Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 18 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab18 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Langit di ufuk timur berbias warna merah, perlahan-lahan fajarpun terbit, kokok ayam jantan terdengar nyaring, langit semakin lama semakin terang, Karebetpun telah bangun dari tidurnya, dan bersiap akan mandi, iapun berencana pergi ke Kadilangu, ketempat Kanjeng Sunan Kalijaga.

Matahari memanjat langit semakin tinggi, ketika Karebet dan Ganjur akan melangkahkan kakinya keluar dari rumah, terlihat didepan pintu regol Suranatan, seseorang yang berpakaian Lurah Wira Manggala memasuki halaman dalem Suranatan dan berjalan menuju rumah yang ditempati oleh Ganjur.


Ketika Karebet melihat orang itu, iapun segera mengenalnya, seorang Lurah dari kelompok prajurit Prabayasa, kelompok prajurit yang bertugas membangun dan merawat bangunan Kraton, yang termasuk didalam kesatuan prajurit Wira Manggala.

"Ki Lurah Wiguna" kata Karebet sambil tersenyum :"Silahkan masuk Ki Lurah"

"Silahkan Ki Lurah Wiguna, silahkan kalau ingin bertemu dengan Karebet, aku mau menyelesaikan pekerjaanku yang di depan" kata Ganjur mempersilahkan dan iapun lalu berjalan ke halaman depan.

"Silahkan duduk Ki Lurah" kata Karebet, dan Lurah Wigunapun kemudian masuk kedalam rumah, dan Karebetpun kini duduk berhadapan dengan Ki Lurah.

"Adi Karebet" kata Lurah Wiguna.

"Ya Ki Lurah" jawab Karebet sambil memperhatikan kalimat yang akan dikatakan oleh Lurah Wiguna.

"Besok pagi kita jadi berangkat ke Pajang, kita berangkat pagi hari, aku yang akan memimpin rombongan dari Kraton yang berjumlah tujuh orang" kata Lurah Wiguna

"Rombongan dari Kraton nanti akan berangkat serentak ke empat daerah, ke daerah Kalinyamat, ke Prawata, ke Jipang dan ke Pajang, tiap rombongan masing-masing tujuh orang" kata Lurah Wiguna menjelaskan kegiatan untuk besok pagi.

"Ya Ki Lurah, nanti kita berangkat dari kraton?" tanya Karebet.

"Ya, kita berangkat pagi hari, kita kumpul di depan Sasana Sewaka, lalu kita bersama-sama berangkat ke Pajang" jawab Lurah Wiguna.


Kemudian Karebetpun mengutarakan keinginannya untuk mengajak pamannya Ganjur ikut bersama rombongan sampai di Tingkir.

"Ki Lurah, rombongan kita nantinya akan bertambah satu orang, karena nanti aku akan mengajak paman Ganjur untuk ikut pulang ke Tingkir" maka Karebetpun menjelaskan alasan pamannya yang ingin ikut pulang ke Tingkir.

"Apakah nanti Ki Ganjur akan kembali ke kotaraja ?" tanya Lurah Wiguna.

"Aku belum tahu Ki Lurah, terserah kemauan paman Ganjur saja, Ki Tumenggung Suranata juga sudah mengatakan semuanya terserah paman Ganjur, apakah mau kembali ke kotaraja atau akan menetap seterusnya di desa Tingkir" kata Karebet.

Lurah Wiguna menganggukkan kepalanya, dan iapun menjawab:"Ya, tidak masalah kalau rombongan kita bertambah satu orang, tetapi kita tidak bisa berjalan cepat karena kita membawa tiga ekor kuda yang memuat beban"

Karebetpun mengangguk-anggukkan kepalanya, kalau berangkat bersama rombongan dari kotaraja ke Tingkirpun tidak bisa ditempuh dalam satu hari, apalagi kini Lurah Wiguna membawa kuda beban, yang berjalan lambat.

Merekapun berbincang sebentar tentang keberangkatan mereka besok pagi, dan setelah dirasa cukup, kemudian Lurah Wiguna pun pamit untuk kembali ke Kraton.

Beberapa saat kemudian Karebetpun melangkahkan kakinya keluar dari dalem Suranatan, menuju ke arah selatan, ke desa Kadilangu.

Disepanjang jalan, langit yang cerah dan udara pagi yang segar di kotaraja mengiringi langkah Karebet yang berjalan menuju tempat Kanjeng Sunan Kalijaga.


Sambil berjalan, angan-angan Karebet mengembara, seperti burung rajawali dari Pengging yang terbang tinggi diangkasa menembus awan dan melampaui beberapa puncak gunung di tanah Jawa.

Karebet merasa, ia belum lama berada di kotaraja Demak, dan besok pagi dia sudah harus berangkat ke Pajang bersama rombongan pekerja dari Kraton, bekerja babad alas, sebuah hutan yang akan dibuatnya menjadi sebuah Kadipaten, dan ia adalah orang yang akan diangkat menjadi seorang Adipati di Pajang.

"Aku akan jadikan Pajang bukan hanya sebuah Kadipaten kecil, tetapi harus lebih besar dari Pengging Witaradya, seperti pada saat Eyang Adipati Dayaningrat berkuasa" kata Karebet sambil terus berjalan ke Kadilangu.

Dengan langkah yang teratur, Karebet terus berjalan ke selatan, lalu berbelok ke arah timur.

Lalu angan-angan Karebetpun masih mengembara melayang-layang, menukik ke bawah, kemudian terbang lagi menyusuri pantai.


Karebetpun berpikir mengenai sebuah sipat kandel yang akan dimiliki Kadipaten Pajang, sebuah keris pusaka Kyai Naga Siluman, yang merupakan sipat kandel yang pernah dipakai oleh eyangnya sewaktu masih menjadi Adipati Pengging Witaradya.

"Kata siwa Kebo Kanigara, keris Kyai Naga Siluman akan diwariskan kepadaku, untuk sipat kandel Kadipaten Pajang" kata Karebet dalam hati.

"Masih kurang, kalau sipat kandel Kadipaten Pajang hanya sebuah keris Kyai Naga Siluman, paling tidak Kadipaten Pajang harus mempunyai tiga buah tosan aji, yang bisa dijadikan sipat kandel tegaknya Kadipaten Pajang" guman Karebet sambil terus melangkah menuju ke arah timur.

"Bagaimana kalau aku ingin menjadikan Kadipaten Pajang menjadi sebuah Kasultanan yang besar, sebesar Kasultanan Demak? Tentu Pajang nantinya bukan hanya menjadi sebuah Kadipaten yang kecil sepanjang masa, tetapi sudah berubah menjadi Kasultanan Pajang yang besar" kata Karebet yang masih terus berangan-angan.

"Kalau Kadipaten Pajang nanti bisa menjadi sebuah Kasultanan yang besar, sebesar Kasultanan Demak, apa yang bisa aku perbuat untuk mencari beberapa pusaka sebagai sipat kandel ?" tanya Karebet kepada diri sendiri.

"Pusaka apa yang bisa dijadikan sipat kandel untuk Kasultanan Pajang kalau Pajang nantinya menjadi sebesar Kasultanan Demak ?" guman Karebet hampir tak terdengar.

"Yang bisa menjadi sipat kandel kerajaan besar adalah pusaka dari Kraton Majapahit" pertanyaan Karebet dijawabnya sendiri, sambil melanjutkan angan-angan besarnya.

"Saat itu Kerajaan Majapahit mampu menguasai Nuswantara, dan pada saat perang dengan Kerajaan Demak yang baru berdiri, Sang Prabu Brawijaya Pamungkas kalah perang, maka semua pusaka Majapahit di boyong ke Demak. Semua pusaka dari Majapahit yang sekarang berada di Kasultanan Demak, besok bisa dijadikan sebagai sipat kandel Kasultanan Pajang yang besar" kata Karebet berangan angan.


"Kyai Nagasasra, Kyai Sabuk Inten dan Kyai Sengkelat, ketiga pusaka itu bisa menjadi sipat kandel Kasultanan Pajang yang besar" kata Karebet sambil terus berjalan.

"Bagaimana caranya ketiga pusaka sipat kandel Kasultanan Demak, dipindahkan dari ruang pusaka Kraton Demak ke Pajang ?" pertanyaan itu melingkar-lingkar di pikiran Karebet.

Angan-angan Karebet terputus ketika ia sampai di sungai Tuntang, dan iapun menyeberang masuk ke dalam sungai, berjalan menuju ke arah timur, ke desa Kadilangu.

Ketika Karebet telah sampai di Kadilangu, santri yang menyambutnya bercerita kalau kedua sahabatnya, Pemanahan dan Penjawi telah kembali ke Sela tadi pagi beberapa saat setelah matahari terbit.

Hari itu Kanjeng Sunan Kalijagapun mengajar Karebet sampai menjelang siang.

Seperti biasanya, setelah sholat dhuhur berjamaah, maka Karebetpun bekerja membantu para santri mengerjakan beberapa pekerjaan.


Ketika matahari sudah condong kebarat, setelah sholat Ashar berjamaah, Karebetpun pamit kepada Kanjeng Sunan Kalijaga, karena besok pagi ia bersama rombongan akan berangkat menuju Pajang.

Kanjeng Sunan Kalijagapun memberi beberapa nasehat dan petunjuk untuk bekal Karebet disaat babad alas didaerah Pajang.

"Kalau kau ada keperluan ke kotaraja, kau bisa mampir ke Kadilangu Karebet" kata Kanjeng Sunan Kalijaga perlahan-lahan.

"Kau bisa bawa beberapa pikul jagung yang ada di lumbung Kadilangu untuk bekalmu nanti" kata Kanjeng Sunan

"Terima kasih Kanjeng Sunan, kelihatannya dari Kraton sudah membawa banyak bekal, lagipula nanti rombongan akan mampir di Tingkir" dan Karebetpun menjelaskan keinginan pamannya Ganjur yang ingin pergi ke Tingkir.

Kemudian Karebetpun mohon diri, dan iapun melangkahkan kakinya keluar dari dalem Kadilangu, menuju ke kotaraja.


Ketika matahari semakin turun di langit barat, dan langitpun semakin redup, Nyai Madusari yang baru saja keluar dari gerbang Kraton dan saat ini sedang bejalan di alun-alun, melihat Karebet sedang berjalan menuju kearahnya.

"Karebet" kata Nyai Madusari setelah Karebet berada didepannya.

"Nyai Madusari, mau pulang ?" tanya Karebet.

"Ya, eh Karebet, baru saja didepan Kaputren, Tumpak bicara kepadaku, besok pagi dia akan ikut didalam rombongan dari Kraton yang akan pergi ke Pajang bersamamu" kata Nyai Madusari sambil tersenyum manis.

"Ya, kata Tumpak kemarin memang dia ingin ikut ke Pajang, rupanya dia sudah minta ijin ke Tumenggung Gajah Birawa" kata Karebet.

Nyai Menggungpun tersenyum, lalu iapun berkata :"Ya, Tumpak juga bilang begitu"

"Nyai, jangan lupa, pamitkan ke Gusti Putri besok pagi aku akan berangkat bersama rombongan ke Pajang" kata Karebet.

"Ya, Karebet, tetapi jangan lupa, kalau ada kesempatan, kau harus memberi kabar ke Gusti Putri" pesan Nyai Madusari.

"Ya, pasti nyai, aku tak akan lupa. Nyai, aku akan kembali ke dalem Suranatan nyai, aku besok akan berangkat bersama paman Ganjur" kata Karebet

"Baik Karebet" kata nyai Menggung.

Dan merekapun berpisah, Nyai Madusari pulang ke dalem Katumenggungan, sedangkan Karebet menuju ke dalem Suranatan.


Malam itu, setelah selesai mandi dan makan, Karebet duduk didepan rumah, tetapi pamannya Ganjur yang tadi terlihat sedang duduk didepan, sekarang tidak terlihat lagi.

"Pergi kemana Paman Ganjur, biasanya dia tidak pernah pergi, kenapa sekarang menghilang ?" Karebetpun menengok kanan dan ke kiri, tak nampak seorangpun yang berada disana. Setelah menunggu agak lama, terlihatlah Ganjur berjalan sambil tersenyum, Karebetpun tertawa melihat Ki Ganjur tersenyum, bukan karena ia mengetahui penyebab pamannya tersenyum, tetapi Karebet tertawa karena melihat pamannya yang sudah tua sedang tersenyum.

"Paman dari mana, eh, selama ini saya jarang melihat paman tersenyum, tetapi malam ini paman bisa tersenyum senang, kenapa ?" tanya Karebet sambil menggeser duduknya, memberi tempat kepada pamannya.

"Aku sudah pamit kepada Ki Tumenggung Suranata" kata pamannya, ternyata pamannya pergi menemui Ki Tumenggung.

"Kalau hanya pamit kepada Ki Tumenggung, itu bukan suatu hal yang luar biasa paman, tetapi kenapa paman bisa tersenyum senang ?" tanya Karebet.

"Aku diberi bekal uang oleh Ki Tumenggung, ini yang penting Karebet" kata pamannya sambil tertawa.

"Ya paman, uangnya disimpan saja, jangan sampai hilang. Paman, semua yang akan dibawa besok pagi apakah sudah di bungkus pakai kain?"

"Sudah, besok kita tinggal berangkat, lagipula yang akan dibungkus tidak ada, pamanmu ini hanya mempunyai beberapa pakaian saja" kata pamannya.

"Kalau soal pakaian, kita sama paman" kata Karebet sambil tertawa lepas


Malam sudah sampai di saat sepi wong, keduanyapun sudah masuk ke dalam rumah, bersiap-siap untuk beristirahat karena akan melakukan sebuah perjalanan yang jauh.

Malam semakin larut, saat itu sudah lingsir wengi, sudah lewat tengah malam, terdengar suara cengkerik yang tanpa henti mengusik sepinya malam, dan kadang-kadang masih diselingi suara serak seekor burung malam.

Fajar memerah di bang wetan, ketika beberapa kali terdengar kokok ayam jantan bersahut-sahutan menyambut pagi, kemudian disusul pula oleh bunyi kicau burung liar di beberapa pohon di halaman dalem Suranatan, di kamarnya, terlihat Karebet dan Ki Ganjur menggeliat bangun, dan mulai mempersiapkan dirinya untuk melakukan sebuah perjalanan jauh.

Setelah semuanya siap, terlihatlah Ki Ganjur dan Karebet yang masing-masing membawa sebuah bungkusan, keluar dari pintu regol dalem Suranatan menuju ke Kraton.


Hari masih pagi, ketika keduanya memasuki pintu gerbang Kraton yang dijaga oleh dua orang prajurit Wira Braja, ternyata didepan Sasana Sewaka sudah berkumpul belasan orang prajurit yang sudah siap berangkat ke empat daerah.

Agak di sudut tembok dekat pintu gerbang, sudah siap belasan ekor kuda yang diberi beban di punggung sebelah kiri dan kanannya, beban yang berisi bahan pangan dan beberapa alat yang diperlukan untuk membangun sebuah dalem Kadipaten.

Ketika Lurah Wiguna melihat Karebet sudah datang, maka iapun mendekati dan berkata :"Kita menunggu Ki Patih Wanasalam"

"Ki Lurah, apakah nanti kita perlu dilepas oleh Ki Patih ?" tanya Karebet.

"Ya, karena nanti kita akan diberi sebuah bendera Gula Kelapa yang besar, yang akan dikibarkan di halaman calon bangunan pendapa Sasana Sewaka Kadipaten Pajang" jawab Ki Lurah.

"Karebet" ada suara memanggil nama Karebet, iapun menengok, terlihatlah seorang prajurit Wira Tamtama sedang tersenyum, ternyata dia adalah Tumpak.

"Aku jadi ikut ke Pajang, aku sudah minta ijin kepada Ki Tumenggung Gajah Birawa" kata Tumpak.

"Ya, tapi nanti di Pajang kita bekerja berat, membangun sebuah dalem Kadipaten" kata Karebet menjelaskan.

"Tidak begitu berat, jauh lebih berat disaat aku bertempur melawan Klabang Ireng" kata Tumpak sambil tertawa.


Karebet juga tertawa, ternyata Tumpak masih selalu ingat akan pertempuran yang berat ketika didekat sungapan sungai Tuntang.

Satu demi satu prajurit yang akan berangkat mulai berdatangan, sehingga rombongan hampir lengkap, tinggal menunggu Pangeran Arya, Pangeran Hadiri dan Arya Penangsang yang saat itu sudah dijemput oleh prajurit Wira Tamtama.

Tak lama kemudian, ketiganya sudah tiba didepan Sasana Sewaka, dan dari ruang dalam, keluarlah Ki Patih Wanasalam, bersama Tumenggung Gajah Birawa, dengan dikawal oleh seorang prajurit Wira Tamtama.

Setelah berada di depan rombongan, maka Ki Patih Wanasalam berpesan untuk berhati-hati dalam bekerja, lalu iapun menyerahkan sebuah bendera Gula Kelapa yang masih terlipat rapi kepada setiap ketua rombongan.


Lurah Wiguna maju kedepan dan menerima bendera gula Kelapa, bersama tiga orang Lurah dari kelompok Prabayasa, kelompok yang akan membangun dalem Kadipaten dan pesanggrahan.

Setelah semuanya selesai, maka Patih Wanasalampun kembali masuk kedalam ruang dalam bersama Tumenggung Gajah Birawa dan seorang prajurit Wira Tamtama.

Beberapa saat kemudian, Lurah Wigunapun mengajak rombongan untuk berangkat, dan rombongan yang terdiri dari tiga orang prajurit kelompok Prabayasa, dua orang tukang adang, seorang prajurit Wira Tamtama dan seorang prajurit Wira Manggala, ditambah Karebet dan Ki Ganjur, mereka semua segera berjalan menuju pintu gerbang kraton.

Ki Lurah Wiguna lalu menuju ke tempat kuda beban yang menungu didekat pintu gerbang, lalu iapun menyuruh tiga orang dari rombongannya untuk menuntun tiga ekor kuda yang membawa beban, yang akan dibawa ke Pajang.

Ketika Karebet bersama rombongan berjalan keluar dari pintu gerbang kraton, terlihat ada beberapa ekor kuda yang berada di halaman luar.

"Kuda siapakah ini ? Rombongan siapakah yang akan naik kuda ?" tanya Karebet dalam hati.

Beberapa kuda yang berada di halaman luar, diantaranya tampak seekor kuda gagah berwarna hitam, Gagak Rimang, yang sedang dijaga oleh seseorang yang sudah pernah dilihatnya, Lurah Pasar Pon.

"Sembilan ekor kuda, termasuk kuda hitam Gagak Rimang milik Penangsang, berarti Ki Lurah Pasar Pon juga ikut pergi ke Jipang" kata Karebet dalam hati, sambil menghitung jumlah kuda yang berada diluar pintu gerbang.


Melihat Karebet sedang memperhatikan kuda Gagak Rimang, Ki Lurah Wigunapun mendekatinya dan berkata:"Kemarin Raden Penangsang telah membeli beberapa ekor kuda, jadi hanya rombongan menuju Jipang yang berangkat naik kuda, sedangkan tiga rombongan lainnya berjalan kaki"

"Ya" kata Karebet sambil terus berjalan ke arah selatan.

"Ternyata perhitungan siwa Kebo Kanigara tepat sekali, aku memang butuh kuda untuk para prajurit Pajang, demikian juga dengan Penangsang, diapun butuh puluhan kuda untuk para prajurit Jipang" kata Karebet dalam hati, sambil memuji jalan pikiran Penangsang.

Pada saat itu, empat buah rombongan kecil, secara bersamaan sedang melakukan perjalanan, berangkat ke Kalinyamat, Prawata, Jipang dan Pajang.

Pangeran Hadiri beserta rombongannya berjalan menuju ke arah utara, menuju daerah Kalinyamat:"Kalinyamat tidak begitu jauh, tidak sampai satu hari sudah sampai disana. Letaknya disebelah selatan Bandar Jepara"

"Membuat sebuah bangunan Pesanggrahan hanya butuh waktu sebentar saja, tidak seperti membuat Kadipaten yang harus ada bangunan Sasana Sewaka" kata Pangeran Hadiri yang senang mendapat bagian daerah Kalinyamat :"untuk selanjutnya aku akan tinggal di Kalinyamat"


Rombongan Pangeran Arya adalah rombongan yang paling belakang, berjalan kaki ke arah timur dibelakang rombongan ke Jipang.

"Daerah Prawata sudah semakin ramai" kata Pangeran Arya, yang juga bernama Bagus Mukmin.

"Daerah Prawata, berada didekat hutan, mudah-mudahan bisa menjadi pesanggrahan yang nyaman, aku akan menetap di Prawata" kata Pangeran Arya sambil terus berjalan ke arah timur.

Rombongan Penangsang adalah satu-satunya rombongan yang naik kuda, semuanya berjumlah dua belas ekor kuda, termasuk tiga ekor kuda milik Kraton yang dipergunakan sebagai kuda beban.

Melalui Lurah Pasar Pon, Penangsang memang membeli delapan ekor kuda sekaligus, kuda-kuda yang tegar, nanti akan diperuntukkan bagi keperluan prajurit Jipang.


Didepan sendiri, diatas punggung Gagak Rimang, duduk seorang bertubuh sedang, kokoh kuat, berkumis melintang, itulah Penangsang yang sedang berpikir untuk membesarkan Kadipaten Jipang. "Untuk masa yang akan datang, Kadipaten Jipang harus menjadi sebuah kadipaten yang besar" kata Penangsang dalam hati.

"'Kita singgah di Panti Kudus" kata Arya Penangsang kepada Lurah Kerta, pemimpin rombongannya, seorang Lurah dari kelompok Prabayasa, yang termasuk dalam kesatuan prajurit Wira Manggala.

"Ke tempat Kanjeng Sunan Kudus?" tanya Ki Lurah Kerta sambil mendekatkan kudanya ke arah Gagak Rimang.

"Ya" jawab Arya Penangsang:"Kita sebentar saja di singgah di Kudus"

"Baik raden" kata lurah Kerta.


Setelah melewati sungai Tuntang, rombongan Arya Penangsang yang menuju Jipang berjalan agak lambat karena adanya tiga ekor kuda beban. "Lambat sekali" kata Arya Penangsang, dia tidak sabar ketika melihat ketiga ekor kuda beban yang berjalan sangat lambat:"Ki Lurah Kerta, tiga ekor kuda beban itu berjalan seperti siput, kau lepas tiga orangmu untuk menggandeng tiga ekor kuda beban, kita mendahului menuju Panti Kudus, nanti sebelum matahari terbenam kita bisa bertemu lagi"

"Baik Raden" kata Ki Lurah Kerta, dan iapun kemudian memilih tiga orang, dan tiap orang akan naik di punggung kuda dengan menggandeng seekor kuda yang membawa beban.

Dua orang juru adang dan seorang prajurit Wira Manggala, ditugaskan untuk membawa masing-masing seekor kuda beban, sedangkan yang enam lainnya akan memacu kudanya menuju Panti Kudus.

"Kalian bertiga membawa tiga ekor kuda beban itu, nanti sore sebelum matahari terbenam kita bertemu di wit growong di sebelah selatan hutan Prawata, yang dekat dengan sebuah ara ara. kalian tahu tempat wit growong ?" tanya Arya Penangsang kepada ketiganya.

"Saya tahu tempatnya, Raden" kata salah seorang dari mereka;"Sebuah pohon yang ukurannya besar sekali yang batangnya berlubang, berada didekat sebuah ara-ara, letaknya berada disebelah selatan hutan Prawata"

"Ya, kalau kau tidak bisa menemukan tempatnya, kau bisa tidur di manapun"

"Baik Raden" jawab prajurit Wira Manggala.

"Kalau kau bisa menemukan wit growong dan aku belum datang, kau bisa menginap disana, pagi harinya, kau tinggalkan saja aku, lanjutkan perjalanan menuju rumahku di Jipang" kata Penangsang.

"Sekitar tengah hari kau akan sampai di Jipang, dan kalau aku belum datang juga, temuilah orang tua yang tinggal di rumah itu, dia adalah penjaga rumahku di Jipang, namanya paman Matahun, bilang saja kepadanya, kalau kau adalah utusanku" kata Arya Penangsang.

"Baik Raden, saya akan menemui ki Matahun" jawab prajurit itu.

"Kalau begitu Ki Lurah Kerta, kita bisa lebih cepat sekarang" ajak Penangsang.

"Baik Raden" jawab Ki Lurah.


Kaki Penangsangpun kemudian menyentuh perut Gagak Rimang, dan kuda berwarna hitam itu cepat melompat kedepan, diikuti oleh kuda Lurah Pasar Pon, Lurah Kerta dan tiga orang lainnya.

Gagak Rimang melompat gembira, berlari kedepan dengan cepat dan tidak bisa dikejar oleh kuda-kuda lainnya.

Matahari memanjat langit sudah agak tinggi, ketika rombongan Penangsang terhenti di tepi barat sungai Serang.

Gagak Rimang adalah seekor kuda pilihan, yang tidak takut melihat air, maka dengan tangkasnya, Penangsang mengajaknya turun, masuk ke dalam sungai Serang, berjalan memotong arus sungai, setelah itu baru diikuti oleh kuda-kuda yang lain.

"Kita hampir sampai" kata Penangsang kepada Lurah Kerta ketika berada di seberang sungai, dan kembali merekapun menjalankan kudanya dengan ceoat menuju Panti Kudus.

Beberapa saat kemudian, rombongan berkuda Arya Penangsang memasuki halaman Panti Kudus, terlihat beberapa santri yang berada di halaman segera berlari menghampiri rombongan berkuda.

Setelah semua tamu turun dari kuda, para santripun kemudian memegang kendali kuda, dan membawa kudanya kehalaman belakang untuk diberi minum.

Beberapa orang santri mempersilahkan para tamu untuk duduk di pendapa, hanya Penangsang yang berjalan menuju keruang dalam.

Salah seorang santri segera mencari Kanjeng Sunan Kudus, memberi tahukan kalau ada tamu.

Kanjeng Sunan Kudus pun kemudian bergegas ke ruang dalam, dan dilihatnya salah seorang tamunya telah duduk di ruang dalam.


"'Kau Penangsang" kata Kanjeng Sunan Kudus menyapa tamunya, tampak senyum di bibirnya, melihat murid yang dikasihinya.

Penangsangpun berdiri dan mencium tangan Kanjeng Sunan Kudus, dan Kanjeng Sunan Kuduspun memeluknya.

"Kau selamat Penangsang ?" tanya Kanjeng Sunan Kudus

"Atas pengestu Kanjeng Sunan, saya tak kurang suatu apapun" jawab Penangsang.

"Kau bersama rombongan ?" tanya Sunan Kudus.

"Ya Kanjeng Sunan, sebuah rombongan resmi dari Kraton, akan pergi ke Jipang" kata Penangsang.

"Kau cerita nanti saja Penangsang, kau istirahat dan minum saja dulu" kata Kanjeng Sunan Kudus dan dipanggilnya salah seorang santrinya untuk mengambilkan minum untuk para tamu.


Tak lama kemudian, ada seorang santri masuk kedalam ruangan, dengan membawa kelapa muda yang sudah diratakan sabutnya dan disuguhkan kepada Arya Penangsang, sedangkan beberapa santri yang lainnya sedang membawakan minuman untuk para tamu yang ada di pendapa.

Setelah beberapa saat beristirahat dan minum air kelapa muda, maka dihadapan Kanjeng Sunan Kudus, Penangsang bercerita tentang titah Kanjeng Sultan Trenggana yang akan mengangkatnya menjadi Adipati Jipang.

Selain itu Penangsangpun juga bercerita tentang pengangkatan Karebet sebagai Adipati di Pajang dan pembuatan pesanggrahan di daerah Kalinyamat untuk Pangeran Hadiri dan di daerah Prawata untuk Pangeran Arya.

"Bapa Sunan, rombongan ini dipimpin oleh Ki Lurah Kerta, seorang prajurit dari kelompok Prabayasa yang termasuk dalam kesatuan Wira Manggala" kata Arya Penangsang menjelaskan.

"Bagus sekali Penangsang, kalau pamanmu Sultan Trenggana mau memikirkan masa depanmu, dan kaupun akan diangkat menjadi seorang Adipati di Jipang" kata Sunan Kudus.

"Ya Bapa Sunan, nanti saya akan dibuatkan sebuah dalem Kadipaten di Jipang" jawab Penangsang.

"Selain kau Penangsang, Pangeran Arya dan Pangeran Hadiri, juga mendapat pesanggrahan di Prawata dan Kalinyamat ?" tanya Kanjeng Sunan.

"Betul Bapa Sunan" jawab Penangsang.

"Kau bilang Karebet juga akan menjadi Adipati Pajang?" tanya Kanjeng Sunan Kudus.

"Ya bapa Sunan" jawab Penangsang.


Kanjeng Sunan Kudus terdiam sejenak, tapi kemudian Kanjeng Sunan Kuduspun bertanya lagi :"Berapa orang yang berangkat dari Kraton, Penangsang ?"

"Dari Kraton berangkat tujuh orang, bapa Sunan" kata Arya Penangsang :"Ditambah saya dan seorang lagi, Lurah Pasar Pon, beserta tiga ekor kuda beban yang berisi bahan makanan dan beberapa alat untuk mendirikan bangunan."

"Ketika berangkat dari Kraton semuanya berjumlah sembilan orang ?" tanya Kanjeng Sunan Kudus :"Kenapa yang datang ke Panti Kudus hanya enam orang?"

"Saya bersama lima orang berangkat lebih dulu, yang tiga orang prajurit saya tinggal dibelakang, bapa Sunan, saya suruh mereka berjalan sendiri sambil membawa tiga ekor kuda beban, mereka langsung ke Jipang, tidak singgah di Panti Kudus, tiga ekor kuda beban itu jalannya seperti siput, lambat sekali" kata Penangsang.

"Penangsang" kata Sunan Kudus sareh :"Kau harus lebih bersabar lagi, lebih sabar Penangsang, tidak seharusnya kau tinggalkan tiga orang berjalan sendiri menggandeng tiga ekor kuda beban"

Arya Penangsang mendengarkan semua nasehat Kanjeng Sunan Kudus, dan iapun menundukkan kepalanya.


"Kalau tiga orang itu bertemu dengan beberapa orang perampok, maka pekerjaan tiga orang prajurit itu sangat berat, mempertahankan enam ekor kuda beserta semua barang yg dibawanya" kata Sunan Kudus.

"Ya bapa Sunan" jawab Penangsang sambil menundukkan kepalanya.

"Kalau ada yang berani merampok, akan aku kejar perampoknya meskipun harus sampai diujung tanah Jawa" kata Arya Penangsang di dalam hatinya.

"Penangsang, Kau sudah mempersiapkan warangka praja Kadipaten Jipang ?" tanya gurunya.

"Belum bapa Sunan, saya belum mencari orang yang akan menjadi patih dan beberapa jabatan keprajuritan Jipang" jawab Penangsang.

"Kau bisa mencari orang yang setia kepada keluargamu, yang sudah terbukti taat kepadamu" kata Kanjeng Sunan Kudus.

"Baik bapa Sunan" kata Penangsang.

"Dari tujuh orang yang berangkat dari Kraton, ada berapa tukang kayu yang ikut serta ?" tanya Kanjeng Sunan Kudus


Penangsangpun menjelaskan :"Ada tiga orang tukang kayu Kanjeng Sunan, yang dua orang adalah tukang adang, sedangkan yang seorang adalah prajurit Wira Tamtama yang mengawal bendera Gula Kelapa dan seorang lagi prajurit Wira Manggala yang akan membacakan titah Kanjeng Sultan"

"Kau malam ini sebaiknya menginap di Kudus, Penangsang, disamping kau bisa mengaji lagi, nanti akan aku carikan tambahan tiga orang tukang kayu dari Kudus, mereka besok akan ikut bersamamu membangun dalem Kadipaten di Jipang" kata gurunya.

"Besok mereka akan berangkat naik kuda bersamamu, dan setelah selesai, kudanya ditinggal saja di Jipang, biar kuda itu menjadi milikmu, dan dapat kau gunakan untuk kepentingan Kadipaten Jipang" kata Sunan Kudus

"Terima Kasih Kanjeng Sunan, biarlah malam nanti rombongan akan tidur disini" jawab Penangsang, dan iapun beberapa saat kemudian masih berbincang dengan Kanjeng Sunan Kudus, sampai terdengar suara kentongan tanda sudah masuk waktu dhuhur, maka Kanjeng Sunan Kuduspun mengajak para tamu untuk sholat berjamaah bersama para santri, setelah itu merekapun dijamu makan siang di Panti Kudus.


Sementara itu, rombongan yang menuju Pajang telah menyeberangi sungai Tuntang dan setelah sampai di seberang, merekapun beristirahat di bawah pohon di tepi sungai Tuntang. Merekapun membuka bekal nasi yang dibawanya, ikan asin, dan sayur terong, dan sambal lombok ijo.

"Nasinya paman Ganjur, silahkan tambah lagi" kata Karebet kepada pamannya.

"Ada ikan asin beserta sambelnya Ki Ganjur" Lurah Wigunapun menawarkan lauk kepada Ganjur

"Ya, nanti aku ambil sendiri" kata Ganjur.

"Paman Ganjur jarang melakukan perjalanan jauh, apakah badan paman terasa lelah ?" tanya Karebet kepada pamannya yang tampak kelelahan.

"Sedikit lelah Karebet" kata pamannya.

"Adi Karebet, kita terpaksa berjalan agak lambat, karena kita harus menuntun tiga ekor kuda beban" kata Lurah Wiguna sambil mengambil air minum.

"Tidak apa-apa Ki Lurah, hanya terpaut sedikit, tidak seberapa, malam ini kita tetap menginap di jalan, baru besok kita sampai di desa Tingkir" kata Karebet.

"Ya, besok kita menginap di desa Tingkir, baru lusa kita berangkat ke Pajang" kata Ki Lurah.

"Ya, mudah-mudahan lusa sebelum sore hari kita sudah sampai di Pajang" kata Karebet sambil menyelesaikan makan siangnya.

"Tapi Adi, apakah adi Karebet tahu daerah mana di Pajang yang akan kita bangun menjadi sebuah Kadipaten ?" tanya Ki Lurah.

"Aku tahu di daerah Pajang, ada sebuah daerah yang berupa sebuah bulak yang luas, sebaiknya disitu nanti yang akan kita bangun menjadi sebuah Kadipaten" kata Karebet..


Lurah Wigunapun menjawab :"Itu bagus adi, kalau sudah berupa lapangan, akan memudahkan para tukang yang akan bekerja"

"Ya, kita tinggal menebang pohon untuk mencari kayu jati dan membuat ompak dari batu yang banyak terdapat di kaki gunung Merapi" jawab Karebet.

"Mudah-mudahan pekerjaan kita bisa lancar" guman Ki Lurah.

Waktupun berjalan terus, matahari merayap dilangit sebelah barat, rombongan Karebet yang menuju Pajang sudah meneruskan perjalanannya kembali.

Ketika senja menjelang, langit menjadi redup, sebentar lagi angkasa menjadi gelap, Lurah Wigunapun mencari tempat untuk bermalam.

"Kita hampir sampai di daerah Sima, besok tengah hari, mudah-mudahan bisa sampai di desa Tingkir" kata Lurah Wiguna.

"Kita bermalam disini, tidak jauh dari sungai kecil" kata Lurah Wiguna dan kemudian memerintahkan rombongannya untuk berhenti.

"Kita buat perapian" kata ki Lurah Wiguna.


Ketika perapian sudah menyala, merekapun segera berjongkok mengelilingi api, dan terasa betapa nyala api bisa menghangatkan udara yang terasa agak dingin.

"Ki Lurah" kata salah seorang juru adang kepada Lurah Wiguna :"Malam ini kita menanak nasi atau membakar ubi dan jagung?"

"Nasi yang tadi pagi masih ada, tetapi tinggal sedikit. Untuk kekurangannya kita bisa membakar jagung dan ubi saja, begitu adi Karebet ?" tanya Lurah Wiguna

"Ya, tidak apa apa, saya akan makan jagung bakar saja" kata Karebet sambil mengambil sebuah jagung muda dan dimasukkannya kedalam perapian.

"Malam ini kenapa nyamuknya banyak sekali ?" Ki Ganjur menggeremang sendiri di dekat sebuah batu besar.

"Agak mendekat ke perapian paman, disini tidak ada nyamuk" kata Karebet sambil makan jagung bakar.


Malam semakin larut, bukan hanya rombongan yang akan ke Pajang saja yang beristirahat, rombongan yang lainnyapun semuanya juga telah beristirahat, Pangeran Hadiri beserta rombongannya telah beristirahat disebuah bulak di daerah Kalinyamat. Dengan membentangkan beberapa kain panjang, maka jatuhnya embun malam dapat dikurangi.

Rombongan Pangeran Arya juga beristirahat di gubug hutan Prawata yang biasanya dipakai untuk berkemah Kanjeng Sultan Trenggana.

Suasana terasa gelap didalam hutan, kemudian seorang prajurit membuat sebuah obor yang menyala sampai akhirnya setelah melewati tengah malam, obor itupun padam.

Ditempat lainnya, rombongan tiga orang prajurit yang membawa tiga ekor kuda beban telah beristirahat di dekat Wit Growong di sebelah selatan hutan Prawata.

"Ternyata Raden Penangsang malam ini tidak menginap di dekat Wit Growong, berarti besok pagi kita langsung menuju rumah Raden Penangsang di Jipang, menemui Ki Matahun" kata prajurit Wira Manggala kepada dua orang tukang adang.

"Kita berangkat setelah fajar" katanya sekali lagi.

"Ya" jawab salah seorang tukang adang:"Malam ini Raden Penangsang, Ki Lurah dan lainnya tidur dimana?"


Sementara itu di rombongan Arya Penangsang, Lurah Kerta dan empat orang temannya, malam ini tidur di tempat yang tidak jauh dari kaki gunung Muria sebelah selatan, tidur lelap berkerudung kain panjang di pendapa Panti Kudus, sedangkan Arya Penangsang tidur di ruang dalam.

Malampun segera berlalu, matahari telah naik di langit semakin tinggi, langitpun berwarna biru cerah, sebentuk awan putih tertiup angin berjalan ke arah barat.

Pagi yang cerah, di daerah Kalinyamat, Pangeran Hadiri bersama sorang lurah dari Prabayasa, Lurah Truna, sedang berkeliling mencari tempat yang dianggap tepat untuk didirikan sebuah pesanggrahan.

"Ki Lurah Truna, kelihatannya di tempat inilah yang paling tepat untuk didirikan sebuah bangunan, tempat yang nyaman dan tidak begitu panas" kata Pangeran Hadiri

"Baik Pangeran, kita akan bangun pesanggrahan disini, dan untuk saat ini kita buat dulu beberapa gubug untuk tempat tinggal kita" kata Ki Lurah Truna, lalu iapun memerintahkan prajuritnya untuk mencari bambu untuk dibuat beberapa gubug untuk tempat berteduh dan bermalam.

"Esok lusa, baru kita bacakan titah dari Kanjeng Sultan kepada rakyat Kalinyamat" kata Lurah Truna.


Sementara itu, di daerah Prawata, Pangeran Arya tertarik dengan sebuah daerah yang dekat dengan sebuah sungai kecil.

"Aku senang mendengar suara air mengalir, Ki Lurah Semi, aku pilih tempat ini, dan untuk seterusnya aku akan tinggal di tempat ini, rasanya kalau tinggal di daerah ini, hati akan terasa nyaman" kata Bagus Mukmin.

"Baik Pangeran, akan saya bangun pesanggrahan di daerah ini" kata Lurah Semi, pemimpin rombongan dari Kraton.

Pada saat yang sama, rombongan berkuda Arya Penangsang berderap menuju Jipang. Mereka berkuda telah jauh meninggalkan Kudus.

Jumlah rombongan Arya Penangsang ternyata menjadi sembilan orang, bertambah tiga orang tukang kayu dari Kudus, bantuan dari gurunya, Kanjeng Sunan Kudus.

"Ki Lurah Kerta" panggil Penangsang kepada Lurah Kerta, pemimpin rombongannya.

"Ya Raden" Lurah Kerta pun mendekatkan kudanya berjejer dengan Gagak Rimang.

"Kita tidak usah berhenti di Wit Growong, kita terus saja berjalan ke selatan menuju Jipang, supaya selisih kita dengan tiga orang yang membawa tiga ekor kuda beban tidak terlalu jauh" kata Penangsang.

"Baik Raden" kata ki Lurah Kerta, yang kemudian bersama Penangsang menambah kecepatan laju kudanya.

Derap kuda rombongan Arya Penangsang meninggalkan debu yang berhamburan di sebelah menyebelah jalan yang dilaluinya.

Matahari terus bergerak naik ke atas, dan setelah melewati puncak langit, Wit Growong sudah jauh dibelakang,

"Sebentar lagi kita sampai disebuah sungai, kita istirahat sambil memberi minum kuda kita" kata Penangsang sambil memperlambat kuda hitamnya.

Beberapa saat kemudian merekapun beistirahat, sambil makan bekal pemberian dari Sunan Kudus.

"Semua kuda-kuda juga diberi minum" kata Ki Lurah Kerta setelah semuanya telah selesai makan.

"Kita masih agak jauh, setelah hari menjadi gelap, kita baru sampai di Jipang" kata Penangsang, dan setelah itu iapun mengajak meneruskan perjalanan.

Matahari terlalu cepat turun kebawah, malampun sudah lama menyelimuti Jipang, ketika rombongan Arya Penangsang memasuki daerah Jipang dengan membawa beberapa buah obor.

Penangsangpun memperlambat kudanya, ketika dilihatnya dua orang Jipang membungkuk hormat padanya.

Perlahan-lahan kuda-kuda itu berjalan menuju sebuah rumah yang paling besar di Jipang, rumah Penangsang peninggalan kakeknya Sunan Ngudung, seorang Senapati Perang dari Kasultanan Demak yang gugur sewaktu berperang melawan Majapahit.

Kuda Penangsangpun dibelokkan memasuki sebuah regol, dan ketika Gagak Rimang berhenti, maka semua penumpang kuda yang datang ke Jipang, semuanya turun.

Dari dalam rumah keluarlah seorang yang sudah tua, rambut dan jenggotnya telah memutih, tetapi badannya yang terlatih olah kanuragan menjadikannya tetap segar.

"Paman Matahun" sapa Arya Penangsang kepada orang tua itu.

"Ya, anakmas Penangsang" kata Ki Matahun.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita