanya Penangsang setelah Ki Matahun berada di sebelahnya.

"Sudah anakmas, baru saja mereka datang, tiga orang itu sekarang berada di ruang dalam, kudanyapun sudah diberi makan di belakang" kata Matahun, lalu Matahunpun berkata kepada seseorang yang baru saja keluar dari samping rumah :"Rangkud, kau panggil beberapa abdi yang lain, rawat Gagak Rimang, bawa ke belakang dan beri minum juga kepada kuda-kuda yang lain".

"Baik Ki" kata Rangkud, dan ia pun pergi ke belakang rumah, tak lama kemudian ia dan beberapa abdi lainnya keluar, lalu merekapun membawa kuda-kuda para tamu ke halaman belakang.

"Paman Matahun, antar dulu para tamu ke sumur di belakang" kata Penangsang.

Matahunpun kemudian berjalan, menunjukkan sumur yang terletak dibelakang rumah, dan diikuti oleh para tamu.


Ketika rombongan Penangsang sedang membersihkan dirinya, sementara itu di tempat lain, rombongan Karebet yang menuju ke Pajang telah berjalan memasuki desa Tingkir.

Didepan sendiri, berjalan Karebet yang waktu semasa remaja sering dipanggil Jaka Tingkir, disebelahnya berjalan pamannya Ganjur, adik dari ibu angkatnya, Nyai Ageng Tingkir.

Dibelakang Ganjur dan Karebet, enam orang berjalan kaki disusul kemudian dengan tiga orang yang berjalan menggandeng tiga ekor kuda yang membawa beban.

Mereka terus berjalan, semakin lama semakin dekat dengan rumah Nyi Ageng Tingkir, rumah yang paling besar di desa Tingkir.

Ketika Ganjur masuk kedalam regol rumah Nyai Ageng Tingkir, dilihatnya dua orang pembantu Nyai Ageng Tingkir, maju menyambutnya :"Kakang Ganjur dan kau Karebet, kau pulang ke Tingkir bersama rombongan?"

"Ya adi Suta dan adi Naya, aku bersama rombongan dari Kraton" jawab Ki Ganjur :"Dimana Nyai Ageng Tingkir?"

"Ada di kamar kakang, Nyai Ageng sekarang sudah sedikit lemah, sudah sering lupa" kata Suta menjelaskan.

"Paman Suta dan paman Naya, sebaiknya para tamu dipersilahkan ke belakang dulu" kata Karebet.

"Ya, mari Ki Sanak, silahkan ke sumur dulu, biar kami nanti yang mengurus kudanya" kata Ki Suta sambil memanggil beberapa pembantu Nyai Ageng yang lain.

Setelah membersihkan dirinya, Ki Ganjur dan Karebet menemui Nyai Ageng Tingkir yang sedang berada di kamar.

Nyai Ageng berada dikamar hanya ditunggui oleh seorang pembantunya, seorang perempuan yang umurnya hampir sama dengan Nyai Ageng Tingkir.

"Nyai Ageng, ini aku, Ganjur" kata Ganjur kepada Nyai Ageng Tingkir.

"Kau Ganjur, kau adikku ?" tanya Nyai Ageng Tingkir.

"Ya, aku adikmu nyai, aku Ganjur yang berkerja di kotaraja Demak" kata Ganjur mendekati Nyai Ageng yang duduk di pinggir amben.

"Kau Ganjur, kapan kau datang? Kau bersama siapa ? Anak muda ini siapa Ganjur ?" tanya Nyai Ageng Tingkir.

"Aku baru saja datang Nyai, aku pulang bersama Karebet" kata Ganjur.

"Biyung, aku Karebet" kata Karebet sambil memegang tangan Nyai Ageng.

"Karebet, Karebet siapa?" tanya Nyi Ageng Tingkir, kelihatannya sudah lupa terhadap Karebet.

"Aku Karebet biyung, aku anakmu" kata Karebet.


"O ya, Kau adalah Karebet, aku memang punya anak ontang anting, kau memang anakku Karebet, anakku satu-satunya" kata Nyai Ageng sambil memeluk Karebet.

Nyai Ageng Tingkirpun melepas rindu, tangan Karebet dipegangnya seakan-akan tidak akan dilepaskannya.

Meskipun kadang-kadang pembicaraannya agak kurang dimengerti, tapi sedikit demi sedikit Nyai Ageng Tingkir mulai teringat masa lalunya ketika mengasuh Karebet.

"Karebet, kau jangan pergi jauh lagi, sawah kita yang mengerjakan hanya Suta dan Naya, lumbung kita penuh berisi padi dan jagung. Kita punya beberapa kerbau, sapi dan kuda. Sebaiknya kau menemani biyung yang semakin tua" kata Nyai Ageng Tingkir.

"Ya biyung" kata Karebet mengiyakan permintaan ibunya.

Ganjur dan Karebet beberapa saat masih berada di kamar menemani Nyai Ageng Tingkir.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan malam, Karebet yang mempunyai sebuah rencana, merasa perlu membicarakannya dengan semua orang didalam rombongannya

Di ruang dalam, duduk diatas tikar sambil minum wedang jahe anget, Karbet beserta tujuh orang rombongan dari Kraton ditambah pamannya Ganjur, ikut juga Suta dan Naya.

"Ki Lurah Wiguna" kata Karebet memulai pembicaraan.

"Ya, adi Karebet, bagaimana rencanamu" kata Ki Lurah Wiguna sambil menggeser duduknya mendekat ke Karebet.


"Untuk tempat calon dalem Kadipaten, aku sudah punya ancar-ancar, aku beberapa kali melewati daerah Pajang, disana ada sebuah bulak yang luas, rencananya besok bangunan Kadipaten bisa dibangun di sekitar bulak itu, kita tidak perlu bekerja memotong pohon-pohon besar, kita tinggal membuat ompak dan mencari beberapa pohon jati yang tidak terlalu besar, untuk dibuat tiang, sedangkan tanah dan pepohonan yang berada disekitar bulak tinggal di atur saja" kata Karebet.

"Meskipun sebuah Kadipaten tidak boleh memiliki sebuah alun-alun, tetapi tidak ada salahnya kalau sebuah Kadipaten mempunyai sebuah tanah lapang yang luas didepannya. Apakah nanti yang akan dibangun oleh Ki Wiguna adalah dalem Kadipaten beserta bangunan tempat untuk paseban ?" tanya Karebet kepada Lurah Wiguna.

"Ya, sebuah Kadipaten harus mempunyai sebuah paseban seperti sebuah Sasana Sewaka, tempat untuk pasewakan para abdi Kadipaten, itu berbeda dengan yang di Kalinyamat atau di Prawata, yang hanya merupakan sebuah bangunan pesanggrahan, hanya untuk tempat tinggal saja, mereka tidak mempunyai bangunan seperti sebuah Sasana Sewaka, yang ada hanyalah sebuah pendapa yang agak luas" kata Ki Lurah.

"Baik Ki Lurah, biar bisa selesai tepat waktu, nanti kita akan dibantu tukang kayu dari Tingkir dan Pengging. Nah paman Suta, berapa orang tukang kayu di Tingkir ?" tanya Karebet kepada Ki Suta.

"Di desa Tingkir ada empat lima orang tukang kayu, coba nanti akan saya hubungi mereka, berapa orang yang bisa berangkat ke Pajang" kata Suta.


"Ki Lurah Wiguna, beberapa hari lagi ada tiga orang sahabat saya dari Sela yang akan membantu perkerjaan kita di Pajang"

"Siapakah mereka adi Karebet?"

"Ki Pemanahan, Ki Penjawi dan Ki juru Martani" kata Karebet.

"Ki Pemanahan cucu dari Ki Ageng Sela ?" tanya Ki Lurah.

"Ya Ki Lurah, selain itu, aku akan meminta bantuan beberapa sahabatku dari Banyubiru" kata Karebet, dan iapun berkata kepada Suta dan Naya.

"Nah, apakah paman Suta dan paman Naya, sudah pernah ke Banyubiru?" tanya Karebet.

Suta dan Nayapun menganggukkan kepalanya, mereka telah beberapa kali pergi ke Banyubiru.

"Besok pagi paman berdua pergi Banyubiru, dari Tingkir tidak begitu jauh, setelah sampai didesa Gedangan, kemudian paman berbelok ke arah barat" kata Karebet.

"Paman berdua nanti menemui Ki Buyut Banyubiru, ceritakan bahwa saat ini aku membangun sebuah Kadipaten di Pajang. Nah, paman bilang bahwa aku butuh bantuan dari Ki Buyut Banyubiru sekarang. Paman bisa berangkat besok pagi, dan siang itu juga paman berdua bisa langsung pulang ke Tingkir, dan sebaiknya paman berdua berangkat naik kuda" kata Karebet.

"Baik" kata Suta:"Aku bersama adi Naya akan ke Banyubiru besok pagi.

"Besok aku akan membawa dua ekor kuda yang masih dikandang, aku bawa ke Pajang sebagai kuda beban, dan bisa diisi dengan padi, beras atau jagung, tetapi, apakah di lumbung kita masih mempunyai simpanan bahan pangan ?" tanya Karebet.

"Ya, lumbung kita saat ini berisi penuh padi dan jagung" jawab Naya.


Karebet menganggukkan kepalanya, lalu iapun berkata :"Besok pagi kita melanjutkan perjalanan ke Pajang, sedangkan paman Suta dan paman Naya berkuda menemui Ki Buyut Banyubiru"

Ketika malam semakin larut, maka rombonganpun beristirahat mempersiapkan tenaga untuk perjalanan besok pagi, dan merekapun tidur nyenyak di udara yang dingin dengan berselimut kain panjang.

Esok paginya, di desa Tingkir, desa yang tidak jauh dari kaki gunung Merbabu sebelah timur, di halaman rumah Nyai Ageng Tingkir, terdapat kesibukan, ada beberapa orang yang akan melakukan perjalanan keluar desa.

Rombongan yang dipimpin oleh Ki Lurah Wiguna, bersiap untuk berangkat ke Pajang. Rombongan sewaktu berangkat dari kotaraja yang berjumlah sembilan orang, telah berkurang satu orang, yaitu Ganjur yang akan ditinggal di desa Tingkir.

Ternyata jumlah keseluruhan rombongan menjadi bertambah karena terdapat tiga orang tukang kayu dari Tingkir yang ikut berangkat ke Pajang.

Jumlah kuda beban juga bertambah dua ekor kuda, beban yang menggantung di kiri dan kanan punggung kuda, berupa dua buah kantung besar, berisi beras dan jagung, dipakai untuk keperluan makan bagi para pekerja yang membangun dalem Kadipaten di Pajang.

Sebelas orang telah bersiap untuk berangkat ke arah selatan sedangkan Suta dan Naya juga sudah bersiap, mereka berdua akan berkuda kearah utara, menuju Banyubiru, menemui Ki Buyut Banyubiru.

"Paman Ganjur, nanti kira-kira tiga pasar lagi, paman bisa mengirim sebuah pedati yang berisi beras dan jagung ke Pajang, nanti pedatinya biar dibawa oleh paman Suta dan paman Naya" kata Karebet.

"Ya Karebet, untuk sementara ini, aku akan berada disini dulu untuk menemani biyungmu. Sekarang kau pamitlah dulu kepada biyungmu" kata Naya.

"Ya paman" kata Karebetpun kemudian masuk ke kamar menemui biyungnya.


Setelah berpamitan kepada biyungnya, tak lama kemudian Karebetpun telah berkumpul kembali bersama rombongannya, dan sesaat kemudian terdengar Lurah Wiguna memberi aba-aba untuk berangkat.

Maka bergeraklah sebuah rombongan sebelas orang beserta lima ekor kuda beban, yang berjalan menuju ke arah selatan, bersamaan dengan lajunya dua ekor kuda yang berlari ke arah utara, menuju ke Banyubiru.

"Nanti setelah sampai di desa Gedangan yang terletak dipinggir Rawa Pening, kita menuju ke arah barat" kata Suta didalam hatinya, dan iapun berharap, malam nanti mereka sudah berada di desa Tingkir lagi.

Mereka menjalankan kudanya beriringan tidak begitu kencang, kuda Suta berlari berada di depan, sedangkan kuda Naya melaju agak jauh di belakangnya.

"Pagi ini udara terasa dingin sekali" kata Naya didalam hatinya.

Perlahan-lahan matahari terus mendaki langit di sebelah timur, semakin lama semakin tinggi, ketika perjalanan mereka berdua melintasi sebuah sungai kecil, maka kuda-kuda merekapun dimasukkan kedalam sungai, menyeberangi sungai yang dangkal, sementara diarah barat laut, terlihat berdiri tegak gunung Telomoyo.

Sementara itu di ruangan dalam di sebuah rumah di Jipang, Arya Penangsang ingin mengadakan pertemuan dengan dua orang abdinya yang setia, Matahun dan Rangkud.

"Rangkud !" panggil Arya Penangsang ketika berada di salah satu ruangan di dalam rumah.

Rangkudpun dengan cepat berjalan dan menghadap Arya Penangsang di ruang dalam.

"Ya raden, raden memanggil saya?" tanya Rangkud.

"Panggil paman Matahun, kita berbicara sebentar diruang dalam." perintah Arya Penangsang sambil menuju ruang dalam.

Rangkudpun segera keluar ruangan, mencari Matahun yang sedang berbicara dengan rombongan dari Kraton.

"Paman, dipanggil raden Penangsang di ruang dalam" kata Rangkud.

Matahunpun segera berjalan ke ruang dalam, menemui Penangsang yang sedang berada disana.


"Duduklah paman Matahun" kata Arya Penangsang setelah Matahun berada didalam ruangan.

Matahunpun segera duduk diatas dingklik, dihadapan Penangsang

Matahun, seorang tua yang semua rambutnya telah berwarna putih, abdi setia yang sejak masih muda telah mengabdikan dirinya di keluarga Sunan Ngudung, kakek dari Penangsang.

"Ya anakmas Penangsang" kata Matahun sambil menggeser duduknya menghadap Penangsang,

"Rencana saya, dalem Kadipaten akan saya bangun disebelah timur rumah ini, bagaimana menurut pendapat paman ?" tanya Arya Penangsang.

"Bagus anakmas, nantinya anakmas bisa tetap tinggal di rumah ini" jawab Matahun :"Nantinya apabila dibuat sebuah pagar mengelilingi dalem Kadipaten, maka rumah ini berada didalam pagar Kadipaten.

"Tepat, maksudku juga begitu paman" kata Penangsang :"Selain itu Paman bisa mencari bahan pangan yang bisa dimasak untuk makan para pekerja"

"Baik anakmas, nanti saya dan Rangkud akan mencarikan beras dan jagung di sekitar Jipang" jawab Matahun

"Kira-kira apa yang akan kita perlukan ?" tanya Penangsang.

"Dengan adanya tambahan tiga orang tukang kayu dari Kudus, itu akan mempercepat pekerjaan yang akan kita kerjakan" kata Mantahun :"Ada satu lagi yang penting bagi Kadipaten Jipang, apakah anakmas sudah menentukan tosan aji mana yang akan anakmas gunakan sebagai sipat kandel Kadipaten Jipang ?"

"Belum paman, tetapi kita mempunyai sebuah keris pusaka, Kyai Tilam Upih. dan dua buah tombak pusaka, Kyai Muntab dan Kyai Biring Lanang, yang sekarang masih kita simpan. Kita telah mempunya tiga buah pusaka sebagai sipat kandel Kadipaten Jipang"

"Kalau hanya tiga buah pusaka tadi, kellihatannya masih kurang anakmas, anakmas masih harus mencari beberapa pusaka lagi yang bisa menjadi rangkapan kekuatan Kadipaten Jipang" kata Ki Matahun yang telah banyak berpengalaman.

"Ya paman, besok akan aku ceritakan semua persoalan ini kepada guruku, Kanjeng Sunan Kudus, tetapi untuk sementara akan aku pakai dulu Kyai Tilam Upih, keris pusaka peninggalan ayahanda Sekar Seda Lepen" kata Penangsang.


"Betul anakmas, nanti pada saat anakmas diwisuda menjadi adipati Jipang, anakmas bisa memakai keris pusaka ayahanda, Kyai Tilam Upih" kata Ki Matahun :"Keris pusaka Kyai Tilam Upih selama ini masih saya rawat dengan baik"

"Bagus paman, coba bawa kesini keris itu" kata Penangsang.

Matahunpun kemudian berjalan menuju ke sebuah ruang lainnya, kemudian mengambil sebuah peti kayu berukir, lalu peti kayu itupun diberikan kepada Arya Penangsang.

Arya Penangsangpun kemudian membuka peti tersebut dan mengeluarkan isinya, sebuah keris pusaka dengan warangka berbentuk gayaman.

Sesaat keris itu di pegang di ukirannya, lalu keris pusaka itupun dipegang didepan dadanya, tangan kanan memegang ukiran keris, tangan kiri memegang gandarnya, lalu ibu jari tangan kanan menekan tampingan, perlahan-lahan Arya Penangsang menarik keris keluar dari wrangkanya.

Kemudian keris yang sudah dicabut dari wrangkanya itupun dipegang sejajar dengan telinga, sesaat kemudian tangannyapun diturunkan, lalu Arya Penangsangpun dengan cermat mengamati keris pusakanya.

Sebuah keris pusaka yang wingit, dapur Tilam Upih dengan bilah lurus, berpamor beras wutah, pamornya terlihat berwarna putih, terlihat bagus, bilah kerisnya berwarna hitam akibat diberi warangan yang kuat.

"Paman, keris ini adalah keris yang bagus, getaran yang tidak kasat mata dari wesi aji-nya masih terasa kuat" kata Arya Penangsang kepada Ki Matahun.

"Ya, getaran yang tidak kasat mata dari wesi aji itu memang terasa sangat kuat raden" jawab Matahun.

Arya Penangsangpun masih mengagumi keris pusaka yang dipegangnya, mengagumi getaran yang tak terlihat dari pancaran kekuatan wesi aji, dan mengagumi pula keindahan wadag keris dapur Tilam Upih yang mempunyai pamor beras wutah.


Pamornya tergambar sangat bagusnya, lukisan pada bilah keris berwarna hitam putih, membentuk puluhan lingkaran bulat dan lonjong yang berdesak-desakan, banyak sekali gambar garis lengkung maupun garis tak beraturan, tergambar penuh mulai dari ujung bilah sampai dengan ganja.

Beberapa saat kemudian, setelah puas mengamati keris pusakanya Kyai Tilam Upih, Arya Penangsang menyarungkan kembali keris itu kedalam wrangkanya, kemudian keris itupun perlahan-lahan dimasukkannya kembali kedalam peti kayu berukir, kemudian peti kayu itupun diberikan kepada Ki Matahun yang duduk didepannya.

"Paman Matahun, kembalikan keris ini ke tempat semula" perintahnya kepada Matahun.

Matahunpun kemudian menerima kotak kayu itu, lalu iapun berjalan keluar kamar menuju ke ruangan tempat menyimpan pusaka.

Beberapa saat kemudian, Arya Penangsangpun keluar dari ruangan menuju ke pendapa, dan disana telah berkumpul semua rombongannya, termasuk Lurah Kerta.


"Ki Lurah Kerta, apakah bisa, kalau nanti rencana dalem Kadipaten, dibangun disebelah timur rumah ini ?" tanya Penangsang ketika sudah berkumpul di pendapa.

"Bisa raden, itu malah bagus, karena rumah raden bisa bersatu dengan dalem Kadipaten" jawab Ki Lurah Kerta.

"Ya Ki Lurah, lalu rencana Ki Lurah selanjutnya bagaimana" tanya Penangsang.

"Kita sudah mulai mencari beberapa bambu untuk membuat gubug yang akan dipergunakan untuk keperluan para pekerja yang akan membangun dalem Kadipaten" kata Ki Lurah.

"Lalu rencana untuk besok pagi Ki Lurah" tanya Penangsang.

"Disamping masih membuat gubug, nanti prajurit Wira Manggala akan berkeliling Jipang menemui beberapa pemimpin, sesepuh dusun, demang, buyut, kamituwa dan sebagainya, di seluruh Jipang dan sekitarnya, lalu keesokan harinya, kita bacakan titah Kanjeng Sultan tentang pembentukan Kadipaten Jipang" kata Ki Lurah.

"Baik Ki Lurah Kerta, lalu apa yang kau perlukan?" tanya Arya Penangsang.

"Kami butuh bantuan seorang sebagai penunjuk jalan, nanti kita bertiga akan naik kuda berkeliling Jipang" kata Lurah Kerta.

"Rangkud" panggil Penangsang kepada salah seorang abdi setianya.

"Ya raden" jawab Rangkud

"Kau besok menjadi penunjuk jalan berkeliling Jipang bersama dua orang prajurit yang akan berbicara kepada rakyat Jipang"

"Baik Raden" jawab Rangkud bersedia.

"Lalu apa lagi yang perlu dilakukan Ki Lurah?"


"Sebetulnya kita akan berbicara dengan orang yang menjadi pimpinan pada setiap daerah yang akan dibangun sebuah Kadipaten maupun pesanggrahan, tetapi karena di daerah Jipang ini orang yang dituakan adalah Raden Penangsang, maka kita tidak perlu melakukan lagi. Cukup besok pagi kita berkuda berkeliling Jipang dan daerah disekitarnya" kata Ki Lurah Kerta menjelaskan.

"Kalau rombongan yang di Kalinyamat, Prawata ataupun Pajang, mereka biasanya menemui Demang, kamituwa atau buyut dari dusun tersebut" kata Lurah Kerta.

"Ya" kata Penangsang, dan iapun memperkirakan paling cepat besok atau lusa, baru bisa diumumkan titah Kanjeng Sultan Trenggana.

Perkiraan Penangsang ternyata tepat, di Kalinyamat, hari ini prajurit Wira Manggala menemui buyut dusun Kalinyamat untuk menyampaikan rencana penyampaian titah Kanjeng Sultan Trenggana.

"Ki Buyut, besok pagi, kami minta bantuan seseorang untuk mengantar berkeliling keseluruh daerah Kalinyamat" kata prajurit Wira Manggala.

"Baik, besok kami yang akan mengantar berkeliling ke seluruh daerah di Kalinyamat dan sekitarnya" kata Ki Buyut menyangupi.

Di daerah Prawata juga hampir sama, seorang prajurit Wira Manggala meminta bantuan penduduk dusun untuk berkeliling daerah Prawata.

Sementara itu ketika matahari telah melewati puncak langit dan sudah condong kebarat, rombongan Karebet yang dipimpin oleh Ki Lurah Wiguna, telah memasuki daerah Pajang.

"Adi Karebet, kita telah memasuki daerah Pajang, dimanakah letak daerah yang akan kita bangun?" tanya Lurah Wiguna.

"Disitu, agak maju sedikit, di sebelah sungai kecil, nanti terlihat ada bulak yang luas" jawab Karebet sambil tangannya menunjuk kedepan.


Merekapun terus berjalan, tak lama kemudian sampailah mereka pada sebuah lapangan perdu dan rumput yang agak luas.

"Disini, disinilah Ki Lurah Wiguna, rencanaku dalem Kadipaten akan dibangun di daerah ini, bagaimana pendapatmu Ki Lurah Wiguna" kata Karebet.

"Bagus adi Karebet, dengan adanya lapangan yang luas, ini membuat pekerjaan agak lebih mudah, nah nanti kita akan lebih dulu mendirikan gubug didaerah sini" kata Ki Lurah sambil menyuruh rombongan beristirahat.

"Adi Karebet, besok pagi kita ke kamituwa atau buyut dusun Pajang, minta satu orang untuk mengantar kita berkeliling ke semua daerah Pajang" kata Lurah Wiguna.

Rombonganpun semuanya beristirahat, sepuluh bungkusan yang berisi beras dan jagung dan beberapa peralatan tukang kayu telah diturunkan dari punggung kuda.

Lima ekor kudapun telah diberi makan dan minum, beberapa orang telah mengambil air dari sungai kecil yang mengalir di pinggir bulak.

"Disebelah sungai tadi banyak terdapat rumpun bambu, setelah beristirahat, kita membuat sebuah tenda sementara untuk menginap kita disini, besok pagi kita akan membuat gubug" kata Ki Lurah.

Beberapa orang telah memotong bambu untuk membuat tenda sementara dari beberapa kain panjang yang dibentangkan.


Waktu berjalan terus, matahari telah lama tenggelam di ufuk barat, dan malampun segera tiba, gelap telah menyelimuti seluruh bumi Pajang

Di langit bintang-bintangpun berkedip, sepotong awan tipis tertiup angin menutupi keindahan angkasa malam, dan hampir semua rombongan Karebet telah tertidur lelap didalam tenda di sebuah bulak di tanah Pajang.

Ketika malam telah melampaui setengahnya, dinginpun menusuk terasa sampai ke tulang, dan langit di arah timur, telah terbit sebuah bintang yang paling terang dibandingkan dengan bintang yang lain, itulah bintang timur, lintang panjer rina.

Malam sudah berganti pagi, matahari sudah mulai memanjat naik dilangit bang wetan, di bulak yang luas di desa Pajang, terlihat ada tenda yang dibuat dari bentangan kain.

Di dalam tenda Lurah Wiguna sedang berbicara dngan Karebet.

"Hari ini kita akan membangun tiga buah gubug untuk tempat istirahat para pekerja, dan sebagian lagi kita gunakan sebagai lumbung, setelah gubug yang kita buat sudah jadi, selanjutnya tenda sementara bisa kita bongkar" kata Ki Lurah Wiguna.

"Ya Ki Lurah" kata Karebet.

Ki Lurah Wigunapun kemudian berkata kepada orang yang berada disebelahnya :" Panggil prajurit Tumpak dan prajurit Banu"

Tak lama kemudian masuklah Tumpak dan Banu dua orang yang berpakaian prajurit dari kesatuan Wira Tamtama dan dari kesatuan Wira Manggala.

"Tumpak dan Banu, kau pergilah naik kuda ke buyut dusun Pajang sekarang, mintalah kepada Buyut, satu orang penunjuk jalan, untuk ikut berkeliling didaerah Pajang dan sekitarnya kau gunakan kuda yang itu saja" kata Ki Lurah Wiguna sambil menunjuk beberapa ekor kuda yang di ikat di depan kemah di tepi bulak.

Tumpak dan Banu pun berjalan keluar dari tenda, lalu mengambil kuda lalu dilarikannya ke dusun Pajang

Ketika di persimpangan jalan mereka bertemu dengan seorang petani, maka Tumpakpun bertanya tentang rumah ki Buyut dusun Pajang.


Beberapa saat kemudian, di sebuah rumah di dusun Pajang, tampak dua orang prajurit yang sedang berbicara dengan seorang tua, Buyut dusun Pajang.

"Ki Buyut, ini adalah dawuh dalem Kanjeng Sultan Trenggana, tidak lama lagi, tlatah Pajang akan menjadi sebuah Kadipaten, semua bebahu dusun di seluruh tlatah Pajang, demang, lurah, buyut, kamituwa, jagabaya, beserta semua penduduk laki-laki, tua maupun muda, besok pagi supaya berkumpul di bulak, yang disebelahnya terdapat sungai, untuk mendengarkan sabda Kanjeng Sultan Demak" kata prajurit Wira Manggala yang bernama Banu.

"Baik anakmas, aku akan datang bersama para bebahu dusun ini" kata Ki Buyut.

"Bulak yang berada ditepi sungai itu bernama apa Ki Buyut?" tanya Banu.

"Itu daerah bulak amba, bulak yang luas" jawab Ki Buyut.

"Setelah dari dusun ini, aku akan berkeliling di daerah Pajang dan sekitarnya, sekarang aku minta satu orang yang bisa mengantarku, kau punya seekor kuda Ki Buyut?" kata Tumpak.

"Punya anakmas, biar cucuku yang akan mengantar nakmas keliling Pajang" kata Ki Buyut dusun Pajang.

Kemudian Ki Buyutpun bangkit berdiri dan menghampiri seorang pemuda yang sedang membelah kayu bakar dibelakang rumah, lalu pemuda itupun diajaknya menghadap Tumpak dan Banu.

"Siapa namamu anak muda ?" tanya Tumpak.

"Nama saya Dami" kata anak muda itu.

"Nanti kau antar kami berkeiling tlatah Pajang" kata Tumpak.

"Baik"


Beberapa saat kemudian tiga ekor kuda telah keluar dari halaman rumah Ki Buyut, berkeliling di belasan dusun di daerah Pajang, menemui semua bebahu dusun, untuk datang besok pagi ke tempat pembangunan dalem Kadipaten yang akan dibangun di daerah bulak amba yang termasuk daerah Pajang.

Ketika matahari sudah lewat di puncak langit, maka datanglah dua orang prajurit di atas punggung kuda, prajurit Tumpak dan prajurit Banu yang diantar oleh anak muda cucu Buyut dusun Pajang, telah selesai mengunjungi semua dusun-dusun di dalam wilayah Pajang, dan mereka berduapun kembali ke bulak amba.

Matahari sudah condong ke barat, sementara itu di tepi bulak amba, pembangunan tiga buah gubug tempat beristirahat telah selesai. beberapa buah bambu telah ditanam dalam tanah dan diikat kuat, sehingga gubugpun bisa berdiri kokoh, lalu di beri atap dari daun kelapa yang dicepit dengan beberapa bambu yang dibelah tipis.

Ketika pembuatan gubug sudah selesai, maka semua bahan makanan dan peralatan dimasukkan semua ke dalam salah satu gubug itu.

Ketika matahari sudah tenggelam temaram menyelimuti seluruh bumi Pajang, orang-orang yang berada di gubugpun segera bersiap membuat sebuah perapian.


Di gelap malam, terlihat nyala api dari perapian di bulak amba, perapian untuk menghangatkan badan  sekaligus untuk membakar jagung dan ketela pohon

Malam semakin larut, tiga buah gubug yang didirikan di daerah bulak amba telah menjadi senyap tanpa suara, hanya terdengar suara beberapa ekor cengkerik yang berbunyi nyaring

Fajar telah terbit, langitpun semakin terang, penghuni gubug telah bangun dan membersihkan dirinya, mempersiapkan pertemuan dengan semua bebahu dusun-dusun di tlatah Pajang.

Matahari merayap ke atas semakin tinggi, beberapa orang telah mulai berdatangan di lapangan bulak amba.

Satu demi satu, bebahu dusun di daerah Pajang mulai berdatangan

Didepan gubug yang baru saja di bangun, berkibarkah bendera Gula Kelapa yang diikatkan pada sebatang bambu yang tinggi, sedangkan tiang bambunya ditanam agak dalam didalam tanah.

Bendera Gula Kelapa yang berkibar di bulak amba berukuran agak lebih kecil dibandingkan dengan bendera Gula Kelapa yang berada di Kasultanan Demak, saat itu angin yang bertiup agak kencang, sehingga bendera gula Kelapa terlihat berkelebat gagah.


Dibawah bendera Gula Kelapa, disebelah tiang bendera yang terbuat dari bambu, berdiri dengan tegak seseorang yang memakai pakaian prajurit pengawal raja, prajurit Wira Tamtama yang bernama Tumpak

Semakin lama orang orang yang datang semakin banyak, puluhan bebahu semua dusun di daerah Pajang, beserta ratusan orang laki-laki, semua berkumpul di bulak amba, didepan bendera Gula Kelapa.

Ketika yang hadir sudah cukup banyak, ada ratusan orang, maka terdengarlah suara bende yang ditabuh sebanyak tiga kali oleh seorang prajurit Wira Manggala, prajurit Banu.

Setelah terdengar suara bende yang di tabuh tiga kali maka majulah Lurah Wiguna dan iapun naik diatas ancik-ancik yang terbuat dari bambu yang baru saja dibuat oleh para pekerja.

Ketika Lurah Wiguna naik di atas ancik-ancik, maka penduduk yang hadir semuanya berjongkok menunggu perintah dari Ki Lurah yang telah berdiri di depan mereka.

Lurah Wiguna mengedarkan pandangannya berkeliling, dilihatnya ratusan orang sudah berjongkok, sehingga Ki Lurahpun turun dari ancik-ancik dan berjalan ke depan, agak dekat dengan rakyat yang berjongkok di bulak amba.

Lurah Wigunapun kemudian berbicara keras, supaya bisa di dengar oleh semua orang yang berkumpul di bulak amba.

"Semua bebahu dan penduduk tlatah Pajang, yang merupakan rakyat dari Kasutanan Demak. Saya adalah seorang Lurah dari kesatuan Wira Manggala, nama saya Lurah Wiguna, yang mendapat mandat dari Sultan Demak untuk mengumumkan titah dalem Kanjeng Sultan Trenggana" kata Lurah Wiguna.

Lurah Wiguna berhenti sejenak, kemudian iapun melanjutkan dengan suara yang lebih keras..

"Semua rakyat Pajang wajib mematuhi titah dalem yang akan dibacakan oleh prajurit Kasultanan Demak. Wara-wara yang dibacakan nanti tidak ubahnya seperti ucapan dari Kanjeng Sultan sendiri" demikian kata Lurah Wiguna.


Kemudian Lurah Wigunapun mundur kebelakang, sesaat kemudian prajurit Wira Manggala, yang bernama Banu maju kedepan dan berdiri disamping bendera Gula Kelapa, sebelah menyebelah dengan prajurit Wira Tamtama, Tumpak.

Banu pun melihat kedepan, diedarkan pandangannya ke semua bebahu dan penduduk yang berjongkok didepannya.

"Akan saya bacakan titah dari Kanjeng Sultan Demak, semua rakyat Pajang supaya mendengarkannya" kata Banu berteriak keras.

Kemudian Banupun mengeluarkan sebuah bumbung, lalu dari dalam bumbung, ia mengambil sehelai kulit binatang berukuran kecil yang masih tergulung rapi. Gulungan kulit itupun kemudian dibuka, lalu dibacanya dengan keras.

"Semua penduduk tlatah Pajang, saya adalah Sultan Trenggana, dari Kasultanan Demak yang membawahi tlatah Pajang. Sebentar lagi, tlatah Pajang akan menjadi sebuah Kadipaten, yang bernama Kadipaten Pajang" kata Banu.

Banu berhenti sebentar, sesaat kemudian iapun melanjutkan membacakan titah Kanjeng Sultan.

"Kadipaten Pajang, nanti akan dipimpin oleh seorang Adipati dan yang akan memimpin tlatah Pajang adalah Mas Karebet" kata Banu seanjutnya.

Terdengar suara seperti lebah berdengung, ketika rakyat Pajang telah mendengar nama calon Adipati Pajang.

Prajurit Banu mengangkat tangannya, dan suasana di bulak amba kembali menjadi senyap, lalu prajurit Banupun melanjutkan pembacaannya lagi.

"Semua rakyat di tlatah Pajang, mulai besok pagi, diharapkan secara bergantian, datang ke sini ikut membangun dalem Kadipaten, sedangkan para bebahu dusun supaya mengatur rakyat yang akan membantu pembangunan dalem Kadipaten Pajang"

Prajurit Banu berhenti sejenak, pembacaan wara-wara pun segera diakhiri.

"Titah ini supaya didengarkan dan dipatuhi oleh semua rakyat Pajang" kata Banu mengakhiri titah sultan Trenggana.


Prajurit Banu lalu menggulung kembali kulit yang telah dibacanya dan dimasukkannya kain itu kedalam bumbung.

Beberapa saat kemudian, Lurah Wigunapun maju kedepan, dan iapun berkata :"Mulai besok, para bebahu dusun diseluruh tlatah Pajang, supaya mengirim rakyat untuk bekerja membangun dalem Kadipaten"

Lurah Wiguna menengok ke arah gubug, lalu iapun memberi isyarat kepada prajurit Banu, lalu terlihat Banupun kemudian masuk kedalam gubug.

Sesaat kemudian prajurit Banu keluar lagi dengan seseorang, lalu Lurah Wigunapun memperkenalkan dialah orang yang bernama Mas Karebet, calon Adipati Pajang.

Kembali terdengar suara seperti lebah berdengung, ketika rakyat Pajang telah melihat calon Adipati Pajang yang bernama Mas Karebet.

Karebet yang berdiri disamping Ki Lurah Wiguna, mengangkat tangannya dan suasana didepan gubug di bulak amba kembali menjadi tenang.

Setelah suasana tenang, Karebetpun mengangguk hormat kepada semua bebahu dan rakyat Pajang.

"Rakyat Pajang, saya adalah Mas Karebet, saya adalah yang ditunjuk oleh Kanjeng Sultan Demak untuk menjadi calon Adipati di Pajang" kata Karebet.

Karebetpun kemudian mengajak rakyat Pajang untuk bersama-sama menjadikan Pajang menjadi sebuah Kadipaten yang makmur dan besar.


Tidak banyak yang dikatakan Karebet, dia hanya minta pembangunan dalem Kadipaten supaya dibantu oleh semua bebahu dan rakyat Pajang yang akan diatur secara bergilir.

Setelah itu Karebetpun kemudian masuk ke gubug kembali, Lurah Wigunapun kemudian membubarkan para bebahu dan rakyat Pajang yang berkumpul.

Perlahan-lahan, ratusan orang yang berada di depan gubug, satu demi satu meninggalkan bulak amba, dan suasana disanapun menjadi sepi kembali, yang ada disana hanya rombongan yang dipimpin oleh Lurah Wiguna.

Lurah Wigunapun mengajak semua orang berkumpul untuk membicarakan langkah-langkah selanjutnya.

"Prajurit Tumpak dan Banu, apakah besok pagi kau akan pulang ke Demak ?" tanya Ki Lurah Wiguna.

"Belum Ki Lurah" jawab Tumpak :"Kami masih berada disini beberapa hari lagi, kami harus mengamankan titah Kanjeng Sultan, jangan sampai ada bebahu yang mbalela tidak mau mengirimkan rakyatnya untuk ikut membangun dalem Kadipaten"

"Ya" kata Ki Lurah, lalu iapun menggeser duduknya menghadap Karebet.

"Adi Karebet, hari ini kita sudah bisa mulai kerja, kita menentukan lokasi yang akan dibuat dalem Kadipaten, mengurug dengan tanah bisa dilakukan besok pagi bersama tenaga yang akan dikirim oleh para bebahu. Lalu untuk membuat tiang, di sebelah barat, tidak jauh dari Pajang, ada beberapa pohon jati, nanti dua orang dari Demak bersama tiga orang dari Tingkir akan memotong kayu jati, jangan pilih yang ukurannya besar, pilih saja yang ukuannya pas dengan yang kita butuhkan" kata Lurah Wiguna.

"Kita bawa tiga buah kapak pemotong kayu, nanti lima orang itu bisa bekerja bergantian, untuk membawa kayu itu, kita bisa menggunakan tenaga sapi, atau kalau tidak ada, kayu itu kita seret bersama-sama ketempat ini" Kemudian Ki Wiguna melanjutkan perintahnya :"Kalian bisa berangkat sekarang, cari pohonnya dulu, besok pagi baru kita potong"


Kelima orang itupun kemudian mempersiapkan diri, akan mencari beberapa pahon jati ke hutan di sebelah barat tidak jauh dari Pajang.

"Untuk pembuatan ompak, di daerah sebelah utara Pengging, banyak terdapat batu-batu bekas muntahan dari gunung Merapi, besok akan saya tentukan siapa yang akan ditugaskan membuat ompak" kata Ki Lurah Wiguna.

Kemudian Ki Lurah Wigunapun berdiri, lalu bersama Karebet iapun berjalan keluar untuk menentukan letak dalem Kadipaten.

Matahari masih tetap berjalan ke arah barat, pagi berganti menjadi siang, siangpun berganti menjadi sore.

Menjelang matahari terbenam, dari dalam gubug di bulak amba, terdengar suara derap kuda mendekat.

Karebet, Ki Lurah Wiguna dan beberapa orang lainnya segera keluar dan melihat siapakah orang yang berkuda menuju tempat gubug mereka.

Didepan gubug, terlihat empat orang laki-laki sedang turun dari punggung kuda mereka.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita