Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober 12 | Perebutan Kasultanan Demak | Karya Apung Swarna

Cerita Sejarah Keris Kyai Setan Kober Bab 12 - Cerita yang di tulis oleh Apung Swarna yang mengisahkan perebutan kasultanan demak jawa tengah. Cerita mistis tentang keris kyai setan kober sampai selesai yang akan saya ulas atau bagikan disini blog Mediapii.my.id

"Ketika mengetahui Ki Ageng Sela memalingkan mukanya sewaktu memukul kepala kerbau hingga pecah, tiga orang Lurah yang berada dipanggung tidak bisa memutuskan apakah Ki Ageng Sela berhasil atau tidak, dan akhirnya persoalan Ki Ageng Sela dilaporkan ke Tumenggung Suranata dan Tumenggung Gajah Birawa" cerita Tumpak.

"Kedua Tumenggung itupun ternyata juga tidak bisa memutuskan. Kalau melihat kerbaunya mati karena pukulan tangan Ki Ageng Sela, harusnya Ki Ageng Sela bisa lulus pendadaran, tetapi kalau melihat Ki Ageng Sela memalingkan mukanya pada saat pukulan tangannya memecahkan kepala kerbau, sebaiknya tidak diluluskan, apa jadinya kalau seorang prajurit Wira Tamtama yang sedang bertempur, selalu memalingkan wajahnya karena tidak tega atau takut melihat darah yang tumpah" kata Tumpak.

"Nah, karena tidak bisa memutuskan hasil pendadaran Ki Ageng Sela, akhirnya Tumenggung Gajah Birawa membawa persoalan itu kepada Kanjeng Sultan Trenggana, biar Kanjeng Sultan sendiri yang memutuskan apakah Ki Ageng Sela diterima atau tidak sebagai prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak melanjutkan.

"Keputusan Kanjeng Sultan yang disampaikan oleh Tumenggung Gajah Birawa kepada Ki Ageng Sela ternyata, Ki Ageng Sela dinyatakan gagal mengikuti pendadaran, jadi meskipun Ki Ageng Sela mampu membunuh seekor kerbau liar dengan sekali pukul, tetap tidak bisa diterima sebagai prajurit Wira Tamtama, karena Ki Ageng Sela jirih getih" kata Tumpak selanjutnya.

"Ternyata keputusan Kanjeng Sultan yang menolak Ki Ageng Sela menjadi prajurit Wira Tamtama membuat Ki Ageng Sela sakit hati, tanpa pamit Ki Ageng Sela langsung pulang ke desa Sela, dan disana dia mengumpulkan para pemuda dari daerah Sela berjumlah lebih dari empat ratus orang berangkat nglurug perang ke Demak" kata Tumpak.


"Padahal sebetulnya Kanjeng Sultan Trenggana dan Ki Ageng Sela masih terhitung saudara" kata Karebet :"Ayah Ki Ageng Sela yang bernama Ki Getas Pendawa adalah cucu raja Majapahit"

"Ya, itulah sebabnya maka Kanjeng Sutan berkenan menghadapi sendiri Ki Ageng Sela yang telah merasa sakit hati karena dianggap tidak lulus di pendadaran calon prajurit Wira Tamtama" kata Tumpak.

"Ketika pemuda dari Sela yang berjumlah empat ratus orang nglurug ke Demak, mereka dibiarkan masuk ke alun-alun, hanya dijaga saja oleh prajurit Demak, dan yang terlihat paling depan sendiri adalah Ki Ageng Sela yang berada diatas punggung kudanya, dan atas perintah dari Kanjeng Sultan, semua prajurit Demak tidak diperbolehkan menyerang Ki Ageng Sela, nanti Kanjeng Sultan Trenggana sendiri yang akan menghadapinya" kata Tumpak.

"Kanjeng Sultan Trenggana naik seekor kuda dengan membawa busur dan beberapa anak panah, kemudian Kanjeng Sultan melepaskan beberapa anak panah, bukan ditujukan kepada Ki Ageng Sela, tetapi yang dipanah adalah kuda yang ditunggangi Ki Ageng Sela" kata Tumpak.

"Ketika beberapa anak panah Kanjeng Sultan mengenai kudanya, Ki Ageng Sela merasa tidak tega, dia turun dari kudanya, mungkin dia berpikir baru terkena anak panah saja kudanya sudah menderita, bagai mana kalau terkena tebasan pedang, darah akan mengucur di peperangan" cerita Tumpak.

"Aku melihat Ki Ageng Sela ragu-ragu ia melihat kepada para pemuda yang diajaknya nglurug ke Demak, aku menduga Ki Ageng Sela menghitung, orang-orang Sela tidak akan menang apabila melawan prajurit Demak yang jumlahnya jauh lebih banyak dan mempunyai kemampuan tempur yang lebih baik" kata Tumpak.


"Kalaupun orang-orang dari Sela tetap keras kepala melanjutkan pemberontakan kepada Demak, perhitunganku Ki Ageng Sela beserta para pemuda Sela akan tumpes tapis tidak ada yang tersisa" lanjut cerita Tumpak.

"Kemudian, ternyata orang-orang yang berjumlah ratusan itupun disuruh mundur dan atas perintah Ki Ageng Sela mereka semuanya kembali ke Sela" kata Tumpak.

"Sedemikian mudahnya ?" tanya Karebet.

"Ya, memang mudah, Ki Ageng Sela memang seorang yang jirih getih, tidak ada korban jiwa sama sekali, Ki Ageng Sela nglurug ke Demak hanya karena sakit hati, bukan sebagai seorang senapati perang yang mempunyai perhitungan yang matang tentang pertempuran dengan menggunakan sebuah gelar perang" kata Tumpak.

"Lalu Ki Ageng Sela dihukum karena pemberontakan itu ?" tanya Karebet.

"Tidak, Kanjeng Sultan memutuskan memberi pengampunan umum kepada Ki Ageng Sela beserta semua pemuda dari Sela yang ikut nglurug ke Demak" kata Tumpak.

"Berarti persoalan Sela sudah selesai ?" tanya Karebet.

"Ya, persoalan Sela sudah selesai" kata Tumpak.

Keduanya berdiam diri, Karebet bisa merasakan betapa salah satu gurunya, Ki Ageng Sela menjadi malu karena peristiwa itu.

"Kemudian, apakah ada kabar lainnya Tumpak ?" tanya Karebet.

"Sekarang Kanjeng Sultan Trenggana semakin sering pergi berburu, satu candra yang lalu Kanjeng Sultan berburu di hutan Prawata, akupun juga diajak ikut kesana, dua tiga bulan kedepan, rencananya Kanjeng Sultan juga akan berburu lagi, mudah-mudahan aku diajak berburu lagi" kata Tumpak sambil tersenyum.

"Ya, disana kita bisa makan daging kijang hasil perburuan" kata Karebet diselingi suara tertawa.

"Selain itu ada kabar lain lagi, tentang Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Tumpak melanjutkan ceritanya.

"Ada apa dengan Kanjeng Sunan Kalijaga ?" tanya Karebet.


"Kanjeng Sunan Kalijaga yang selama ini tidak pernah menetap di suatu daerah, mengembara njajah desa milang kori, mendaki gunung, menyusuri lembah, menjelajah ke seluruh negeri Demak, telah dipersilahkan oleh Kanjeng Sultan Trenggana untuk memilih dan menetap di daerah yang disukai oleh Kanjeng Sunan Kalijaga" cerita Tumpak.

"Kanjeng Sunan Kalijaga akhirnya memilih membuka pesantren di desa Kadilangu" kata Tumpak melanjukan ceritanya.

"Kadilangu ?" tanya Karebet.

"Ya, Kadilangu, tidak jauh dari kotaraja Demak, ditepi sebelah timur sungai Tuntang" kata Tumpak meneruskan ceritanya.

"Kadilangu, dekat sekali, aku ingin belajar kesana" kata Karebet.

"Ya, misalnya nanti kau mendapat pengampunan dari Kanjeng Sultan, dan bisa menjadi Lurah Wira Tamtama lagi, maka setelah kau selesai bertugas, di waktu malam hari, atau sewaktu kau tidak sedang bertugas, kau bisa ke Kadilangu, ke tempat Kanjeng Sunan Kalijaga" kata Tumpak.

"Ya, itu nanti kalau aku mendapat pengampunan dari Kanjeng Sutan dan diperbolehkan lagi menjadi seorang prajurit Wira Tamtama, tetapi sekarang masih belum, aku masih menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh Kanjeng Sultan" kata Karebet sambil tertawa.

Melihat Karebet tertawa, maka Tumpakpun juga tertawa keras.

"Berita yang lain, beberapa pasar yang lalu, Gusti Sekar Kedaton pernah menderita sakit" kata Tumpak.

Karebet terkejut dan iapun bertanya :"Gusti Putri Sekar Kedaton Sakit ? Sakit apa ?"

"Aku tidak tahu Gusti Sekar Kedaton menderita sakit apa, tetapi kulihat beberapa kali Nyai Tamba datang ke Kaputren membawa jamu untuk Gusti Putri" kata Tumpak.

"Berapa hari Nyai Tamba datang ke Kraton ?" tanya Karebet,

"Sehari datang dua kali, pagi dan sore hari, selama kira-kira dua pasar" jawab Tumpak.

"Lalu sekarang bagaimana keadaannya ?" tanya Karebet.

"Gusti Sekar Kedaton sudah sembuh, sekarang Nyai Tamba tidak pernah datang lagi ke Kaputren" kata Tumpak

"O begitu, syukurlah kalau Gusti Putri sekarang sudah sembuh dari sakitnya" kata Karebet lega.

"Ya, aku juga melihat beberapa kali Kanjeng Prameswari menengok Gusti Sekar Kedaton" kata Tumpak.


Karebet terdiam, dia menduga dirinyalah yang menjadi penyebab Sekar Kedaton Gusti Mas Cempaka menjadi sakit.

"Kasihan diajeng Cempaka" kata Karebet dalam hati.

"Nah, kali ini ada berita lain" kata Tumpak sambil tersenyum.

"Berita apa ?" tanya Karebet.

"Kemarin, ketika aku ketemu Nyai Madusari, aku lihat senyumnya, aku lihat wajahnya, ternyata dia masih tetap cantik" kata Tumpak sambil tertawa.

Karebetpun juga tertawa mendengar canda Tumpak.

"Tumpak, tolong kabarkan pada Nyai Madusari, kalau saat ini, aku dalam keadaan sehat, ceritakan kalau kau bertemu dengan aku disini" kata Karebet.

"Kenapa kepada Nyai Madusari?" tanya Tumpak.

"Ya, karena dia bersikap baik kepadaku, dan karena Nyai Madusari sampai saat ini masih tetap cantik" kata Karebet sambil tertawa.

Tumpakpun tertawa mendengar canda Karebet.

"Katakan juga kepada Nyai Madusari tidak lama lagi aku akan berusaha untuk bisa masuk ke kotaraja Demak, aku berharap mudah-mudahan Kanjeng Sultan bisa mengampuni aku" kata Karebet.

"Ya, nanti akan aku sampaikan kepada Nyai Madusari" jawab Tumpak.

"Terima kasih Tumpak" kata Karebet.

"Ah aku sudah terlalu banyak bercerita, sehingga aku menjadi lapar lagi, sekarang mari kita makan pisang atau makan gembili yang empuk ini" kata Tumpak sambil mengambil sebuah pisang.

Setelah itu kedua sahabat saling bercerita sambil makan, dan tak terasa mataharipun telah bergeser ke barat.

"Karebet, hari telah hampir sore, matahari sudah condong ke barat, sudah saatnya kita berpisah, aku berharap kita akan bertemu lagi, sekarang aku akan kembali ke kotaraja, kau akan kemana Karebet ?" tanya Tumpak.

"Aku akan ke Pengging, ziarah ke makam kedua orang tuaku" kata Karebet.

Keduanya kemudian berdiri, lalu mengemasi makanan yang tersisa, beberapa umbi gembili dan pisang yang tidak habis dimakan, kemudian merekapun berjalan menuju ke tempat kuda milik Tumpak yang di ikat di sebuah dahan pohon.


Kemudian Tumpakpun mengambil sebuah bungkusan kecil yang tergantung dipelana kudanya, lalu bungkusan itupun diberikan kepada Karebet.

"Ini ada sedikit makanan, untuk bekal makan malam nanti, pisang dan gembilinya yang tadi masih tersisa dimasukkan saja ke bungkusan ini" kata Tumpak.

"Terima kasih Tumpak, kau tahu kalau aku sering tidak punya makanan" kata Karebet sambil tersenyum.

"Kau akan melanjutkan perjalanan sekarang ? Kau akan tidur dimana Karebet ?" tanya Tumpak.

"Aku akan ke selatan, nanti aku akan tidur di sekitar desa Cengkal Sewu" jawan Karebet.

"Baik, kita berpisah disini, aku akan langsung pulang ke kotaraja sekarang" kata Tumpak, lalu iapun naik ke punggung kuda dan menjalankannya ke arah utara, ke kotaraja Demak.

Setelah Tumpak hilang dari pandangannya, maka Karebetpun berjalan ke arah selatan, menuju Pengging.

Dari Mrapen, Karebet menuju ke Selatan, lalu sedikit serong ke kiri, maka Karebet akan sampai di tepi sebelah barat sungai Tuntang.

Waktu terus berjalan, mataharipun hampir terbenam di cakrawala, ketika Karebet hampir sampai di daerah Cengkal Sewu.

"Aku mau mandi dulu disungai sebelum gelap" kata Karebet dalam hati, kemudian iapun menuju tepi sungai dan membersihan badannya yang terasa lengket terkena keringat.

Hari berangsur gelap ketika Karebet sudah selesai mandi, dan iapun mencari tempat untuk bisa tidur malam ini.

Ketika dilihatnya sebatang pohon yang bisa dibuat sandaran maupun sekedar merebahkan badannya, Karebetpun lalu berjalan menuju ke tempat itu.

Malam belum terlalu larut, bekal pemberian Tumpak sebagian sudah dimakan, dan ketika waktu sudah masuk wayah sepi bocah, Karebetpun berniat istirahat, direbahkan badannya, dan malam itu iapun bisa tidur, meskipun hanya sebentar.


Di pagi hari, ketika matahari mulai memanjat langit, Karebet melanjutkan perjalanannya, berjalan ke arah selatan.

Setelah menyeberangi beberapa sungai dan berjalan sedikit berbelok ke arah barat, sampailah Karebet di daerah Sima.

Siang itu, didekat jalan yang dilaluinya, Karebet menjumpai sebuah sendang kecil, tempat yang nyaman untuk beristirahat dan Karebetpun berhenti di sendang lalu makan bekal pemberian Tumpak yang masih tersisa di dalam bungkusan. "Kalau berjalan perlahan-lahan, nanti pada waktu matahari terbenam aku masih belum bisa sampai di daerah Pengging" kata Karebet dalam hati.

Matahari terus merayap turun, Karebetpun masih tetap mengayunkan langkahnya menuju Pengging dan ketika hari berangsur gelap, maka Karebetpun berniat untuk menginap di sekitar hutan disebelah utara Pengging.

Malam itu masih seperti malam-malam yang lalu, suara binatang malam masih sering terdengar, Karebetpun bisa tertidur sejenak dengan menyandarkan badannya di sebuah batang pohon.

Malam telah berlalu, berganti pagi yang cerah, matahari sudah memanjat langit, terlihat seorang anak muda duduk didepan makam Ki Ageng Pengging dan Nyai Ageng Pengging.

Ki Ageng Pengging dan Nyai Ageng Pengging telah lama meninggal dunia, lama sekali, hampir seumur Karebet sendiri, sehingga sejak kecil Karebet hidup tanpa ayah dan ibu kandung. Didepan makam kedua orang tuanya, Karebet teringat pasang surut semua perjalanan hidupnya.

Meskipun Karebet tidak pernah mengenal wajah kedua orang tuanya, tidak pernah teringat mendapatkan kasih sayangnya, tetapi ia merasa banyak orang yang telah memberikan kasih kepadanya, terutama biyungnya, Nyai Tingkir yang telah menganggapnya seperti anak sendiri.


Kemudian siwanya Ki Kebo Kanigara yang saat ini tidak diketahui tempat tinggalnya, pamannya Ganjur yang tinggal di Suranatan, Kanjeng Sultan Trenggana, bahkan Sekar Kedaton Kasultanan Demak, Nimas Cempaka, semuanya sayang kepadanya.

Agak lama Karebet berada di depan makam Ki Ageng dan Nyai Ageng Pengging, saat itu yang keluar dari mulutnya adalah ucapan sebuah doa buat kedua orang tuanya yang telah berada di alam kelanggengan.

Beberapa saat kemudian, setelah dirasa cukup, Karebetpun berdiri dan meninggalkan makam kedua orang tuanya.

Setelah dari makam, maka Karebet berjalan menuju rumahnya, rumah orang tuanya Ki Ageng Pengging, yang saat ini hanya ditunggu oleh seorang pembantu ayahnya yang setia, Ki Purwa, seorang laki-laki yang sudah tua.

Rumah Ki Ageng Pengging termasuk rumah yang besar, yang hanya kadang-kadang ditengok oleh uwanya, Kebo Kanigara, itupun juga tidak terlalu sering, hanya kalau uwanya Kebo Kanigara lewat disekitar daerah Pengging.


Ketika sampai di rumahnya, rumah peninggalan ayahnya yang besar, Ki Purwa, penjaga rumah itu menyambutnya dengan mata berkaca-kaca :"Kau sudah lama tidak menengok rumahmu ngger Karebet"

"Ya wa, sekarang aku pulang,dan aku ingin tidur dirumah beberapa malam" kata Karebet.

Malam itu Karebet ingin tidur di amben yang ada dipendapa, dan iapun berkata kepada pembantunya :"Siwa, aku akan tidur di pendapa saja, udaranya terasa segar"

Tak terasa, Karebet sudah empat hari berada di rumahnya di Pengging, dan sejauh itu belum ada kepastian, setelah dari Pengging, akan kemanakah arah ayunan langkah kaki nya.

"Ki Ageng Butuh berkata supaya aku ke Pengging, tetapi setelah aku berada di Pengging, sekarang aku belum tahu, setelah ini aku harus menuju kemana" kata Karebet dalam hati.

Malam itu adalah malam yang ke empat ia berada di Pengging, saat itu suasana malam sunyi sepi, hanya terdengar terus menerus suara cengkerik dan sekali-sekalli terdengar bunyi kepak sayap burung hantu memecah kesunyian malam.


Di pendapa, pada saat tengah malam, Karebet yang dalam keadaan tidur, bermimpi seakan-akan mengalami peristiwa yang benar-benar terjadi, sehingga Karebetpun menjadi terbangun.

Dalam mimpinya, Karebet melihat ada seseorang yang berumur setengah baya, bertubuh sedang, menyuruhnya pergi ke kaki gunung Telamaya ditepi Rawa Pening, menemui Ki Buyut Banyubiru.

"Aku bermimpi disuruh menemui Ki Buyut Banyubiru. Siapakah orang yang menyuruhku ? Siapakah Ki Buyut Banyubiru ? Baik, besok pagi aku berangkat ke Banyubiru, aku akan berangkat pagi, mudah-mudahan sebelum matahari terbenam, aku sudah sampai dirumah Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet dalam hati.

Setelah itu, Karebet tidak bisa tidur lagi hingga fajar menyingsing. Warna merah telah membayang di bang wetan, ketika Ki Purwa, bangun dari tidurnya, Karebetpun mendekat dan iapun berpamitan untuk meneruskan perjalanannya.

"Sepagi ini ?" tanya Ki Purwa.

"Nanti wa, sekarang aku mau mandi dulu" kata Karebet

"Tunggu sebentar, berangkat nanti saja setelah kau makan nasi, aku persiapkan dulu makanmu dan bekal perjalananmu" kata Ki Purwa.

"Bekalnya jangan banyak-banyak wa, berat membawanya" kata Karebet

Setelah hari semakin terang, sebelum berangkat, sekali lagi Karebet mengunjungi makam kedua orang tuanya, beberapa saat kemudian iapun berjalan kearah utara, meninggalkan desa Pengging menuju desa Banyubiru dikaki gunung Telamaya.


Perjalanan dari Pengging menuju Banyubiru, tidak melalui Sima tetapi lebih dekat melalui desa Tingkir.

Karebet tidak ingin melihat biyungnya bersedih bila mengetahui keadaannya saat ini, maka Karebet berusaha menghindari lewat desa Tingkir, iapun berjalan sedikit melingkar, memutari desa Tingkir.

Matahari terus merayap naik, Karebetpun berjalan terus, sebelum matahari mencapai puncaknya, Karebet sudah berada di kaki gunung Telamaya.

Ketika dilihatnya sebuah gubug yang kosong tanpa penunggu, maka Karebetpun istirahat didalam gubug sambil makan bekal yang dibawanya.

"Sebelum matahari terbenam, aku sudah sampai di Banyubiru" kata Karebet.

"Banyubiru terletak di kaki bukit Telamaya menghadap ke Rawa Pening, aku harus berjalan kearah utara, setelah sampai di desa Gedangan, lalu berbelok ke arah barat" kata Karebet dalam hati.

Beberapa saat kemudian, setelah makan dan istirahat sebentar, Karebetpun melanjutkan perjalanan ke arah utara, kakinya terus melangkah di kaki gunung Telamaya disisi sebelah timur.

Perjalanan Karebet melewati sedikit jalan menurun, tanahpun sudah terasa basah.

"Daerah ini sudah termasuk desa Gedangan, di pinggir Rawa Pening" kata Karebet.

Dari desa Gedangan, Karebet berjalan kearah barat dan tak lama kemudian terlihat ada sebuah desa yang subur ditepi Rawa Pening, memanjang naik ke kaki bukit Telamaya.

Matahari sudah condong ke barat, ketika di jalan yang dilaluinya, Karebet bertemu dengan seorang petani.

"Ki sanak, apakah betul desa ini adalah desa Banyubiru ?" tanya Karebet kepada orang itu.

"Betul ki sanak, disini adalah desa Banyubiru" kata petani itu.

"Di sebelah manakah rumah Ki Buyut Banyubiru" tanya Karebet.

"Ki sanak berjalan lurus saja, nanti ada pertigaan didepan pohon gayam, ki sanak belok ke kiri, ke selatan" kata orang itu menjelaskan.

"Nah setelah berjalan ke selatan, nanti ada mata air yang keluar dari sebuah batang bambu, dan disebelah mata air yang mengucur adalah rumah Ki Buyut Banyubiru, rumah paling besar yang terletak disebelah kanan" kata orang itu.

"Ya, terima kasih Ki sanak" kata Karebet.


Karebetpun melanjutkan pejalanannya ke rumah Ki Buyut Banyubiru Perjalanan tinggal sedikit lagi, didepannya sudah terlihat sebatang pohon gayam.

"Kelihatannya didepan itu ada pohon gayam, nanti setelah sampai di pertigaan didepan pohon gayam, lalu belok ke selatan" kata Karebet.

Langkah Karebet semakin dekat dengan pohon gayam, dan setelah sampai didepan pohon itu ada jalan bercabang, Karebetpun berbelok kearah selatan.

Setelah berjalan beberapa saat dan sudah melewati pancuran air yang mengucur dari sebuah bambu, maka Karebetpun berbelok ke sebuah rumah yang paling besar.

Ketika Karebet sudah berbelok masuk ke halaman rumah Ki Buyut Banyubiru, ternyata didepan pendapa telah berdiri lima orang, tiga orang yang sudah tua dan dua orang pemuda, sepertinya mereka akan menyambut seorang tamu agung.

"Lima orang berdiri dan bersikap ngapurancang semua, kelihatannya mereka akan menyambut tamu, tapi siapa tamunya ?" kata Karebet sambil menengok kebelakang, dan iapun memperhatikan sekelilingnya :"Sepi, tidak ada seorangpun yang terlihat, siapakah yang mereka tunggu ?"

Karebet berjalan terus, setelah dekat, ia lalu mengucapkan salam, dan kelima orang itupun membalas salamnya.


Tiga orang tua yang berdiri ngapurancang, salah seorang dari mereka, rambutnya sudah putih semua, jenggotnya juga sudah putih, sambil tersenyum ia berkata :"Selamat datang calon raja di tanah Jawa, selamat datang di desa Banyubiru"

Lalu kepada salah seorang pemuda di sebelahnya, iapun berkata :"Mas Manca, inilah priyayi yang kau tunggu-tunggu sudah datang, calon junjunganmu di masa depan, cepat kau haturkan sembah kepadanya"

Karebet terkejut ketika seorang pemuda yang berdiri ngapurancang disebelah orang tua yang berambut putih, maju kedepan dan menyembahnya.

Ketika melihat seorang pemuda yang tiba-tiba menyembah kepadanya, Karebet maju selangkah kedepan dan menarik tangan pemuda itu supaya berdiri.

"Berdirilah" kata Karebet.

Setelah pemuda itu berdiri, maka Karebetpun mengulurkan tangannya, menyalami ke lima orang yang berdiri didepan pendapa dan merekapun menyambutnya dengan penuh hormat.

"Mari angger, silahkan naik ke pendapa, kita bicara di dalam" kata orang tua yang berambut putih dengan penuh hormat, dan iapun mempersilahkan Karebet untuk naik ke pendapa.

Karebetpun bersama lima orang yang menyambutnya berjalan naik ke pendapa, dan di pendapa terlihat sebuah amben untuk tempat duduk dan beberapa dingklik yang terbuat dari kayu yang berukuran agak besar.


Orang tua yang berambut putih mempersilahkan Karebet duduk di amben bersamanya, dua orang tua lainnya duduk di dingklik di depan amben, sedangkan dua orang pemuda duduk di dingklik yang paling belakang.

Ketika semua orang sudah duduk, sebagai seorang tamu dan berusia lebih muda, maka Karebet berniat memperkenalkan dirinya lebih dulu.

"Maaf, kalau saya lancang datang ke tempat ini, nama saya Jaka Tingkir dari desa Tingkir, apakah ini desa Banyubiru dan apakah betul disini rumah Ki Buyut Banyubiru ?" tanya Karebet.

Mendengar perkataan Karebet, seorang pemuda yang duduk di belakang, berbisik kepada pemuda yang duduk disebelahnya yang tadi telah dipanggil dengan nama Mas Manca :"Ternyata yang datang adalah Jaka Tingkir, baru kali ini yang dikatakan Ki Buyut kepada kita ternyata keliru, pemuda ini adalah Jaka Tingkir yang berasal dari desa Tingkir, bukan orang yang sedang kita tunggu, yang bernama Mas Karebet yang berasal dari Pengging"

Orang tua yang berambut putih itu tersenyum, dengan nada perlahan, iapun menjawab :"Betul angger, desa ini bernama desa Banyubiru, dan kalau ada yang sudi memanggilku, disini aku dipanggil Buyut Banyubiru".

"Hormat saya untuk Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet sambil mengangguk hormat.

Ki Buyut Banyubiru juga mengangguk membalas menghormat kepada Karebet.

"Ya angger Jaka Tingkir, tetapi siapakah nama angger sebenarnya dan angger berasal dari mana ?" tanya Ki Buyut Banyubiru.

"Ki Buyut, nama pemberian orang tua saya adalah Mas Karebet, saya berasal dari Pengging, sejak kecil saya dijadikan anak angkat oleh Nyai Ageng Tingkir, dan disana saya dipanggil Jaka Tingkir" kata Karebet menjelaskan.


Kedua anak muda yang duduk di dingklik paling belakang, saling berpandangan, Mas Manca berkata pelan :"Ternyata perkataan Ki Buyut benar, pemuda ini bernama Mas Karebet"

"O jadi begitu, apakah angger Karebet ini adalah putra Ki Kebo Kenanga atau yang sering dipanggil dengan nama Ki Ageng Pengging ?" tanya Ki Buyut Banyubiru.

"Betul Ki Buyut, Ki Ageng Pengging adalah ayah saya" kata Karebet.

"Ya, angger Karebet ini adalah orang yang kami tunggu beberapa hari ini. Perkenalkan, kami sekumpulan orang tua yang sudah pikun, tiga orang bersaudara, saya Buyut Banyubiru, kedua orang tua ini adalah adik saya, Ki Majasta dan Ki Wuragil, sedangkan kedua anak muda ini, yang seorang adalah anak angkat saya yang bernama Mas Manca, yang seorang lagi anak dari Ki Majasta yang bernama Jaka Wila" kata Ki Buyut Banyubiru menjelaskan.

Karebetpun mengangguk hormat kepada kedua orang tua adik dari Ki Buyut Banyubiru serta kepada dua orang pemuda yang duduk dibelakang, dan mereka berempatpun membalas mengangguk hormat kepada Karebet.

Ki Buyutpun berkata kepada keponakannya :"Jaka Wila, tolong ambilkan minuman untuk tamu kita, angger Karebet"

"Baik Ki Buyut" kata Jaka Wila dan iapun masuk ke ruang dalam.

Beberapa saat kemudian Jaka Wila keluar sambil membawa minuman dan beberapa tempat minum yang terbuat dari tempurung kelapa yang dihaluskan.

"Mari angger Karebet, ini ada wedang jahe yang dicampur dengan sedikit gula aren, mumpung masih hangat" kata Ki Buyut Banyubiru.

Kemudian mereka pun berbicara sambil minum minuman yang telah disuguhkan.

"Bagaimana angger Karebet bisa sampai di Banyubiru?" tanya Ki Buyut.

"Ki Buyut, tadi malam saya bermimpi supaya segera pergi menemui Ki Buyut Banyubiru" kata Karebet.

"Angger Karebet berangkat dari Pengging tadi pagi ?" tanya Ki Buyut.

"Ya Ki Buyut" jawab Karebet.

"Baiklah angger Karebet, tadi aku berbicara pada kedua adikku dan kedua pemuda ini, firasatku mengatakan kalau angger Karebet sore ini akan datang di Banyubiru" kata Ki Buyut Banyubiru.

"Angger Karebet, saya sudah mengetahui apa yang angger alami, sebaiknya angger Karebet untuk sementara tinggal dulu di Banyubiru, kira-kira dua tiga candra, nanti akan kita carikan waktu yang tepat dan mencarikan jalan supaya angger Karebet bisa mendapat ampunan dari Kanjeng Sultan Trenggana" kata Ki Buyut Banyubiru.

"Sekarang angger silahkan mandi dulu di pancuran di belakang rumah, kamar untuk angger sudah disiapkan, nanti biar Mas Manca atau Jaka Wila yang melayani kebutuhan angger Karebet" kata Ki Buyut Banyubiru.

Beberapa saat kemudian, Karebet diantar Jaka Wila ke kamar yang sudah disiapkan untuknya, dan iapun bersiap untuk mandi di pancuran di belakang rumah,


Waktupun berjalan terus, tak terasa sang raditya telah selesai melaksanakan tugasnya menerangi jagad raya, dan saat ini telah digantikan oleh dyah sitaresmi yang memancarkan sinarnya yang lembut.

Saat itu suasana di sekitar Rawa Pening dibalut keheningan malam, bulan yang bercahaya, sinarnya yang redup menyelimuti bumi Banyubiru, ditemani ribuan bintang yang masih terus terlihat berkedip di angkasa,

Malam yang sepi, udara yang dingin di kaki gunung Telomoyo, memaksa orang tidur dengan berselimut kain panjang.

Hari demi hari telah berlalu, Karebet telah menganggap tiga orang tua kakak beradik, Ki Buyut Banyubiru, Ki Majasta dan Ki Wuragil adalah sebagai gurunya.

Ketiganya mumpuni dalam ilmu jaya kawijayan, olah kanuragan dan olah kajiwan.

Selain itu, Ki Buyut Banyubiru adalah orang yang mempunyai firasat yang tajam, ia adalah orang yang waskita, dan seakan-akan ngerti sak durunge winarah.


Sudah dua candra Karebet berada di Banyubiru, dan selama itu Karebetpun akrab dengan Mas Manca dan Jaka Wila karena umur mereka sebaya,

Tiap hari mereka berlatih olah kanuragan bertiga, meskipun ilmu Mas Manca dan Jaka Wila masih belum bisa menyamai Karebet, tetapi mengalahkan mereka berdua juga tidak semudah mijet wohing ranti.

Setelah Karebet berada di Banyubiru lebih dari dua candra, maka Ki Buyut Banyubiru menyuruh ketiga pemuda itu, Karebet, Mas Manca dan Jaka Wila untuk membuat sebuah rakit yang terbuat dari rangkaian batang bambu.

"Kalian bertiga pergilah ketepi sungai, buatlah sebuah rakit yang besar, yang kuat untuk ditumpangi lima orang" kata Ki Buyut Banyubiru.

Maka mulailah ketiga pemuda itu merencanakan pembuatan sebuah rakit, dicarinya belasan batang bambu yang lurus yang nantinya akan ditebang, dirangkai, diikat dengan tali yang terbuat dari puntiran sabut kelapa.

(bersambung)

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url
Related Post
cerita