Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 16 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 16 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

Beberapa saat kemudian, prajurit itupun telah datang bersama Patih Wanasalam.

"Silakan masuk Ki Patih" kata Kanjeng Sultan.

Setelah dipersilahkan masuk maka Patih Wanasalampun menyembah, lalu duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan Trenggana.

Kanjeng Sultan Trenggana menilai Patih Wanasalam yang duduk bersila dihadapan Sultan Trenggana adalah seorang patih yang mempunyai wawasan yang luas, sehingga dapat diminta pertimbangan dan dapat mencarikan jalan keluar berbagai persoalan, dia adalah Wanasalam kedua, anak dari Patih Wanasalam pertama, Patih Kasultanan Demak sewaktu Raden Patah menjadi Sultan Demak.

"Ki Patih Wanasalam" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam.

"Kau kupanggil kesini, karena aku ingin berbicara tentang beberapa persoalan yang penting, aku minta pertimbanganmu, saranmu dan yang akan kita bicarakan nanti supaya kau rahasiakan" kata Sultan Trenggana.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Ki Patih.

"Ki Patih, beberapa candra kedepan, aku punya rencana untuk menaklukkan daerah Bang Wetan" kata Kanjeng Sultan.


Patih Wanasalam mendengarkan kalimat dari Kanjeng Sultan dengan penuh perhatian.

"Nanti aku sendiri yang akan menjadi Senapati Perang, semua anak dan menantu tidak usah ikut berperang, nanti yang akan menjadi Senapati Pengapit kiri dan kanan adalah dua orang Tumenggung, dan daerah Bang Wetan yang ingin aku taklukkan adalah daeran Panarukan, yang selama ini belum mau takluk dan tidak mau mengakui kekuasaan Kasultanan Demak" kata Kanjeng Sultan.

"Daerah Panarukan kalau tidak ditaklukkan, akan mengakibatkan daerah-daerah lainnya menjadi mbalela terhadap kasultanan Demak. Sebelum aku memberangkatkan pasukan Demak segelar sepapan menggempur Panarukan, aku mempunyai sebuah rencana besar yang harus diselesaikan lebih dulu" kata Sultan Trenggana.

"Aku inginkan Kasultanan Demak ini dibangun beberapa titik pertahanan awal di sekeliling kotaraja. Di beberapa tempat akan aku bangun beberapa bangunan yang bisa di kembangkan menjadi sebuah Kadipaten. Untuk di sebelah utara kotaraja Demak, akan aku bangun sebuah pesanggrahan, tidak jauh dari Bandar Jepara, bagaimana pertimbanganmu Ki Patih kalau aku bangun pesanggrahan di sekitar daerah Bandar Jepara atau sekitar daerah Keling?" tanya Kanjeng Sultan.

"Kalau menurut hamba Kanjeng Sultan, pesanggrahan sebaiknya tidak dibangun di Bandar Jepara, tetapi di bangun di daerah garis lurus antara Bandar Jepara dengan kotaraja Demak, misalnya di

Kalinyamat atau di daerah Wedung, sehingga kalau ada serangan dari luar melalui Bandar Jepara, bisa ditahan dulu di daerah Kalinyamat atau di daerah Wedung" kata Patih Wanasalam.


"Baik Ki Patih Wanasalam, akan aku bangun sebuah pesanggrahan di daerah Kalinyamat, nanti menantuku Pangeran Hadiri yang akan tinggal disana"

"Kemudian untuk pesanggrahan di arah timur, dimana sebaiknya aku bangun, di daerah Bandar Tuban, Bandar Juwana atau di daerah Pati" kata Kanjeng Sultan.

"Kalau daerah Tuban terlalu jauh Kanjeng Sultan, yang kelihatan tepat untuk pesanggrahan adalah daerah Pati." Kata Patih Wanasalam.

"Kalau di daerah Pati, yang bagus adalah disebelah tenggara Gunung Muria, di daerah Prawata. Pesanggrahan bisa dibangun dipinggir hutan Prawata, nanti anakku Pangeran Arya yang akan tinggal di pesanggrahan Prawata" kata Kanjeng Sultan

"Untuk arah tenggara, dari dulu sebetulnya aku sudah punya rencana, Arya Penangsang akan aku jadikan Adipati di Jipang Panolan, yang dulu pernah menjadi tempat tinggal kakeknya, Sunan Ngudung" kata Sultan Demak.

"Meskipun Penangsang sudah mempunyai rumah peninggalan ibunya di Jipang, tetapi nanti tetap aku buatkan sebuah bangunan untuk Penangsang di Jipang. Menurutmu Ki Patih, apakah ada daerah selain Jipang, yang cocok untuk diberikan kepada Arya Penangsang?" tanya Kanjeng Sultan.

"Kelihatannya tidak ada Kanjeng Sultan, yang paling tepat untuk Raden Penangsang hanya daerah Jipang Panolan" jawab Patih Wanasalam.


"Kalau di sebelah barat Jipang, adalah daerah Sela, disana sudah ada Ki Ageng Sela, kalau di sebelah timur atau daerah selatan Jipang, kelihatannya terlalu jauh Kanjeng Sultan" kata Ki Patih.

"Bagus, berarti Ki Patih setuju kalau Arya Penangsang aku jadikan Adipati didaerah Jipang Panolan" kata Sultan Trengana.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Adipati" kata Ki Patih Wanasalam.

"Untuk daerah selatan bagaimana Ki Patih, di daerah selatan akan aku jadikan sebuah kadipaten. Di daerah selatan terdapat banyak pilihan, Pengging, Pajang, Wedi sampai kali Opak" lanjut Sultan Demak.

"Jangan melewati kali Opak, sebab disebelah barat kali Opak adalah hutan gung liwang liwung, daerah Alas Mentaok yang masih berupa hutan lebat" kata Kanjeng Sultan.

"Pengging, Pajang, Wedi sama baiknya Kanjeng Sultan, lalu siapakah nanti yang akan menjadi Adipati di daerah selatan?" tanya Ki Patih Wanasalam.

"Nanti yang akan menjadi Adipati di daerah selatan adalah Karebet" kata Kanjeng Sultan.

"Mohon maaf Kanjeng Sultan, apakah Karebet yang saat ini menjadi Lurah Wira Tamtama?" tanya Ki Patih.

"Ya, Karebet putra Ki Ageng Pengging, yang besok akan aku jodohkan dengan anakku Mas Cempaka" kata Sulta Demak.


"Mohon maaf Kanjeng Sultan, kalau nanti yang menjadi adipati adalah Karebet, maka sebaiknya Kadipatennya bukan di Pengging, supaya Karebet tidak selalu teringat akan masa lalu, meskipun persoalan Pengging sudah lama selesai. Jadi Karebet biar mulai dengan membuat semuanya dari awal. Ini usul hamba Kanjeng Sultan" kata Patih Wanasalam.

"Baik Ki Patih, nanti daerah yang aku berikan kepada Karebet yang nantinya akan menjadi sebuah Kadipaten adalah daerah Pajang" kata Kanjeng Sultan.

"Kemudian untuk daerah barat, bisa di Asem Arang, daerah Karawelang, atau di daerah setelah alas Roban, itu nanti akan aku pikirkan setelah aku pulang dari menggempur Panarukan, karena nanti yang aku persiapkan untuk menempati pesanggrahan disebelah barat adalah anakku yang bungsu yang belum dewasa, Pangeran Timur. Sekali lagi persoalan ini rahasiakan dulu, nanti biar aku yang memberi tahu kepada mereka" kata Kanjeng Sultan Trenggana.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" jawab Patih Wanasalam.

"Nah Ki Patih Wanasalam, untuk kali ini sudah cukup, terima kasih atas semua saranmu" kata Sultan Trenggana.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan, hamba mohn diri kembali ke Kepatihan" kata Ki Patih.

"Ya Ki Patih" kata Kanjeng Sultan.


Ki Patih Wanasalam menyembah Kanjeng Sultan, lalu bergeser kepintu keluar dan berjalan kembali menuju ke pintu ruang dalam yang dijaga oleh dua orang prajurit, dan dilihatnya salah satu prajurit yang bertugas adalah Karebet.

Ketika Patih Wanasalam lewat didepan dua orang prajurit, maka kedua orang prajurit membungkuk hormat kepadanya.

"Hm bintang Karebet sedang cemerlang, dia sinengkakake ing ngaluhur menjadi seorang Adipati" kata Patih Wanasalam yang meneruskan langkah menuju Kepatihan.

Malam hari ketika kegelapan menyelimuti bumi Demak, Sultan Trenggana ingin berbicara dengan Kanjeng Prameswari mengenai persoalan Sekar Kedaton maupun anak-anaknya yang lain.

"Ratu, aku tadi pagi sudah berbicara dengan Ki Patih Ki Wanasalam tentang beberapa daerah yang akan diberikan kepada anak-anak kita" kata Kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Kanjeng Prameswari.

"Aku sudah minta saran kepada Ki Patih Wanasalam, dan aku sudah menentukan, daerah yang akan menjadi bagian untuk anak-anak kita. Menantu kita, Pangeran Hadiri sudah aku rencanakan untuk menempati bangunan yang berada di Kalinyamat, Pangeran Arya nanti akan mendapat tempat di Prawata, Penangsang akan menjadi Adipati di Jipang, Karebet akan menjadi Adipati di Pajang, sedangkan Pangeran Timur akan kita pikirkan kemudian, rencanaku Pangeran Timur akan aku buatkan sebuah pesanggrahan di daerah Asem Arang atau daerah disebelah baratnya, daerah sebelum alas Roban" kata Kanjeng Sultan.

"Terima kasih Kanjeng Sultan" kata Kanjeng Prameswari.

"Besok aku akan panggil Karebet dan Penangsang, dan sekaligus akan aku tanya Karebet, tentang perasaannya terhadap Sekar Kedaton" kata Kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Kanjeng Prameswari.


"Pembuatan dua buah bangunan untuk pesanggrahan maupun dua buah bangunan Kadipaten akan segera dimulai setelah dipastikan tempatnya" kata Kanjeng Sultan.

"Kapan pernikahan Sekar Kedaton, Kanjeng Sultan". Kata Kanjeng Prameswari.

"Kira-kira tiga empat candra lagi" kata Kanjeng Sultan.

"Kanjeng Sultan, nanti setelah menikah, Sekar Kedaton akan segera di boyong pindah ke Pajang?" tanya Kanjeng Prameswari.

"Ya, di Pajang dia akan menjadi Ratu, Ratu Mas Cempaka" kata Kanjeng Sultan.

Dan merekapun masih berbincang tentang berbagai kemungkinan tentang masa depan anak-anaknya.


Pada saat yang bersamaan, malam itu di dalem lor, Karebet sedang duduk menatap bintang, membentangkan harapan.

"Besok pagi aku tidak bertugas, aku akan pergi ke Kadilangu" kata Karebet dalam hati.

"Besok pagi aku akan mengaji ke Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Karebet dalam hati.

Sepasar yang lalu, Karebet juga pergi ke Kadilangu, ia berangkat setelah matahari terbenam dan pulang kembali ke dalem lor setelah lewat tengah malam.

Malam itu seperti malam kemarin, bulanpun berganti dengan matahari, dan mataharipun telah terbit merayap naik di langit sebelah timur.

Di pagi hari yang cerah, di ruang dalam Kraton, Kanjeng Sultan memanggil seorang Prajurit untuk memanggil Karebet.

"Panggil Lurah Karebet sekarang juga" kata Kanjeng Sultan.

Prajurit itu, ternyata adalah Tumpak dengan cepat berjalan ke arah dalem lor. Tumpak mengetahui bahwa Ki Lurah Karebet hari ini tidak bertugas.

"Mudah-mudahan Ki Lurah Karebet berada di dalem lor" kata Tumpak dalam hati.

Ketika sampai di depan pintu regol dalem lor, Tumpak melihat Karebet sedang berjalan keluar dari regol rumah dalem lor.

Ketika melihat Tumpak berjalan menuju ke arahnya, maka Karebetpun menunggu di dekat regol dalem lor.

"Ki Lurah Karebet", kata Tumpak

"Ada apa Tumpak, seperti ada yang penting" kata Karebet.

"Ki Lurah Karebet dipanggil menghadap Kanjeng Sultan sekarang" kata Tumpak.


Karebet yang sebetulnya akan berangkat ke Kadilangu terkejut ketika mengetahui Kanjeng Sultan memanggilnya.

"Kanjeng Sultan memanggilku sepagi ini ?" tanya Karebet.

"Ya, Ki Lurah dipanggil sekarang" kata Tumpak.

"Baiklah, mari kita ke Kraton sekarang" kata Karebet, lalu mereka berdua berjalan menuju Kraton.

Diperjalanan, Karebetpun bertanya dalam hati, ada keperluan apakah Kanjeng Sultan memanggilnya.

Sebelum Karebet mendapat hukuman karena membunuh Dadung Awuk, ia memang sering dipanggil Kanjeng Sultan untuk memijat, tetapi sejak mendapat pengampunan dan menjadi Wira Tamtama lagi, belum pernah sekalipun ia dipanggil menghadap Kanjeng Sultan.

"Hm perhatian dan kasih Kanjeng Sultan kepadaku besar sekali" kata Karebet didalam hatinya.

Tak terasa langkah keduanya telah sampai di pintu gerbang Kraton, lalu Karebet meneruskan langkahnya menuju ruang dalam.

Karebet berdiri didepan pintu dengan tangan ngapurancang sambil menundukkan kepalanya, sampai terdengar suara :"Masuklah Karebet"


Karebetpun masuk ke dalam ruangan, Ia pun menyembah lalu duduk bersila dihadapan Kanjeng Sultan.

"Karebet" kata Kanjeng Sultan.

"Dawuh dalem Kanjeng Sultan" jawab Karebet.

"Kau tidak bertugas hari ini ?" tanya Sultan Trenggana.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan, hamba hari ini tidak bertugas" jawab Karebet.

"Apakah kau akan pergi Karebet ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Sebetulnya tadi hamba akan pergi ke Kadilangu" jawab Karebet.

"Ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga ? Kau akan mengaji di Kadilangu ?" tanya kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Bagus, tapi aku ingin bicara beberapa persoalan penting denganmu" kata Kanjeng Sultan.

"Sendika dawuh, hamba menunggu perintah Kanjeng Sultan" kata Karebet.

Karebetpun bersiap mendengarkan perkataan Kanjeng Sultan Trenggana.

"Aku ingin membicarakan denganmu tentang persoalan Sekar Kedaton" kata Sultan Trenggana.

Karebet terkejut, tanpa sadar iapun mengangkat wajahnya, tetapi sesaat kemudian wajahnyapun ditundukkan dalam-dalam.

"Karebet, kau tahu tentang anakku Sekar Kedaton? Dia satu-satunya anakku perempuan yang belum menikah, kakak perempuannya sudah menikah dan menjadi istri Pangeran Hadir. Sekarang anakku Sekar Kedaton sudah beranjak dewasa, sudah saatnya Sekar Kedaton untuk menikah" kata Sultan Trenggana. Mendengar perkataan Kanjeng Sultan, jantung Karebet berdetak semakin cepat, dengan harap-harap cemas, dia menunggu perkataan Kanjeng Sultan selanjutnya.

"Nah Karebet, kau jawab pertanyaanku, apakah kau cinta terhadap Sekar Kedaton?" tanya Kanjeng Sultan Trenggana.


Karebet terkejut ketika Sultan Trenggana langsung bertanya kepadanya, pertanyaan yang tanpa tedeng aling-aling, pertanyaan yang telah membuatnya berdebar-debar.

Tetapi Karebet adalah pemuda yang cerdik, dia mengikuti permainan yang dibuat oleh Kanjeng Sutan.

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, jawaban hamba adalah, ya, hamba menyintai diajeng Sekar Kedaton" jawab Karebet.

Mendengar jawaban Karebet yang terus terang, Kanjeng Sultan mengangguk-anggukkan kepalanya,

"Apakah Sekar Kedaton juga mencintaimu?" tanya Kanjeng Sultan.

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, hamba tidak berani menduga-duga, " jawab Karebet.

"Ya Karebet, sebentar lagi Sekar Kedaton memang akan aku nikahkan" kata Kanjeng Sultan.

Karebet hanya bisa menunggu kalimat yang akan dikatakan oleh Kanjeng Sultan.

"Hm siapakah yang menjadi calon suami Sekar Kedaton?' kata Karebet dalam hati.


Karebet teringat tentang tantangan Sekar Kedaton untuk membawanya lari, keluar dari Kraton bersama dirinya.

"Kalau ternyata calon suaminya bukan aku, lebih baik Sekar Kedaton aku bawa lari, tapi kemana ? Sebaiknya aku pergi jauh, keluar dari Kasultanan Demak, ke bang kulon atau bang wetan" kata Karebet dalam hatinya.

"Dengar Karebet, Sekar Kedaton adalah anak perempuan dari seorang Sultan Demak yang besar, wilayahnya mulai dari bang Wetan hingga sebagian bang Kulon" kata Kanjeng Sultan Trenggana.

"Sekar Kedaton tidak perlu menunggu dua tiga bulan, besokpun Putri Mas Cempaka bisa kubawa lari" kata Karebet di dalam hatinya.

"Meskipun kasih Kanjeng Sultan. Kepadaku besar sekali, tetapi kalau Sekar Kedaton minta aku melarikan dirinya, akan kulaksanakan" begitu kata batin Karebet.

"Karebet, aku inginkan calon suami dari Sekar Kedaton adalah seorang Adipati. Ya seorang Adipati. Kau dengar he Karebet, calon suaminya harus seorang Adipati" kata Kanjeng Sultan.

Karebet terkejut mendengar perkataan Kanjeng Sultan, meskipun wajahnya masih menunduk, tetapi badannya menjadi bergetar menahan gejolak perasaannya.

"Aku inginkan menantu Sultan Demak yang besar adakah seorang Adipati" kata Kanjeng Sultan selanjutnya.


Kanjeng Sultan memandang wajah Karebet yang menjadi pucat, sesaat kemudian, terlihat wajahnya memerah menahan berbagai perasaan dalam dirinya, lalu terlihat wajahnya pucat kembali.

Melihat wajah Karebet yang pucat dan bibirnya bergetar, Kanjeng Sultanpun tersenyum dalam hati.

"Apakah ada yang salah Karebet, kalau Sultan Demak yang besar ingin mempunyai menantu seorang Adipati" tanya Kanjeng Sultan.

Karebet berusaha keras mengendapkan perasaannya yang bergolak, pernapasannya diatur, diapun berusaha setenang mungkin menjawab pertanyaan dari Kanjeng Sultan.

"Mohon ampun Kanjeng Sultan, adalah pantas sekali kalau seorang Sultan mempunyai menantu seorang Adipati" jawab Karebet dengan suara yang masih bergetar.

"Karebet, apa yang akan kau lakukan kalau Sekar Kedaton besok akan bersanding dengan seorang Adipati ?" tanya Kanjeng Sultan.

"Hamba tidak tahu Kanjeng Sultan" kata Karebet, tapi hati Karebet berkata :"Kubunuh Adipati itu kalau dia berani menyentuh Sekar Kedaton"

"Karebet, dengarkan baik-baik semua perkataanku ini" kata Kanjeng Sultan.

Karebetpun bersiap mendengarkan semua perkataan Kanjeng Sultan.

"Tiga empat candra kagi, anakku Sekar Kedaton, akan aku nikahkan dengan seorang Adipati" kata Kanjeng Sultan


Kepala Karebetpun semakin menunduk mendengarkan perkataan dari Kanjeng Sultan.

"Karebet, sudah menjadi keputusanku, kau akan kuangkat sebagai seorang Adipati di daerah Pajang" kata Sultan Trenggana.

Karebet terkejut mendengar perkataan Kanjeng Sultan, dia tidak mengira Kanjeng Sultan akan berkata demikian.

Beberapa saat Karebet tertegun tanpa dapat berkata-kata, pikirannya seakan-akan menjadi kosong, kemudian ketika kesadarannya perlahan-lahan pulih kembali, maka Karebetpun kemudian menjatuhkan dirinya dihadapan Kanjeng Sultan, hingga kepalanya hampir menyentuh kaki Kanjeng Sultan, terasa benar bahwa kasih Kanjeng Sultan kepada dirinya sedemikian besarnya.


Kanjeng Sultan kemudian membiarkan Karebet yang seakan-akan bersujud dihadapannya, membiarkan Karebet meluapkan gejolak perasaannya.

Tidak lama kemudian Kanjeng Sultanpun berkata :"Duduklah Karebet"

Karebetpun kemudian bangun dan duduk bersila kembali di hadapan Kanjeng Sultan, wajahnya menunduk berusaha meredam dadanya yang masih bergetar.

"Karebet, aku memang mempunyai rencana, kau akan kujodohkan dengan anakku Sekar Kedaton, tetapi sebelum itu kau akan aku angkat terlebih dahulu sebagai Adipati di Pajang" kata Kanjeng Sultan.

Karebet sejenak berdiam diri, diaturnya perasaan yang bergejolak mendengar dirinya akan di angkat menjadi seorang Adipati di daerah Pajang.

"Bagaimana Karebet, apakah kau setuju kalau kau kuangkat menjadi Adipati di daerah Pajang dan setelah itu kau akan aku nikahkan dengan Sekar Kedaton ?" tanya Kanjeng Sultan.

Tak lama kemudian ketika gejolak perasaannya telah mereda, napasnya sudah teratur, maka


Karebetpun menjawab :"Mohon ampun Kanjeng Sultan, begitu besar kasih Kanjeng Sultan kepada hamba, hingga hamba menerima sebuah anugrah dari Kanjeng Sultan, menjadi Adipati di Pajang dan dinikahkan dengan Sekar Kedaton"

"Kanjeng Sultan, hamba tidak bisa berkata apapun, hanya ucapan terima kasih yang hamba ucapkan atas karunia yang Kanjeng Sultan berikan kepada hamba" kata Karebet.

"Karebet, nanti setelah kau menjadi Adipati di Pajang, kau bisa melamar Sekar Kedaton kepadaku" kata Sultan Demak

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Besok pagi, aku baru akan mengadakan pertemuan dengan Patih Wanasalam dan beberapa Tumenggung, untuk melaksanakan pembangunan sebuah bangunan yang akan dipergunakan sebagai Kadipaten di Pajang" kata Kanjeng Sultan.

"Setelah itu, kau bisa berangkat ke Pajang bersama orang yang akan membangun sebuah bangunan Kadipaten, sedangkan tenaga untuk membangun kau dapat mempergunakan orang-orang Pajang, lalu keperluan bahan bangunan dapat kau ambilkan dari pohon jati di sekitar Pajang. Untuk beaya pembangunan bangunan Kadipaten Pajang, nanti bisa menggunakan dana dari Kraton Demak. Akan dibuat dulu satu bangunan rumah untuk Kadipaten, selanjutnya bisa kau kembangkan sendiri, sesuai kebutuhanmu" kata sultan Demak.


"Kasinggihan dawuh kanjeng Sultan" jawab Karebet.

"Mulai besok lusa kau sudah bukan seorang Lurah Wira Tamtama lagi, tetapi kau sudah menjadi seorang calon Adipati di Pajang. Soal itu besok akan aku bicarakan dengan Tumenggung Gajah Birawa. Nantinya, untuk membentuk beberapa kesatuan prajurit Pajang, kau jangan mengambil dari para prajurit Demak yang sudah ada, tetapi kau bisa membentuk kesatuan sendiri, serta melatih pemuda dan laki-laki dewasa untuk menjadi prajurit Pajang" kata Kanjeng Sultan.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.

"Ketahuilah Karebet, selain kau kuangkat menjadi Adipati Pajang, aku juga mengangkat Penangsang sebagai Adipati di daerah Jipang Panolan, menempatkan Pangeran Hadiri di daerah Kalinyamat, dan menempatkan Pangeran Arya di daerah Prawata" kata Kanjeng Sultan.

"Nanti setelah bangunan untuk kadipaten sudah selesai, maka kau bersama Penangsang akan aku wisuda sebagai Adipati, nah Karebet, itu saja yang aku katakan kepadamu, apakah ada yang perlu kau tanyakan ?" tanya Sultan Demak.

"Tidak Kanjeng Sultan, semuanya sudah jelas bagi hamba" kata Karebet.

"Kalau sudah jelas, silakan kalau kau akan pergi ke Kanjeng Sunan Kalijaga di pesantren Kadilangu" kata Kanjeng Sutan Trenggana.

"Kasinggihan dawuh Kanjeng Sultan" kata Karebet.


Setelah mengucapkan terima kasih, maka Karebetpun kemudian menyembah Sultan Trenggana, lalu bergeser ke pintu, dan berjalan keluar dari ruangan.

Setelah Karebet keluar dari ruang dalam, maka Kanjeng Sultan memanggil prajurit yang bertugas :"Panggil Pangeran Hadiri, Pangeran Arya, dan Penangsang, supaya menghadap aku sekarang juga"

Prajurit yang diberi tugas, Tumpak, segera bergegas berjalan keluar dari ruang dalam, jalannya cepat, karena ingin menyusul langkah Karebet. Sejenak kemudian Tumpakpun sudah berjalan disebelah Karebet.

 Mereka berdua hanya berbicara sebentar, setelah sampai didepan Sasana Sewaka, maka merekapun berpisah, Tumpak berbelok menuju Kesatrian, sedangkan Karebet berjalan keluar dari pintu keraton, lalu berjalan ke arah selatan, menuju Kadilangu.


Matahari memanjat langit semakin tinggi, Karebet berjalan terus ke arah selatan, tak lama kemudian sampailah Karebet di rumpun bambu, tempat pertemuannya dengan uwa nya, Ki Kebo Kanigara beberapa hari yang lalu. Karebet kemudian mengambil kayu yang berukuran agak besar, yang berada agak jauh dari rumpun bambu, lalu kayu itupun diletakkan diibawah rumpun bambu

"Mudah-mudahanan siwa Kebo Kanigara nanti malam bisa datang ke kotaraja" kata Karebet dalam hati, kemudian iapun meneruskan perjalanannya ke arah selatan.

Pada saat yang bersamaan, di Kraton, dihadapan Kanjeng Sultan Trenggana duduk bersila tiga orang laki-laki, mereka adalah anak, menantu dan keponakan Kanjeng Sultan, Pangeran Arya, Pangeran Hadiri dan Arya Penangsang.

"Kalian bertiga aku panggil kemari untuk membicarakan beberapa hal yang sudah aku susun bersama Ki Patih Wanasalam" kata Kanjeng Sultan kepada tiga orang yang menghadapnya.

"Aku telah merencanakan untuk membangun beberapa buah bangunan di beberapa tempat, dan nantinya akan dapat kalian tempati, dan untuk selanjutnya bangunan itu dapat kalian pergunakan sebagai tempat tinggal" kata Sultan Trenggana.

"Pangeran Arya, kau akan aku buatkan sebuah pesanggrahan di daerah Prawata, Pangeran Hadiri akan aku buatkan sebuah pesanggrahan di daerah Kalinyamat, sedangkan Penangsang akan aku buatkan sebuah bangunan untuk bisa menjadi sebuah Kadipaten di Jipang Panolan. Nanti kalau bangunannya sudah jadi, maka Penangsang akan aku wisuda menjadi seorang Adipati di Jipang" kata Sultan Demak.

Mereka bertiga mendengarkan semua ucapan Kanjeng Sultan Trenggana, kemudian merekapun membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Pangeran Arya hanya menundukkan kepalanya, baginya hampir tidak ada bedanya tinggal di kotaraja Demak ataupun di daerah Prawata, begitu pula dengan Pangeran Hadiri, tinggal di Kalinyamatpun juga hampir sama dengan tinggal di Kotaraja Demak, apalagi kedua daerah itu tidak terlalu jauh dari kotaraja Demak.


Tanggapan Penangsang ternyata berbeda, ketika Kanjeng Sultan berkata, kalau ia akan diangkat sebagai Adipati di Jipang Panolan, hatinya sangat senang, harapan besar diletakkannya pada tanah pusaka, tempat tinggal kakeknya dan ibunya, Jipang Panolan.

Meskipun wajahnya masih menunduk, namun di bibir Penangsang tersungging sebuah senyuman, matanya berkilat-kilat memancarkan cahaya pengharapan.

Jipang adalah tanah harapan, tempat tinggal ibunya sebelum menjadi istri Pangeran Sekar Seda Lepen.

Dulu kakeknya, Sunan Ngudung, bertempat tinggal di Jipang, kakeknya seorang Senapati Perang Kasultanan Demak semasa awal berdirinya Kasultanan Demak Bintara.

Penangsangpun berkata dalam hati :"Adipati, aku akan menjadi Adipati Jipang, dan tidak tertutup kemungkinan akan meningkat lebih tinggi lagi, bukan hanya sekedar seorang Adipati, Kadipaten Jipang nantinya hanya akan merupakan sebuah pancadan saja"

Mereka bertiga berdiam diri, menunggu titah dari Kanjeng Sultan Trenggana selanjutnya.

"Selain persoalan kalian bertiga yang telah aku sampaikan tadi, aku juga mengangkat Karebet menjadi Adipati di daerah Pajang" kata Kanjeng Sultan.


Mendengar Karebet juga akan diangkat sebagai Adipati di Pajang, Penangsang mengangkat wajahnya melihat ke arah Kanjeng Sultan, tetapi sesaat kemudian wajah Penangsang tertunduk kembali.

"Hm Karebet diangkat sebagai Adipati Pajang, tetapi akupun tidak takut kepadanya" kata Penangsang dalam hati, sambil melirik kearah tangannya, tangan yang menyimpan aji Panglebur Jagad yang mampu memecahkan batu padas sebesar gudel.

"Kalau pembuatan bangunan Kadipaten sudah selesai, maka Penangsang dan Karebet segera aku wisuda menjadi Adipati" kata Kanjeng Sultan menambahkan.

"Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa Karebet aku angkat menjadi seorang Adipati di Pajang ?" tanya Kanjeng Sultan.

Mereka bertiga tidak menjawab pertanyaan Kanjeng Sultan, wajahnya masih menunduk, hanya Penangsang yang semula akan menjawab, mengurungkan maksudnya, kalimat yang hampir keluar dari mulutnya, telah ditelannya kembali.

"Setelah Karebet menjadi Adipati, dia akan aku nikahkan dengan Sekar Kedaton" kata Sultan Trenggana.


Mendengar Karebet akan dinikahkan dengan Sekar Kedaton, Penangsang sekejap mengangkat wajahnya melihat ke arah Kanjeng Sultan, tetapi sesaat kemudian wajah Penangsang tertunduk kembali.

"Sudah kuduga" kata Penangsang dalam hati.

"Besok pagi, aku akan mengadakan pertemuan dengan Patih Wanasalam dan beberapa Tumenggung, untuk membicarakan pelaksanaan pembuatan pesanggrahan yang akan kalian bangun di Kalinyamat, Prawata serta pembangunan bangunan untuk Kadipaten Jipang dan Pajang" kata Kanjeng Sultan.

"Nah kalian bertiga, kalian tunggu saja, nanti akan ada orang yang berangkat bersama kalian menuju daerah yang akan dibangun" kata Kanjeng Sultan.

Setelah itu masih ada beberapa penjelasan yang disampaikan Kanjeng Sultan kepada ketiga orang yang duduk bersila dihadapannya.


Pada saat yang bersamaan, Karebet sedang berjalan menuju ke arah selatan, ke pesantren Kadilangu.

Beberapa saat kemudian Karebetpun berbelok kearah timur, lalu iapun turun ke air yang agak dangkal untuk menyeberangi sungai Tuntang.

Setelah sampai sisi sebelah timur, Karebetpun segera naik ke tepian dan berjalan ke tempat tinggal Kanjeng Sunan Kalijaga.

Pagi itu, di tempat tinggal Kanjeng Sunan Kalijaga ternyata tidak begitu ramai. Beberapa muridnya berada di ladang atau di hutan disekitar Kadilangu. Mereka mencari kayu, atau memanen beberapa jagung yang sudah agak besar. Ada beberapa orang santri yang sedang bekerja membuka ladang.

Ketika Karebet sampai didepan pintu, iapun mengucap salam, dan terdengar jawaban seorang santri menjawab salamnya.

Kemudian terlihat seorang santri keluar menyongsongnya, dan Karebetpun menyalaminya.

"Kanjeng Sunan Kalijaga berada di ruang dalam ?" tanya Karebet.

"Ya, sedang mengajar Ki Pemanahan dan Ki Penjawi" kata santri itu.

"Kakang Pemanahan dan kakang Penjawi datang kemari ?" tanya Karebet.

"Ya, baru kemarin mereka datang dari Sela" jawab santri itu.

Karebetpun terlihat gembira mendengar kedua sahabatnya berada di Kadilangu, lalu iapun ingin segera menemuinya.

"Aku akan menghadap Kanjeng Sunan" kata Karebet.

"Silahkan, apakah perlu aku antar ?" kata santri itu sambil tertawa.

"Tidak usah, aku akan kesana sendiri" kata Karebet sambil tersenyum.


Karebetpun berjalan menuju ruang dalam, lalu berhenti dan mengucap salam didepan ruangan yang pintunya yang masih tertutup.

Dari dalam ruangan terdengar suara orang menjawab salamnya, lalu terdengar suara :"Masuklah"

Karebetpun masuk kedalam, didalam ruangan terlihat Kanjeng Sunan Kalijaga duduk bersila, dihadap oleh dua orang yang telah dikenalnya, Pemanahan dan Penjawi.

Karebet segera menyalami Kanjeng Sunan Kalijaga, kemudian menyalami Pemanahan dan Penjawi setelah itu, Karebetpun lalu duduk disebelah Pemanahan dan Penjawi.

"Kau selamat Karebet" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Atas pangestu Kanjeng Sunan, saya dalam keadaan selamat" kata Karebet.

"Sudah lama kita tidak bertemu adi Karebet, kau baik-baik saja" kata Pemanahan.

"Ya kakang, aku baik-baik saja, sejak kapan kakang Pemanahan dan kakang Penjawi berada di Kadilangu?" tanya Karebet.

"Baru kemarin adi" jawab Penjawi.

"Kebetulan saat ini Pemanahan dan Penjawi menginap di Kadilangu, dan mereka berdua mulai mengaji setelah subuh, jadi sekarang telah selesai" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Kau dari mana Karebet, ceritalah, tidak apa-apa disini ada Pemanahan dan Penjawi, mereka juga saudara seperguruanmu sewaktu di Sela dan kalian bertiga semuanya adalah muridku" kata Kanjeng Sunan.


"Ya Kanjeng Sunan" kata Karebet.

"Hari ini saya sedang tidak bertugas Kanjeng Sunan, memang dari kemarin saya sudah berniat, hari ini saya akan ke Kadilangu" kata Karebet.

"Pagi tadi, ketika akan berangkat ke Kadilangu, saya dipanggil ke Kraton menghadap Kanjeng Sultan Trenggana" kata Karebet.

"Apakah ada yang penting Karebet, sehingga Kanjeng Sultan memanggilmu ?" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan, tiga empat candra lagi saya akan dinikahkan dengan Sekar Kedaton, tetapi sebelum itu saya akan diangkat sebagai Adipati di daerah Pajang" kata Karebet.

"Adipati di Pajang" Pemanahan dan Penjawi mengulang kata-kata Karebet.

"Ya" kata Karebet.

"Syukurlah, kalau kau akan diangkat sebagai Adipati Pajang, dan kaupun akan menikah dengan Putri Sekar Kedaton" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

"Ya Kanjeng Sunan" kata Karebet.

"Lalu apa lagi titah Kanjeng Sultan Trenggana" tanya Kanjeng Sunan.

"Pangeran Arya akan pindah ke pesanggrahan Prawata, Pangeran Hadiri akan pindah ke pesanggrahan Kalinyamat, Penangsang akan menjadi Adipati di Jipang" kata Karebet.

"Tepat, Penangsang memang tepat kalau menjadi Adipati di Jipang" kata Kanjeng Sunan Kalijaga.

Beberapa saat merekapun masih berbincang mengenai beberapa persoalan, kemudian Pemanahan dan Penjawi pamit keluar ruangan, akan membantu pekerjaan para santri, dan tinggalah Karebet didalam ruangan, diajar mengaji oleh Kanjeng Sunan Kallijaga.


Demikianlah Karebet hari itu berada di Kadilangu, ikut bekerja membantu para santri, mengisi padasan dan memotong kayu bakar bersama Pemanahan dan Penjawi.

Beberapa saat setelah selesai memotong kayu, mereka bertiga beristirahat dibawah sebatang pohon sambil meminum air yang diambil dari belik di dekat sungai.

"Bagaimana kabarnya si tole Danang Sutawijaya, kakang Pemanahan?" tanya Karebet.

"Baik adi, Danang semakin pandai bermain sodoran, tidak ada yang bisa mengalahkannya sekarang, dia sudah menginginkan dapat menggunakan tombak pusaka Sela, Kyai Plered, tapi aku belum mengijinkannya, belum saatnya dia memegang sebuah tombak pusaka, dia belum dewasa" kata Pemanahan.

"Tombak Kyai Plered, tombak pusaka perguruan Sela, apakah tombak itu pusaka turun temurun ? Apakah nantinya pusaka itu akan diberikan kepada Danang Sutawijaya ?" tanya Karebet.

"Ya, tombak Kyai Plered adalah pusaka turun temurun, dari pemiliknya yang pertama, Dewi Rasawulan dari Majapahit, lalu diwariskan kepada anaknya Kidang Telangkas, lalu ke Getas Pendawa, kemudian diwariskan ke kakekku Ki Ageng Sela, lalu ke ayahku Ki Ageng Nis, lalu diwariskan ke aku, nantinya tombak Kyai Plered akan aku berikan kepada anakku Sutawijaya" kata Pemanahan.


Karebet menganggukkan kepalanya :"Tidak mudah mengalahkan Sutawijaya yang berada diatas punggung kuda, apalagi dengan membawa tombak pusaka Kyai Plered"

Kepada Pemanahan dan Penjawi, Karebet meminta keduanya untuk membantu bersama-sama mendirikan Kadipaten Pajang.

"Kakang Pemanahan dan Penjawi, aku harap kakang berdua membantu aku mendirikan Kadipaten Pajang. kita bisa bersama-sama mukti di Pajang"

"Baik adi Karebet, nanti setelah pulang dari Kadilangu, aku akan ke Pajang, nanti pemomong Danang Sutawijaya, kakang Juru Martani juga akan aku ajak ke Pajang" kata Pemanahan.

"Bagus kakang, ajak Kakang Juru Martani ke Pajang, semakin banyak yang bergabung di Pajang akan semakin baik" kata Karebet.

Ketika matahari sudah jauh condong kebarat, hampir tenggelam, Karebetpun mohon diri kepada Kanjeng Sunan Kalijaga dan kepada kedua sahabatnya, Pemanahan dan Penjawi.

"Jangan lupa kakang Pemanahan dan kakang Penjawi, aku tunggu kakang berdua di Pajang" kata Karebet.

Karebetpun keluar dari dalem Kadilangu, berjalan ke arah barat, pulang ke kotaraja. Setelah menyeberangi sungai Tuntang, Karebetpun berjalan cepat kearah utara.


Langkahnyapun dipercepat ketika menuju alun-alun, dan didepannya, dilihatnya didepan pintu gerbang kraton, seorang perempuan setengah baya sedang berjalan, seseorang yang dikenalnya, Nyai Madusari.

"Nah sekarang kau tidak bisa membuat aku kaget Ki Lurah" kata Nyai Madusari sambil tersenyum.

"Ya nyai, sekarang aku tidak bisa membuatmu kaget lagi" kata Karebet

Nyai Madusari tertawa memperlihatkan giginya yang rapi seperti deretan biji ketimun, rapi karena di pangur rata

Melihat Nyai Madusari tertawa, Karebetpun berkata sambil mukanya dibuat seperti sedang bersedih :"Nyai, dua tiga hari lagi aku sudah tidak menjadi prajurit Wira Tamtama lagi"

"Kau....kau..." kata Nyai Madusari, ter-putus-putus.

"Kata nyai tidak akan kaget lagi" kata Karebet.

"Ya, ya, tapi...kau....kau.. " kata Nyai Madusari.

"Masih kaget nyai ?" tanya Karebet.

 

"Kaget sedikit Ki Lurah" kata Nyai Madusari :"Kau dihukum lagi Ki Lurah?"

"Nyai dengarkan baik2, aku akan bicara pelan-pelan" kata Karebet.

"Ya, cepat bicaralah Ki Lurah" kata Nyai Madusari tidak xabar.

"Nyai, tadi pagi ada titah dari Kanjeng Sultan, sebentar lagi aku akan diangkat menjadi seorang Adipati di Pajang" kata Karebet.

"Kau...kau.." nyai Madusari kaget untuk yang kedua kalinya mendengar Karebet akan diangkat menjadi seorang Adipati.

"Aku sudah bicara pelan-pelan, tetapi nyai masih kaget juga" kata Karebet.

"Kau akan diangkat menjadi seorang Adipati di Pajang?" tanya Nyai Madusari.

"Ya, setelah menjadi Adipati Pajang, aku akan dinikahkan dengan Sekar Kedaton Gusti Putri Mas Cempaka" kata Karebet.

"Kau...kau.." kata Nyai Madusari kaget yang ketiga kalinya.

"Ya" kata Karebet singkat.

"Aku akan ke kembali ke Kaputren" kata Nyai Madusari.

"Aku akan memberitahu Gusti Putri" kata Nyai Madusari kemudian iapun berjalan berbalik arah menuju kraton.


Nyai Madusari melangkah cepat, kembali berjalan memasuki pintu gerbang Kraton.

Di pintu gerbang Kraton, prajurit penjaga menegurnya :"Nyai Menggung, ini yang ketiga kalinya......."

"Kau, awas kalau sekali lagi kau berani bilang aku pikun" ancam nyai Madusari kepada prajurit

Prajurit itupun terdiam, kalimat yang akan keluar dari mulutnya menjadi tertahan, iapun hanya melihat Nyai Madusari berjalan menuju Kaputren.

Matahari telah lama tenggelam, gelap malam telah menyelimuti bumi Demak, ketika Karebet duduk di halaman dalem lor.

Pada saat itu, wayah sepi bocah sudah lewat, sekarang baru saja masuk wayah sepi wong, lamat-lamat terdengar suara burung kedasih, membelah keheningan malam di kotaraja.

Pendengaran Karebet yang tajam, mencoba mencari arah suara burung kedasih, ternyata suara burung berasal dari arah utara.


Ketika Karebet berpaling ke arah utara, matanya yang tajam memandang di kegelapan, tetapi tak tampak apapun juga, sesaat kemudian ternyata suara burung kedasih telah berpindah ke arah timur.

"Cepat sekali suara burung kedasih bergerak, sekarang sudah berpindah ke arah timur, aku tidak bisa mencarinya, memang luar biasa siwa Kebo Kanigara" kata Karebet dalam hati.

"Sekarang suara burung kedasih terdengar dari arah selatan" kata Karebet.

Karebet kemudian berdiri dan berjalan menuju arah selatan :"Mudah-mudahan suara itu adakah suara siwa Kebo Kanigara yg menirukan suara burung kedasih"

Meskipun gelap telah menyelimuti kotaraja Demak, namun ada sedikit cahaya yang lemah dari bulan sabit. Karebet berjalan cepat ke arah selatan, didepannya tampak sesosok bayangan yang berjalan searah dengannya, bayangan itu juga menuju arah selatan.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita